Kutnot, “Pakaian Cahaya” yang Digunakan Adam

Dalam upacara Havdalah, yakni upacara keagamaan Yahudi, ada bagian di mana peserta upacara tersebut mengangkat lilin ke udara lalu mereka melihat pantulan cahaya di kuku mereka. 

Ada banyak kalangan Yahudi yang percaya bahwa ritual tersebut berakar dari kepercayaan bahwa sebelum Adam dan Hawa berdosa, mereka menggunakan ‘kutnot’ atau “pakaian cahaya” yang putih dan halus seperti kuku dan bersinar seperti mutiara [Bereshit Rabbah 20.12]

Bahkan ada yang beranggapan bahwa itu tidak cukup dianggap sebagai pakaian dalam pemahaman kita karena, bahan putih, halus dan bercahaya itu menyelubungi seluruh tubuh Adam dan Hawa seperti kulit pada tubuh kita. 

Ada banyak anggapan baik itu yang tersebar di kalangan Yahudi maupun di kalangan Islam yang meyakini bahwa bahan tersebut sejenis dengan kuku yang ada di ujung jari kita. Ini misalnya disampaikan Al Tabari dalam The History of al-Tabari Vol. 1 “General Introduction and From The Creation to the flood”.

Screenshot dari buku The History of al-Tabari Vol. 1 “General Introduction and From The Creation to the flood” halaman 276. (dokpri)

Menurut pengetahuan Yahudi, kuku kita adalah sisa kecil dari kesempurnaan Adam yang berlalu dari kita. Jadi, meskipun orang-orang Yahudi selalu dengan keras menolak gagasan Kristen tentang “dosa asal”, tetapi, tampaknya hal itu tidak menghalangi mereka untuk berpandangan bahwa tubuh manusia pernah begitu bercahaya. Setelah berdosa, tubuh manusia menjadi redup, kasar dan fana, ditakdirkan untuk membusuk di bumi. 

Kutnot atau “Pakaian Cahaya”
Kutnot atau kuttoneth {koot-to’-neth} berarti “menutupi”. Kata ‘kutnot’ terkait dengan kata quun atau qun  dalam bahasa Arab. Ini merupakan akar kata dari ‘cotton’ atau katun dalam bahasa Indonesia.

Kata ‘kutnot’ pertama kali terlihat dalam Breisheet 3:21: “Dan Hashem, Tuhan membuat ‘kutnot ohr’, pakaian kulit untuk Adam dan istrinya dan Dia memakaikan mereka.” 

Rashi mengutip Breisheet Raba 20:12 menyatakan bahwa itu adalah pakaian yang halus seperti kuku, yang menempel pada kulit. Yang lain mengatakan bahwa pakaian itu terbuat dari bahan yang berasal dari kulit seperti rambut kelinci (lembut dan hangat).

Dalam Talmud, Sotah 14a, Rav dan Shmuel tidak setuju tentang arti “pakaian kulit.” Rav mengatakan bahwa pakaian itu terbuat dari sesuatu yang berasal dari kulit (menurut Targum Yontan, kulit ular yang terlepas) dan Shmuel mengatakan bahwa makna “pakaian kulit” adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kulit (bahan yang nyaman seperti linen).

Umumnya cendikiawan berpandangan bahwa frase ‘pakaian kulit” tidak bisa dimaknai sebagai pakaian yang terbuat dari kulit karena pada saat itu hewan belum dibunuh untuk diambil kulitnya sebagai bahan membuat pakaian.

Seperti yang saya sebutkan di bagian awal, “pakaian” yang digunakan Adam tidak cukup dianggap sebagai pakaian dalam pemahaman kita hari ini, karena, pakaian yang berbahan putih, halus dan bercahaya itu menyelubungi seluruh tubuh Adam dan Hawa seperti kulit pada tubuh kita. Jadi, frase “pakaian kulit” dapat dimaknai sebagai “pakaian yang menyelubungi tubuh Adam (secara permanen) layaknya kulit membungkus tubuh kita.


Dalam film Anunnaki yang bercerita tentang kedatangan makhluk dari planet Nibiru yang membangun peradaban awal di bumi, Dewa Anunnaki ditampilkan berkulit putih. 

