Pembacaan ‘Ho-ling’ Sebagai “Walaing” atau “walain” oleh LC Damais, Menjadi Kunci Penentuan Letak Ho-ling di Pulau Sulawesi

 L-C. Damais dengan pendekatan fonetis yang dapat dipertanggungjawabkan mengidentifikasi Ho-ling sebagai transkripsi dari bentuk “Walaing” atau “Walain” (L-C. Damais. La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java. Bulletin de l’Ecole francaise d’Extreme-Orient  Annee 1964  52-1  pp. 93-141 ). 

Walaing faktanya memang sering disebutkan sebagai nama tempat di dalam berbagai prasasti. Di dalam prasasti mana saja nama Walaing ditemukan dapat dilihat dalam karya Damais, “Repertoire Onomastique de I’Epigraphie Javanaise (jusqu’a Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmamotunggadewa)”, BEFEO, tome LXVI, 1970, s.v. walaing.

Dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java dari halaman 93 hingga 141 L-C. Damais secara panjang lebar mengurai bagaimana kata ho-ling mesti di baca “Walaing” atau “Walain“, yang sebenarnya, Dalam bahasa Indonesia hal ini mudah kita temukan padanannya.

Untuk huruf o pada kata ‘ho-ling’ kita ketahui ada banyak kata di dalam bahasa Indonesia (terutama pada bahasa Jawa) yang memperlihatkan bahwa huruf a sering kali dibaca o, dan sebaliknya.

Untuk huruf h pada kata ‘ho-ling’ padanan kasus fonetisnya, dapat kita lihat pada kata Tuhan dan tuan – yang oleh bapak Remy Sylado telah dijelaskan dalam artikelnya di harian Kompas, 11 Oktober 2002, bahwa kata Tuhan berasal dari kata Tuan.

Jika kita jeli mencermati, kita dapat melihat bahwa pada penyebutan kata ‘tuan‘, antara suku kata tu dan an ada fonetis w. Jadi secara fonetis tuan dapat ditulis menjadi tuwan.

Demikianlah, kasus fonetis tuwan menjadi tuhan yang menunjukkan perubahan fonetis w menjadi h, persis sama kasusnya dengan ho-ling menjadi waling atau walaing.

Berikut ini bentuk perubahan fonetis dan contoh yang diberikan L_C. Damais dalam artikel La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java

Dalam artikelnya, L_C. Damais menjadikan pembacaan tou-ho-lo-po-ti menjadi dwarawati sebagai contoh. Selanjutnya, ia juga menunjukkan beberapa perubahan fonetis yang mungkin terjadi pada pembacaan holing. (lihat makalah L_C. Damais di sini Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient)

Demikianlah, melanjutkan Hipotesis L-C. Damais, saya mengidentifikasi nama “Walaing” atau “Walain” yang dimaksud, merujuk pada wilayah Walenrang di Luwu, Sulawesi selatan. Berikut ini rincian dari kata walain-rang (walengrang)

walain atau “walaing” : sangat mungkin bentuk lain dari wara, atau warana, atau barana, yang dalam bahasa tae bermakna sebagai “pusat/ tempat yang suci/ tempat yang dikeramatkan”.

Bentuk wara atau warana yang terdapat dalam prasasti Plaosan Lor yakni “Waranadhirajaraja” dan Narawaranagara” kemudian memunculkan spekulasi liar para ahli dengan mengaitkannya dengan toponim na-fu-na dalam kronik Cina yang kemudian disebut ada keterkaitan dengan Fu-nan (Kamboja). 

Jika ditinjau menggunakan bahasa tae’ maka warana-dhiraja-raja bisa berarti “pusat atau tempat suci yang diagung-agungkan”.

Isanapura (Negeri Timur Laut), Sebutan Nusantara di Masa Kuno

Pada tulisan sebelumnya (Rahasia Kuno yang Terpendam di Gunung Latimojong) telah saya jabarkan hipotesis bahwa di masa kuno, selain disebut sebagai “negeri sabah” atau “negeri pagi”, wilayah Nusantara juga disimbolisasikan dengan sebutan “negeri timur laut”.

Bagi yang belum membaca tulisan sebelumnya, saya sangat menyarankan agar terlebih dahulu membaca tulisan tersebut, sehingga dapat dengan mudah mengikuti pembahasan dalam tulisan ini.

Baik, mari kita mulai…

Dalam teks Cina kuno, Sui shu (kitab sejarah dinasti Sui), yang disusun oleh Wei Zheng (580-643 M) terdapat informasi bahwa negara Zhenla atau Chen-la pada sekitar awal abad ke-7 diperintah oleh Zhiduosina dan Yishinaxiandai, yang ibukotanya disebut “Isanapura.”

Nama Isanapura oleh para sejarawan dianggap berasal dari bahasa Sanskerta “Isana” yang berarti “timur laut”. Anggapan ini sangat mungkin berasal dari pemahaman konsep Dikpala (penjaga arah) yang terdapat dalam tradisi Hindu.

