Nubuwwah Akhir Zaman

Menakar Kesiapan Imam Mahdi Memasuki Panggung Akhir Zaman

Dalam tulisan sebelumnya ( Mengenal Lebih Dekat "Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi" ) saya telah mengulas adanya kesamaan figur penyelamat di akhir zaman yang terdapat dalam…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

3 menit baca

Dalam tulisan sebelumnya ( Mengenal Lebih Dekat "Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi" ) saya telah mengulas adanya kesamaan figur penyelamat di akhir zaman yang terdapat dalam tradisi berbagai agama.

Pada bagian ini, pembahasan akan lebih kepada mengulas kepaduan makna tekstual yang terdapat dalam literatur eskatologi yang membahas Maitreya (mewakili tradisi Buddha) dan Imam Mahdi (mewakili tradisi Islam).

Saya melihat, menemukenali koherensi tekstual dari literatur kedua tradisi ini, akan dapat membantu kita dalam upaya lebih mengenali realita "figur penyelamat akhir zaman" yang sesungguhnya, sehingga pada gilirannya, kita dapat menakar seperti apa dinamika yang kemungkinan "Sang Penyelamat" hadapi dalam menjalani perannya.

Dapat dikatakan bahwa pembahasan ini merupakan langkah kritis mengantisipasi fakta yang kerap kita temukan dalam dunia literatur sejarah, bahwa "kenyataan atau kejadian sesungguhnya, tidaklah sesimpel sebagaimana yang dinarasikan".

Sang Penyelamat Sebagai Manusia Biasa

Dalam buku "Maitreya, the Future Buddha" Alan Sponberg mendeskripsikan sosok Maitreya sebagai berikut:

Kami menemukan dia kadang-kadang digambarkan sebagai seorang bodhisattva yang rajin memupuk jalan menuju pencerahan di bumi dan kemudian sebagai seorang bodhisattva surgawi yang gemerlap di kediamannya di surga Tusita.

Kadang-kadang ia muncul seperti individu duniawi lainnya yang bertujuan mengabdi dan berkontemplasi, di sisi lain tampil sebagai pemimpin militan ekstrimis politik yang berusaha untuk membangun sebuah tatanan baru di masa sekarang ini.

Kita kadang-kadang melihatnya sebagai penerima pengakuan dosa dan kadang-kadang sebagai inspirator bagi para sarjana.

Mungkin tidak ada figur lain dalam jajaran Buddhis yang menggabungkan universalitas dan kemampuan beradaptasi dengan cara yang dilakukan Maitreya.

Deskripsi Alan Sponberg ini menunjukkan jika Maitreya adalah manusia biasa yang menjalani hidup layaknya orang kebanyakan. Ungkapan "seperti individu duniawi lainnya" menegaskan hal itu.

Di sisi lain, dalam tradisi Islam, Imam Mahdi disebutkan adalah orang biasa yang bahkan ia sendiri tidak mengetahui jika dirinya adalah Imam Mahdi yang dinantikan, kecuali setelah tiba pada momentum di mana Allah menghendaki untuk menampilkannya di tengah umat manusia.

Poin kohorensi yang ditunjukkan tema eskatologi dari tradisi Buddha dan tradisi Islam di atas adalah bahwa: "sang penyelamat akhir zaman" adalah manusia biasa, sama seperti kita.


Dan jika demikian halnya, saya membayangkan, bahwa akan teramat banyak persoalan yang akan dihadapi orang ini. Dari yang remeh temeh hingga yang teramat pelik.

Menghadapi Sikap masa modoh yang umum dimiliki generasi milenial pun bisa dibilang salah satu permasalahan yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

Beberapa hari yang lalu misalnya, di timeline twitter, saya membaca kicauan dari seorang anak remaja yang kurang lebih seperti ini: "Tiktok terus yuk... sampe datang Imam Mahdi gak ngaruh..."

_S_ikap apatis semacam ini dikalangan generasi milenial malah cenderung saya lihat sebagai "tren" ajang ekspresi jago-jagoan, yakni berusaha menunjukkan kicauan di twitter yang ekspresinya terkesan "paling masa bodoh".

...saya membayangkan, siapa pun yang menjadi Imam Mahdi akan tepok jidat membaca kicauan nyeleneh dari generasi milenial seperti itu... :)

Permasalahan lainnya....

Tingginya kompleksitas hidup hari ini yang sejalan dengan kompleksitas pemikiran manusia yang menjalaninya, adalah belantara liar nan ganas bagi pelintas yang hanya bermodalkan “moralitas.”

Bahkan, pada masa dewasa ini, kecanggihan teknologi informasi yang nyaris tanpa batas menjangkau ke segala lini hidup manusia, sangat mendukung efektifitas strategi komunikasi massa untuk mendisain suatu informasi yang dapat dengan mudah mempengaruhi opini publik.

Akibatnya, dengan sumber daya yang memadai, seseorang dapat dengan mudah diorbitkan menjadi selebriti ataupun didiskreditkan hingga dapat hancur kredibilitasnya.

Upaya-upaya sistematis semacam itu setidaknya dapat kita lihat dipertontonkan dalam film serial TV "Messiah" yang tahun ini memulai season pertamanya.

Dalam film tersebut, kita dapat melihat berbagai strategi intelejen (baik yang berupaya memainkan opini publik hingga tindakan sabotase) yang diupayakan organisasi CIA dalam menghadapi tokoh Mesiah.

Film ini juga sebenarnya menunjukkan kita suatu gambaran bahwa, bahkan jika pun Sang Penyelamat hadir dengan hal yang di luar kelaziman, katakanlah kemampuan luar biasa, akan ada saja jalan di mana hal itu dapat dimentahkan, terutama dengan memainkan opini publik.

Misalnya, seperti aksi berjalan di atas air yang ditunjukkan aktor Mehdi Dehbi dalam perannya sebagai mesiah di film serial TV "Messiah", yang kemudian direspon oleh media massa dengan sebuah komparasi bahwa hal demikian dapat pula dilakukan Illusionist Dynamo yang dapat berjalan melintasi permukaan air sungai Thames.

Demikianlah "sebagian kecil" dinamika panggung akhir zaman yang menanti Maitreya atau Imam Mahdi.

Baca artikel terkait: Nubuat Tentang Ciri-ciri Sang Penyelamat Akhir Zaman

Artikel Terkait

Komentar (1)

Arsip komentar dari blog lama

  1. Ryan Masanto

    Apik iki… dll tulisan juga apik meski ada bbrp hal penting/krusial yg bisa didiskusikan/diperrdebatkan lagi seiring dengan penemuan2 dan tafsir baru terhadap referensi2 yang telah ada atau akan diadakan. Semangat terus mengkaji terus nggih, Pak FB #senyum matur suwun, aku seneng mocone