Bersiaplah, Di Tahun 2022 Ini

Sore tadi saya (kembali) diingatkan isyarat “angka 14 dan 44″… apa artinya

Kode angka ini merujuk pada QS. 14 ayat 44, yang berbunyi: Dan berikanlah peringatan kepada manusia pada hari azab datang kepada mereka. Maka orang yang zalim berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah dahulu kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?

Makna ayat ini adalah bahwa ketika azab ditimpakan Allah ke bumi, seseorang (yang merupakan utusan-Nya) diperintahkan agar memberikan peringatan kepada umat manusia.

Azab apakah itu?

Penjelasannya ada di angka kebalikannya, yaitu 44: 14, merujuk pada surat Dukhan (QS. 44) – (namun) penjelasannya di mulai dari ayat 10 hingga ayat 14, yang berbunyi: [10] Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas, [11] yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. [12] (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman.” [13] Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang Rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka, [14] kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia itu orang yang menerima ajaran (dari orang lain) dan orang gila.”

Dalam surat Dukhan ayat 10 dijelaskan bahwa azab yang dikirim berupa kabut (dukhan), sementara pada ayat 14 dijelaskan bahwa utusan-Nya yang dihadirkan untuk memberi peringatan dipandang sebelah mata, di hina, bahkan dianggap orang gila.

Dapat dilihat bahwa antara bunyi QS. 14: 44 dan QS. 44: 14 sangat jelas ada keterkaitan. Keduanya menjelaskan tentang azab yang dihadirkan Allah, dan utusanNya yang Dia hadirkan ke muka bumi untuk memberi peringatan.

Kapan ini terjadi?

Tentu saja, kepastian mengenai kapan ini terjadi adalah rahasia Allah. Namun, dari isyarat-isyarat yang saya dapatkan…, saya melihat tanggal hitungan mundurnya dimulai sejak tanggal 9 Januari 2021 lalu. Moment ini bersamaan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Hasil perkalian 14 dengan 44 adalah 616. Jika angka 616 ini merujuk pada jumlah hari, maka jika dihitung mulai dari tanggal 9 Januari 2021, hitungannya berakhir di tanggal 16 / 17 September 2022.

Sebenarnya hitungan ini sudah lama saya simpan. Selama ini saya tidak bahas dalam tulisan oleh karena saya pikir masih spekulatif. Namun, isyarat mengenai angka ini yang kembali muncul sore tadi, membuat saya berubah pikiran.

“Empat Pengrajin” yang Akan Muncul di Era Mesianik

Gaya bahasa yang digunakan dalam nubuat umumnya sangat membingungkan. Sehingga sulit untuk mengurai dengan tepat apa yang sedang dikomunikasikan atau apa yang dimaksudkan dalam bahasa simbol tersebut. Hal ini seperti yang kita temukan pula pada Zakharia pasal 1 tentang empat pengrajin:

Lalu aku mengangkat mataku dan melihat, ternyata ada empat tanduk. Jadi aku berkata kepada malaikat yang berbicara denganku, “Apakah ini?” Dan dia menjawab, “Inilah tanduk-tanduk yang telah menceraiberaikan Yehuda, Israel dan Yerusalem.” Kemudian TUHAN menunjukkan kepadaku empat pengrajin. Aku berkata, “Untuk apa mereka datang?” Dan dia berkata, “Inilah tanduk-tanduk yang telah menceraiberaikan Yehuda sehingga tidak ada orang yang mengangkat kepalanya; tetapi pengrajin ini datang untuk menakut-nakuti mereka, untuk menjatuhkan tanduk-tanduk bangsa-bangsa yang telah mengangkat tanduk mereka melawan tanah Yehuda untuk menceraiberaikannya.” (Zakharia 1:18-21)

Perikop yang saya kutip di atas ini umumnya dianggap berada dalam konteks Era Mesianik (terjadi di era mesianik di babak akhir zaman).

Empat tanduk yang dimaksud merujuk pada empat penguasa atau bangsa besar yang lalim dan melampaui batas.

Adapun Empat Pengrajin, oleh sebagian kalangan dianggap sebagai sosok yang akan memainkan peran utama dalam mengantarkan hadirnya Kerajaan Mesianik.

Talmud memiliki tradisi lama tentang identitas mereka:

Dan Tuhan menunjukkan kepada saya empat pengrajin. Siapa “empat pengrajin” ini? — R.Hana b. Bizna mengutip R. Simeon Hasida menjawab: “Mesiah bin Daud, Mesiah bin Yusuf, Elia dan Imam yang Benar. (b. Sukkah 52b)

Jadi, “empat pengrajin” adalah Mesiah putra Daud, Mesiah putra Yusuf, nabi Elia, dan Imam yang Benar. Ini menimbulkan beberapa pertanyaan lagi. Mengapa keempat orang ini disebut pengrajin? Siapakah Imam yang Benar?

