Temuan Jejak Migrasi Nabi Ibrahim 4200-an Tahun Lalu [update]

Menelusuri jejak hijrah atau migrasi Nabi Ibrahim pada masa lalu adalah hal yang penting, karena terkait erat dengan sebuah hadist Nabi Muhammad yang menyebutkan: “ada hijrah setelah hijrah… Orang-orang akan menuju ketempat Nabi Ibrahim pernah hijrah…”

Pertanyaannya, dimanakah sesungguhnya letak tempat hijrah Nabi Ibrahim tersebut?

Dalam tulisan sebelumnya (“Siang River” (Sungai Siang) Nama lain Sungai Brahmaputra, Bukti Kaum Madyan Berasal dari Kawasan Benggala), telah saya ulas mengenai kemungkinan nama Madyan (putra Nabi Ibrahim dari Istrinya yang bernama Keturah) berasal dari nama wilayah di mana ia lahir, yaitu ‘Madhyanagar’ yang artinya ‘Negeri tengah’ dalam bahasa Sanskrit ataupun bahasa India dan Bengali.

Telah pula saya jelaskan dalam tulisan “Temuan Jejak (Terkini) Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran” bahwa sebutan nama Madhyanagar yang meliputi wilayah Bangladesh dan sekitarnya pada hari ini (termasuk negara bagian india; Meghalaya dan Assam), berasal dari konsep pembagian wilayah di muka bumi di masa kuno, yang menempatkan wilayah tersebut tepat di tengah-tengah antara wilayah timur dan wilayah barat bumi.

Hal tersebut, bahkan hingga hari ini dapat kita saksikan kebenarannya, dengan mencermati bahwa wilayah tersebut berada di garis bujur 90 derajat, dengan merujuk pada konsep modern bahwa titik meridian (0 derajat) berada di Greenwich, dan Anti meridian (titik garis bujur 180 derajat) berada di ujung timur, yakni di wilayah Tuvalu (sebuah negara di samudera pasifik). 

Adanya bukti kuat bahwa Madyan putra Nabi Ibrahim terlahir di wilayah Benggala, membuka dugaan lain jika Nabi Ibrahim pun pernah pula hadir di wilayah ini. Mengenai dugaan ini, telah pula saya ulas dalam tulisan lainnya (“Meghalaya” Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui (dan Sebagai Wilayah Tujuan Hijrah Nabi Ibrahim di Masa Kuno).

Dalam tulisan tersebut, saya menunjukkan bahwa mencermati tahun masa hidup Nabi Ibrahim yakni sekitar 2166 SM membuka ruang hipotesis lain bahwa bencana kekeringan yang menyebabkan Nabi Ibrahim melakukan hijrah atau migrasi (diisyaratkan dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 26, dan banyak diriwayatkan dalam tradisi agama samawi), memiliki korelasi dengan bencana kekeringan panjang (Megadrought) yang terdeteksi oleh ilmuwan geologi memang pernah terjadi dikisaran 4200 tahun yang lalu, atau di masa hidup Nabi Ibrahim. 

Dalam tulisan itu juga, saya memaparkan beberapa bukti jika tujuan dari Migrasi Nabi Ibrahim adalah kawasan Teluk Benggala. 

Untuk lebih mendukung hipotesis saya terkait subyek ini, dalam tulisan kali ini saya akan kembali memaparkan beberapa hal, yang bisa dikatakan sebagai “jejak migrasi Nabi Ibrahim” di wilayah Benggala,  yang kali ini sumber informasinya berasal dari kepercayaan kuno komunitas ‘Dimasa’, penduduk asli di wilayah Assam dan sekitarnya.

Temuan Jejak (Terkini) Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran

Orang Madyan, Aikah dan Rass adalah kaum yang diriwayatkan mendapat azab di dalam Al Quran.

Kepada kaum Madyan dan Aikah, Al Quran secara jelas menyebutkan Syuaib sebagai nabi yang diutus untuk memberi peringatan.

