Sedekah: Cara Mudah Mancing Rezeki, Benarkah?

Saya melihat banyak orang meyakini bahwa sedekah itu adalah cara memancing rezeki. Logika ini nampaknya berkembang dari pemahaman bahwa jika kamu menyedekahkan rezekimu maka nantinya Allah akan melimpahkan rezeki yang berlipatganda untukmu.

Ada juga yang menyitir secara keliru bunyi ayat dalam surat At-Talaq…

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan. (At-Talaq ayat 7)

Dalam suatu artikel misalnya, saya menemukan bunyi ayat ini dikutip sebagian lalu diberi sedikit perubahan narasi, menjadi: “…Dan barangsiapa yang sedang disempitkan rezekinya, maka hendaknya ia menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya”

Padahal makna yang dikandung dari ayat tersebut sesungguhnya adalah bahwa baik orang-orang yang memiliki keluasan rezeki maupun orang-orang yang terbatas rezekinya, bersedekah adalah ujian ketaqwaan mereka.

Ujian tersebut nyata bunyinya di kalimat selanjutnya: Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Maksud kalimat ini adalah: Dalam setiap apa yang diberikan Allah kepada dirimu terdapat ujian.

Lalu, mesti bagaimana memaknai sedekah ini? Berikut ini penjelasan saya…

Saya ingin memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa: Sedekah adalah caramu “membersihkan rezeki”.

Tapi ungkapan ini jangan lalu dibayangkan bahwa sedekah itu seperti tapisan atau saringan yang memisahkan rezeki baik dan rezeki buruk. Tidak seperti itu.

Saya menempatkan frase “membersihkan rezeki” dalam tanda kutip karena kedua kata dalam frase itu memang butuh penjelasan lebih dalam.

Maksud dari ungkapan “membersihkan” yang saya maksudkan adalah bahwa dengan bersedekah (Ingat: secara benar-benar ikhlas untuk ingin menolong sesama makhluk-Nya) kamu dapat kembali ke koridor atau jalur atau jalan yang diridhai Allah.

Di sisi lain, makna “rezeki” penting pula untuk dimaknai bukan semata-mata tentang harta, tahta, jabatan, keluarga yang baik, kesehatan, dll.

Demikianlah, engkau dapat menganalogikan sedekah sebagai “Titik mutar atau Titik balikmu” untuk kembali ke jalan yang diridhai Allah, dimana engkau bisa mendapat limpahan Rezeki yang baik (bersih) sehingga merasakan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Inilah maksud kalimat “Sedekah adalah cara membersihkan rezeki”.

Memohon Rezeki Umur Panjang, Tepatkah?

Ada pula sebagian orang yang berharap agar diberi rezeki berupa umur panjang. Bahkan, ada ustad yang menyarankan agar umat berdoa “Ya Allah berikanlah umur panjang kepada ulama-ulama kami” – bunyi doa ini, jelas menyalahi ketentuan yang telah Allah sampaikan dalam surat Al-A’raf dan surat Fatir.

Kajian Surat Al Ahzab Ayat 33 yang Mengisyaratkan Kaitan Antara Al Mahdi (Imam Tersembunyi) dan Satria Piningit (Satria Tersembunyi)

Telah sejak lama bunyi ayat 32, 33, dan 34 dari surat Al Ahzab menjadi bahan perdebatan para ahli, baik itu dikalangan ulama Islam hingga ilmuwan barat yang mengkhususkan penelitiannya pada dunia Islam.

Perdebatan tersebut terutama tertuju pada adanya perubahan (penggunaan) bentuk jamak feminin (kunna) yang digunakan pada ayat 32 dalam kalimat yang bunyinya menyapa para istri nabi – ke bentuk jamak maskulin (kum) di ayat 33 dalam kalimat di mana Allah menyapa ahlul bait – lalu, kembali menggunakan bentuk jamak feminin pada ayat 34.

Didasari atas keganjilan inilah maka pembahasan tentang ahlul bait di kalangan ulamat menjadi begitu beragam. Ini oleh karena Al Quran sebagai rujukan utama – hanya dua kali menyebut frase ahlul bait, yaitu pada surat Al Hud ayat 73 (11:73) dan surat Al Ahzab ayat 33 (33:33).

