Dilmun: Tanah Suci Bangsa Sumeria, dan Hubungannya Dengan Nusantara

Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa Uruk dalam Alkitab disebut dengan nama “Erech”, di Yunani “Orchoi”, dan di Arab “al-Warka”.

Uruk yang dianggap sebagai “ibu dari semua kota,”  – terletak di dekat Sungai Efrat yang mengalir menuju Teluk Persia.

Penggalian arkeologi menunjukkan bahwa Uruk dimulai sebagai pemukiman kecil sekitar 5300 SM. (Michael Dumper, Bruce E. Stanley. Cities of the Middle East and North Africa: A Historical Encyclopedia. 2007 :  hlm. 384)

Selama periode Uruk, bangsa Sumeria menjadi lebih proaktif dalam perdagangan dengan negara tetangga mereka. Mereka mendirikan pos-pos perdagangan untuk mengendalikan perolehan sumber daya, seperti yang terletak di dalam pemukiman Hacinebi untuk memperoleh tembaga Anatolia.

Sumeria berhubungan erat dengan Susa dan Khuzestan, melalui mana mereka mengimpor tembaga dari Talmessi di dataran tinggi Iran. 

Pada 3000 SM, mulai dikenal teknologi pencampuran tembaga dengan timah untuk menghasilkan perunggu, membuatnya lebih keras dan karenanya lebih berguna. Setelah itu, tembaga dan perunggu semakin penting.

Riwayat mengenai seperti bagaimana dinamika bangsa Sumeria pada masa kuno, dapat kita temukan terekam dalam komposisi sastra Sumeria, Enmerkar and the lord of Aratta.

Karya sastra ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2700 SM, menceritakan bagaimana Enmerkar (raja Uruk), yang ingin membangun sebuah kuil untuk Dewi Inanna, menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan lapis lazuli, perak, dan emas dari Negara Aratta, yang kebetulan juga memuja Dewi Inanna.

Untuk mencapai tujuannya enmerkar berusaha menggertak raja Aratta dengan mengklaim bahwa sang dewi lebih menyukai Uruk. (Jane McIntosh. Ancient Mesopotamia: New Perspectives. 2005 : hlm. 133)

Mengenai bahasa orang Sumeria, David Frawley dalam bukunya Gods, Sages and Kings: Vedic Secrets of Ancient Civilization mengatakan bahwa bahasa Sumeria bukanlah bahasa Semit atau Indo-Eropa. Itu adalah bahasa aglutinatif ( (bahasa Latin: agglutinare, “direkatkan bersama”) yang mungkin terkait dengan Dravida. Secara rasial bangsa Sumeria tampaknya memiliki tipe Mediterania yang sama dengan orang-orang di wilayah itu. 

Dari catatan kuno, bangsa Sumeria diketahui memiliki tanah suci di Timur (Eden in the East) yang disebut “Dilmun” (Telmun atau Tilmun), tanah matahari terbit, yang mereka asosiasikan asal-usul mereka, dan di mana pahlawan banjir mereka, Ziusudra, dikatakan telah hidup abadi.

Terjemahan Thorkild Jacobsen tentang Eridu Genesis menyebutnya “Gunung Dilmun” – ia sebut sebagai “tempat yang jauh / tempat setengah mitos”.

Negeri Dilmun juga adalah negeri yang sebenarnya dengan siapa Sumeria berdagang sepanjang sejarah mereka. Pada prasasti raja Ur-Nanshe dari Lagash (c. 2300 SM) yang dianggap sebagai salah satu prasasti paling awal yang menyebutkan Dilmun misalnya, terdapat kalimat “”Kapal-kapal Dilmun membawakannya kayu sebagai upeti dari negeri asing.”

Siapa Sesungguhnya Orang Phoenicia?

Berbicara tentang bangsa Maritim di masa lalu, rasanya tidak akan lengkap jika tidak membahas bangsa Phoenicia. Phoenicia adalah bangsa maritim ulung, yang menurut catatan adalah bangsa yang membantu Nabi Sulaiman membuat armada laut, sehingga memungkin bangsa Ibrani mengarungi lautan. 

Hal ini sebagaimana yang diungkap Jawwad Ali dalam bukunya “Sejarah Arab sebelum Islam, Vol. I — Geografi, Iklim, Karakteristik, dan Silsilah (2018: 607),  Merupakan terjemahan dari judul asli: Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qabla al-Islam — Jawwad Ali (1968) – Yang nampaknya, disadur Jawwad Ali dari Kitab Raja-raja Pertama, Pasal 9 ayat 26:

“Sulaiman pergi ke laut untuk berdagang dengan negeri yang berada di pesisir-pesisir dan untuk mendatangkan barang-barang yang dibutuhkan bangsa Ibrani. Lalu, ia membangun armada dagang di Ashiyum Jabir (Ezion Geber) Teluk Aqabah, di sebelah Ailah (Ailut, Eloth Ilat, Elath) yang termasuk wilayah Adum. 

Teluk Aqabah dikenal dengan nama Laut mati, atau Yam-Soph dalam bahasa Ibrani. Sebelum bangsa Ibrani mengenal laut, Sulaiman meminta bantuan pada Hiram Raja Shur untuk menjalankan armada dan melatih bangsa Ibrani mengarungi lautan. Lalu, ia memenuhinya dengan para ahli dari Shur dan dibantu orang Sulaiman. Kemudian mereka mengarungi lautan hingga ke Ufir. Mereka mengambil emas dari sana sebanyak 420 timbangan dan diberikan kepada Sulaiman.

