Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi

Upaya identifikasi letak kerajaan Ho-ling di Nusantara dengan merujuk kronik Cina kuno telah banyak dilakukan oleh para Ahli. Pembahasan mengenai hal ini oleh sejarawan modern bisa dikatakan telah berlangsung lebih dari seratus tahun.

Misalnya yang dibahas Junjiro Takakusu (1866-1945) dalam bukunya A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea, yang memuat terjemahan Nanhai Jigui Neifa Zhuan, yakni catatan perjalanan biksu yijing (I-Tsing) dari Dinasty Tang, yang merinci dua puluh lima tahun masa ia tinggal di India dan Nusantara antara tahun 671 – 695 M. Buku ini diterbitkan oleh Junjiro Takakusu pada tahun 1896.

Dalam rentang waktu pembahasan lebih dari seratus tahun tersebut, telah banyak pendapat yang muncul dari berbagai ahli terkait letak Ho-ling atau She-po yang dalam kronik Cina dinyatakan sebagai sebutan untuk suatu wilayah yang sama.

Berbagai perbedaan pendapat para ahli mengenai letak She-po atau Ho-ling telah saya urai dalam tulisan sebelumnya Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi, jadi dalam kesempatan ini saya hanya akan fokus pada hipotesis yang ingin saya sampaikan saja.

Dalam upaya penyusunan hipotesis ini tentu saja saya sangat memperhatikan pendapat yang diajukan oleh para ahli sebelumnya. Dengan demikian harapan seperti sebagaimana yang disampaikan O.W. Wolters bahwa “Suatu usaha untuk mencari She-po… di tempat lain selain dari Jawa haruslah didasarkan atas bukti baru dan meyakinkan,” (Early Indonesian Commerce – A Study of The Origins of Sriwijaya: 1967; 2011, hlm. 261) semoga saja dapat terpenuhi dalam hipotesis ini.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II – Zaman Kuno (2008, hlm. 119), diungkap rincian letak Ho-ling dengan merujuk berita dari zaman dinasti Tang, sebagai berikut: Ho-ling yang juga disebut She-po, terletak di laut selatan. Di sebelah timurnya terletak Po-li dan di sebelah baratnya tertelak To-po-teng. Di sebelah selatannya adalah lautan, sedang di sebelah utaranya terletak Chen-la… – informasi ini menjadi fokus pembahasan saya dalam tulisan ini dengan mengidentifikasi nama-nama wilayah yang disebutkan bersempadan dengan Ho-ling.

Sebelum membahas satu persatu toponim (nama wilayah) tersebut, saya akan kembali mengulas toponim kuno yakni karatuan yang saya identifikasi merupakan bentuk lain dari kata Kadatuan. dan bahwa persamaan kata karatuan dan kadatuan dapat kita lihat pada persamaan kata kdaton dan kraton, yang merupakan sebutan kompleks pusat pemerintah raja pada masa lalu.

Toponim “Karatuan” Saya temukan digunakan di 3 tempat di Sulawesi Selatan, yaitu: pertama, terdapat toponim “karatuan” di kecamatan basse sang tempe – kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; kedua, toponim “karatuang” di Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat; ketiga, toponim “karatuang” di kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. 

Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjabarkan suatu hasil upaya identifikasi berita dari kronik Cina (terutama dari masa dinasti Tang) tentang kerajaan Ho-ling, yang menunjukkan keidentikan dengan berbagai hal yang terdapat di pulau Sulawesi. 

Upaya identifikasi tersebut meliputi tinjauan kebiasaan masyarakat Ho-ling yang dikabarkan dalam kronik Cina (tinjauan antropologi), toponim atau penamaan wilayah (tinjauan linguistik), keunikan kawasan atau wilayah tertentu (tinjauan geografis) hingga penyebutan nama penguasa yang identik nama Raja/Datu dalam silsilah kedatuan Luwu, yakni: Simpurusiang dan Tampa Balusu (genealogi).

