Interpretasi Kesamaan Adam, Fuxi, dan Batara Guru

Batara Guru dan We Nyili Timo

Batara Guru merupakan salah satu tokoh utama dalam kitab I La Galigo yang merupakan naskah berisi cerita mitologi Luwu atau Bugis kuno.

Dalam naskah tersebut diceritakan Batara Guru adalah anak dari Puang Patotoe (Dewata pencipta yang bersemayam di langit, dengan Istrinya, Datu Palinge).

Oleh Puang Patotoe, Batara Guru diperintahkan turun dan memerintah dunia tengah (bumi) yang masih kosong gelap gulita. 

Di dunia tengah, Batara Guru dinikahkan dengan We Nyili Timo putri dari penguasa dunia bawah (Guru Ri Selleng dan Istrinya Sinaungtoja yang merupakan adik kembar Sang Pencipta).

Berikut ini penggalan kisah Batara Guru / We Nyili Timo pada saat pertama kali dipertemukan di dunia tengah, yang diceritakan di dalam buku I La Galigo terjemahan R.A Kern. (R. A. Kern. I La Galigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989 Hlm. 31-32)

“…kenaikan We Nyili’Timo terkatung-katung di atas ombak di depan Batara Guru. Seorang inang pengasuh mendesaknya agar ia sendiri berenang ke padanya, akan tetapi apabila hal itu dilakukan oleh Batara Guru, kenaikan We Nyili Timo bagaikan diterbangkan pergi oleh angin; dengan terperanjat dan bingung Batara Guru kembali ke pantai. Ia memandang berkeliling, dilihatnya mempelainya di sebelah timur; ia berenang pula kepadanya, tiga kali We Nyili Timo selalu menghilang. 

Ketika Batara Guru kembali ke pantai, ia berganti pakaian; yang dipakainya kini ialah pusakanya dari Sang Pencipta. Diambilnya sekapur sirih dari dalam cenrananya, lalu diucapkannya suatu mantera. Seketika laut menjadi kering, lalu pergilah ia sendirian mendapatkan We Nyili Timo ke tempatnya bersemayam.  

Akan tetapi sang putri menguraikan rambutnya yang panjang, lalu mengucapkan sebuah mantera. Maka seolah-olah kenaikannya ada yang menariknya pergi lalu tenggelam, orang tidak melihatnya lagi; akan tetapi dalam pada itu lautan pun bagaikan menyala dan We Nyili Timo seolah-olah seorang anak dewata yang turun ke bumi dalam usungannya. 

Orang-orang ware gemetar melihat api langit sedang mengamuk di tengah lautan. Batara Guru balik lagi dan menanti, dicampakkannya ikat kepalanya (yang berasal dari langit) ke dalam laut sambil mengucapkan suatu mantera hingga tiga kali. Api pun padamlah. 

Dengan suatu mantera We Nyili Timo menjadikan air naik kembali. Batara Guru berenang kepadanya, lalu duduk disampingnya. Kembali ia tak kelihatan pula, akan tetapi oleh mantera Batara Guru ia turun lagi seluruhnya dalam busana putih, rambutnya pun putih. 

Sang manurung bungkam keheran-heranan, akan tetapi dia ucapkan jua suatu mantera, sehingga wajah sang puteri berubah, kini bersinar penuh kecantikan, duduk disampingnya. Dengan suatu mantera yang baru We Nyili Timo mengubah dirinya menjadi seorang anak kecil. Batara Guru dari pihaknya membuka ikat rambutnya dan mengucapkan suatu mantera; We Nyili Timo pun menjadi cantik kembali.

Pembacaan ‘Ho-ling’ Sebagai “Walaing” atau “walain” oleh LC Damais, Menjadi Kunci Penentuan Letak Ho-ling di Pulau Sulawesi

 L-C. Damais dengan pendekatan fonetis yang dapat dipertanggungjawabkan mengidentifikasi Ho-ling sebagai transkripsi dari bentuk “Walaing” atau “Walain” (L-C. Damais. La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java. Bulletin de l’Ecole francaise d’Extreme-Orient  Annee 1964  52-1  pp. 93-141 ). 