Dan di surat Al Ahzab ayat 33 lah di mana Allah secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk memurnikan (menghilangkan dosa) ahlul bait. Jika diperhatikan, nomor surat Al Ahzab (33) dan nomor ayat 33 memang mencolok karena angka yang kembar. Keunikan ini tentu saja ada maknanya. Ini terkait erat dengan Al Mahdi. Namun agar pembahasan tidak melebar, ada baiknya hal itu saya ulas di lain kesempatan saja.

Jadi, pada ayat 32 pada kalimat “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak…” (يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ yā nisā`an-nabiyyi lastunna…) digunakan ‘kunna‘ bentuk jamak feminin.

Di awal ayat 33 pada kata ‘rumahmu’ (بُيُوْتِكُنَّ buyụtikunna) masih menggunakan bentuk jamak feminin ‘kunna‘. Namun, di bagian akhir ayat tiba-tiba bentuk jamak yang digunakan berubah menjadi ‘kum‘ (bentuk jamak maskulin), yaitu pada frase ‘memurnikanmu’ (يُطَهِّرَكُمْ yuṭahhirakum).

Lalu kembali menggunakan bentuk ‘kunna‘ lagi di ayat 34 pada frase  ‘rumahmu’ ( بُيُوْتِكُنَّ buyụtikunna).

Menarik pula untuk mencermati secara lebih mendalam tinjauan kebahasaan untuk frase ‘yuṭahhirakum‘ yang disajikan di halaman situs corpus.quran.com berikut ini…

dicapture dari halaman situs corpus.quran.com

Kata ‘yutahhira‘ dijelaskan sebagai bentuk kata kerja tidak sempurna untuk orang ketiga tunggal (maskulin). Di sisi lain, kata ‘yutahhira‘ juga dijelaskan sebagai subjunctive mood yaitu bentuk pengandaian (untuk menggambarkan) situasi.

Jika kita mencermati bahwa kata ‘yutahhira‘ adalah bentuk kata kerja “tidak sempurna” maka, secara filosofis, “ketidaksempurnaan” yang disandang kata itu dapat kita lihat sebagai “pengandaian situasi” ketidaksempurnaan Al Mahdi sebelum diislah (diperbaiki) oleh Allah.

Dari riwayat yang berkembang dalam tradisi Islam kita ketahui bahwa Al Mahdi hanya akan resmi ditampilkan Allah ke khalayak umum setelah terlebih dahulu diislah atau diperbaiki atau disinkronisasi secara sempurna jasmani dan rohaninya. Inilah tujuan dari keinginan Allah untuk memurnikannya.

Perbaikan jasmani dan rohani Al Mahdi (Sang Ahlul Bait) inilah yang diisyaratkan dalam bentuk ‘kum‘ kata ganti objek jamak maskulin. Jadi, Jasmani dan rohani beliau itu dalam kebahasaan dinilai sebagai objek jamak maskulin.

***

Buku Kebenaran dari Timur, Sebuah Kampanye Akhir Zaman

Membaca buku ini akan memberi anda gambaran besar esensi-esensi tentang manusia dan peradabannya. Hal yang telah menjadi pertanyaan dan pencarian umat manusia selama ribuan tahun.

Buku ini merangkum episode sejak Adam di surga — di titik ketika Allah mengajarkan Adam berbahasa —  yang diisyaratkan dalam surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama…”  — yang pada dasarnya dapat dimaknai sebagai tindakan Allah mengajarkan Adam berbahasa, oleh karena “bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama.”

Untuk mencermati kandungan makna ayat tersebut, pertanyaan kuncinya adalah: apakah yang dimaksudkan ‘nama’ dalam ayat tersebut? – jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuka jalan untuk memahami esensi dari ayat tersebut.

Jawaban filosofis dari pertanyaan tersebut yaitu: “Nama adalah cara kita menyebut sesuatu.” Misalnya, kita menyebut ‘minum’ untuk tindakan menuangkan air ke dalam mulut lalu menelannya masuk ke tenggorokan. Dalam tata bahasa nama tindakan ‘minum’ masuk dalam golongan kata kerja.

Demikianlah, dapat disimpulkan “Bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama”, yaitu: nama-nama benda (kelas kata benda), nama-nama tindakan (kelas kata kerja), dan nama-nama sifat (kelas kata sifat).

Episode ketika Adam diajarkan bahasa ini sangat penting untuk diungkap oleh karena dari titik inilah sesungguhnya peradaban umat manusia berawal-mula dan, menjadi dasar bagi penjelasan penting selanjutnya, yaitu tentang Lauh Mahfuzh sebagai server alam semesta di mana semua alam pikiran umat manusia terhubung. Oleh karena, bahasa-lah yang memungkinkan manusia dapat berpikir — dan bahwa dengan cara (berpikir) itulah manusia dapat terhubung ke Lauh Mahfuzh.

Ini sesuai dengan pendapat Humboldt bahwa: “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” — kurang lebih artinya: bahasa adalah yang memformatif organ pemikiran… Karena itu pikiran dan bahasa adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pendapat Humboldt dikuatkan oleh Jerry Fodor dalam bukunya The Language of Thought (1975), yang memperkenalkan The language of thought hypothesis (LOTH), yakni sebuah hipotesis bahwa representasi mental memiliki struktur linguistik, atau dengan kata lain, pemikiran itu terjadi dalam bahasa mental.

Jadi, di bagian-bagian awal buku ini saya mengulas tentang: bahasa, pikiran, dan Lauh Mahfuzh — Sebagai instrumen-instrumen paling mendasar yang memungkinkan peradaban umat manusia dapat terselenggara. Pembahasan ini analoginya seperti membahas bahasa pemrograman komputer yang berfungsi sebagai instruksi standar untuk memerintah mesin komputer (persamaan atau analogi untuk sistem otak manusia) dan, keterhubungan komputer ke internet (sebagai analogi keterhubungan pikiran manusia dengan Lauh Mahfuzh).

Kajian Surat Ar-Ra’d Ayat 19

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 terkandung pernyataan menarik dari Allah yang sesungguhnya jika direnungkan dapat menjadi petunjuk, bahwasanya dalam mencari kebenaran kita sebaiknya lebih mengedepankan fokus kita pada aspek “hikmah sebagai substansi”, dari pada penilaian sumber dari mana pernyataan kebenaran itu berasal.

Berikut ini bunyi surat Ar-Ra’d ayat 19: Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

Bunyi ayat ini mempertanyakan orang yang mengetahui kebenaran itu “apakah seperti orang yang buta,” maksudnya adalah bahwa orang yang mengetahui kebenaran itu diharapkan tidak perlu lagi melihat (mencari tahu) dari mana kebenaran itu berasal, apakah diucapkan seorang guru besar atau orang biasa, orang terpandang dan bagus kedudukannya, ataukah sebaliknya. 

Intinya, ia tidak perlu lagi melihat physically (karena itu dianalogikan seperti orang buta), tapi lebih kepada “hikmah sebagai substansi”. Makanya, kalimat lanjutannya lebih memberi penekanan bahwa “hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” 

Apa yang saya coba utarakan di sini tentu saja akan mendapat sanggahan dari kalangan yang berpendapat bahwa sumber ilmu tidak boleh diambil dari sembarang orang. Bahkan untuk lebih mengatur hal ini, diajarkan adab dan syarat yang dijadikan pedoman.

Hal ini misalnya dapat kita temukan dibahas dalam situs almanhaj.or.id

Imam besar Ahlus sunnah dari generasi Tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu agama (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu meraih ketakwaan kapada Allh), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.”[Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahh Muslim, 1/43-44 — Syarhu Shahh Muslim] 

Artinya, janganlah kamu mengambil ilmu agama dari sembarang orang, kecuali orang yang telah kamu yakini keahlian dan kepantasannya untuk menjadi tempat mengambil ilmu. [Lihat penjelasan Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadr , 2/545 dan 6/383]

Kalangan cendikiawan dan alim ulama mungkin telah sangat yakin bahwa inilah satu-satunya cara membentengi umat agar tidak keliru dalam mengambil ilmu agama. 

Tetapi, di sisi lain, saya melihat jika hal ini “mungkin tanpa disadari” telah bertentangan, bahkan bisa dikatakan menghalangi kehendak Allah yang ingin agar semua makhluk ciptaannya berfungsi sebagai penyampai hikmah. Ini setidaknya berkorelasi dengan perspektif holistik yang dibutuhkan dalam mencermati ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat (petunjuk-petunjuk) Allah yang tersebar di alam semesta melalui ciptaan-Nya. 

Saya pikir kita memang haruslah berpikir bijak, bahwa kebenaran adalah hal yang memang tidak akan mudah untuk didapatkan, oleh karena jalan menuju ke sana dipenuhi dengan”kerikil-kerikil tajam” yakni cobaan-cobaan sebagai penguji kepantasan kita yang ingin memilikinya.

