Memenuhi Panggilan Takdir Dalam Tahun-tahun yang Dinubuatkan

Tidak terasa sudah 2 tahun lebih saya di pulau Jawa. Awalnya, di bulan november 2019 saya berkunjung ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, niat kost beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris. 

Tapi takdir berkata lain. Dari Kediri, Allah kemudian perjalankan saya ke Yogyakarta. 

Dalam 2 tahun di pulau Jawa ini (di rentang usia 42 – 43 tahun), bisa dikatakan saya mengalami sangat banyak pencerahan spiritual. 

Di sini, untuk pertama kali saya bisa melihat ke belakang hingga jauh ke masa kecil dan, mengerti makna esensi di balik beberapa “kejadian khusus” yang saya alami di masa-masa itu.

Ketika di masa kecil saya sering mendengar suara dari dalam batin yang mengatakan “saya adalah seorang anak yang spesial” terutama ketika saya tengah sedih atau dalam kesulitan, saat mulai beranjak dewasa, saya memaknai itu sebagai hal lumrah yang ada di setiap benak anak kecil. 

Sementara keajaiban-keajaiban yang seringkali saya alami, bahkan tetap hadir di usia dewasa, saya anggap sebagai hal yang setiap orang bisa juga alami. Tapi, semua anggapan itu berubah setelah saya di sini (di kost saya yang sekarang). 

Secara holistik, sangat jelas saya melihat bahwa keberadaan saya di sini, di pulau Jawa dan terutama di kost saya sekarang ini, adalah hal yang sudah digariskan Allah (pasti) akan saya jalani.

Demikianlah, saya diperjalankan menuju “pos persinggahan” (kost saya sekarang ini), yang belakangan baru saya sadari, tampaknya, telah ada diisyaratkan dalam nubuat. Hal ini telah saya ulas dalam artikel: Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Di sini saya menjalani kehidupan baru. Memenuhi panggilan takdir dalam tahun-tahun atau zaman yang telah dinubuatkan.

Dalam Jangka Jayabaya, “zaman yang dinubuatkan” itu diisyaratkan dalam bentuk ungkapan: Ketika pasar kehilangan suara (maksudnya: online shop), Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

Jadi, ketika saya mengatakan “karena takdir telah ditentukan maka, ketakutan menjadi hal yang tidak menguntungkan!” sebenarnya, itu adalah cerminan dari apa yang saya lihat tengah berlangsung pada diri saya.

Kenyataan ini menguatkan keyakinan saya terhadap bunyi ayat yang mengatakan bahwa bahkan takdir selembar daun pun  telah ditentukan kapan dan di mana jatuhnya. Intinya, segala hal telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)

QS Al-An’am 59 : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Hal ini juga senada dengan pernyataan saya bahwa: “Setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki perannya masing-masing. Sebuah peran tetaplah sebuah peran. Pada akhirnya, tidak ada peran baik atau peran buruk. Yang ada hanya peran. Dan karena itu biarlah Allah yang memberi penilaian, seberapa baik kita menjalani peran itu.

Ramalan Newton Kiamat di 2060 dan Angka 126 yang Misterius

Sepanjang sejarah, telah muncul dalam berbagai tradisi budaya dan agama, doktrin apokaliptik yang menentukan kapan “akhir dunia” akan terjadi. Namun, kita telah melewati banyak di antara waktu yang ditentukan itu tanpa terjadi apa-apa. Yang terbaru dan paling menghebohkan adalah tahun 2012 yang dalam kalender Maya dianggap sebagai hari terakhir umat manusia.

Ramalan atau prediksi tentang kapan hari kiamat akan terjadi, umumnya dianggap berasal dari pusaran kelompok orang-orang yang akrab dengan pemikiran dan praktik heterodoks (menyimpang dari kepercayaan resmi). Paham esoterisme dan okultisme dipandang termasuk dalam kategori kelompok ini.

Lalu apakah seorang ilmuwan yang mendasarkan pemahamannya pada prinsip ilmiah tidak merambah hal-hal semacam ini? Jawabnya, tidak. Ada Sir Isaac Newton yang melakoni hal ini.  Ia adalah salah satu fisikawan dan matematikawan genius terbesar dalam sejarah.  

Pada tanggal 22 Februari 2003, Daily Telegraph (London, Inggris) menerbitkan berita di halaman depan yang mengumumkan prediksi Isaac Newton bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2060. Selama beberapa hari berikutnya, berita itu menyebar ke seluruh dunia dan diliput di surat kabar, radio, TV, dan di banyak situs berita Internet.