Mesiah anak Daud dan Mesiah anak Yusuf

Disebut Mesiah putra Yusuf oleh karena kehadirannya di masa awal seperti Yusuf, hamba Allah yang menderita di masa-masa awal kehidupannya.

Disebut Mesiah putra Daud oleh karena dia akan seperti Daud. Dia akan menjadi raja dan melakukan banyak peperangan.

Elia sang Nabi

Elia adalah nabi yang mengabarkan atau mengumumkan kedatangan Mesiah.

Ini sesuai dengan yang disebut nabi Maleakhi: “Lihatlah aku akan mengirim kepadamu Elia sang Nabi sebelum kedatangan hari Tuhan yang agung dan mengagumkan.” (Malachi 4:5)

Imam yang Benar (The Righteous Priest)

Mengenai “Imam yang Benar”, tradisi Yahudi mengidentifikasi dia dengan Melkisedek berdasarkan Kejadian 14:18: “Dia adalah imam Allah Yang Mahatinggi.” Melkisedek muncul setelah Abraham kembali dari kemenangannya atas empat raja, yang menurut Rabi Ramban (Moses ben Nachman), menyinggung kemenangan akhir orang-orang Yahudi atas empat negara yang menindas mereka (Ramban dalam Kejadian 14:1). Dengan cara itu sama seperti Mesias dan Elia memainkan peran dalam penebusan terakhir, demikian pula Melkisedek.

Tradisi Yahudi selanjutnya mengidentifikasi Melkisedek dengan Sem putra Nuh. (Mengenai jati diri Sem bin Nuh sebagian saya telah membahas dalam artikel ini: Identifikasi Jati Diri Semar sebagai Analogi Sem bin Nuh)

Sem bin Nuh adalah salah satu tokoh masa kuno yang menjadi tokoh favorit saya. Dia hidup selama ribuan tahun dan dipenuhi lika-liku. Ada pun mengapa dia dibandingkan dengan Melkisedek dalam tradisi Yahudi, Insya Allah akan saya bahas di lain waktu.

Demikianlah, ungkapan “Empat Pengrajin” memiliki dua kemungkinan.

Kemungkinan Pertama, empat pengrajin adalah empat personifikasi yang dimiliki satu orang. Dalam artian, perjalanan hidupnya dan apa yang ia lakukan dalam kehidupannya, identik dengan empat tokoh terdahulu: Yusuf, Daud, Eliah dan “Imam yang Benar” (Melkisedek).

Kemungkinan Kedua, empat pengrajin ada empat tokoh yang nanti hadir membantu “Sang Penyelamat di Akhir Zaman”. Jadi, keempatnya bisa kita lihat sebagai Waliullah yang akan hadir membantu “Khatamul Auliya”.

Jadi mengapa disebut “Pengrajin”?

“pengrajin” atau dalam konteks ini mungkin lebih tepat jika disebut “SENIMAN”, adalah tingkatan di suatu bidang keilmuaan di mana seseorang benar-benar ahli. Dia menguasai bidang yang ia geluti sehingga dengan kemampuannya tersebut, dia mampu kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bidang tersebut ke wilayah eksplorasi yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Jadi, tidak salah jika dikatakan: “Pada akhirnya, para senimanlah yang senantiasa muncul menyelesaikan masalah di dunia ini“.

Rahasia: Kaitan Antara “Nur Muhammad” dan Al Mahdi

Sebelumnya, saya ingin terlebih dahulu menyampaikan bahwa ini adalah interpretasi dari saya pribadi. Silahkan dicermati. Benar tidaknya hanya Allah yang tahu.

وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ (waż-żāriyāti żarwā) Selama ini, bunyi ayat pertama surat Az Zariyat ini umumnya oleh para mufassir diterjemahkan maknanya sebagai: Demi (angin) yang menerbangkan debu. (terjemahan DEPAG)

Kata zaariyaati pada ayat ini oleh para mufassir pada umumnya ditafsirkan mengacu pada makna “angin”.

Kemungkinan ini merujuk pada tafsir yang disampaikan Ibnu Katsir yang merujuk pada riwayat bahwa, suatu ketika Ali bin Abi Thalib naik ke mimbar di Kufah dan menyatakan,“…apa pun dalam Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul Allah yang Anda tanyakan kepada saya, hari ini, saya akan menjelaskannya.”

