Mengurai Benang Merah, Membentang Realita Kosmis

Jika definisi ‘mukjizat’ adalah: kejadian, peristiwa, atau hal ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia, maka, apa yang saya memunculkan beberapa minggu yang lalu sebenarnya juga mengandung aspek tanda-tanda suatu mukjizat. (lihat pembahasannya di sini: Deretan Angka yang Menyiratkan “Pesan Kosmis” Garis Takdir Negara Indonesia atau lihat infografis ringkasnya di bawah)

Kemarin, ada yang sempat mengejek saya “cocoklogi”. Pertanyaannya, kalau ini cocoklogi, bagaimana bisa saya dapat munculkan pertanyaan inti: “peristiwa apakah yang akan terjadi di 7 Desember 2020 nanti?”

Kenyataannya, saya dapat memunculkan pertanyaan inti itu dari hasil menganalisa berbagai “variabel-variabel acak” yang bisa dikatakan, tak seorang manusia pun akan dapat melihat atau berpikir bahwa kesemua variabel itu sebagai suatu hal yang berhubungan.

Lalu, bagaimana bisa saya dapat melihat peluang (probabilitas) tersebut? jawabannya, seperti yang saya ungkap dalam artikel tersebut, sesuatu dalam diri saya (baca:intuitif) memberi saya petunjuk untuk menganalisa hal itu.

Demikianlah, jika pada umat di masa lalu Allah menghadirkan mukjizat yang sifatnya “perisiwa luar biasa”, seperti ketika musa diperintahkan Allah agar melemparkan tongkatnya, lalu secara tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular… (lihat QS. Taha ayat 20)

Maka, bagi umat akhir zaman yang dianggap telah maju tingkat kecerdasannya, Allah nampaknya menyesuaikan situasi, dengan menghadirkan mukjizat yang lebih cenderung bersifat saintist, karena itu menuntut pencermatan secara nalar.

Kemarin ada juga yang mengejek saya “tukang ramal”. Saya pikir orang itu tidak paham jika ada yang namanya “Mathematical Probability”, yang bisa dimaknai sebagai suatu cara mengungkapkan pengetahuan atau kepercayaan bahwa suatu kejadian akan berlaku atau sebaliknya telah terjadi melalui “hitungan matematis”. Konsep ini bukan saja diterapkan dalam ilmu matematika ataupun statistik, tetapi juga dalam sains dan filsafat.

Jalan yang saya lalui sebelum akhirnya tiba pada pertanyaan inti: “peristiwa apakah yang akan terjadi di 7 Desember 2020 nanti?” bukanlah jalan acak, random, dan penuh halu (meminjam istilah tren anak milenial).

Kenyataannya, dalam perjalanan itu saya mempertimbangkan secara ketat harus hadirnya”notasi dan terminologi logis” dalam hipotesis yang saya bangun.

Di setiap bagian “Notasi” angka-angka bilangan sempurna yang mewakili hitungan jarak waktu dari momentum awal ke momentum-momentum selanjutnya, secara ketat saya menuntut hadirnya “terminologi logis” yang mewajarkan peristiwa di momen itu layak dianggap “momentum penentu”.

Lauh Mahfuzh dan Internet, Dua Jaringan Global yang Diakses Manusia

Teknologi internet yang berkembang pesat di abad 21 ini, perlahan namun pasti telah membentuk suatu kesadaran baru, tentang cara pandang bahwa, kita (manusia) kini terhubung secara global.

Dampak signifikan dari keterhubungan secara global tersebut adalah pesatnya arus informasi. Pada hari ini, kejadian di suatu sisi belahan bumi yang dulunya butuh waktu beberapa hari, bulan, dan bahkan tahun, untuk dapat diketahui oleh orang-orang yang hidup di sisi belahan bumi lainnya, kini, dapat diketahui secara real time atau detik itu juga.

Selain memungkinkan pertukaran informasi secara real time, jaringan internet juga memfasilitasi akses ke server bank data yang kini banyak dikembangkan oleh perusahaan raksasa dunia, melalui mesin pencarian (search engine) seperti google.

Adanya aplikasi penerjemahan bahasa, di sisi lain, memudahkan setiap orang untuk memahami suatu data informasi yang tersaji dalam bentuk bahasa asing.

Fasilitas penerjemahan google misalnya, yang mendukung lebih dari 100 bahasa yang semakin hari semakin mendekati tingkat penerjemahan bahasa dengan tata bahasa yang tepat — berkat teknologi Google Neural Machine Translation (GNMT) yang Pada bulan November 2016 resmi mereka launching, bisa dikatakan adalah salah satu kemewahan peradaban di abad 21 ini.

