Pembacaan ‘Ho-ling’ Sebagai “Walaing” atau “walain” oleh LC Damais, Menjadi Kunci Penentuan Letak Ho-ling di Pulau Sulawesi

 L-C. Damais dengan pendekatan fonetis yang dapat dipertanggungjawabkan mengidentifikasi Ho-ling sebagai transkripsi dari bentuk “Walaing” atau “Walain” (L-C. Damais. La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java. Bulletin de l’Ecole francaise d’Extreme-Orient  Annee 1964  52-1  pp. 93-141 ). 

Walaing faktanya memang sering disebutkan sebagai nama tempat di dalam berbagai prasasti. Di dalam prasasti mana saja nama Walaing ditemukan dapat dilihat dalam karya Damais, “Repertoire Onomastique de I’Epigraphie Javanaise (jusqu’a Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmamotunggadewa)”, BEFEO, tome LXVI, 1970, s.v. walaing.

Dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java dari halaman 93 hingga 141 L-C. Damais secara panjang lebar mengurai bagaimana kata ho-ling mesti di baca “Walaing” atau “Walain“, yang sebenarnya, Dalam bahasa Indonesia hal ini mudah kita temukan padanannya.

Untuk huruf o pada kata ‘ho-ling’ kita ketahui ada banyak kata di dalam bahasa Indonesia (terutama pada bahasa Jawa) yang memperlihatkan bahwa huruf a sering kali dibaca o, dan sebaliknya.

Untuk huruf h pada kata ‘ho-ling’ padanan kasus fonetisnya, dapat kita lihat pada kata Tuhan dan tuan – yang oleh bapak Remy Sylado telah dijelaskan dalam artikelnya di harian Kompas, 11 Oktober 2002, bahwa kata Tuhan berasal dari kata Tuan.

Jika kita jeli mencermati, kita dapat melihat bahwa pada penyebutan kata ‘tuan‘, antara suku kata tu dan an ada fonetis w. Jadi secara fonetis tuan dapat ditulis menjadi tuwan.

Demikianlah, kasus fonetis tuwan menjadi tuhan yang menunjukkan perubahan fonetis w menjadi h, persis sama kasusnya dengan ho-ling menjadi waling atau walaing.

Berikut ini bentuk perubahan fonetis dan contoh yang diberikan L_C. Damais dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java

Dalam artikelnya, L_C. Damais menjadikan pembacaan tou-ho-lo-po-ti menjadi dwarawati sebagai contoh. Selanjutnya, ia juga menunjukkan beberapa perubahan fonetis yang mungkin terjadi pada pembacaan holing. (lihat makalah L_C. Damais di sini Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient)

Demikianlah, melanjutkan Hipotesis L-C. Damais, saya mengidentifikasi nama “Walaing” atau “Walain” yang dimaksud, merujuk pada wilayah Walenrang di Luwu, Sulawesi selatan. Berikut ini rincian dari kata walain-rang (walengrang)

walain atau “walaing” : sangat mungkin bentuk lain dari wara, atau warana, atau barana, yang dalam bahasa tae bermakna sebagai “pusat/ tempat yang suci/ tempat yang dikeramatkan”.

Bentuk wara atau warana yang terdapat dalam prasasti Plaosan Lor yakni “Waranadhirajaraja” dan Narawaranagara” kemudian memunculkan spekulasi liar para ahli dengan mengaitkannya dengan toponim na-fu-na dalam kronik Cina yang kemudian disebut ada keterkaitan dengan Fu-nan (Kamboja). 

Jika ditinjau menggunakan bahasa tae’ maka warana-dhiraja-raja bisa berarti “pusat atau tempat suci yang diagung-agungkan”.

Formula Kunci Mengurai Sejarah (Dalam Genetik Aksara Syllable)

Sebagian dari pembaca mungkin sudah mengetahui apa itu aksara Brahmik atau aksara Abugida. Ya, ini sistem penulisan yang urutan konsonan-vokalnya ditulis sebagai satu unit.

