Sains

Ilmuwan Wanita yang Dijuluki “Einstein Berikutnya” Ini Meneliti Sesuatu Mirip Lauh Mahfuz

Sabrina Pasterski meneliti gagasan bahwa kode seluruh alam semesta tertulis di “langit” terjauhnya. Sebuah isyarat sains yang menggemakan Lauh Mahfuz.

Fadly Bahari

Penulis · 291 tulisan

15 menit baca
Daftar isi

Musim panas 2009. Di sebuah landasan pacu di Illinois, Amerika Serikat, seorang gadis berusia 16 tahun duduk sendirian di kokpit pesawat bermesin tunggal. Tidak ada instruktur di kursi sebelahnya. Pesawat itu bukan pesawat sewaan. Ia merakitnya sendiri, keping demi keping, sejak berusia 12 tahun.

Namanya Sabrina Gonzalez Pasterski.

Mesin menderu, roda perlahan meninggalkan aspal, dan langit terbentang luas di depan kaca kokpit. Barangkali di ketinggian itu ia sempat bertanya-tanya tentang hal yang kelak menjadi pertanyaan hidupnya: apa sebenarnya langit itu? Mengapa ruang dan waktu bekerja seperti yang kita alami?

Belasan tahun kemudian, gadis yang dulu menatap langit dari balik kaca kokpit itu menatapnya dengan cara yang sama sekali berbeda. Bagi Pasterski hari ini, langit terjauh, yakni batas paling ujung dari alam semesta, bukan sekadar hamparan bintang. Di sanalah, menurut hipotesis yang ia geluti, "kode sumber" seluruh realitas fisik mungkin tertulis.

Gagasan itu dikenal sebagai Celestial Holography, atau holografi langit.


Gadis Kuba-Amerika dari Chicago

Sabrina Gonzalez Pasterski lahir pada 3 Juni 1993 di Chicago. Ia adalah generasi pertama keluarga Kuba-Amerika. Ketertarikannya pada sains bermula dari sebuah pengalaman sederhana: penerbangan pertamanya di dalam pesawat saat berusia sembilan tahun.

Pengalaman itu tidak berhenti sebagai kenangan masa kecil. Ia mulai belajar terbang, lalu merakit sebuah pesawat dari kit di bengkel bersama ayahnya. Saat usianya 14 tahun, pesawat itu sudah dinyatakan laik terbang. Dua tahun kemudian ia menerbangkannya sendiri, sebelum ia bahkan cukup umur untuk mengurus SIM mobil.

Kisah ini sempat membawanya ke halaman depan Chicago Tribune. Bahkan, menurut sejumlah catatan, Pasterski remaja pernah mendatangi kampus MIT untuk meminta pesawat rakitannya diperiksa. Ironisnya, saat mendaftar kuliah, ia justru ditolak oleh Harvard dan hanya masuk daftar tunggu di MIT.

Tetapi begitu diterima di MIT, namanya melesat. Ia ikut dalam eksperimen CMS di Large Hadron Collider, CERN, salah satu detektor yang memburu partikel Higgs. Ia lulus dengan IPK sempurna, 5.0 dari 5.0, dan menerima penghargaan untuk lulusan dengan nilai tertinggi di departemen fisika MIT. Tawaran kerja dari NASA dan Blue Origin milik Jeff Bezos pun datang menghampiri.

Pasterski memilih jalan yang lebih sunyi: fisika teoretis. Ia melanjutkan studi doktoral di Harvard dan meraih gelar PhD pada 2019. Majalah Forbes memasukkannya ke daftar 30 Under 30 bidang sains pada 2015. Media populer kemudian ramai menjulukinya "Einstein berikutnya", sebuah label yang, seperti akan kita lihat, tidak sepenuhnya ia sukai.

Dari Jejak Gelombang Gravitasi ke Inisiatif Holografi Langit

Di Harvard, Pasterski belajar di bawah bimbingan Andrew Strominger, salah satu fisikawan teori terkemuka di bidang gravitasi kuantum. Di sinilah ia menemukan jalur risetnya yang pertama dan paling berpengaruh: memory effect, atau efek memori gravitasi.