Walaing faktanya memang sering disebutkan sebagai nama tempat di dalam berbagai prasasti. Di dalam prasasti mana saja nama Walaing ditemukan dapat dilihat dalam karya Damais, “Repertoire Onomastique de I’Epigraphie Javanaise (jusqu’a Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmamotunggadewa)”, BEFEO, tome LXVI, 1970, s.v. walaing.

Dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java dari halaman 93 hingga 141 L-C. Damais secara panjang lebar mengurai bagaimana kata ho-ling mesti di baca “Walaing” atau “Walain“, yang sebenarnya, Dalam bahasa Indonesia hal ini mudah kita temukan padanannya.

Untuk huruf o pada kata ‘ho-ling’ kita ketahui ada banyak kata di dalam bahasa Indonesia (terutama pada bahasa Jawa) yang memperlihatkan bahwa huruf a sering kali dibaca o, dan sebaliknya.

Untuk huruf h pada kata ‘ho-ling’ padanan kasus fonetisnya, dapat kita lihat pada kata Tuhan dan tuan – yang oleh bapak Remy Sylado telah dijelaskan dalam artikelnya di harian Kompas, 11 Oktober 2002, bahwa kata Tuhan berasal dari kata Tuan.

Jika kita jeli mencermati, kita dapat melihat bahwa pada penyebutan kata ‘tuan‘, antara suku kata tu dan an ada fonetis w. Jadi secara fonetis tuan dapat ditulis menjadi tuwan.

Demikianlah, kasus fonetis tuwan menjadi tuhan yang menunjukkan perubahan fonetis w menjadi h, persis sama kasusnya dengan ho-ling menjadi waling atau walaing.

Berikut ini bentuk perubahan fonetis dan contoh yang diberikan L_C. Damais dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java

Dalam artikelnya, L_C. Damais menjadikan pembacaan tou-ho-lo-po-ti menjadi dwarawati sebagai contoh. Selanjutnya, ia juga menunjukkan beberapa perubahan fonetis yang mungkin terjadi pada pembacaan holing. (lihat makalah L_C. Damais di sini Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient)

Demikianlah, melanjutkan Hipotesis L-C. Damais, saya mengidentifikasi nama “Walaing” atau “Walain” yang dimaksud, merujuk pada wilayah Walenrang di Luwu, Sulawesi selatan. Berikut ini rincian dari kata walain-rang (walengrang)

walain atau “walaing” : sangat mungkin bentuk lain dari wara, atau warana, atau barana, yang dalam bahasa tae bermakna sebagai “pusat/ tempat yang suci/ tempat yang dikeramatkan”.

Bentuk wara atau warana yang terdapat dalam prasasti Plaosan Lor yakni “Waranadhirajaraja” dan Narawaranagara” kemudian memunculkan spekulasi liar para ahli dengan mengaitkannya dengan toponim na-fu-na dalam kronik Cina yang kemudian disebut ada keterkaitan dengan Fu-nan (Kamboja). 

Jika ditinjau menggunakan bahasa tae’ maka warana-dhiraja-raja bisa berarti “pusat atau tempat suci yang diagung-agungkan”.

Filosofi yang Terkandung Pada Nama Angka Dalam Bahasa Indonesia

Bahasa dan fitur bahasa seperti nama angka dan aksara, merupakan warisan kebudayaan manusia yang telah berusia ribuan tahun. Tapi tahukah kamu jika di dalam fitur bahasa tersebut (khususnya yang digunakan dalam bahasa Indonesia) ternyata terkandung pesan filosofis yang sangat tinggi. Umumnya pesan filosofis tersebut adalah tentang esensi manusia dan kehidupannya.

Dalam tulisan saya sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) telah saya urai bahwa setelah mencermati penamaan nama angka dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, terungkap bahwa terdapat pesan filosofis yang sangat tinggi, yang susunan ringkasnya kurang lebih berbunyi: “Satu takdir kemudian dituangkan/ ditempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari unsur udara, air, tanah, dan api.

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka beberapa bahasa daerah di Indonesia ini bercerita tentang eksistensi manusia sebagai entitas yang sepanjang hidup dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama. (selengkapnya baca di sini)

Filosofi yang terkandung dalam nama angka bahasa Indonesia pun tak kalah luar biasanya. Bahkan formasi penyusunannya yang unik, sebenarnya telah menyiratkan jika ia menyimpan sesuatu makna khusus.