Sementara itu, untuk kaum Rass meskipun Al Quran tidak menyebut siapa nabi yang diutus kepada mereka, tetapi ada banyak riwayat dalam tradisi Islam yang menyebutkan jika nabi Syuaib yang diutus kepada mereka, sebagian lagi menyebutkan seorang nabi bernama Hanzhalah bin Shafwan.

Mengenai letak wilayah ketiga kaum ini, pada umumnya para ahli berpendapat jika kaum Madyan dan kaum Aikah adalah sama atau setidaknya letak wilayahnya berdekatan, yaitu di wilayah semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”).

Sementara itu untuk wilayah komunitas Rass, hingga saat ini tidak jelas, terutama karena begitu banyak pendapat yang berbeda yang muncul terkait mereka.

Menurut Ibnu Jurayj dari Ibnu ‘Abbas,  komunitas Rass adalah penduduk negeri Tsamud (yang berarti merujuk pada kawasan pegunungan semenanjung Arab bagian utara, antara Hijaz dan Tabuk. Karena negeri Tsamud oleh banyak cendikiawan diperkirakan berada di kawasan tersebut, setelah sebelumnya bermigrasi dari semenanjung Arab Selatan). 

Menurut pendapat Yunus bin Abdul A’la, komunitas Rass terletak di Yamamah yang lebih dikenal dengan nama Falaj, sedangkan menurut pendapat Ibnu Abi Hatim dan cendikiawan muslim lainnya mengatakan, bahwa penduduk itu terletak di Azerbaijan. (sumber di sini)

Kita mendapat gambaran profil komunitas Rass yang cukup informatif dari penjelasan Ali bin Abu Thalib mengenai Ashabur Rass, yang mengatakan bahwa: 

“Kaum Rass adalah sebuah kaum yang menyembah pohon sanobar, yang diberi nama Syah Dirakht, secara bahasa memiliki arti “Raja Pohon”. Dikatakan bahwa yang pertama kali menanam pohon itu adalah Yafith bin Nuh pasca badai topan di tepian mata air, mata air tersebut dikenal dengan sebutan Rowsyan Oub. 

Kaum Rass memiliki dua belas desa yang makmur di tepian sungai yang dinamakan Sungai Rass. Desa-desa tersebut bernama Oban, Odzar, Die, Bahman, Isfand, Farwadin, Ordi Bahsyt, Khordad, Murdad, Tiir, Mihr, dan Syahriwar, kemudian nama-nama desa tersebut oleh Bangsa Persia dijadikan nama-nama bulan dalam sistem penanggalan mereka.

Penduduk desa tersebut menanam pohon sanobar di setiap desa. Mereka mengairinya dengan irigasi yang berpusat di pohon sanobar tersebut. Mereka juga mengharamkan diri untuk minum dari air tersebut, baik untuk diri mereka atau ternak mereka. Mereka membuat aturan siapa yang meminumnya, maka akan dibunuh. Mereka meyakini, bahwa pohon sanobar tersebut dianggap sebagai Hayat al-Ilahiyah (Kehidupan Ketuhanan), maka terlarang bagi siapapun untuk mengambil kehidupannya.

Dijelaskan juga bahwa komunitas Rass mengadakan perayaan sehari pada setiap bulan sebagai event dimana persembahan dari masing-masing desa dilangsungkan. Puncak hari raya mereka disebut Isfandr.

Jejak Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab

Nabi Syu’aib dan orang Madyan dikisahkan dalam Al Quran, pada surat Al-A’raf, ayat 85: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib . Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. 

Dari bunyi ayat ini tergambar jika orang-orang Madyan adalah bangsa pedagang. Lalu, dimanakah sesungguhnya tanah orang-orang Madyan ini?

Menurut William G. Dever dalam bukunya Who Were the Early Israelites and Where Did They Come From? (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 2003. hlm. 34), Tanah alkitabiah Midian terletak di Semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”). 

Beberapa ahli berpendapat bahwa “Midian” tidak merujuk ke tempat geografis atau suku tertentu, tetapi merupakan konfederasi atau “liga” suku yang disatukan secara kolektif untuk tujuan ibadah.

Paul Haupt yang pertama kali mengajukan saran ini pada 1909, menggambarkan Midian sebagai “kolektif kultus” (Kultgenossenschaft) atau “amphictyony“, yang berarti “asosiasi (Bund) dari berbagai suku di sekitar tempat perlindungan atau tempat suci.” Elath, di ujung utara Teluk Aqaba diusulkan sebagai lokasi kuil pertama, sementara tempat perlindungan kedua terletak di Kadesh.

Berikut ini pernyataan William J. Dumbrell terkait pendapat ini…

Catatan alkitabiah tentang aktifitas orang Midian atau kelompok terkait pada akhir Zaman Perunggu Akhir menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang tampak di mana-mana. Mereka ditemukan tidak hanya di wilayah Horeb/ Sinai dan juga di Mesir, tetapi juga mengangkangi rute perdagangan utara-selatan, di dataran Moab (…) 

Jelas bahwa, bahkan bagi para penulis Alkitab, mereka adalah entitas yang sukar dimengerti dan membingungkan, yang hanya sedikit diketahui secara langsung. Mereka banyak dikaitkan dalam hubungannya dengan banyak kaum. 

Pembicaraan tentang mereka umumnya dikaitkan dengan kelompok-kelompok lain dan kepada Israel itu sendiri, di mana para penulis Alkitab secara alami jauh lebih tertarik. 

Dalam kaitannya dengan Israel dalam periode pembentukan bangsa setelah Eksodus dan pengembaraan di padang gurun, orang-orang Midian terbukti telah meninggalkan stempel sosiologis mereka pada banyak lembaga awal Israel. Sementara pada saat yang sama mereka menyusup ke tingkat tertentu di tetangga Israel yang berdekatan di Palestina selatan dan daerah Transyordania. 

Tetapi mereka juga terkait dengan orang Edom, orang Keni, orang Ismael, Hagar, dan Kenizz, sementara setidaknya ada hubungan dengan orang Amalek dan Moab, dan mungkin dengan Amon.(…)

Ini Alasan Pada Masa Kuno Nusantara Disebut Negeri Sabah atau Negeri Pagi (Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno)

Dalam tulisan saya sebelumnya (Negeri Sabah atau Negeri Pagi, Identitas Nusantara di Masa Kuno dan Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba) telah saya bahas mengenai hipotesis Nusantara sebagai “Negeri Saba” atau “Negeri Pagi”, dengan asumsi bahwa kata “saba” berasal dari bahasa Arab “sabah” yang berarti “pagi”.

Hipotesis ini tentunya memunculkan pertanyaan selanjutnya, bahwa jika ada yang disebut “Negeri Pagi”, apakah ada pula yang disebut “Negeri Siang”, “Negeri Sore”, dan “Negeri matahari terbenam”?

Ternyata, penelusuran yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini dapat membuktikan keberadaan semua negeri tersebut.

Ini yang kemudian mendasari kesimpulan saya bahwa telah ada pembagian zona waktu di masa kuno, yang kuat dugaan saya dilakukan oleh Bangsa Matahari.

Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno

Yang menarik karena Pembagian waktu ini, jika dicermati, nampaknya erat kaitan dengan pembagian waktu ibadah harian dalam tradisi Yahudi, umat Kristiani, maupun Islam.

Sebagaimana kita ketahui, Lima waktu shalat yang dikenal dalam Islam – yang didasarkan pada posisi matahari, yaitu: Fajar (ketika Matahari terbit), Lohor atau Dhuhur (ketika matahari tepat di atas kepala), Azhar (ketika posisi Matahari telah condong ke barat), Maghrib (matahari terbenam) dan Isya (malam). 

Sementara itu, dalam praktek Kristiani, jam kanonik, yaitu jadwal tradisional siklus monastik doa harian – terbagi dalam beberapa pembagian waktu, yaitu: Matins (Tengah Malam); Lauds (sekitar 3 AM); Prime: 6-9 AM (matahari terbit dan pagi hari); Underne (Terce): 9-12 AM (pagi); Sexte: 12-3 PM (siang); None: 3-6 PM (sore); Vesper (Senja/Maghrib): 6-9 PM (malam); Compline: 9 PM. (Jeffrey L. Forgeng, Will McLean. Daily Life in Chaucer’s England.  Greenwood Press, 2009, hlm. 69-70)

Dapat kita lihat bahwa pembagian waktu-waktu ibadah yang terdapat dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristiani, nampak nyaris tidak ada bedanya dengan waktu-waktu shalat harian dalam tradisi Islam. Hanya saja di dalam Islam, waktu shalat di jam 9 pagi, yaitu shalat Dhuha, tidak masuk dalam shalat wajib yang lima waktu, tapi hukumnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Pembagian waktu-waktu ibadah tersebut berinterval waktu 3 jam, yang dalam pembagian garis bujur bernilai 45 derajat . Jadi, jika merujuk penentuan titik meridian 0  derajat berada di Greenwich (sebagaimana yang berlaku di dunia moderen) maka, nilai masing-masing waktu tersebut adalah:

  • jam 6.00 (terbit fajar diujung timur) berada di garis bujur 180 derajat;
  • jam 9.00 (pagi) berada di garis bujur 135 derajat;
  • jam 12.00 (siang) berada di garis bujur 90 derajat;
  • jam 15.00 (sore) berada di garis bujur 45 derajat;
  • jam 18.00 (terbenam matahari) berada di garis bujur  0 derajat.

Dapat diduga bahwa nilai sudut dari jam-jam tersebut adalah nilai sudut posisi Matahari di langit dilihat dari bumi.

Lahore “Negeri Tengah” Kedua, Setelah Negeri Madyan Terkena Azab

Lahore adalah kota kuno yang terletak di tepi sungai Ravi (sungai lintas batas antara India dan Pakistan). Dalam beberapa buku sejarah ia disebut juga dalam bentuk Lahur dan Lahavar.  (Muammad Baqir. Lahore, Past and Present: Being an Account of Lahore Compiled from Original Sources. 1984: 20)

Namun begitu, sampai saat ini, tidak ada bukti konklusif untuk menetapkan kapan tepatnya Lahore didirikan atau asal-usul yang tepat dari etimologi nama tersebut.  

Beberapa sumber mengatakan nama kota itu berasal dari kata “Loh” atau “Lava”, putra Rama dalam puisi epik Hindu kuno, Ramayana.

Sebuah legenda lainnya yang didasarkan pada tradisi lisan menyatakan bahwa Lahore dikenal di zaman kuno sebagai Lavapuri (Kota Lava dalam bahasa Sanskerta). (Braz A. Fernandes. Annual bibliography of Indian history and Indology, Volume 4. 1946: 257)

Ptolemy menyebutkan di dalam Geographia-nya sebuah kota bernama Labokla yang terletak di dekat Sungai Chenab dan Ravi yang mungkin mengacu pada Lahore kuno. (Charles Umpherston Aitchison. Lord Lawrence and the Reconstruction of India Under the British Rule. 1905: 54)

Dokumen otentik tertua tentang Lahore ditulis secara anonim pada tahun 982. Dokumen tersebut bernama  udud al-Alam, Artinya: “Batas Dunia” (udud al-Alam “The Regions of the World”. Translate and Explained by Vladimir Minorsky. 1930) – adalah sebuah buku geografi abad ke-10 yang ditulis dalam bahasa Persia oleh seorang penulis tak dikenal dari provinsi Guzgn, di tempat yang dikenal sebagai Jowzjan wilayah Afghanistan utara sekarang ini.

Buku itu didedikasikan untuk pangeran lokal dari keluarga Farigunid, Amir Abul-Harith Muhammad b. Ahmad. Judul lengkapnya adalah  “udud al-Alam min al-Mashriq ila l-Maghrib (Batas Dunia dari Timur ke Barat)[Ibid, hlm 30]. 

Dalam bahasa Inggris, judul buku ini juga diterjemahkan sebagai “The Regions of the World” setelah terjemahan Vladimir Minorsky tahun 1937, di mana pada catatan kaki Vladimir Minorsky mengomentari judul tersebut sebagai berikut:

…Kata udud (“batas” benar, atau “batas” tepat) yang dalam hal ini pembuktiannya mengarahkan kita pada ‘wilayah dengan batas-batas yang jelas’ di mana dunia dibagi dalam buku udud al-Alam. …seumpama saya menggunakan kata “wilayah” untuk naiyat, akan lebih baik mungkin, dengan menerjemahkan udud al-Alam sebagai “Batas Wilayah-wilayah di dunia. [Ibid, hlm vii]

Hal yang menarik perhatian saya terhadap buku udud al-Alam adalah judul aslinya, yakni “Batas dunia dari timur ke barat”, kalimat ini dapat dikatakan sesuai dengan perkiraan saya bahwa Negeri Tengah memang dipindahkan ke wilayah ini. 

Dalam tulisan sebelum, yang berjudul “Jejak yang Hilang dari Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab” telah saya bahas negeri tengah pertama (sebelum dipindahkan ke Lahore) berada di wilayah Bangladesh hari ini. Di sana ada toponim Madhyanagar Bazar, yang dalam bentuk Bengali adalah “Madhyanagara bajara” (Madya = tengah atau pertengahan, nagara = kota, bajara = pasar. Jadi Madhyanagar Bazar artinya: Pasar Negeri Tengah).

Temuan Jejak Migrasi Nabi Ibrahim 4200-an Tahun Lalu

Menelusuri jejak hijrah atau migrasi Nabi Ibrahim pada masa lalu adalah hal yang penting, karena terkait erat dengan sebuah hadist Nabi Muhammad yang menyebutkan: “ada hijrah setelah hijrah… Orang-orang akan menuju ketempat Nabi Ibrahim pernah hijrah…”

Pertanyaannya, dimanakah sesungguhnya letak tempat hijrah Nabi Ibrahim tersebut?

Dalam tulisan sebelumnya (“Siang River” (Sungai Siang) Nama lain Sungai Brahmaputra, Bukti Kaum Madyan Berasal dari Kawasan Benggala), telah saya ulas mengenai kemungkinan nama Madyan (putra Nabi Ibrahim dari Istrinya yang bernama Keturah) berasal dari nama wilayah di mana ia lahir, yaitu ‘Madhyanagar’ yang artinya ‘Negeri tengah’ dalam bahasa Sanskrit ataupun bahasa India dan Bengali.

Telah pula saya jelaskan dalam tulisan “Temuan Jejak (Terkini) Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran” bahwa sebutan nama Madhyanagar yang meliputi wilayah Bangladesh dan sekitarnya pada hari ini (termasuk negara bagian india; Meghalaya dan Assam), berasal dari konsep pembagian wilayah di muka bumi di masa kuno, yang menempatkan wilayah tersebut tepat di tengah-tengah antara wilayah timur dan wilayah barat bumi.

Hal tersebut, bahkan hingga hari ini dapat kita saksikan kebenarannya, dengan mencermati bahwa wilayah tersebut berada di garis bujur 90 derajat, dengan merujuk pada konsep modern bahwa titik meridian (0 derajat) berada di Greenwich, dan Anti meridian (titik garis bujur 180 derajat) berada di ujung timur, yakni di wilayah Tuvalu (sebuah negara di samudera pasifik). 

Adanya bukti kuat bahwa Madyan putra Nabi Ibrahim terlahir di wilayah Benggala, membuka dugaan lain jika Nabi Ibrahim pun pernah pula hadir di wilayah ini. Mengenai dugaan ini, telah pula saya ulas dalam tulisan lainnya (“Meghalaya” Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui (dan Sebagai Wilayah Tujuan Hijrah Nabi Ibrahim di Masa Kuno).

Dalam tulisan tersebut, saya menunjukkan bahwa mencermati tahun masa hidup Nabi Ibrahim yakni sekitar 2166 SM membuka ruang hipotesis lain bahwa bencana kekeringan yang menyebabkan Nabi Ibrahim melakukan hijrah atau migrasi (diisyaratkan dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 26, dan banyak diriwayatkan dalam tradisi agama samawi), memiliki korelasi dengan bencana kekeringan panjang (Megadrought) yang terdeteksi oleh ilmuwan geologi memang pernah terjadi dikisaran 4200 tahun yang lalu, atau di masa hidup Nabi Ibrahim. 

Dalam tulisan itu juga, saya memaparkan beberapa bukti jika tujuan dari Migrasi Nabi Ibrahim adalah kawasan Teluk Benggala. 

Untuk lebih mendukung hipotesis saya terkait subyek ini, dalam tulisan kali ini saya akan kembali memaparkan beberapa hal, yang bisa dikatakan sebagai “jejak migrasi Nabi Ibrahim” di wilayah Benggala,  yang kali ini sumber informasinya berasal dari kepercayaan kuno komunitas ‘Dimasa’, penduduk asli di wilayah Assam dan sekitarnya.

Makna yang Terselubung dari Nama Nabi Syuaib

(gambar: momentmag.com/jethros-legacy)

Melalui studi perbandingan agama, kita dapat mengetahui jika yang dikenal sebagai nabi Shu’ayb dalam tradisi Islam adalah sama dengan seseorang yang bernama Yitro (Jethro) yang disebut di dalam Alkitab.

Hal ini dapat dikuatkan terutama dengan mencermati pernyataan dalam Al-Quran (surat Al Qasas ayat 23-28), yang membahas perjumpaan nabi Musa dengan seorang sheikh atau pemimpin kaum Madyan (yang oleh para ahli tafsir mengidentifikasinya sebagai nabi Shu’ayb), yang kemudian menikahkannya dengan salah seorang anak perempuannya. 

Lalu, dengan kisah senada yang diriwayatkan dalam Alkitab (Keluaran 18), yang menyebutkan Yitro, seorang gembala Keni dan pendeta kaum Midian, sebagai mertua Nabi Musa.

Hal yang perlu mendapat perhatian di sini adalah penyebutan Yitro sebagai seorang gembala suku Keni. 

Banyak kalangan menyebutkan bahwa ‘Keni’ adalah terjemahan bahasa Ibrani “Qeyniy”. Yang oleh Heinrich Friedrich Wilhelm Gesenius (1786-1842), seorang orientalis Jerman, dan kritikus Alkitab, dijelaskan bahwa nama tersebut berasal dari nama Kain (Qayin), putra pertama Nabi Adam.

Penjelasan nama suku Keni sebagai bentuk derivasi dari nama Cain putra Adam (sumber: www.blueletterbible.org)
Penjelasan nama suku Keni sebagai bentuk derivasi dari nama Cain putra Adam (sumber: http://www.blueletterbible.org)

Pemahaman bahwa suku Keni merupakan keturunan dari Cain inilah yang mendasari sebagian kalangan ada yang berpendapat jika suku Keni (suku nomaden yang mendiami wilayah kuno Levant) konon berasal atau bermigrasi dari Asia selatan. Dikarenakan, dalam tradisi agama Samawi (Yahudi, Kristen, maupun Islam) dipercaya bahwa Nabi Adam diturunkan di India.

Di sisi lain, data studi genetik mutakhir pun pada dasarnya telah menyiratkan adanya gelombang migrasi pada masa prasejarah yang berasal dari Asia selatan dan Asia Tenggara, yang menyebar ke Eurasia, Timur Tengah, hingga Eropa. (Lebih jauh mengenai hal ini Insya Allah akan saya bahas di lain waktu)

Selain Nama Shu’ayb dan Yitro, ada pula disebut nama “Reuel” disebut sebagai mertua Musa Dalam Alkitab Keluaran 2: 18, tetapi kemudian kembali disebut sebagai “Yitro” pada Keluaran 3: 1.

Fakta bahwa ada tiga nama (Shu’ayb, Yitro, dan Reuel) untuk satu orang yang sama, tidak perlu membuat kita memunculkan pertanyaan “mana nama yang asli?” karena bisa dikatakan semua asli dan memiliki nilai pemaknaan tersendiri. Berikut ini makna nama-nama tersebut…

Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno

Letak Madyanagar Bazar di Bangladesh (Dokpri)

Dalam tulisan saya sebelumnya (“Negeri Pagi”, Identitas Nusantara di Masa Kuno dan Nusantara sebagai “Negeri Saba” Menurut Beberapa Catatan Kuno) telah saya bahas mengenai hipotesis Nusantara sebagai “Negeri Sabah” atau “Negeri Pagi”, ini dengan asumsi bahwa kata “sabah” ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “pagi”.

Hipotesis ini tentunya memunculkan pertanyaan selanjutnya; bahwa jika ada yang disebut “Negeri Pagi” tentulah ada pula yang disebut “Negeri Siang”, “Negeri Sore”, dan “Negeri matahari terbenam”. Dan ternyata, penelusuran yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini dapat membuktikan keberadaan semua negeri tersebut. Inilah yang kemudian mendasari kesimpulan saya bahwa telah ada pembagian zona waktu di masa kuno, yang kuat dugaan saya dilakukan oleh Bangsa Matahari.

Yang menarik karena Pembagian waktu ini, jika dicermati, nampaknya erat kaitannya dengan pembagian waktu ibadah harian dalam tradisi Yahudi, umat Kristiani, maupun Islam.

Sebagaimana kita ketahui, Lima waktu shalat yang dikenal dalam Islam – yang didasarkan pada posisi matahari, yaitu: Fajar (ketika Matahari terbit), Lohor atau Dhuhr (ketika matahari tepat di atas kepala), Azhar (ketika posisi Matahari telah condong ke barat), Maghrib (matahari terbenam) dan Isya (malam). 

Sementara itu, dalam praktek Kristiani, jam kanonik, yaitu jadwal tradisional siklus monastik doa harian – terbagi dalam beberapa pembagian waktu, yaitu: Matins (Tengah Malam); Lauds (sekitar 3 AM); Prime: 6-9 AM (matahari terbit dan pagi hari); Underne (Terce): 9-12 AM (pagi); Sexte: 12-3 PM (siang); None: 3-6 PM (sore); Vesper (Senja/Maghrib): 6-9 PM (malam); Compline: 9 PM. (Jeffrey L. Forgeng, Will McLean. Daily Life in Chaucer’s England.  Greenwood Press, 2009, hlm. 69-70)

Dapat kita lihat bahwa pembagian waktu-waktu ibadah yang terdapat dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristiani — nampak nyaris tidak ada bedanya dengan waktu-waktu shalat harian dalam tradisi Islam. Hanya saja di dalam Islam, waktu shalat di jam 9 pagi, yaitu shalat Dhuha, tidak masuk dalam shalat wajib yang lima waktu, tapi hukumnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Pembagian waktu-waktu ibadah tersebut berinterval waktu 3 jam, yang dalam pembagian garis bujur bernilai 45 derajat . Jadi, jika merujuk penentuan titik meridian 0  derajat berada di Greenwich (sebagaimana yang berlaku di dunia), maka nilai masing-masing waktu tersebut adalah: jam 6.00 (terbit fajar diujung timur) berada di garis bujur 180 derajat; jam 9.00 (pagi) berada di garis bujur 135 derajat; jam 12.00 (siang) berada di garis bujur 90 derajat; jam 15.00 (sore) berada di garis bujur 45 derajat; jam 18.00 (terbenam matahari) berada di garis bujur  0 derajat. Dapat diduga bahwa nilai sudut dari jam-jam tersebut adalah nilai sudut posisi Matahari di langit dilihat dari bumi.

Dari kesemua waktu ibadah yang telah diuraikan di atas,  ada empat waktu yang saya perkirakan menjadi dasar penentuan zona waktu berdasarkan posisi matahari di langit siang hari, yaitu: waktu pagi, siang, sore, dan maghrib. Formasi pembagian zona waktu disusun berurutan dari timur ke barat. Metode penentuannya adalah menyelaraskan waktu fajar di zona tertentu dengan waktu yang ditunjukkan wilayah paling timur di bumi pada saat yang sama. Mengacu pada data peta, pulau Nukulaelae di Tuvalu adalah wilayah paling timur di bumi.

Berikut hasil pencarian keberadaan toponim yang identik dengan nama waktu-waktu ibadah agama Samawi, dan sebagai bukti adanya pembagian wilayah di bumi pada zaman kuno menurut posisi matahari di langit: