Interpretasi Kesamaan Adam, Fuxi, dan Batara Guru

Batara Guru dan We Nyili Timo

Batara Guru merupakan salah satu tokoh utama dalam kitab I La Galigo yang merupakan naskah berisi cerita mitologi Luwu atau Bugis kuno.

Dalam naskah tersebut diceritakan Batara Guru adalah anak dari Puang Patotoe (Dewata pencipta yang bersemayam di langit, dengan Istrinya, Datu Palinge).

Oleh Puang Patotoe, Batara Guru diperintahkan turun dan memerintah dunia tengah (bumi) yang masih kosong gelap gulita. 

Di dunia tengah, Batara Guru dinikahkan dengan We Nyili Timo putri dari penguasa dunia bawah (Guru Ri Selleng dan Istrinya Sinaungtoja yang merupakan adik kembar Sang Pencipta).

Berikut ini penggalan kisah Batara Guru / We Nyili Timo pada saat pertama kali dipertemukan di dunia tengah, yang diceritakan di dalam buku I La Galigo terjemahan R.A Kern. (R. A. Kern. I La Galigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989 Hlm. 31-32)

“…kenaikan We Nyili’Timo terkatung-katung di atas ombak di depan Batara Guru. Seorang inang pengasuh mendesaknya agar ia sendiri berenang ke padanya, akan tetapi apabila hal itu dilakukan oleh Batara Guru, kenaikan We Nyili Timo bagaikan diterbangkan pergi oleh angin; dengan terperanjat dan bingung Batara Guru kembali ke pantai. Ia memandang berkeliling, dilihatnya mempelainya di sebelah timur; ia berenang pula kepadanya, tiga kali We Nyili Timo selalu menghilang. 

Ketika Batara Guru kembali ke pantai, ia berganti pakaian; yang dipakainya kini ialah pusakanya dari Sang Pencipta. Diambilnya sekapur sirih dari dalam cenrananya, lalu diucapkannya suatu mantera. Seketika laut menjadi kering, lalu pergilah ia sendirian mendapatkan We Nyili Timo ke tempatnya bersemayam.  

Akan tetapi sang putri menguraikan rambutnya yang panjang, lalu mengucapkan sebuah mantera. Maka seolah-olah kenaikannya ada yang menariknya pergi lalu tenggelam, orang tidak melihatnya lagi; akan tetapi dalam pada itu lautan pun bagaikan menyala dan We Nyili Timo seolah-olah seorang anak dewata yang turun ke bumi dalam usungannya. 

Orang-orang ware gemetar melihat api langit sedang mengamuk di tengah lautan. Batara Guru balik lagi dan menanti, dicampakkannya ikat kepalanya (yang berasal dari langit) ke dalam laut sambil mengucapkan suatu mantera hingga tiga kali. Api pun padamlah. 

Dengan suatu mantera We Nyili Timo menjadikan air naik kembali. Batara Guru berenang kepadanya, lalu duduk disampingnya. Kembali ia tak kelihatan pula, akan tetapi oleh mantera Batara Guru ia turun lagi seluruhnya dalam busana putih, rambutnya pun putih. 

Sang manurung bungkam keheran-heranan, akan tetapi dia ucapkan jua suatu mantera, sehingga wajah sang puteri berubah, kini bersinar penuh kecantikan, duduk disampingnya. Dengan suatu mantera yang baru We Nyili Timo mengubah dirinya menjadi seorang anak kecil. Batara Guru dari pihaknya membuka ikat rambutnya dan mengucapkan suatu mantera; We Nyili Timo pun menjadi cantik kembali.

Ini Dasar dan Fakta bahwa Negeri Sabah atau “Negeri Pagi” Adalah Identitas Wilayah Nusantara di Masa Kuno

Dalam tulisan sebelumnya “Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba” telah saya ungkap beberapa catatan dari masa lalu yang kuat mengindikasikan Nusantara sebagai negeri saba yang ada disebut dalam Al-Kitab maupun Al-Quran.

Pertanyaan yang mestinya timbul kemudian adalah, Jika benar Nusantara adalah negeri Saba, mengapa ia disebut negeri saba? apa alasannya?

Untuk menjawab pertanyaan penting ini, saya akan terlebih dahulu mengenalkan satu bentuk toponim dan etnonim kuno yang banyak terdapat di wilayah timur Nusantara hingga wilayah selandia baru, yakni: Mori atau Maori.

Mori atau Maori yang berarti “pagi”

Di wilayah timur, tempat bersemayamnya Helios sang Dewa Matahari dalam mitologi Yunani, terdapat banyak toponim dan etnonim yang menggunakan kata “Mori”. Seperti Suku Maori (penduduk asli Selandia Baru), Suku Mori di Sulawesi tengah, Pulau Mori di muara sunga Malili di Luwu Timur, dan Puncak Nene’ Mori yang merupakan puncak kedua tertinggi di pegunungan Latimojong setelah puncak Rante Mario, dan masih banyak lagi toponim lainnya.

Mungkin pada pikiran Pembaca akan segera timbul pertanyaan lain: apa pula hubungan antara Helios sang Dewa Matahari, Mori, dan “Negeri Pagi” yang menjadi judul artikel ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca untuk terlebih dahulu memahami filosofi “Bangsa Matahari” yang mendasari lahirnya mitologi Dewa Matahari, yang dalam kurun waktu ribuan tahun perjalanan peradaban manusia, terus eksis, hadir di peradaban berbagai bangsa dengan sebutan yang berbeda-beda.

Kita patut bersyukur karena pemahaman filosofi yang mendasari spirit peradaban manusia selama ribuan tahun itu dapat kita temukan terekam dalam catatan Himne tertua Veda, yakni pada himne 1.115 Rgveda yang menyebutkan: 

Surya sebagai penghormatan khusus untuk “Matahari Terbit” dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan. 

Untuk diketahui, dalam tradisi Hindu, Surya berkonotasi Dewa Matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide, 2011).

Hal terpenting untuk dicermati dari Rekaman Himne tertua Veda di atas, adalah pada kalimat “sebagai penghormatan khusus untuk Matahari terbit”, karena ini mesti kita cermati bahwa dari kesemua rentang waktu posisi matahari di langit pada siang hari, hal yang paling dikhususkan terletak pada posisi waktu ia terbit, yang dalam perbendaharaan Bahasa kita pada hari ini, kita kenal dengan sebutan “pagi”.

Seorang teman saya di Facebook yang bertempat tinggal di Singaraja Bali, mengatakan Di bali setiap perande, peranda, atau pedanda (pendetanya orang Bali) memiliki kewajiban “nyurya sewana” di pagi hari memuja matahari yang baru terbit. 

Beliau juga mengatakan bahwa Orang bali kebanyakan menyebut perandenya (pendétanya) dengan sebutan “suryan tityangé” (matahari saya) atau bisa diartikan “wakil saya memuja matahari”. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sikap penghormatan khusus untuk Matahari terbit” hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Bali.

Nama Keturah Juga Bermakna “Air”, ini Jejaknya Dalam Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Tae’, dan Bahasa Welsh

Dalam tulisan sebelumnya “Asal Usul Kata “Air” dalam Pusaran Polemik Sarah dan Hajar” saya telah mengulas bahwa nama kedua istri Nabi Ibrahim, Sarah dan Hajar, terbukti merupakan asal usul kata ‘air’ dalam beberapa bahasa.

Dalam bahasa Sanskerta, ‘sara / saras’ berarti air. Di sisi lain, RigVeda 6.61, 7.95, dan 7.96 mencatat bahwa nama sungai Sarasvathi berasal dari akar kata ‘ Sarah ‘.

Hal ini dapat pula kita temui Jejaknya pada beberapa bahasa daerah di Indonesia yang, menyebut air terjun sebagai ‘sarassa’, seperti bahasa daerah di Sumatera dan Sulawesi. Nama air terjun di gunung latimojong misalnya, disebut ‘Sarassa’. Ini nama yang sangat kuno.

Sementara itu, dalam bahasa Assam dan beberapa bahasa daerah yang digunakan di wilayah indo cina hingga ke wilayah bangladesh, ditemukan kata ‘ayar / hayar’ (ajar / hajar) yang berarti air. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mencatat bahwa ayar adalah bentuk kuno (archaic) dari kata air.

