“Piring”, Makna dan Riwayatnya yang Terlupakan

“Piring” adalah salah satu kata benda yang paling akrab dengan ingatan manusia. Hal itu dikarenakan fungsinya sebagai perkakas kegiatan rutin dan paling vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu: makan.

Begitu akrabnya “piring” dengan ingatan atau alam pikiran manusia, sehingga dalam situasi tertentu, ia bahkan dapat memicu dampak emosional. Seseorang dapat marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, bahkan termotivasi, ketika teringat dengan kata piring.

Benarkah? Mengapa demikian?

Ya, anda mungkin akan menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan dan mengada-ada… tapi tentu saja tidak.

Saya yakin, anda akan melihat kebenaran pernyataan itu manakala melakukan pengamatan lebih mendalam.

Misalnya, Dalam alam pikiran seorang bapak, ingatan tentang “piring” dapat memotivasinya bekerja lebih giat, karena hal itu mengingatkannya pada tanggung jawab memberi makan anak istrinya di rumah. Segala macam perasaan akan berkecamuk mengiringinya dalam upaya tersebut – baik ketika gagal, maupun ketika berhasil.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa “piring” adalah perkakas untuk sebuah kegiatan yang paling mempengaruhi arah dan sudut pandang berpikir manusia terhadap kehidupan.  

Di Nusantara, bukti bahwa kata “piring” mempengaruhi alam pikiran kita, dapat ditemukan dalam beberapa bunyi peribahasa yang menggunakan kata piring atau pinggan.

Misalnya: “pinggan tak retak nasi tak dingin” (artinya: cermat dalam melakukan suatu pekerjaan) ; atau “di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal” (di mana orang meninggal di situ dikuburkan).

Dalam cerita fiksi (budaya populer) terutama di tahun 80-90an, kita pernah akrab dengan sebutan “piring terbang” sebagai wahana makhluk luar angkasa yang datang menginvasi bumi. 

Namun, dalam kehidupan urban hari ini, kita juga mengenal istilah “piring terbang” tapi yang ini tidak merujuk pada wahana makhluk luar angkasa. Istilah ini biasanya menjadi kalimat keluhan atau ejekan tentang situasi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga.

Misalnya seorang temanmu berkata: “wahh barusan di rumah ada piring terbang!” – kalau kamu tidak mau ceritanya kepanjangan, abaikan saja temanmu itu, soalnya ada kemungkinan dia mau curhat, habis marahan dengan istrinya.

Atau kalau mau mengejek temanmu yang lagi murung, kamu bisa bertanya: “kayaknya habis lihat piring terbang lagi nih!”

Belajar pada Latar Belakang Film “The Professor and The Madman”

Ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang tidak jelas asal usul atau etimologinya. Ironis memang, karena di sisi lain, bahasa Indonesia terus diperkaya dengan kata-kata serapan baru, bahkan ada beberapa tokoh bahasa di Indonesia (katakanlah demikian), yang terlihat gencar berupaya memunculkan kembali kata-kata kuno.

Mengenai upaya memunculkan kembali kata-kata kuno dan merangsang generasi muda untuk menggunakannya, saya pikir tidak ada salahnya, tetapi, penting untuk dipertimbangkan agar memperjelas dari mana kata-kata kuno itu ditemukan. Dari prasastikah? dari naskah buku kunokah? atau setidaknya berikan sedikit informasi – masyarakat di wilayah mana di Indonesia yang di masa lalu menggunakan kata-kata tersebut dan, dikisaran tahun berapa.

Tidak ada salahnya kita belajar pada cerita yang disajikan dalam film “The Professor and the Madman” yang dibintangi aktor kawakan Mel Gibson dan Sean Penn. Lagi pula, film ini memang berdasarkan kisah nyata. Tentang profesor James Murray , yang pada tahun 1879 mulai menyusun Oxford English Dictionary.

Hal yang layak kita jadikan inspirasi dari film ini adalah, penggambaran ketekunan dan kegigihan orang-orang yang berkontribusi dalam proyek penyusunan kamus bahasa tersebut. Mereka tidak tanggung-tanggung, membaca ratusan mungkin ribuan buku untuk mengumpulkan kata-kata yang penting untuk didokumentasikan dalam kamus.

Untuk diketahui, The Oxford English Dictionary (OED) adalah kamus sejarah bahasa Inggris yang disusun dengan melacak perkembangan historis bahasa Inggris. Tujuan dari proyek tersebut adalah menyediakan sumber daya yang komprehensif untuk para sarjana dan peneliti akademis, serta menggambarkan bagaimana penggunaan bahasa Inggris dalam banyak variasinya di seluruh dunia.

Sebagai kamus sejarah, Oxford English Dictionary menjelaskan kata-kata dengan menunjukkan perkembangannya. Oleh karena itu, kamus ini menunjukkan definisi dalam urutan – bermula dari arti kata terawal (sejak kata mulai digunakan), termasuk makna kata yang tidak lagi digunakan. 

Alhasil, ini memungkinkan pembaca untuk dapat memperkirakan periode waktu di mana kata tertentu telah mulai digunakan, dan kutipan tambahan membantu pembaca untuk mendapatkan informasi dan gambaran tentang bagaimana kata tersebut digunakan dalam konteks_, terlepas dari penjelasan apa pun yang dapat disediakan oleh editor kamus.

Saya pikir, tindakan totalitas seperti tujuan proyek penyusunan OED inilah yang tidak kita miliki di Indonesia. Inilah yang saya sempat bahas dalam tulisan sebelumnya Ini Alasan “Kayu Jati” Mendasari Kata “Sejati” dan “Jati Diri”.

Ini Alasan “Kayu Jati” Mendasari Kata “Sejati” dan “Jati Diri”

‘Sejati’ dan ‘jati diri’ adalah kata yang sangat umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Mungkin saking umumnya, ahli bahasa Indonesia tidak tertarik untuk menggali makna etomologinya.

Karena dalam upaya saya mencari tahu informasi mengenai hal ini di google, kebanyakan yang muncul adalah tulisan tentang definisi ‘sejati’ dan ‘jati diri’ dalam tinjauan aspek ilmu sosial maupun filsafat.

Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online pun memberikan jawaban serupa. ‘jati diri’: keadaan atau ciri khusus seseorang; identitas; sementara untuk kata ‘sejati‘: /se*ja*ti /lihat 1jati.

Sampai di sini, saya berpikir… mungkin penyebab rendahnya kualitas pendidikan Indonesia tidak semata-mata dilimpahkan kepada guru atau tenaga pengajar, tetapi juga karena kurangnya mendalamnya materi pelajaran yang diberikan… mungkin loh yaaa.. 🙂

Tapi kalau kita mau jujur, kenyataannya memang, di Indonesia ini masih sangat kurang orang-orang yang mau menulis sesuatu topik atau objek secara mendalam, hingga tiba pada titik dimana tidak ada lagi pertanyaan yang timbul setelah itu.

Kembali pada pembahasan sebelumnya….

Saya menjadi agak miris ketika pencarian saya tentang pembahasan makna etimologi ‘jati diri‘ malah mendapatkan jawabannya dalam buku asing (walaupun tetap tidak memuaskan). Ditulis oleh De-nin D. Lee, seorang sejarawan seni dan berspesialisasi dalam sejarah seni di Tiongkok. Judul bukunya Eco–Art History in East and Southeast Asia. 

Dalam buku tersebut De-nin D. Lee sedikit mengulas etimologi ‘jati diri’ sebagai berikut:

...kata “teak” kemungkinan besar berasal dari Asia Selatan (Dravida). Dalam bahasa Melayu / Indonesia kayu itu disebut “Jati”. “Jati diri” dan “sejati” adalah kata-kata yang umum. Diri berarti “self”; jati-diri sering diartikan sebagai “identitas,” “kepribadian,” atau, paling tepatnya, esensi diri; dan sejati diartikan sebagai “pure” (murni), “true” (benar), “authentic” (autentik), “original” (orisinal), “genuine” (asli).

Pertanyaan mendasar saya “kenapa jenis kayu jati yang dijadikan ungkapan untuk sebutan ‘sejati’ ataupun ‘jati diri’, mengapa bukan jenis kayu lain,” akhirnya mendapatkan pencerahan ketika mencermati sebutan ‘kayu jati’ dalam bahasa asing.

Kata ‘Teak’ (jati) dalam bahasa Inggris ternyata berasal dari bahasa Tamil ‘tekku’, bahasa Telugu ‘teku’, bahasa Malayalam ‘thekku’, bahasa Sinhala ‘thekka’, bahasa Kannada ‘tega’.

Saya pikir, nampaknya kata ‘teguh’ dalam bahasa Indonesia berasal dari sebutan jati dalam bahasa Tamil ‘tekku’ ataupun bahasa Telugu ‘teku’.

Sifat kayu jati yang tahan air, dan terutama sulit mengalami pelapukan dikarenakan memiliki daya tahan yang tinggi, nampaknya yang menjadi dasar inspirasi orang-orang di masa lalu untuk menggunakan ‘jati’ sebagai ungkapan untuk sifat dan karakter dasar manusia yang memang sulit berubah.

Bentuk kata asing untuk jati; “tekku ataupun teku”, kemudian diserap ke dalam bahasa melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) menjadi kata ‘teguh’ – merupakan kata sifat yang bisa dikatakan dalam bahasa Indonesia, secara khusus digunakan untuk menggambarkan karakter atau sifat manusia.

Jadi, kalimat seperti… “teguh dalam pendirian” bentuk kalimat sastranya bisa menjadi “jati dalam pendirian”.

Dan mengenai penjelasan dalam KBBI online untuk kata ‘sejati’: /se*ja*ti /lihat 1jati – mungkin bisa dipertimbangkan bahwa imbuhan se- tidak dimaknai ‘1’, tapi ‘seperti’. Jadi se-jati = seperti jati.

Sekian. Semoga bermanfaat. Salam.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Api”?

(gambar: cnn.com)

Dalam Kamus Komparatif Bahasa Austronesia yang disusun oleh Robert Blust (profesor di Departemen Linguistik Universitas Hawaii, seorang ahli linguistik historis , leksikografi , etnologi, mengkhususkan diri dalam penelitian bahasa-bahasa Austronesia) disebutkan bahwa bentuk paling awal kata ‘api’ adalah: Sapuy (PAN: Proto Austronesia); dan Hapuy (PMP: Proto Melayu Polinesia).

Turunan dari PAN meliputi: Saisiyat = hapoy; Proto-Atayalic = hapu-niq, hapuy; Pazeh = hapwi, hapuy; Thao = apuy; Bunun = sapud; Hoanya = dzapu; Tsou = puzu; Kanakanabu = apulu; Siraya = apuy; Proto-Rukai = apoy; Puyuma (Tamalakaw) = apuy; Paiwan = sapuy.

Turunan dari PMP meliputi: Klata = opuy; Itbayaten = hapoy; Ilokano = apuy; Isneg = apuy; Itawis = afi; Malaweg = apuy; Casiguran Dumagat = apoy; Pangasinan = apoy; Sambal = apoy; Tagalog = apoy; Maguindanao = apuy; Tiruray = afey; Tboli = ofi; Kujau = tapuy; Minokok = tapuy; Murik = api; Kayan = apuy; Melanau (Mukah) = apuy; Melanau Dalat (Kampung Teh) = apuy; Bukat = apuy; Bekatan = apoy; Kejaman = apuy; Lahanan = apuy; Melanau (Matu) = apuy; Kanowit = apoy; Ngaju Dayak = apuy; Ma’anyan = apuy; Malagasy = afo; Dusun Witu = apuy; Iban = api; Maloh = api; Proto-Chamic = apuy; Malay = api; Acehnese = apuy; Karo Batak = api; Toba Batak = api; Mentawai= api; Lampung = apuy; Sundanese = apuy(archaic); Old Javanese = apuy, apwi; Javanese = api; Madurese = apoy; Balinese= api; Sasak = api; Proto-Minahasan = api; Totoli = (h)api; Petapa Taje = api; Balantak = apu; Bare’e = apu; Tae’ = api; Mori Atas = apui; Bungku = api; Koroni = api; Moronene = api; Proto-South Sulawesi = api; Mandar = api; Makassarese = api; Bonerate = api; Popalia = api; Bimanese = afi; Komodo = api; Manggarai = api; Ngadha = api; Keo = api; Riung = api; Proto-Ambon = apu(y); Laha = au; Hitu = au; Seit = au; Asilulu = au; Batu Merah = aow; Morella= aow; Amblau = afu; 

Dan masih banyak lagi, yang tak dapat disebut di sini satu per satu. Untuk selengkapnya pembaca dapat mengunjunginya di sini: www.trussel2.com

Dalam bahasa Sanskerta sendiri, selain kata ‘agni’ (yang umum dikenal bermakna ‘api’), ada kata ‘vRSAkapi’ yang juga artinya: api / matahari / kera. 

Lalu, ada juga dalam bahasa Sanskerta kata ‘kapila’ (nampaknya cukup ada keterkaitan dengan kata ‘vRSAkapi’) yang artinya: coklat / kuning kecoklatan / kemerahan / berambut merah / warna monyet. 

Terkhusus untuk pengertian ‘kapila’ yang terakhir (warna monyet), saya menduga, bisa jadi memang ada keterkaitan antara kata ‘api’ dengan kata ‘ape’ yang dalam bahasa Inggris berarti ‘kera’.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Tanah”?

Pada umumnya asal usul kata untuk menyebut ‘tanah’ dalam berbagai bahasa di dunia, bisa dikatakan tidak terlepas dari personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno. 

Hal ini nampaknya merujuk pada Personifikasi “langit dan bumi” sebagai gambaran maskulinitas dan feminitas bagi sosok Adam (langit) dan Hawa (bumi).

Dalam Personifikasinya sebagai Ibu Bumi, Hawa disebut dalam banyak bentuk ‘nama’. Nama-nama tersebut dapat kita temukan dalam cerita-cerita mitologi dari berbagai bangsa di dunia. 

Sebelum saya membahas mitologi yang terkait dengan personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno, terlebih dahulu saya ingin menunjukkan bentuk kata ‘tanah’ dalam berbagai negara di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Albanian = toke; Basque= lurra; Bosnian = zemlju; Catalan = terra; Danish = jorden; Dutch = land;Estonian = maa; Finnish = maa; French = terre; Galician = terra; German = Land; Icelandic = Land; Irish = talamh; Latvian = zeme; Macedonian = zemjata; Maltese = art; Norwegian = land; Portuguese = terra; Swedish =  landa; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Asia : Bengali = jami; Chinese = tu-di; Georgian = mits’is; Gujarati = Jamina; Hindi = bhoomi; Kazakh = jer; Khmer = dei; Korean = ttang; Lao = thidin; Malayalam nilam; Marathi = jameen; Myanmar = myayyar; Nepali = bhoomi; Tajik = zamin; Tamil = Nila; Telugu = Bhumi; Thai = Thidin; Turkish = arazi; Uzbek = er; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara: Arabic = ‘ard; Igbo = ala; Somali = dalka / dhulka; Swahili = ardhi; Yoruba = ile; Zulu = umhlaba / emhlabathini; Cebuano= yuta; Indonesian = tanah; Malagasy = tany; Malay = tanah; Maori = whenua; dan masih banyak lagi.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Air”?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan jika bentuk kuno (arkais) kata ‘air’ adalah ‘ayar’. Dalam buku Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara, Slamet Muljana mengungkap pendapat Ernest Hamy (1842-1908), seorang antropolog dan etnolog Prancis, yang mengatakan bahwa kata ‘ayar’ berasal dari bahasa Melayu Kontinental, sedangkan kata ‘air’ berasal dari bahasa Melayu.

Lebih lanjut menurut Hamy, Kata ‘ayar’ dalam Melayu Kontinental dan kata ‘air’ dalam bahasa Melayu tidak berasal dari peristiwa pinjam-meminjam, tetapi keduanya merupakan warisan dari bahasa purba yang disebutnya “Melayu Kontinental purba”. Namun ia tidak dapat mengatakan di mana bahasa Melayu Kontinental purba itu pernah diucapkan.

Sebutan Melayu Kontinental sendiri, bisa dikatakan merujuk pada wilayah daratan Asia Tenggara, mulai dari semenanjung Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos hingga Myanmar. 

Tapi, di Melayu Kontinental, menurut Hamy sebagaimana yang dikutip Slamet Muljana dalam bukunya, kata ‘ayar’ terbatas hanya digunakan suku Jarai  (etnis yang bermukim di Dataran Tinggi Tengah Vietnam ), Piak (etnis yang bermukim di wilayah Laos dan Thailand utara), Preh (Terkonsentrasi di bagian selatan provinsi Dak Lak dan Dak Nong, dan sebagian Lam Dong dan Provinsi Binh Phuoc di Vietnam), dan beberapa lagi suku lainnya.

Kata Ayar atau pun air ini memang unik, karena bentuknya sama sekali berbeda, tidak menunjukkan sedikitpun kesamaan fonetis dengan kata air dalam bahasa-bahasa lain di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Bosnian= voda; Catalan= aigua; Croatian = voda; Czech= voda; Danish = vand; Dutch = water; Estonian = vesi; Finnish = vesi; French = eau; Galician = auga; German = Wasser; Hungarian = viz; Icelandic = Vatn; Irish = uisce; Italian = acqua; Lithuanian = vanduo; Maltese = ilma; Norwegian = vann; Polish = woda; Portuguese = agua; Russian = vody; Serbian = voda; Slovak = voda; Slovenian = voda; Spanish = agua; Swedish = vatten; Ukrainian = voda; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Asia: Armenian = jur; Azerbaijani = su; Bengali = pani;  Chinese = shui; Georgian = ts’q’ali; Gujarati = pani; Hindi = paanee; Japanese = shui; Kazakh = ; Khmer = tuk; Korean = mul; Lao = noa; Mongolian= ; Malayalam = vellam; Myanmar = ray; Nepali = paanee; Sinhala = jalaya;  Tamil = nir; Telugu = Nii; Thai = Na; Turkish = Su; Uzbek = suv; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Timur tengah dan Afrika : Arabic = ma’an; Chichewa = madzi; Hausa= ruwa; Igbo = mmiri; Sesotho = metsi; Somali = biyaha; Swahili = maji; Yoruba= omi; Zulu = amanzi

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Angin”?

Angin adalah salah satu dari empat unsur mikro kosmos yang dipercaya banyak kalangan menyusun kesemestaan manusia. Tiga unsur lainnya adalah: air, tanah, dan api.

Mikrokosmos sendiri secara harfiah berarti ‘dunia kecil’. Terminologi ini secara khusus digunakan untuk membahasakan kesemestaan manusia yang tersusun dari empat unsur, dan dianggap merupakan miniatur atau contoh dalam ukuran kecil dari alam semesta.

Biasanya, penyebutan unsur ‘angin’ terkadang tertukar dengan kata ‘udara’. Dan untuk mengetahui kata manakah diantara keduanya yang tepat digunakan sebagai salah satu nama unsur mikrokosmos, menelusuri etimologi kata ‘angin’ dan ‘udara’ adalah satu-satunya jalan.

Asal usul kata angin dan udara

Kata ‘angin’ di dalam bahasa Indonesia dapat kita temukan kesamaannya dalam kata angin dalam bahasa Cebuano dan bahasa Filipina, yaitu: ‘hangin’.

Sementara itu, kata ‘angin’ dalam bahasa negara-negara lain menunjukkan perbedaan fonetis yang signifikan, karena itu, bisa dikatakan tidak memiliki keterkaitan sama sekali.

Berikut ini rincian kata ‘angin’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘angin’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Basque = haize; Bosnian = vjetar; Catalan = vent; Denmark = vind; Belanda = wind; Estonian = tuul; Finlandia = tuuli; Perancis = vent; Irlandia = gaoithe; Itali = vento; Slovenian = veter; Latin = ventus; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘angin’ dalam beberapa bahasa di Asia: Armenian = k’ami; Bengali = bayu; China = feng; Georgian = kari; Gujarati = Pavana; India = hava; Mongolian = salkhi; Myanmar = laytite; Sinhala = sulam; Tamil = karru; Uzbek = shamol; Malagasy = rivotra; Melayu = angin; Cebuano = hangin; Filipin = hangin; Maori = hau; dan masih banyak lagi.

Dari rincian di atas, dapat kita lihat jika kata ‘angin’ dalam bahasa Indonesia, memiliki kesamaan hanya pada bahasa Cebuano, Filipino, dan Melayu.