Dalam ilmu linguistik, aksara Brahmik biasanya disebut juga aksara syllable karena pada dasarnya wujud yang diwakili satu symbol aksara Brahmik adalah suatu unit “suku kata”.

Yang menarik dari perbedaan sistem aksara Brahmik dengan sistem alphabet adalah jika dalam aksara brahmik inti unit syllable adalah konsonan sementara vokal adalah sekunder, maka dalam sistem alphabet, inti unit suku kata paling sering adalah sebuah vokal (walaupun tidak selamanya).

Etimologi kata “Syllable”

Etimologi syllable dikatakan berasal dari Anglo-French, merupakan perubahan dari kata “silabel” Perancis Kuno, dari “silaba” Latin, dan dari Yunani “syllavy” yang bermakna “diambil bersama”. Dalam bahasa tae’ (di Sulawesi selatan) terdapat kata silapi’ yang artinya “saling berlapis” atau “saling melapisi”.

Tentu saja kata silapi’ dalam bahasa tae, terlihat sangat memiliki kesamaan dengan kata “syllavy” dari bahasa Yunani. Untuk fenomena kesamaan leksikon bahasa Yunani dan bahasa tae’ di Sulawesi selatan saya telah membahas dalam artikel “Menelusuri Jejak Kuno Aksara di Nusantara”.

Etimologi kata “Aksara”

Kata Aksara berasal dari kata Sanskrit “aKSara”: a = tidak; KSara = binasa, hancur, mencair / luntur. Jadi, Aksara bisa dimaknai sebagai: “tidak dapat binasa, tidak dapat dihancurkan, tidak mencair / luntur”.

Dalam bahasa tae’,  sara’ atau sarak berarti “pisah”. Biasanya diucapkan dalam bentuk ti-sara’ atau ti-sarak yang artinya: terpisah. Imbuhan ti dalam bahasa tae’ sama dengan imbuhan ter dalam bahasa Indonesia. Kata tisarak dalam bahasa tae saya pikir sama saja dengan kata terserak / berserak dalam bahasa Indonesia.

Makna Esensi di balik Pengelompokan Fonetik Artikulatoris Dalam Aksara Syllable 

Hal menarik lainnya dari aksara Brahmik adalah susunan umum pengelompokan unitnya telah disesuaikan dengan konsep fonetik artikulatoris.

Inilah yang secara intuitif saya lihat sebagai suatu pesan yang dititipkan orang-orang terdahulu kepada kita generasi sekarang. Suatu “pesan yang tak dijelaskan” fungsinya secara eksplisit, menunggu kita untuk mencermatinya.

Ini akan kita ketahui fungsinya setelah kita sadari bahwa morfologi atau perubahan bentuk fonetis suatu kata umumnya terjadi diantara fonetis yang ada di dalam kelompok fonetik artikulatoris yang sama. (lihat pada gambar di bawah).

Susunan umum aksara Lontara Bugis dan pembagian kelompok menurut fonetik artikulatoris (dokpri)

Asal Usul Kata “Air” dalam Pusaran Polemik Sarah dan Hajar

Dalam tulisan berjudul “Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata ‘Air’?” saya telah membahas etimologi kata ‘air’, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa bentuk kuno (arkais) dari kata ‘air’ adalah: ‘ayar’.

Dalam tulisan tersebut saya mengungkap bahwa bentuk ‘ayar’ berasal dari nama Hajar (istri Nabi Ibrahim). Hal ini setidaknya terkonfirmasi melalui tinjauan linguistik historis kata ma’an – kata dalam bahasa Arab yang berarti air – yang di sisi lain, merupakan nama kota di Yordania selatan yang menurut sejarahnya didirikan oleh orang-orang Minae. Nama orang Minae ini kuat dugaan saya berasal dari nama wilayah Mina dekat Makkah, dekat bukit Safa dan Marwah tempat Hajar mencari air untuk anaknya.