Mari kita cermati…

  • Satu (1) dan Sembilan (9), sama-sama huruf awalan S. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Dua (2) dan Delapan (8), sama-sama huruf awalan D. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Tiga (3) dan Tujuh (7), sama-sama huruf awalan T. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Empat (4) dan Enam (6), sama-sama huruf awaln E. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Lima (5), huruf awalan L. Lima (5) ditambahkan Lima (5), hasilnya: 10.

Formasi unik yang ditunjukkan pada nama angka dalam bahasa Indonesia ini, pada dasarnya sudah ramai diketahui publik. Hanya saja berhenti pada titik itu saja, tidak mengalami penelusuran lebih jauh ke dalam.

Untuk melanjutkan penelusuran lebih jauh agar dapat memahami makna filosofi yang dikandungnya, memang butuh sedikit kreatifitas.

Hal pertama yang harus dicermati, yaitu huruf awalan yang digunakan pada susunan formasi tersebut, yakni: S, D, T, E, dan L.

Berikutnya, adalah mencermati huruf-huruf tersebut dalam format abjad Yunani. Kenapa mesti begitu? karena jenis abjad latin yang kita gunakan di Indonesia hari ini, bentuk dasarnya adalah dari abjad Yunani. Pada Abjad Yunanilah dimulainya transisi sistem penulisan, yang dari sebelumnya menggunakan sistem penulisan abjad piktograf.

Hasilnya adalah: S = Sigma, D = Delta, T = Tau, E = Epsilon, L = Lambda.

Huruf Yunani, meskipun dapat digunakan layaknya sistem penulisan abjad Latin, tetapi masing-masing hurufnya merupakan suatu simbol yang mengandung makna tersendiri. Jadi, bisa dikatakan huruf Yunani ini tetap memiliki genetik aksara pendahulunya, yaitu piktograf.

Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka

Suatu hal yang selama ini luput dari perhatian – dalam upaya mencari pesan-pesan kuno dari masa lalu adalah pada upaya memahami makna filosofis dari nama-nama angka, dalam hal ini saya percaya bahwa semua nama-nama angka memiliki dasar asal usul.

Selama ini memang telah banyak hasil penelitian para ahli tentang angka tetapi hal itu sebatas penelitian pada bentuk tanda atau lambang angka, sistem angka, dan fungsi angka sebagai bentuk bilangan yang melambangkan suatu kuantitas (misal: panjang, berat, umur, dan lain-lain).

Jika pun ada pembahasan tentang nama-nama angka, pembahasan tersebut lebih pada usaha pengungkapan dari bahasa bangsa atau suku mana nama angka tersebut berasal dan terserap ke bahasa bangsa atau suku mana ia selanjutnya.

Demi menambah referensi kita terkait ilmu pengetahuan tentang angka, pada bagian ini saya akan mencoba memaparkan hasil penelusuran saya tentang fakta adanya makna tersembunyi pada nama-nama angka menurut bahasa tertentu.

Nama-nama angka dalam beberapa bahasa tradisional di Nusantara (Dokpri)

Dalam table di atas dapat kita lihat bahwa penamaan angka pada beberapa bahasa daerah memiliki kesamaan bunyi dengan penamaan angka dalam beberapa bahasa daerah lainnya. Ini dikarenakan adanya proses asimilasi budaya yang terjadi pada masa lalu, bahkan sangat mungkin berasal dari satu sumber yang sama pada mulanya.

Kronologis ide penelusuran makna nama angka yang saya lakukan, dapat dikatakan timbul secara intuitif dalam suatu perenungan menganalisa susunan fonetik dalam nama-nama angka dengan fokus mengamati bagaimana wujud bentuk lainnya ketika mengalami perubahan fonetik yang umum terjadi pada banyak leksikon. 