Hiram yang membantu Sulaiman membuat armada laut, adalah Raja Phoenicia dari Tirus (nama lain dari Sour atau Shur) menurut Kitab Ibrani. 

Hiram (huram atau horam) sebelum menjadi aliansi Sulaiman, juga merupakan sekutu Nabi Daud. Hiram banyak membantu Daud dalam pembangunan Istananya dengan mengirimkannya pekerja-pekerja yang terampil. 

Setelah kematian Daud, Hiram masuk ke dalam aliansi Sulaiman, yang sangat membantunya dalam membangun bait suci. Mengenai hal ini. berikut beberapa kutipan dari Kitab Ibrani:

  • 1 Raja-raja 5:1 — Ketika Hiram, raja Tirus mendengar bahwa Salomo telah menjadi raja yang diurapi untuk menggantikan ayahnya, Daud, ia mengirim utusannya kepada Salomo, karena ia selalu bersahabat dengan Daud.
  • 1 Raja-raja 9:11 — Raja Salomo memberi dua puluh kota di Galilea kepada Hiram, raja Tirus, karena Hiram telah memberinya semua kayu aras dan juniper dan emas yang diinginkannya.
  • 1 Raja-raja 9:27 — Dan Hiram mengirim orang-orangnya – pelaut yang tahu laut — untuk melayani dalam armada dengan orang-orang Salomo.
  • 1 Raja-raja 10:11 — (Kapal-kapal Hiram membawa emas dari Ofir, dan dari situ mereka membawa muatan besar dari kayu gaharu dan batu-batu berharga.
  • 1 Raja-raja 7: 13-14 — (13) Kemudian raja Salomo menyuruh orang menjemput Hiram dari Tirus. (14) Dia adalah anak seorang janda dari suku Naftali, sedang ayahnya orang Tirus, tukang tembaga; ia penuh dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan untuk melakukan segala pekerjaan tembaga; ia datang kepada raja Salomo, lalu melakukan segala pekerjaan itu bagi raja.

Dari kutipan dari Kitab Ibrani di atas, terlihat bahwa orang-orang Fenesia (Phoenicia) bukan saja ahli dalam hal kelautan, tapi ahli dalam pertukangan kayu dan pandai besi.

Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi

Upaya identifikasi letak kerajaan Ho-ling di Nusantara dengan merujuk kronik Cina kuno telah banyak dilakukan oleh para Ahli. Pembahasan mengenai hal ini oleh sejarawan modern bisa dikatakan telah berlangsung lebih dari seratus tahun.

Misalnya yang dibahas Junjiro Takakusu (1866-1945) dalam bukunya A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea, yang memuat terjemahan Nanhai Jigui Neifa Zhuan, yakni catatan perjalanan biksu yijing (I-Tsing) dari Dinasty Tang, yang merinci dua puluh lima tahun masa ia tinggal di India dan Nusantara antara tahun 671 – 695 M. Buku ini diterbitkan oleh Junjiro Takakusu pada tahun 1896.

Dalam rentang waktu pembahasan lebih dari seratus tahun tersebut, telah banyak pendapat yang muncul dari berbagai ahli terkait letak Ho-ling atau She-po yang dalam kronik Cina dinyatakan sebagai sebutan untuk suatu wilayah yang sama.

Berbagai perbedaan pendapat para ahli mengenai letak She-po atau Ho-ling telah saya urai dalam tulisan sebelumnya Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi, jadi dalam kesempatan ini saya hanya akan fokus pada hipotesis yang ingin saya sampaikan saja.

Dalam upaya penyusunan hipotesis ini tentu saja saya sangat memperhatikan pendapat yang diajukan oleh para ahli sebelumnya. Dengan demikian harapan seperti sebagaimana yang disampaikan O.W. Wolters bahwa “Suatu usaha untuk mencari She-po… di tempat lain selain dari Jawa haruslah didasarkan atas bukti baru dan meyakinkan,” (Early Indonesian Commerce – A Study of The Origins of Sriwijaya: 1967; 2011, hlm. 261) semoga saja dapat terpenuhi dalam hipotesis ini.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II – Zaman Kuno (2008, hlm. 119), diungkap rincian letak Ho-ling dengan merujuk berita dari zaman dinasti Tang, sebagai berikut: Ho-ling yang juga disebut She-po, terletak di laut selatan. Di sebelah timurnya terletak Po-li dan di sebelah baratnya tertelak To-po-teng. Di sebelah selatannya adalah lautan, sedang di sebelah utaranya terletak Chen-la… – informasi ini menjadi fokus pembahasan saya dalam tulisan ini dengan mengidentifikasi nama-nama wilayah yang disebutkan bersempadan dengan Ho-ling.

Sebelum membahas satu persatu toponim (nama wilayah) tersebut, saya akan kembali mengulas toponim kuno yakni karatuan yang saya identifikasi merupakan bentuk lain dari kata Kadatuan. dan bahwa persamaan kata karatuan dan kadatuan dapat kita lihat pada persamaan kata kdaton dan kraton, yang merupakan sebutan kompleks pusat pemerintah raja pada masa lalu.

Toponim “Karatuan” Saya temukan digunakan di 3 tempat di Sulawesi Selatan, yaitu: pertama, terdapat toponim “karatuan” di kecamatan basse sang tempe – kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; kedua, toponim “karatuang” di Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat; ketiga, toponim “karatuang” di kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. 

Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjabarkan suatu hasil upaya identifikasi berita dari kronik Cina (terutama dari masa dinasti Tang) tentang kerajaan Ho-ling, yang menunjukkan keidentikan dengan berbagai hal yang terdapat di pulau Sulawesi. 

Upaya identifikasi tersebut meliputi tinjauan kebiasaan masyarakat Ho-ling yang dikabarkan dalam kronik Cina (tinjauan antropologi), toponim atau penamaan wilayah (tinjauan linguistik), keunikan kawasan atau wilayah tertentu (tinjauan geografis) hingga penyebutan nama penguasa yang identik nama Raja/Datu dalam silsilah kedatuan Luwu, yakni: Simpurusiang dan Tampa Balusu (genealogi).

Menurut catatan Chiu T’ang shu (197: 3a) atau Old Tang History, Ho-ling terletak di sebuah pulau di selatan. Menurut Hsin Tang shu (222C: 3b) atau New Tang History, Ho-ling terletak di laut selatan menghadap Po-li di timur dan to-p’o-teng di barat. Kedua teks tersebut menyamakan Ho-ling dengan She-po.

Hirth dan Rockhill (Chao Ju-kua, p. 60) menyimpulkan bahwa Ho-ling adalah Jawa bagian barat dan mengusulkan bahwa nama itu adalah transkripsi dari Kalinga di India, dari mana para pemukim Hindu di Jawa sebagian besar dianggap berasal.

Namun, Gerini menempatkan negara itu di Semenanjung Melayu, sementara Schafer dalam “The Golden Peaches of Samarkand (p. 67) menyebutnya Kalinga dan menganggapnya sebagai sebuah negara di Jawa.

Hans Bielenstein (2005) dalam bukunya Diplomacy and Trade in the Chinese World, 589-1276, mengatakan Mungkin saja K’o-ling (Ho-ling) ada di Jawa, yang dalam hal ini adalah pendahulu She-po. 

Namun, catatan menunjukkan bahwa periode mereka tumpang tindih. Pelliot mencatat pengiriman utusan dari Ho-ling ke Tiongkok terjadi pada tahun 640 sampai 648, 666, 767, 768, 813, sampai 815 dan 818. Selama masa itu, tidak ada penyebutan nama She-po.

Kronik Cina dari zaman dinasti Sung Awal (420-470 M) ada menyebut nama She-po, yang berarti muncul sebelum masa pencatatan Ho-ling, lalu muncul kembali pada tahun 820 sampai tahun 856 M, yakni setelah nama Ho-ling tidak disebutkan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa utusan Ho-ling ataupun She-po dianggap sama oleh orang-orang Cina.

She-p’o: Menurut Sung shih (489: 15b) dan Wen-hsien t’ung-k’ao (332: 14b), terletak di laut selatan. Menurut Chao Ju-kua (1170–1228) seorang pemeriksa pabean di kota Quanzhou di Tiongkok pada masa Song akhir, She-po dapat dicapai dari Chuan-chou (Quanzhou) setelah perjalanan laut sekitar sebulan.

Sejarawan pada umumnya menganggap She-po adalah sebutan untuk Jawa, namun demikian, terdapat pula pendapat bahwa She-po yang dalam catatan Arab disebut Zabaj, adalah suatu tempat di Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Nusantara secara umum. Sehingga dapat dikatakan bahwa letak Ho-ling atau She-po pada dasarnya masih menjadi bahan perdebatan di antara para sarjana.

Slamet Muljana misalnya dalam buku Sriwijaya, mengatakan: Sudah terang bahwa pada zaman I-ts’ing, nama Jawa itu sudah dikenal di kerajaan Sriwijaya, karena pada piagam Kota Kapur yang dikeluarkan pada tahun 686 telah disebutkan bahwa “tentara Sriwijaya berangkat ke bhumi Jawa.” Tentunya I-Ts’ing juga mengenal piagam tersebut, setidak-tidaknya pernah mendengar nama Jawa, karena ia lama menetap di Sriwijaya. Lagi pula ia adalah orang yang mengagumi Fa-hien, padahal Fa-hien yang berangkat dari Tiongkok pada tahun 414 telah menyebut Jawadi, dan pada zaman dinasti Sung yang pertama (420-578), telah disebut pula nama Yawada; maksudnya Yawaswipa. 

Suatu kenyataan ialah bahwa I-Tsing menyebut Ho-ling. Andaikata yang dimaksud oleh I-Tsing adalah Jawa, pasti ia akan berusaha mendeskripsikan nama Jawa itu dengan ucapan Tionghoa yang mirip. Demikianlah, mungkin sekali bahwa yang dimaksud dengan Ho-ling itu memang bukan pulau Jawa.

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno (Bagian 2)

Dalam tulisan “Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno” telah saya bahas mengenai kata “tukar” (dalam bahasa Indonesia) yang saya duga berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (Turki), merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Orang Tocharia sendiri, oleh sarjana moderen dianggap sebagai orang Indo-Eropa yang mendiami negeri-negeri Oasis di tepi utara cekungan Tarim (hari ini masuk dalam wilayah Xinjiang, Cina) pada masa kuno.

Selain kata “tuccar” yang terkait dengan kata “tukar” dalam bahasa Indonesia, di kawasan ini ada pula sebutan “suli“, yaitu sebutan orang Khotan bagi semua pedagang yang berinteraksi dengan mereka.

Informasi ini terdapat dalam buku Russell Fraser yang berjudul “Sojourner in Islamic Lands“. Dalam buku ini Russell Fraser mengungkap: “Orang-orang Khotan mengenal semua pedagang sebagai “suli”, [yaitu] sebutan [khusus] untuk orang Sogdiana, walau pun pada kenyataannya bisa jadi pedagang itu bukan orang Sogdiana.

Yang menarik karena dalam bahasa tae’ (bahasa daerah yang digunakan di Sulawesi selatan) terdapat kata “Suli” yang artinya: “mahal”. Tentunya makna dalam bahasa Tae’ ini ada keterkaitan dengan penyebutan “Suli”  bagi kelompok pedagang, bahwa mungkin mereka disebut demikian karena barang dagangan mereka yang mahal harganya.

Di sisi lain, seperti halnya kata “tukar“, kata “suli” ini pun pada dasarnya menunjukkan adanya jejak Nusantara di Asia Tengah pada masa kuno.

Dalam buku “Jalur Sutra: Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” yang pada halaman 71 hingga halaman 86, Frances Wood memang ada membahas bahwa Penyebaran perdagangan dan agama di wilayah Asia tengah pada zaman kuno dilakukan oleh orang-orang Tocharia dan Sogdia.

Jadi, dapat kita lihat bahwa dua bangsa yang mendominasi perdagangan di Asia tengah pada zaman kuno, pada kenyataannya, memiliki “hubungan” dengan kata dalam bahasa di Nusantara yang akrab digunakan dalam aktifitas perdagangan. Yakni kata “tukar” (bahasa Indonesia) terkait dengan bangsa Tocharia, dan kata “Suli” (bahasa Tae’ artinya “mahal”) yang terkait dengan bangsa Sogdia.

Terhadap hal ini, kita bisa saja membangun asumsi bahwa bangsa Tocharia dan bangsa Sogdia bisa jadi adalah dua bangsa dari Nusantara yang bermigrasi ke wilayah Asia tengah pada zaman kuno, dan karena menguasai kemampuan navigasi pelayaran, maka, sebagian dari mereka dapat pulang pergi ke Nusantara untuk mendapatkan barang dagangannya.

Terlebih lagi, barang-barang yang mereka perdagangkan memang merupakan produk khas dari wilayah Nusantara.

Ini sebagaimana yang diungkap Russell Fraser terkait produk yang diperdagangkan oleh orang Suli atau Sogdia: “mereka berdagang rempah-rempah, …jenis obat-obatan [herbal], pewarna buah-buahan eksotis, tanaman kuliner seperti jintan, kulit kayu manis, dan jahe dalam lima jenis yang berbeda.”

Di Tanah Berbentuk Kuda Ini Makam Ratu Sima

sebidang tanah berbentuk kuda di tepi sungai Ussu yang terindikasi merupakan spot makam Ratu Sima atau Datu Simpurusiang. (Dokumen pribadi)

Dalam tulisan sebelumnya (Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi) saya telah mengidentifikasi bahwa Kerajaan Ho-ling berada di pulau Sulawesi. Ini didasari oleh karena beberapa fakta terkait Ho-ling yang disebutkan dalam kronik cina pada kenyataannya teridentifikasi berada di pulau ini.

Untuk mengiringi pembahasan tulisan ini, sebagian informasi dari kronik Cina tersebut akan kembali saya kutip.

Dalam buku “Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII” hlm. 258, O.W.  Wolters mengutip kronik cina tentang ho-ling sebagai berikut: “Di pegunungan terdapat gua-gua, dan dari dalam gua mengalir garam. Penduduk negeri ini mengumpulkan garam itu dan memakannya.”

Keberadaan air garam di dataran tinggi pegunungan memang merupakan hal yang unik dan layak dicatat dan digunakan sebagai petunjuk ciri geografis suatu wilayah. Hal semacam ini, kebetulan dapat kita temukan di wilayah kaki gunung Latimojong di Sulawesi selatan.

Pada masa lalu, untuk kebutuhan garam, penduduk di kaki gunung latimojong seperti di wilayah Tibusan hingga Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, biasanya membasahi daun tertentu dengan air asin dari sumber mata air garam yang berada di wilayah mereka lalu menjemurnya. ketika memasak, daun yang telah memiliki kristal garam tersebut tinggal mereka celupkan di masakan tersebut.

Di Wilayah Rante Balla, Kabupaten Luwu, baru-baru ini ditemukan mata air dengan kadar garam tinggi, sehingga rasanya terasa sangat asin.

Desa Rante Balla – kabupaten Luwu, berada di kaki gunung Latimojong, tempat ditemukan mata air asin berkadar garam tinggi (Dokpri)
Mata air asin yang ditemukan di Desa Rante Balla, kabupaten Luwu. (sumber: Dinas Pariwisata Kab. Luwu)

Sumber air garam sebagai tanda khusus atau unik Kerajaan Ho-ling ini, oleh para Peneliti sebelumnya yang berpendapat jika Ho-ling berada di pulau  Jawa kemudian mengidentifikasikannya sebagai bledug kuwu di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, yang mana lumpur yang keluar dari kawah tersebut memang mengandung air garam, dan oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dipakai sebagai bahan pembuat garam.

Masalahnya, Desa Kuwu (tempat “bledug kuwu”) berada di dataran rendah (40-50 meter dari permukaan laut), jadi bukan berada diketinggian pegunungan, sebagaimana yang disebutkan dalam kronik Cina. Sementara itu kawasan Desa Rante Balla yang berada di kaki pegunungan Latimojong berada di ketinggian yang bervariasi kisaran 500-1500 mdpl.

Sumber air garam yang berada di pegunungan memang suatu hal yang unik dan langka, sehingga tepat jika kronik Cina menjadikannya sebagai salah satu hal yang spesifik tentang negeri Ho-ling. Demikianlah, Keunikan sumber air garam di kaki pegunungan Latimojong tersebut dapat menjadi petunjuk yang jelas dan nyata untuk mengidentifikasi letak Ho-ling yang sesungguhnya.

“Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut.” – nama ini persis sama dengan nama gunung langpiya (atau “lampia” dalam pengucapan aksen lokal) di wilayah Luwu Timur. 

“Negeri Timur Laut” Sebutan Kawasan Nusantara di Masa Kuno

Pada tulisan sebelumnya (Rahasia Kuno yang Terpendam di Gunung Latimojong) telah saya jabarkan hipotesis bahwa di masa kuno, selain disebut sebagai “negeri sabah” atau “negeri pagi”, wilayah Nusantara juga disimbolisasikan dengan sebutan “negeri timur laut”.

Bagi yang belum membaca tulisan sebelumnya, saya sangat menyarankan agar terlebih dahulu membaca tulisan tersebut, sehingga dapat dengan mudah mengikuti pembahasan dalam tulisan ini.

Baik, mari kita mulai…

Dalam teks Cina kuno, Sui shu (kitab sejarah dinasti Sui), yang disusun oleh Wei Zheng (580-643 M) terdapat informasi bahwa negara Zhenla atau Chen-la pada sekitar awal abad ke-7 diperintah oleh Zhiduosina dan Yishinaxiandai, yang ibukotanya disebut “Isanapura.”

Nama Isanapura oleh para sejarawan dianggap berasal dari bahasa Sanskerta “Isana” yang berarti “timur laut”. Anggapan ini sangat mungkin berasal dari pemahaman konsep Dikpala (penjaga arah) yang terdapat dalam tradisi Hindu.

Asta-Dikpala atau “Penjaga dari delapan arah”, terdiri dari: Kubera (penjaga arah utara), Vayu (penjaga arah barat laut), Varuna (penjaga arah barat), Nirrti (penjaga arah barat daya), Yama (penjaga arah selatan), Agni (penjaga arah Tenggara), Indra (penjaga arah timur), Isana (penjaga arah timur laut).

Mengenai letak Isanapura sebagai ibukota Zhen-la, sejarawan dunia pada umumnya menempatkannya di Wilayah Kamboja hari ini.

Namun klaim penempatan Chen-la di wilayah kamboja telah saya beri sanggahan pada tulisan saya yang berjudul: Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi. Sesuai judulnya, tulisan tersebut berisi hipotesis saya yang mengidentifikasi letak Ho-ling di Pulau Sulawesi.

Klaim para sejarawan yang menempatkan Zhen-la di wilayah Kamboja hari ini, sebenarnya mudah dilihat sebagai sebuah bentuk klaim yang dipaksakan.

Transkripsi Toponim yang disebut dalam berita cina terlihat begitu mudah dikait-kaitkan dengan toponim tertentu di Kamboja saat ini, yang pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki keidentikan jika ditinjau menurut struktur fonetisnya.

Dan berikut ini beberapa informasi dari catatan cina kuno mengenai Zhen-la yang menguatkan indikasi jika sesungguhnya Zhen-la yang dimaksud dalam kronik Cina letak sesungguhnya adalah di pulau Sulawesi.

Dalam artikel mengenai Zhen-la di halaman chinaknowledge.de disebutkan sebagai berikut:

dicapture dari halaman web http://www.chinaknowledge.de yang membahas tentang Zhenla (dokpri)

Dalam artikel yang saya capture di atas, disebutkan jika ibukota Zhenla selain disebut Isanapura ( Yi-shang-na-bu-lu-o / Yi-she-na-bu-luo) pernah pula “Wuge ” yang dalam buku Zhufanzhi disebut “Luwu.”

Selanjutnya di bagian akhir disebutkan bahwa Zhenla terpecah menjadi dua kerajaan, yakni “Lu Zhenla” (Zhenla tanah) dan “Shui Zhenla” ( Zhenla air). Lu Zhenla juga disebut “Wendan” atau “Polou”.

Toponim wuge, Luwu dan Polou yang disebut dalam artikel di atas jika dicermati sesungguhnya identik dengan entitas nama wilayah yang ada di pulau sulawesi.

“Wuge” dapat kita lihat identik dengan “wugi – ugi – bugis”, “Luwu” jelas identik dengan “Luwu” atau kadang juga tertulis dengan ejaan: luu-luhu-loeo (merupakan kerajaan tertua dan terbesar di pulau Sulawesi), dan “polou” dapat kita lihat identik dengan “palu” (yang merupakan nama ibukota Sulawesi tengah pada hari ini).

Dalam peta wilayah Sul-teng ini terlihat nama

Selanjutnya, Pembahasan mengeni Zhenla yang bernada sama dengan tulisan di atas, dan sebenarnya jauh lebih detail, dapat kita temukan pada buku “Zhu Fan Zhi” yang merupakan catatan dari Dinasti Song. Disusun pada sekitar abad ketigabelas oleh Zhao Rukuo (1170-1231).

Lu-wu disebut sebagai ibukota kerajaan Chen-la dalam buku “Zhu Fan Zhi”

Pada halaman 52, bagian yang membahas Chen-la sebagai toponim yang dianggap sebagai nama kuno Kamboja, disebutkan bahwa Chon-la terletak di selatan Chan-ch’ong; di sebelah timurnya laut; di baratnya P’u-kan; di selatan Kia-lo-hi.

Dari Ts’uan-chou, berlayar dengan angin yang baik, dapat mencapai negara ini dalam waktu satu bulan atau lebih. Negara ini mencakup sepenuhnya 7000 persegi li. Ibu kota kerajaan disebut Lu-wu. Tidak ada cuaca dingin. (Di bawah ini saya lampirkan capture dari buku “Zhu Fan Zhi” terkait uraian ini)

Dicapture bagian buku Zhu Fan Zhi yang menyebut nama Lu-wu. (Dokpri)

Dan berikut ini kurang lebih penjelasan mengenai “Lu-wu” yang terdapat pada bagian catatan kaki: Pada abad ketujuh ibukota Cho-la disebut I-sho-na-ch’ong (…) Nama Lu-wu tampaknya menunjuk ke Lovek [pada googlemap tertulis “Longvek”], reruntuhan kota ini masih terlihat 10 kilometer utara dari wilayah Udong [pada googlemap tertulis Oudongk]. (…) tapi Pelliot, (…) mengatakan bahwa Lovek hanya menjadi ibu kota Kamboja pada abad kelimabelas.

Ketika Chau Ju-kua menulis [buku Zhu Fan Zhi ini], katanya, ibukotanya adalah Angkor, dan namanya adalah Kambupuri atau Yacodharapura. (…) 

Catatan kaki untuk Lu-wu. (Dokpri)

Dari penjelasan catatan kaki mengenai Lu-wu, nampak ketidakjelasan jika Lu-wu pernah digunakan sebagai nama ibukota Kamboja. Anggapan bahwa Lu-wu merujuk pada toponim Lovek juga bisa dikatakan meragukan secara fonetis karena faktanya pada googlemap tertulis “longvek”, serta meragukan pula jika ditinjau menurut penentuan waktu.

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa Chen-la yang beribukotakan Lu-wu yang dimaksudkan Chau ju-kua dalam buku Zhu Fan Zhi tidaklah terdapat di Kamboja, tetapi chen-la tersebut adalah wilayah Cendana yang terdapat di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi tengah. 

Dalam tulisan sebelumnya (Hipotesis Letak Geografis Ho-ling di Sulawesi) telah saya jelaskan pendapat mengenai hipotesis Chen-la yang dimaksud dalam kronik Cina adalah toponim Cendana yang terdapat di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi tengah.

Hipotesis letak Chen-la ini sekiranya lebih dikuatkan dengan mencermati informasi catatan dari sejarah Dinasti Sung tentang negeri yang bernama Tan-mei-liu.

Dalam catatan sejarah dinasti Sung letak negeri Tan-mei-liu disebutkan ke timur sampai chen-la 50 pos (hentian); ke selatan sampai Lo-yue 15 pos, menyeberang laut; ke barat sampai Si-t’en 35 pos; ke utara sampai Teh’eng-leang 60 pos, ke tenggara sampai Cho-po 45 pos; ke timur laut sampai kanton 135 pos. (Prof. Dr. Slamet Muljana. Sriwijaya, 2006. hlm. 263)

Dari informasi Dinasti Sung ini dapat kita ketahui bahwa di sebelah barat Chen-la terdapat negeri bernama Tan-mei-liu. Nama negeri ini saya temukan identik dengan toponim malei di tanjung Balaesang, Donggala-Sulawesi tengah, yang secara kebetulan tepat berada di sebelah barat cendana, Parigi Moutong-Sulawesi tengah. 

“Jejak Kuno” Unsur Nusantara di Kawasan Laut Merah dan Afrika Utara

Peta kawasan Laut Merah dan Afrika Utara (sumber: http://www.emersonkent.com ) –

Dalam tulisan sebelumnya (Hubungan Nusantara dan Tanah Punt), telah saya urai beberapa fakta mengenai adanya hubungan Nusantara dan Mesir pada masa Kuno.

Misalnya tentang identifikasi saya terhadap daerah bernama ‘Iuu’ yang ditemukan tertulis dalam prasasti di dinding kuil Speos Artemidos di Mesir tengah. Yang hingga kini belum teridentifikasi letaknya oleh para ahli peneliti Sejarah Mesir kuno. 

Untuk hal ini, saya menduga kata ‘Iuu’ tersebut memiliki keterkaitan dengan kata Eoos, Eous, atau Eos yang sempat dibahas Prof. Arysio Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continental Finally Found. 

Menurut Prof. Santos, kata Eoos atau Eous (Eoos dalam bahasa Yunani, Eous dalam bahasa Latin) – sama artinya dengan kata ‘Dawn’ dalam bahasa Inggris atau pun ‘fajar’ dalam bahasa Indonesia. lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Nama tersebut juga ditujukan untuk makna “orang Timur” atau “Oriental”, dan kerap digunakan sebagai sebutan untuk Indonesia. (Prof. Arysio Santos. Atlantis:  Hlm. 457)

Adapun dugaan saya bahwa ‘Iuu’ ada keterkaitan dengan Eoos atau Eous, didasari oleh fakta bahwa kebanyakan pengucapan bahasa Yunani klasik ataupun bahasa Latin memberi akhiran esos, atau us di akhir kata, seperti: Barbar yang dalam Yunani klasik diucapkan [b a r – ba – ros], atau Nusa yang diucapkan [ne – sos / ni.sos]. Dalam ilmu bahasa hal semacam ini biasa disebut dengan istilah “latinasi”.

Dalam bahasa Tae’ sendiri, juga dikenal kata “Esso” yang berarti “hari”. Saya pikir, kata Esso dalam bahasa Tae’ ini juga ada keterkaitan dengan Eoos, sebagaimana yang diungkap oleh Prof. Santos bahwa Eoos, Eous, atau Eos, berarti : fajar /pagi/  atau awal hari, dalam bahasa Indonesia. 

Dalam bahasa kaili sendiri, terdapat kata’eo’ yang berarti: hari atau matahari. Untuk diketahui, suku Kaili adalah suku yang memiliki budaya cukup unik. Mereka mendiami beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah. 

Jadi, dapat diperkirakan jika antara ‘Esso’ dalam bahasa tae’, ‘Eoos’ dalam bahasa Yunani, ‘Eous’ dalam bahasa Latin, ‘Eo’ dalam bahasa suku Kaili, dan ‘Iuu’ yang terdapat dalam prasasti Mesir kuno, telah terjadi fenomena morfologi bahasa – terutama perubahan pada struktur fonetis. Namun demikian, makna kata tidak bergeser jauh. 

Dari kesemua kata tersebut, nampak bahwa kata ‘Eo’ lebih identik bentuknya ‘Iuu’, sementara kata ‘Esso’ lebih identik bentuknya dengan ‘Eoos’ dan ‘Eous’.

Dengan demikian, berlandaskan dari seluruh uraian di atas, yang menunjukkan bahwa kata ‘Iuu’ dapat berarti: Fajar/awal hari/ atau pagi, maka saya menduga bahwa daerah ‘Iuu’ yang tidak teridentifikasi oleh para ahli peneliti sejarah Mesir kuno selama ini, kemungkinan besarnya ada di wilayah Nusantara hari ini. Yaitu nama lain untuk penyebutan kawasan ‘negeri sabah’ atau ‘negeri pagi’ (‘sabah’ dalam bahasa arab berarti ‘pagi’, merupakan bentuk morfologi untuk kata subuh dalam bahasa Indonesia). 

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai asal usul adanya penyebutan ‘Negeri pagi’, yakni wilayah yang masuk dalam zona pagi menurut pembagian wilayah di muka bumi pada masa kuno, silahkan baca tulisan saya lainnya: Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno. Pembagian wilayah tersebut merujuk pada posisi matahari di langit. Ini merupakan salah satu peninggalan budaya Bangsa Matahari (Wangsa Surya) dari masa kuno.

Hubungan Nusantara dan Tanah Punt

Informasi dari penguasa Dinasti Pertama Mesir atau Horus-Kings, mengatakan bahwa Punt ( Ta netjer atau “Tanah Tuhan”) merupakan tanah leluhur mereka. Sayangnya, letak tanah Punt hingga saat ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Sejak pertengahan abad ke-19, telah banyak pendapat yang diajukan oleh para sarjana untuk menentukan letak Punt. Ada yang menyebut di Suriah, Sinai, Arabia Selatan, Sudan Timur, Ethiopia Utara, Somalia, Kenya, dan masih banyak lagi pendapat lainnya, namun sejauh ini nampaknya semua usulan pendapat tersebut terasa masih kurang meyakinkan.

Orang-orang Mesir kuno sebenarnya meninggalkan kita cukup banyak berita tentang Punt, namun, mereka tidak memberi kita peta, arah atau jarak, atau apa pun yang secara pasti menentukan lokasi Punt.

Catatan Mesir kuno tentang ekspedisi perdagangan ke Punt, menyebutkan Punt sebagai sebuah kerajaan kuno, Mitra dagang Mesir yang memproduksi dan mengekspor emas, resin aromatik, ebony, gading,  hewan liar, termasuk monyet dan babon. Misi perdagangan tersebut dimulai setidaknya dari Dinasti ke-5 (2494-2345 SM) dan seterusnya. (Ian Shaw & Paul Nicholson: The Dictionary of Ancient Egypt. London: British Museum Press, 1995. hlm. 231)

Tanah Punt – pwnt (Mesir), pembacaan alternatif secara Egyptological: Pwene(t), diperkirakan mengacu pada “Opone,” seperti yang dikenal oleh orang Yunani kuno: Oponi.  Punt juga disebut sebagai Ta netjer, “tanah para dewa” atau “Tanah Tuhan”. (James Henry Breasted: Ancient Records of Egypt: Historical Documents from the Earliest Times to the Persian Conquest, collected, edited, and translated, with Commentary. The University of Chicago, 1906. hlm. 117, vol.1 )

Ekspedisi-ekspedisi Mesir kuno yang diorganisasi ke Punt sebagai bukti adanya hubungan yang erat antara Mesir Kuno dan Punt adalah sebagai berikut: 

  1. Pada Dinasti ke-empat, seseorang yang diidentifikasi sebagai orang Punt muncul sebagai budak salah satu putra Raja Khufu, tercatat pula bahwa emas punt telah berada di Mesir di masa ini; 
  2. pada dynasty Ke-lima, Raja Sahure mengirim sebuah ekspedisi ke sana dan Raja Isesi mengirim yang lain, yang membawa kembali seorang kerdil yang menari; 
  3. Dinasti Ke-enam, seorang perwira Pepi II, bernama Enenkhet, dibunuh oleh penghuni Pasir di pantai, ketika membangun sebuah kapal untuk pelayaran Punt, dan ekspedisi lain ke sana di bawah raja yang sama dipimpin oleh asisten bendahara (Thety); 
  4. di Dinasti Ke-sebelas, Henu, kepala bendahara Raja Senekhkere-Mentuhotep III, mengirim ekspedisi ke Punt, yang hanya menyertainya hingga ke pantai Laut Merah; 
  5. di Dinasti Ke-duabelas, seorang perwira Amenemhet II, bernama Khentkhetwer, mencatat berita keselamatannya kembali dari Punt; 
  6. Ada juga ekspedisi di bawah Sesostris II.

Pada abad ke-15 SM, Ratu Hatshepsut dari Dinasti ke-18, membangun armada Laut untuk memfasilitasi perdagangan. Ia secara pribadi membuat ekspedisi Mesir kuno paling terkenal yang berlayar ke Punt. 

Ekspedisinya ke Punt ini dianggap salah satu hal yang paling menonjol dari pemerintahannya di antara serangkaian misi perdagangan yang termasuk kunjungan ke Phoenicia untuk mengumpulkan kayu yang sangat dibutuhkan Mesir untuk membangun kapal-kapal, dan eksploitasi tambang tembaga dan turquoise di Sinai yang dibuktikan dengan stela dan prasasti di Wadi Maghara dan Serabit el-Khadim. 

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno

Barter atau saling bertukar barang adalah sistem perdagangan di zaman kuno. Tapi tahukah anda dari mana kata “tukar” itu berasal?

Ada kemungkinan kata “tukar” berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (bangsa Turki kuno). Ini merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Di dalam bahasa Banjar, memang terdapat kata “tukar” dengan arti “beli”. Tapi apakah ini bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas? – saya pikir tidak.

Itu karena makna kata “tukar” dalam bahasa Banjar lebih bersifat sinonim dengan kata “beli”, dan tidak cukup mengandung unsur Linguistik historis (Historical Linguistics atau Diachronic Linguistics), yang dalam britannica.com didefinisikan sebagai cabang linguistik yang berkaitan dengan studi perubahan fonologis, gramatikal, dan semantik, rekonstruksi tahap-tahap awal bahasa, penemuan serta penerapan metode-metode di mana hubungan genetik antar bahasa dapat diperlihatkan.

Asal usul kata “tukar”

Untuk mendapatkan jawaban atas asal usul kata “tukar” yang bisa dianggap memiliki unsur Linguistik historis, saya ingin mengajak pembaca untuk mencermati suatu informasi dari Mario Mosetto dalam bukunya “Origins of European Peoples: Part One: Ancient History“, pada Chapter 16 “Turks and Indo-Europeans“, yang mengatakan bahwa:

The Turkish calls the merchant Tuccar and the trade ticaret and commercial (adjective) sounds like ticari: these are clearly the Tocharians (Tuxari before), who traded for a long time with the Turks.

Translate: “Orang Turki menyebut pedagang dengan sebutan “Tuccar“, “ticaret” untuk perdagangan, dan komersial (kata sifat) terdengar seperti “ticari“: ini jelas-jelas [merujuk pada] Tocharians (Tuxari sebelumnya), [yaitu bangsa] yang berdagang dengan orang Turki dalam waktu yang lama.”

Dari keberadaan informasi yang disampaikan Mario Mosetto di atas, yang kemudian jika disandingkan dengan ulasan Frances Wood (2002) dalam bukunya “Jalur Sutra Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” tentang orang Tocharia dan Sogdia sebagai pelaku utama perdagangan di jantung asia (Asia Tengah) dalam kurun waktu ribuan tahun, kita dapat membangun sebuah pemahaman bahwa bisa jadi kata “tukar” berasal dari kata “tuccar” yang merupakan sebutan orang Turki untuk “pedagang” yang merujuk pada Tocharia yang terkenal sebagai bangsa pedagang pada zaman kuno di Asia Tengah.

Adapun sebab mengapa hingga kemudian kata tersebut dapat kita temukan digunakan di wilayah Nusantara pada masa sekarang ini, dapat kita asumsikan merupakan hasil serapan pedagang Nusantara yang eksis melakukan perdagangan di wilayah Asia Tengah pada masa kuno.

Pada tulisan sebelumnya (Genetik Aksara Nusantara, Formula Kunci Mengurai Sejarah) telah saya bahas mengenai adanya jejak orang-orang Bugis di wilayah Asia tengah, dengan merujuk pada fakta adanya sebutan yang identik dengan kata “bugis” dalam bahasa Uzbek, yaitu “bo’g’iz” yang artinya: teluk. Fakta ini dikuatkan dengan keberadaan kata “Look” (sound: luwu’ atau luwuk) dalam bahasa Filipina yang juga berarti “teluk”.

Di sisi lain, Adalah sudah menjadi konsensus umum di mayoritas sejarawan di Sulawesi Selatan bahwa Luwu merupakan induk dari semua etnis yang ada di Sulawesi Selatan.

Adanya etimologi “Luwu” dan “Bugis” yang sama-sama berarti “teluk” menunjukkan jika keduanya tidak ada bedanya. 

Dan, bahwa kata “bo’g’iz” dalam bahasa Uzbek tentulah berasal dari orang-orang dari pulau Sulawesi. (Pembahasan secara rinci mengenai keterkaitan Luwu dan Bugis ini dapat dibaca di tulisan “Fakta Migrasi di Masa Kuno, dari Nusantara ke Dunia Barat“)