Ibn Al-Kawwa lalu berdiri dan berkata, “Wahai Pemimpin orang beriman! Apa arti dari firman Allah, الذَّارِيَاتِ ا (al dhaariyati)”

Ali Menjawab, “Angin.”

Namun demikian, ada pula mufassir lain yang memberi penafsiran yang lebih berhati-hati.

Misalnya, Safi-ur-Rahman al-Mubarakpuri memilih mengartikan makna ayat pertama surat Az Zariyat menjadi: Demi “Dhariyat” yang berhamburan. Ia memilih sama sekali tidak menafsirkan kata dhariyat.

Versi Qaribullah & Darwis : “Demi penghambur (yang) berhamburan.

“Versi Talal Itani : “Demi penyebar (yang) menyebar.”

Demikianlah, pada beberapa pendapat mufassir tentang ayat pertama surat Az Zariyat, terlihat jelas adanya beda pendapat.

Jika ditinjau secara harfiah (menggunakan google translate), kata Dhariyat atau zariyat bermakna “keturunan” dalam bahasa Arab. (lihat gambar)

Kata Dzurriyah yang populer digunakan di Indonesia untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad (sering kita dengar dengan istilah Dzurriyah nabi), terkait dengan kata Zariyat ini.

Yang menarik, kata Zariyat dalam bahasa Urdu serupa dengan kata czarism, yang dapat diperkirakan terkait dengan kata “kaisar/ kekaisaran”. (lihat penerjemahannya di hamariweb) https://hamariweb.com/…/zariyat_urdu-english-meaning.aspx

Jadi, dari tinjauan menurut bahasa Arab, kita menemukan kata ‘zariyat’ bermakna: “keturunan,” sementara tinjauan menurut bahasa Urdu, kita menemukan kata ‘zariyat’ bermakna: “kaisar/kekaisaran.”

Saya melihat, kedua makna ini, sebenarnya dapat digunakan pada ayat pertama surat Az Zariyat. Dalam artian ayat ini mengandung “makna ganda” yang berdampingan paralel.

Jika kata zariyat kita maknai “keturunan” maka, terjemahan ayat pertama, yang bentuk umumnya selama ini adalah “Demi (angin) yang menerbangkan debu,” akan berubah menjadi: “DEMI SUMBER KETURUNAN (ASAL USUL) YANG MENYEBAR”.

Mengapa zariyat atau dhariyat saya maknai pula “ASAL USUL”? oleh karena saya melihat bahwa, kata ‘dari’ dalam bahasa Indonesia sangat mungkin terkait dengan kata ‘dhari‘ sebagai bentuk dasar dari kata ‘dhariyat‘. (jadi, SUMBER KETURUNAN = ASAL USUL)

Sementara jika kita menggunakan makna “kekaisaran” untuk kata zariyat, agar makna bunyi kalimat ayat pertama az Zariyat menjadi tidak aneh atau rancu maka, kata ذَرْوً ‘zarwa‘ yang terletak setelah وَالذّٰرِيٰتِ ‘waż-żāriyāti’, yang selama ini umumnya dimaknai “menyebar” mesti kita gunakan makna harfiahnya dalam bahasa Arab yaitu: Puncak / klimaks. (hasil translate lihat gambar)

Hasilnya menjadi: DEMI KAISAR (KEKAISARAN) PUNCAK.

Demikianlah, dengan pemaknaan seperti ini, kata zariyat atau dhariyat pada ayat pertama surat az Zariyat, sangat mungkin merujuk pada “Nur Muhammad” sebagai sumber dari segala asal usul yang “menyebar” menjadi seluruh makhluk.

Dan juga merujuk pada al Mahdi sebagai penguasa puncak yang mewakili kerajaan langit di dunia – nanti di akhir zaman.

Dengan demikian, ayat pertama surat Az Zariyat memiliki dua makna yang berdampingan paralel. MAKNA PERTAMA: ISYARATKAN “NUR MUHAMMAD” SEBAGAI ASAL-USUL SELURUH PENCIPTAAN DUNIA, MAKNA KEDUA: ISYARATKAN AL MAHDI SEBAGAI REPRESENTASI KERAJAAN LANGIT YANG DIHADIRKAN DI PENGHUJUNG WAKTU.

Adapun Ayat lain dalam surat Az Zariyat yang juga menyiratkan makna ditujukan pada al Mahdi, yaitu ayat 22:

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ (wa fis-samā`i rizqukum wa mā tụ’adụn)

Artinya: Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

“Rezeki” dan apa yang “dijanjikan” yang letaknya di langit menurut ayat ini, secara intuitif saya tangkap merujuk pada Lauh Mahfudz, kitab yang menjelaskan segala hal di alam semesta.