Sumber Literatur Mengenai Keturah

Dalam banyak literatur, kita ketahui, nama Keturah juga disebutkan sebagai nama istri Nabi Ibrahim. Untuk hal ini, beberapa komentator Yahudi abad pertengahan, seperti Rashi misalnya,  mengikuti gagasan lama dari para rabi dan kepercayaan tradisional yang berkembang dalam banyak tradisi bahwa Keturah adalah orang yang sama dengan Hajar.

Keturah disebutkan dalam dua bagian dari Alkitab Ibrani: dalam Kitab Kejadian, dan juga dalam Buku Pertama Tawarikh. Selain itu, ia juga disebutkan dalam Antiquities of the Jewish oleh sejarawan Romawi-Yahudi abad ke-1 Josephus.

Louis Feldman dalam buku Josephus’s Interpretation of the Bible (1998) mengatakan, “Josephus mencatat bukti bahwa polymath non-Yahudi yang produktif, Alexander Polyhistor, ada mengutip sejarawan Cleodemus Malchus, yang menyatakan bahwa dua putra Abraham dari Keturah bergabung dengan kampanye Heracles di Afrika. Nama Heracles adalah bentuk lain nama Hercules, pahlawan terbesar dalam mitologi Yunani. (sumber di sini)

Dalam tulisan saya sebelumnya “Temuan Jejak Migrasi Nabi Ibrahim 4200-an Tahun Lalu” juga telah saya bahas nama lain Keturah, yaitu Arikhidima, istri dari Bangla Raja, leluhur orang Dimasa yang merupakan komunitas paling kuno di wilayah Benggala, mereka menghuni wilayah Assam dan Nagaland.

Nama ‘Bangla’ saya identifikasi merupakan bentuk anagram dari nama Abram / Avram (bentuk Ibrani dari nama Abraham atau Ibrahim).

Pemecahan bentuk anagramnya sebagai berikut:

  • Ba dibaca terbalik menjadi Ab-
  • la dibaca -ra (perubahan fonetis dental; l dan r)
  • ng dibaca -m. Morfologi seperti ini bisa kita temukan seperti pada kata wamsa (dalam prasasti-prasasti berbahasa sanskrit) yang merujuk pada kata bangsa.

Kuat dugaan saya nama negara Bangladesh berasal dari nama “Bangla”. Ini tentunya menjadi penguatan buat hipotesis saya sebelumnya bahwa wilayah Benggala adalah wilayah di mana Nabi Ibrahim pernah bermukim sekian lama.

Jadi, ketika Allah memerintahkan Ibrahim hijrah (migrasi) menghindari bencana kekeringan yang luar biasa pada saat itu, ke wilayah Benggala inilah nabi Ibrahim bermigrasi. Perintah Allah tersebut terekam dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 26: …Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” 

Misteri di balik “Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, dan Hijr Ismail” di Ka’bah

Dalam tulisan “Asal Usul Nama ‘Mihrab’ dan ‘Cella’, Tempat Paling Sakral di Dalam Kuil” saya mengulas asal usul kata mihrab dan Cella yg memiliki profil Linguistik historis yang sangat identik.

Kedua kata tersebut bukan saja sama fungsinya sebagai tempat paling sakral dalam rumah ibadah, tetapi juga secara harfiah maknanya sama, yaitu: merah.

Kata ‘cella’ dapat ditelusuri terdapat dalam bahasa tae’, yang artinya “merah”, sementara kata ‘mihrab‘ jejak morfologi fonetisnya mengarah ke bentuk kata “merah”: (mihra (b) = mira = merah).

Apa maksud dibalik makna “merah” yang disandang kedua kata ini? Jawabannya dapat dilihat menurut dua perspektif, yaitu:  makrokosmos dan kesejarahan.

Dalam perspektif makrokosmos, “merah” merujuk pada warna api sebagai unsur lapisan inti/ terdalam bumi. Lapisan diatasnya, tanah (hitam). Di atas tanah adalah air (putih).  Di atas air dan sebagai lapisan unsur terluar adalah udara (kuning).

Konsep warna dalam konsep makrokosmos, oleh orang di masa kuno, juga diterapkan pada susunan arah mata angin.  ‘Merah’ mewakili arah timur sebagai titik terawal pergerakan matahari = cahaya = ilmu pengetahuan.