Namun, dari bentuk kata ‘hangin’ dalam bahasa Cebuano dan Filipina, kita dapat membangun dugaan bahwa ada kemungkinan jika kata ‘angin’ atau ‘hangin’ ada hubungannya dengan kata ‘hangian’ yang artinya “menggantung”.

‘Hangian’ adalah sebuah kata kuno dari Proto-Germanic, juga dari Inggris kuno ‘hangian’, Saxon kuno ‘hangon’, jerman kuno ‘hangen’, dan Norse kuno ‘hanga’.

Adanya kaitan kata ‘hang’ dengan ‘wind’ (Inggris: angin), dijelaskan dalam merriam-webster, bahwa ‘wind down’ (sebagai frasa kata kerja untuk ‘angin’) bertalian dengan ‘hang’, dan bahwa ‘wind down’ sinonim dengan frasa ‘hang loose’. (sumber di sini)

Dengan jejak dugaan asal usul kata ‘angin’ seperti ini, dapat diperkirakan jika kata ‘angin’ dalam bahasa Melayu, atau pun bahasa Indonesia, serta ‘hangin’ dalam bahasa Cebuano dan Filipina, tidaklah muncul di wilayah ini ketika masa kolonial berlangsung, tapi bisa jadi hadir jauh sebelum masa kolonial.

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno (Bagian 2)

Dalam tulisan “Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno” telah saya bahas mengenai kata “tukar” (dalam bahasa Indonesia) yang saya duga berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (Turki), merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Orang Tocharia sendiri, oleh sarjana moderen dianggap sebagai orang Indo-Eropa yang mendiami negeri-negeri Oasis di tepi utara cekungan Tarim (hari ini masuk dalam wilayah Xinjiang, Cina) pada masa kuno.

Selain kata “tuccar” yang terkait dengan kata “tukar” dalam bahasa Indonesia, di kawasan ini ada pula sebutan “suli“, yaitu sebutan orang Khotan bagi semua pedagang yang berinteraksi dengan mereka.

Informasi ini terdapat dalam buku Russell Fraser yang berjudul “Sojourner in Islamic Lands“. Dalam buku ini Russell Fraser mengungkap: “Orang-orang Khotan mengenal semua pedagang sebagai “suli”, [yaitu] sebutan [khusus] untuk orang Sogdiana, walau pun pada kenyataannya bisa jadi pedagang itu bukan orang Sogdiana.

Yang menarik karena dalam bahasa tae’ (bahasa daerah yang digunakan di Sulawesi selatan) terdapat kata “Suli” yang artinya: “mahal”. Tentunya makna dalam bahasa Tae’ ini ada keterkaitan dengan penyebutan “Suli”  bagi kelompok pedagang, bahwa mungkin mereka disebut demikian karena barang dagangan mereka yang mahal harganya.

Di sisi lain, seperti halnya kata “tukar“, kata “suli” ini pun pada dasarnya menunjukkan adanya jejak Nusantara di Asia Tengah pada masa kuno.

Dalam buku “Jalur Sutra: Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” yang pada halaman 71 hingga halaman 86, Frances Wood memang ada membahas bahwa Penyebaran perdagangan dan agama di wilayah Asia tengah pada zaman kuno dilakukan oleh orang-orang Tocharia dan Sogdia.

Jadi, dapat kita lihat bahwa dua bangsa yang mendominasi perdagangan di Asia tengah pada zaman kuno, pada kenyataannya, memiliki “hubungan” dengan kata dalam bahasa di Nusantara yang akrab digunakan dalam aktifitas perdagangan. Yakni kata “tukar” (bahasa Indonesia) terkait dengan bangsa Tocharia, dan kata “Suli” (bahasa Tae’ artinya “mahal”) yang terkait dengan bangsa Sogdia.

Terhadap hal ini, kita bisa saja membangun asumsi bahwa bangsa Tocharia dan bangsa Sogdia bisa jadi adalah dua bangsa dari Nusantara yang bermigrasi ke wilayah Asia tengah pada zaman kuno, dan karena menguasai kemampuan navigasi pelayaran, maka, sebagian dari mereka dapat pulang pergi ke Nusantara untuk mendapatkan barang dagangannya.

Terlebih lagi, barang-barang yang mereka perdagangkan memang merupakan produk khas dari wilayah Nusantara.

Ini sebagaimana yang diungkap Russell Fraser terkait produk yang diperdagangkan oleh orang Suli atau Sogdia: “mereka berdagang rempah-rempah, …jenis obat-obatan [herbal], pewarna buah-buahan eksotis, tanaman kuliner seperti jintan, kulit kayu manis, dan jahe dalam lima jenis yang berbeda.”

Asal Usul Kata “Bahtera” Menyimpan Gambaran Kapal Nuh yang Sesungguhnya

Etimologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul suatu kata, atau bisa juga dimaknai sebagai studi tentang sejarah suatu kata.

Umumnya dilakukan dengan menganalisis kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa yang kerabat atau dari periode historis dari satu bahasa, yang mana hal ini dikenal sebagai metode Linguistik Komparatif.

Dengan metode Linguistik Komparatif akar suatu kata dapat ditelusuri. Tak jarang hasilnya menunjukkan fakta bahwa suatu kata ternyata berasal dari gabungan dua kosakata. Ini diperlihatkan etimologi kata “bahtera”, yang selama ini agak khusus digunakan untuk menyebut bahtera Nuh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bahtera bermakna: perahu; kapal. Dalam berbagai literatur dunia, kata ‘bahtera’ atau ‘ark’ (dalam bahasa Inggris), bisa dikatakan “secara khusus” digunakan untuk menyebut bahtera Nabi Nuh.

Karena kata ‘bahtera’ dapat diduga merupakan kosakata dari bahasa bangsa maritim, maka salah satu hal penting untuk menjadi pertimbangan adalah pengamatan bahwa leksikon atau kosakata tersebut mestilah memiliki ciri khas bahasa bangsa maritime atau bangsa pelaut.

Lalu, seperti apa ciri khas kosakata bahasa bangsa Maritim?

Ciri khas kosakata bahasa bangsa maritim adalah senantiasa menunjukkan suku kata yang berakhiran vokal. Hal ini sebagaimana yang diungkap John Inglis, seorang misionaris asal Skotlandia yang melakukan perjalanan ke Vanuatu antara tahun 1850-1877, bahwa ciri bahasa melayu adalah setiap suku kata berakhir dengan vokal.

Dengan pertimbangan bahwa kata ‘bahtera’ berasal dari bahasa bangsa maritim, maka bentuk rekonstruksi kata bahtera mestinya menjadi: bahatera.

Dari bentuk ‘bahatera’ ini, dua suku kata di depan, yaitu ba-ha menunjukkan berasal dari kata ‘waka’, yang dalam bahasa Bugis kuno berarti ‘kapal’.

Hal ini dapat kita ketahui dengan menganalisa perubahan fonetis yang terjadi antara dan yang merupakan bagian dari kelompok fonetis artikulatoris (m, b, p, w), yang mana dalam banyak kasus seringkali menunjukkan perubahan fonetis di antara mereka. Misalnya: Banua, panua, dan wanua.

Demikian pula fonetis dalam banyak kasus, dapat kita temukan saling bertukar dengan fonetis dalam pelafalan, misalnya pada kata ‘hayal’ dengan kata ‘khayal’.

Ada pun kata ‘waka’ sebagai makna ‘perahu’ dalam bahasa Bugis kuno, dapat kita temukan dalam kamus bahasa Bugis – Belanda yang disusun oleh B. F. Matthes (1874) “Boegineesche – Hollandsch woordenboek …“. Dapat dilihat dalam capture berikut…

Capture buku ” Boegineesche – Hollandsch woordenboek: met Hollandsch – Boeginesche …, Volume 1 “. Hlm. 622

Dalam capture di atas dapat kita lihat kata wakka atau waka disebut Matthes sebagai sinonim untuk kata ‘lopi’ yang dalam bahasa Bugis juga berarti ‘perahu’. 

Matthes juga mengatakan jika kata ‘wakka’ dapat ditemukan dalam kitab La Galigo (La-Gal) dengan bentuk ‘wakka-tanette’ atau ‘wakka-tana‘, yang menurut Matthes bermakna kapal yang sangat besar – mengingatkan pada seluruh punggung gunung (tanette) dan ke suatu negeri (tana).