Penulis: FadlyBahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Pada kenyataannya, waktu, adalah hal yang paling mendapat perhatian manusia sepanjang hidupnya. Dalam sehari semalam, tanpa kita sadari, kita mengamati waktu puluhan hingga ratusan kali, bahkan bisa jadi ada orang yang sampai ribuan kali. TAPI, TAHUKAH KAMU DARI MANA KATA WAKTU BERASAL? MENGAPA DISEBUT WAKTU? Kata ‘waktu’ yang kita gunakan dalam bahasa Indonesia, dapat kita lihat identik dengan kata ‘wagt’ dalam bahasa Turkmen (subetnis bangsa Turk yang tersebar di negara-negara Asia Tengah seperti Turkmenistan dan Afghanistan serta Iran timur laut). Identik dengan kata ‘vaqt’ dalam bahasa Uzbek (sebuah etnis Turkik yang mayoritas penduduknya terletak di Uzbekistan, Asia Tengah). Dan juga…

Read More

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata negeri adalah tanah tempat tinggal suatu bangsa. Sebenarnya, ada makna yang lebih awal yang dikenal orang-orang di masa kuno untuk kata ‘negeri’. Tapi sebelum kita memasuki pembahasan mengenai asal usul kata ‘negeri’, ada baiknya saya terlebih dahulu mengenalkan kepada para pembaca tinjauan komparasi sebutan ‘negeri’ dari bahasa Arab, yaitu: Balad, yang kebetulan ada disebutkan dalam Al Quran, bahkan menjadi nama surat yaitu, Al Balad. Penjelasan mengenai etimologi kata ‘balad’ pun sebenarnya, sejauh ini sudah tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Tapi bukan berarti kita telah kehilangan puzzle-puzzle penting yang dapat membantu mengarahkan…

Read More

Dalam mitologi Jawa, Buto Ijo dikenal sebagai sosok siluman raksasa. Wujudnya digambarkan berwajah seram, matanya besar, memiliki gigi taring yang panjang dan dengan tubuh berwarna hijau. Dalam cerita Timun Mas, Buto Ijo dikisahkan sebagai tokoh antagonis yang membantu seorang ibu yang tidak memiliki anak. Dengan kesaktiannya ia dapat membuat Ibu itu melahirkan anak perempuan. Akan tetapi, bantuan yang diberikan Buto Ijo tidak datang secara cuma-cuma. Buto Ijo meminta agar bayi yang kemudian diberi nama Timun Mas itu diserahkan lagi kepadanya. Singkat cerita, setelah Timun Mas dewasa, Ibunya tidak ingin menyerahkan putrinya kepada Buto Ijo. Dengan segala cara, Timun Mas berusaha…

Read More

Dalam tulisan Laila Chamsi-Pasha (2008) bertajuk “A study of the Islamisation of South Sulawesi through an analysis of the grave of the second Muslim ruler of Luwuq” – (red: Sebuah studi tentang Islamisasi Sulawesi Selatan melalui analisis kuburan penguasa Muslim kedua Luwuq), diurai penjelasan mengenai makam Raja Luwuq Sultan Abdullah Muhiddin (memerintah c.1611-36), yang diantarnya menyebutkan bahwa pada makam tersebut terdapat motif yang menyerupai cabai. berikut ini kutipan: Walaupun saya menyebut motif kedua di kuburan sebagai “cabai” karena kemiripannya dengan buah [tersebut], [namun] impor cabai ke Indonesia tidak terjadi sampai awal abad keenam belas ketika mulai digunakan dalam masakan (Robinson 2007). …

Read More

Ada banyak pendapat yang muncul terkait etimologi kata ‘candi’, tetapi dugaan bahwa istilah ‘candi’ berasal dari kata “Candika” yang merupakan salah satu manifestasi dari Durga sebagai dewi kematian (Soekmono, Dr R., 1973) tampaknya adalah pendapat yang paling senada dengan status sundaland (pulau jawa khususnya) sebagai pusat “negeri selatan”, “dunia bawah” dan atau “alam kematian” di masa kuno. Selama ini, istilah ‘candi’ dipahami secara umum – merujuk kepada bangunan peninggalan era Hindu-Buddha. Dan bisa dikatakan istilah ‘candi’ ini umumnya hanya dikenal dan digunakan di wilayah Indonesia dan Malaysia saja. Di India dan negara-negara seperti Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, istilah ini tidak digunakan.…

Read More

Pada tanggal 11 Desember 2009, terbit artikel ilmiah berjudul “Mapping Human Genetic Diversity in Asia” di jurnal Science. Artikel tersebut berisi hasil riset yang dilakukan oleh lebih dari 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP (Single-Nucleotide Polymorphisms) dinaungi Human Genome Organization (HUGO) yang meneliti 73 populasi etnik Asia di 10 negara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, China, Korea, Jepang, dan Taiwan) dengan total sekitar 2.000 sampel. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian menyebar ke utara. Gerak migrasi dari selatan ke utara ini kemudian menjadi semacam terminologi teori baru yaitu…

Read More

Dalam artikel sebelumnya “Penelitian Terbaru Menunjukkan Orang Chamorro kuno berasal dari Indonesia (Sulawesi)” , saya telah mengulas presentasi dari Rosalind L. Hunter-Anderson, Ph.D. dan Joanne E. Eakin, M.A., bahwa hasil analisis tes DNA orang Chamorro kuno yang mereka lakukan menunjukkan, garis keturunan periode Unai dan Latte berasal dari Zaman Holosen di Indonesia bagian timur, kemungkinan besar Sulawesi. Pradiptajati Kusuma dkk (dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman), Dalam artikelnya “Mitochondrial DNA and the Y chromosome suggest the settlement of Madagascar by Indonesian sea nomad populations” menyampaikan kesimpulan, mengusulkan bahwa pemukiman Madagaskar memiliki akar dari Indonesia yang lokasinya berada di sekitar Sulawesi selatan,…

Read More

Dalam tradisi Bugis, ‘Baso’ adalah nama yang dikhususkan untuk anak pertama laki-laki (maskulin). Untuk anak pertama perempuan ‘Besse’ (feminin). Di masa lalu, kedua nama ini hanya boleh digunakan kalangan bangsawan saja. Pada masa itu, orang bernama Baso dan Besse – meskipun tidak menggunakan gelar seperti Andi dan Opu – akan dikenaldan dapat dipastikan adalah seorang anak pertama dari keluarga bangsawan. Jadi, seorang Baso adalah Pangeran atau putra mahkota. Tapi di masa sekarang tampaknya tradisi ini sudah tidak berlaku lagi dan, mungkin sudah banyak yang melupakan. Terutama nama Besse’, meskipun masih diketahui bahwa itu nama feminin tetapi dalam penggunaannya, kadang ada…

Read More

Pada tanggal 27 Mei 2022, bertempat di auditorium Pusat Pengunjung American Memorial Park, Rosalind L. Hunter-Anderson, Ph.D. dan Joanne E. Eakin, M.A., mempresentasikan temuan terbaru hasil tes DNA terkait orang Chamorro kuno sebagai manusia paling awal di kepulauan Mariana yang terletak di tengah samudera pasifik. Menurut mereka, pengujian DNA lanjutan yang dilakukan pada sisa-sisa orang-orang Chamorro kuno mengkonfirmasi kesinambungan biologis dan budaya dari garis keturunan masyarakat lokal di kepulauan Mariana selama antara 3.500 hingga 2.500 tahun. Dan bahwa orang Chamorro kuno yang mereka identifikasi sebagai para penjelajah laut itu, sangat mungkin berasal dari Indonesia. Hunter-Anderson dan Eakin juga mengatakan bahwa…

Read More

Suku Bajo atau Bajau menyebut diri mereka “Orang Sama”. [Adrian B. Lapian. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, 2009: hlm. 80] Nama ‘Bajo’ sendiri merupakan sebutan orang luar (outsider) untuk mereka. Informasi yang diungkap oleh kalangan suku Bajo terkait mengenai asal usul nama ‘Sama’ menyatakan bahwa mereka percaya merupakan keturunan dari Sam bin Nuh. Jadi sebutan ‘Sama’ berasal dari nama Sam. Pernyataan ini sebenarnya sangat menarik terutama oleh karena, reputasi suku Bajo yang mendunia di era modern sebagai bangsa pelaut ulung – yang di sisi lain menyatakan dirinya sebagai bangsa keturunan dari Sam bin Nuh, terlihat…

Read More