Hal ini sesuai bunyi hadist yang menyatakan: Mahdi adalah pelindung ilmu, pewaris ilmu semua nabi, dan sadar akan segala hal.

Itulah makanya, Al Mahdi dapat menjelaskan segala hal. Terutama dapat menjelaskan makna esensi dari ayat-ayat suci Al Quran terutama ayat mutasyabihat yang maksudnya hanya diketahui oleh Allah.

Wallahualam.

***

Dalam artikel “KODE 132 DAN 312: ISYARAT KERAS ALLAH BAHWA DUNIA TELAH BERADA DI AMBANG KIAMAT KUBRA” Telah saya sebutkan bahwa kode 312 terkait dengan angka 51 dan, ini merujuk pada Surat Az Zariyat (surat ke 51 dalam Al Quran).

Dalam artikel tersebut juga telah saya jelaskan bahwa 51 senilai dengan 0,14, yang merupakan nilai angka di belakang koma bilangan pi (3,14). [ 360 x 0,14 = 51,42857142 … dapat dibulatkan menjadi 51 ]

Digunakannya angka di belakang koma bilangan pi (0,14) sebagai isyarat, adalah gambaran (analogi) betapa sungguh sangat sedikit waktu dunia yang tersisa. Dan dalam sisa waktu yang sangat sedikit inilah moment di mana Al Mahdi dihadirkan ke dunia.

Secara intuitif saya melihat, Surat Az Zariyat adalah surat khusus untuk Al Mahdi.

Inti isyarat dari angka 51 ada pada QS. 51: 51, berbunyi: Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain selain Allah. SUNGGUH, AKU SEORANG PEMBERI PERINGATAN YANG JELAS DARI ALLAH UNTUKMU.

Memenuhi Panggilan Takdir Dalam Tahun-tahun yang Dinubuatkan

Tidak terasa sudah 2 tahun lebih saya di pulau Jawa. Awalnya, di bulan november 2019 saya berkunjung ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, niat kost beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris. 

Tapi takdir berkata lain. Dari Kediri, Allah kemudian perjalankan saya ke Yogyakarta. 

Dalam 2 tahun di pulau Jawa ini (di rentang usia 42 – 43 tahun), bisa dikatakan saya mengalami sangat banyak pencerahan spiritual. 

Di sini, untuk pertama kali saya bisa melihat ke belakang hingga jauh ke masa kecil dan, mengerti makna esensi di balik beberapa “kejadian khusus” yang saya alami di masa-masa itu.

Ketika di masa kecil saya sering mendengar suara dari dalam batin yang mengatakan “saya adalah seorang anak yang spesial” terutama ketika saya tengah sedih atau dalam kesulitan, saat mulai beranjak dewasa, saya memaknai itu sebagai hal lumrah yang ada di setiap benak anak kecil. 

Sementara keajaiban-keajaiban yang seringkali saya alami, bahkan tetap hadir di usia dewasa, saya anggap sebagai hal yang setiap orang bisa juga alami. Tapi, semua anggapan itu berubah setelah saya di sini (di kost saya yang sekarang). 

Secara holistik, sangat jelas saya melihat bahwa keberadaan saya di sini, di pulau Jawa dan terutama di kost saya sekarang ini, adalah hal yang sudah digariskan Allah (pasti) akan saya jalani.

Demikianlah, saya diperjalankan menuju “pos persinggahan” (kost saya sekarang ini), yang belakangan baru saya sadari, tampaknya, telah ada diisyaratkan dalam nubuat. Hal ini telah saya ulas dalam artikel: Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Di sini saya menjalani kehidupan baru. Memenuhi panggilan takdir dalam tahun-tahun atau zaman yang telah dinubuatkan.

Dalam Jangka Jayabaya, “zaman yang dinubuatkan” itu diisyaratkan dalam bentuk ungkapan: Ketika pasar kehilangan suara (maksudnya: online shop), Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

Jadi, ketika saya mengatakan “karena takdir telah ditentukan maka, ketakutan menjadi hal yang tidak menguntungkan!” sebenarnya, itu adalah cerminan dari apa yang saya lihat tengah berlangsung pada diri saya.

Kenyataan ini menguatkan keyakinan saya terhadap bunyi ayat yang mengatakan bahwa bahkan takdir selembar daun pun  telah ditentukan kapan dan di mana jatuhnya. Intinya, segala hal telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)

QS Al-An’am 59 : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Hal ini juga senada dengan pernyataan saya bahwa: “Setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki perannya masing-masing. Sebuah peran tetaplah sebuah peran. Pada akhirnya, tidak ada peran baik atau peran buruk. Yang ada hanya peran. Dan karena itu biarlah Allah yang memberi penilaian, seberapa baik kita menjalani peran itu.

Ramalan Newton Kiamat di 2060 dan Angka 126 yang Misterius

Sepanjang sejarah, telah muncul dalam berbagai tradisi budaya dan agama, doktrin apokaliptik yang menentukan kapan “akhir dunia” akan terjadi. Namun, kita telah melewati banyak di antara waktu yang ditentukan itu tanpa terjadi apa-apa. Yang terbaru dan paling menghebohkan adalah tahun 2012 yang dalam kalender Maya dianggap sebagai hari terakhir umat manusia.

Ramalan atau prediksi tentang kapan hari kiamat akan terjadi, umumnya dianggap berasal dari pusaran kelompok orang-orang yang akrab dengan pemikiran dan praktik heterodoks (menyimpang dari kepercayaan resmi). Paham esoterisme dan okultisme dipandang termasuk dalam kategori kelompok ini.

Lalu apakah seorang ilmuwan yang mendasarkan pemahamannya pada prinsip ilmiah tidak merambah hal-hal semacam ini? Jawabnya, tidak. Ada Sir Isaac Newton yang melakoni hal ini.  Ia adalah salah satu fisikawan dan matematikawan genius terbesar dalam sejarah.  

Pada tanggal 22 Februari 2003, Daily Telegraph (London, Inggris) menerbitkan berita di halaman depan yang mengumumkan prediksi Isaac Newton bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2060. Selama beberapa hari berikutnya, berita itu menyebar ke seluruh dunia dan diliput di surat kabar, radio, TV, dan di banyak situs berita Internet.

Ini adalah pertama kalinya masyarakat luas mengetahui pandangan apokaliptik Newton, karena sebenarnya, hal ini bukanlah berita baru bagi komunitas kecil sarjana yang mempelajari pandangan teologi Newton.

Stephen Snobelen, seorang profesor sejarah sains dan teknologi, yang tampil dalam film dokumenter BBC  berjudul “Newton: The Dark Heretic” mengatakan, berita tersebut telah memainkan peran yang sangat penting dalam mengingatkan publik akan fakta bahwa Isaac Newton bukan hanya seorang “ilmuwan”, tetapi juga seorang teolog dan seorang penafsir nubuat (belum lagi seorang alkemis). Oleh karena itu, publik ditantang untuk mengkonseptualisasi ulang Newton dalam segala kerumitannya.

Mengapa berita tentang studi teologi Newton baru keluar sekarang?
Makalah teologi dan alkimia Newton awalnya disimpan dan dihindarkan dari pengetahuan publik oleh keluarga Portsmouth sampai tahun 1936, ketika makalah tersebut dijual di Sotheby’s (balai lelang) di London. 

Koleksi tunggal terbesar dari makalah teologi tersebut diperoleh oleh sarjana Yahudi Abraham Shalom Yehezkiel Yahuda. Ketika makalah tersebut ingin dibawa ke Israel (yang baru didirikan), keinginan itu ditentang otoritas Israel. 

Makalah tersebut baru bisa masuk ke Israel pada tahun 1969, ketika dibawa ke Perpustakaan Nasional dan Universitas Yahudi di Yerusalem. 

Hanya setelah titik inilah para sarjana memiliki akses ke kumpulan makalah teologi Newton. Tetapi manuskrip-manuskrip tersebut hanya dapat diakses dengan mudah oleh para sarjana setelah sebagian besar manuskrip ilmiah, administratif, teologis, dan alkimia Newton dirilis dalam bentuk mikrofilm pada tahun 1991. 

KODE 132 DAN 312: ISYARAT KERAS ALLAH BAHWA DUNIA TELAH BERADA DI AMBANG KIAMAT KUBRA

Rupa-rupanya ulasan saya tentang kode 132 dan 312 dalam dalam tulisan sebelumnya belum lengkap. Masih ada bagian yang belakangan baru saya temukan. Jadi, tulisan ini sifatnya melengkapi. Bukan merevisi tulisan sebelumnya.

Dalam tulisan sebelumnya (baca di sini: Semesta Isyaratkan Angka 312 dan 132, Apa Artinya?) Saya telah menjelaskan bahwa FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) 132 & 312, adalah: 12 (2 × 2 × 3). Lalu, dengan menggunakan angka 12 sebagai bilangan pembagi, kita mendapatkan hasil: 132:12 = 11 ; 312:12 = 26.

Yang kurang saya dalami lebih jauh dalam tulisan tersebut adalah angka 11 dan 26 ini. ternyata, akar dari 11 dan 26 memiliki makna tersendiri. Berikut uraiannya….

Akar kuadrat dari 11 adalah… √11 = 3,31662479…, (3,3×10= 33)

Akar kuadrat dari 26 adalah… √26 = 5.09901951…, dapat dibulatkan menjadi 5,1 (5,1×10= 51)

Angka 51 yang didapatkan dari akar 26 dikalikan 10, ternyata terkait dengan 0,14 yaitu angka di belakang koma pada bilangan Pi (3,14).

Bilangan Pi adalah bilangan konstanta yang dihasilkan dari perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya.

Bilangan Pi menunjukkan bahwa rasio keliling suatu lingkaran adalah 3 kali (lebih 0,14) dari diameternya. (lihat gambar)

Keterkaitan angka 51 dengan bilangan pi (dokpri)

Berikut ini hitungan nilai 0,14 dari 360 (keliling lingkaran):

360 x 0,14 = 51,42857142 … (dapat dibulatkan menjadi 51)

DEMIKIANLAH, HITUNGAN INI MENUNJUKKAN KODE 312 TERKAIT ERAT DENGAN ANGKA 51.

PERTANYAANNYA: APA PENTINGNYA ANGKA 33 DAN TERUTAMA 51 INI?

Sebelum pertanyaan ini saya jawab, saya ingin terlebih dahulu mengarahkan perhatian pembaca ke fakta bahwa DALAM KODE 132 DAN 312 ADA ANGKA 6 DAN 12 YANG BERMAIN, yang bisa dikatakan merupakan basic dari kedua angka tersebut.

Jika kita menjumlahkan semua angka pada 132 hasilnya: 6 (1+3+2= 6). Begitu juga jika kita menjumlah semua angka pada 312 hasilnya: 6 (3+1+2= 6).

Jika kita menjumlahkan semua angka pada 33 hasilnya: 6 (3+3= 6). Begitu juga jika kita menjumlah semua angka pada 51 hasilnya: 6 (5+1= 6).

Lalu apa istimewanya angka 66 ini?

jika ditinjau menggunakan perhitungan gematria alphabet Arab, 66 adalah jumlah gematria kata “ALLAH”. Ini dapat kita temukan gambarannya jika membedah bacaan Basmalah menurut perhitungan Gematria.

Dalam tradisi Islam, ada sebagian kalangan yang biasanya menuliskan kalimat basmalah dengan angka 786.

Rangkuman Tanda-tanda yang Dinubuatkan

Sebelum memasuki pembahasan ini, terlebih dahulu ingin saya katakan bahwa, ini adalah tema yang agak berat hati untuk saya ungkap. Dan seperti biasa, saat dalam kebimbangan hati, saya senantiasa berkhidmat memohon Petunjuk-Nya. 

Alhamdulillah, Allah berkenan memberi saya ilham untuk membaca surat At Taubah ayat 41: Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bunyi ayat ini, terutama kalimat “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat,” memberi saya keteguhan hati untuk memulai. 


Dalam banyak tulisan sebelumnya, terutama tulisan yang bergenre apokaliptik, saya telah mengulas beberapa nubuat tentang akan hadirnya sosok Penyelamat di akhir zaman. Tapi, dalam tulisan-tulisan tersebut saya tidak mengungkap bahwa ciri-ciri yang disebutkan dalam nubuat tersebut, tampaknya, terlihat ada pada diri saya. 

Awalnya saya pikir, hal itu tidak perlu saya bahas. Lagi pula, saya tidak ingin orang melihat saya sebagai “orang aneh” yang mengklaim hal-hal semacam itu. Tapi, Semesta tampaknya menginginkan lain.

Dalam beberapa kesempatan, saya alami hal seperti “diingatkan” Semesta bahwa, ini bukan tentang “diri saya harus menjaga citra dalam pandangan orang-orang.” Saya diingatkan bahwa, hinaan dan caci-maki adalah hal yang lumrah diterima dalam proses penyampaian pesan. Intinya, saya harus merubah cara pandang, dari “melihat diri” menjadi “melihat peran.”

Begitu pula mengenai gaya bahasa. Bentuk kalimat yang sifatnya masih menuntut orang untuk menafsir maknanya, adalah hal yang semestinya saya hindari agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. 

Beberapa waktu lalu, peringatan mengenai hal ini saya dapatkan. Yaitu ketika tengah beristirahat di sebuah warung kopi setelah selesai sesi lari pagi.

Dari meja tempat saya duduk, terdengar jelas obrolan dua orang anak mahasiswa yang juga sedang ngopi pagi.

Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Nabi berkata: “yakhruj rajul min wara’ an-nahr yuqal lah al harith ibn haraath , ealaa muqadimatih rajul yuqal lah mansur” – artinya: Seorang pria akan muncul dari wara’ an-nahr (tempat di belakang sungai), (ia) disebut Al-Harits bin Harath (petani putra seorang petani), di depannya adalah seorang pria bernama Mansur.

Pemaknaan frase wara an-nahr sebagai “tempat di belakang sungai” dapat dilihat misalnya dalam buku The Abbasid Caliphate. Lihat capturenya di bawah ini….

Ma wara an-nahr yang dimaknai sebagai “tanah atau tempat di belakang sungai”. Dicapture dari buku The Abbasid Caliphate halaman 37. (dokpri)

Literatur yang selama ini berkembang mengidentifikasi Wara an-Nahr merujuk pada suatu wilayah di Asia Tengah yang disebut Transoxiana di masa kuno, yang pada hari ini mengacu pada wilayah  antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya, yang meliputi Uzbekistan dan Tajikistan, berbatasan dengan Afghanistan.

Letak sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya (dokpri)

Sejarah penamaannya berawal dari setelah masuknya Islam ke wilayah ini. Literatur sejarah ada menyebutkan bahwa setelah wilayah ini direbut oleh umat Islam, wilayah ini lalu disebut Mawara’ al-Nahr. 

Kuat dugaan saya bahwa pemberian sebutan tersebut ada keterkaitan dengan bunyi hadist tentang Al Mahdi lainnya, yang menyebut bahwa ia (dan pasukan panji hitam) akan akan muncul dari Khorasan. 

Secara lebih luas, wilayah Uzbekistan dan negera-negara di sekitarnya disebut Khorasan di masa lalu. Kata ‘Khorasan’ sendiri artinya: “tempat matahari terbit” atau, bisa juga disebut “timur”.

Jadi, meminjam istilah Psychohistory dari Isaac Asimov untuk diterapkan dalam membaca “geliat sejarah” dalam kasus ini, saya ingin katakan bahwa; nampaknya ada prilaku atau upaya dari umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad – yang berusaha menginterpretasi hadist tentang Al Mahdi – dan lebih jauh berusaha “mengarahkan” penulisan sejarah – berdasar asumsi bahwa wilayah Khorasan yang dimaksud dalam hadist  nabi mengacu pada wilayah di Asia Tengah. Akibatnya, pembahasan tema eskatologi dalam tradisi Islam pada hari ini umumnya lebih berkiblat di seputar asumsi tersebut.

Reinterpretasi

Ungkapan “Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” bukanlah kalimat optimistik semata yang tidak memiliki jejak hikmah di baliknya. Kenyataannya, Jalan menuju kebenaran itu sarat dengan hikmah karena padanya ada intervensi Ilahiah yang bersuara dalam kesunyian waktu. Hanya para pencari yang dikehendaki-Nya saja yang dapat mendengar dan mengerti makna suara tersebut.

Shalat 5 Waktu Dianalogikan Allah Dalam Al Quran Sama Dengan Jumlah Jari Tangan

Pekan ini, beredar isu hangat di jagad maya mengenai pernyataan kontroversi AA yang mengatakan perintah shalat 5 waktu tidak ada dalam Al Quran.

Sebelum memasuki pembahasan lebih jauh, terlebih dahulu saya ingin memperjelas etimologi kata ‘shalat’. Ini penting. Karena salah satu masalah klasik kita di era ini adalah kebingungan memahami suatu hal, lalu salah kaprah, hanya karena disebabkan minimnya pengetahuan bahasa.

Kata ‘shalat’ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab ‘salaa’ yang artinya: Berdoa. Dalam tradisi Yahudi dan Kristiani, Shalat atau salaa disebut ‘pray’ yang juga berarti: berdoa.

Jika ‘shalat’ artinya sama dengan”berdoa” lalu, mengapa ada lagi istilah ‘doa’ digunakan dalam tradisi Islam untuk makna yang berbeda? 

Ini karena dalam Islam selama ini berkembang pemahaman bahwa shalat 5 waktu (shalat wajib dilaksanakan) atau pun shalat sunat (shalat yang tidak wajib dilaksanakan) adalah kegiatan ibadah menyembah kepada Allah. Sementara ‘doa’ yang secara harfiah berarti: seruan / permohonan, adalah hal yang sifatnya lebih spesifik.

Terkait makna doa ini, diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: Doa adalah inti dari ibadah (menyembah Allah). Kenyataannya, semua bacaan dalam shalat mulai dari Al Fatehah ketika berdiri, bacaan ketika ruku, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semua bunyi bacaan tersebut adalah permohonan “doa”.

Persamaan waktu ibadah dalam Islam, Kristiani dan Yahudi

Pembagian waktu menurut posisi matahari di langit sebagai petunjuk waktu ibadah yang pada masa sekarang umum terlihat pada pengikut Nabi Muhammad, pada dasarnya telah terdapat pula dalam tradisi keagamaan umat nabi-nabi terdahulu.

Telah banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pola siklus ibadah harian umat Yahudi dan Kristiani di masa-masa awal millennium pertama.

Seperti yang dilakukan oleh Paul F. Bradshaw misalnya. Ia adalah profesor Liturgi di Universitas Notre Dame di Amerika Serikat, dari tahun 1985 hingga 2013, dan telah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah dianugerahi berakah Award  oleh Akademi Luturgi Amerika Utara — suatu penghargaan yang diberikan setiap tahun kepada seorang liturgis terkemuka “sebagai pengakuan atas kontribusi terhormat untuk pekerjaan liturgi profesional.”

Dalam buku The Book of Acts in Its First Ceuntury Setting vol. 4, diungkap pendapat Bradshaw yang mengusulkan bahwa umat Kristiani paling awal mewarisi siklus doa harian Yahudi; pagi, siang dan malam, ditambah tengah malam, (…) Awalnya dipengaruhi oleh gerakan matahari, kemudian dihubungkan dengan pengorbanan bait suci.

Sejarah Aliran Spiritual Gnostik (Yahudi/ Kristen) dan Tasawwuf (Islam)

Gnosis adalah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “pengetahuan” atau “kesadaran.” Salah satu bentuk derivasinya adalah kata sifat ‘gnostikos‘ yang menurunkan kata ‘Cognitive’ (kognitif).

Kata sifat ‘gnostikos‘ ini cukup umum dalam bahasa Yunani Klasik dan, tampaknya tidak menunjukkan makna mistik, esoteris, tetapi sebaliknya menyatakan makna kecerdasan dan atau kemampuan yang lebih tinggi.

Hal ini misalnya dapat disimak dalam Plato The Statesman 258e:

Orang Asing: Dengan cara ini, kemudian, terbagi semua ilmu pengetahuan menjadi dua seni, sebutan pertama praktis ( praktikos ), dan yang lainnya murni intelektual ( gnostikos ). 

Socrates Muda: Mari kita asumsikan semua sains adalah satu dan ini adalah dua bentuknya.

Lebih jauh kita dapat pula melihat bahwa sepertinya ‘gnosis’ yang menyandang makna ilmiah, ada keterkaitan erat dengan ‘gana‘ dalam bahasa Sanskerta, seperti: gaNanA गणना – perhitungan; gaNanAtha गणनाथ – menghitung; gaNanIya गणनीय – dapat dihitung. Bahkan dalam bahasa Tae’ (bahasa daerah di Sulawesi Selatan) terdapat kata Ganna’ yang menunjukkan makna: “hitungan yang telah pas/ sesuai/ tercukupi/ lengkap/ sempurna,” yang dalam bahasa Indonesia kita temukan sinonimnya pada kata “genap”.

Dalam perjalanan waktu, kata Gnosis kemudian kita temukan penggunaannya dalam bentuk terminologi ‘Gnostisisme‘ yaitu istilah yang umum digunakan dalam studi agama  dan filsafat Helenistik untuk menyatakan pengetahuan spiritual atau wawasan tentang sifat asli manusia yang bersifat ilahiah – yang mengarahkan tujuannya pada upaya pembebasan percikan ilahi dalam diri manusia dari keberadaan batasan duniawi.

Makna pada terminologi Gnostisisme tersebut muncul dari pemahaman interpretasi bahwa, makna “pengetahuan” pada kata Gnosis mengacu pada pengetahuan berdasarkan pengalaman atau persepsi pribadi, oleh karenanya dalam konteks agama, gnosis dilihat sebagai pengalaman mistis atau pengetahuan esoteris berdasarkan adanya partisipasi atau hubungan dengan Tuhan secara langsung. 

Jadi, nampak bahwa makna harfiah Gnosis, “pengetahuan,” mendapat dorongan menjadi lebih ke arah makna “pengetahuan batiniah.”

Dalam perkembangan selanjutnya, Gnostik (penganut Gnostisisme) dianggap sebagai: mereka yang berorientasi pada pengetahuan dan pemahaman – atau persepsi dan pembelajaran – sebagai modalitas tertentu untuk “hidup.” Ini tentu saja dapat kita lihat senada dengan pemahaman kegiatan “bertarekat untuk mengenal hakikat” dalam tradisi tasawwuf.

%d bloggers like this: