Jejak Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab

Nabi Syu’aib dan orang Madyan dikisahkan dalam Al Quran, pada surat Al-A’raf, ayat 85: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib . Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. 

Dari bunyi ayat ini tergambar jika orang-orang Madyan adalah bangsa pedagang. Lalu, dimanakah sesungguhnya tanah orang-orang Madyan ini?

Menurut William G. Dever dalam bukunya Who Were the Early Israelites and Where Did They Come From? (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 2003. hlm. 34), Tanah alkitabiah Midian terletak di Semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”). 

Beberapa ahli berpendapat bahwa “Midian” tidak merujuk ke tempat geografis atau suku tertentu, tetapi merupakan konfederasi atau “liga” suku yang disatukan secara kolektif untuk tujuan ibadah.

Paul Haupt yang pertama kali mengajukan saran ini pada 1909, menggambarkan Midian sebagai “kolektif kultus” (Kultgenossenschaft) atau “amphictyony“, yang berarti “asosiasi (Bund) dari berbagai suku di sekitar tempat perlindungan atau tempat suci.” Elath, di ujung utara Teluk Aqaba diusulkan sebagai lokasi kuil pertama, sementara tempat perlindungan kedua terletak di Kadesh.

Berikut ini pernyataan William J. Dumbrell terkait pendapat ini…

Catatan alkitabiah tentang aktifitas orang Midian atau kelompok terkait pada akhir Zaman Perunggu Akhir menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang tampak di mana-mana. Mereka ditemukan tidak hanya di wilayah Horeb/ Sinai dan juga di Mesir, tetapi juga mengangkangi rute perdagangan utara-selatan, di dataran Moab (…) 

Jelas bahwa, bahkan bagi para penulis Alkitab, mereka adalah entitas yang sukar dimengerti dan membingungkan, yang hanya sedikit diketahui secara langsung. Mereka banyak dikaitkan dalam hubungannya dengan banyak kaum. 

Pembicaraan tentang mereka umumnya dikaitkan dengan kelompok-kelompok lain dan kepada Israel itu sendiri, di mana para penulis Alkitab secara alami jauh lebih tertarik. 

Dalam kaitannya dengan Israel dalam periode pembentukan bangsa setelah Eksodus dan pengembaraan di padang gurun, orang-orang Midian terbukti telah meninggalkan stempel sosiologis mereka pada banyak lembaga awal Israel. Sementara pada saat yang sama mereka menyusup ke tingkat tertentu di tetangga Israel yang berdekatan di Palestina selatan dan daerah Transyordania. 

Tetapi mereka juga terkait dengan orang Edom, orang Keni, orang Ismael, Hagar, dan Kenizz, sementara setidaknya ada hubungan dengan orang Amalek dan Moab, dan mungkin dengan Amon.(…)

Sungai Brahmaputra Bukti Jika Kaum Madyan Memang Berasal dari Kawasan Benggala

Peta Sungai Brahmaputra yang melintasi wilayah Benggala (dokpri)

Dalam tulisan sebelumnya (Temuan Jejak Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran), telah saya bahas hipotesa bahwa orang Madyan (kaum Nabi Shu’ayb) berasal dari Madhyanagar di kawasan teluk Benggala (di wilayah Bangladesh hari ini).

Hipotesa tersebut didasari pertimbangan bahwa etimologi kata ‘Madyan’ berasal dari bahasa Sanskerta ‘madya‘ yang artinya ‘tengah’. Begitu pula bentuk kata Midian (sebutan orang Eropa untuk kaum Madyan) berasal dari kata ‘mid‘ yang artinya ‘tengah’ atau ‘pertengahan’.

Sempat pula saya ajukan sanggahan  (pada pendapat yang selama ini berkembang) bahwa nama kaum Madyan bukanlah berasal dari nama anak Nabi Ibrahim (Madyan bin Ibrahim), tetapi berasal dari penamaan kampung halaman mereka sebagai “Negeri Madyan” atau “Negeri Tengah” (Negeri Pertengahan antara timur dan barat), yang merujuk pada konsep pembagian wilayah muka bumi di masa kuno menurut posisi matahari di langit. 

Sementara itu, dalam tulisan lanjutannya (Makna yang Terselubung dari Nama Nabi Syuaib), saya mengungkap fakta bahwa nama “Shu’ayb” yang bermakna “cabang” atau “percabangan” pada dasarnya juga memiliki keterkaitan dengan makna yang dimiliki Negeri Madyan sebagai “negeri tepat di posisi percabangan antara wilayah timur dan barat”.

Dalam tulisan kali ini, yang pada dasarnya merupakan lanjutan kedua tulisan di atas, saya kembali akan memaparkan informasi lain yang dapat menjadi fakta bahwa kaum Madyan memang berasal dari kawasan teluk Benggala.

Fakta tersebut adalah keberadaan sungai Brahmaputra yang mengalir di wilayah tersebut. Melintasi wilayah Assam dan Meghalaya (di sebelah barat India) lalu memasuki wilayah Bangladesh, untuk kemudian bermuara di laut teluk Benggala.

Makna dari nama sungai Brahma-putra ini besar dugaan saya merujuk pada makna: “Putra Nabi Ibrahim” – yaitu Madyan bin Ibrahim. 

Telah banyak kalangan yang berpendapat sama bahwa sebutan “brahma” berasal dari nama “Abraham” atau Ibrahim. Misalnya yang disampaikan Anna Bonus Kingsford, seorang Theosophist Inggris pada tahun 1880-an:

“Abraham , atau Brahma , – …mereka adalah satu, dan kata yang sama, dan menunjukkan satu doktrin yang sama” [Anna Bonus Kingsford: The Perfect Way: Or, The Finding of Christ, 1882; 2011 : 259]

Abdul HAQ Vidyarthi Maulana (1888 – 1977), seorang sarjana agama-agama besar dunia yang menyandang titel “The Vidyarthi” karena pengetahuannya yang luas tentang Veda Hindu, berpendapat bahwa  Brahma dan Abraham adalah dua nama dari satu orang yang sama.

Makna yang Terselubung dari Nama Nabi Syuaib

(gambar: momentmag.com/jethros-legacy)

Melalui studi perbandingan agama, kita dapat mengetahui jika yang dikenal sebagai nabi Shu’ayb dalam tradisi Islam adalah sama dengan seseorang yang bernama Yitro (Jethro) yang disebut di dalam Alkitab.

Hal ini dapat dikuatkan terutama dengan mencermati pernyataan dalam Al-Quran (surat Al Qasas ayat 23-28), yang membahas perjumpaan nabi Musa dengan seorang sheikh atau pemimpin kaum Madyan (yang oleh para ahli tafsir mengidentifikasinya sebagai nabi Shu’ayb), yang kemudian menikahkannya dengan salah seorang anak perempuannya. 

Lalu, dengan kisah senada yang diriwayatkan dalam Alkitab (Keluaran 18), yang menyebutkan Yitro, seorang gembala Keni dan pendeta kaum Midian, sebagai mertua Nabi Musa.

Hal yang perlu mendapat perhatian di sini adalah penyebutan Yitro sebagai seorang gembala suku Keni. 

Banyak kalangan menyebutkan bahwa ‘Keni’ adalah terjemahan bahasa Ibrani “Qeyniy”. Yang oleh Heinrich Friedrich Wilhelm Gesenius (1786-1842), seorang orientalis Jerman, dan kritikus Alkitab, dijelaskan bahwa nama tersebut berasal dari nama Kain (Qayin), putra pertama Nabi Adam.

Penjelasan nama suku Keni sebagai bentuk derivasi dari nama Cain putra Adam (sumber: www.blueletterbible.org)
Penjelasan nama suku Keni sebagai bentuk derivasi dari nama Cain putra Adam (sumber: http://www.blueletterbible.org)

Pemahaman bahwa suku Keni merupakan keturunan dari Cain inilah yang mendasari sebagian kalangan ada yang berpendapat jika suku Keni (suku nomaden yang mendiami wilayah kuno Levant) konon berasal atau bermigrasi dari Asia selatan. Dikarenakan, dalam tradisi agama Samawi (Yahudi, Kristen, maupun Islam) dipercaya bahwa Nabi Adam diturunkan di India.

Di sisi lain, data studi genetik mutakhir pun pada dasarnya telah menyiratkan adanya gelombang migrasi pada masa prasejarah yang berasal dari Asia selatan dan Asia Tenggara, yang menyebar ke Eurasia, Timur Tengah, hingga Eropa. (Lebih jauh mengenai hal ini Insya Allah akan saya bahas di lain waktu)

Selain Nama Shu’ayb dan Yitro, ada pula disebut nama “Reuel” disebut sebagai mertua Musa Dalam Alkitab Keluaran 2: 18, tetapi kemudian kembali disebut sebagai “Yitro” pada Keluaran 3: 1.

Fakta bahwa ada tiga nama (Shu’ayb, Yitro, dan Reuel) untuk satu orang yang sama, tidak perlu membuat kita memunculkan pertanyaan “mana nama yang asli?” karena bisa dikatakan semua asli dan memiliki nilai pemaknaan tersendiri. Berikut ini makna nama-nama tersebut…

Jejak yang Hilang dari Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab

(sumber gambar: Sumber: https://www.alamy.com )

Kisah Nabi Syu’aib dan orang-orang Madyan dikisahkan dalam Al Quran, pada surat Al-A’raf, ayat 85: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib . Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. Bunyi ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang Madyan adalah bangsa pedagang.

Lalu dimanakah sesungguhnya tanah orang-orang Madyan ini?

Menurut William G. Dever dalam bukunya Who Were the Early Israelites and Where Did They Come From? (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 2003. hlm. 34), Tanah alkitabiah Midian terletak di Semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”). 

Beberapa ahli berpendapat bahwa “Midian” tidak merujuk ke tempat geografis atau suku tertentu, tetapi merupakan konfederasi atau “liga” suku yang disatukan secara kolektif untuk tujuan ibadah.

Paul Haupt yang pertama kali mengajukan saran ini pada 1909, menggambarkan Midian sebagai “kolektif kultus” (Kultgenossenschaft) atau “amphictyony“, yang berarti “asosiasi (Bund) dari berbagai suku di sekitar tempat perlindungan atau tempat suci.” Elath, di ujung utara Teluk Aqaba diusulkan sebagai lokasi kuil pertama, dengan tempat perlindungan kedua yang terletak di Kadesh.

Berikut ini pernyataan William J. Dumbrell terkait pendapat ini…

Catatan alkitabiah tentang aktifitas orang Midian atau kelompok terkait pada akhir Zaman Perunggu Akhir menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang tampak di mana-mana ditemukan tidak hanya di wilayah Horeb/ Sinai dan juga di Mesir, tetapi juga mengangkangi rute perdagangan utara-selatan, di dataran Moab, dan tampaknya, jika habitat Bileam harus ditempatkan di atau dekat Pitru kuno, … setidaknya dalam pengaruh mereka, sejauh Sungai Efrat itu sendiri. 

Jelas bahwa, bahkan bagi para penulis Alkitab, mereka adalah entitas yang sukar dimengerti dan membingungkan, yang hanya sedikit diketahui secara langsung, dimana mereka banyak dikaitkan dalam hubungannya dengan banyak kaum. 

Apa yang dikatakan tentang mereka dikatakan dalam kaitannya dengan kelompok-kelompok lain dan kepada Israel itu sendiri, di mana para penulis Alkitab secara alami jauh lebih tertarik. 

Dalam kaitannya dengan Israel dalam periode pembentukan bangsa setelah Eksodus dan pengembaraan di padang gurun, orang-orang Midian terbukti telah meninggalkan stempel sosiologis mereka pada banyak lembaga awal Israel, sementara pada saat yang sama mereka menyusup ke tingkat tertentu tetangga Israel yang berdekatan di Palestina selatan dan daerah Transyordania.