Menurut catatan Chiu T’ang shu (197: 3a) atau Old Tang History, Ho-ling terletak di sebuah pulau di selatan. Menurut Hsin Tang shu (222C: 3b) atau New Tang History, Ho-ling terletak di laut selatan menghadap Po-li di timur dan to-p’o-teng di barat. Kedua teks tersebut menyamakan Ho-ling dengan She-po.

Hirth dan Rockhill (Chao Ju-kua, p. 60) menyimpulkan bahwa Ho-ling adalah Jawa bagian barat dan mengusulkan bahwa nama itu adalah transkripsi dari Kalinga di India, dari mana para pemukim Hindu di Jawa sebagian besar dianggap berasal.

Namun, Gerini menempatkan negara itu di Semenanjung Melayu, sementara Schafer dalam “The Golden Peaches of Samarkand (p. 67) menyebutnya Kalinga dan menganggapnya sebagai sebuah negara di Jawa.

Hans Bielenstein (2005) dalam bukunya Diplomacy and Trade in the Chinese World, 589-1276, mengatakan Mungkin saja K’o-ling (Ho-ling) ada di Jawa, yang dalam hal ini adalah pendahulu She-po. 

Namun, catatan menunjukkan bahwa periode mereka tumpang tindih. Pelliot mencatat pengiriman utusan dari Ho-ling ke Tiongkok terjadi pada tahun 640 sampai 648, 666, 767, 768, 813, sampai 815 dan 818. Selama masa itu, tidak ada penyebutan nama She-po.

Kronik Cina dari zaman dinasti Sung Awal (420-470 M) ada menyebut nama She-po, yang berarti muncul sebelum masa pencatatan Ho-ling, lalu muncul kembali pada tahun 820 sampai tahun 856 M, yakni setelah nama Ho-ling tidak disebutkan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa utusan Ho-ling ataupun She-po dianggap sama oleh orang-orang Cina.

She-p’o: Menurut Sung shih (489: 15b) dan Wen-hsien t’ung-k’ao (332: 14b), terletak di laut selatan. Menurut Chao Ju-kua (1170–1228) seorang pemeriksa pabean di kota Quanzhou di Tiongkok pada masa Song akhir, She-po dapat dicapai dari Chuan-chou (Quanzhou) setelah perjalanan laut sekitar sebulan.

Sejarawan pada umumnya menganggap She-po adalah sebutan untuk Jawa, namun demikian, terdapat pula pendapat bahwa She-po yang dalam catatan Arab disebut Zabaj, adalah suatu tempat di Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Nusantara secara umum. Sehingga dapat dikatakan bahwa letak Ho-ling atau She-po pada dasarnya masih menjadi bahan perdebatan di antara para sarjana.

Slamet Muljana misalnya dalam buku Sriwijaya, mengatakan: Sudah terang bahwa pada zaman I-ts’ing, nama Jawa itu sudah dikenal di kerajaan Sriwijaya, karena pada piagam Kota Kapur yang dikeluarkan pada tahun 686 telah disebutkan bahwa “tentara Sriwijaya berangkat ke bhumi Jawa.” Tentunya I-Ts’ing juga mengenal piagam tersebut, setidak-tidaknya pernah mendengar nama Jawa, karena ia lama menetap di Sriwijaya. Lagi pula ia adalah orang yang mengagumi Fa-hien, padahal Fa-hien yang berangkat dari Tiongkok pada tahun 414 telah menyebut Jawadi, dan pada zaman dinasti Sung yang pertama (420-578), telah disebut pula nama Yawada; maksudnya Yawaswipa. 

Suatu kenyataan ialah bahwa I-Tsing menyebut Ho-ling. Andaikata yang dimaksud oleh I-Tsing adalah Jawa, pasti ia akan berusaha mendeskripsikan nama Jawa itu dengan ucapan Tionghoa yang mirip. Demikianlah, mungkin sekali bahwa yang dimaksud dengan Ho-ling itu memang bukan pulau Jawa.

Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka

Suatu hal yang selama ini luput dari perhatian – dalam upaya mencari pesan-pesan kuno dari masa lalu adalah pada upaya memahami makna filosofis dari nama-nama angka, dalam hal ini saya percaya bahwa semua nama-nama angka memiliki dasar asal usul.

Selama ini memang telah banyak hasil penelitian para ahli tentang angka tetapi hal itu sebatas penelitian pada bentuk tanda atau lambang angka, sistem angka, dan fungsi angka sebagai bentuk bilangan yang melambangkan suatu kuantitas (misal: panjang, berat, umur, dan lain-lain).

Jika pun ada pembahasan tentang nama-nama angka, pembahasan tersebut lebih pada usaha pengungkapan dari bahasa bangsa atau suku mana nama angka tersebut berasal dan terserap ke bahasa bangsa atau suku mana ia selanjutnya.

Demi menambah referensi kita terkait ilmu pengetahuan tentang angka, pada bagian ini saya akan mencoba memaparkan hasil penelusuran saya tentang fakta adanya makna tersembunyi pada nama-nama angka menurut bahasa tertentu.

Nama-nama angka dalam beberapa bahasa tradisional di Nusantara (Dokpri)

Dalam table di atas dapat kita lihat bahwa penamaan angka pada beberapa bahasa daerah memiliki kesamaan bunyi dengan penamaan angka dalam beberapa bahasa daerah lainnya. Ini dikarenakan adanya proses asimilasi budaya yang terjadi pada masa lalu, bahkan sangat mungkin berasal dari satu sumber yang sama pada mulanya.

Kronologis ide penelusuran makna nama angka yang saya lakukan, dapat dikatakan timbul secara intuitif dalam suatu perenungan menganalisa susunan fonetik dalam nama-nama angka dengan fokus mengamati bagaimana wujud bentuk lainnya ketika mengalami perubahan fonetik yang umum terjadi pada banyak leksikon. 

Saat itu, manakala secara berulang-ulang saya mengeja satu demi satu nama-nama angka dalam bahasa tae’, dalam suatu kesempatan, urutan nama angka “appa (empat) — lima (lima) — annang (enam)” tertangkap nalar saya seperti bunyi sebuah kalimat yang memiliki makna lain selain maknanya sebagai nama angka — semacam bentuk double-entendre, yaitu frase atau kiasan yang bisa memiliki dua makna atau yang dapat dipahami dalam dua cara yang berbeda. (Dictionary Cambridge)

Bentuk double-entendre tersebut tersaji secara homophone. Misalnya kata “one” dalam bahasa inggris untuk 1, terbaca “wan” – homophone dengan bentuk “want” yang artinya “ingin”. Nama angka tujuh dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya memiliki Double-entendre yakni kata “tuju” yang berarti “arah” (verb. menuju = mengarah).

Wangsit Prabu Siliwangi: Perang di Ujung Laut Utara

“…Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini.”

Demikian sebuah penggalan kalimat dalam wangsit Prabu Siliwangi yang melegenda hingga hari ini. 

Makna kalimat tersebut bisa ditafsirkan sebagai penggambaran secara metafora suatu situasi perang. Hal Ini terutama dapat dicermati pada kalimat “burung menetaskan telur” yang dapat dimaknai sebagai ilustrasi pesawat yang menjatuhkan bom dari angkasa. Sementara suara gemuruh yang disebut terdengar sayup-sayup, adalah suara ledakan yang ditimbulkan.

Dengan mencermati bahwa posisi Prabu Siliwangi berada di pulau Jawa ketika mengucapkan wangsit tersebut, maka, ujung laut utara yang disebutkan sebagai asal suara gemuruh yang terdengar sayup-sayup, bisa jadi adalah laut cina selatan. 

Dugaan ini didasari pertimbangan bahwa laut jawa yang berada di sebelah utara pulau jawa bersambungan dengan perairan laut cina selatan. Dengan demikian, laut cina selatan dapat dikatakan merupakan “ujung laut di sebelah utara pulau jawa” yang dimaksud Prabu Siliwangi.

Eskalasi yang terus memanas di perairan laut cina selatan Antara Cina dengan Taiwan, Philipina, Vietnam, Malaysia, dan juga Amerika yang melibatkan diri di dalamnya, tentu memberi kita gambaran bahwa bisa jadi situasi perang yang dimaksudkan Prabu Siliwangi dalam wangsitnya adalah situasi perang yang sangat mungkin akan pecah di perairan laut cina selatan dalam beberapa waktu ke depan.

Puisi | Dunia Memang Hanyalah Permainan dan Senda Gurau, tapi Kita Nampaknya Terlampau Banyak Bercanda

Jika saja kalian tahu betapa dunia kini sungguh ringkih berdiri di tepi zaman, aku yakin, kalian tidak akan lagi banyak berharap padanya. Kalian tidak lagi berhasrat mimpi menulis sejarah.

Sangat sulitnya kehidupan yang terjadi di depan sana menjadikan hal remeh temeh semacam itu tidak lagi memiliki tempat dalam keinginan kalian.

Selain itu, Seperti yang dulu pernah kukatakan “masa ini adalah tepi waktu. Tepi zaman. Dan dapat pula kau sebut tepi sejarah.”

Periode di depan sana adalah masa yang tidak akan pernah dikenang. Sehebat apa pun peristiwa yang terjadi di depan sana, tidak akan pernah tercatat sebagai sejarah. 

Pikirlah: Siapa yang mau mencatat siapa pula yang mau mengenang… semua orang sudah mati, waktu juga sudah berhenti… 🙂

Jika saja kalian tahu betapa kita telah memasuki masa-masa genting itu… Aku yakin, kalian tidak akan lagi banyak bercanda.

Kalian bukannya tidak diberi petunjuk. Telah berulang kali petunjuk itu mengetuk pintu hati kalian. Hanya saja setiap kali ia datang, kalian seperti orang yang hanya terbangun sesaat lalu tidur lagi.

Ia sungguh telah memberi banyak peringatan. Di dalam bathin telah berulang kalian diketuk. Sementara di luar sana, dunia terus diguncang peristiwa-peristiwa besar.

Ya, Dunia memang hanyalah permainan dan senda gurau, tapi kita nampaknya terlampau banyak bercanda dan banyak berangan-angan… 

Biosemiotik, Geliat di Babak Akhir Pencarian Manusia

Dalam kamus Oxford Biokimia dan Biologi Molekuler (1997), dijelaskan bahwa Biosemiotik adalah “Studi tentang tanda-tanda, komunikasi, dan informasi dalam organisme hidup”.

Sementara itu, kalevi Kull (1999) dalam tulisannya Biosemiotics in the twentieth century: A view from biology, mengatakan: Biosemiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tanda-tanda dalam sistem kehidupan. Karakteristik utama dan khas biologi semiotik terletak pada pemahaman bahwa dalam kehidupan, entitas tidak berinteraksi seperti benda mekanis, melainkan sebagai pesan, atau potongan teks.

Dalam situs resminya; http://www.biosemiotics.org, Biosemiotik dijelaskan sebagai suatu agenda penelitian interdisipliner yang menyelidiki berbagai bentuk komunikasi dan makna yang ditemukan di dalam dan di antara sistem kehidupan. 

Dengan demikian ini adalah studi tentang representasi, makna, indera, dan signifikansi biologis dari proses kode dan tanda – sekuens kode genetik – proses pensinyalan antar sel – perilaku tampilan hewan – artefak semiotik manusia seperti bahasa dan pemikiran simbolik abstrak.

Proses tanda tersebut muncul di mana-mana dalam literatur tentang sistem biologis. Namun, hingga baru-baru ini, secara implisit diasumsikan bahwa penggunaan istilah-istilah seperti “pesan” “sinyal” “kode” dan “tanda” pada akhirnya bersifat metaforis, dan bahwa istilah semacam itu suatu hari nanti dapat secara efektif direduksi menjadi sekadar bahan kimia dan interaksi fisik yang mendasari proses tersebut.

Nuansa Jawa pada Kata “Ungu” dalam Bahasa Phoenicia dan Bahasa Kuno Lainnya

Ada banyak literatur kuno yang menggambarkan jika warna ungu merupakan warna yang diagungkan pada masa kuno. Bahkan, dikatakan warna ungu khusus digunakan oleh kalangan atas saja. 

Pliny the Elder (23 M – 79 M), dalam buku kesembilan dari Natural History-nya, menggambarkan kemegahan dan kemewahan yang diwakili oleh warna ungu: “Di Asia ungu yang terbaik adalah Tirus, […]. Untuk warna inilah kapak Roma memberi jalan di tengah kerumunan; inilah yang menegaskan keagungan masa kanak-kanak; inilah yang membedakan senator dari barisan berkuda; orang-orang yang tersusun dalam warna ini adalah orang-orang yang beribadah.” 

Ketika Raja Persia Cyrus mengadopsi tunik ungu sebagai seragam kerajaannya, di Romawi, kaisar melarang warganya memakai pakaian ungu ketika menjalani hukuman mati, sementara hakimnya menggunakan jubah ungu ketika menjatuhkan hukuman. Pada zaman Nero, penyitaan properti bahkan hukuman mati dijatuhkan bagi mereka yang kedapatan berpakaian ungu kekaisaran. 

Di masa Kekaisaran Bizantium, ungu bahkan dipuja dengan cara lebih militan. Penguasanya senantiasa mengenakan jubah ungu, serta menandatangani dekrit mereka dengan tinta ungu. Di Konstantinopel, kamar tidur kaisar dicat dengan warna ungu, dan putranya, yang lahir di ruangan tersebut, menikmati gengsi memiliki nama panggilan Porphyrogenitus : “lahir dalam warna ungu”.

Demikianlah, selama berabad-abad tradisi menggunakan warna ungu sebagai warna kekaisaran terus berlangsung hingga ke zaman Kekaisaran Romawi Suci, bahkan hingga hari ini, pada keuskupan Katolik Roma kita masih dapat melihat warna ungu sebagai warna yang istimewa.

Jika kita menoleh jauh ke belakang untuk mencoba mencari tahu dari semenjak kapan warna ungu ini digunakan, kita bisa menemukan laporan dari beberapa sejarawan yang menginformasikan bahwa orang-orang Fenesialah yang bertanggung jawab atas kemunculan warna ungu, dan ini berkontribusi pada reputasi mereka.

Orang-orang Yunani memberi mereka nama Fenisia (phoenix) sehubungan dengan warna ungu yang mereka buat sebagai salah satu spesialisasi utama mereka.

Dalam mitologi, legenda Penemuan warna ungu dikaitkan dengan dewa Melqart, dewa pelindung kota Tirus dan merupakan dewa utama orang Fenisia. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa ketika dewa Melqart sedang berjalan di pantai bersama peri Tyros, anjingnya menemukan cangkang kerang dan mengunyahnya. Rahangnya kemudian dipenuhi warna ungu. 

Peri Tyros mengagumi warna tersebut dan meminta Melqart menghadiahkan kepadanya kain dengan warna yang indah seperti itu. Untuk menyenangkan kekasihnya, Melqart memerintahkan mengumpulkan kulit kerang untuk dijadikan bahan pewarna kain.

 Lukisan
 Lukisan “Hercules Dog Discovers Purple Dye”  oleh Peter Paul Rubens. Di Yunani Melqart diidentikkan dengan Herakles. (sumber: pixels.com/augusta-stylianou) 

Ini Asal-Usul Nama “Jawa” Menurut Konsep Lokapala (bagian 2)

Pada bagian 1 telah saya ulas informasi yang sejauh ini mengemuka dalam khasanah literatur kita terkait asal usul nama “Jawa”. Seperti pendapat yang mengusung sumber kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama Yavadvip(a) (dvipa berarti “pulau”, dan yava berarti “jelai” atau juga “biji-bijian”), dan beberapa lagi pendapat lainnya.

Di bagian ke 2 ini, saya akan fokus membahas asal usul nama Jawa menurut konsep Lokapala (penjaga mata angin).

Dalam tradisi Hindu dikenal konsep “Lokapala” yaitu tentang dewa-dewa penjaga arah mata angin. Dewa-dewa tersebut adalah: 

  1. Indra (Timur)
  2. Kubera (Utara)
  3. Varuna (Barat)
  4. Yama (Selatan)

Dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya banyak menekankan bahwa yang disebut sebagai dewa dalam banyak mitologi kuno, sesungguhnya adalah merupakan bentuk personifikasi orang-orang besar, orang suci, atau bahkan para nabi yang hidup di masa kuno. 

Upaya pengidentifikasian atau penafsiran Personifikasi semacam ini, bahkan telah mulai dilakukan sejak masa Yunani kuno. Hal itu dikenal dengan periode sinkretisme – atau “interpretatio graeca” artinya “terjemahan Yunani” atau “interpretasi dengan menggunakan [model] Yunani”.

Yang pada dasarnya merupakan upaya menafsirkan atau mencoba memahami mitologi dan agama dari budaya lain, dengan membandingkannya dengan konsep Yunani kuno dalam hal praktik keagamaan, dewa, dan mitos, untuk melihat kesetaraan dan karakteristik yang sama. [Mark S. Smith: God in Translation: Deities in Cross-Cultural Discourse in the Biblical World, 2008: 39]

Interpretasi semacam ini telah pula saya bahas dalam artikel Sosok Nabi Idris di Berbagai Tradisi Agama dan Mitologi, serta Rahasia yang Meliputinya”.

Dalam artikel tersebut saya mengulas bahwa pada masa kuno, Nabi Idris dikenal sebagai Changjie dalam mitologi Cina, Dewa Varuna dalam mitologi India, Dewa Thoth dalam mitologi Mesir kuno, dan Dewa Hermes dalam mitologi Yunani kuno.

Interpretasi kesamaan tersebut, salah satunya disampaikan oleh Abu’l-Faraj (Abulpharagius) Seorang uskup Syria, filsuf, penyair, sejarawan, dan teolog, yang mengatakan dalam bukunya Ta’rih muhtasar ed-duwal (ed. Salhani, hal. 11) bahwa, Henokh (Idris) adalah identik dengan Hermes Trismegistus, yang oleh sementara orang Arab menyebutnya Idris. (Untuk lebih lengkapnya silahkan membaca artikel ini “Sosok Nabi Idris di Berbagai Tradisi Agama dan Mitologi, serta Rahasia yang Meliputinya”).

Jika Dewa Varuna adalah personifikasi nabi Idris, lalu siapakah yang diinterpretasi sebagai Indra, Kubera, dan Yama?

Ini Asal-Usul Nama “Jawa” Menurut Konsep Lokapala (bagian 1)

Ketika kita mencari tahu asal usul nama “Jawa”, di Wikipedia kita dapat temukan sajian narasi bahwa “hal itu dapat dilacak pada kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama Yavadvip(a) (dvipa berarti “pulau”, dan yava berarti “jelai” atau juga “biji-bijian”). 

Penjelasan tersebut merujuk pada apa yang disampaikan Thomas Stamford Raffles dalam bukunya “The History of Java” (1965: hlm. 3). Dan nampaknya ini adalah argumen asal usul nama “Jawa” yang paling banyak tersebar luas selama ini.

Ron Hatley memberikan dugaan lain bahwa kata “Jawa” berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia yang berarti “rumah” (“Mapping cultural regions of Java” in: Other Javas away from the kraton. pp. 1–32)

Selama itu, sebutan “Jawa” oleh para ilmuwan sejarah biasanya dianggap terkait dan merupakan bentuk perubahan fonetis dari kata “saba” yang memang banyak ditemukan dalam catatan-catatan kuno.

Kata ‘saba’ dianggap transliterasi dari sebutan ‘She-po’ yang merupakan sebuah toponim dalam kronik cina kuno untuk suatu negeri di wilayah laut selatan (nan hai) yang kita kenal sebagai nusantara atau Indonesia pada hari ini.

Senada dengan hal ini, Giovanni de Marignolli, seorang musafir katolik terkemuka dari Eropa yang berkelana ke Cina pada abad-14 Masehi, menyampaikan dalam catatan perjalanannya bahwa, ketika ia dalam perjalanan pulang dari Cina untuk kembali ke Avignon (Italia), ia memutuskan menggunakan jalur laut, setelah sebelumnya menggunakan jalur darat untuk memasuki wilayah Cina, yang dengan demikian, memungkinkan ia untuk dapat mampir di Nusantara dan India. 

Dalam perjalanan pulang ini ia mengatakan menyempatkan diri mengunjungi negeri Saba yang disebut dalam kitab suci, yang ia temukan masih dipimpin oleh seorang ratu. 

Ia menyebut kerajaan itu terletak di pulau paling indah di dunia. Dinding istana dihiasi dengan gambar-gambar historis yang bagus; kereta dan gajah banyak digunakan, terutama untuk para wanita; ada gunung yang sangat tinggi, yang disebut Gybeit atau “Yang Terberkati.” 

Ratu memperlakukan dengan baik para pelancong dengan menghadiahkan mereka ikat pinggang emas; ada beberapa orang-orang Kristen di sana.

Mencermati catatan Marignolli ini, dapat diduga bahwa negeri  ‘saba’ yang ia datangi tersebut adalah jawa, dan kerajaan yang ia kunjungi adalah majapahit yang pada saat itu dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi segera setelah Raja Jayanagara mangkat. 

Hal ini sejalan dengan fakta yang ditunjukkan dalam piagam Berumbung yang dikeluarkan oleh Rani Tribhuwana Tunggadewi pada tahun Saka 1251 bulan Bhadra atau sekitar Agustus-September 1329 Masehi. Waktu ini sesuai dengan kisaran tahun perjalanan Marignolli di asia. (Piagam Berumbung, 1329, disinggung oleh N.J. Krom _dalam “Epigraphisce Aanteekeningen XIII”, T.B.G. LVIII, hlm. 161; diumumkan pada tahun 1915 dalam O.V., no. 2, hlm. 68; dibahas oleh F.H. van Naerssen dalam B.K.I. 1933, hlm. 239-258). 

Dr. Maharsi dalam kamus Jawa Kawi Indonesia (Pura Pustaka, 2009) menganggap bahwa kata “Saba” berasal dari kata bahasa Jawa kawi yaitu ‘Saba’ yang berarti “pertemuan” atau “rapat”. Dengan demikian kata itu menurutnya dapat diartikan sebagai “tempat bertemu”.

Senada dengan pernyataan Dr. Maharsi, Fahmi Basya dalam bukunya “Indonesia Negeri Saba”, lebih menginterpretasikan bahwa kata tersebut berarti “tempat bertemu”, “tempat berkumpul”, atau “tempat berkumpulnya bangsa-bangsa”. 

Demikianlah informasi yang sejauh ini mengemuka dalam khasanah literatur kita terkait asal usul nama “Jawa”.

Gua Kuno di Latimojong dan Kaitannya dengan Tanah Suci “Shambala”

Dalam tulisan sebelumnya (Petunjuk Menemukan Tanah Suci “Shambala“) telah saya ulas beberapa hal yang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan pegunungan Latimojong memiliki keterkaitan kuat dengan “tanah suci  Shambala”, tanah mitos yang telah dicari selama ribuan tahun.

Semua literatur yang membahas tentang tanah suci Shambala selalu menyebut letaknya berada di dalam tanah. Dan oleh karena ini, Shambala terkadang dikait-kaitkan pula dengan Agartha atau Agarthi, Sebuah kerajaan legendaris yang dikatakan terletak di inti bumi. Ini terkait dengan kepercayaan yang cukup berkembang dan populer di kalangan esoterisme bahwa bumi berlubang di bagian dalam inti.

Dunia Rahasia “Agartha”

Konsep Agartha dipopulerkan pertama kali oleh Okultis Prancis abad kesembilan belas Alexandre Saint-Yves d’Alveydre. Menurutnya, dunia rahasia “Agartha” dan semua kebijaksanaan dan kekayaan yang ada padanya, akan dapat diakses oleh seluruh umat manusia, ketika agama Kristen memenuhi perintah yang pernah dirancang oleh Musa dan Tuhan, yang berarti “Ketika Anarki yang ada di dunia kita digantikan oleh Sinarki .”

Saint-Yves memberikan deskripsi yang hidup tentang “Agartha” dalam tulisannya, seolah-olah itu adalah tempat yang benar-benar ada, terletak di Himalaya di Tibet. Ia menulis tentang “lokasi rahasia” ini dalam bukunya “Mission de l’Inde en Europe” yang diterbitkan pada tahun 1886, setelah pada tahun 1885, ia konon dikunjungi oleh sekelompok Inisiat dari Timur, salah satunya bernama pangeran Hardjij Scharipf. 

Lalu, karena khawatir bahwa dia telah mengungkapkan terlalu banyak dan tampaknya di bawah pengaruh kontak orientalnya, dia menghancurkan semua kecuali dua salinan buku. Salah satunya dimiliki oleh Gerard Encausse alias Papus, yang kemudian mengedit dan menerbitkannya pada tahun 1910. 

Nubuat Shambala

Kalacakra adalah teks di mana narasi Shambhala pertama kali dibahas secara luas. Kalacakra merujuk pada pengajaran dan praktik esoterik yang rumit dan maju dalam Buddhisme Tibet. 

Narasi Shambhala ditemukan dalam tantra Kalacakra, yang diperkenalkan ke Tibet pada sekitar abad ke-11. Ini mungkin se-zaman dengan waktu kedatangan Atisa Dipankara Srijnana di Tibet. Ia adalah seorang tokoh utama dalam penyebaran Buddhisme Mahayana dan Vajrayana abad ke-11 di Asia, yang dianggap sosok yang paling menginspirasi pemikiran Buddha di Tibet. 

Yang menarik, Atisa diketahui pernah datang ke Sriwijaya dan tinggal di sana selama 12 tahun untuk belajar. Di sana ia berguru pada Dharmakirtisri juga dikenal dengan sebutan Kulanta dan Suvarnadvipi Dharmakirti, yang dianggap sebagai guru paling penting atau guru kunci Atisa. Namanya mengacu pada wilayah yang ia tinggali, yaitu Suvarnadvipa atau Sumatera hari ini.

Kalacakra menubuatkan bahwa ketika kehidupan dunia memburuk akibat jatuh dalam perang dan keserakahan, dan semuanya hilang, raja Kalki ke-25 Maitreya akan muncul dari Shambhala, dengan pasukan besar untuk menaklukkan “Pasukan Kegelapan” dan mengantarkan Zaman Emas di seluruh dunia.