Saat itu, manakala secara berulang-ulang saya mengeja satu demi satu nama-nama angka dalam bahasa tae’, dalam suatu kesempatan, urutan nama angka “appa (empat) — lima (lima) — annang (enam)” tertangkap nalar saya seperti bunyi sebuah kalimat yang memiliki makna lain selain maknanya sebagai nama angka — semacam bentuk double-entendre, yaitu frase atau kiasan yang bisa memiliki dua makna atau yang dapat dipahami dalam dua cara yang berbeda. (Dictionary Cambridge)

Bentuk double-entendre tersebut tersaji secara homophone. Misalnya kata “one” dalam bahasa inggris untuk 1, terbaca “wan” – homophone dengan bentuk “want” yang artinya “ingin”. Nama angka tujuh dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya memiliki Double-entendre yakni kata “tuju” yang berarti “arah” (verb. menuju = mengarah).

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Api”?

(gambar: cnn.com)

Dalam Kamus Komparatif Bahasa Austronesia yang disusun oleh Robert Blust (profesor di Departemen Linguistik Universitas Hawaii, seorang ahli linguistik historis , leksikografi , etnologi, mengkhususkan diri dalam penelitian bahasa-bahasa Austronesia) disebutkan bahwa bentuk paling awal kata ‘api’ adalah: Sapuy (PAN: Proto Austronesia); dan Hapuy (PMP: Proto Melayu Polinesia).

Turunan dari PAN meliputi: Saisiyat = hapoy; Proto-Atayalic = hapu-niq, hapuy; Pazeh = hapwi, hapuy; Thao = apuy; Bunun = sapud; Hoanya = dzapu; Tsou = puzu; Kanakanabu = apulu; Siraya = apuy; Proto-Rukai = apoy; Puyuma (Tamalakaw) = apuy; Paiwan = sapuy.

Turunan dari PMP meliputi: Klata = opuy; Itbayaten = hapoy; Ilokano = apuy; Isneg = apuy; Itawis = afi; Malaweg = apuy; Casiguran Dumagat = apoy; Pangasinan = apoy; Sambal = apoy; Tagalog = apoy; Maguindanao = apuy; Tiruray = afey; Tboli = ofi; Kujau = tapuy; Minokok = tapuy; Murik = api; Kayan = apuy; Melanau (Mukah) = apuy; Melanau Dalat (Kampung Teh) = apuy; Bukat = apuy; Bekatan = apoy; Kejaman = apuy; Lahanan = apuy; Melanau (Matu) = apuy; Kanowit = apoy; Ngaju Dayak = apuy; Ma’anyan = apuy; Malagasy = afo; Dusun Witu = apuy; Iban = api; Maloh = api; Proto-Chamic = apuy; Malay = api; Acehnese = apuy; Karo Batak = api; Toba Batak = api; Mentawai= api; Lampung = apuy; Sundanese = apuy(archaic); Old Javanese = apuy, apwi; Javanese = api; Madurese = apoy; Balinese= api; Sasak = api; Proto-Minahasan = api; Totoli = (h)api; Petapa Taje = api; Balantak = apu; Bare’e = apu; Tae’ = api; Mori Atas = apui; Bungku = api; Koroni = api; Moronene = api; Proto-South Sulawesi = api; Mandar = api; Makassarese = api; Bonerate = api; Popalia = api; Bimanese = afi; Komodo = api; Manggarai = api; Ngadha = api; Keo = api; Riung = api; Proto-Ambon = apu(y); Laha = au; Hitu = au; Seit = au; Asilulu = au; Batu Merah = aow; Morella= aow; Amblau = afu; 

Dan masih banyak lagi, yang tak dapat disebut di sini satu per satu. Untuk selengkapnya pembaca dapat mengunjunginya di sini: www.trussel2.com

Dalam bahasa Sanskerta sendiri, selain kata ‘agni’ (yang umum dikenal bermakna ‘api’), ada kata ‘vRSAkapi’ yang juga artinya: api / matahari / kera. 

Lalu, ada juga dalam bahasa Sanskerta kata ‘kapila’ (nampaknya cukup ada keterkaitan dengan kata ‘vRSAkapi’) yang artinya: coklat / kuning kecoklatan / kemerahan / berambut merah / warna monyet. 

Terkhusus untuk pengertian ‘kapila’ yang terakhir (warna monyet), saya menduga, bisa jadi memang ada keterkaitan antara kata ‘api’ dengan kata ‘ape’ yang dalam bahasa Inggris berarti ‘kera’.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Tanah”?