Misalnya, suatu doa permohonan petunjuk yang telah lama kita panjatkan kehadirat Allah bisa jadi telah diberi jawaban oleh-Nya, tetapi, Ia menyampaikan jawaban itu melalui seseorang yang tidak pernah terpikir akan menjadi orang yang akan berjasa memberi kita jawaban yang telah lama kita cari. Jika seandainya kita terjebak dan larut dalam alur berpikir subjektif seperti ini maka celakalah kita… 🙂

Jadi demikianlah, ketika tanpa sadar fokus kita telah bergeser dari “hikmah sebagai substansi” ke penilaian subjektif pada aspek lahiriah seperti “kepantasan” dan lain sebagainya, maka kita pada dasarnya tanpa sadar telah menggagalkan diri sendiri.

Saya menjadikan Surat Ar-Ra’d ayat 19 sebagai suatu tema pembahasan khusus, oleh karena secara intuitif saya melihat jika ke depan_, situasi seperti inilah yang akan banyak dihadapi umat manusia.

Sekian  apa yang wajib saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Salam.

Yang minat silakan WA: 0811 469 694

Kaitan “Nur Muhammad” dan Al Mahdi

Penganut thariqat atau mereka yang bertasawuf dalam Islam meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan Allah dari Nur-Nya, lalu, dari Nur Muhammad tersebut diciptakanlah makhluk-makhluk selanjutnya seperti Malaikat, Jin, termasuk alam semesta dan segala isinya.

Pemahaman ini, yang memang kental bersifat esoterisme, tentu saja kemudian menimbulkan pro kontra, ada yang percaya ada pula yang tidak.

Beberapa pihak yang meyakini pemahaman ini, umumnya menyatakan sumber dalilnya dari sejumlah ayat dan hadits.

Di antaranya, “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nur) dari Allah dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah 15).

Ayat lainnya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu), bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Hadits riwayat Bukhari menjadi dasar lainnya, yaitu “Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berada di antara air dan tanah berlumpur.” 

Ada pula hadits yang berbunyi, “Saya adalah penghulu keturunan Adam pada hari kiamat.”

Juga suatu riwayat panjang yang banyak ditemukan dalam literatur tasawuf dan literatur-literatur Syiah yang merupakan pertanyaan Sayyidina Ali RA kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, mohon dijelaskan apa yang diciptakan Allah sebelum semua makhluk diciptakan?”

Rasul menjawab, “Sebelum Allah menciptakan yang lain, terlebih dahulu Ia menciptakan nur nabimu (Nur Muhammad). Waktu itu belum ada lauh al-mahfuz, pena (qalam), neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, jin, dan manusia.

Kemudian dengan iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Ia membagi Nur itu menjadi empat bagian. Dari bagian pertama, Ia menciptakan qalam, lauh al-mahfuz, dan Arasy. Ketika Ia menciptakan lauh al-mahfuz dan qalam, pada qalam itu terdapat seratus simpul.

Jarak antar simpul sejauh dua tahun perjalanan. Lalu, Allah memerintahkan qalam menulis dan qalam bertanya, ‘Ya Allah, apa yang harus saya tulis?’ Allah menjawab, ‘Tulis La Ilaha illa Allah, Muhammadan Rasul Allah.’ Qalam menjawab, ‘Alangkah agung dan indahnya nama itu, ia disebut bersama asma-Mu Yang Maha Suci.’

Allah kemudian berkata agar qalam menjaga perilakunya. Menurut Allah, nama tersebut adalah nama kekasih-Nya. Dari nur-Nya, Allah menciptakan Arasy, qalam, dan lauh al-mahfuz. Jika bukan karena dia, ujar Allah, dirinya tak akan menciptakan apa pun. Saat Allah menyatakan hal itu, qalam terbelah dua karena takutnya kepada Allah.”