Asta-Dikpala atau “Penjaga dari delapan arah”, terdiri dari: Kubera (penjaga arah utara), Vayu (penjaga arah barat laut), Varuna (penjaga arah barat), Nirrti (penjaga arah barat daya), Yama (penjaga arah selatan), Agni (penjaga arah Tenggara), Indra (penjaga arah timur), Isana (penjaga arah timur laut).

Dalam Kitab Suci Hindu nama Ishana diberikan kepada Siwa. Ishana menandakan bentuk halus halus Siwa yang mewakili pengetahuan transendental. Vastu shastra yaitu sistem arsitektur tradisional Hindu (secara harfiah berarti “ilmu arsitektur”) menekankan bahwa Ishana-disha (arah timur laut) mewakili Kesejahteraan dan Pengetahuan. Dalam tradisi Hindu, utara melambangkan kekayaan dan kebahagiaan sedangkan timur melambangkan pengetahuan dan kedamaian; Ishana adalah kombinasi dari keduanya.

Mengenai letak Isanapura sebagai ibukota Zhen-la, sejarawan dunia pada umumnya menempatkannya di Wilayah Kamboja hari ini.

Namun klaim penempatan Chen-la di wilayah kamboja telah saya beri sanggahan pada tulisan saya yang berjudul: Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi. Sesuai judulnya, tulisan tersebut berisi hipotesis saya yang mengidentifikasi letak Ho-ling di Pulau Sulawesi.

Klaim para sejarawan yang menempatkan Zhen-la di wilayah Kamboja hari ini, sebenarnya mudah dilihat sebagai sebuah bentuk klaim yang dipaksakan.

Transkripsi Toponim yang disebut dalam berita cina terlihat begitu mudah dikait-kaitkan dengan toponim tertentu di Kamboja saat ini, yang pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki keidentikan jika ditinjau menurut struktur fonetisnya.

Berikut ini beberapa informasi dari catatan cina kuno mengenai Zhen-la yang menguatkan indikasi jika Zhen-la yang dimaksud dalam kronik Cina letak sesungguhnya adalah di pulau Sulawesi.

Migrasi di Masa Kuno, dari Nusantara ke Dunia Barat

Hilang dalam kabut waktu, namun terekam dalam bahasa. Begitulah kira-kira nasib fakta tersebut. Walau demikian, dengan metode penelusuran etimologi suatu toponim, kita dapat mengekstraksi banyak hal terkait riwayat dari masa lalu.

Hal Ini setidaknya dibuktikan oleh hasil penelusuran saya terhadap etimologi nama Luwu dan Bugis. Saya menemukan bahwa dalam bahasa Philipina, kata look (bunyi penyebutan luwu’ atau luwuk) artinya “teluk”, sementara dalam bahasa Uzbek, kata Bo’gi’z (bunyi penyebutan bugis) juga artinya ” teluk”. 

Dari hal ini kita dapat melihat bahwa nama “Luwu” dan “Bugis” besar kemungkinannya berarti “teluk” – kita dapat berasumsi bahwa kemungkinan pada masa kuno, orang-orang di sekitar teluk bone menyebut diri mereka orang teluk.

Etimologi Luwu yang berarti “teluk”, di sisi lain, terkonfirmasi  dengan keberadaan terminologi “deluge” dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.

“Deluge” adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang sangat kuno (Old English), yang kemunculannya di dalam Alkitab, umumnya terkait mengenai pembahasan banjir bah di zaman nabi Nuh – Bentuknya latinnya: “diluvium”, sementara bentuk Yunani kuno: (loeo).

Dapat kita lihat bahwa kaitan nama Luwu dan teluk, tersaji nyata dalam etimologi kata deluge; dimana bunyi penyebutan kata “teluk” identik dengan kata “deluge” (Old English), sementara bunyi penyebutan kata “luwu” identik dengan kata “loeo” (Yunani kuno) – masing-masing pasangan tersebut memiliki susunan fonetik yang identik.- 

Pada kata teluk dan deluge, fonetis dan pada suku kata te- dan de- dalam banyak kasus umum kita temukan saling bertukar, misal: the dan de, lalu akhiran -luk pada “teluk“, dan -luge pada “deluge” pun juga memiliki bunyi penyebutan yang sama. 

Sementara itu, kata luwu dan loeo, jelas juga memiliki bunyi penyebutan yang sama.

Keberadaan termiologi “deluge” (Inggris kuno) atau dalam bentuk yunani kuno-nya “loeo” – yang menunjukkan kesamaan fonetis dengan kata “teluk” dan “luwu”, adalah jejak sejarah kuno manusia yang hilang dalam kabut waktu setelah berlalu dalam kurun waktu ribuan tahun.

Untuk lebih jelasnya, mohon mencermati gambar berikut ini…

Lahore “Negeri Tengah” Kedua, Setelah Negeri Madyan Terkena Azab

Lahore adalah kota kuno yang terletak di tepi sungai Ravi (sungai lintas batas antara India dan Pakistan). Dalam beberapa buku sejarah ia disebut juga dalam bentuk Lahur dan Lahavar.  (Muammad Baqir. Lahore, Past and Present: Being an Account of Lahore Compiled from Original Sources. 1984: 20)

Namun begitu, sampai saat ini, tidak ada bukti konklusif untuk menetapkan kapan tepatnya Lahore didirikan atau asal-usul yang tepat dari etimologi nama tersebut.  