Demikianlah, dengan fakta bahwa kata ma’an dalam bahasa Arab pada dasarnya merujuk pada ‘mina’, tempat di mana kisah yang melegenda antara Hajar dan Air Zam-Zam terjadi, maka, asumsi kata air ataupun ayar sebagai kata yang merujuk pada nama Hajar, mestinya dapat pula dilihat sebagai hal yang mendasar dan masuk akal. Dengan kata lain sebutan “air/ ayar” yang digunakan dalam beberapa bahasa di Asia Tenggara dan sebutan ma’an yang digunakan dalam bahasa di Jazirah Arab, linguistik historisnya sama-sama merujuk pada legenda Hajar.

Tapi rupanya, masalah kesejarahan asal usul kata air tidak selesai sampai di sini. Karena rupa-rupanya, ada kemungkinan jika “pendukung” ibu sarah pun tidak ingin ketinggalan untuk merekam nama ‘sarah’ dalam catatan sejarah bahasa sebagai nama yang juga merujuk pada makna: air.

Bagi anda yang belum mengetahui riwayat keluarga Nabi Ibrahim, izinkan saya berikan flashback ringkas.

Hajar adalah istri kedua nabi Ibrahim. Sarah adalah istri pertama. Ketika Hajar melahirkan Ismail, Sarah merasa cemburu karena pada saat itu ia belum memberikan anak kepada nabi Ibrahim. menurut riwayat, dilandasi rasa cemburu itu, Sarah kemudian meminta Ibrahim membawa pergi Hajar dan putranya yang masih bayi ke suatu tempat di tengah padang pasir yang terpencil dan meninggalkan mereka di sana. Inilah kurang lebih kisah perseteruan antara keduanya yang tiba kepada kita generasi hari ini.

Awalnya, saya pribadi melihat kisah ini sebagai hal yang tidak perlu saya cermati. Saya pikir ini urusan nabi Ibrahim dan keluarganya-lah ngapain mesti cari tahu, lagian, sekalipun itu alasannya untuk menjadikan hikmah pembelajaran dalam kehidupan berumahtangga, kenyataannya, kan banyak kejadian serupa yang terjadi di masa sekarang.

Tapi rupanya, dalam konteks penelusuran linguistik historis asal usul kata air, prinsip itu mesti saya kesampingkan – agar dapat mencermati secara lebih jauh korelasi antara data sejarah, pelaku dan emosi yang melatarbelakanginya.

Jejak Kuno Bahasa: Tae’, Tamil, dan Rumpun Indo-Eropa

Dalam satu dekade terakhir ini, internet dan terutama fasilitas penerjemahan online, telah berperan besar mengungkap sisi gelap sejarah bahasa yang selama ini menjadi ranah “kajian spekulasi” para ahli bahasa, sejarawan maupun antropolog dalam mengarahkan bentuk skenario historiografi dunia.

Fenomena ini dapat kita amati pada metode pengelompokan rumpun bahasa yang memunculkan konsep “keterpisahan linguistik”, yang dalam beberapa waktu belakangan ini, hasil studi linguistik komparatif malah menunjukkan hasil sebaliknya. Ditemukan ada banyak kesamaan leksikon antara bahasa yang tidak berada dalam rumpun bahasa yang sama.

Seperti yang ditunjukkan oleh Alvaro Hans (2017) dalam bukunya “Proto-Indo-European Language: FACE UNVEILED !” yang dengan metode linguistik komparatif, menunjukkan bahwa beberapa leksikon dalam bahasa tamil memiliki keidentikan dengan beberapa leksikon dalam bahasa rumpun Indo-Eropa. Bahasa Tamil sendiri oleh para ahli dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Dravida.

Temuan kesamaan leksikon yang ditemukannya tersebut, mendorong Alvaro Hans mengklaim bahwa Bahasa Tamil sebagai ibu bahasa Indo-Eropa atau Proto Indo-Eropa (PIE), yang merupakan objek pencarian para ahli bahasa dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Salah satu kosakata yang disebut Alvaro Hans sebagai asli dari tamil adalah kata “food” (“makanan” dalam bahasa Inggris) yang disebutnya berasal dari bahasa tamil “vootu” yang artinya “makanan”. bentuk lainnya adalah “Voota” dalam bahasa Kannada (cabang bahasa Tamil) juga berarti “makanan”.

dokpri

Yang menarik, karena sebenarnya, kata “food” (Inggris), ataupun “vootu” (Tamil) identik pula dengan kata “pudu’” dalam Bahasa Tae‘ yang artinya “mulut”. Dalam hal ini dapat diduga bahwa telah terjadi morfologi bahasa (perubahan fonetis dan pergeseran makna) dari pudu’ yang berarti “mulut,” menjadi food dan vootu yang berarti “makanan”. 

