“Piring”, Makna dan Riwayatnya yang Terlupakan

“Piring” adalah salah satu kata benda yang paling akrab dengan ingatan manusia. Hal itu dikarenakan fungsinya sebagai perkakas kegiatan rutin dan paling vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu: makan.

Begitu akrabnya “piring” dengan ingatan atau alam pikiran manusia, sehingga dalam situasi tertentu, ia bahkan dapat memicu dampak emosional. Seseorang dapat marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, bahkan termotivasi, ketika teringat dengan kata piring.

Benarkah? Mengapa demikian?

Ya, anda mungkin akan menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan dan mengada-ada… tapi tentu saja tidak.

Saya yakin, anda akan melihat kebenaran pernyataan itu manakala melakukan pengamatan lebih mendalam.

Misalnya, Dalam alam pikiran seorang bapak, ingatan tentang “piring” dapat memotivasinya bekerja lebih giat, karena hal itu mengingatkannya pada tanggung jawab memberi makan anak istrinya di rumah. Segala macam perasaan akan berkecamuk mengiringinya dalam upaya tersebut – baik ketika gagal, maupun ketika berhasil.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa “piring” adalah perkakas untuk sebuah kegiatan yang paling mempengaruhi arah dan sudut pandang berpikir manusia terhadap kehidupan.  

Di Nusantara, bukti bahwa kata “piring” mempengaruhi alam pikiran kita, dapat ditemukan dalam beberapa bunyi peribahasa yang menggunakan kata piring atau pinggan.

Misalnya: “pinggan tak retak nasi tak dingin” (artinya: cermat dalam melakukan suatu pekerjaan) ; atau “di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal” (di mana orang meninggal di situ dikuburkan).

Dalam cerita fiksi (budaya populer) terutama di tahun 80-90an, kita pernah akrab dengan sebutan “piring terbang” sebagai wahana makhluk luar angkasa yang datang menginvasi bumi. 

Namun, dalam kehidupan urban hari ini, kita juga mengenal istilah “piring terbang” tapi yang ini tidak merujuk pada wahana makhluk luar angkasa. Istilah ini biasanya menjadi kalimat keluhan atau ejekan tentang situasi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga.

Misalnya seorang temanmu berkata: “wahh barusan di rumah ada piring terbang!” – kalau kamu tidak mau ceritanya kepanjangan, abaikan saja temanmu itu, soalnya ada kemungkinan dia mau curhat, habis marahan dengan istrinya.

Atau kalau mau mengejek temanmu yang lagi murung, kamu bisa bertanya: “kayaknya habis lihat piring terbang lagi nih!”

Formula Kunci Mengurai Sejarah (Dalam Genetik Aksara Syllable)

Sebagian dari pembaca mungkin sudah mengetahui apa itu aksara Brahmik atau aksara Abugida. Ya, ini sistem penulisan yang urutan konsonan-vokalnya ditulis sebagai satu unit.

Dalam ilmu linguistik, aksara Brahmik biasanya disebut juga aksara syllable karena pada dasarnya wujud yang diwakili satu symbol aksara Brahmik adalah suatu unit “suku kata”.

Yang menarik dari perbedaan sistem aksara Brahmik dengan sistem alphabet adalah jika dalam aksara brahmik inti unit syllable adalah konsonan sementara vokal adalah sekunder, maka dalam sistem alphabet, inti unit suku kata paling sering adalah sebuah vokal (walaupun tidak selamanya).

Etimologi kata “Syllable”

Etimologi syllable dikatakan berasal dari Anglo-French, merupakan perubahan dari kata “silabel” Perancis Kuno, dari “silaba” Latin, dan dari Yunani “syllavy” yang bermakna “diambil bersama”. Dalam bahasa tae’ (di Sulawesi selatan) terdapat kata silapi’ yang artinya “saling berlapis” atau “saling melapisi”.

Tentu saja kata silapi’ dalam bahasa tae, terlihat sangat memiliki kesamaan dengan kata “syllavy” dari bahasa Yunani. Untuk fenomena kesamaan leksikon bahasa Yunani dan bahasa tae’ di Sulawesi selatan saya telah membahas dalam artikel “Menelusuri Jejak Kuno Aksara di Nusantara”.

Etimologi kata “Aksara”

Kata Aksara berasal dari kata Sanskrit “aKSara”: a = tidak; KSara = binasa, hancur, mencair / luntur. Jadi, Aksara bisa dimaknai sebagai: “tidak dapat binasa, tidak dapat dihancurkan, tidak mencair / luntur”.

