‘Dilmun’ Tanah Suci Bangsa Sumeria, Apakah Borobudur?

candi borobudur dan kaitannya dengan tanah suci dilmun dalam kepercayaan bangsa Sumeria
0 Shares
Reading Time: 6 minutes

Dari catatan kuno, bangsa Sumeria diketahui memiliki tanah suci di Timur (Eden in the East) yang disebut “Dilmun” (Telmun atau Tilmun), tempat di mana matahari terbit, dan tempat di mana pahlawan mereka, Ziusudra, dikatakan hidup abadi.

Dalam Eridu Genesis (kisah mitos penciptaan milik bangsa Sumeria), tanah suci yang jauh di timur itu disebut sebagai “Gunung Dilmun”.

Negeri Dilmun juga adalah negeri yang sebenarnya dengan siapa Sumeria berdagang sepanjang sejarah mereka. Pada prasasti raja Ur-Nanshe dari Lagash (c. 2300 SM) yang dianggap sebagai salah satu prasasti paling awal yang menyebutkan Dilmun misalnya, terdapat kalimat “”Kapal-kapal Dilmun membawakannya kayu sebagai upeti dari negeri asing.” Informasi dari prasasti ini dengan sendirinya menyatakan bahwa ‘Dilmun’ bukanlah tanah mitos tapi memang benar-benar ada.





Selama ini, para arkeolog telah mengidentifikasi Dilmun dengan pulau Bahrain, data-data arekolog terkait hal ini telah saya bahasa cukup rinci dalam artikel sebelumnya “Dilmun: Tanah Suci Bangsa Sumeria, dan Hubungannya Dengan Nusantara” jadi, dalam bagian ini saya akan lebih fokus membahas di titik mana di Nusantara yang sangat mungkin menjadi kandidat utama untuk diidentifikasi sebagai ‘Dilmun’ tanah suci bangsa Sumeria.

Ini sebagaimana yang diungkap Samuel Noah Kramer dalam bukunya In the World of Sumer: An Autobiography, bahwa “apa pun batas baratnya, Dilmun meluas lebih jauh ke timur dan termasuk bagian-bagian Iran, Pakistan, dan India …”

Teman-teman, dukung saya dengan subcribe di Channel Youtube ini... itu akan sangat membantu channel Youtube ini untuk terus berkembang. Terima kasih!

Indentifikasi MUNTIL (merujuk pada nama daerah Muntilan dan nama Gunung Muntil di dekat Borobudur) sebagai bentuk anagram dari TILMUN atau DILMUN

Di dekat kawasan candi Borobudur terdapat toponim ‘Muntilan’, yang bisa jadi berasal dari bentuk dasar ‘Muntil’ dengan penambahan akhiran -an. Kita dapat melihat jika ‘Muntil’ merupakan anagram dari ‘Tilmun’ (bentuk lain untuk Dilmun).

Jika kita menggali lebih dalam, kata ‘muntil’, secara fonetis identik dengan kata seperti ‘punti’, ‘pentil’ dan ‘puting’. Sebagai kata benda, ketiga kata ini memiliki tampilan bentuk yang memang sangat mirip. Kata ‘punti’ (sebutan untuk pisang dalam bahasa tradisional) misalnya, memiliki ujung yang sangat mirip dengan puting susu. Dan yang lebih menarik, puncak candi Borobudur yang berada di dekat Muntilan sebenarnya juga menunjukkan bentuk seperti puting susu. (lihat gambar di bawah).

Fakta ini dapat mengarahkan kita pada hipotesis bahwa bisa jadi bentuk bangunan candi Borobudur memang mengadopsi bentuk puting susu dan yang mana itu berkorelasi dengan nama wilayah Muntilan yang berada di dekat kompleks candi Borbudur.

Kita dapat pula berasumsi bahwa nama ‘Muntilan’ berasal dari penggabungan antara kata ‘MUNTI atau PUNTI’ dengan kata ‘LAN’ (dalam bahasa Inggris ‘land’ yang artinya tanah atau negeri, dan dalam bahasa Indonesia kita menemukan bentuknya pada kata ‘lahan’ yang juga berarti tanah atau kawasan – jadi dalam perjalanan waktu kata ‘lan’ mengalami perubahan bentuk yaitu dengan mendapat penambahan fonetis h).

Berdasar pada asumsi ini maka, apakah nama ‘Muntilan’ mengandung makna “tanah/ negeri punti” atau “tanah/ negeri puting”? dan mengapa candi Borbudur mengadopsi bentuk puting susu?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin terlebih dahulu membawa anda kembali mencermati penyebutan “Gunung Tilmun (Dilmun)” dalam kisah Eridu Genesis milik bangsa Sumeria. Sebutan ‘Gunung Tilmun’ ini bisa kita asumsikan bermakna: ‘gunung atau bukit puting’. Pada dasarnya makna ini secara utuh tersaji pada candi Borbudur.

DAN YANG LEBIH MENARIK LAGI, SEKITAR 7 KILOMETER DARI KAWASAN CANDI BOROBUDUR TERDAPAT GUNUNG MUNTIL YANG TERLETAK DI SEKITAR PEGUNUNGAN MENOREH.

Bangunan Candi Borobudur mengadopsi bentuk puting susu

Candi Borobudur pada dasarnya adalah sebuah bukit alami yang ditutupi struktur bebatuan (lihat gambar di bawah).

Jadi, jika kita menghilangkan struktur lapisan bebatuannya dan hanya menyisakan stupa terbesar di bagian puncak maka bentuknya akan lebih mudah kita kenali menyerupai bentuk susu beserta putingnya (lihat gambar di bawah).

Sampai di sini, pertanyaannya bergeser dari “mengapa candi Borbudur mengadopsi bentuk puting susu?” menjadi: mengapa dinasti Sailendra mempertegas “kawasan bukit ini” mencitrakan objek “puting susu” dengan memberi stupa besar di puncak bukit sebagai analogi sebuah puting?

Secara intuitif saya menangkap maksud dari hal ini adalah untuk mengisyaratkan bahwa bukit di mana candi Borobudur dibangun adalah tanah yang sensitif dan memilki getaran atau spektrum spiritual yang kuat, seperti halnya puting susu sebagai bagian tubuh manusia di mana terdapat banyak saraf-saraf yang sangat sensitif.

Lalu, adakah pertimbangan lain sehingga saya cukup yakin untuk mengatakan bahwa perbukitan candi Borobudur sebagai sebuah kawasan yang sensitif atau sakral? Jawabannya: Ada. Hal yang mengisyaratkan ini saya temukan pada naskah suci Zoroastrianisme yaitu ‘Vendidad of Avesta‘.

0 Shares

2 Comments on “‘Dilmun’ Tanah Suci Bangsa Sumeria, Apakah Borobudur?”

Comments are closed.