Idenya kira-kira begini. Ketika gelombang gravitasi melintas, ia tidak sekadar menggetarkan ruang-waktu lalu menghilang. Ia meninggalkan jejak permanen. Dua benda yang semula diam akan bergeser sedikit dari posisi awalnya, seolah ruang-waktu "mengingat" bahwa sesuatu pernah lewat.

Bersama Strominger dan Alexander Zhiboedov, Pasterski mengusulkan jenis memori baru yang disebut spin memory effect. Mereka juga menunjukkan bahwa tiga hal yang selama ini dipelajari terpisah ternyata saling terhubung erat. Ketiganya adalah teorema partikel lunak (soft theorems), simetri di batas tak terhingga ruang-waktu, dan efek memori. Hubungan ini kini dikenal sebagai segitiga Pasterski–Strominger–Zhiboedov.

Salah satu makalah tunggalnya kemudian dikutip oleh Stephen Hawking pada awal 2016. Bagi seorang mahasiswa doktoral, ini pengakuan yang tidak kecil.

Setelah menjadi peneliti pascadoktoral di Princeton, Pasterski bergabung dengan Perimeter Institute for Theoretical Physics di Waterloo, Kanada, pada 2021. Ia termasuk anggota fakultas termuda di lembaga itu. Di sana ia mendirikan dan memimpin Celestial Holography Initiative, sebuah tim yang menyatukan ahli amplitudo hamburan, fisika matematika, dan gravitasi kuantum.

Apa itu "Holografi Langit" (Celestial Holography)?

Teori yang diteliti oleh Dr. Sabrina Pasterski mencoba menjawab salah satu misteri terbesar dalam fisika: menyatukan Teori Relativitas Umum (gravitasi) dengan Mekanika Kuantum.

  • Konsep Dasar: Hipotesis ini mengusulkan bahwa realitas 4 dimensi yang kita rasakan (3 dimensi ruang + 1 dimensi waktu) sebenarnya dapat dikodekan dan dipahami sebagai proyeksi dari hukum fisika yang lebih sederhana di batas luar alam semesta kita (langit malam 2 dimensi).
  • Analogi Mudah: Sama seperti kartu kredit yang memiliki stiker hologram datar (2D) tetapi menampilkan gambar yang terlihat memiliki kedalaman (3D) saat dilihat, seluruh alam semesta kita diduga memiliki "kode sumber" yang tertulis di langit yang datar.

Suntikan Dana Raksasa dari Simons Foundation ($8 Juta)

Pada 2023, Simons Foundation mengumumkan Simons Collaboration on Celestial Holography, dengan dana hampir 8 juta dolar AS untuk empat tahun. Kolaborasi ini dipimpin oleh Andrew Strominger dari Harvard dan melibatkan sekitar 13 peneliti utama. Mereka berasal dari Cambridge, Edinburgh, Oxford, Institute for Advanced Study, New York University, University of Washington, Perimeter Institute, dan Harvard. Pasterski menjabat sebagai salah satu Wakil Direktur.

Tujuan kolaborasi ini terdengar sederhana, tetapi sangat ambisius: menemukan bentuk prinsip holografik yang berlaku pada ruang-waktu yang (hampir) datar seperti alam semesta yang kita huni.

Antara Kagum dan Ragu

Seperti setiap gagasan besar dalam fisika, holografi langit tidak berjalan di jalan yang mulus. Kekaguman pada keindahan matematikanya datang beriringan dengan keraguan yang serius.

Masalah alam semesta yang "datar". Kritik paling mendasar datang dari sisi kosmologi. Agar perhitungannya bekerja, holografi langit mengandaikan ruang-waktu yang di kejauhan tak terhingga menjadi datar. Dalam bahasa teknis, konstanta kosmologisnya bernilai nol. Padahal pengamatan astronomi menunjukkan alam semesta kita mengembang semakin cepat, didorong oleh apa yang disebut energi gelap.

Para pendukungnya menjawab bahwa ini adalah penyederhanaan yang disengaja, bukan kekeliruan. Pada skala tabrakan partikel, pengaruh pengembangan alam semesta sangat kecil sehingga bisa diabaikan. Fisika partikel di laboratorium seperti CERN pun sehari-hari bekerja dengan asumsi ruang-waktu datar. Memperluas kerangka ini ke alam semesta yang mengembang adalah langkah berikutnya yang masih terbuka.