Ini adalah pertama kalinya masyarakat luas mengetahui pandangan apokaliptik Newton, karena sebenarnya, hal ini bukanlah berita baru bagi komunitas kecil sarjana yang mempelajari pandangan teologi Newton.

Stephen Snobelen, seorang profesor sejarah sains dan teknologi, yang tampil dalam film dokumenter BBC  berjudul “Newton: The Dark Heretic” mengatakan, berita tersebut telah memainkan peran yang sangat penting dalam mengingatkan publik akan fakta bahwa Isaac Newton bukan hanya seorang “ilmuwan”, tetapi juga seorang teolog dan seorang penafsir nubuat (belum lagi seorang alkemis). Oleh karena itu, publik ditantang untuk mengkonseptualisasi ulang Newton dalam segala kerumitannya.

Mengapa berita tentang studi teologi Newton baru keluar sekarang?
Makalah teologi dan alkimia Newton awalnya disimpan dan dihindarkan dari pengetahuan publik oleh keluarga Portsmouth sampai tahun 1936, ketika makalah tersebut dijual di Sotheby’s (balai lelang) di London. 

Koleksi tunggal terbesar dari makalah teologi tersebut diperoleh oleh sarjana Yahudi Abraham Shalom Yehezkiel Yahuda. Ketika makalah tersebut ingin dibawa ke Israel (yang baru didirikan), keinginan itu ditentang otoritas Israel. 

Makalah tersebut baru bisa masuk ke Israel pada tahun 1969, ketika dibawa ke Perpustakaan Nasional dan Universitas Yahudi di Yerusalem. 

Hanya setelah titik inilah para sarjana memiliki akses ke kumpulan makalah teologi Newton. Tetapi manuskrip-manuskrip tersebut hanya dapat diakses dengan mudah oleh para sarjana setelah sebagian besar manuskrip ilmiah, administratif, teologis, dan alkimia Newton dirilis dalam bentuk mikrofilm pada tahun 1991. 

Rangkuman Tanda-tanda yang Dinubuatkan

Sebelum memasuki pembahasan ini, terlebih dahulu ingin saya katakan bahwa, ini adalah tema yang agak berat hati untuk saya ungkap. Dan seperti biasa, saat dalam kebimbangan hati, saya senantiasa berkhidmat memohon Petunjuk-Nya. 

Alhamdulillah, Allah berkenan memberi saya ilham untuk membaca surat At Taubah ayat 41: Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bunyi ayat ini, terutama kalimat “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat,” memberi saya keteguhan hati untuk memulai. 


Dalam banyak tulisan sebelumnya, terutama tulisan yang bergenre apokaliptik, saya telah mengulas beberapa nubuat tentang akan hadirnya sosok Penyelamat di akhir zaman. Tapi, dalam tulisan-tulisan tersebut saya tidak mengungkap bahwa ciri-ciri yang disebutkan dalam nubuat tersebut, tampaknya, terlihat ada pada diri saya. 

Awalnya saya pikir, hal itu tidak perlu saya bahas. Lagi pula, saya tidak ingin orang melihat saya sebagai “orang aneh” yang mengklaim hal-hal semacam itu. Tapi, Semesta tampaknya menginginkan lain.

Dalam beberapa kesempatan, saya alami hal seperti “diingatkan” Semesta bahwa, ini bukan tentang “diri saya harus menjaga citra dalam pandangan orang-orang.” Saya diingatkan bahwa, hinaan dan caci-maki adalah hal yang lumrah diterima dalam proses penyampaian pesan. Intinya, saya harus merubah cara pandang, dari “melihat diri” menjadi “melihat peran.”

Begitu pula mengenai gaya bahasa. Bentuk kalimat yang sifatnya masih menuntut orang untuk menafsir maknanya, adalah hal yang semestinya saya hindari agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. 

Beberapa waktu lalu, peringatan mengenai hal ini saya dapatkan. Yaitu ketika tengah beristirahat di sebuah warung kopi setelah selesai sesi lari pagi.

Dari meja tempat saya duduk, terdengar jelas obrolan dua orang anak mahasiswa yang juga sedang ngopi pagi.

Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Nabi berkata: “yakhruj rajul min wara’ an-nahr yuqal lah al harith ibn haraath , ealaa muqadimatih rajul yuqal lah mansur” – artinya: Seorang pria akan muncul dari wara’ an-nahr (tempat di belakang sungai), (ia) disebut Al-Harits bin Harath (petani putra seorang petani), di depannya adalah seorang pria bernama Mansur.

Pemaknaan frase wara an-nahr sebagai “tempat di belakang sungai” dapat dilihat misalnya dalam buku The Abbasid Caliphate. Lihat capturenya di bawah ini….

Ma wara an-nahr yang dimaknai sebagai “tanah atau tempat di belakang sungai”. Dicapture dari buku The Abbasid Caliphate halaman 37. (dokpri)

Literatur yang selama ini berkembang mengidentifikasi Wara an-Nahr merujuk pada suatu wilayah di Asia Tengah yang disebut Transoxiana di masa kuno, yang pada hari ini mengacu pada wilayah  antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya, yang meliputi Uzbekistan dan Tajikistan, berbatasan dengan Afghanistan.

Letak sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya (dokpri)

Sejarah penamaannya berawal dari setelah masuknya Islam ke wilayah ini. Literatur sejarah ada menyebutkan bahwa setelah wilayah ini direbut oleh umat Islam, wilayah ini lalu disebut Mawara’ al-Nahr. 

Kuat dugaan saya bahwa pemberian sebutan tersebut ada keterkaitan dengan bunyi hadist tentang Al Mahdi lainnya, yang menyebut bahwa ia (dan pasukan panji hitam) akan akan muncul dari Khorasan. 

Secara lebih luas, wilayah Uzbekistan dan negera-negara di sekitarnya disebut Khorasan di masa lalu. Kata ‘Khorasan’ sendiri artinya: “tempat matahari terbit” atau, bisa juga disebut “timur”.

Jadi, meminjam istilah Psychohistory dari Isaac Asimov untuk diterapkan dalam membaca “geliat sejarah” dalam kasus ini, saya ingin katakan bahwa; nampaknya ada prilaku atau upaya dari umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad – yang berusaha menginterpretasi hadist tentang Al Mahdi – dan lebih jauh berusaha “mengarahkan” penulisan sejarah – berdasar asumsi bahwa wilayah Khorasan yang dimaksud dalam hadist  nabi mengacu pada wilayah di Asia Tengah. Akibatnya, pembahasan tema eskatologi dalam tradisi Islam pada hari ini umumnya lebih berkiblat di seputar asumsi tersebut.

Reinterpretasi

Ungkapan “Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” bukanlah kalimat optimistik semata yang tidak memiliki jejak hikmah di baliknya. Kenyataannya, Jalan menuju kebenaran itu sarat dengan hikmah karena padanya ada intervensi Ilahiah yang bersuara dalam kesunyian waktu. Hanya para pencari yang dikehendaki-Nya saja yang dapat mendengar dan mengerti makna suara tersebut.

Penggenapan dalam Mekanisme Kosmis untuk Kemunculan Al Mahdi

Mekanisme kosmis yang menggerakkan skenario semesta dalam banyak hal analoginya dapat kita lihat mirip dengan suatu permainan (game) yang menuntut jumlah skor kredit tertentu – agar permainan dapat lanjut ke level berikutnya.

Ini yang biasa kita dengar dalam pembahasan tema eskatologis yang mengatakan bahwa ketika semua hal telah “DIGENAPI” maka suatu takdir yang telah Dia Janjikan akan segera terwujud.

Hari ini, telah sangat banyak orang di bumi ini yang berharap agar Al Mahdi Sang Penyelamat akhir zaman segera muncul. Tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya mereka berperan penting dalam cepat atau lambatnya kemunculan Al Muntazar (Yang Dinantikan).

Ketika dalam suatu Hadistnya Muhammad mengatakan bahwa Al Mahdi akan memerintah di bumi dalam 11, 9, 7 atau 3 tahunan maka, ini sebenarnya adalah interval waktu yang terkait erat dengan cepat atau lambatnya kemunculan Al Mahdi.

Semakin cepat ia muncul maka semakin lama ia dapat memerintah dan menemani umat manusia di dunia.

Bahkan, dalam suatu riwayat yang lain Muhammad ada mengatakan bahwa, jika seandainya waktu di dunia tinggal 1 hari, maka Allah akan panjangkan hari itu dan memunculkan Al Mahdi.