Fenomena Gerak Semu Tahunan Matahari dan Kaitannya Dengan Momentum “9 / 8 / 21” yang Diisyaratkan Prabu Jayabaya Dalam Bentuk Anagram 8291

Gerak semu tahunan matahari adalah pergerakan semu matahari yang seolah-olah bergerak dari selatan ke utara dan kembali ke selatan setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena Bumi mengelilingi matahari (revolusi) dengan poros yang miring – sehingga yang condong ke matahari kadang kutub utara dan kadang kutub selatan Bumi. (sumber: wikipedia)

Adapun kemiringan poros bumi dari garis tegak lurus ekliptika yaitu sekitar 23,4 – 23,5 derajat. (lihat gambar)

Kemiringan poros bumi sekitar 23,4 derajat dari garis tegak lurus ekliptika (sumber: wikipedia.org)

Fenomena kemiringan poros bumi ini menyebabkan matahari tidak terbit dan terbenam di posisi yang sama sepanjang tahun.

Dalam setahun, perubahan posisi terbit Matahari terdiri dari empat periode, yaitu:

  1. Periode 21 Maret – 21 Juni, yaitu dari posisi 0 derajat menuju posisi 23,5 derajat LU (posisi paling Utara)
  2. Periode 21 Juni – 23 September, yaitu dari posisi 23,5 LU menuju posisi 0 derajat (garis katulistiwa)
  3. Periode 23 September – 22 Desember, yaitu dari posisi 0 derajat menuju 23,5 derajat LS (posisi paling selatan)
  4. Periode 22 Desember – 21 Maret, yaitu dari posisi 23,5 derajat LS menuju posisi 0 derajat (garis katulistiwa)

Jika kita perhatikan, perpindahan posisi terjauh matahari dari garis katulistiwa, baik itu ke arah utara ataupun ke arah selatan, adalah senilai 23,5 derajat yang berarti sama dengan nilai penyimpangan poros bumi terhadap garis tegak lurus ekliptika.

Gerak semu Matahari (sumber gambar: http://www.harapanrakyat.com)

Lalu di mana hubungannya dengan angka 8291 yang disebut dalam Jangka Jayabaya?

Jika kita hitung, jumlah hari dari tanggal 21 Juni hingga 23 September adalah 95 hari. Jika 95 hari itu kita bagi dua, hasilnya 47,5 hari (agar lebih mudah, kita bulatkan saja menjadi 48 hari)

Jika kita hitung, 48 hari dari tanggal 21 Juni – tepat menuju ke 8 Agustus 2021 (kalau tetap ingin menggunakan hasil 47,5 hari berarti di antara tanggal 7 dan 8 agustus).

Ini berarti kurang 1 atau 2 hari saja dari tanggal 9 Agustus 2021 yang diisyaratkan Prabu Jayabaya. Tentu saja dalam hal ini, Prabu Jayabaya sama sekali tidak keliru. Karena beliau dengan jelas menggunakan kata “selambat-lambatnya” …

Berikut Ini kalimat selengkapnya dalam wangsit Jayabaya bait 159:

selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun / sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu bakal ana dewa ngejawantah / apengawak manungsa / apasurya padha bethara Kresna / awatak Baladewa / agegaman trisula wedha / jinejer wolak-waliking zaman / wong nyilih mbalekake / wong utang mbayar / utang nyawa bayar nyawa / utang wirang nyaur wirang 

Artinya: selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun / (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) / akan ada dewa tampil / berbadan manusia / berparas seperti Batara Kresna / berwatak seperti Baladewa / bersenjata trisula wedha / tanda datangnya perubahan zaman / orang pinjam mengembalikan / orang berhutang membayar / hutang nyawa bayar nyawa / hutang malu dibayar malu)

Kaitan Angka 144 yang Sakral Dalam Tradisi Ibrani dan Angka 8291 yang Disebut Dalam Wangsit Jayabaya (Tradisi Jawa)

Ada banyak sejarawan yang menganggap bahwa angka 12 adalah angka yang sangat penting dalam tradisi Yahudi dan Kristiani di masa-masa awal Seperti, 12 suku Israel, 12 pengikut Yesus. Bahkan ini sampai pada tradisi Islam Syiah tentang 12 imam.

Scot McKnight (seorang sarjana Perjanjian Baru Amerika, sejarawan Kristen awal, teolog, dan penulis yang telah banyak menulis tentang sejarah Yesus) mengatakan, mengenai pemilihan angka 12 oleh Yesus sebagai jumlah pengikutnya, ada banyak sarjana yang menganggap hal itu didasari oleh niat ke “sesuatu hal yang mendasar,” walau demikian hingga kini faktor yang membentuk niat tersebut, belum dapat disimpulkan secara meyakinkan.