Pada umumnya asal usul kata untuk menyebut ‘tanah’ dalam berbagai bahasa di dunia, bisa dikatakan tidak terlepas dari personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno. 

Hal ini nampaknya merujuk pada Personifikasi “langit dan bumi” sebagai gambaran maskulinitas dan feminitas bagi sosok Adam (langit) dan Hawa (bumi).

Dalam Personifikasinya sebagai Ibu Bumi, Hawa disebut dalam banyak bentuk ‘nama’. Nama-nama tersebut dapat kita temukan dalam cerita-cerita mitologi dari berbagai bangsa di dunia. 

Sebelum saya membahas mitologi yang terkait dengan personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno, terlebih dahulu saya ingin menunjukkan bentuk kata ‘tanah’ dalam berbagai negara di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Albanian = toke; Basque= lurra; Bosnian = zemlju; Catalan = terra; Danish = jorden; Dutch = land;Estonian = maa; Finnish = maa; French = terre; Galician = terra; German = Land; Icelandic = Land; Irish = talamh; Latvian = zeme; Macedonian = zemjata; Maltese = art; Norwegian = land; Portuguese = terra; Swedish =  landa; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Asia : Bengali = jami; Chinese = tu-di; Georgian = mits’is; Gujarati = Jamina; Hindi = bhoomi; Kazakh = jer; Khmer = dei; Korean = ttang; Lao = thidin; Malayalam nilam; Marathi = jameen; Myanmar = myayyar; Nepali = bhoomi; Tajik = zamin; Tamil = Nila; Telugu = Bhumi; Thai = Thidin; Turkish = arazi; Uzbek = er; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara: Arabic = ‘ard; Igbo = ala; Somali = dalka / dhulka; Swahili = ardhi; Yoruba = ile; Zulu = umhlaba / emhlabathini; Cebuano= yuta; Indonesian = tanah; Malagasy = tany; Malay = tanah; Maori = whenua; dan masih banyak lagi.

Mengenal Personifikasi Hawa di Masa Kuno

Peta hipotesis eksistensi ibu Hawa (Dokpri)

Ibu Hawa bisa dikatakan sosok yang paling sedikit mendapat pembahasan dalam literatur sejarah manusia. Nampaknya, hal ini mungkin dikarenakan sosoknya tenggelam dalam bayang-bayang kebesaran profil Adam sebagai manusia pertama.

Namun demikian, pada kenyataannya, banyaknya jejak yang ia tinggalkan di dunia jauh melampaui jejak Nabi atau sosok penting manapun dalam sejarah manusia. 

Sosok personifikasinya hadir hampir dalam semua kebudayaan besar di masa kuno, dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Untuk memahami fakta hal ini, mengenal bagaimana sosoknya dipersonifikasi adalah satu-satunya jalan.

Dalam banyak mitologi, Nabi Adam dan Ibu Hawa disimbolisasi dalam beragam nama dan karakter. Personifikasi tersebut merupakan wujud konsekuensi dari sudut pandang bangsa-bangsa kuno dalam memahami dan mengapresiasi eksistensi sosok mereka. 

Di titik ini, Hal terpenting yang mesti dipahami adalah bahwasanya masa hidup Nabi Adam, dan terutama Ibu Hawa, jika merujuk pada literatur yang ada, bisa jadi mencapai masa hidup lebih dari seribu tahun. 

Jika dalam tradisi berbagai agama, disebutkan masa hidup Nabi Adam hampir mencapai seribu tahun (sekitar 960 tahun), maka Ibu Hawa yang ditinggal pergi, tidak ada satupun catatan yang secara spesifik menyebut berapa lama masa hidupnya. 

Dari personifikasi sosoknyalah sebagai Dewi Ushas dalam Rigveda, yang memungkinkan kita bisa mendapat sedikit gambaran, bahwa bisa jadi ia hidup lebih lama setelah meninggalnya Nabi Adam. 

Hal tersebut dapat kita cermati tersirat Pada Rigveda, hymne 7.77 : “dia juga mengajukan petisi untuk diberikan umur panjang, karena dia konsisten mengingatkan orang-orang akan waktu yang terbatas di bumi“. Tujuan permohonannya agar diberi umur panjang bisa dicermati pada hymne 1.48, yang berbunyi: “Dia yang memelihara/ merawat/ menjaga semua hal, layaknya seorang janda yang baik“. 