Ini sangat mungkin mengadopsi mitos tentang “Pakaian Adam”. Dan memang, kalangan yang menyenangi teori konspirasi beranggapan bahwa dewa Anunnaki yang merupakan alien dari planet Nibiru adalah personifikasi Adam yang dianggap seperti alien yang datang ke bumi dan mengajarkan penghuni bumi yang masih primitif pengetahuan surgawi yang sangat maju.

Tahun kedua Pandemi, Penjelasan Nabi Muhammad Tentang “Penyakit Wahn” Mulai Terbukti

Sebenarnya, menjangkitnya wabah penyakit sebagai salah satu tanda-tanda akhir zaman memang merupakan hal yang banyak dibahas dalam literatur-literatur yang memuat nubuat apokaliptik.

Misalnya, terdapat dalam nubuat sang Buddha shakyamuni atau yang lebih dikenal dengan nama Buddha Gautama, yang meramalkan kedatangan Maitreya, sang Budhha masa depan, yang ditandai dengan menjangkitnya wabah penyakit dan peperangan.

Nabi Muhammad, dalam beberapa riwayat hadist yang membahas akhir zaman, pun ada mengungkap bahwa di masa menjelang akhir dunia, wabah penyakit akan menjangkiti umat manusia. Penyakit itu disebut “Wahn” oleh nabi.

Meskipun nama ini sepintas mirip dengan “wuhan”, yakni nama daerah yang dianggap asal penyebaran virus corona, namun, oleh banyak cendikiawan, penyakit wahn dijelaskan sebagai bentuk penyakit psikis, yaitu: Cinta Dunia.

Memasuki tahun kedua pandemi Covid 19, masalah yang dirasakan masyarakat global telah sangat jelas bergeser dari sebelumnya takut terjangkit virus menjadi merasa sangat terbebani dengan aturan ketat yang terapkan pemerintah di masing-masing negara.

Ada banyak orang yang memilih mengikuti aturan tersebut, seperti mengikuti vaksinasi, hanya agar dia tidak dipersulit dalam aktifitas keseharian hingga takut kehilangan pekerjaan.

Sebaliknya, ada banyak juga masyarakat di berbagai negara yang dengan keyakinan bulat tegas menolak semua aturan terkait Covid 19 yang diterapkan pemerintahnya.

Faktanya, dalam beberapa bulan belakangan ini, sangat banyak demonstrasi yang dilakukan warga di berbagai negara untuk menolak vaksinasi, penggunaan masker, hingga menolak pemberlakuan wajib dokumen kesehatan kartu hijau (green passCOVID-19. 

Demikianlah, situasi dunia di tahun kedua pandemi covid 19, tampak jelas mulai membuktikan pernyataan nabi Muhammad.

Ketika para sahabat bertanya apa itu penyakit Wahn, beliau tidak menjelaskan secara spesifik penyakit itu sebagai penyakit flu, tetapi, BELIAU MEMILIH MENJELASKAN GEJOLAK SOSIAL YANG DITIMBULKAN PANDEMI ITU KEMUDIAN, yakni banyak orang yang karena cinta atau terikat sama hal duniawi akhirnya pasrah ikut arus.

Faktanya, banyak di antara orang-orang yang memilih ikut vaksinasi, melakukan hal itu bukan karena ingin terhindar dari virus corona tetapi karena tidak ingin dipersempit ruang geraknya, tidak ingin kehilangan pekerjaannya, dan berbagai alasan lain yang sifatnya tuntutan duniawi.

Ironisnya, Tuntutan duniawi itu dikontrol pemerintah negara. Jadi, Tuntutan duniawi = tuntutan (yang diwajibkan) pemerintah negara… 🙂

Mereka takut sama tuntutan pemerintahannya, tapi tidak takut dengan tuntutan Sang Pencipta di akhirat nanti.

Mereka inilah yang disebut Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang terjangkit penyakit Wahn: “Cinta dan rasa takutnya hanya pada dunia, seakan ia akan hidup selamanya.” Mereka lupa bahwa bagaimana pun juga pada akhirnya ia akan meninggalkan dunia ini.

Shalat 5 Waktu Dianalogikan Allah Dalam Al Quran Sama Dengan Jumlah Jari Tangan

Pekan ini, beredar isu hangat di jagad maya mengenai pernyataan kontroversi AA yang mengatakan perintah shalat 5 waktu tidak ada dalam Al Quran.

Sebelum memasuki pembahasan lebih jauh, terlebih dahulu saya ingin memperjelas etimologi kata ‘shalat’. Ini penting. Karena salah satu masalah klasik kita di era ini adalah kebingungan memahami suatu hal, lalu salah kaprah, hanya karena disebabkan minimnya pengetahuan bahasa.

Kata ‘shalat’ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab ‘salaa’ yang artinya: Berdoa. Dalam tradisi Yahudi dan Kristiani, Shalat atau salaa disebut ‘pray’ yang juga berarti: berdoa.

Jika ‘shalat’ artinya sama dengan”berdoa” lalu, mengapa ada lagi istilah ‘doa’ digunakan dalam tradisi Islam untuk makna yang berbeda? 

Ini karena dalam Islam selama ini berkembang pemahaman bahwa shalat 5 waktu (shalat wajib dilaksanakan) atau pun shalat sunat (shalat yang tidak wajib dilaksanakan) adalah kegiatan ibadah menyembah kepada Allah. Sementara ‘doa’ yang secara harfiah berarti: seruan / permohonan, adalah hal yang sifatnya lebih spesifik.

Terkait makna doa ini, diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: Doa adalah inti dari ibadah (menyembah Allah). Kenyataannya, semua bacaan dalam shalat mulai dari Al Fatehah ketika berdiri, bacaan ketika ruku, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semua bunyi bacaan tersebut adalah permohonan “doa”.

Persamaan waktu ibadah dalam Islam, Kristiani dan Yahudi

Pembagian waktu menurut posisi matahari di langit sebagai petunjuk waktu ibadah yang pada masa sekarang umum terlihat pada pengikut Nabi Muhammad, pada dasarnya telah terdapat pula dalam tradisi keagamaan umat nabi-nabi terdahulu.

Telah banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pola siklus ibadah harian umat Yahudi dan Kristiani di masa-masa awal millennium pertama.

Seperti yang dilakukan oleh Paul F. Bradshaw misalnya. Ia adalah profesor Liturgi di Universitas Notre Dame di Amerika Serikat, dari tahun 1985 hingga 2013, dan telah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah dianugerahi berakah Award  oleh Akademi Luturgi Amerika Utara — suatu penghargaan yang diberikan setiap tahun kepada seorang liturgis terkemuka “sebagai pengakuan atas kontribusi terhormat untuk pekerjaan liturgi profesional.”

Dalam buku The Book of Acts in Its First Ceuntury Setting vol. 4, diungkap pendapat Bradshaw yang mengusulkan bahwa umat Kristiani paling awal mewarisi siklus doa harian Yahudi; pagi, siang dan malam, ditambah tengah malam, (…) Awalnya dipengaruhi oleh gerakan matahari, kemudian dihubungkan dengan pengorbanan bait suci.

Penggenapan dalam Mekanisme Kosmis untuk Kemunculan Al Mahdi

Mekanisme kosmis yang menggerakkan skenario semesta dalam banyak hal analoginya dapat kita lihat mirip dengan suatu permainan (game) yang menuntut jumlah skor kredit tertentu – agar permainan dapat lanjut ke level berikutnya.

Ini yang biasa kita dengar dalam pembahasan tema eskatologis yang mengatakan bahwa ketika semua hal telah “DIGENAPI” maka suatu takdir yang telah Dia Janjikan akan segera terwujud.

Hari ini, telah sangat banyak orang di bumi ini yang berharap agar Al Mahdi Sang Penyelamat akhir zaman segera muncul. Tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya mereka berperan penting dalam cepat atau lambatnya kemunculan Al Muntazar (Yang Dinantikan).

Ketika dalam suatu Hadistnya Muhammad mengatakan bahwa Al Mahdi akan memerintah di bumi dalam 11, 9, 7 atau 3 tahunan maka, ini sebenarnya adalah interval waktu yang terkait erat dengan cepat atau lambatnya kemunculan Al Mahdi.

Semakin cepat ia muncul maka semakin lama ia dapat memerintah dan menemani umat manusia di dunia.

Bahkan, dalam suatu riwayat yang lain Muhammad ada mengatakan bahwa, jika seandainya waktu di dunia tinggal 1 hari, maka Allah akan panjangkan hari itu dan memunculkan Al Mahdi.