Kesamaan Jaringan Internet dan Lauh Mahfuzh

Sistem kerja yang kita ketahui berlaku pada jaringan internet, bisa dikatakan identik dengan yang berlaku pada server alam semesta “Lauh Mahfuzh”.

Lauh Mahfuzh atau yang kadang disebut juga Akashic Records, telah diketahui sejak masa kuno sebagai medium penyimpanan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. 

Meskipun telah diketahui sejak masa kuno, namun, hanya sedikit saja “orang khusus” yang mampu mengakses secara signifikan data yang tersimpan di server alam semesta ini. 

Ini tidak berarti manusia awam tidak mampu mengakses. Pada kenyataannya, sebelum umat manusia mengenal dan terhubung secara global melalui jaringan internet, umat manusia telah terlebih dahulu terhubung satu sama lain melalui jaringan Lauh Mahfuzh. 

Walaupun tentu saja, dari sejak masa kuno, hanya sangat sedikit saja orang yang memiliki pemahaman tentang adanya Lauh Mahfuzh sebagai jaringan yang menghubungkan seluruh manusia di muka bumi.

Oleh “orang-orang khusus” tersebut, pemahaman tentang Lauh Mahfuzh menjadi hal yang sangat dirahasiakan, dan digunakan untuk kalangan yang sangat terbatas.

Lauh Mahfuzh sebagai suatu jaringan global, akhirnya mengemuka dan menjadi pembahasan umum di kalangan ilmuwan manakala Pierre Teilhard de Chardin (Seorang filsuf idealis Prancis, merupakan profesor geologi di Institut Catholique di Paris, dan dikenal sebagai Pastor Jesuit, paleontolog, dan paleoanthropologist) menghadirkan pemikirannya tentang konsep Noosfer (Noosphere). 

Apa itu Emerald Tablet?

Stephen King, penulis novel kontemporer Amerika bergenre horor, fiksi ilmiah, dan fantasi, yang karyanya telah sukses terjual lebih dari 350 juta eksemplar di seluruh dunia, baru-baru ini merekomendasikan serial Netflix ‘Dark’ sebagai tontonan yang bermanfaat melalui akun twitternya @StephenKing.

“DARK (Netflix) gelap dan kompleks … dan … yah … sangat Jerman. Pertunjukan yang luar biasa. Jika Anda bingung, buka MetaWitches dan lihat rekap Metacrone. Terperinci dan bermanfaat,” ungkapannya.

‘Dark’ memang berhasil memukau penonton di seluruh dunia dengan tema, dan terutama alur ceritanya yang cukup memaksa penontonnya mengikuti perkembangannya secara waspada.

‘Dark’ dibandingkan dengan ‘Stranger Things’ (juga merupakan serial Netflix), terutama karena ide cerita tentang anak-anak yang hilang, konspirasi pemerintah, dan kilas balik ke tahun 80-an, sepertinya telah bekerja sangat baik dalam membantu promosi film serial ini. Namun demikiam, ulasan yang bermunculan sejauh ini, rata-rata menggambarkan jika serial ‘Dark’ lebih canggih.

Mengenai aspek Sains fiksi yang diusung, ‘Dark’ mengadopsi konsep “lubang cacing” untuk dapat melakukan perjalanan waktu, dan menonjolkan “Partikel  Tuhan” (dikenal sebagai Higgs boson dalam dunia fisika) sebagai solusi untuk itu.

Tapi yang menarik adalah, munculnya artefak kuno “Emerald Tablet”, sebagai  hal yang melatarbelakangi dilakukannya perjalanan waktu dalam serial ini.

Dalam ‘Dark’, Emerald Tablet diyakini dapat mengungkap rahasia Alkimia, dan menyimpan jawaban tentang esensi semua materi atau “Prima materia”. Keyakinan semacam ini memang berkembang di kalangan Alkemis di abad pertengahan.

Dan nampaknya, Partikel Tuhan-lah yang dianggap sebagai partikel kunci untuk wacana pembuatan portal yang memungkin perjalanan waktu dapat dilakukan ke tanggal yang diinginkan.