Secara pribadi saya membayangkan bahwa setelah ditinggal pergi suaminya, Ibu Hawa menyadari makna penting dirinya sebagai seorang ibu. Dan nampaknya ia berjuang untuk itu, untuk memastikan masa depan yang baik bagi anak cucunya. (Pemahaman ini tentu merupakan hal yang mengharukan bukan? … 🙂 … )

Fase-fase kehidupan Nabi Adam dan Ibu Hawa inilah yang kemudian termitologisasi dalam tradisi berbagai bangsa kuno. Ada mitologisasi yang menggambarkan kehadiran awal mereka di dunia, ada mitologisasi yang menggambarkan perjuangan mereka berdua, dan ada pula mitologisasi yang menggambarkan perjuangan ibu Hawa setelah ditinggal mati suaminya.

Karena itu, melalui pencermatan personifikasi mereka dalam mitologisasi tersebut, saya melihat bahwa kita sesungguhnya dapat merekonstruksi suatu gambaran besar kesejarahan berbagai bangsa kuno yang mengisi tiap stage-stage peradaban dunia dalam durasi waktu ribuan tahun di masa lalu. 

Hal Ini dapat dimungkinkan dengan mencermati fase kehidupan manakah dari Nabi Adam dan Ibu Hawa yang menjadi tema mitologisasi dari bangsa-bangsa kuno tersebut.

Dan berikut ini beberapa bentuk mitologisasi tersebut…

Formasi Unik dan Filosofi yang Dikandung Nama Angka dalam Bahasa Indonesia

Bahasa dan fitur bahasa seperti nama angka dan aksara, merupakan warisan kebudayaan manusia yang telah berusia ribuan tahun. Tapi tahukah kamu jika di dalam fitur bahasa tersebut (khususnya yang digunakan dalam bahasa Indonesia) ternyata terkandung pesan filosofis yang sangat tinggi. Umumnya pesan filosofis tersebut adalah tentang esensi manusia dan kehidupannya.

Dalam tulisan saya sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) telah saya urai bahwa setelah mencermati penamaan nama angka dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, terungkap bahwa terdapat pesan filosofis yang sangat tinggi, yang susunan ringkasnya kurang lebih berbunyi: “Satu takdir kemudian dituangkan/ ditempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari unsur udara, air, tanah, dan api.

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka dalam bahasa daerah di Indonesia ini bercerita tentang eksistensi manusia, sebagai entitas yang sepanjang masa hidupnya dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama. (selengkapnya baca di sini)

Filosofi yang terkandung dalam nama angka bahasa Indonesia pun tak kalah luar biasanya. Bahkan formasi penyusunannya yang unik, sebenarnya telah menyiratkan jika ia menyimpan sesuatu makna khusus.

Mari kita cermati…

  • Satu (1) dan Sembilan (9), sama-sama huruf awalan S. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Dua (2) dan Delapan (8), sama-sama huruf awalan D. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Tiga (3) dan Tujuh (7), sama-sama huruf awalan T. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Empat (4) dan Enam (6), sama-sama huruf awaln E. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Lima (5), huruf awalan L. Lima (5) ditambahkan Lima (5), hasilnya: 10.

Formasi unik yang ditunjukkan pada nama angka dalam bahasa Indonesia ini, pada dasarnya sudah ramai diketahui publik. Hanya saja berhenti pada titik itu saja, tidak mengalami penelusuran lebih jauh ke dalam.

Untuk melanjutkan penelusuran lebih jauh agar dapat memahami makna filosofi yang dikandungnya, memang butuh sedikit kreatifitas… bisa juga butuh cukup banyak, tergantung… ya katakanlah, biar sedikit.. tapi dengan kualitas yang tinggi… 🙂

Hal pertama yang harus dicermati, yaitu huruf awalan yang digunakan pada susunan formasi tersebut, yakni: S, D, T, E, dan L.

Berikutnya, adalah mencermati huruf-huruf tersebut dalam format abjad Yunani. Kenapa mesti begitu? – karena jenis abjad latin yang kita gunakan di Indonesia hari ini, bentuk dasarnya adalah dari abjad Yunani. Pada Abjad Yunanilah dimulainya transisi sistem penulisan, yang dari sebelumnya menggunakan sistem penulisan abjad piktograf.

Hasilnya adalah: S = Sigma, D = Delta, T = Tau, E = Epsilon, L = Lambda.

Huruf Yunani, meskipun dapat digunakan layaknya sistem penulisan abjad Latin, tetapi masing-masing hurufnya merupakan suatu simbol yang mengandung makna tersendiri. Jadi, bisa dikatakan huruf Yunani ini tetap memiliki genetik aksara pendahulunya, yaitu piktograf.

Berikut ini makna yang dikandung huruf S, D T, E, dan L, menurut aksara Yunani.

Linguistik Komparatif dan Fungsinya dalam Mengungkap Sejarah Kuno

(gambar: wikipedia.org)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa Linguistik Komparatif adalah cabang linguistik yang mempelajari kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa yang kerabat atau dari periode historis dari satu bahasa.

Dengan demikian, jika dalam suatu penelusuran suatu bahasa ditemukan adanya indikasi kesepadanan-kesepadanan sebagaimana yang dimaksud dalam definisi di atas pada bahasa lain, maka sudah semestinya hal tersebut dilihat sebagai hal yang mengindikasikan adanya kekerabatan di antara kedua bahasa tersebut.

Namun demikian, akan timbul perdebatan jika bahasa yang tengah dikomparasi tersebut berada dalam rumpun bahasa yang berbeda.

Misalnya, jika merujuk pada konsep rumpun bahasa, bahasa yunani kuno bahasa Indonesia dan bahasa tae’ berada dalam rumpun bahasa yang berbeda.

Bahasa Yunani kuno tergolong dalam rumpun bahasa Indo Eropa, sementara bahasa Indonesia dan bahasa tae’ masuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Yang menarik adalah karena sesungguhnya terdapat beberapa variable pada ketiga bahasa tersebut yang menunjukkan keidentikan, baik jika ditinjau secara fonologis, gramatikal maupun leksikal.

Hal tersebut dapat kita lihat dalam paparan berikut ini…

Kita mengenal kata “teluk” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI diartikan sebagai “bagian laut yang menjorok ke darat”.

Namun melalui pencermatan etimologi serta tinjauan filologi, kita akan menemukan fakta bahwa suku kata te- pada kata “teluk” menunjukkan keidentikan dengan bentuk “the” yang umum terdapat dan digunakan dalam gramatikal bahasa rumpun Indo Eropa. 

Dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, Bentuk “the” umumnya Digunakan sebelum kata benda, dan terutama digunakan untuk menandai kata benda, fenomena alam, waktu, atau apa pun yang unik dan ingin ditonjolkan. 

Fungsi “the” yang demikian, akan terlihat dimiliki pula oleh suku kata te- pada kata “te-luk” jika kita memaknai suku kata setelahnya (-luk) sebagai bentuk kata benda. Yakni kata “luk” yang pada hari ini secara spesifik digunakan untuk menyebut lekukan pada keris. 

Jadi, tinjauan history linguistik untuk kata “teluk” adalah bahwa bisa jadi bentuk primordialnya adalah “Te-luk” atau pun “The-Luk”. Dalam hal ini, bentuk “Te-luk” atau “The-Luk” dapat memiliki dua pemaknaan.

Yaitu, Secara leksikal (makna yang bersifat tetap) bermakna: Lekuk; keluk; atau lengkungan, dan secara gramatikal (makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakaiannya) dapat mengandung makna sebagai bentuk penekanan terhadap fenomena alam-dalam hal ini “bagian laut yang menjorok ke darat”-ketika disandingkan dengan nama wilayah atau kawasan. Contoh: Te-Luk Benggala, dapat dimaknai: lekukan atau kelukan pada kawasan perairan Benggala. 

Jika kemudian pada hari ini dalam bahasa Indonesia kita temukan kata “teluk” lebih bermakna “bagian laut yang menjorok ke darat”, maka dapat dilihat bahwa kata ini kemungkinannya lahir dan berkembang dari suatu komunitas masyarakat bahari yang berorientasi dari sudut pandang laut bukan dari daratan.