Asal Usul Sebutan “Cella” untuk Ruang Paling Sakral di Dalam Kuil

Dalam budaya Hellenistik pada masa kerajaan Ptolemeus di Mesir kuno, ‘Cella’ merujuk pada apa yang tersembunyi, dirahasiakan, dan merupakan tempat paling suci pada sebuah kuil. 

Kondisinya berada dalam kegelapan total, yang dimaksudkan sebagai representasi keadaan alam semesta sebelum penciptaan. Hanya para imam yang memiliki akses ke bagian dalam cella yang tetap tidak terlihat oleh publik. 

Kuil-kuil di Yunani ataupun Romawi kuno juga menyebut ‘Cella’ untuk ruangan kecil, yang dianggap paling suci tempat ibadah para pertapa atau pun biarawan. Umumnya letaknya berada di tengah bangunan, dan biasanya dihiasi gambar atau patung dewa tertentu yang dikultuskan di kuil tersebut, serta juga ditempatkan meja altar tempat meletakkan persembahan.

Denah cella pada kuil Parthenon Yunani (Sumber: mathtec.weebly.com)
Denah cella pada kuil Parthenon Yunani (Sumber: mathtec.weebly.com)
Cella pada kuil Parthenon dengan figur dewi Athena (sumber: id.pinterest.com)
Cella pada kuil Parthenon dengan figur dewi Athena (sumber: id.pinterest.com)

Pada Arsitektur kristen di masa Bizantium awal, Cella atau naos di tempatkan di area pusat gereja yang disediakan untuk melakukan liturgi. Dalam periode selanjutnya, sebuah kapel kecil atau sel biarawan juga disebut cella.

Dalam bahasa Latin di awal abad ke-12, kata cella berarti “biara kecil”, lalu kemudian dimaknai “ruangan kecil untuk seorang biarawan atau biarawati” atau “tempat tinggal seorang pertapa” di sekitar tahun 1300-an. 

Para ahli bahasa menganggap kata ‘cella’ bertalian dengan kata ‘celare’ yang berarti ‘menyembunyikan’ atau ‘merahasiakan’, juga terkait dengan kata Proto-Indo-Eropa “kel” yang artinya “untuk menutupi; menyembunyikan; menyelamatkan.” (sumber di sini)

Dari waktu-waktu pemaknaan kata cella terus mengalami perkembangan, hingga pada masa sekarang menjadi kata ‘sel’ dalam studi biologi, sel untuk ruangan penjara, dan banyak lagi.

Sebuah Cella ruang bawah tanah di Monferrato (Italia Utara) yang telah disulap menjadi ruangan penyimpanan Wine (sumber: cinquequinti.com)
Sebuah Cella ruang bawah tanah di Monferrato (Italia Utara) yang telah disulap menjadi ruangan penyimpanan Wine (sumber: cinquequinti.com)

Lalu dari manakah sesungguhnya kata ‘cella’ ini berasal? 

Mengapa dari sejak masa Mesir kuno, Yunani kuno, hingga Romawi kuno, ia digunakan untuk menyebut tempat paling sakral dan suci dalam sebuah kuil? 

Anehnya, untuk hal yang sangat penting karena menyangkut sesuatu yang sangat sakral, penjelasan untuk asal usul kata ‘cella’ sejauh ini tidak saya temukan.

Awalnya saya berpikir bahwa karena kata ‘cella’ bisa dikatakan terkait langsung dengan bagian inti ritual keagamaan, maka mestinya ia terjaga dalam hal riwayat asal-usulnya, maknanya, dan eksistensinya. 

Sayangnya, nampaknya hanya eksistensinya saja yang masih terjaga, dalam artian masih tetap terus digunakan. Di sisi lain, maknanya terus mengalami perkembangan, sementara asal-usulnya nampaknya telah terlupakan.

Fenomena ini seperti mengisyaratkan dengan nyata makna dari kata ‘cella’ yaitu: yang ditutupi, disembunyikan, dan dirahasiakan. Bahwa ia memang sungguh-sungguh berhasil ditutupi, disembunyikan, dan dirahasiakan.

Namun demikian, peluang untuk mendapatkan jawaban mengenai asal usul kata ‘cella’ tidaklah berarti telah tertutup sepenuhnya. Peluang untuk itu masih ada namun saya akui bernilai spekulatif. Berikut ini bentuk hipotesisnya..

“Jejak Kuno” Unsur Nusantara di Kawasan Laut Merah dan Afrika Utara

Peta kawasan Laut Merah dan Afrika Utara (sumber: http://www.emersonkent.com ) –

Dalam tulisan sebelumnya (Hubungan Nusantara dan Tanah Punt), telah saya urai beberapa fakta mengenai adanya hubungan Nusantara dan Mesir pada masa Kuno.

Misalnya tentang identifikasi saya terhadap daerah bernama ‘Iuu’ yang ditemukan tertulis dalam prasasti di dinding kuil Speos Artemidos di Mesir tengah. Yang hingga kini belum teridentifikasi letaknya oleh para ahli peneliti Sejarah Mesir kuno. 

Untuk hal ini, saya menduga kata ‘Iuu’ tersebut memiliki keterkaitan dengan kata Eoos, Eous, atau Eos yang sempat dibahas Prof. Arysio Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continental Finally Found. 

Menurut Prof. Santos, kata Eoos atau Eous (Eoos dalam bahasa Yunani, Eous dalam bahasa Latin) – sama artinya dengan kata ‘Dawn’ dalam bahasa Inggris atau pun ‘fajar’ dalam bahasa Indonesia. lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Nama tersebut juga ditujukan untuk makna “orang Timur” atau “Oriental”, dan kerap digunakan sebagai sebutan untuk Indonesia. (Prof. Arysio Santos. Atlantis:  Hlm. 457)

Adapun dugaan saya bahwa ‘Iuu’ ada keterkaitan dengan Eoos atau Eous, didasari oleh fakta bahwa kebanyakan pengucapan bahasa Yunani klasik ataupun bahasa Latin memberi akhiran esos, atau us di akhir kata, seperti: Barbar yang dalam Yunani klasik diucapkan [b a r – ba – ros], atau Nusa yang diucapkan [ne – sos / ni.sos]. Dalam ilmu bahasa hal semacam ini biasa disebut dengan istilah “latinasi”.

Dalam bahasa Tae’ sendiri, juga dikenal kata “Esso” yang berarti “hari”. Saya pikir, kata Esso dalam bahasa Tae’ ini juga ada keterkaitan dengan Eoos, sebagaimana yang diungkap oleh Prof. Santos bahwa Eoos, Eous, atau Eos, berarti : fajar /pagi/  atau awal hari, dalam bahasa Indonesia. 

Dalam bahasa kaili sendiri, terdapat kata’eo’ yang berarti: hari atau matahari. Untuk diketahui, suku Kaili adalah suku yang memiliki budaya cukup unik. Mereka mendiami beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah. 

Jadi, dapat diperkirakan jika antara ‘Esso’ dalam bahasa tae’, ‘Eoos’ dalam bahasa Yunani, ‘Eous’ dalam bahasa Latin, ‘Eo’ dalam bahasa suku Kaili, dan ‘Iuu’ yang terdapat dalam prasasti Mesir kuno, telah terjadi fenomena morfologi bahasa – terutama perubahan pada struktur fonetis. Namun demikian, makna kata tidak bergeser jauh. 

Dari kesemua kata tersebut, nampak bahwa kata ‘Eo’ lebih identik bentuknya ‘Iuu’, sementara kata ‘Esso’ lebih identik bentuknya dengan ‘Eoos’ dan ‘Eous’.

Dengan demikian, berlandaskan dari seluruh uraian di atas, yang menunjukkan bahwa kata ‘Iuu’ dapat berarti: Fajar/awal hari/ atau pagi, maka saya menduga bahwa daerah ‘Iuu’ yang tidak teridentifikasi oleh para ahli peneliti sejarah Mesir kuno selama ini, kemungkinan besarnya ada di wilayah Nusantara hari ini. Yaitu nama lain untuk penyebutan kawasan ‘negeri sabah’ atau ‘negeri pagi’ (‘sabah’ dalam bahasa arab berarti ‘pagi’, merupakan bentuk morfologi untuk kata subuh dalam bahasa Indonesia). 

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai asal usul adanya penyebutan ‘Negeri pagi’, yakni wilayah yang masuk dalam zona pagi menurut pembagian wilayah di muka bumi pada masa kuno, silahkan baca tulisan saya lainnya: Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno. Pembagian wilayah tersebut merujuk pada posisi matahari di langit. Ini merupakan salah satu peninggalan budaya Bangsa Matahari (Wangsa Surya) dari masa kuno.

Hubungan Nusantara dan Tanah Punt

Informasi dari penguasa Dinasti Pertama Mesir atau Horus-Kings, mengatakan bahwa Punt ( Ta netjer atau “Tanah Tuhan”) merupakan tanah leluhur mereka. Sayangnya, letak tanah Punt hingga saat ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Sejak pertengahan abad ke-19, telah banyak pendapat yang diajukan oleh para sarjana untuk menentukan letak Punt. Ada yang menyebut di Suriah, Sinai, Arabia Selatan, Sudan Timur, Ethiopia Utara, Somalia, Kenya, dan masih banyak lagi pendapat lainnya, namun sejauh ini nampaknya semua usulan pendapat tersebut terasa masih kurang meyakinkan.

Orang-orang Mesir kuno sebenarnya meninggalkan kita cukup banyak berita tentang Punt, namun, mereka tidak memberi kita peta, arah atau jarak, atau apa pun yang secara pasti menentukan lokasi Punt.

Catatan Mesir kuno tentang ekspedisi perdagangan ke Punt, menyebutkan Punt sebagai sebuah kerajaan kuno, Mitra dagang Mesir yang memproduksi dan mengekspor emas, resin aromatik, ebony, gading,  hewan liar, termasuk monyet dan babon. Misi perdagangan tersebut dimulai setidaknya dari Dinasti ke-5 (2494-2345 SM) dan seterusnya. (Ian Shaw & Paul Nicholson: The Dictionary of Ancient Egypt. London: British Museum Press, 1995. hlm. 231)

Tanah Punt – pwnt (Mesir), pembacaan alternatif secara Egyptological: Pwene(t), diperkirakan mengacu pada “Opone,” seperti yang dikenal oleh orang Yunani kuno: Oponi.  Punt juga disebut sebagai Ta netjer, “tanah para dewa” atau “Tanah Tuhan”. (James Henry Breasted: Ancient Records of Egypt: Historical Documents from the Earliest Times to the Persian Conquest, collected, edited, and translated, with Commentary. The University of Chicago, 1906. hlm. 117, vol.1 )

Ekspedisi-ekspedisi Mesir kuno yang diorganisasi ke Punt sebagai bukti adanya hubungan yang erat antara Mesir Kuno dan Punt adalah sebagai berikut: 

  1. Pada Dinasti ke-empat, seseorang yang diidentifikasi sebagai orang Punt muncul sebagai budak salah satu putra Raja Khufu, tercatat pula bahwa emas punt telah berada di Mesir di masa ini; 
  2. pada dynasty Ke-lima, Raja Sahure mengirim sebuah ekspedisi ke sana dan Raja Isesi mengirim yang lain, yang membawa kembali seorang kerdil yang menari; 
  3. Dinasti Ke-enam, seorang perwira Pepi II, bernama Enenkhet, dibunuh oleh penghuni Pasir di pantai, ketika membangun sebuah kapal untuk pelayaran Punt, dan ekspedisi lain ke sana di bawah raja yang sama dipimpin oleh asisten bendahara (Thety); 
  4. di Dinasti Ke-sebelas, Henu, kepala bendahara Raja Senekhkere-Mentuhotep III, mengirim ekspedisi ke Punt, yang hanya menyertainya hingga ke pantai Laut Merah; 
  5. di Dinasti Ke-duabelas, seorang perwira Amenemhet II, bernama Khentkhetwer, mencatat berita keselamatannya kembali dari Punt; 
  6. Ada juga ekspedisi di bawah Sesostris II.

Pada abad ke-15 SM, Ratu Hatshepsut dari Dinasti ke-18, membangun armada Laut untuk memfasilitasi perdagangan. Ia secara pribadi membuat ekspedisi Mesir kuno paling terkenal yang berlayar ke Punt. 

Ekspedisinya ke Punt ini dianggap salah satu hal yang paling menonjol dari pemerintahannya di antara serangkaian misi perdagangan yang termasuk kunjungan ke Phoenicia untuk mengumpulkan kayu yang sangat dibutuhkan Mesir untuk membangun kapal-kapal, dan eksploitasi tambang tembaga dan turquoise di Sinai yang dibuktikan dengan stela dan prasasti di Wadi Maghara dan Serabit el-Khadim.