Hal lain yang menjadikan serial ‘Dark’ semakin “dark”, adalah penggunaan teks esoterik berbahasa latin “Sic mundus creatus est” yang memang terdapat dalam Emerald Tablet. Arti kalimat ini: “dengan Demikian (seperti itu), dunia diciptakan”. Selain itu “Sic Mundus” juga menjadi nama sebuah perkumpulan rahasia dalam serial ini.

Penggambaran Tablet Zamrud abad ke-17 yang imajinatif dari karya Heinrich Khunrath, 1606

Jadi, Apa itu Emerald Tablet?

Emerald Tablet, juga dikenal sebagai Smaragdine Tablet, atau Tabula Smaragdina, adalah teks kebijaksanaan kuno yang mengandung rahasia prima materia. Naskah ini sangat dihormati oleh alkemis Eropa sebagai dasar seni mereka dan tradisi Hermetiknya. 

Sumber asli Emerald Tablet tidak diketahui. Meskipun demikian, Hermes Trismegistus tertulis sebagai nama penulis dalam teks tersebut. Sebagaimana kita ketahui, Hermes dianggap sinkron dengan Dewa kebijaksanaan Mesir kuno, Thoth, dan dikenal sebagai Enoch atau Idris dalam agama Samawi.

Meskipun tablet ini diklaim ditulis menggunakan karakter Fenisia kuno, namun sumber teks tertua yang terdokumentasi, menunjukkan teks ini berbahasa Arab, ditulis antara abad keenam dan kedelapan masehi, yakni dalam “Kitab Balaniyus al-Hakim fi’l-`Ilal Kitab sirr al-aliqa” (Kitab Balanius yang bijak tentang Penyebab atau kitab rahasia penciptaan dan hakikat realitas).

Dalam bukunya, Balinas (Balanius) membingkai Tablet Zamrud sebagai kebijaksanaan Hermetik kuno. Dia memberi tahu pembacanya bahwa dia menemukan teks di lemari besi di bawah patung Hermes di Tyana, dan di dalam lemari besi itu, mayat tua di atas takhta emas memegang Emerald Tablet.

Berikut ini kurang lebih bunyi terjemahan teks dalam Emerald Tablet tersebut:

  1. Saya tidak berbicara tentang hal-hal fiktif tetapi tentang apa yang paling pasti dan benar.
  2. Apapun yang di bawah adalah seperti yang di atas, dan yang di atas mirip dengan yang di bawah untuk mencapai keajaiban satu hal.
  3. Dan karena segala sesuatu telah dan bangkit dari satu melalui satu, maka semua hal terlahir dari hal satu ini dengan adaptasi.
  4. Ayahnya adalah matahari, ibunya bulan; angin membawanya di perutnya, bumi adalah perawatnya. Bapak dari semua kesempurnaan di seluruh dunia ada di sini. Kekuatannya sempurna, jika diubah menjadi bumi.
  5. Pisahkan bumi dari api, yang halus dari yang kasar, bertindak dengan bijaksana dan dengan pertimbangan. 
  6. Naik dengan kecerdasan terbesar dari bumi ke surga, dan kemudian turun lagi ke bumi, dan satukan bersama kekuatan dari hal-hal yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
  7. Dengan demikian Anda akan memiliki kemuliaan seluruh dunia, dan semua ketidakjelasan akan terbang jauh dari Anda.
  8. Benda ini memiliki lebih banyak ketabahan daripada ketabahan itu sendiri, mengalahkan setiap benda halus dan menembus setiap benda padat.
  9. Dengan demikian (seperti itulah) dunia ini diciptakan.
  10. Maka terjadilah hal-hal menakjubkan yang dengan kebijaksanaan ini didirikan.
  11. Untuk alasan ini saya dipanggil Hermes Trismegistus, karena saya memiliki tiga bagian dari filosofi seluruh dunia.
  12. Lengkaplah apa yang saya harus katakan tentang pengoperasian matahari.

Semua ungkapan dalam teks ini jelas berbentuk bahasa simbol, dan tentunya sulit untuk mengartikan maknanya secara pasti. 

Biosemiotik, Geliat di Babak Akhir Pencarian Manusia

Dalam kamus Oxford Biokimia dan Biologi Molekuler (1997), dijelaskan bahwa Biosemiotik adalah “Studi tentang tanda-tanda, komunikasi, dan informasi dalam organisme hidup”.

Sementara itu, kalevi Kull (1999) dalam tulisannya Biosemiotics in the twentieth century: A view from biology, mengatakan: Biosemiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tanda-tanda dalam sistem kehidupan. Karakteristik utama dan khas biologi semiotik terletak pada pemahaman bahwa dalam kehidupan, entitas tidak berinteraksi seperti benda mekanis, melainkan sebagai pesan, atau potongan teks.

Dalam situs resminya; http://www.biosemiotics.org, Biosemiotik dijelaskan sebagai suatu agenda penelitian interdisipliner yang menyelidiki berbagai bentuk komunikasi dan makna yang ditemukan di dalam dan di antara sistem kehidupan. 

Dengan demikian ini adalah studi tentang representasi, makna, indera, dan signifikansi biologis dari proses kode dan tanda – sekuens kode genetik – proses pensinyalan antar sel – perilaku tampilan hewan – artefak semiotik manusia seperti bahasa dan pemikiran simbolik abstrak.

Proses tanda tersebut muncul di mana-mana dalam literatur tentang sistem biologis. Namun, hingga baru-baru ini, secara implisit diasumsikan bahwa penggunaan istilah-istilah seperti “pesan” “sinyal” “kode” dan “tanda” pada akhirnya bersifat metaforis, dan bahwa istilah semacam itu suatu hari nanti dapat secara efektif direduksi menjadi sekadar bahan kimia dan interaksi fisik yang mendasari proses tersebut.

Siklus Angka Kosmis dalam Nubuat Akhir Zaman


“Hukum-hukum alam hanyalah pemikiran matematis dari Tuhan.” – Euclid. 

Pernyataan Euclid ini bisa dikatakan mewakili klaim dari orang-orang dahulu bahwa Tuhan bekerja dengan matematika.

Berbagai ilmu hitung yang kita warisi di masa sekarang, seperti matematika, fisika, dan ilmu astronomi, besar kemungkinan adalah hal yang dipandang suci oleh orang-orang di masa kuno.

Pemahaman ini didasari pertimbangan bahwa karena Tuhan menciptakan alam semesta berdasarkan prinsip-prinsip geometris dan harmonis, maka mencari prinsip-prinsip ini berarti upaya mencari dan ingin mengenal Tuhan. Tindakan ini dengan sendirinya akan mendekatkan dan mengakrabkan sang pencari pada kebesaran dan keagungan ciptaan Tuhan.

***

Dalam tulisan sebelumnya (Makna dari Nubuat “Empat Penunggang Kuda“), telah saya bahas interpretasi dari metafora “empat penunggang kuda” yang merupakan visi apokaliptik John (Yohanes) dari Patmos, bahwa kemunculan “empat penunggang kuda” tersebut berada dalam pola jangka waktu yang simetris yaitu setiap 360 tahun.

Kemunculan Penunggang pertama dengan “kuda putih” saya identifikasi terjadi pada tahun 610 M, merujuk pada nabi Muhammad yang dalam banyak literatur sejarah disebutkan menunggangi kuda putih.

Kemunculan penunggang kedua dengan “kuda merah” saya identifikasi terjadi pada tahun 970 M, merujuk pada John I Tzimiskes (kaisar Bizantium), yang memang terkenal dengan julukan “Chmushkik” yang dalam bahasa Armenia berarti “boot merah.”

Kemunculan penunggang ketiga dengan “kuda hitam” saya identifikasi terjadi pada tahun 1330 M, merujuk pada Edward the Black Prince, putra tertua Raja Edward III dari Inggris, yang terkenal dengan julukan “pangeran hitam” (the black prince).

Kemunculan penunggang keempat dengan “kuda pucat” saya identifikasi terjadi pada tahun 1690 M, tidak merujuk pada sosok seseorang tokoh, tapi lebih merujuk pada sebuah institusi, bisa sebuah institusi negara, kerajaan, atau pun institusi agama. 

Warna pucat kuda keempat, yang disebut kuning kehijauan atau hijau kekuningan, besar dugaan saya merujuk pada wabah demam kuning yang pada tahun 1690 menyebar di Tiga belas koloni Inggris di benua Amerika. Salah satu yang terparah, yaitu wabah yang menyebar di Philadelphia pada kisaran 1690-1807. 

Dalam tulisan sebelumnya juga telah saya bahas bahwa kemunculan empat penunggang kuda tersebut, sesuai yang riwayatkan dalam nubuat, adalah merupakan konsekuensi dibukanya segel pertama, kedua, ketiga, dan keempat, dari tujuh segel yang ada.

Adapun pada pembukaan segel kelima (Wahyu 6:9-11), segel keenam (Wahyu 6:12-17), dan ketujuh (Wahyu 8:1-5), tidak lagi ditandai penampakan penunggang kuda, tapi dengan penampakan yang lain.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Wahyu 6:9-11, pembukaan segel kelima menyajikan penampakan “jiwa-jiwa para syahid” – Pembukaan segel keenam diulas dalam Wahyu 6:12-17, menyajikan penampakan “Gempa bumi dahsyat” – dan pembukaan segel ketujuh dalam Wahyu 8:1-5, menyajikan penampakan Tujuh malaikat dan tujuh sangkakala.

Jika kemunculan empat penunggang kuda yang menandai pembukaan segel pertama hingga keempat, saya asumsikan berada dalam siklus 360 tahun, maka pembukaan segel kelima, keenam, dan ketujuh, saya asumsikan terjadi dalam siklus 129 tahun 6 bulan (tapi untuk mempermudah  perhitungan dibulatkan saja menjadi 129)

Sehingga jika pembukaan segel keempat (yang ditandai dengan kemunculan penunggang kuda keempat) terjadi pada tahun 1690 M, maka pembukaan segel kelima terjadi pada tahun 1819 M, pembukaan segel keenam pada tahun 1948 M, dan pembukaan segel ketujuh pada tahun 2077 M.

Tentunya pembaca bertanya-tanya, dari mana saya dapatkan angka 129 ini? jawabannya, angka 129 berasal dari jumlah kuadrat dari 360 (360 x 360 = 129.600).

Angka 129.600 sendiri adalah angka yang unik dan akrab dikenal di kalangan filsuf hingga kalangan okultisme.

Sejarah Ekspedisi Arkeologis Nazi Jerman ke Tibet

Pada tahun 1935, berdiri sebuah lembaga penelitian elit Nazi bernama Ahnenerbe. Nama itu berasal dari kata Jerman yang agak kabur, yang berarti “sesuatu yang diwarisi dari nenek moyang.”  Misi resmi Ahnenerbe adalah untuk menggali bukti baru tentang pencapaian nenek moyang Jerman “menggunakan metode ilmiah yang tepat.” (Kenneth Hite: The Nazi Occult, 2013: 20)

Pendiri Ahnenerbe terdiri dari: Herman Wirth, seorang sejarawan Belanda-Jerman, sarjana agama dan simbol kuno, yang terobsesi dengan Atlantis; Walter Darre pencipta ideologi ‘Darah dan Tanah’ Nazi, dan menjabat sebagai Menteri Pangan dan Pertanian Reich dari tahun 1933 hingga 1942 ; serta Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS  ( Schutzstaffel ).

Besarnya penolakan masyarakat ilmiah Eropa pada saat itu terhadap doktrin rasialis “ras arya” sebagai ras unggul umat manusia, mendorong Hitler dan Partai Nazinya, untuk membuktikan kebenaran doktrin mereka dengan melakukan penelitian secara  ekstensif untuk menggali dan mengumpulkan bukti arkeologis tentang sejarah budaya dan karakteristik ras Arya di berbagai penjuru dunia.

Organisasi ini memiliki banyak  cabang berbeda, yang menangani lebih dari seratus total proyek penelitian. Penggalian arkeologi dilakukan di Jerman, Yunani, Polandia, Islandia, Rumania, Kroasia dan banyak negara lain, termasuk Afrika dan Rusia (bagian yang diduduki). Tibet terutama menjadi prioritas bagi para peneliti, dan khususnya Institute for Inner Research Asia. (sumber di sini)

Pengamat sejarah modern sebagian besar menganggap bahwa “operasi Arkeologis Ahnenerbe’ tidak ada bedanya dengan “bisnis pembuatan mitos”. Para peneliti terkemuka yang turut mengabdikan diri dalam kegiatan penelitian tersebut, dianggap telah berupaya mendistorsi kebenaran dan mengaduk-aduk bukti – yang dirancang dengan hati-hati untuk mendukung ide-ide Adolf Hitler, sekaligus mendukung tujuan politis untuk menguatkan nasionalisme Nazi Jerman.

Hitler telah mempromosikan ide-idenya tentang kebesaran leluhur Jerman dalam bukunya tahun 1925, Mein Kampf . Hitler percaya bahwa Ras Arya – yang berpostur tinggi besar, berambut pirang, yang umumnya ditunjukkan oleh orang Eropa utara atau “Nordic” – Memiliki kejeniusan yang dibutuhkan untuk menciptakan peradaban. Kebanyakan orang Jerman modern, katanya, adalah keturunan bangsa Arya kuno ini.

Pendapat Hitler tersebut, oleh sebagian besar sarjana dan ilmuwan di luar Jerman, dianggap sebagai gagasan tentang evolusi manusia dan prasejarah yang omong kosong, hal ini didasari oleh alasan, oleh karena tidak adanya bukti bahwa masyarakat Eropa Utara pernah memulai perkembangan besar dalam prasejarah, seperti pengembangan pertanian maupun penulisan – yang kesemua itu telah terbukti secara ilmiah hadir pertama kali di Timur Dekat dan di Asia.

Besarnya penolakan sarjana dan ilmuwan Eropa pada saat itu, tidak menyurutkan langkah Heinrich Himmler yang terkenal memiliki minat besar pada hal yang berbau mistis dan gaib peninggalan dunia kuno. Himmler menganggap penolakan tersebut tidak lebih dari kegagalan para sarjana tersebut dalam mengungkap bukti dari Ras Arya yang begitu agung menerangi obor peradaban dan melahirkan semua kesempurnaan budaya manusia.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Api”?

(gambar: cnn.com)

Dalam Kamus Komparatif Bahasa Austronesia yang disusun oleh Robert Blust (profesor di Departemen Linguistik Universitas Hawaii, seorang ahli linguistik historis , leksikografi , etnologi, mengkhususkan diri dalam penelitian bahasa-bahasa Austronesia) disebutkan bahwa bentuk paling awal kata ‘api’ adalah: Sapuy (PAN: Proto Austronesia); dan Hapuy (PMP: Proto Melayu Polinesia).

Turunan dari PAN meliputi: Saisiyat = hapoy; Proto-Atayalic = hapu-niq, hapuy; Pazeh = hapwi, hapuy; Thao = apuy; Bunun = sapud; Hoanya = dzapu; Tsou = puzu; Kanakanabu = apulu; Siraya = apuy; Proto-Rukai = apoy; Puyuma (Tamalakaw) = apuy; Paiwan = sapuy.

Turunan dari PMP meliputi: Klata = opuy; Itbayaten = hapoy; Ilokano = apuy; Isneg = apuy; Itawis = afi; Malaweg = apuy; Casiguran Dumagat = apoy; Pangasinan = apoy; Sambal = apoy; Tagalog = apoy; Maguindanao = apuy; Tiruray = afey; Tboli = ofi; Kujau = tapuy; Minokok = tapuy; Murik = api; Kayan = apuy; Melanau (Mukah) = apuy; Melanau Dalat (Kampung Teh) = apuy; Bukat = apuy; Bekatan = apoy; Kejaman = apuy; Lahanan = apuy; Melanau (Matu) = apuy; Kanowit = apoy; Ngaju Dayak = apuy; Ma’anyan = apuy; Malagasy = afo; Dusun Witu = apuy; Iban = api; Maloh = api; Proto-Chamic = apuy; Malay = api; Acehnese = apuy; Karo Batak = api; Toba Batak = api; Mentawai= api; Lampung = apuy; Sundanese = apuy(archaic); Old Javanese = apuy, apwi; Javanese = api; Madurese = apoy; Balinese= api; Sasak = api; Proto-Minahasan = api; Totoli = (h)api; Petapa Taje = api; Balantak = apu; Bare’e = apu; Tae’ = api; Mori Atas = apui; Bungku = api; Koroni = api; Moronene = api; Proto-South Sulawesi = api; Mandar = api; Makassarese = api; Bonerate = api; Popalia = api; Bimanese = afi; Komodo = api; Manggarai = api; Ngadha = api; Keo = api; Riung = api; Proto-Ambon = apu(y); Laha = au; Hitu = au; Seit = au; Asilulu = au; Batu Merah = aow; Morella= aow; Amblau = afu; 

Dan masih banyak lagi, yang tak dapat disebut di sini satu per satu. Untuk selengkapnya pembaca dapat mengunjunginya di sini: www.trussel2.com

Dalam bahasa Sanskerta sendiri, selain kata ‘agni’ (yang umum dikenal bermakna ‘api’), ada kata ‘vRSAkapi’ yang juga artinya: api / matahari / kera. 

Lalu, ada juga dalam bahasa Sanskerta kata ‘kapila’ (nampaknya cukup ada keterkaitan dengan kata ‘vRSAkapi’) yang artinya: coklat / kuning kecoklatan / kemerahan / berambut merah / warna monyet. 

Terkhusus untuk pengertian ‘kapila’ yang terakhir (warna monyet), saya menduga, bisa jadi memang ada keterkaitan antara kata ‘api’ dengan kata ‘ape’ yang dalam bahasa Inggris berarti ‘kera’.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Tanah”?

Pada umumnya asal usul kata untuk menyebut ‘tanah’ dalam berbagai bahasa di dunia, bisa dikatakan tidak terlepas dari personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno. 

Hal ini nampaknya merujuk pada Personifikasi “langit dan bumi” sebagai gambaran maskulinitas dan feminitas bagi sosok Adam (langit) dan Hawa (bumi).

Dalam Personifikasinya sebagai Ibu Bumi, Hawa disebut dalam banyak bentuk ‘nama’. Nama-nama tersebut dapat kita temukan dalam cerita-cerita mitologi dari berbagai bangsa di dunia. 

Sebelum saya membahas mitologi yang terkait dengan personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno, terlebih dahulu saya ingin menunjukkan bentuk kata ‘tanah’ dalam berbagai negara di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Albanian = toke; Basque= lurra; Bosnian = zemlju; Catalan = terra; Danish = jorden; Dutch = land;Estonian = maa; Finnish = maa; French = terre; Galician = terra; German = Land; Icelandic = Land; Irish = talamh; Latvian = zeme; Macedonian = zemjata; Maltese = art; Norwegian = land; Portuguese = terra; Swedish =  landa; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Asia : Bengali = jami; Chinese = tu-di; Georgian = mits’is; Gujarati = Jamina; Hindi = bhoomi; Kazakh = jer; Khmer = dei; Korean = ttang; Lao = thidin; Malayalam nilam; Marathi = jameen; Myanmar = myayyar; Nepali = bhoomi; Tajik = zamin; Tamil = Nila; Telugu = Bhumi; Thai = Thidin; Turkish = arazi; Uzbek = er; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘tanah’ dalam beberapa bahasa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara: Arabic = ‘ard; Igbo = ala; Somali = dalka / dhulka; Swahili = ardhi; Yoruba = ile; Zulu = umhlaba / emhlabathini; Cebuano= yuta; Indonesian = tanah; Malagasy = tany; Malay = tanah; Maori = whenua; dan masih banyak lagi.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Air”?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan jika bentuk kuno (arkais) kata ‘air’ adalah ‘ayar’. Dalam buku Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara, Slamet Muljana mengungkap pendapat Ernest Hamy (1842-1908), seorang antropolog dan etnolog Prancis, yang mengatakan bahwa kata ‘ayar’ berasal dari bahasa Melayu Kontinental, sedangkan kata ‘air’ berasal dari bahasa Melayu.

Lebih lanjut menurut Hamy, Kata ‘ayar’ dalam Melayu Kontinental dan kata ‘air’ dalam bahasa Melayu tidak berasal dari peristiwa pinjam-meminjam, tetapi keduanya merupakan warisan dari bahasa purba yang disebutnya “Melayu Kontinental purba”. Namun ia tidak dapat mengatakan di mana bahasa Melayu Kontinental purba itu pernah diucapkan.

Sebutan Melayu Kontinental sendiri, bisa dikatakan merujuk pada wilayah daratan Asia Tenggara, mulai dari semenanjung Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos hingga Myanmar. 

Tapi, di Melayu Kontinental, menurut Hamy sebagaimana yang dikutip Slamet Muljana dalam bukunya, kata ‘ayar’ terbatas hanya digunakan suku Jarai  (etnis yang bermukim di Dataran Tinggi Tengah Vietnam ), Piak (etnis yang bermukim di wilayah Laos dan Thailand utara), Preh (Terkonsentrasi di bagian selatan provinsi Dak Lak dan Dak Nong, dan sebagian Lam Dong dan Provinsi Binh Phuoc di Vietnam), dan beberapa lagi suku lainnya.

Kata Ayar atau pun air ini memang unik, karena bentuknya sama sekali berbeda, tidak menunjukkan sedikitpun kesamaan fonetis dengan kata air dalam bahasa-bahasa lain di dunia.

Berikut ini rincian kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di dunia…

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Eropa: Bosnian= voda; Catalan= aigua; Croatian = voda; Czech= voda; Danish = vand; Dutch = water; Estonian = vesi; Finnish = vesi; French = eau; Galician = auga; German = Wasser; Hungarian = viz; Icelandic = Vatn; Irish = uisce; Italian = acqua; Lithuanian = vanduo; Maltese = ilma; Norwegian = vann; Polish = woda; Portuguese = agua; Russian = vody; Serbian = voda; Slovak = voda; Slovenian = voda; Spanish = agua; Swedish = vatten; Ukrainian = voda; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Asia: Armenian = jur; Azerbaijani = su; Bengali = pani;  Chinese = shui; Georgian = ts’q’ali; Gujarati = pani; Hindi = paanee; Japanese = shui; Kazakh = ; Khmer = tuk; Korean = mul; Lao = noa; Mongolian= ; Malayalam = vellam; Myanmar = ray; Nepali = paanee; Sinhala = jalaya;  Tamil = nir; Telugu = Nii; Thai = Na; Turkish = Su; Uzbek = suv; dan masih banyak lagi.

Penyebutan kata ‘air’ dalam beberapa bahasa di Timur tengah dan Afrika : Arabic = ma’an; Chichewa = madzi; Hausa= ruwa; Igbo = mmiri; Sesotho = metsi; Somali = biyaha; Swahili = maji; Yoruba= omi; Zulu = amanzi

Formasi Unik dan Filosofi yang Dikandung Nama Angka dalam Bahasa Indonesia

Bahasa dan fitur bahasa seperti nama angka dan aksara, merupakan warisan kebudayaan manusia yang telah berusia ribuan tahun. Tapi tahukah kamu jika di dalam fitur bahasa tersebut (khususnya yang digunakan dalam bahasa Indonesia) ternyata terkandung pesan filosofis yang sangat tinggi. Umumnya pesan filosofis tersebut adalah tentang esensi manusia dan kehidupannya.

Dalam tulisan saya sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) telah saya urai bahwa setelah mencermati penamaan nama angka dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, terungkap bahwa terdapat pesan filosofis yang sangat tinggi, yang susunan ringkasnya kurang lebih berbunyi: “Satu takdir kemudian dituangkan/ ditempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari unsur udara, air, tanah, dan api.

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka dalam bahasa daerah di Indonesia ini bercerita tentang eksistensi manusia, sebagai entitas yang sepanjang masa hidupnya dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama. (selengkapnya baca di sini)

Filosofi yang terkandung dalam nama angka bahasa Indonesia pun tak kalah luar biasanya. Bahkan formasi penyusunannya yang unik, sebenarnya telah menyiratkan jika ia menyimpan sesuatu makna khusus.

Mari kita cermati…

  • Satu (1) dan Sembilan (9), sama-sama huruf awalan S. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Dua (2) dan Delapan (8), sama-sama huruf awalan D. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Tiga (3) dan Tujuh (7), sama-sama huruf awalan T. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Empat (4) dan Enam (6), sama-sama huruf awaln E. Jika dijumlahkan, hasilnya: 10
  • Lima (5), huruf awalan L. Lima (5) ditambahkan Lima (5), hasilnya: 10.

Formasi unik yang ditunjukkan pada nama angka dalam bahasa Indonesia ini, pada dasarnya sudah ramai diketahui publik. Hanya saja berhenti pada titik itu saja, tidak mengalami penelusuran lebih jauh ke dalam.

Untuk melanjutkan penelusuran lebih jauh agar dapat memahami makna filosofi yang dikandungnya, memang butuh sedikit kreatifitas… bisa juga butuh cukup banyak, tergantung… ya katakanlah, biar sedikit.. tapi dengan kualitas yang tinggi… 🙂

Hal pertama yang harus dicermati, yaitu huruf awalan yang digunakan pada susunan formasi tersebut, yakni: S, D, T, E, dan L.

Berikutnya, adalah mencermati huruf-huruf tersebut dalam format abjad Yunani. Kenapa mesti begitu? – karena jenis abjad latin yang kita gunakan di Indonesia hari ini, bentuk dasarnya adalah dari abjad Yunani. Pada Abjad Yunanilah dimulainya transisi sistem penulisan, yang dari sebelumnya menggunakan sistem penulisan abjad piktograf.

Hasilnya adalah: S = Sigma, D = Delta, T = Tau, E = Epsilon, L = Lambda.

Huruf Yunani, meskipun dapat digunakan layaknya sistem penulisan abjad Latin, tetapi masing-masing hurufnya merupakan suatu simbol yang mengandung makna tersendiri. Jadi, bisa dikatakan huruf Yunani ini tetap memiliki genetik aksara pendahulunya, yaitu piktograf.

Berikut ini makna yang dikandung huruf S, D T, E, dan L, menurut aksara Yunani.