Oleh sebagian ulama, riwayat ini  dianggap sebagai jaminan bahwa bagaimanapun Al Mahdi pasti akan dimunculkan.

Tapi di sisi lain, riwayat ini juga tampaknya memberi isyarat bahwa ada kemungkinan Al Mahdi akan muncul sedemikian terlambatnya. Sehingga hanya tersisa 1 hari saja.

Lalu bagaimana cara kita mengatasi hal ini?

Sebagaimana petunjuk yang barusan Allah berikan (ketika saya sedang menyusun tulisan ini), satu-satunya jalan adalah terus mengulang-ulang “peringatan” tentang kemunculan al Mahdi ini. Agar semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang selalu ingat, dan semakin banyak orang yang berdoa untuk itu.

Panji Hitam Sebagai Metafora dan Penanda Kemunculan al Mahdi

Dalam apokaliptik Islam, “panji hitam” sebagai penanda kemunculan Al Mahdi adalah salah satu tema yang sangat sering dibicarakan.

Meskipun ramai dibicarakan, sebagian besar (kalau tidak semuanya) hadist yang meriwayatkan hal ini dianggap sebagai hadist dhoif atau diragukan kesahihannya.

Seringnya istilah ini digunakan oleh kelompok tertentu untuk mencapai tujuan politiknya, nampaknya adalah salah satu hal yang membuat hadist tentang panji hitam menjadi begitu kontroversi.

Salah satu hadist yang terkenal terkait panji hitam, yang diriwayatkan Ibni Abi Syaibah dan Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan dan Ibnu Majah dan Abu Nu’aim dari Ibnu Mas’ud, berbunyi:

Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak-anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Melihat mereka, maka kedua mata Rasulullah berlinang air mata dan wajahnya berubah. Akupun bertanya: “Mengapakah kami melihat pada wajahmu, sesuatu yang kami tidak sukai?”.

Beliau menjawab: “Kami Ahlul bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia, kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak, sampai datangnya suatu kaum dari sebelah Timur yang membawa bersama mereka panji-panji berwarna hitam.

Mereka kaum yang meminta kebaikan, tetapi tidak diberikan. Maka mereka berjuang dan memperoleh kemenangan. Lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu, tetapi mereka tidak menerimanya, hingga mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kedurjanaan.

Siapa pun di antara kamu yang sempat menemuinya (mencapai masanya), datangi dan beri dia kesetiaanmu walau pun engkau harus merangkak di atas salju. Sesungguhnya dialah Al Mahdi.”

Di masa sekarang, beberapa kalangan menganggap panji hitam yang datang dari timur yang dibawa pasukan Al Mahdi, mengadopsi Ar-Rayah, yaitu panji perang pada zaman Nabi Muhammad yang berwarna dasar hitam.

Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa bendera kebesaran Islam pada zaman Nabi Muhammad disebut Al-Liwa yaitu sebuah bendera berukuran besar berwarna putih.

Rahasia Angka Misterius “8291” Dalam Wangsit Jayabaya

Pada bait 159 wangsit Jayabaya terdapat bunyi kalimat sebagai berikut: selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun / sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu bakal ana dewa ngejawantah / apengawak manungsa / apasurya padha bethara Kresna / awatak Baladewa / agegaman trisula wedha / jinejer wolak-waliking zaman / wong nyilih mbalekake / wong utang mbayar / utang nyawa bayar nyawa / utang wirang nyaur wirang 

Artinya: selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun / (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) / akan ada dewa tampil / berbadan manusia / berparas seperti Batara Kresna / berwatak seperti Baladewa / bersenjata trisula wedha / tanda datangnya perubahan zaman / orang pinjam mengembalikan / orang berhutang membayar / hutang nyawa bayar nyawa / hutang malu dibayar malu)

Secara harfiah, bunyi kalimat awal dalam bait 159 “selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia“, dapat dimaknai sebagai suatu pernyataan yang mengisyaratkan tentang waktu kemunculan sosok manusia pilihan yang diilustrasikan secara simbolis oleh Prabu Jayabaya dalam bentuk kalimat “Dewa berbadan manusia”.

Isyarat waktu tersebut Ia nyatakan dalam sengkalan yang berbunyi: “….dewa wolu, ngasta manggalaning ratu” – yang selama ini oleh kalangan spiritualis dan budayawan Jawa umumnya ditafsirkan sebagai berikut: dewa wolu (8), ngasta (2), manggalaning (9), ratu (1) – yang berarti 8291.