Oleh sebagian ulama, riwayat ini  dianggap sebagai jaminan bahwa bagaimanapun Al Mahdi pasti akan dimunculkan.

Tapi di sisi lain, riwayat ini juga tampaknya memberi isyarat bahwa ada kemungkinan Al Mahdi akan muncul sedemikian terlambatnya. Sehingga hanya tersisa 1 hari saja.

Lalu bagaimana cara kita mengatasi hal ini?

Sebagaimana petunjuk yang barusan Allah berikan (ketika saya sedang menyusun tulisan ini), satu-satunya jalan adalah terus mengulang-ulang “peringatan” tentang kemunculan al Mahdi ini. Agar semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang selalu ingat, dan semakin banyak orang yang berdoa untuk itu.

Mungkinkah Furqan (Pembeda) Sama dengan Veda (Beda)?

Ketika dalam artikel “Fakta yang Menguatkan Dugaan Dewa Brahma Sebagai Personifikasi Nabi Ibrahim” saya menyebut arti ‘Furqan’ (“pembeda”) ada keterkaitan dgn veda (yg dpt kita baca: beda), banyak pembaca tidak setuju.

Memang, selama ini orang-orang umumnya mengikuti pendapat Monier-Williams bahwa akar kata veda adalah vetti  yang artinya: tahu. [Monier Williams, 1899, in A Sanskrit–English Dictionary, (…), new edition, Oxford: At the Clarendon Press]

Penjelasan Monier Williams mengenai akar kata ‘veda’. dicapture dari halaman wikipedia yang membahas tentang etimologi veda. (dokpri)

Tapi tahukah kamu, kata ‘beda’ dalam bahasa indonesia berasal dari mana?

Kata ‘beda’ dalam bahasa Indonesia sangat mungkin terkait dengan satu kata dalam bahasa kannada (bahasa dravida) yaitu: Beda.

Kata ‘Beda’ dalam bahasa Kannada ini digunakan untuk “mengekspresikan ketidaksetujuan seseorang,” atau “pembatasan terhadap sesuatu.”

Jelas bahwa ekspresi yg dinyatakan kata ‘Beda’ dalam bahasa Kannada ini senada dengan fungsi kata ‘beda’ yang kita gunakan dalam bahasa Indonesia, bukan?


Saya melihat bahwa titik awal terbaik ketika kita ingin menelusuri asal usul kata ‘veda’ adalah pada bunyi pernyataan Manusmriti: Srutistu vedo vijneya yang artinya “Ketahuilah bahwa Veda adalah Sruti”. (Status Manusmriti atau Hukum Manu sebagai teks hukum kuno pertama di antara banyak Dharmasastra dari Hindu, menjadikannya sebagai sumber otentik yang sangat penting untuk dipertimbangkan). 

Karena ‘Sruti’ dalam bahasa Sanskerta bermakna: “apa yang didengar”, yang dapat dideskripsikan sebagai suatu wahyu yang didapatkan melalui anubhava atau “pengalaman langsung,” (James Lochtefeld, 2002, “Shruti”, The Illustrated Encyclopedia of Hinduism, Vol. 2: N–Z) maka, Dalam tradisi Hindu, Veda dianggap sebagai apauruseya (“bukan dari manusia” atau “bukan diciptakan oleh manusia”). Meskipun dalam perjalanannya, banyak juga sarjana menyangkal bahwa Sruti berasal dari Ilahi. Tapi saya tidak akan membahas polemik ini karena akan membuat pembahasan artikel ini menjadi melebar.

Jadi, dapat kita pahami secara eksplisit bahwa bunyi kalimat “Ketahuilah bahwa Veda adalah Sruti” adalah yaitu ingin menyatakan bahwa ayat-ayat yang ada dalam veda adalah suatu wahyu dari Ilahi.

Kualitas sebagai wahyu Ilahi inilah yang dijelaskan oleh Vaman Shivaram Apte (1858-1892) sebagai yang “MEMBEDAKAN” (distinguishing)  antara Sruti dengan smrti serta teks keagamaan Hindu lainnya. [Apte, Vaman Shivaram, 1965, The Practical Sanskrit-English Dictionary]

keistimewaan sruti yang “membedakannya” dengan Smriti menurut Vaman Shivaram Apte. Dicapture dari buku The Practical Sanskrit-English Dictionary, Vaman Shivaram Apte (1965). (Dokpri)

Demikianlah, penjelasan  Vaman Shivaram Apte ini memberi kita gambaran jejak adanya kesamaan antara makna Furqan yang berarti “pembeda” dengan kata veda (yang dapat kita baca: beda). 

Sejarah Aliran Spiritual Gnostik (Yahudi/ Kristen) dan Tasawwuf (Islam)

Gnosis adalah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “pengetahuan” atau “kesadaran.” Salah satu bentuk derivasinya adalah kata sifat ‘gnostikos‘ yang menurunkan kata ‘Cognitive’ (kognitif).

Kata sifat ‘gnostikos‘ ini cukup umum dalam bahasa Yunani Klasik dan, tampaknya tidak menunjukkan makna mistik, esoteris, tetapi sebaliknya menyatakan makna kecerdasan dan atau kemampuan yang lebih tinggi.

Hal ini misalnya dapat disimak dalam Plato The Statesman 258e:

Orang Asing: Dengan cara ini, kemudian, terbagi semua ilmu pengetahuan menjadi dua seni, sebutan pertama praktis ( praktikos ), dan yang lainnya murni intelektual ( gnostikos ). 

Socrates Muda: Mari kita asumsikan semua sains adalah satu dan ini adalah dua bentuknya.

Lebih jauh kita dapat pula melihat bahwa sepertinya ‘gnosis’ yang menyandang makna ilmiah, ada keterkaitan erat dengan ‘gana‘ dalam bahasa Sanskerta, seperti: gaNanA गणना – perhitungan; gaNanAtha गणनाथ – menghitung; gaNanIya गणनीय – dapat dihitung. Bahkan dalam bahasa Tae’ (bahasa daerah di Sulawesi Selatan) terdapat kata Ganna’ yang menunjukkan makna: “hitungan yang telah pas/ sesuai/ tercukupi/ lengkap/ sempurna,” yang dalam bahasa Indonesia kita temukan sinonimnya pada kata “genap”.

Dalam perjalanan waktu, kata Gnosis kemudian kita temukan penggunaannya dalam bentuk terminologi ‘Gnostisisme‘ yaitu istilah yang umum digunakan dalam studi agama  dan filsafat Helenistik untuk menyatakan pengetahuan spiritual atau wawasan tentang sifat asli manusia yang bersifat ilahiah – yang mengarahkan tujuannya pada upaya pembebasan percikan ilahi dalam diri manusia dari keberadaan batasan duniawi.

Makna pada terminologi Gnostisisme tersebut muncul dari pemahaman interpretasi bahwa, makna “pengetahuan” pada kata Gnosis mengacu pada pengetahuan berdasarkan pengalaman atau persepsi pribadi, oleh karenanya dalam konteks agama, gnosis dilihat sebagai pengalaman mistis atau pengetahuan esoteris berdasarkan adanya partisipasi atau hubungan dengan Tuhan secara langsung. 

Jadi, nampak bahwa makna harfiah Gnosis, “pengetahuan,” mendapat dorongan menjadi lebih ke arah makna “pengetahuan batiniah.”

Dalam perkembangan selanjutnya, Gnostik (penganut Gnostisisme) dianggap sebagai: mereka yang berorientasi pada pengetahuan dan pemahaman – atau persepsi dan pembelajaran – sebagai modalitas tertentu untuk “hidup.” Ini tentu saja dapat kita lihat senada dengan pemahaman kegiatan “bertarekat untuk mengenal hakikat” dalam tradisi tasawwuf.

Sedekah: Cara Mudah Mancing Rezeki, Benarkah?

Saya melihat banyak orang meyakini bahwa sedekah itu adalah cara memancing rezeki. Logika ini nampaknya berkembang dari pemahaman bahwa jika kamu menyedekahkan rezekimu maka nantinya Allah akan melimpahkan rezeki yang berlipatganda untukmu.