Bayang-bayang Teori Dawai. Sebagian fisikawan khawatir proyek ini akan bernasib seperti Teori Dawai: matematikanya kian rumit dan indah, tetapi kian jauh dari hal yang bisa diuji. Di sinilah riset awal Pasterski tentang efek memori menjadi penting. Efek memori gravitasi adalah sesuatu yang pada prinsipnya bisa diukur oleh detektor gelombang gravitasi. Kolaborasi Simons sendiri menyatakan ingin menghubungkan teori ini secara lebih langsung dengan pengamatan gelombang gravitasi.

Beban label "Einstein berikutnya". Kritik ketiga bukan soal fisika, melainkan soal media. Julukan semacam itu dinilai terlalu dini. Dalam fisika teoretis, sebuah gagasan baru diterima setelah diuji selama puluhan tahun, bukan setelah viral di media sosial. Lagi pula, holografi langit adalah kerja kolektif belasan kelompok riset di tiga benua, bukan proyek satu orang jenius.

Meski begitu, kubu yang optimis punya alasan untuk bersemangat. Dalam pertemuan tahunan kolaborasi pada April 2026, Strominger melaporkan sejumlah hasil baru dalam perhitungan amplitudo hamburan partikel. Beberapa di antaranya bahkan lahir dari kerja sama dengan OpenAI. Jalan masih panjang, tetapi peta menuju ke sana mulai terisi.

Alam Semesta sebagai Hologram

Untuk memahami apa yang dikejar Pasterski, kita perlu mundur sejenak ke persoalan terbesar fisika modern. Relativitas Umum Einstein menjelaskan gravitasi dan dunia makro dengan sangat baik. Mekanika kuantum menjelaskan dunia partikel dengan ketelitian luar biasa. Tetapi ketika keduanya dipaksa bertemu, misalnya di inti lubang hitam, perhitungannya runtuh dan menghasilkan angka tak terhingga yang tak bermakna.

Salah satu petunjuk paling berharga datang justru dari lubang hitam. Pada 1970-an, Jacob Bekenstein dan Stephen Hawking menemukan bahwa jumlah informasi yang bisa disimpan lubang hitam sebanding dengan luas permukaannya, bukan volumenya. Ini aneh. Seolah-olah seluruh isi ruang tiga dimensi bisa dicatat sepenuhnya pada kulit luarnya yang dua dimensi.

Dari petunjuk inilah Gerard 't Hooft dan Leonard Susskind, pada awal 1990-an, mengajukan prinsip holografik. Analoginya adalah stiker hologram pada kartu ATM: permukaannya datar, tetapi gambarnya tampak memiliki kedalaman.

Pada 1997, Juan Maldacena memberi prinsip ini bentuk matematika yang konkret, dikenal sebagai korespondensi AdS/CFT. Ia menunjukkan bahwa sebuah alam semesta dengan gravitasi bisa dideskripsikan secara setara oleh teori kuantum tanpa gravitasi yang hidup di batasnya. Masalahnya, alam semesta dalam model Maldacena, yang disebut ruang Anti-de Sitter, melengkung seperti kotak tertutup. Bentuknya jauh berbeda dari alam semesta kita.

Langit 2D yang Dimaksud

Di sinilah holografi langit mengambil langkah berbeda. Ia bertanya: jika alam semesta kita (hampir) datar, di manakah "batas"-nya?

Jawabannya ternyata puitis. Bayangkan sinar cahaya dan partikel yang terlempar dari sebuah tabrakan, melesat menjauh tanpa henti. Pada jarak tak terhingga, yang tersisa dari mereka hanyalah arah, yakni titik pada sebuah bola raksasa yang melingkupi segalanya. Bola itu adalah bola langit (celestial sphere), konsep yang sama yang dipakai para astronom untuk memetakan posisi bintang dengan dua koordinat sudut.

Jadi frasa "langit 2D" bukan sekadar kiasan, tetapi juga bukan langit biru di atas kepala yang tiba-tiba menjadi layar datar. Ia adalah batas geometris alam semesta pada jarak tak terhingga, tempat semua arah cahaya bermuara.

Pasterski dan rekan-rekannya berupaya menyusun semacam "kamus" antara dua bahasa: bahasa ruang-waktu empat dimensi tempat kita hidup, dan bahasa permukaan dua dimensi di langit terjauh.

Di dalam alam semesta (4D)Di bola langit (2D)
Partikel yang datang dan pergi setelah bertabrakanTitik-titik pada bola langit
Matriks hamburan (S-matrix): tabel peluang hasil tabrakanKorelasi dalam sebuah teori medan konformal 2D
Simetri tak terhingga di batas ruang-waktu (simetri BMS)Simetri konformal pada permukaan bola
Teorema partikel lunak dan efek memori gravitasiAturan-aturan yang mengikat korelasi di permukaan

Kamus ini belum lengkap. Teori dua dimensi yang "sebenarnya" di bola langit itu pun belum diketahui wujud utuhnya. Itulah inti kerja kolaborasi ini.

Apakah Ada "Proyektor" di Balik Hologram?

Pertanyaan alami berikutnya: energi atau mekanisme apa yang memproyeksikan kode di langit terjauh menjadi ruang dan waktu 4D (alam semesta)? Jawaban fisika teoretis cukup mengejutkan. Tidak ada proyektor terpisah, dan tidak ada sinar yang ditembakkan dari langit.

Dalam holografi, yang di dalam dan yang di batas bukanlah dua benda, satu sumber dan satu bayangan. Keduanya adalah dua cara mendeskripsikan satu realitas yang sama. Ibarat satu kalimat yang ditulis dalam dua bahasa, tidak ada yang lebih asli dari yang lain. Fisikawan menyebut hubungan ini dualitas.

Riset dalam kerangka AdS/CFT bahkan memberi petunjuk bahwa ruang itu sendiri mungkin "dijahit" oleh jalinan keterkaitan kuantum (quantum entanglement) di batasnya. Apakah hal yang sama berlaku untuk bola langit di alam semesta datar, masih menjadi pertanyaan terbuka.


Langit Dua Dimensi dan Isyarat Lauh Mahfuz

Setelah cukup lama menyelami gagasan ini, ada satu intuisi yang terus mengusik saya. Sebuah permukaan di batas terjauh alam semesta, tempat seluruh peristiwa di dalamnya tercatat secara utuh. Bukankah gambaran ini sangat dekat dengan apa yang dalam khazanah Islam disebut Lauh Mahfuz?

Al-Qur'an menyebut nama itu secara eksplisit: "Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz." (QS. Al-Buruj: 21–22)

Di tempat lain, kitab ini digambarkan mencatat segala sesuatu, bahkan sebelum hal itu terjadi: "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya." (QS. Al-Hadid: 22)

Tidak ada yang luput darinya, sampai sehelai daun yang gugur sekalipun (QS. Al-An'am: 59). "Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas." (QS. Yasin: 12)

Setidaknya ada tiga hal yang menurut saya penting untuk dicermati.

  1. makna kata

Lauh berasal dari akar kata lam-waw-ha. Al-Qur'an memakai bentuk jamaknya, alwah, untuk lempengan tempat Taurat dituliskan bagi Nabi Musa (QS. Al-A'raf: 145). Kata yang sama dipakai untuk papan-papan kayu bahtera Nabi Nuh (QS. Al-Qamar: 13). Jadi lauh adalah sebuah permukaan datar tempat sesuatu dituliskan.

Adapun mahfuz, dari akar ha-fa-dza, berarti yang dijaga atau yang terpelihara: tidak hilang, tidak rusak, tidak berubah.

Di sinilah kesejajarannya terasa begitu kuat. Prinsip holografik lahir dari perdebatan panjang para fisikawan tentang satu pertanyaan: apakah informasi bisa benar-benar musnah ketika jatuh ke lubang hitam? Mayoritas fisikawan bersikukuh tidak. Informasi alam semesta harus terjaga. Jawaban holografik atas teka-teki itu adalah: informasi tersebut tercatat di sebuah permukaan. Sebuah papan datar yang terpelihara.

  1. Titik Temu Geometri: "Batas Terluar" yang Memagari Realitas

Dalam Riset Holografi Langit: Celestial Sphere atau langit 2D bukanlah objek yang menggantung di tengah ruang. Ia adalah Asymptotic Boundary—sebuah batas absolut tempat ruang dan waktu mencapai titik tak terhingga. Secara matematis, tidak ada lagi ruang fisik di luar batas tersebut. Batas inilah yang memagari dan mendekap seluruh isi alam semesta 3D kita.

Dalam Khazanah Islam: Lauh Mahfuz sering kali digambarkan berada di atas langit ketujuh, di dekat Arsy, atau di sekitar Sidratul Muntaha (secara harfiah berarti "Pohon Bidara Batas Akhir"). Konsep Sidratul Muntaha sendiri dalam teologi adalah batas tertinggi yang tidak bisa dilewati lagi oleh makhluk fisik, tempat segala urusan makhluk berakhir dan dari sana pula segala takdir diturunkan ke alam semesta.

Secara geometris, kedua konsep ini sama-sama menunjuk pada dinding pembatas terluar yang membungkus seluruh realitas fisik.

  1. Sifat Informasi: Statis vs Dinamis

Paralelisme ini juga menjadi semakin kuat jika kita melihat bagaimana informasi tersebut bekerja di kedua domain:

Di Langit 2D (Sains): Semua persamaan matematika tentang tabrakan partikel, lahirnya bintang, hingga hancurnya galaksi di alam semesta kita, datanya sudah "beku" dan selesai tertulis di batas 2D tersebut sebagai korelasi matematis yang abadi (S-Matrix). Bagi pengamat di batas 2D, tidak ada waktu yang berjalan seperti kita; semuanya adalah satu set data yang utuh.

Di Lauh Mahfuz (Spiritual): Konsep takdir menyatakan bahwa segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi sudah selesai tertulis. Lembaran-lembarannya telah kering dan pena telah diangkat. Waktu 4D yang kita jalani detik demi detik di bumi hanyalah proses "pembacaan" atau manifestasi dari apa yang sudah tertulis secara utuh di sana.


Hilangnya Dikotomi Antara Sains dan Agama

Selama berabad-abad, sains dan agama terpisah karena sains hanya berurusan dengan yang fisik (materi/energi), sementara agama berbicara tentang yang metafisik (informasi/ruh/takdir).

Riset seperti Celestial Holography mulai mengaburkan batas ini. Ketika fisikawan menyimpulkan bahwa ruang dan waktu 4D yang kita sentuh ini hanyalah ilusi yang muncul dari jalinan informasi kuantum di ujung semesta, sains secara tidak langsung bergeser dari materialisme menuju informasionalisme.

Di titik ini, esensi alam semesta bukan lagi benda padat, melainkan "kode atau pesan". Pandangan ini sangat dekat dengan konsep spiritual bahwa dunia fisik hanyalah manifestasi lahiriah dari sebuah ketetapan atau kalimat yang bersifat abstrak dan gaib.

Namun, celestial holography bukanlah asal-usul gagasan realitas-informasi, melainkan salah satu perkembangan fisika teoretis yang membuat pertanyaan tentang hubungan antara informasi dan realitas semakin konkret.

Beberapa tokoh menonjol dari dunia fisika, teori informasi, dan filsafat yang mempelopori atau mendukung pandangan bahwa realitas pada dasarnya adalah informasi antara lain:

1. Bidang Fisika Kuantum & Kosmologi

  • John Archibald Wheeler: Fisikawan teoretis terkemuka yang menciptakan frasa terkenal "It from bit". Wheeler berargumen bahwa setiap partikel, gaya, dan ruang-waktu itu sendiri berasal dari jawaban atas pertanyaan ya/tidak (bit) dalam pengamatan kuantum.
  • Vlatko Vedral: Profesor fisika kuantum di Universitas Oxford yang menulis buku Decoding Reality. Ia secara tegas menyatakan bahwa informasi adalah fondasi paling dasar dari alam semesta, bahkan lebih fundamental daripada materi atau energi.
  • Max Tegmark: Kosmolog dari MIT yang mengajukan Mathematical Universe Hypothesis. Ia berpendapat bahwa realitas fisik kita adalah sebuah struktur matematika, yang pada dasarnya merupakan bentuk informasi murni.
  • Gerard 't Hooft dan Leonard Susskind: Dua fisikawan yang merumuskan Prinsip Holografik (Holographic Principle). Teori ini menyatakan bahwa seluruh isi alam semesta tiga dimensi dapat dipandang sebagai informasi kuantum yang "terenkripsi" pada batas dua dimensi di luarnya.

2. Bidang Teori Informasi & Komputasi

  • Edward Fredkin: Pionir komputer yang mencetuskan gagasan Fisika Digital (Digital Physics). Ia berpendapat bahwa alam semesta ini pada hakikatnya adalah sebuah komputer raksasa (seluler automata) yang terus-menerus memproses informasi sesuai hukum alam.
  • Claude Shannon: Dikenal sebagai "Bapak Teori Informasi". Meskipun fokus pada aspek teknis komunikasi, karyanya berhasil mengukur informasi secara matematis (entropi Shannon) dan membuktikan bahwa informasi adalah entitas objektif yang setara dengan konsep entropi dalam fisika termodinamika.

3. Bidang Filsafat

  • Luciano Floridi: Filsuf terkemuka yang mendirikan cabang Filsafat Informasi. Ia memandang dunia bukan sebagai kumpulan materi, melainkan sebagai sebuah Infosphere—kondisi di mana semua agen dan objek adalah entitas informasional yang saling berinteraksi.

Konsep "Kebenaran Tunggal" (The Ultimate Truth)

Dalam filsafat ilmu, ada pemikiran bahwa jika sains dan agama sama-sama mencari kebenaran tentang asal-usul dan cara kerja keberadaan kita, maka di titik paling ujung, keduanya harus bertemu.

Sains bergerak dari bawah ke atas (bottom-up)—menggunakan matematika, partikel, dan eksperimen untuk meraba struktur realitas.

Agama/Spiritualitas bergerak dari atas ke bawah (top-down)—memberikan prinsip-prinsip makro dan hakikat eksistensial lewat wahyu atau intuisi terdalam.

Di ujung pencarian, ketika matematika Celestial Holography berhasil memetakan bagaimana "cetak biru" di langit terjauh menciptakan dunia nyata, duniapun tidak lagi dipandang sebagai sekadar tumpukan atom yang acak, melainkan sebuah mahakarya yang terstruktur rapi dari algoritma yang mahaluas.

Dalam diskusi ini, layak untuk mengajukan pertanyaan: bagaimana jika alam semesta dan langit 2D itu sebenarnya adalah satu entitas yang sama?

Menariknya, fisika holografik justru menjawab ke arah itu. Seperti telah diuraikan di atas, yang di dalam dan yang di batas bukanlah sumber dan bayangannya. Keduanya adalah dua deskripsi dari satu realitas yang sama.

Dalam tradisi Islam, ada konsep yang sangat dekat dengan ini. Para ulama membedakan dua jenis ayat: ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang difirmankan dan tertulis dalam kitab, dan ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda yang terhampar di alam semesta. Kata yang dipakai sama: ayat. Kitab dan alam semesta adalah dua "teks" yang ditulis oleh Pengarang yang sama, dibaca dengan dua cara yang berbeda.


Tentu, kita perlu jujur pada batas bahwa saat ini Holografi langit masih berupa model matematika teoretis yang belum selesai, dan sejarah sains mengajarkan bahwa model bisa berubah seiring datangnya data baru. Kesejajaran ini bukanlah bukti bahwa sains telah "membenarkan" Lauh Mahfuz, dan ayat suci pun tidak sedang mendikte rumus fisika. Saya lebih suka menyebutnya isyarat.

Tetapi isyarat itu cukup untuk membuat kita berhenti sejenak. Ketika para fisikawan paling cemerlang abad ini, dengan matematika yang paling canggih, sampai pada kesimpulan bahwa seluruh isi semesta mungkin tercatat di sebuah permukaan yang terjaga di batas terjauhnya, kita teringat bahwa gambaran tentang sebuah "papan yang terpelihara" telah disampaikan sekitar 1400 tahun yang lalu.

Gadis yang dulu menerbangkan pesawat rakitannya di langit Illinois kini sedang berusaha membaca langit itu dengan bahasa matematika. Barangkali, di ujung perjalanan sains dan iman, keduanya memang sedang membaca kitab yang sama.


Sumber

Artikel Terkait

Komentar