Beberapa sumber mengatakan nama kota itu berasal dari kata “Loh” atau “Lava”, putra Rama dalam puisi epik Hindu kuno, Ramayana.

Sebuah legenda lainnya yang didasarkan pada tradisi lisan menyatakan bahwa Lahore dikenal di zaman kuno sebagai Lavapuri (Kota Lava dalam bahasa Sanskerta). (Braz A. Fernandes. Annual bibliography of Indian history and Indology, Volume 4. 1946: 257)

Ptolemy menyebutkan di dalam Geographia-nya sebuah kota bernama Labokla yang terletak di dekat Sungai Chenab dan Ravi yang mungkin mengacu pada Lahore kuno. (Charles Umpherston Aitchison. Lord Lawrence and the Reconstruction of India Under the British Rule. 1905: 54)

Dokumen otentik tertua tentang Lahore ditulis secara anonim pada tahun 982. Dokumen tersebut bernama  udud al-Alam, Artinya: “Batas Dunia” (udud al-Alam “The Regions of the World”. Translate and Explained by Vladimir Minorsky. 1930) – adalah sebuah buku geografi abad ke-10 yang ditulis dalam bahasa Persia oleh seorang penulis tak dikenal dari provinsi Guzgn, di tempat yang dikenal sebagai Jowzjan wilayah Afghanistan utara sekarang ini.

Buku itu didedikasikan untuk pangeran lokal dari keluarga Farigunid, Amir Abul-Harith Muhammad b. Ahmad. Judul lengkapnya adalah  “udud al-Alam min al-Mashriq ila l-Maghrib (Batas Dunia dari Timur ke Barat)[Ibid, hlm 30]. 

Dalam bahasa Inggris, judul buku ini juga diterjemahkan sebagai “The Regions of the World” setelah terjemahan Vladimir Minorsky tahun 1937, di mana pada catatan kaki Vladimir Minorsky mengomentari judul tersebut sebagai berikut:

…Kata udud (“batas” benar, atau “batas” tepat) yang dalam hal ini pembuktiannya mengarahkan kita pada ‘wilayah dengan batas-batas yang jelas’ di mana dunia dibagi dalam buku udud al-Alam. …seumpama saya menggunakan kata “wilayah” untuk naiyat, akan lebih baik mungkin, dengan menerjemahkan udud al-Alam sebagai “Batas Wilayah-wilayah di dunia. [Ibid, hlm vii]

Hal yang menarik perhatian saya terhadap buku udud al-Alam adalah judul aslinya, yakni “Batas dunia dari timur ke barat”, kalimat ini dapat dikatakan sesuai dengan perkiraan saya bahwa Negeri Tengah memang dipindahkan ke wilayah ini. 

Dalam tulisan sebelum, yang berjudul “Jejak yang Hilang dari Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab” telah saya bahas negeri tengah pertama (sebelum dipindahkan ke Lahore) berada di wilayah Bangladesh hari ini. Di sana ada toponim Madhyanagar Bazar, yang dalam bentuk Bengali adalah “Madhyanagara bajara” (Madya = tengah atau pertengahan, nagara = kota, bajara = pasar. Jadi Madhyanagar Bazar artinya: Pasar Negeri Tengah).

Pelras dan Serangan Brutalnya pada Kesejarahan Bugis dan Perahu Phinisi

Terdapat banyak literatur tentang orang Bugis yang ditulis oleh para peneliti dari Eropa setidaknya mulai dari abad ke-18 hingga ke-19, yang saya pikir cukup objektif mengurai profil orang Bugis sebagaimana adanya. 

Salah satu yang menarik adalah yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles dalam buku “The History of Java” Volume II (1817: Hlm. clxxxiii-clxxxiv) yang bercerita tentang pelaut dan pedagang dari Celebes. 

Dalam buku yang ia susun selama masa tugasnya di Nusantara tersebut, Raffles menggambarkan kekagumannya terhadap suku Bugis, bukan saja dalam hal pelayaran dan perniagaan, tapi juga dalam hal karakter yang menurutnya memiliki kesamaan dengan klan-klan dari Inggris utara.

Mengenai ‘orang-orang Waju’ yang disebut Raffles sebagai pelaut yang mendominasi perdagangan luar negeri, yang membentuk kru hampir semua perahu-perahu orang Bugis yang menavigasi Laut Timur, sepertinya, yang dimaksudkannya itu, tak lain adalah orang Bajou atau Bajoe (penyebutan Bugis). 

Terkait hal ini, James Cowles Prichard dalam Researches Into the Physical History of Mankind: History of the Oceanic and of the American Nations. Vol. V (1847: hlm. 90) menjelaskan sebagai berikut:

‘Biaju’ mungkin sama dengan ‘Baju’ atau ‘Badju’ dan ‘Waju’, istilah yang dipergunakan di pesisir Makassar di Sulawesi, dan juga untuk orang-orang tidak umum yang hidup di atas laut di prahu, dan yang resor utamanya adalah pantai timur Kalimantan dan pantai barat pulau Sulawesi. 

Orang-orang yang disebutkan terakhir ini biasanya disebut ‘Badju Laut’, atau ‘Badju dari laut’. Orang Waju dari Sulawesi adalah orang-orang yang lebih terpelajar daripada Biaju dari Kalimantan, dan peradaban mereka tampaknya sezaman dengan orang-orang Bugis Celebes, yang mana adalah tidak mungkin untuk membedakan mereka. 

Di Singhapore orang-orang Waju umumnya disebut Bugis. Marsden mengatakan bahwa mereka disebut Tuwaju. Saya tidak memiliki keraguan sedikit pun bahwa Biaju atau Baju Dayak, Badju atau Baju Laut, Waju atau Tuwaju, dan Bugis atau Ugi adalah satu dan orang yang sama, dengan hanya sedikit variasi dalam sopan santun yang merupakan hasil dari pemisahan dan hubungan dengan orang asing.

Dalam buku “Penjelajah Bahari” (2008: Hlm. 99) merupakan terjemahan dari judul asli: “The Phantom Voyagers“, Robert Dick mengungkap hal yang sama bahwa bahasa dan kebiasaan-kebiasaan orang Bajo, seperti halnya orang bugis yang merupakan “sepupu” mereka, mengalami perubahan secara konstan sebagai akibat dari hubungan mereka dengan bangsa-bangsa lain. 

Lebih lanjut Robert Dick mengatakan bahwa Kemauan mereka untuk mengambil dan menggunakan bahasa-bahasa dari penduduk yang mendiami pulau-pulau merupakan bagian penting yang harus dicatat. 

Hal tersebut bahkan berlaku hingga benda-benda yang penting bagi ke hidupan mereka, seperti istilah-istilah yang berhubungan dengan kapal, yang dianggap sebagian orang tidak akan mengalami perubahan. 

Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi

Upaya identifikasi letak kerajaan Ho-ling di Nusantara dengan merujuk kronik Cina kuno telah banyak dilakukan oleh para Ahli. Pembahasan mengenai hal ini oleh sejarawan modern bisa dikatakan telah berlangsung lebih dari seratus tahun.

Misalnya yang dibahas Junjiro Takakusu (1866-1945) dalam bukunya A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea, yang memuat terjemahan Nanhai Jigui Neifa Zhuan, yakni catatan perjalanan biksu yijing (I-Tsing) dari Dinasty Tang, yang merinci dua puluh lima tahun masa ia tinggal di India dan Nusantara antara tahun 671 – 695 M. Buku ini diterbitkan oleh Junjiro Takakusu pada tahun 1896.

Dalam rentang waktu pembahasan lebih dari seratus tahun tersebut, telah banyak pendapat yang muncul dari berbagai ahli terkait letak Ho-ling atau She-po yang dalam kronik Cina dinyatakan sebagai sebutan untuk suatu wilayah yang sama.

Berbagai perbedaan pendapat para ahli mengenai letak She-po atau Ho-ling telah saya urai dalam tulisan sebelumnya Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi, jadi dalam kesempatan ini saya hanya akan fokus pada hipotesis yang ingin saya sampaikan saja.

Dalam upaya penyusunan hipotesis ini tentu saja saya sangat memperhatikan pendapat yang diajukan oleh para ahli sebelumnya. Dengan demikian harapan seperti sebagaimana yang disampaikan O.W. Wolters bahwa “Suatu usaha untuk mencari She-po… di tempat lain selain dari Jawa haruslah didasarkan atas bukti baru dan meyakinkan,” (Early Indonesian Commerce – A Study of The Origins of Sriwijaya: 1967; 2011, hlm. 261) semoga saja dapat terpenuhi dalam hipotesis ini.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II – Zaman Kuno (2008, hlm. 119), diungkap rincian letak Ho-ling dengan merujuk berita dari zaman dinasti Tang, sebagai berikut: Ho-ling yang juga disebut She-po, terletak di laut selatan. Di sebelah timurnya terletak Po-li dan di sebelah baratnya tertelak To-po-teng. Di sebelah selatannya adalah lautan, sedang di sebelah utaranya terletak Chen-la… – informasi ini menjadi fokus pembahasan saya dalam tulisan ini dengan mengidentifikasi nama-nama wilayah yang disebutkan bersempadan dengan Ho-ling.

Sebelum membahas satu persatu toponim (nama wilayah) tersebut, saya akan kembali mengulas toponim kuno yakni karatuan yang saya identifikasi merupakan bentuk lain dari kata Kadatuan. dan bahwa persamaan kata karatuan dan kadatuan dapat kita lihat pada persamaan kata kdaton dan kraton, yang merupakan sebutan kompleks pusat pemerintah raja pada masa lalu.

Toponim “Karatuan” Saya temukan digunakan di 3 tempat di Sulawesi Selatan, yaitu: pertama, terdapat toponim “karatuan” di kecamatan basse sang tempe – kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; kedua, toponim “karatuang” di Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat; ketiga, toponim “karatuang” di kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. 

“Negeri Timur Laut” Sebutan Kawasan Nusantara di Masa Kuno

Pada tulisan sebelumnya (Rahasia Kuno yang Terpendam di Gunung Latimojong) telah saya jabarkan hipotesis bahwa di masa kuno, selain disebut sebagai “negeri sabah” atau “negeri pagi”, wilayah Nusantara juga disimbolisasikan dengan sebutan “negeri timur laut”.

Bagi yang belum membaca tulisan sebelumnya, saya sangat menyarankan agar terlebih dahulu membaca tulisan tersebut, sehingga dapat dengan mudah mengikuti pembahasan dalam tulisan ini.

Baik, mari kita mulai…

Dalam teks Cina kuno, Sui shu (kitab sejarah dinasti Sui), yang disusun oleh Wei Zheng (580-643 M) terdapat informasi bahwa negara Zhenla atau Chen-la pada sekitar awal abad ke-7 diperintah oleh Zhiduosina dan Yishinaxiandai, yang ibukotanya disebut “Isanapura.”

Nama Isanapura oleh para sejarawan dianggap berasal dari bahasa Sanskerta “Isana” yang berarti “timur laut”. Anggapan ini sangat mungkin berasal dari pemahaman konsep Dikpala (penjaga arah) yang terdapat dalam tradisi Hindu.

Asta-Dikpala atau “Penjaga dari delapan arah”, terdiri dari: Kubera (penjaga arah utara), Vayu (penjaga arah barat laut), Varuna (penjaga arah barat), Nirrti (penjaga arah barat daya), Yama (penjaga arah selatan), Agni (penjaga arah Tenggara), Indra (penjaga arah timur), Isana (penjaga arah timur laut).

Mengenai letak Isanapura sebagai ibukota Zhen-la, sejarawan dunia pada umumnya menempatkannya di Wilayah Kamboja hari ini.

Namun klaim penempatan Chen-la di wilayah kamboja telah saya beri sanggahan pada tulisan saya yang berjudul: Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi. Sesuai judulnya, tulisan tersebut berisi hipotesis saya yang mengidentifikasi letak Ho-ling di Pulau Sulawesi.

Klaim para sejarawan yang menempatkan Zhen-la di wilayah Kamboja hari ini, sebenarnya mudah dilihat sebagai sebuah bentuk klaim yang dipaksakan.

Transkripsi Toponim yang disebut dalam berita cina terlihat begitu mudah dikait-kaitkan dengan toponim tertentu di Kamboja saat ini, yang pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki keidentikan jika ditinjau menurut struktur fonetisnya.

Dan berikut ini beberapa informasi dari catatan cina kuno mengenai Zhen-la yang menguatkan indikasi jika sesungguhnya Zhen-la yang dimaksud dalam kronik Cina letak sesungguhnya adalah di pulau Sulawesi.

Dalam artikel mengenai Zhen-la di halaman chinaknowledge.de disebutkan sebagai berikut:

dicapture dari halaman web http://www.chinaknowledge.de yang membahas tentang Zhenla (dokpri)

Dalam artikel yang saya capture di atas, disebutkan jika ibukota Zhenla selain disebut Isanapura ( Yi-shang-na-bu-lu-o / Yi-she-na-bu-luo) pernah pula “Wuge ” yang dalam buku Zhufanzhi disebut “Luwu.”

Selanjutnya di bagian akhir disebutkan bahwa Zhenla terpecah menjadi dua kerajaan, yakni “Lu Zhenla” (Zhenla tanah) dan “Shui Zhenla” ( Zhenla air). Lu Zhenla juga disebut “Wendan” atau “Polou”.

Toponim wuge, Luwu dan Polou yang disebut dalam artikel di atas jika dicermati sesungguhnya identik dengan entitas nama wilayah yang ada di pulau sulawesi.

“Wuge” dapat kita lihat identik dengan “wugi – ugi – bugis”, “Luwu” jelas identik dengan “Luwu” atau kadang juga tertulis dengan ejaan: luu-luhu-loeo (merupakan kerajaan tertua dan terbesar di pulau Sulawesi), dan “polou” dapat kita lihat identik dengan “palu” (yang merupakan nama ibukota Sulawesi tengah pada hari ini).

Dalam peta wilayah Sul-teng ini terlihat nama

Selanjutnya, Pembahasan mengeni Zhenla yang bernada sama dengan tulisan di atas, dan sebenarnya jauh lebih detail, dapat kita temukan pada buku “Zhu Fan Zhi” yang merupakan catatan dari Dinasti Song. Disusun pada sekitar abad ketigabelas oleh Zhao Rukuo (1170-1231).

Lu-wu disebut sebagai ibukota kerajaan Chen-la dalam buku “Zhu Fan Zhi”

Pada halaman 52, bagian yang membahas Chen-la sebagai toponim yang dianggap sebagai nama kuno Kamboja, disebutkan bahwa Chon-la terletak di selatan Chan-ch’ong; di sebelah timurnya laut; di baratnya P’u-kan; di selatan Kia-lo-hi.

Dari Ts’uan-chou, berlayar dengan angin yang baik, dapat mencapai negara ini dalam waktu satu bulan atau lebih. Negara ini mencakup sepenuhnya 7000 persegi li. Ibu kota kerajaan disebut Lu-wu. Tidak ada cuaca dingin. (Di bawah ini saya lampirkan capture dari buku “Zhu Fan Zhi” terkait uraian ini)

Dicapture bagian buku Zhu Fan Zhi yang menyebut nama Lu-wu. (Dokpri)

Dan berikut ini kurang lebih penjelasan mengenai “Lu-wu” yang terdapat pada bagian catatan kaki: Pada abad ketujuh ibukota Cho-la disebut I-sho-na-ch’ong (…) Nama Lu-wu tampaknya menunjuk ke Lovek [pada googlemap tertulis “Longvek”], reruntuhan kota ini masih terlihat 10 kilometer utara dari wilayah Udong [pada googlemap tertulis Oudongk]. (…) tapi Pelliot, (…) mengatakan bahwa Lovek hanya menjadi ibu kota Kamboja pada abad kelimabelas.

Ketika Chau Ju-kua menulis [buku Zhu Fan Zhi ini], katanya, ibukotanya adalah Angkor, dan namanya adalah Kambupuri atau Yacodharapura. (…) 

Catatan kaki untuk Lu-wu. (Dokpri)

Dari penjelasan catatan kaki mengenai Lu-wu, nampak ketidakjelasan jika Lu-wu pernah digunakan sebagai nama ibukota Kamboja. Anggapan bahwa Lu-wu merujuk pada toponim Lovek juga bisa dikatakan meragukan secara fonetis karena faktanya pada googlemap tertulis “longvek”, serta meragukan pula jika ditinjau menurut penentuan waktu.

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa Chen-la yang beribukotakan Lu-wu yang dimaksudkan Chau ju-kua dalam buku Zhu Fan Zhi tidaklah terdapat di Kamboja, tetapi chen-la tersebut adalah wilayah Cendana yang terdapat di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi tengah. 

Dalam tulisan sebelumnya (Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi) telah saya jelaskan pendapat mengenai hipotesis Chen-la yang dimaksud dalam kronik Cina adalah toponim Cendana yang terdapat di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi tengah.

Hipotesis letak Chen-la ini sekiranya lebih dikuatkan dengan mencermati informasi catatan dari sejarah Dinasti Sung tentang negeri yang bernama Tan-mei-liu.

Dalam catatan sejarah dinasti Sung letak negeri Tan-mei-liu disebutkan ke timur sampai chen-la 50 pos (hentian); ke selatan sampai Lo-yue 15 pos, menyeberang laut; ke barat sampai Si-t’en 35 pos; ke utara sampai Teh’eng-leang 60 pos, ke tenggara sampai Cho-po 45 pos; ke timur laut sampai kanton 135 pos. (Prof. Dr. Slamet Muljana. Sriwijaya, 2006. hlm. 263)

Dari informasi Dinasti Sung ini dapat kita ketahui bahwa di sebelah barat Chen-la terdapat negeri bernama Tan-mei-liu. Nama negeri ini saya temukan identik dengan toponim malei di tanjung Balaesang, Donggala-Sulawesi tengah, yang secara kebetulan tepat berada di sebelah barat cendana, Parigi Moutong-Sulawesi tengah. 

Linguistik Komparatif dan Fungsinya dalam Mengungkap Sejarah Kuno

(gambar: wikipedia.org)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa Linguistik Komparatif adalah cabang linguistik yang mempelajari kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa yang kerabat atau dari periode historis dari satu bahasa.

Dengan demikian, jika dalam suatu penelusuran suatu bahasa ditemukan adanya indikasi kesepadanan-kesepadanan sebagaimana yang dimaksud dalam definisi di atas pada bahasa lain, maka sudah semestinya hal tersebut dilihat sebagai hal yang mengindikasikan adanya kekerabatan di antara kedua bahasa tersebut.

Namun demikian, akan timbul perdebatan jika bahasa yang tengah dikomparasi tersebut berada dalam rumpun bahasa yang berbeda.

Misalnya, jika merujuk pada konsep rumpun bahasa, bahasa yunani kuno bahasa Indonesia dan bahasa tae’ berada dalam rumpun bahasa yang berbeda.

Bahasa Yunani kuno tergolong dalam rumpun bahasa Indo Eropa, sementara bahasa Indonesia dan bahasa tae’ masuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Yang menarik adalah karena sesungguhnya terdapat beberapa variable pada ketiga bahasa tersebut yang menunjukkan keidentikan, baik jika ditinjau secara fonologis, gramatikal maupun leksikal.

Hal tersebut dapat kita lihat dalam paparan berikut ini…

Kita mengenal kata “teluk” dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI diartikan sebagai “bagian laut yang menjorok ke darat”.

Namun melalui pencermatan etimologi serta tinjauan filologi, kita akan menemukan fakta bahwa suku kata te- pada kata “teluk” menunjukkan keidentikan dengan bentuk “the” yang umum terdapat dan digunakan dalam gramatikal bahasa rumpun Indo Eropa. 

Dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, Bentuk “the” umumnya Digunakan sebelum kata benda, dan terutama digunakan untuk menandai kata benda, fenomena alam, waktu, atau apa pun yang unik dan ingin ditonjolkan. 

Fungsi “the” yang demikian, akan terlihat dimiliki pula oleh suku kata te- pada kata “te-luk” jika kita memaknai suku kata setelahnya (-luk) sebagai bentuk kata benda. Yakni kata “luk” yang pada hari ini secara spesifik digunakan untuk menyebut lekukan pada keris. 

Jadi, tinjauan history linguistik untuk kata “teluk” adalah bahwa bisa jadi bentuk primordialnya adalah “Te-luk” atau pun “The-Luk”. Dalam hal ini, bentuk “Te-luk” atau “The-Luk” dapat memiliki dua pemaknaan.

Yaitu, Secara leksikal (makna yang bersifat tetap) bermakna: Lekuk; keluk; atau lengkungan, dan secara gramatikal (makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakaiannya) dapat mengandung makna sebagai bentuk penekanan terhadap fenomena alam-dalam hal ini “bagian laut yang menjorok ke darat”-ketika disandingkan dengan nama wilayah atau kawasan. Contoh: Te-Luk Benggala, dapat dimaknai: lekukan atau kelukan pada kawasan perairan Benggala. 

Jika kemudian pada hari ini dalam bahasa Indonesia kita temukan kata “teluk” lebih bermakna “bagian laut yang menjorok ke darat”, maka dapat dilihat bahwa kata ini kemungkinannya lahir dan berkembang dari suatu komunitas masyarakat bahari yang berorientasi dari sudut pandang laut bukan dari daratan.

Konsep Bissu dan Mitos Adam sebagai Hermaprodit

Dalam tradisi Bugis, seorang Bissu bukan hanya sebagian pria dan bagian wanita, tetapi juga sebagian dewa dan makhluk hidup. Bissu menempati peran ritual kritis sebagai perantara antara dunia supranatural dan Bugis. Bissu menjadi mediator antara manusia dan dunia supernatural karena ia punya peran ritual spesifik – Demikian Garrick Bailey, James Peoples menggambarkan sosok seorang Bissu dalam buku Essentials of Cultural Anthropology (2010:60).

Dalam buku Keberagaman Gender di Indonesia, Sharyn Graham Davies mengutip Andaya (2000:43) yang menulis bahwa; Perpaduan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam diri seorang bissu dianggap penting untuk pemenuhan persyaratan dalam ritual mereka (2017: 151-152).

Sharyn Graham Davies juga mengungkap salah satu naskah sejarah paling awal yang menyebut Bissu, bersumber dari pedagang berkebangsaan Portugis Antonio de Paiva, yang mengunjungi kepulauan ini di abad keenam belas. 

De Paiva menganggap Bissu sebagai “pendeta-pendeta raja” dan Bissu digambarkan sebagai ahli sihir yang berprilaku dan berpakaian seperti perempuan; diyakini bahwa seorang laki-laki tidak bisa menjadi perantara yang dapat bicara dengan roh-roh.

Dalam surat yang ditulisnya tahun 1544, de Paiva menulis:

… saya ingat satu hal yang sangat serius. Dan kendatipun kata-katanya tidak sesuai atau tidak bisa diterima pendengaran Anda, tolong disimak laporan tentang mereka, karena inilah buah-buah dari Roh Kudus. Tuhan Anda akan tahu bahwa pendeta para raja ini biasanya dinamakan bissu. 

Mereka tidak memelihara jenggot mereka, berpakaian seperti perempuan, dan membiarkan rambut mereka tumbuh panjang dan dikepang; mereka meniru bicara (perempuan) karena mereka mengadopsi gerak-gerik dan kecenderungan seperti perempuan. 

Mereka menikah dan diterima, menurut adat istiadat daerah tersebut, dengan laki-laki biasa, dan mereka hidup dalam satu rumah, dan memenuhi hasrat mereka di tempat-tempat rahasia dengan laki-laki yang mereka miliki sebagai suami-suami mereka. Ini adalah [pengetahuan, umum, dan tidak hanya di sekitar sini, tetapi juga diceritakan mulut-mulut orang yang sama yang dipilih oleh Tuhan Allah untuk memuji-Nya. 

Para pendeta ini, apabila mereka menyentuh seorang perempuan dalam pikiran atau tindakan, mereka akan direbus dalam cairan aspal karena mereka percaya bahwa agama mereka akan lenyap bila mereka melakukan hal itu; dan mereka melapisi gigi mereka dengan emas. 

Dan seperti saya katakan pada Ketuhanan Anda, saya menjalani ini dengan pikiran yang jernih, terhenyak (bahwa) Tuhan kita telah menghancurkan tiga kota di Sodom karena melakukan dosa yang sama dan membayangkan bagaimana suatu kehancuran tidak menimpa orang-orang durhaka di situ untuk waktu yang lama dan apa yang harus dilakukan, karena seluruh daerah itu sudah dikelilingi oleh setan (dikutip dalam Baker, 2005:69)

De Paiva dengan terang-terangan menyebut hubungan dekat antara kerajaan dan bissu, sambil pada saat yang sama mengungkapkan pandangan pribadinya tentang keamoral-an bissu. De Paiva terus menerus mencoba untuk mengubah agama para pejabat di Sulawesi Selatan menjadi Kristen.

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno

Barter atau saling bertukar barang adalah sistem perdagangan di zaman kuno. Tapi tahukah anda dari mana kata “tukar” itu berasal?

Ada kemungkinan kata “tukar” berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (bangsa Turki kuno). Ini merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Di dalam bahasa Banjar, memang terdapat kata “tukar” dengan arti “beli”. Tapi apakah ini bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas? – saya pikir tidak.

Itu karena makna kata “tukar” dalam bahasa Banjar lebih bersifat sinonim dengan kata “beli”, dan tidak cukup mengandung unsur Linguistik historis (Historical Linguistics atau Diachronic Linguistics), yang dalam britannica.com didefinisikan sebagai cabang linguistik yang berkaitan dengan studi perubahan fonologis, gramatikal, dan semantik, rekonstruksi tahap-tahap awal bahasa, penemuan serta penerapan metode-metode di mana hubungan genetik antar bahasa dapat diperlihatkan.

Asal usul kata “tukar”

Untuk mendapatkan jawaban atas asal usul kata “tukar” yang bisa dianggap memiliki unsur Linguistik historis, saya ingin mengajak pembaca untuk mencermati suatu informasi dari Mario Mosetto dalam bukunya “Origins of European Peoples: Part One: Ancient History“, pada Chapter 16 “Turks and Indo-Europeans“, yang mengatakan bahwa:

The Turkish calls the merchant Tuccar and the trade ticaret and commercial (adjective) sounds like ticari: these are clearly the Tocharians (Tuxari before), who traded for a long time with the Turks.

Translate: “Orang Turki menyebut pedagang dengan sebutan “Tuccar“, “ticaret” untuk perdagangan, dan komersial (kata sifat) terdengar seperti “ticari“: ini jelas-jelas [merujuk pada] Tocharians (Tuxari sebelumnya), [yaitu bangsa] yang berdagang dengan orang Turki dalam waktu yang lama.”

Dari keberadaan informasi yang disampaikan Mario Mosetto di atas, yang kemudian jika disandingkan dengan ulasan Frances Wood (2002) dalam bukunya “Jalur Sutra Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” tentang orang Tocharia dan Sogdia sebagai pelaku utama perdagangan di jantung asia (Asia Tengah) dalam kurun waktu ribuan tahun, kita dapat membangun sebuah pemahaman bahwa bisa jadi kata “tukar” berasal dari kata “tuccar” yang merupakan sebutan orang Turki untuk “pedagang” yang merujuk pada Tocharia yang terkenal sebagai bangsa pedagang pada zaman kuno di Asia Tengah.

Adapun sebab mengapa hingga kemudian kata tersebut dapat kita temukan digunakan di wilayah Nusantara pada masa sekarang ini, dapat kita asumsikan merupakan hasil serapan pedagang Nusantara yang eksis melakukan perdagangan di wilayah Asia Tengah pada masa kuno.

Pada tulisan sebelumnya (Genetik Aksara Nusantara, Formula Kunci Mengurai Sejarah) telah saya bahas mengenai adanya jejak orang-orang Bugis di wilayah Asia tengah, dengan merujuk pada fakta adanya sebutan yang identik dengan kata “bugis” dalam bahasa Uzbek, yaitu “bo’g’iz” yang artinya: teluk. Fakta ini dikuatkan dengan keberadaan kata “Look” (sound: luwu’ atau luwuk) dalam bahasa Filipina yang juga berarti “teluk”.

Di sisi lain, Adalah sudah menjadi konsensus umum di mayoritas sejarawan di Sulawesi Selatan bahwa Luwu merupakan induk dari semua etnis yang ada di Sulawesi Selatan.

Adanya etimologi “Luwu” dan “Bugis” yang sama-sama berarti “teluk” menunjukkan jika keduanya tidak ada bedanya. 

Dan, bahwa kata “bo’g’iz” dalam bahasa Uzbek tentulah berasal dari orang-orang dari pulau Sulawesi. (Pembahasan secara rinci mengenai keterkaitan Luwu dan Bugis ini dapat dibaca di tulisan “Fakta Migrasi di Masa Kuno, dari Nusantara ke Dunia Barat“)