Dalam Kitab Perjanjian Baru, Wahyu 21: 10-21, ada disebut Kota Yerusalem baru ( juga disebut Yerusalem Surgawi atau pun Sion dalam kitab-kitab lain dari Alkitab Kristen). Yesaya menubuatkan bahwa Bait Suci ketiga yang dibangun kembali akan menjadi rumah doa bagi semua bangsa. Kota Yerusalem baru, akan menjadi titik berkumpulnya bangsa-bangsa di dunia.

Yerusalem baru dideskripsikan Yohanes (menurut visi kenabiannya) sebagai kota yang dasarnya berbentuk bujur sangkar dan dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari yaspis. Tinggi, panjang, dan lebar kota tersebut memiliki dimensi yang sama – yaitu 12,000 stadia.

Ketebalan temboknya disebut 144 hasta. Ada 12 buah pintu gerbang pada tembok kota (masing-masing 3 buah di sisi utara, barat, selatan, dan timur), dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada 12 malaikat, dan nama-nama 12 suku Israel tertulis di atasnya. 

Tembok itu mempunyai 12 batu dasar, dan di atasnya tertulis kedua belas nama rasul Anak Domba. Dan pada kedua belas pintu gerbang itu dua belas mutiara (setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara).

Beberapa kalangan menganggap bahwa kota tersebut sebagai suatu bentuk simbolis. ini terutama didasari oleh pertimbangan bahwa pada wahyu 21:9-10 kota Yerusalem disebut sebagai “pengantin perempuan, mempelai Anak Domba” oleh Malaikat yang berbicara dengan Yohanes. Merujuk pada fakta ini, dapat diasumsikan bahwa ‘Anak Domba’ telah ditakdirkan sebagai pewaris atau pemilik sah kota Yerusalem Baru.

Al Mahdi Will Become a “Superhero” Figure in the Real World

What we do not realize has happened in the life of the world in the last 10-20 years is that the theme of “super heroes” has so massive filled our space of consciousness. This assimilation occurs not only in children but also in us adults.

The Super Hero theme can be said to have become a new embroidery in our realm of consciousness. We all become familiar with it and see it as part of (possible) reality. It becomes new knowledge. Become part of ideas and hopes – “extreme solutions” to problems that are also extreme.

This means, actually a new paradigm is growing in our collective consciousness as human beings. Paradigm, which directs our emotional and intellectual discipline to present substantial judgments. To be known; intention, which is the basis of our moral judgment in front of God, arises from this “substantial assessment”. Because, from there triggered “behavior based on our conscious desires”.

For all these phenomena the relevant question arises, namely: What kind of cosmic mechanism does the Creator wish to adapt to in our realm of consciousness? – What are the important things back there that are “waiting to happen”?

In order to answer that question, it is important to look back at the information we have inherited from ancient times, the following …

Prophecies from various religious traditions about the figure of the Savior (Superhero)

In the sacred texts of the world’s major religions (call it Christianity, Islam, Hinduism, Buddhism, Zoroastrianism, etc.), there is a fragment of the ancient narrative about the presence of a savior at one point in the future.

This narrative is like information that is constantly being recycled. It continues to be present in various layers of age and human civilization which, despite different names, however, the purpose and moral substance carried by the figure of the savior in question can be said to remain the same.

Yes, since time immemorial, this information has been successfully transmitted into human memory from time to time – integrated as part of religious doctrine. On the other hand, this is indeed part of a little oasis in the religious world that can raise hope in the aspect of faith. This is often the subject of insults from secular people. In fact, such insults sometimes also come from members of the religious community itself – from groups who consider belief in future predictions to be forbidden.

Al Mahdi Akan Menjadi Sosok “Superhero” di Dunia Nyata

Apa yang tidak kita sadari terjadi dalam kehidupan dunia dalam 10-20 tahun terakhir adalah bahwa telah begitu masifnya tema “pahlawan super” mengisi ruang kesadaran kita. Asimilasi ini terjadi tidak saja pada anak-anak tapi juga kita orang dewasa.

Tema Pahlawan Super bisa dikatakan telah menjadi sulaman baru dalam alam kesadaran kita. Kita semua menjadi begitu mengenalinya. Kita semua akrab dan melihatnya sebagai bagian dari (kemungkinan) realitas. Ia menjadi pengetahuan baru. Menjadi bagian dari ide dan harapan – “solusi ekstrim” untuk masalah yang juga ekstrim.

Ini berarti, sebenarnya sedang tumbuh paradigma baru dalam kesadaran kolektif kita sebagai umat manusia. Paradigma, yang mengarahkan disiplin emosional dan intelektual kita untuk menghadirkan penilaian yang substansial. Untuk diketahui; niat (intention), yang menjadi dasar penilaian Moral kita di hadapan Allah muncul dari “penilaian substansial” ini. Sebab, dari sanalah terpicu “perilaku yang didasari keinginan sadar kita”.

Untuk semua fenomena ini, pertanyaan yang relevan muncul, yaitu: Mekanisme kosmik seperti apa yang ingin diadaptasi oleh Sang Pencipta dalam alam kesadaran kita? – Apa hal penting di belakang sana yang “menunggu untuk terjadi”?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk melihat kembali informasi yang kita warisi dari zaman kuno, berikut ini…

Nubuat dari berbagai tradisi agama tentang sosok Sang Penyelamat (Superhero)

Dalam teks suci agama-agama besar dunia (sebut saja Kristen, Islam, Hindu, Budha, Zoroastrianisme, dll.), Terdapat kepingan narasi kuno tentang kehadiran sosok penyelamat di satu titik di masa depan.

Narasi ini seperti informasi yang terus didaur ulang. Terus hadir di berbagai lapisan zaman dan peradaban manusia yang, walaupun berbeda nama, namun, tujuan dan substansi moral yang diusung sosok penyelamat yang dimaksud bisa dikatakan tetaplah sama.

Ya, sejak dahulu kala, informasi ini telah berhasil ditransmisikan ke dalam ingatan manusia dari waktu ke waktu – terintegrasi sebagai bagian dari doktrin keagamaan. Ini memang bagian dari sedikit oase dalam dunia keagamaan yang dapat membangkitkan harapan dalam aspek keimanan umat.

Namun di sisi lain, hal ini sering menjadi bahan penghinaan orang-orang sekuler, Bahkan, penghinaan semacam itu terkadang juga datang dari anggota komunitas agama itu sendiri – dari kelompok yang menganggap kepercayaan akan prediksi masa depan sebagai hal yang terlarang.

Panji Hitam Sebagai Metafora dan Penanda Kemunculan al Mahdi

Dalam apokaliptik Islam, “panji hitam” sebagai penanda kemunculan Al Mahdi adalah salah satu tema yang sangat sering dibicarakan.

Meskipun ramai dibicarakan, sebagian besar (kalau tidak semuanya) hadist yang meriwayatkan hal ini dianggap sebagai hadist dhoif atau diragukan kesahihannya.

Seringnya istilah ini digunakan oleh kelompok tertentu untuk mencapai tujuan politiknya, nampaknya adalah salah satu hal yang membuat hadist tentang panji hitam menjadi begitu kontroversi.

Salah satu hadist yang terkenal terkait panji hitam, yang diriwayatkan Ibni Abi Syaibah dan Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan dan Ibnu Majah dan Abu Nu’aim dari Ibnu Mas’ud, berbunyi:

Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak-anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Melihat mereka, maka kedua mata Rasulullah berlinang air mata dan wajahnya berubah. Akupun bertanya: “Mengapakah kami melihat pada wajahmu, sesuatu yang kami tidak sukai?”.

Beliau menjawab: “Kami Ahlul bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia, kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak, sampai datangnya suatu kaum dari sebelah Timur yang membawa bersama mereka panji-panji berwarna hitam.

Mereka kaum yang meminta kebaikan, tetapi tidak diberikan. Maka mereka berjuang dan memperoleh kemenangan. Lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu, tetapi mereka tidak menerimanya, hingga mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kedurjanaan.

Siapa pun di antara kamu yang sempat menemuinya (mencapai masanya), datangi dan beri dia kesetiaanmu walau pun engkau harus merangkak di atas salju. Sesungguhnya dialah Al Mahdi.”

Di masa sekarang, beberapa kalangan menganggap panji hitam yang datang dari timur yang dibawa pasukan Al Mahdi, mengadopsi Ar-Rayah, yaitu panji perang pada zaman Nabi Muhammad yang berwarna dasar hitam.

Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa bendera kebesaran Islam pada zaman Nabi Muhammad disebut Al-Liwa yaitu sebuah bendera berukuran besar berwarna putih.