Dengan demikian, bentuk kalimat yang lebih mudah dipahami untuk bagian awal bait 159 adalah sebagai berikut: selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (8291), akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa (…) – Dari bentuk ini dapat terlihat jika angka “8291” diisyaratkan merujuk pada suatu momen menjelang tutup tahun.

Atas hal ini, beberapa kalangan pemerhati wangsit Jayabaya memilih menafsir angka 8291 sebagai penulisan angka terbalik untuk tahun 1928 karena dianggap suatu hal yang mustahil jika angka 8291 mengacu pada angka tahun 8291. Tetapi, karena tahun 1928 telah berlalu, maka, bentuk interpretasi berikutnya muncul, yaitu, menjumlahkan deretan angka tersebut, yang hasilnya: 20 (1+9+2+8). Jumlah 20 ini kemudian dianggap mengacu pada tahun 2020.

Tapi, tahun 2020 juga telah berlalu, sementara “dewa berbadan manusia” yang disebutkan Prabu Jayabaya dalam wangsitnya belum juga tampil. Karena itu, dengan sendirinya angka misterius 8291 masih menuntut suatu interpretasi lain.

Saya pribadi melihat ada kemungkinan jika angka 8291 mesti dilihat sebagai deretan angka yang secara spesifik menyatakan tanggal tertentu, yaitu: 9 / 8 / 21 ( 9 Agustus 2021).

Pesan Prabu Siliwangi Tentang Budak Angon (Al Mahdi)

Prabu Siliwangi berpesan “suatu saat nanti akan datang “Budak Angon” (budak= anak; angon=gembala). Yang ia gembalakan ranting dan daun kering (analogi pena dan kertas). Ia terus lakukan kegemarannya, menjelajah dan mengumpul apa yang ia temui, yakni sejarah umat manusia zaman ke zaman.

Menariknya, wangsit Prabu Siliwangi ini nampaknya sejalan dengan agenda Allah di akhir zaman, yaitu membuka secara terang benderang perjalanan sejarah umat manusia, dari yang awal hingga paling akhir, layaknya sebuah film menjelang akhir yang membuka plot cerita sejelas-jelasnya. (Hal telah saya bahas khusus dalam tulisan ini: Apokalips, Penyingkapan Hal-hal yang Selama Ini Tersembunyi dari Umat Manusia)

Ada kemungkinan, Budak Angon yang disebut Prabu Siliwangi adalah “hamba Allah” yang berperan sebagai pengungkap secara terang benderang riwayat sejarah umat manusia.

Hal menarik lainnya, Ratu Adil yang ada disebutkan dalam wangsit Prabu Jayabaya, ternyata disebutkan pula oleh prabu Siliwangi, bahkan, nampaknya banyak kalangan menganggap bahwa sosok Budak Angon adalah sama dengan Ratu Adil.

Saya pribadi cenderung sepakat dengan pendapat tersebut. Terutama karena nama “Budak Angon” ataupun “Ratu Adil” lebih merupakan sebutan peran. Jadi, ada saat di mana sosok misterius itu menjalani peran sebagai “anak gembala”, di saat lain menjalani peran sebagai “Raja yang Adil”.

Pemahaman ini dapat dilihat sejalan dengan sebutan Satria Piningit, yang dapat dimaknai satria yang ditahan kemunculannya hingga tiba pada waktu yang ditentukan. Pemahaman nama satria piningat ini kelihatan berkorelasi pula dengan sosok maitreya dalam tradisi Buddhist.

Seperti halnya satria piningit, sosok maitreya dalam tradisi Buddhist juga biasanya digambarkan dalam visual bentuk patung dengan pose duduk mengongkang kaki, menyiratkan tengah menunggu waktu untuk kemunculannya.

Jika kita bergeser ke sosok eskatologi dalam tradisi Islam, di sana ada nama al Mahdi, nama ini pun pada dasarnya sebutan gelar. Mahdi artinya “orang yang mendapat petunjuk”.

Satria Piningit, Budak Angon, Ratu Adil, Maitreya, hingga Al Mahdi, pada umumnya dipercaya dalam masing-masing tradisi, sebagai seorang sosok anak muda. Ini bisa menguatkan asumsi jika kesemua nama itu merujuk pada satu orang yang sama.

Mengenai siapa sesungguhnya sosok anak muda misterius ini, adalah hal yang tidak akan diungkap, sebelum tiba pada waktu yang ditentukan. Orang yang tahu esensi, seperti Prabu Siliwangi ataupun Prabu Jayabaya, tidak akan mengungkap walaupun sangat mungkin bahwa mereka tahu.

Mengapa Allah memilih al Mahdi, sosok keras hati dan temperamental seperti baladewa sebagai pemimpin umat di akhir zaman?

Salah satu penyebab utama nabi Musa dan kaumnya terpaksa terlunta-lunta di padang pasir selama 40 tahun, adalah karena dalam kaumnya banyak terdapat orang yang suka mengeluh dan menghasut.

Dalam Al Quran surat Al Ma’idah ayat 22-24 Allah mengisahkan hal ini.

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.” (Al Ma’idah ayat 22)

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (Al Ma’idah ayat 23)

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Al Ma’idah ayat 24)

Demikianlah, atas pembangkangan ini, Musa berserah diri kepada Allah, sebagaimana terekam dalam surat Al Ma’idah ayat 25: Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Atas permohonan Musa tersebut, (Allah) berfirman, “(Jika demikian), maka (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Ma’idah ayat 26)

Doa yang dipanjatkan Musa tatkala tak berdaya lagi menghadapi kaumnya,  senada dengan doa para Rasul lainnya. Seperti yang dilakukan Syu’aib (QS al-A‘rāf/7:89), Sāliḥ (QS al-Mu’minūn 23/29) atau Nabi Muhammad SAW(QS al-Anbiyā’/21:112).

Seperti halnya masalah yang dihadapai nabi-nabi lainnya, Nabi Musa pun dihadapkan pada umat yang suka mengeluh. Ini dikarenakan sudah menjadi kodrat manusia demikian, sebagaimana yang diungkap Allah dalam Al Quran Al Ma’arij ayat 19: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.”

Mereka ini bukan saja melemahkan dirinya secara psikis, tapi juga mempengaruhi orang-orang disekitarnya, karena ketika mengeluh mereka mengutarakannya secara terbuka di depan publik, atau dengan kata lain (disadari atau tidak disadari) tindakan mereka sesungguhnya adalah suatu bentuk tindakan menghasut.

Mencermati Bait Bagian Akhir Wangsit Jayabaya, dan Relevansinya Dengan Situasi Masa Sekarang (bag. 3)

Ramalan Jayabaya atau sering juga disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan yang populer dan dilestarikan secara turun temurun dalam tradisi Jawa.

Sesuai namanya, ramalan ini dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kediri.  Asal usul utama serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. 

Ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa ramalan ini sebenarnya disusun para resi di masa itu, hanya saja mereka mengatasnamakan Jayabaya sebagai penulisnya.

Dalam pandangan saya, isi Jangka Jayabaya merupakan sebuah “peringatan dini” tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Jadi ia mengemban misi penting seperti halnya dengan naskah-naskah bergenre apokaliptik lainnya.

Beberapa isinya pun telah banyak terbukti benar. Salah satu isi ramalan yang menarik perhatian saya adalah yang mengisyaratkan menyebut negara Rusia. Berikut ini bunyi kalimatnya:

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit Lan duwe prajurit, negarane ambane saprawolon = Lalu datang Raja berpengaruh dan punya prajurit, (yang) lebar negerinya seperdelapan dunia.

Di muka bumi ini, hanya Rusia saja negara yang memiliki luas wilayah yang persis seperdelapan luas daratan bumi. Hal ini menjadikan mereka sebagai negara dengan luas wilayah terluas di dunia.

lihat info selengkapnya di wikipedia ini

Dalam ramalan tersebut dikatakan bahwa Presiden Rusia datang berkunjung. Pertengahan tahun 2020 barusan sebenarnya ada agenda kunjungan Presiden Putin ke Indonesia, hanya saja “katanya” karena situasi politik yang berkembang di Rusia, kunjungan tersebut di tunda untuk waktu yang tidak ditentukan.

Jika mencermati urutan ramalan, posisi kalimat tentang kunjungan presiden Rusia memang berada di antara kalimat-kalimat ramalan yang cukup relevan dengan situasi tanah air terkini.

Silakan pembaca cermati urutan kalimat ramalan di bawah ini yang saya sadur dari wikipedia. Ramalan tentang kedatangan presiden Rusia berada pada ayat 135-138.

%d bloggers like this: