Artikel ini menelusuri kemungkinan hubungan etimologis antara istilah *bissu* dalam tradisi Bugis dan *biksu* dari bahasa Sanskerta *bhikṣu*. Dengan menelaah pola perubahan bunyi dalam bahasa Bugis, jejak arkeologis Buddhisme di pesisir Sulawesi, serta kemiripan kedudukan ritual bissu dengan *to burake* di Toraja, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa nama *bissu* mungkin merupakan hasil asimilasi istilah Buddhis terhadap pranata ritual lokal yang telah lebih dahulu ada. Jika hipotesis ini benar, yang diwarisi masyarakat Bugis dari persentuhan dengan Buddhisme mungkin bukan pranata bissunya, melainkan nama yang hingga kini tersimpan dalam lidah mereka.
Artikel ini menelusuri kemungkinan hubungan etimologis antara istilah *bissu* dalam tradisi Bugis dan *biksu* dari bahasa Sanskerta *bhikṣu*. Dengan menelaah pola perubahan bunyi dalam bahasa Bugis, jejak arkeologis Buddhisme di pesisir Sulawesi, serta kemiripan kedudukan ritual bissu dengan *to burake* di Toraja, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa nama *bissu* mungkin merupakan hasil asimilasi istilah Buddhis terhadap pranata ritual lokal yang telah lebih dahulu ada. Jika hipotesis ini benar, yang diwarisi masyarakat Bugis dari persentuhan dengan Buddhisme mungkin bukan pranata bissunya, melainkan nama yang hingga kini tersimpan dalam lidah mereka.
Sebuah nama yang unik, secara psikologi dianggap menjanjikan sesuatu hal menarik. Film dengan judul panjang yang dibintangi Sam Elliot "The Man Who Killed Hitler and Then the…
Dalam bukunya yang berjudul “Madame Blavatsky: The Mother of Modern Spirituality” Gary Lachman mencatat bahwa: "bisa jadi, Madame Blavatsky adalah salah satu pengembara terbesar abad kesembilan belas.”
Gadis muda petualang itu berusia 18 tahun ketika ia melarikan diri dari Istana Sardar tempat ia dan suaminya tinggal. Suaminya bernama Jenderal Nikifor Blavatsky, Wakil Gubernur Erivan di Armenia.
Perkumpulan Freemasonry atau yang di masa kolonial hingga pasca kemerdekaan umumnya disebut "Tarekat Mason Bebas", aktif tersebar di seluruh Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1762 sampai 1962.
Norwood Cyril menjelaskan bahwa jika kita menelusuri Freemasonry dalam aspek mitos dan legenda, motifnya terkait dengan Tentara Salib dengan Rosicrucian, Kekaisaran Romawi, Firaun (Firaun), Kuil Sulaiman, Taman Gantung Babilonia (Menara Babel) , dan Bahtera Nuh ( Cyril, 1934 ).
Ada bukti yang menunjukkan bahwa telah ada Loji-Loji Mason yang berdiri di Skotlandia sejak awal abad ke-16 (Stevenson, David - 1988. The Origins of Freemasonry: Scotland's Century 1590-1710).
Dari catatan kuno, bangsa Sumeria diketahui memiliki tanah suci di Timur (Eden in the East) yang disebut "Dilmun" (Telmun atau Tilmun), tempat di mana matahari terbit, dan tempat di mana pahlawan mereka, Ziusudra, dikatakan hidup abadi.
Pada abad ke-16 dan awal abad berikutnya, terdapat banyak referensi tentang seorang insinyur, pembuat peta militer (Kartografer) dan penulis berdarah Bugis-Portugis bernama Manuel Godinho de Erédia (1563-1623).