Ada juga yang menyitir secara keliru bunyi ayat dalam surat At-Talaq…

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan. (At-Talaq ayat 7)

Dalam suatu artikel misalnya, saya menemukan bunyi ayat ini dikutip sebagian lalu diberi sedikit perubahan narasi, menjadi: “…Dan barangsiapa yang sedang disempitkan rezekinya, maka hendaknya ia menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya”

Padahal makna yang dikandung dari ayat tersebut sesungguhnya adalah bahwa baik orang-orang yang memiliki keluasan rezeki maupun orang-orang yang terbatas rezekinya, bersedekah adalah ujian ketaqwaan mereka.

Ujian tersebut nyata bunyinya di kalimat selanjutnya: Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Maksud kalimat ini adalah: Dalam setiap apa yang diberikan Allah kepada dirimu terdapat ujian.

Lalu, mesti bagaimana memaknai sedekah ini? Berikut ini penjelasan saya…

Saya ingin memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa: Sedekah adalah caramu “membersihkan rezeki”.

Tapi ungkapan ini jangan lalu dibayangkan bahwa sedekah itu seperti tapisan atau saringan yang memisahkan rezeki baik dan rezeki buruk. Tidak seperti itu.

Saya menempatkan frase “membersihkan rezeki” dalam tanda kutip karena kedua kata dalam frase itu memang butuh penjelasan lebih dalam.

Maksud dari ungkapan “membersihkan” yang saya maksudkan adalah bahwa dengan bersedekah (Ingat: secara benar-benar ikhlas untuk ingin menolong sesama makhluk-Nya) kamu dapat kembali ke koridor atau jalur atau jalan yang diridhai Allah.

Di sisi lain, makna “rezeki” penting pula untuk dimaknai bukan semata-mata tentang harta, tahta, jabatan, keluarga yang baik, kesehatan, dll.

Demikianlah, engkau dapat menganalogikan sedekah sebagai “Titik mutar atau Titik balikmu” untuk kembali ke jalan yang diridhai Allah, dimana engkau bisa mendapat limpahan Rezeki yang baik (bersih) sehingga merasakan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Inilah maksud kalimat “Sedekah adalah cara membersihkan rezeki”.

Memohon Rezeki Umur Panjang, Tepatkah?

Ada pula sebagian orang yang berharap agar diberi rezeki berupa umur panjang. Bahkan, ada ustad yang menyarankan agar umat berdoa “Ya Allah berikanlah umur panjang kepada ulama-ulama kami” – bunyi doa ini, jelas menyalahi ketentuan yang telah Allah sampaikan dalam surat Al-A’raf dan surat Fatir.

Kajian Surat Al Ahzab Ayat 33 yang Mengisyaratkan Kaitan Antara Al Mahdi (Imam Tersembunyi) dan Satria Piningit (Satria Tersembunyi)

Telah sejak lama bunyi ayat 32, 33, dan 34 dari surat Al Ahzab menjadi bahan perdebatan para ahli, baik itu dikalangan ulama Islam hingga ilmuwan barat yang mengkhususkan penelitiannya pada dunia Islam.

Perdebatan tersebut terutama tertuju pada adanya perubahan (penggunaan) bentuk jamak feminin (kunna) yang digunakan pada ayat 32 dalam kalimat yang bunyinya menyapa para istri nabi – ke bentuk jamak maskulin (kum) di ayat 33 dalam kalimat di mana Allah menyapa ahlul bait – lalu, kembali menggunakan bentuk jamak feminin pada ayat 34.

Didasari atas keganjilan inilah maka pembahasan tentang ahlul bait di kalangan ulamat menjadi begitu beragam. Ini oleh karena Al Quran sebagai rujukan utama – hanya dua kali menyebut frase ahlul bait, yaitu pada surat Al Hud ayat 73 (11:73) dan surat Al Ahzab ayat 33 (33:33).

Dan di surat Al Ahzab ayat 33 lah di mana Allah secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk memurnikan (menghilangkan dosa) ahlul bait. Jika diperhatikan, nomor surat Al Ahzab (33) dan nomor ayat 33 memang mencolok karena angka yang kembar. Keunikan ini tentu saja ada maknanya. Ini terkait erat dengan Al Mahdi. Namun agar pembahasan tidak melebar, ada baiknya hal itu saya ulas di lain kesempatan saja.

Jadi, pada ayat 32 pada kalimat “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak…” (يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ yā nisā`an-nabiyyi lastunna…) digunakan ‘kunna‘ bentuk jamak feminin.

Di awal ayat 33 pada kata ‘rumahmu’ (بُيُوْتِكُنَّ buyụtikunna) masih menggunakan bentuk jamak feminin ‘kunna‘. Namun, di bagian akhir ayat tiba-tiba bentuk jamak yang digunakan berubah menjadi ‘kum‘ (bentuk jamak maskulin), yaitu pada frase ‘memurnikanmu’ (يُطَهِّرَكُمْ yuṭahhirakum).

Lalu kembali menggunakan bentuk ‘kunna‘ lagi di ayat 34 pada frase  ‘rumahmu’ ( بُيُوْتِكُنَّ buyụtikunna).

Menarik pula untuk mencermati secara lebih mendalam tinjauan kebahasaan untuk frase ‘yuṭahhirakum‘ yang disajikan di halaman situs corpus.quran.com berikut ini…

dicapture dari halaman situs corpus.quran.com

Kata ‘yutahhira‘ dijelaskan sebagai bentuk kata kerja tidak sempurna untuk orang ketiga tunggal (maskulin). Di sisi lain, kata ‘yutahhira‘ juga dijelaskan sebagai subjunctive mood yaitu bentuk pengandaian (untuk menggambarkan) situasi.

Jika kita mencermati bahwa kata ‘yutahhira‘ adalah bentuk kata kerja “tidak sempurna” maka, secara filosofis, “ketidaksempurnaan” yang disandang kata itu dapat kita lihat sebagai “pengandaian situasi” ketidaksempurnaan Al Mahdi sebelum diislah (diperbaiki) oleh Allah.

Dari riwayat yang berkembang dalam tradisi Islam kita ketahui bahwa Al Mahdi hanya akan resmi ditampilkan Allah ke khalayak umum setelah terlebih dahulu diislah atau diperbaiki atau disinkronisasi secara sempurna jasmani dan rohaninya. Inilah tujuan dari keinginan Allah untuk memurnikannya.

Perbaikan jasmani dan rohani Al Mahdi (Sang Ahlul Bait) inilah yang diisyaratkan dalam bentuk ‘kum‘ kata ganti objek jamak maskulin. Jadi, Jasmani dan rohani beliau itu dalam kebahasaan dinilai sebagai objek jamak maskulin.

***

Buku Kebenaran dari Timur, Sebuah Kampanye Akhir Zaman

Membaca buku ini akan memberi anda gambaran besar esensi-esensi tentang manusia dan peradabannya. Hal yang telah menjadi pertanyaan dan pencarian umat manusia selama ribuan tahun.

Buku ini merangkum episode sejak Adam di surga — di titik ketika Allah mengajarkan Adam berbahasa —  yang diisyaratkan dalam surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama…”  — yang pada dasarnya dapat dimaknai sebagai tindakan Allah mengajarkan Adam berbahasa, oleh karena “bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama.”

Untuk mencermati kandungan makna ayat tersebut, pertanyaan kuncinya adalah: apakah yang dimaksudkan ‘nama’ dalam ayat tersebut? – jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuka jalan untuk memahami esensi dari ayat tersebut.

Jawaban filosofis dari pertanyaan tersebut yaitu: “Nama adalah cara kita menyebut sesuatu.” Misalnya, kita menyebut ‘minum’ untuk tindakan menuangkan air ke dalam mulut lalu menelannya masuk ke tenggorokan. Dalam tata bahasa nama tindakan ‘minum’ masuk dalam golongan kata kerja.

Demikianlah, dapat disimpulkan “Bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama”, yaitu: nama-nama benda (kelas kata benda), nama-nama tindakan (kelas kata kerja), dan nama-nama sifat (kelas kata sifat).

Episode ketika Adam diajarkan bahasa ini sangat penting untuk diungkap oleh karena dari titik inilah sesungguhnya peradaban umat manusia berawal-mula dan, menjadi dasar bagi penjelasan penting selanjutnya, yaitu tentang Lauh Mahfuzh sebagai server alam semesta di mana semua alam pikiran umat manusia terhubung. Oleh karena, bahasa-lah yang memungkinkan manusia dapat berpikir — dan bahwa dengan cara (berpikir) itulah manusia dapat terhubung ke Lauh Mahfuzh.

Ini sesuai dengan pendapat Humboldt bahwa: “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” — kurang lebih artinya: bahasa adalah yang memformatif organ pemikiran… Karena itu pikiran dan bahasa adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pendapat Humboldt dikuatkan oleh Jerry Fodor dalam bukunya The Language of Thought (1975), yang memperkenalkan The language of thought hypothesis (LOTH), yakni sebuah hipotesis bahwa representasi mental memiliki struktur linguistik, atau dengan kata lain, pemikiran itu terjadi dalam bahasa mental.

Jadi, di bagian-bagian awal buku ini saya mengulas tentang: bahasa, pikiran, dan Lauh Mahfuzh — Sebagai instrumen-instrumen paling mendasar yang memungkinkan peradaban umat manusia dapat terselenggara. Pembahasan ini analoginya seperti membahas bahasa pemrograman komputer yang berfungsi sebagai instruksi standar untuk memerintah mesin komputer (persamaan atau analogi untuk sistem otak manusia) dan, keterhubungan komputer ke internet (sebagai analogi keterhubungan pikiran manusia dengan Lauh Mahfuzh).

Rahasia di Balik 222 Tahun Selisih waktu Antara Tahun Wafat Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi, dan Keterkaitannya Dengan “Nilai 14” yang Selalu Menjadi Pilihan Allah Sebagai Jumlah di Sisa Akhir

Keunikan Rentang Waktu Tahun Wafatnya Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi

Suatu hal menarik saya temukan ketika mencermati tahun wafat Jayabaya dan tahun kelahiran Siliwangi yang ternyata berjarak 222 tahun.

Data mengenai hal ini merujuk pada beberapa literatur yang menyebut Prabu Jayabaya memerintah kerajaan Kediri di antara tahun 1135 to 1179 M (Cœdès, George (1968). The Indianized states of Southeast Asia), dan Prabu Siliwangi yang dalam beberapa literatur disebut lahir pada tahun 1401 M (sumber wikipedia: di sini).

Jadi, jika dihitung, tahun wafat Prabu Jayabaya hingga tahun kelahiran Prabu Siliwangi tepat berjarak 222 tahun (1401-1179= 222).

Angka 222 tentu saja menarik untuk dicermati, terutama karena ia merupakan jumlah jarak tahun kehidupan dua sosok yang melegenda di tanah Jawa. Terlebih lagi karena keduanya, secara geografis, seakan merepresentasi kepercayaan tema eskatologi yang berkembang dalam masyarakat tradisional di sisi timur dan barat pulau Jawa.

Melalui pencermatan angka 222 ini saya menemukan isyarat yang mempertegas keterkaitan keduanya. Yaitu bahwa akar dari 222 adalah: 14 koma sekian-sekian…. (berikut ini bentuk desimalnya)

(dokpri)

Seperti yang telah saya urai dalam tulisan sebelumnya “Rahasia di Balik Angka 19, dan 14 huruf Muqattaʿat dalam Al Quran“, “angka 14” memiliki fenomena kekhususannya sendiri. Selama ini tersaji nyata di depan kita. Hanya kurang mendapat perhatian saja.

Misalnya, jika berbicara tentang angka spesial dalam Al Quran, pada umumnya orang akan langsung mengarahkan perhatiannya pada angka 7, 8 dan terutama 19, sementara angka 14 pada jumlah surat dalam Al Quran (114) kurang mendapat perhatian.

Pertanyaan kritis yang mestinya timbul adalah: mengapa setelah mencapai jumlah 100, lalu ditambahkan 14? mengapa tidak ditambahkan 20, 50, 60 atau 80?

Apa spesialnya angka 14 sehingga Allah lebih memilihnya dibandingkan angka 20, 50, 60, atau 80?

Jika anda telah tiba pada pemikiran kritis seperti ini, anda akan dapat melihat bahwa angka 14 di belakang koma pada 3,14 (nilai konstanta bilangan pi) tentu memiliki makna tertentu juga.

Pertanyaan kritis untuk hal ini adalah: mengapa panjang keliling lingkaran mesti selalu 3,14 kali panjang diameter lingkaran tersebut? mengapa Allah tidak menggenapkannya menjadi 3 kali saja? mengapa mesti ada nilai 14 di belakang koma?

MENGAPA ALLAH SELALU MEMILIH NILAI 14 SEBAGAI JUMLAH DI SISA AKHIR?