Dalam bahasa tae’,  sara’ atau sarak berarti “pisah”. Biasanya diucapkan dalam bentuk ti-sara’ atau ti-sarak yang artinya: terpisah. Imbuhan ti dalam bahasa tae’ sama dengan imbuhan ter dalam bahasa Indonesia. Kata tisarak dalam bahasa tae saya pikir sama saja dengan kata terserak / berserak dalam bahasa Indonesia.

Makna Esensi di balik Pengelompokan Fonetik Artikulatoris Dalam Aksara Syllable 

Hal menarik lainnya dari aksara Brahmik adalah susunan umum pengelompokan unitnya telah disesuaikan dengan konsep fonetik artikulatoris.

Inilah yang secara intuitif saya lihat sebagai suatu pesan yang dititipkan orang-orang terdahulu kepada kita generasi sekarang. Suatu “pesan yang tak dijelaskan” fungsinya secara eksplisit, menunggu kita untuk mencermatinya.

Ini akan kita ketahui fungsinya setelah kita sadari bahwa morfologi atau perubahan bentuk fonetis suatu kata umumnya terjadi diantara fonetis yang ada di dalam kelompok fonetik artikulatoris yang sama. (lihat pada gambar di bawah).

Susunan umum aksara Lontara Bugis dan pembagian kelompok menurut fonetik artikulatoris (dokpri)

Jejak Pertalian Bahasa Kuno Sulawesi dengan Bahasa Kuno Eropa Dalam Etimologi kata ‘Pantai’

Seperti halnya banyak kata lain dalam bahasa Indonesia, kata ‘pantai‘ juga adalah salah satu kata yang hingga saat ini tidak mendapat telaah Linguistik historis secara memadai.

Ketika kita mendengar kata ‘pantai‘, bayangan pikiran kita pada umumnya akan tertuju pada bidang tanah yang mengantarai daratan dan lautan. Makna kata ‘pantai‘ ini bisa dikatakan, sebenarnya, senada dengan makna kata ‘bantaran‘ yang umumnya kita gunakan untuk menyebut bagian tepi sungai.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘bantaran‘ didefinisikan: jalur tanah pada kanan dan kiri sungai (lihat di sini).

Jadi, kedua kata ini (pantai dan bantaran), dalam tata bahasa yang kita gunakan di masa sekarang, sama-sama diterapkan untuk menyebut jalur tanah yang mengantarai wilayah daratan dengan wilayah perairan (kata ‘pantai‘ untuk perairan laut, sementara kata ‘bantaran‘ untuk perairan sungai).

Tentunya, pertanyaan yang relevan muncul dari fakta ini adalah: apakah kata ‘pantai‘ dan kata ‘bantaran‘ memiliki akar kata yang sama? Jawabannya, iya. bentuk kuno dari kedua kata tersebut adalah “BANTA“, yang berarti: ujung, atau akhir — yang mengacu pada ujung tanah atau daratan.

Makna kata ‘banta‘ yang demikian ini dapat kita temukan penerapannya pada toponim Kabupaten Bantaeng di pulau sulawesi, yang secara geografis memang berada di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan. (Lihat peta di bawah)

Posisi Kabupaten Bantaeng di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan (dokpri) 
Posisi Kabupaten Bantaeng di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan (dokpri) 

Di Kabupaten Bantaeng, sangat banyak nama kecamatan dan kelurahan /desa yang mengunakan kata ‘bonto‘. (lihat gambar di bawah) 

Beberapa nama wilayah di Kabupaten Bantaeng yang menggunakan kata 'bonto' (dokpri) 
Beberapa nama wilayah di Kabupaten Bantaeng yang menggunakan kata ‘bonto’ (dokpri) 

Kata ‘bonto‘ yang sangat banyak digunakan sebagai nama kecamatan atau kelurahan/ desa di Bantaeng dapat diduga sama dengan ‘banta’ – dalam artian terjadi perubahan fonetis a ke o atau sebaliknya antara kedua kata ini.

Yang menarik, dari kata ‘banta‘, muncul pula kata ‘bontot‘ yang dalam bahasa Indonesia kita ketahui berarti: akhir, belakang, atau bungsu. Dapat kita lihat, secara fonetis, kata ‘bonto‘ identik dengan kata ‘bontot‘.

Bentuk Morfologi lain dari kata ‘banta‘ adalah: kata panta’ (dalam bahasa tradisional di Sulawesi selatan) atau pantat (bokong / belakang) dalam bahasa Indonesia.

Semua “kata” dan “makna kata” yang terlahir dari hasil morfologi kata ‘banta‘ (ujung tanah, akhir, bontot, pantat, belakang, hingga kata pantai) dapat kita temukan bentuk sinonimnya dalam bahasa kuno di Eropa.

Yang menarik, hanya ada satu kata kuno dari Nusantara yang dapat menjembatani atau sebagai “puzzle kunci” dalam upaya pembuktian adanya pertalian tersebut, yaitu kata: ‘BUTTA‘.

Kata ‘butta‘ dapat kita temukan digunakan pada frase “BUTTA TOA”, yang merupakan gelar tradisional Kabupaten Bantaeng. Dalam beberapa karya tulis ilmiah terutama bidang sejarah, bentuk penulisannya mengikutkan nama bantaeng, menjadi: BUTTA TOA BANTAENG.

Asal Usul Kata “Air” dalam Pusaran Polemik Sarah dan Hajar

Dalam tulisan berjudul “Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata ‘Air’?” saya telah membahas etimologi kata ‘air’, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa bentuk kuno (arkais) dari kata ‘air’ adalah: ‘ayar’.

Dalam tulisan tersebut saya mengungkap bahwa bentuk ‘ayar’ berasal dari nama Hajar (istri Nabi Ibrahim). Hal ini setidaknya terkonfirmasi melalui tinjauan linguistik historis kata ma’an – kata dalam bahasa Arab yang berarti air – yang di sisi lain, merupakan nama kota di Yordania selatan yang menurut sejarahnya didirikan oleh orang-orang Minae. Nama orang Minae ini kuat dugaan saya berasal dari nama wilayah Mina dekat Makkah, dekat bukit Safa dan Marwah tempat Hajar mencari air untuk anaknya.

Demikianlah, dengan fakta bahwa kata ma’an dalam bahasa Arab pada dasarnya merujuk pada ‘mina’, tempat di mana kisah yang melegenda antara Hajar dan Air Zam-Zam terjadi, maka, asumsi kata air ataupun ayar sebagai kata yang merujuk pada nama Hajar, mestinya dapat pula dilihat sebagai hal yang mendasar dan masuk akal. Dengan kata lain sebutan “air/ ayar” yang digunakan dalam beberapa bahasa di Asia Tenggara dan sebutan ma’an yang digunakan dalam bahasa di Jazirah Arab, linguistik historisnya sama-sama merujuk pada legenda Hajar.

Tapi rupanya, masalah kesejarahan asal usul kata air tidak selesai sampai di sini. Karena rupa-rupanya, ada kemungkinan jika “pendukung” ibu sarah pun tidak ingin ketinggalan untuk merekam nama ‘sarah’ dalam catatan sejarah bahasa sebagai nama yang juga merujuk pada makna: air.

Bagi anda yang belum mengetahui riwayat keluarga Nabi Ibrahim, izinkan saya berikan flashback ringkas.

Hajar adalah istri kedua nabi Ibrahim. Sarah adalah istri pertama. Ketika Hajar melahirkan Ismail, Sarah merasa cemburu karena pada saat itu ia belum memberikan anak kepada nabi Ibrahim. menurut riwayat, dilandasi rasa cemburu itu, Sarah kemudian meminta Ibrahim membawa pergi Hajar dan putranya yang masih bayi ke suatu tempat di tengah padang pasir yang terpencil dan meninggalkan mereka di sana. Inilah kurang lebih kisah perseteruan antara keduanya yang tiba kepada kita generasi hari ini.

Awalnya, saya pribadi melihat kisah ini sebagai hal yang tidak perlu saya cermati. Saya pikir ini urusan nabi Ibrahim dan keluarganya-lah ngapain mesti cari tahu, lagian, sekalipun itu alasannya untuk menjadikan hikmah pembelajaran dalam kehidupan berumahtangga, kenyataannya, kan banyak kejadian serupa yang terjadi di masa sekarang.

Tapi rupanya, dalam konteks penelusuran linguistik historis asal usul kata air, prinsip itu mesti saya kesampingkan – agar dapat mencermati secara lebih jauh korelasi antara data sejarah, pelaku dan emosi yang melatarbelakanginya.

Jejak Kuno Bahasa: Tae’, Tamil, dan Rumpun Indo-Eropa

Dalam satu dekade terakhir ini, internet dan terutama fasilitas penerjemahan online, telah berperan besar mengungkap sisi gelap sejarah bahasa yang selama ini menjadi ranah “kajian spekulasi” para ahli bahasa, sejarawan maupun antropolog dalam mengarahkan bentuk skenario historiografi dunia.

Fenomena ini dapat kita amati pada metode pengelompokan rumpun bahasa yang memunculkan konsep “keterpisahan linguistik”, yang dalam beberapa waktu belakangan ini, hasil studi linguistik komparatif malah menunjukkan hasil sebaliknya. Ditemukan ada banyak kesamaan leksikon antara bahasa yang tidak berada dalam rumpun bahasa yang sama.

Seperti yang ditunjukkan oleh Alvaro Hans (2017) dalam bukunya “Proto-Indo-European Language: FACE UNVEILED !” yang dengan metode linguistik komparatif, menunjukkan bahwa beberapa leksikon dalam bahasa tamil memiliki keidentikan dengan beberapa leksikon dalam bahasa rumpun Indo-Eropa. Bahasa Tamil sendiri oleh para ahli dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Dravida.

Temuan kesamaan leksikon yang ditemukannya tersebut, mendorong Alvaro Hans mengklaim bahwa Bahasa Tamil sebagai ibu bahasa Indo-Eropa atau Proto Indo-Eropa (PIE), yang merupakan objek pencarian para ahli bahasa dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Salah satu kosakata yang disebut Alvaro Hans sebagai asli dari tamil adalah kata “food” (“makanan” dalam bahasa Inggris) yang disebutnya berasal dari bahasa tamil “vootu” yang artinya “makanan”. bentuk lainnya adalah “Voota” dalam bahasa Kannada (cabang bahasa Tamil) juga berarti “makanan”.

dokpri

Yang menarik, karena sebenarnya, kata “food” (Inggris), ataupun “vootu” (Tamil) identik pula dengan kata “pudu’” dalam Bahasa Tae‘ yang artinya “mulut”. Dalam hal ini dapat diduga bahwa telah terjadi morfologi bahasa (perubahan fonetis dan pergeseran makna) dari pudu’ yang berarti “mulut,” menjadi food dan vootu yang berarti “makanan”. 

Untuk menentukan mana yang lebih dahulu, logikanya sederhana. Dapat diperkirakan, kata food dan vootu muncul untuk menyebut apa yang dimasukkan ke dalam pudu’ (mulut). Jadi jelas kata pudu’ yang lebih kuno.

Ada pun kata mulut dalam bahasa Indonesia sebenarnya juga berasal dari kata pudu’. Dengan menggunakan metode pengamatan altikulatoris (telah saya jelaskan dalam tulisan: Formula Kunci Mengurai Sejarah) dapat terlihat jika antara kata pudu’ dan mulut telah terjadi perubahan fonetis; antara, p dan m (labial) – d dan l (dental. l fonetis yang Approximant ke dental).

Ada pun tanda petik di akhir kata pudu’ berubah menjadi t. Beberapa contoh kata dalam bahasa tae yang ketika terserap ke dalam bahasa Indonesia mengalami hal ini, adalah: lipu’ menjadi liput ; lili’ menjadi lilit ; kunyi’ menjadi kunyit, dll.

Formula Kunci Mengurai Sejarah (Dalam Genetik Aksara Syllable) – bagian 2

Para ahli bahasa di dunia telah mengakui kecanggihan pemikiran orang-orang di masa lalu dalam hal penyusunan tata bahasa, terutama teks Ashtadhyayi yang disusun Panini, seorang sarjana yang dihormati di India kuno. Ia ahli filolog dan tata bahasa. Diperkirakan hidup antara abad keenam atau kelima sebelum masehi.

F. Max Mller, dalam The Science of Language (1891, pp.124-5) memuji tata bahasa Panini sebagai berikut:

Orang Hindu adalah satu-satunya bangsa yang mengolah ilmu tata bahasa tanpa menerima dorongan apa pun, langsung atau tidak langsung, dari orang-orang Yunani. 

Dalam bahasa Sansekerta, tata bahasa disebut Vyakarana, yang berarti analisis atau mengambil potongan. Sebagaimana tata bahasa Yunani berutang atas studi kritis Homer, tata bahasa Sansekerta muncul dari studi tentang Veda, puisi paling kuno dari Brahmana. 

Tidak ada bentuk, regular atau irregular, dalam seluruh bahasa Sanskerta, yang tidak disediakan dalam tata bahasa Panini dan para komentatornya. Ini adalah kesempurnaan dari analisis empiris bahasa, tak tertandingi, bahkan tidak diketahui, oleh apa pun dalam literatur tata bahasa negara lain.

Leonard Bloomfield (1933; 1995) mengatakan tata bahasa Panini sebagai salah satu monumen terbesar kecerdasan manusia. Ia menjelaskan bahwa teks Ashtadhyayi yang di susun Panini, menguraikan dengan rincian yang paling kecil tiap-tiap infleksi, derivasi, dan komposisi, serta tiap-tiap pemakaian sintaksis bahasa penulis. Tak ada, hingga kini, bahasa lain yang telah diuraikan dengan begitu sempurna.

Kehebatan tata bahasa Panini, terutama Teori analisis morfologisnya dianggap lebih maju daripada teori Barat mana pun – setidaknya hingga sebelum abad ke-20. Risalahnya yang bersifat generatif dan deskriptif, bahkan telah dibandingkan dengan mesin Turing.

Demikianlah, kehebatan tata bahasa dari dunia kuno yang bahkan telah diperbandingkan dengan mesin turing (model komputasi teoretis yang ditemukan Alan Turing), yang merupakan cikal bakal komputer, menghadirkan pertanyaan tersendiri bagi saya, apakah dengan itu semua tidak cukup mampu mengurai kekacauan bahasa di dunia? hingga tiba pada kesimpulan bahwa memang manusia pada awalnya berbicara dalam satu bahasa yang sama, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Kitab Kejadian 11 (1-9):

Pada awalnya, orang-orang di seluruh dunia hanya memiliki satu bahasa dan menggunakan kata-kata yang sama. 

Saat orang bergerak ke arah timur, mereka menemukan dataran di Shinar dan menetap di sana. 

Mereka berkata satu sama lain,”Ayo, mari kita membuat batu bata dan memanggangnya secara menyeluruh.” Mereka menggunakan batu bata, bukan batu, dan ter untuk mortir. 

Kemudian mereka berkata, “Mari, mari kita membangun sebuah kota, dengan menara yang mencapai ke langit, sehingga kita dapat membuat nama untuk diri kita sendiri, jika tidak kita akan tersebar di seluruh permukaan bumi.” 

Tetapi TUHAN turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun orang-orang.Tuhan berkata, “Jika sebagai satu orang yang berbicara bahasa yang sama mereka telah mulai melakukan ini, maka tidak ada yang mereka rencanakan untuk dilakukan tidak mungkin bagi mereka. 

Ayo, mari kita turunkan dan membingungkan bahasa mereka sehingga mereka tidak akan saling memahami.” Jadi, Tuhan menyebarkan mereka dari sana ke seluruh bumi, dan mereka berhenti membangun kota. 

Itulah sebabnya mengapa kota itu disebut Babel, karena di sanalah Tuhan membingungkan orang-orang dengan bahasa yang berbeda. Dengan cara ini dia menyebarkannya ke seluruh dunia.

Menelusuri Jejak Kuno Aksara di Nusantara

Etimologi kata Aksara yaitu dari kata Sanskrit “aKSara” : a = tidak; KSara = binasa, hancur, mencair / luntur. Jadi, Aksara bisa dimaknai sebagai: “tidak dapat binasa, tidak dapat dihancurkan, tidak mencair / luntur”.

Dalam bahasa tae’ (bahasa tradisional di Sulawesi selatan), sara’ atau sarak berarti “pisah”. Biasanya diucapakan dalam bentuk ti-sara’ atau ti-sarak yang artinya: terpisah. Imbuhan ti dalam bahasa tae’ sama dengan imbuhan ter dalam bahasa Indonesia. Kata tisarak dalam bahasa tae saya pikir sama saja dengan kata terserak / berserak dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa jejak etimologi kata “aksara” dapat dengan mudah kita temukan dalam bahasa Nusantara, yang disebabkan oleh karena kata dasarnya (KSara) masih kita temukan digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, dalam bahasa di wilayah lain, di Asia Selatan (India, kannada, telugu, sinhala) misalnya, hal itu sudah sulit ditemukan.

Bahkan mungkin, kata dasar aksara (KSara) memang tidak pernah mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Mereka mengenalnya sebagai kata yang berada dalam naskah-naskah suci berbahasa Sanskrit (bahasa yang memang terbatas hanya digunakan oleh kaum brahmana saja, digunakan untuk menulis naskah-naskah suci).

Ketika para leluhur di masa lalu menyajikan makna yang sedemikian rupa pada kata ‘Aksara’, tentu saja suatu pemahaman filosofis ada mendasari hal tersebut. Demikian pula ketika mereka menyebut aksara seperti Abugida / aksara brahmik sebagai “aksara syllable / silabel” .

Aksara silabel adalah sistem penulisan yang urutan konsonan-vokal ditulis sebagai satu unit, di mana setiap unit didasarkan pada huruf konsonan, sementara notasi vokal bersifat sekunder. Ini berbeda dengan sistem alfabet, di mana vokal memiliki status yang sama dengan konsonan. 

Aksara pallawa, aksara kawi, aksara bali, aksara sunda, aksara lampung, aksara bugis/makassar, kesemuanya berjenis aksara syllable.

Etimologi syllable dikatakan berasal dari Anglo-French, merupakan perubahan dari kata “silabel” Perancis Kuno, dari “silaba” Latin, dan dari Yunani “syllavy” yang bermakna “diambil bersama” atau arti harafiahnya “disatukan”. Dalam bahasa tae’ (di Sulawesi selatan) terdapat kata silapi’ yang artinya “saling berlapis” atau “saling melapisi”. 

Makna kata silapi’ dalam bahasa tae ini terlihat sangat memiliki kesamaan dengan kata “syllavy” dari bahasa Yunani. Makna kata silapi’ dalam bahasa tae’ memberi kita pandangan pemahaman bahwa aksara syllable adalah sistem penulisan di mana tiap unitnya merupakan huruf konsonan dan vokal yang saling melapisi.

Jika anda menganggap hipotesis saya tentang adanya hubungan kesamaan makna antara silapi’ yang berasal dari bahasa tae dengan, syllavy yang berasal dari bahasa yunani kuno, sebagai hal yang terlalu berlebihan dan tidak mungkin terjadi, maka, hasil penelusuran saya tentang komparasi linguistik antara bahasa tae dan bahasa yunani kuno, mungkin bisa berguna untuk lebih membuka cakrawala pandang anda.

“Banawasha – Argwonoyo – Urjanu – Urr’jawa’nu” Sebutan Warna Ungu dalam Bahasa Aram, Bahasa Suryani, dan Bahasa Phoenicia, Yang Kental Bernuansa Jawa

Ada banyak literatur kuno yang menggambarkan jika warna ungu merupakan warna yang diagungkan pada masa kuno. Bahkan, dikatakan warna ungu khusus digunakan oleh kalangan atas saja. 

Pliny the Elder (23 M – 79 M), dalam buku kesembilan dari Natural History-nya, menggambarkan kemegahan dan kemewahan yang diwakili oleh warna ungu: “Di Asia ungu yang terbaik adalah Tirus, […]. Untuk warna inilah kapak Roma memberi jalan di tengah kerumunan; inilah yang menegaskan keagungan masa kanak-kanak; inilah yang membedakan senator dari barisan berkuda; orang-orang yang tersusun dalam warna ini adalah orang-orang yang beribadah.” 

Ketika Raja Persia Cyrus mengadopsi tunik ungu sebagai seragam kerajaannya, di Romawi, kaisar melarang warganya memakai pakaian ungu ketika menjalani hukuman mati, sementara hakimnya menggunakan jubah ungu ketika menjatuhkan hukuman. Pada zaman Nero, penyitaan properti bahkan hukuman mati dijatuhkan bagi mereka yang kedapatan berpakaian ungu kekaisaran. 

Di masa Kekaisaran Bizantium, ungu bahkan dipuja dengan cara lebih militan. Penguasanya senantiasa mengenakan jubah ungu, serta menandatangani dekrit mereka dengan tinta ungu. Di Konstantinopel, kamar tidur kaisar dicat dengan warna ungu, dan putranya, yang lahir di ruangan tersebut, menikmati gengsi memiliki nama panggilan Porphyrogenitus : “lahir dalam warna ungu”.

Demikianlah, selama berabad-abad tradisi menggunakan warna ungu sebagai warna kekaisaran terus berlangsung hingga ke zaman Kekaisaran Romawi Suci, bahkan hingga hari ini, pada keuskupan Katolik Roma kita masih dapat melihat warna ungu sebagai warna yang istimewa.

Jika kita menoleh jauh ke belakang untuk mencoba mencari tahu dari semenjak kapan warna ungu ini digunakan, kita bisa menemukan laporan dari beberapa sejarawan yang menginformasikan bahwa orang-orang Fenesialah yang bertanggung jawab atas kemunculan warna ungu, dan ini berkontribusi pada reputasi mereka.

Orang-orang Yunani memberi mereka nama Fenisia (phoenix) sehubungan dengan warna ungu yang mereka buat sebagai salah satu spesialisasi utama mereka.

Dalam mitologi, legenda Penemuan warna ungu dikaitkan dengan dewa Melqart, dewa pelindung kota Tirus dan merupakan dewa utama orang Fenisia. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa ketika dewa Melqart sedang berjalan di pantai bersama peri Tyros, anjingnya menemukan cangkang kerang dan mengunyahnya. Rahangnya kemudian dipenuhi warna ungu. 

Peri Tyros mengagumi warna tersebut dan meminta Melqart menghadiahkan kepadanya kain dengan warna yang indah seperti itu. Untuk menyenangkan kekasihnya, Melqart memerintahkan mengumpulkan kulit kerang untuk dijadikan bahan pewarna kain.

 Lukisan
 Lukisan “Hercules Dog Discovers Purple Dye”  oleh Peter Paul Rubens. Di Yunani Melqart diidentikkan dengan Herakles. (sumber: pixels.com/augusta-stylianou) 

Dari sudut pandang arkeologis, sisa-sisa pewarna yang ditemukan di pantai timur Laut Mediterania, membuktikan bahwa industri pewarna ungu sudah ada di sana sejak zaman kuno. Pada tahun 1934, Franois Thureau-Dangin (1872-1944), arkeolog dan epigrafis Prancis menerbitkan teks runcing dari Ugarit, yang mengabarkan bahwa sekitar 3500 tahun yang lalu, seorang pedagang lokal mencatat tagihan sejumlah wol ungu kepada beberapa orang yang berhutang kepadanya. [Nina Jidejian, Tyr a travers les ages, 1996: 279]

Jejak Monoteisme di Masa Kuno Dalam Kata “Semesta”

Menurut Wilhelm von Humboldt : “…karakter dan struktur suatu bahasa mengekspresikan kehidupan batin dan pengetahuan dari para penuturnya (…) Suara-suara tidak menjadi kata-kata sampai sebuah makna dimasukkan ke dalamnya, dan makna ini mewujudkan pemikiran suatu komunitas.” 

Humboldt juga mengatakan:  “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” ( Humboldt: “On Language”: On the Diversity of Human Language Construction and its Influence on the Mental Development of the Human Species. Edited by: Michael Losonsky, Translate by: Peter Heath (Cambridge University Press, 1999) 

Dari dua pernyataan Humboldt di atas, kita dapat memiliki gambaran bahwa, dalam bahasa yang kita warisi hari ini terekam alam pikiran orang-orang sebelum kita dari semenjak ribuan tahun yang lalu.

Dengan demikian, kegiatan penggalian asal usul suatu kata, pada dasarnya merupakan upaya untuk dapat menemu-kenali seperti apa alam pemikiran leluhur kita di masa kuno tentang kehidupan dunia yang mereka tinggali.

Masalahnya, bahasa yang kita gunakan pada hari ini sebagai warisan dari masa lalu, kenyataannya, dalam perjalanan ribuan tahun terus mengalami morfologi, yakni perubahan bentuk secara fonetis maupun pergeseran makna.

Terkait masalah morfologi yang terjadi dalam bahasa, semestinya, kita pun harus menimbang pula fakta bahwa sesungguhnya, kita mewarisi banyak “ketidakjelasan”.

Memang tak dapat dipungkiri, meskipun ada banyak “ketidakjelasan” dalam bahasa yang kita warisi, tetapi sejauh ini dengannya, kita tetap dapat merintis dan menjalani abad demi abad yang tercerahkan.

Tapi bagaimana jika seandainya bagian-bagian yang tidak jelas dalam bahasa yang kita warisi itu dapat kita ketahui makna sebenarnya dari semenjak awal? kemungkinan, kita memiliki kehidupan dunia yang jauh lebih tercerahkan. Bukan saja secara duniawi tetapi juga secara spiritual.

Dalam kesempatan ini, terkait pembahasan saya mengenai adanya ketidakjelasan dalam bahasa, saya ingin mengulas mengenai etimologi kata “semesta” yang ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam dari yang kita ketahui selama ini.

Etimologi Kata “Semesta”

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata ‘Semesta’ yang dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bermakna: seluruh; segenap; semuanya, dan kesemestaan= keuniversalan .

Sebagaimana kosakata dalam bahasa Indonesia lainnya, kata ‘semesta’ dapat pula kita telusuri keberadaannya dalam bahasa Sanskrit dengan bentuk “samasta”, yang artinya: semua; seluruh; segala. 

Bentuk kata 'samasta' dalam bahasa Sanskerta (dokpri) 
Bentuk kata ‘samasta’ dalam bahasa Sanskerta (dokpri)

Jadi, makna kata ‘semesta’ yang kita gunakan dalam bahasa Indonesia sejalan dengan makna kata ‘samasta’ dalam bahasa Sanskerta.

Sebenarnya, makna kata ‘semesta’ yang kita kenal hari ini adalah merupakan suatu bentuk pergeseran makna. Untuk mengetahui makna awal dari kata ‘semesta’ kita harus mencari kata dasarnya terlebih dahulu. 

Filosofi yang Terkandung Pada Nama Angka Dalam Bahasa Indonesia

Bahasa dan fitur bahasa seperti nama angka dan aksara, merupakan warisan kebudayaan manusia yang telah berusia ribuan tahun. Tapi tahukah kamu jika di dalam fitur bahasa tersebut (khususnya yang digunakan dalam bahasa Indonesia) ternyata terkandung pesan filosofis yang sangat tinggi. Umumnya pesan filosofis tersebut adalah tentang esensi manusia dan kehidupannya.

Dalam tulisan saya sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) telah saya urai bahwa setelah mencermati penamaan nama angka dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, terungkap bahwa terdapat pesan filosofis yang sangat tinggi, yang susunan ringkasnya kurang lebih berbunyi: “Satu takdir kemudian dituangkan/ ditempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari unsur udara, air, tanah, dan api.

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka beberapa bahasa daerah di Indonesia ini bercerita tentang eksistensi manusia sebagai entitas yang sepanjang hidup dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama. (selengkapnya baca di sini)

Filosofi yang terkandung dalam nama angka bahasa Indonesia pun tak kalah luar biasanya. Bahkan formasi penyusunannya yang unik, sebenarnya telah menyiratkan jika ia menyimpan sesuatu makna khusus.

Mari kita cermati…

  • Satu (1) dan Sembilan (9), sama-sama huruf awalan S. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Dua (2) dan Delapan (8), sama-sama huruf awalan D. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Tiga (3) dan Tujuh (7), sama-sama huruf awalan T. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Empat (4) dan Enam (6), sama-sama huruf awaln E. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Lima (5), huruf awalan L. Lima (5) ditambahkan Lima (5), hasilnya: 10.

Formasi unik yang ditunjukkan pada nama angka dalam bahasa Indonesia ini, pada dasarnya sudah ramai diketahui publik. Hanya saja berhenti pada titik itu saja, tidak mengalami penelusuran lebih jauh ke dalam.

Untuk melanjutkan penelusuran lebih jauh agar dapat memahami makna filosofi yang dikandungnya, memang butuh sedikit kreatifitas.

Hal pertama yang harus dicermati, yaitu huruf awalan yang digunakan pada susunan formasi tersebut, yakni: S, D, T, E, dan L.

Berikutnya, adalah mencermati huruf-huruf tersebut dalam format abjad Yunani. Kenapa mesti begitu? karena jenis abjad latin yang kita gunakan di Indonesia hari ini, bentuk dasarnya adalah dari abjad Yunani. Pada Abjad Yunanilah dimulainya transisi sistem penulisan, yang dari sebelumnya menggunakan sistem penulisan abjad piktograf.

Hasilnya adalah: S = Sigma, D = Delta, T = Tau, E = Epsilon, L = Lambda.

Huruf Yunani, meskipun dapat digunakan layaknya sistem penulisan abjad Latin, tetapi masing-masing hurufnya merupakan suatu simbol yang mengandung makna tersendiri. Jadi, bisa dikatakan huruf Yunani ini tetap memiliki genetik aksara pendahulunya, yaitu piktograf.