Kuning mewakili arah utara sebagai titik zenith (puncak) matahari. Ini sekaligus merepresentasi titik tertinggi pencapai ilmu pengetahuan dan titik tertinggi kedewasaan, yang berarti bermakna kejayaan, keagungan, kekayaan. Karena itu disimbolisasi dengan warna kuning (emas).

Putih mewakili arah barat sebagai titik terbenamnya matahari. Merepresentasi usia senja/ tua. Beberapa orang menganggap warna putih di bagian ini merujuk pada warna rambut yg memutih yang umum terlihat pada orang lanjut usia. Ya bisa seperti itu. Bisa juga, putih sebagai representasi pengetahuan di usia tua yg lebih bersifat spiritualistik dan suci.

Yang terakhir, hitam mewakili arah selatan. sisi malam. Kadang juga dianggap sisi alam kematian. 

Adapun dalam aspek perspektif kesejarahan, makna “merah” lagi-lagi merujuk pada arah timur, sebagai titik terbit fajar, titik terbit paling awal ilmu pengetahuan dalam peradaban umat manusia. Ini bukan pernyataan simbolis semata. Tetapi faktanya memang demikian.  

Sesungguhnya, garis besar kesejarahan umat manusia telah disimbolisasi nabi Ibrahim dan nabi Ismail pada konfigurasi tata letak Ka’bah.

Mereka meletakkan posisi hajar aswad dan garis awal tawaf di sisi timur laut, maqam Ibrahim di sisi utara, dan hijr Ismail di sisi barat ka’bah, tidaklah tanpa ada maksud tertentu. Tentu saja semua itu ada maksud dan tujuannya.

Asal Usul Kata “Air” dalam Pusaran Polemik Sarah dan Hajar

Dalam tulisan berjudul “Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata ‘Air’?” saya telah membahas etimologi kata ‘air’, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa bentuk kuno (arkais) dari kata ‘air’ adalah: ‘ayar’.

Dalam tulisan tersebut saya mengungkap bahwa bentuk ‘ayar’ berasal dari nama Hajar (istri Nabi Ibrahim). Hal ini setidaknya terkonfirmasi melalui tinjauan linguistik historis kata ma’an – kata dalam bahasa Arab yang berarti air – yang di sisi lain, merupakan nama kota di Yordania selatan yang menurut sejarahnya didirikan oleh orang-orang Minae. Nama orang Minae ini kuat dugaan saya berasal dari nama wilayah Mina dekat Makkah, dekat bukit Safa dan Marwah tempat Hajar mencari air untuk anaknya.

Demikianlah, dengan fakta bahwa kata ma’an dalam bahasa Arab pada dasarnya merujuk pada ‘mina’, tempat di mana kisah yang melegenda antara Hajar dan Air Zam-Zam terjadi, maka, asumsi kata air ataupun ayar sebagai kata yang merujuk pada nama Hajar, mestinya dapat pula dilihat sebagai hal yang mendasar dan masuk akal. Dengan kata lain sebutan “air/ ayar” yang digunakan dalam beberapa bahasa di Asia Tenggara dan sebutan ma’an yang digunakan dalam bahasa di Jazirah Arab, linguistik historisnya sama-sama merujuk pada legenda Hajar.

Tapi rupanya, masalah kesejarahan asal usul kata air tidak selesai sampai di sini. Karena rupa-rupanya, ada kemungkinan jika “pendukung” ibu sarah pun tidak ingin ketinggalan untuk merekam nama ‘sarah’ dalam catatan sejarah bahasa sebagai nama yang juga merujuk pada makna: air.

Bagi anda yang belum mengetahui riwayat keluarga Nabi Ibrahim, izinkan saya berikan flashback ringkas.

Hajar adalah istri kedua nabi Ibrahim. Sarah adalah istri pertama. Ketika Hajar melahirkan Ismail, Sarah merasa cemburu karena pada saat itu ia belum memberikan anak kepada nabi Ibrahim. menurut riwayat, dilandasi rasa cemburu itu, Sarah kemudian meminta Ibrahim membawa pergi Hajar dan putranya yang masih bayi ke suatu tempat di tengah padang pasir yang terpencil dan meninggalkan mereka di sana. Inilah kurang lebih kisah perseteruan antara keduanya yang tiba kepada kita generasi hari ini.

Awalnya, saya pribadi melihat kisah ini sebagai hal yang tidak perlu saya cermati. Saya pikir ini urusan nabi Ibrahim dan keluarganya-lah ngapain mesti cari tahu, lagian, sekalipun itu alasannya untuk menjadikan hikmah pembelajaran dalam kehidupan berumahtangga, kenyataannya, kan banyak kejadian serupa yang terjadi di masa sekarang.

Tapi rupanya, dalam konteks penelusuran linguistik historis asal usul kata air, prinsip itu mesti saya kesampingkan – agar dapat mencermati secara lebih jauh korelasi antara data sejarah, pelaku dan emosi yang melatarbelakanginya.

“Banawasha – Argwonoyo – Urjanu – Urr’jawa’nu” Sebutan Warna Ungu dalam Bahasa Aram, Bahasa Suryani, dan Bahasa Phoenicia, Yang Kental Bernuansa Jawa

Ada banyak literatur kuno yang menggambarkan jika warna ungu merupakan warna yang diagungkan pada masa kuno. Bahkan, dikatakan warna ungu khusus digunakan oleh kalangan atas saja. 

Pliny the Elder (23 M – 79 M), dalam buku kesembilan dari Natural History-nya, menggambarkan kemegahan dan kemewahan yang diwakili oleh warna ungu: “Di Asia ungu yang terbaik adalah Tirus, […]. Untuk warna inilah kapak Roma memberi jalan di tengah kerumunan; inilah yang menegaskan keagungan masa kanak-kanak; inilah yang membedakan senator dari barisan berkuda; orang-orang yang tersusun dalam warna ini adalah orang-orang yang beribadah.” 

Ketika Raja Persia Cyrus mengadopsi tunik ungu sebagai seragam kerajaannya, di Romawi, kaisar melarang warganya memakai pakaian ungu ketika menjalani hukuman mati, sementara hakimnya menggunakan jubah ungu ketika menjatuhkan hukuman. Pada zaman Nero, penyitaan properti bahkan hukuman mati dijatuhkan bagi mereka yang kedapatan berpakaian ungu kekaisaran. 

Di masa Kekaisaran Bizantium, ungu bahkan dipuja dengan cara lebih militan. Penguasanya senantiasa mengenakan jubah ungu, serta menandatangani dekrit mereka dengan tinta ungu. Di Konstantinopel, kamar tidur kaisar dicat dengan warna ungu, dan putranya, yang lahir di ruangan tersebut, menikmati gengsi memiliki nama panggilan Porphyrogenitus : “lahir dalam warna ungu”.

Demikianlah, selama berabad-abad tradisi menggunakan warna ungu sebagai warna kekaisaran terus berlangsung hingga ke zaman Kekaisaran Romawi Suci, bahkan hingga hari ini, pada keuskupan Katolik Roma kita masih dapat melihat warna ungu sebagai warna yang istimewa.

Jika kita menoleh jauh ke belakang untuk mencoba mencari tahu dari semenjak kapan warna ungu ini digunakan, kita bisa menemukan laporan dari beberapa sejarawan yang menginformasikan bahwa orang-orang Fenesialah yang bertanggung jawab atas kemunculan warna ungu, dan ini berkontribusi pada reputasi mereka.

Orang-orang Yunani memberi mereka nama Fenisia (phoenix) sehubungan dengan warna ungu yang mereka buat sebagai salah satu spesialisasi utama mereka.

Dalam mitologi, legenda Penemuan warna ungu dikaitkan dengan dewa Melqart, dewa pelindung kota Tirus dan merupakan dewa utama orang Fenisia. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa ketika dewa Melqart sedang berjalan di pantai bersama peri Tyros, anjingnya menemukan cangkang kerang dan mengunyahnya. Rahangnya kemudian dipenuhi warna ungu. 

Peri Tyros mengagumi warna tersebut dan meminta Melqart menghadiahkan kepadanya kain dengan warna yang indah seperti itu. Untuk menyenangkan kekasihnya, Melqart memerintahkan mengumpulkan kulit kerang untuk dijadikan bahan pewarna kain.

 Lukisan
 Lukisan “Hercules Dog Discovers Purple Dye”  oleh Peter Paul Rubens. Di Yunani Melqart diidentikkan dengan Herakles. (sumber: pixels.com/augusta-stylianou) 

Dari sudut pandang arkeologis, sisa-sisa pewarna yang ditemukan di pantai timur Laut Mediterania, membuktikan bahwa industri pewarna ungu sudah ada di sana sejak zaman kuno. Pada tahun 1934, Franois Thureau-Dangin (1872-1944), arkeolog dan epigrafis Prancis menerbitkan teks runcing dari Ugarit, yang mengabarkan bahwa sekitar 3500 tahun yang lalu, seorang pedagang lokal mencatat tagihan sejumlah wol ungu kepada beberapa orang yang berhutang kepadanya. [Nina Jidejian, Tyr a travers les ages, 1996: 279]

Asal Usul Nama ‘Mihrab’ dan ‘Cella’, Tempat Paling Sakral di Dalam Kuil [full version]

Mihrab

Dalam tradisi agama Samawi, Mihrab dikenal sebagai tempat paling rakral dan suci dalam Baitul Maqdis (bait suci atau kadang juga disebut kuil Solomo). Ini adalah tempat di mana Maryam putri Imran (ibu Nabi Isa AS) melewatkan masa-masa kecilnya di dalam pengawasan Nabi Sakaria yang merupakan Imam Bani Israel kala itu.

Sebagai tempat paling suci di dalam kuil, Mihrab dijadikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda sakral nan suci kaum Bani Israil. Sangat terbatas orang yang dapat mengakses tempat ini.

Istri Imran (dalam beberapa riwayat disebut bernama Hannah) yang melahirkan Maryam, pada awalnya bernazar bahwa bila ia memperoleh anak lelaki, ia akan membawanya ke rumah suci Baitul Maqdis. Anaknya akan mengabdi kepada Tuhan.

Hal ini terekam dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 35: (Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Pada saat tiba masanya Hannah melahirkan, ia tidak melahirkan anak laki-laki melainkan anak perempuan. Sesuai janjinya, Hannah lalu mengantar Maryam ke Baitul Maqdis.

Ketika itu, semua pemuka agama Bani Israel ingin mengasuh Maryam. Dalam riwayat diceritakan, untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mengasuh Maryam, mereka bersepakat mengundinya dengan cara membuang pena (alat tulis) ke sungai. Pemilik pena yang tidak tenggelam adalah orang yang mengasuh Maryam.

Ternyata, hanya pena Nabi Zakaria yang tidak tenggelam. karena itu, Nabi Zakaria mengasuh Maryam. Kebetulan, Hannah (Ibu Maryam) dan istri Nabi Zakaria (Elisabet/ Elisyeba) adalah kakak beradik. Nabi Zakaria menempatkan Maryam di dalam Mihrab Baitul Maqdis.

Di dalam Mihrab ini Maryam banyak mendapat mukjizat salah satunya adalah mendapatkan kiriman buah-buahan dari Allah melalui perantara malaikatNya.

Hal ini terekam dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 37 yang berbunyi: Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

Asal Usul Nama ‘Mihrab’ dan ‘Cella’, Tempat Paling Sakral di Dalam Kuil

Mihrab

Dalam tradisi agama Samawi, Mihrab dikenal sebagai tempat paling rakral dan suci dalam Baitul Maqdis (bait suci atau kadang juga disebut kuil Solomo). Ini adalah tempat di mana Maryam putri Imran (ibu Nabi Isa AS) melewatkan masa-masa kecilnya di dalam pengawasan Nabi Sakaria yang merupakan Imam Bani Israel kala itu.

Sebagai tempat paling suci di dalam kuil, Mihrab dijadikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda sakral nan suci kaum Bani Israil. Sangat terbatas orang yang dapat mengakses tempat ini.

Istri Imran (dalam beberapa riwayat disebut bernama Hannah) yang melahirkan Maryam, pada awalnya bernazar bahwa bila ia memperoleh anak lelaki, ia akan membawanya ke rumah suci Baitul Maqdis. Anaknya akan mengabdi kepada Tuhan.

Hal ini terekam dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 35: (Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Pada saat tiba masanya Hannah melahirkan, ia tidak melahirkan anak laki-laki melainkan anak perempuan. Sesuai janjinya Hannah lalu mengantar Maryam ke Baitul Maqdis.

Ketika itu, semua pemuka agama Bani Israel ingin mengasuh Maryam. Dalam riwayat diceritakan, untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mengasuh Maryam, mereka bersepakat mengundinya dengan cara membuang pena (alat tulis) ke sungai. Pemilik pena yang tidak tenggelam adalah orang yang mengasuh Maryam.

Ternyata, hanya pena Nabi Zakaria yang tidak tenggelam. karena itu, Nabi Zakaria mengasuh Maryam. Kebetulan, Hannah (Ibu Maryam) dan istri Nabi Zakaria (Elisabet/ Elisyeba) adalah kakak beradik. Nabi Zakaria menempatkan Maryam di dalam Mihrab Baitul Maqdis.

Di dalam Mihrab ini Maryam banyak mendapat mukjizat salah satunya adalah mendapatkan kiriman buah-buahan dari Allah melalui perantara malaikatNya.

Hal ini terekam dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 37 yang berbunyi: Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

Fakta yang Menguatkan Dugaan Dewa Brahma Sebagai Personifikasi Nabi Ibrahim

Telah banyak kalangan yang berpendapat sama bahwa sebutan “brahma” berasal dari nama “Abraham” atau Ibrahim. Misalnya yang disampaikan Anna Bonus Kingsford, seorang Theosophist Inggris pada tahun 1880-an:

“Abraham , atau Brahma , – …mereka adalah satu, dan kata yang sama, dan menunjukkan satu doktrin yang sama” [Anna Bonus Kingsford: The Perfect Way: Or, The Finding of Christ, 1882; 2011 : 259]

Abdul HAQ Vidyarthi Maulana (1888 – 1977), seorang sarjana agama-agama besar dunia yang menyandang titel “The Vidyarthi” karena pengetahuannya yang luas tentang Veda Hindu, berpendapat bahwa  Brahma dan Abraham adalah dua nama dari satu orang yang sama.

Dan masih sangat banyak lagi para Ilmuwan yang berpendapat sama, bahwa Brahma adalah Abraham atau Ibrahim.

***

Fakta yang kita alami hari ini adalah bahwa, kita banyak bertengkar tentang agama oleh karena sejarah yang tidak tuntas digali para pendahulu. Entah itu karena disengaja atau tidak.

Sejarah mencatat, kitab weda paling kuno muncul di India utara, yang merupakan wilayah perlintasan Ibrahim dan keturunan-keturunannya dari teluk benggala (tempat hijrah mereka ketika bencana kekeringan yg parah melanda) menuju wilayah timur tengah.

Baca pembahasan saya dalam beberapa artikel di bawah ini yang merupakan seri pembahasan saya tentang jejak Nabi Ibrahim di kawasan Benggala sebagai wilayah tempat hijrahnya ketika bencana kekeringan yang sangat parah melanda sebagian besar wilayah di bumi:

Hal yang sama dinyatakan pula oleh sebagian besar sarjana yang percaya bahwa Hinduisme dimulai antara 2300 SM dan 1500 SM di Lembah Indus, dekat Pakistan modern.

Lembah Indus (sumber: wikipedia.org)

Kesamaan bunyi beberapa ayat suci agama Samawi dengan ayat suci dalam Hindu

Jika kita mencermati apa yang disampaikan dlm kitab veda, kita tidak bisa menyangkal bahwa pesan itu senada dengan pesan ketauhidan dalam agama samawi. Misalnya…

  • Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan: tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yang berhak disembah.
  • Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan: Tuhan tidak berbentuk dan dia suci.
  • Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan: sesungguhnya Tuhan itu Maha Besa
  • Rigveda Bk. 1 Hymn 64. V. 46 menyatakan: Tuhan itu Maha Esa, panggillah Dia dengan berbagai nama.
  • Yajurveda 40.1 menyatakan: Segala sesuatu di alam semesta yang selalu berubah ini diliputi (berada di dalam) Hyang Mahakuasa.

Dan masih banyak lagi.

Pada hari ini, merujuk etimologi umum seperti yang disarankan Monier-Williams, veda berarti “pengetahuan” dari akar kata sanskrit ved= tahu. Tapi apakah bentuk etimologi itu sudah benar?

Tidak bisakah kita melihat bahwa, veda ada kemungkinan terkait dengan kata “beda” dalam bahasa Indonesia? Hal ini tentu saja dimungkinkan, seperti halnya banyak kata dalam bahasa Indonesia yang kita ketahui dapat kita temukan kesamaannya dalam bahasa sanskrit.

Ini Bencana di Masa Nabi Ibrahim yang Berdampak Global dan Meruntuhkan Banyak Peradaban

Sains seharusnya tidak mentolerir penyimpangan presisi, atau mengabaikan anomali, tetapi memberikan jawaban esensi kepada dunia dengan rendah hati dan dengan keberanian” – Sir Henry Dale  

Para cendikiawan pada umumnya berpendapat bahwa masa hidup Nabi Ibrahim adalah di sekitar tahun 2200 SM, atau sekitar 4200 tahun yang lalu.

Misalnya yang disampaikan oleh Dr. Jerald F. Dirks, seorang yang awalnya pendeta kemudian memilih masuk Islam, dan merupakan ahli perbandingan agama dari Amerika. Ia memperkirakan Nabi Ibrahim lahir pada sekitar tahun 2166 SM. [Mu’arif: Monoteisme Samawi Autentik, 2018: 72]

Tahun kehidupan Nabi Ibrahim ini bisa dikatakan sezaman dengan saat terjadinya serangkaian bencana besar yang melanda hampir di seluruh wilayah muka bumi, yang dampaknya berlangsung hingga 200 tahun kemudian.

Berikut ini beberapa pernyataan yang diberikan para ilmuwan dunia terkait bencana besar tersebut.

Barry Setterfield, seorang ahli fisika, geologi, dan astronomi Amerika, menyampaikan dalam situs resminya bahwa: “Ada beberapa bukti peristiwa di seluruh dunia dalam interval antara 2500 SM dan 2200 SM yang mungkin bertanggung jawab atas penghancuran sejumlah peradaban dan budaya yang signifikan”.

Dalam artikel John Noble Wilford “Collapse of Earliest Known Empire Is Linked to Long, Harsh Drought” (The Times, 24 Agustus 1993), disebutkan bahwa suatu tim arkeolog, geolog, dan ilmuwan tanah telah menemukan bukti yang tampaknya memecahkan misteri penyebab keruntuhan tiba-tiba kekaisaran Akkadia sekitar 4200 tahun lalu. 

Kekaisaran Akkadia, menurut mereka, dilanda kekeringan 300 tahun dan benar-benar mengering. Sebuah analisis mikroskopis kelembaban tanah di reruntuhan kota-kota Akkadian di tanah pertanian utara mengungkapkan bahwa serangan kekeringan berlangsung cepat dan konsekuensinya parah, mulai berlangsung sekitar 2200 SM. 

“Ini adalah pertama kalinya perubahan iklim tiba-tiba secara langsung dikaitkan dengan runtuhnya peradaban yang berkembang,” kata Dr. Harvey Weiss, arkeolog Universitas Yale dan pemimpin tim peneliti Amerika-Prancis.

Dr Weiss mengatakan kesimpulan itu didasarkan pada pengujian tanah, terutama di lokasi tiga kota Akkadian dalam radius 30 mil, tempat-tempat yang sekarang dikenal sebagai Tell Leilan, Tell Mozan, dan Tell Brak di Suriah saat ini. Bukti perubahan iklim serupa ditemukan di daerah yang berdekatan.

Selain itu, pengamatan keramik dan artefak lainnya sebagai pelacakan bukti keberadaan orang Akkadia di Tell Leilan dan kota-kota utara lainnya, menunjukkan fakta pada para arkeolog tentang adanya kesenjangan 300 tahun dalam pendudukan manusia di Tell Leilan dan kota-kota tetangga. Interval tanpa tanda-tanda aktivitas manusia tersebut dimulai sekitar tahun 2200 SM.