Untuk menentukan mana yang lebih dahulu, logikanya sederhana. Dapat diperkirakan, kata food dan vootu muncul untuk menyebut apa yang dimasukkan ke dalam pudu’ (mulut). Jadi jelas kata pudu’ yang lebih kuno.

Ada pun kata mulut dalam bahasa Indonesia sebenarnya juga berasal dari kata pudu’. Dengan menggunakan metode pengamatan altikulatoris (telah saya jelaskan dalam tulisan: Formula Kunci Mengurai Sejarah) dapat terlihat jika antara kata pudu’ dan mulut telah terjadi perubahan fonetis; antara, p dan m (labial) – d dan l (dental. l fonetis yang Approximant ke dental).

Ada pun tanda petik di akhir kata pudu’ berubah menjadi t. Beberapa contoh kata dalam bahasa tae yang ketika terserap ke dalam bahasa Indonesia mengalami hal ini, adalah: lipu’ menjadi liput ; lili’ menjadi lilit ; kunyi’ menjadi kunyit, dll.

Tay, Suku Kuno di Asia Tenggara dan Jazirah Arab: Pionir Pertanian Padi

Menarik untuk mencermati kesamaan nama etnik Tai/Thai atau Tay/Thay yang bermukim di Asia Tenggara dengan etnik Tay/Tayyi atau kadang juga ditulis Tae’ yang bermukim di jazirah Arab.

Karena pada dasarnya, kedua etnik tersebut sama-sama merupakan etnik kuno yang telah mendiami kawasan itu selama ribuan tahun.

Nama alternatifnya pun juga menunjukkan kemiripan. Orang tay di asia tenggara kadang juga disebut ‘orang shan’, sementara orang tay di jazirah Arab kadang juga disebut ‘orang shammar’.

Untuk informasi lebih detailnya, berikut ini ulasan profil kedua etnik tersebut.

Profil Orang Tay di Asia Tenggara

Oleh para sejarawan, orang Tay di Asia Tenggara dikatakan berasal dari wilayah Cina Tengah yang pada masa 2200 SM bergerak dan tersebar di sebagian besar Cina Selatan dan Asia Tenggara Daratan, seperti  Thailand, Laos, Vietnam, serta juga mendiami wilayah  Myanmar hingga bagian Timur Laut India.

Orang Tay dianggap sebagai pelopor pertanian padi. [Shona T. S. Goodman, Ph.d., Harn Yawnghwe: From Princes to Persecuted: A Condensed History of the Shan/Tai…. (2014)]

Bukti genetik terbaru menunjukkan bahwa semua bentuk beras Asia, baik indica maupun japonica, berasal dari satu peristiwa domestikasi yang terjadi 8.200-13.500 tahun yang lalu di wilayah lembah Sungai Yangtze dan Huai di Cina.

Studi morfologi phytolith padi dari situs arkeologi Diaotonghuan menunjukkan adanya pola transisi dari pengumpulan beras liar ke budidaya padi peliharaan. 

Banyaknya phytolith beras liar di kawasan Diaotonghuan yang berasal dari 12.000–11.000 BP menunjukkan bahwa pengumpulan beras liar adalah bagian dari cara subsisten lokal. 

Perubahan morfologi phytolith Diaotonghuan yang berasal dari 10.000-8.000 BP-lah yang kemudian menunjukkan jika pada masa ini beras telah didomestikasi. Segera setelah itu dua varietas utama beras indica dan japonica ditanam di Cina Tengah. 

Lalu, pada akhir milenium ke-3 SM, terjadi ekspansi cepat penanaman padi ke daratan Asia Tenggara dan ke arah barat melintasi India dan Nepal. (sumber di sini)

Demikianlah, dari data-data ini, dapat kita asumsikan jika wilayah Cina Tengah yang dimaksudkan para sejarawan sebagai asal orang Tay, besar kemungkinan adalah wilayah lembah sungai Yangtze dan sungai Huai yang merupakan titik awal domestikasi padi. 

Begitu juga mengenai ekspansi penanaman padi ke daratan Asia Tenggara dan sekitarnya pada milenium ke-3 SM, dapat diduga dilakukan oleh orang-orang Tay.

“Tanna Tuwa”, Nama Melayu untuk Negara Paling Terpencil di Jantung Asia

Por-Bazhyn di Tanna Tuwa (sumber: msn.com)

“Tanna Tuwa” yang hari ini dikenal dengan sebutan Republik Tuva terletak di jantung Asia. Tersembunyi di perbatasan antara Rusia dan Mongolia – di wilayah Siberia selatan yang beku dan sunyi. Tuva adalah daerah yang paling terpencil dan paling tidak dikenal dari semua Republik Rusia.

Setelah melalui sejarah yang panjang, Tuva kini merupakan wilayah otonom, merupakan subjek federal dari Negara Federasi Rusia. Berbatasan dengan Republik Altai, Republik Khakassia, Krasnoyarsk Krai, Oblast Irkutsk, dan Republik Buryatia di Rusia dan Mongolia di selatan. Ibukotanya bernama Kyzyl. 

Ada banyak alternatif nama untuk Tuva, antara lain: Narodnaya Tuvinskaya Respublika, T’ang-nu-wu-liang-hai, Tanna Tuwa, Tannu Tuva, Tannu-Tuvinskaya Respublika, Tuva, Tuva Autonomous Region, Tuvinian People’s Republic, Tuvinian People’s Republic, Tuvinskaya Narodnaya Respublika, T’ang-nu-wu-liang-hai, Uriankhai. (sumber di sini)

Sejarah

Dikutip dari halaman Wikipedia, disebutkan bahwa wilayah Tuva pernah di bawah kendali Kekaisaran Xiongnu (209 SM – 93 M), menjadi negara bagian Xianbei Mongolia (93–234), Rouran Khaganate (330–555), Kekaisaran Mongol (1206–1368), Yuan Utara (1368–1691) ), Khotgoid Khanate dan Zunghar Khanate (1634–1758). (sumber di sini)

Dari 1758-1911 Tuva bagian dari Mongolia namun berada di bawah pemerintahan Manchu. Di tahun 1914, Tsar Rusia (Tsar Nicholas II) menetapkan Tuva di bawah protektorat Rusia dikenal dengan nama Uryankhay Kray.

Dari Juli 1919 hingga Februari 1920, Tentara Merah komunis mengendalikan Tuva tetapi dari 19 Februari 1920 hingga Juni 1921 ditempati oleh China (gubernurnya adalah Yan Shichao [transliterasi tradisional, Wade-Giles: Yan Shi-ch’ao]). 

Pada 14 Agustus 1921, kaum Bolshevik mendirikan Republik Rakyat Tuvan, yang populer disebut Tannu-Tuva. Pada tahun 1926, ibukota (Belotsarsk; Khem-Beldyr sejak 1918) berganti nama menjadi Kyzyl, yang berarti “merah”. 

Koneksi Okultisme Nazi, Tibet, dan Rosicrucian

Awal Abad 20 bisa dikatakan saat dimana era Renaisans (Renaissance) dan era penjelajahan (Age of Exploration) yang dimulai sejak abad ke 15, mencapai titik krusial – katakanlah seperti seorang remaja yang memasuki periode puncak masa pubernya.

Di masa tersebut, capaian sains telah tiba pada “selaput tipis” pemisah antara pengetahuan dunia fisik dengan dunia metafisika. 

Kehadiran “Teori relativitas” dari Einstein pada tahun 1905 menjadi tonggak sejarahnya – ia menggantikan teori mekanika berusia 200 tahun sebelumnya.

Kelindan antara filsafat materialisme dan gagasan teori mekanika klasik tentang bagaimana materi dan kekuatan ada dan berinteraksi, yang mengasumsikan bahwa materi dan energi memiliki atribut yang pasti, yang mana menguasai secara dominan pemikiran ilmuwan dunia sebelum abad 20, menyebabkan kaum penganut okultisme terdesak, menyingkir, sembunyi di balik sisi dunia yang gelap.

Terlebih karena di sisi lain, pada masa-masa itu, otoritas keagamaan memang tidak mentoleransi praktek okultisme. Pelakunya dianggap bid’ah dan dapat berujung hukuman mati.

Tampilnya Jerman Nazi ke pentas dunia di awal abad 20 – dengan slogan terkenalnya Reich Ketiga (Drittes Reich), yang berarti “Kekaisaran Ketiga”, dengan Kekaisaran Romawi Suci (800–1806) selaku kekaisaran pertama dan Kekaisaran Jerman (1871–1918) sebagai kekaisaran kedua.

Bukan saja melahirkan terjadinya perang fisik dan perang ideologi, tetapi juga di sisi lain, memunculkan konfrontasi pemikiran rasional dan irasional yang mengisi panggung pinggiran.

Gerakan spiritual dan budaya “Rosicrucianism” yang muncul di Eropa pada awal abad ke-17, dengan doktrin misteriusnya tentang “tatanan esoteris yang berasal dari masa kuno” -lalu, Konsepsi “Teosofi” yakni aliran esoterisme Barat yang okultis, dari Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891)- konsep Ubermensch dari Nietzsche – hingga interpretasi liar, ras Arya sebagai jenis manusia unggul – seperti terakumulasi…

Hingga pada gilirannya, perang dunia ke 2 lebih merupakan konsekuensi dari menggeliatnya suatu energi besar yang terakumulasi – membuka jalannya tampil kepermukaan untuk memulai suatu era baru. 

Karena itu, Hitler dan NAZI-nya, pada titik pemahaman ini, terlihat lebih merupakan pion-pion kecil yang digerakkan oleh tangan-tangan yang tak terlihat.

Setidaknya, pasca perang dunia ke 2, budaya psychedelic yang meledak di tahun 60-an, di mana muatan-muatan mistisme dan Esoteris dirayakan, menunjukkan adanya relevansi ke arah itu.

Sejarah Ekspedisi Arkeologis Nazi Jerman ke Tibet

Pada tahun 1935, berdiri sebuah lembaga penelitian elit Nazi bernama Ahnenerbe. Nama itu berasal dari kata Jerman yang agak kabur, yang berarti “sesuatu yang diwarisi dari nenek moyang.”  Misi resmi Ahnenerbe adalah untuk menggali bukti baru tentang pencapaian nenek moyang Jerman “menggunakan metode ilmiah yang tepat.” (Kenneth Hite: The Nazi Occult, 2013: 20)

Pendiri Ahnenerbe terdiri dari: Herman Wirth, seorang sejarawan Belanda-Jerman, sarjana agama dan simbol kuno, yang terobsesi dengan Atlantis; Walter Darre pencipta ideologi ‘Darah dan Tanah’ Nazi, dan menjabat sebagai Menteri Pangan dan Pertanian Reich dari tahun 1933 hingga 1942 ; serta Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS  ( Schutzstaffel ).

Besarnya penolakan masyarakat ilmiah Eropa pada saat itu terhadap doktrin rasialis “ras arya” sebagai ras unggul umat manusia, mendorong Hitler dan Partai Nazinya, untuk membuktikan kebenaran doktrin mereka dengan melakukan penelitian secara  ekstensif untuk menggali dan mengumpulkan bukti arkeologis tentang sejarah budaya dan karakteristik ras Arya di berbagai penjuru dunia.

Organisasi ini memiliki banyak  cabang berbeda, yang menangani lebih dari seratus total proyek penelitian. Penggalian arkeologi dilakukan di Jerman, Yunani, Polandia, Islandia, Rumania, Kroasia dan banyak negara lain, termasuk Afrika dan Rusia (bagian yang diduduki). Tibet terutama menjadi prioritas bagi para peneliti, dan khususnya Institute for Inner Research Asia. (sumber di sini)

Pengamat sejarah modern sebagian besar menganggap bahwa “operasi Arkeologis Ahnenerbe’ tidak ada bedanya dengan “bisnis pembuatan mitos”. Para peneliti terkemuka yang turut mengabdikan diri dalam kegiatan penelitian tersebut, dianggap telah berupaya mendistorsi kebenaran dan mengaduk-aduk bukti – yang dirancang dengan hati-hati untuk mendukung ide-ide Adolf Hitler, sekaligus mendukung tujuan politis untuk menguatkan nasionalisme Nazi Jerman.

Hitler telah mempromosikan ide-idenya tentang kebesaran leluhur Jerman dalam bukunya tahun 1925, Mein Kampf . Hitler percaya bahwa Ras Arya – yang berpostur tinggi besar, berambut pirang, yang umumnya ditunjukkan oleh orang Eropa utara atau “Nordic” – Memiliki kejeniusan yang dibutuhkan untuk menciptakan peradaban. Kebanyakan orang Jerman modern, katanya, adalah keturunan bangsa Arya kuno ini.

Pendapat Hitler tersebut, oleh sebagian besar sarjana dan ilmuwan di luar Jerman, dianggap sebagai gagasan tentang evolusi manusia dan prasejarah yang omong kosong, hal ini didasari oleh alasan, oleh karena tidak adanya bukti bahwa masyarakat Eropa Utara pernah memulai perkembangan besar dalam prasejarah, seperti pengembangan pertanian maupun penulisan – yang kesemua itu telah terbukti secara ilmiah hadir pertama kali di Timur Dekat dan di Asia.

Besarnya penolakan sarjana dan ilmuwan Eropa pada saat itu, tidak menyurutkan langkah Heinrich Himmler yang terkenal memiliki minat besar pada hal yang berbau mistis dan gaib peninggalan dunia kuno. Himmler menganggap penolakan tersebut tidak lebih dari kegagalan para sarjana tersebut dalam mengungkap bukti dari Ras Arya yang begitu agung menerangi obor peradaban dan melahirkan semua kesempurnaan budaya manusia.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Tanah”?

Pada umumnya asal usul kata untuk menyebut ‘tanah’ dalam berbagai bahasa di dunia, bisa dikatakan tidak terlepas dari personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno. 

Hal ini nampaknya merujuk pada Personifikasi “langit dan bumi” sebagai gambaran maskulinitas dan feminitas bagi sosok Adam (langit) dan Hawa (bumi).

Dalam Personifikasinya sebagai Ibu Bumi, Hawa disebut dalam banyak bentuk ‘nama’. Nama-nama tersebut dapat kita temukan dalam cerita-cerita mitologi dari berbagai bangsa di dunia. 

Sebelum saya membahas mitologi yang terkait dengan personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno, terlebih dahulu saya ingin menunjukkan bentuk kata ‘tanah’ dalam berbagai negara di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Albanian = toke; Basque= lurra; Bosnian = zemlju; Catalan = terra; Danish = jorden; Dutch = land;Estonian = maa; Finnish = maa; French = terre; Galician = terra; German = Land; Icelandic = Land; Irish = talamh; Latvian = zeme; Macedonian = zemjata; Maltese = art; Norwegian = land; Portuguese = terra; Swedish =  landa; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Asia : Bengali = jami; Chinese = tu-di; Georgian = mits’is; Gujarati = Jamina; Hindi = bhoomi; Kazakh = jer; Khmer = dei; Korean = ttang; Lao = thidin; Malayalam nilam; Marathi = jameen; Myanmar = myayyar; Nepali = bhoomi; Tajik = zamin; Tamil = Nila; Telugu = Bhumi; Thai = Thidin; Turkish = arazi; Uzbek = er; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara: Arabic = ‘ard; Igbo = ala; Somali = dalka / dhulka; Swahili = ardhi; Yoruba = ile; Zulu = umhlaba / emhlabathini; Cebuano= yuta; Indonesian = tanah; Malagasy = tany; Malay = tanah; Maori = whenua; dan masih banyak lagi.

Sejarah Nama Tuhan dalam Tradisi Agama Samawi

(gambar: leeabbey.org.uk)

Tema pembahasan ini adalah hal yang untuk sebagian besar orang pada umumnya menganggap “memang sudah seperti itu” dan karenanya tidak merasa perlu mencari tahu lebih jauh. Hal ini dapat dipahami, karena menyangkut sesuatu hal yang sangat diagungkan dan dimuliakan oleh manusia. 

Sikap pengkultusan terhadap nama Tuhan, misalnya, dapat kita lihat dalam tradisi Yudaisme Rabbinik, yakni tentang tujuh nama Tuhan yang karena begitu suci sehingga, setelah ditulis, tidak boleh dihapus, yaitu: YHWH, El, Elohim, Eloah, Elohai, El Shaddai, dan Tzevaot. (sumber di sini)

Nama Tuhan dalam tradisi Yahudi

Dalam Alkitab Ibrani, nama Tuhan yang paling sering digunakan adalah YHWH (juga dikenal sebagai Tetragrammaton, yaitu bahasa Yunani untuk “empat huruf”).

Ditransliterasikan sekitar abad ke-12 sebagai Yehowah (dianggap bentuk turunan dari Iehouah), bentuk latinisasi ‘Jehovah’ pertama kali muncul pada abad ke-16, sementara dalam bahasa Inggris, dikenal dengan bentuk “Yahweh”.

Orang Yahudi yang taat tidak mengucapkan Tetragrammaton (YHWH), karena nama ini dianggap terlalu sakral untuk digunakan, meskipun dalam doa ataupun saat membaca teks suci. 

Tidak ada dalam Taurat larangan mengatakan nama itu, tetapi bahkan di zaman kuno, selama masa Kuil Pertama di Yerusalem, nama itu hanya diucapkan setahun sekali oleh imam besar di Yom Kippur. Ketika kuil hancur, nama itu tidak lagi diucapkan. 

Orang-orang Yahudi dan mereka yang ingin menunjukkan rasa hormat akan membaca nama tersebut sebagai Adonai (‘Tuanku’) atau Ha Shem (secara harfiah berarti ‘Nama’). (Maire Byrne: 2011, hlm. 25)

Dalam kaca mata arkeolog, Yahweh adalah dewa utama bangsa Israel (samaria) dan Yehuda. (James Maxwell Miller: 1986, hlm. 110)

Asal-usul kapan mulanya penyembahan Yahweh berlangsung memang diselimuti misteri, tetapi para arkeolog umumnya sepakat bahwa hal tersebut besar kemungkinan berlangsung setidaknya antara Zaman Besi awal hingga sejauh akhir zaman perunggu. 

Referensi paling awal yang diketahui dan dianggap terkait dengan “Yahweh” ditemukan dalam daftar musuh-musuh Mesir yang tertulis di kolom kuil Soleb yang dibangun oleh Amenhotep III (sekitar 1400 SM)

Daftar tersebut menyebutkan enam kelompok Shasu: Shasu dari S’rr , Shasu dari Rbn , Shasu dari Sm’t , Shasu dari Wrbr , Shasu dari Yhw , dan Shasu dari Pysps. 

Istilah “Shasu” sendiri artinya “mereka yang berjalan kaki”. Pendapat lain yang pada dasarnya serupa, yaitu “mengembara” atau nomaden (dimaknai menurut bahasa Mesir), dan alternatif lainnya “menjarah” (pemaknaan menurut bahasa Semitik). (Levy, Adams, dan Muniz: 2014, hlm. 66)

Selain ditemukan dalam teks Mesir yang berasal dari periode Amenhotep III (abad ke-14 SM), Teks Mesir lainnya yang di dalamnya juga ditemukan bentuk yang dianggap identik dengan YHWH atau Yahweh, adalah teks dari zaman Ramses II (abad ke-13 SM).