Ini Dasar dan Fakta bahwa Negeri Sabah atau “Negeri Pagi” Adalah Identitas Wilayah Nusantara di Masa Kuno

Dalam tulisan sebelumnya “Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba” telah saya ungkap beberapa catatan dari masa lalu yang kuat mengindikasikan Nusantara sebagai negeri saba yang ada disebut dalam Al-Kitab maupun Al-Quran.

Pertanyaan yang mestinya timbul kemudian adalah, Jika benar Nusantara adalah negeri Saba, mengapa ia disebut negeri saba? apa alasannya?

Untuk menjawab pertanyaan penting ini, saya akan terlebih dahulu mengenalkan satu bentuk toponim dan etnonim kuno yang banyak terdapat di wilayah timur Nusantara hingga wilayah selandia baru, yakni: Mori atau Maori.

Mori atau Maori yang berarti “pagi”

Di wilayah timur, tempat bersemayamnya Helios sang Dewa Matahari dalam mitologi Yunani, terdapat banyak toponim dan etnonim yang menggunakan kata “Mori”. Seperti Suku Maori (penduduk asli Selandia Baru), Suku Mori di Sulawesi tengah, Pulau Mori di muara sunga Malili di Luwu Timur, dan Puncak Nene’ Mori yang merupakan puncak kedua tertinggi di pegunungan Latimojong setelah puncak Rante Mario, dan masih banyak lagi toponim lainnya.

Mungkin pada pikiran Pembaca akan segera timbul pertanyaan lain: apa pula hubungan antara Helios sang Dewa Matahari, Mori, dan “Negeri Pagi” yang menjadi judul artikel ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca untuk terlebih dahulu memahami filosofi “Bangsa Matahari” yang mendasari lahirnya mitologi Dewa Matahari, yang dalam kurun waktu ribuan tahun perjalanan peradaban manusia, terus eksis, hadir di peradaban berbagai bangsa dengan sebutan yang berbeda-beda.

Kita patut bersyukur karena pemahaman filosofi yang mendasari spirit peradaban manusia selama ribuan tahun itu dapat kita temukan terekam dalam catatan Himne tertua Veda, yakni pada himne 1.115 Rgveda yang menyebutkan: 

Surya sebagai penghormatan khusus untuk “Matahari Terbit” dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan. 

Untuk diketahui, dalam tradisi Hindu, Surya berkonotasi Dewa Matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide, 2011).

Hal terpenting untuk dicermati dari Rekaman Himne tertua Veda di atas, adalah pada kalimat “sebagai penghormatan khusus untuk Matahari terbit”, karena ini mesti kita cermati bahwa dari kesemua rentang waktu posisi matahari di langit pada siang hari, hal yang paling dikhususkan terletak pada posisi waktu ia terbit, yang dalam perbendaharaan Bahasa kita pada hari ini, kita kenal dengan sebutan “pagi”.

Seorang teman saya di Facebook yang bertempat tinggal di Singaraja Bali, mengatakan Di bali setiap perande, peranda, atau pedanda (pendetanya orang Bali) memiliki kewajiban “nyurya sewana” di pagi hari memuja matahari yang baru terbit. 

Beliau juga mengatakan bahwa Orang bali kebanyakan menyebut perandenya (pendétanya) dengan sebutan “suryan tityangé” (matahari saya) atau bisa diartikan “wakil saya memuja matahari”. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sikap penghormatan khusus untuk Matahari terbit” hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Bali.

Jejak Dewi Fajar di Pegunungan Latimojong

Metafora adalah gaya bahasa yang umum digunakan leluhur kita di masa kuno dalam mengungkap sesuatu. Terutama terhadap kejadian, figur, atau hal-hal apapun yang dianggap sangat sakral dan sifatnya suci. 

Selain sebagai wujud penghormatan terhadap apa yang dianggap Sakral tersebut, kenyataannya, gaya bahasa metafora memang memiliki kedalaman atau keluasan makna yang bisa dikatakan tepinya tak terjangkau nalar – sehingga dengan demikian bernuansa kesadaran kosmis.

Namun, kelebihan gaya bahasa metafora yang demikian itu pulalah yang membuat kita pada hari ini kesulitan dalam memahami informasi dari masa kuno secara komprehensif.

Bahkan dalam beberapa kasus, terkadang divonis “tak layak menjadi sumber rujukan sejarah” oleh beberapa sejarawan. Hal ini setidaknya menjadi topik perdebatan tersendiri di kalangan sarjana dalam beberapa dekade terakhir.

Misalnya, Ian Caldwell dalam sebuah tulisannya dengan tegas menyatakan bahwa Sure Galigo (naskah kuno berisi mitologi Luwu/ Bugis) tidak dapat dijadikan sebagai sebuah sumber sejarah bagi rekonstruksi Kedatuan Luwu karena unsur anakronisme pada hampir semua penceritaannya.

Penegasannya ini sekaligus merupakan kritik yang dialamatkan Ian Caldwell pada Pelras yang menjadikan karya sastra seperti I La Galigo sebagai sumber penelitiannya. 

Demikianlah, informasi dari masa kuno (lisan maupun tulisan) yang tersusun dalam bentuk gaya bahasa metafora, oleh kalangan sarjana di masa modern dikategorikan sebagai sebuah karya sastra. Umumnya dianggap sebagai hasil karya imajinatif, fiksi, dan karena itu tidak dapat dijadikan sebagai rujukan riset ilmiah terkait kesejarahan.

Memosisikan informasi dari masa kuno sedemikian rupa tentunya adalah hal yang sangat disayangkan. Terlebih lagi jika kita telah memahami bahwa uraian-uraian yang bersifat simbolik yang terkandung di dalamnya, sesungguhnya adalah pesan-pesan yang spesifik yang jika kita mampu menerjemahkannya secara benar akan menjadi rujukan informasi yang sangat berharga.

Berikut ini, saya menyajikan pengungkapan sosok dan asal usul Dewi Fajar yang melegenda di masa kuno sebagai contoh kasus tentang upaya yang dapat dilakukan dalam menerjemahkan informasi dari masa kuno yang bersifat simbolik menggunakan metode perbandingan mitologi (Mythology Comparative), dan perbandingan bahasa (language Comparative).

Dalam tulisan sebelumnya: Rahasia Kuno yang Terpendam di Gunung Latimojong,  telah saya urai hipotesis bahwa letak pegunungan Latimojong yang tepat berada di garis bujur 120 derajat menyiratkan kemungkinan sebagai asal usul disebutnya wilayah Nusantara sebagai “negeri sabah” atau “negeri pagi” di masa kuno.

Oleh karena ketika matahari terbit di wilayah ini, pada saat yang sama, di Tuvalu sebagai tempat terawal terbitnya matahari telah menunjukkan pukul jam 10 pagi.

Menyingkap Jejak Dewi Fajar di Pegunungan Latimojong

Metafora adalah gaya bahasa yang umum digunakan leluhur kita di masa kuno dalam mengungkap sesuatu. Terutama terhadap kejadian, figur, atau hal-hal apapun yang dianggap sangat sakral dan sifatnya suci oleh mereka. 

Selain sebagai wujud penghormatan terhadap apa yang dianggap Sakral tersebut, kenyataannya, gaya bahasa metafora memang memiliki kedalaman atau keluasan makna yang bisa dikatakan tepinya tak terjangkau nalar, sehingga dengan demikian bernuansa kesadaran kosmis.

Namun, kelebihan gaya bahasa metafora yang demikian itu pulalah yang membuat kita pada hari ini kesulitan dalam memahami informasi dari masa kuno secara komprehensif. Bahkan dalam beberapa kasus, beberapa di antaranya telah divonis “tak layak menjadi sumber rujukan sejarah” oleh beberapa kalangan sejarawan. Dan hal ini telah menjadi topik perdebatan khusus di kalangan sarjana setidaknya dalam beberapa dekade terakhir.

Misalnya Ian Caldwell dalam sebuah tulisannya dengan tegas menyatakan bahwa Sure Galigo tidak dapat dijadikan sebagai sebuah sumber sejarah bagi rekonstruksi Kedatuan Luwu karena unsur anakronisme pada hampir semua penceritaannya. Penegasannya ini sekaligus merupakan kritik yang dialamatkan pada Pelras yang menjadikan karya sastra seperti I La Galigo sebagai sumber penelitiannya. 

Demikianlah, informasi dari masa kuno (lisan maupun tulisan) yang tersusun dalam bentuk gaya bahasa metafora, oleh kalangan sarjana di masa modern kemudian dikategorikan sebagai sebuah karya sastra. Umumnya dianggap sebagai hasil karya imajinatif, fiksi, dan karena itu tidak dapat dijadikan sebagai rujukan riset ilmiah terkait kesejarahan.

Memosisikan informasi dari masa kuno sedemikian rupa tentunya adalah hal yang sangat disayangkan. Terlebih lagi jika kita telah memahami bahwa uraian-uraian yang bersifat simbolik yang terkandung di dalamnya, sesungguhnya adalah pesan-pesan yang spesifik yang jika kita mampu menerjemahkannya secara benar akan menjadi rujukan informasi yang sangat berharga.

Berikut ini, saya menyajikan pengungkapan sosok dan asal usul Dewi Fajar yang melegenda di masa kuno sebagai contoh kasus tentang upaya yang dapat dilakukan dalam menerjemahkan informasi dari masa kuno yang bersifat simbolik, menggunakan metode perbandingan mitologi (Mythology Comparative), dan perbandingan bahasa (language Comparative).

Dalam tulisan sebelumnya: Rahasia Kuno yang Terpendam di Gunung Latimojong,  telah saya urai hipotesis bahwa letak pegunungan Latimojong yang tepat berada di garis bujur 120 derajat jika mengacu  pada konsensus dunia modern yang meletakkan 0 meridian di greenwich, yang memang sejajar dengan maroko, yang di masa lalu akrab dengan sebutan “kerajaan barat”, lalu titik garis bujur 180 derajat berada di ujung timur, yakni di wilayah Tuvalu, samudera pasifik) menyiratkan kemungkinan sebagai asal usul disebutnya wilayah Nusantara sebagai “negeri sabah” atau “negeri pagi” di masa kuno. Ini disebabkan oleh karena ketika matahari terbit di wilayah ini, pada saat yang sama, di Tuvalu sebagai tempat terawal terbitnya matahari telah menunjukkan pukul jam 10 pagi.

Konsep Bissu dan Mitos Adam sebagai Hermaprodit

Dalam tradisi Bugis, seorang Bissu bukan hanya sebagian pria dan bagian wanita, tetapi juga sebagian dewa dan makhluk hidup. Bissu menempati peran ritual kritis sebagai perantara antara dunia supranatural dan Bugis. Bissu menjadi mediator antara manusia dan dunia supernatural karena ia punya peran ritual spesifik – Demikian Garrick Bailey, James Peoples menggambarkan sosok seorang Bissu dalam buku Essentials of Cultural Anthropology (2010:60).

Dalam buku Keberagaman Gender di Indonesia, Sharyn Graham Davies mengutip Andaya (2000:43) yang menulis bahwa; Perpaduan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam diri seorang bissu dianggap penting untuk pemenuhan persyaratan dalam ritual mereka (2017: 151-152).

Sharyn Graham Davies juga mengungkap salah satu naskah sejarah paling awal yang menyebut Bissu, bersumber dari pedagang berkebangsaan Portugis Antonio de Paiva, yang mengunjungi kepulauan ini di abad keenam belas. 

De Paiva menganggap Bissu sebagai “pendeta-pendeta raja” dan Bissu digambarkan sebagai ahli sihir yang berprilaku dan berpakaian seperti perempuan; diyakini bahwa seorang laki-laki tidak bisa menjadi perantara yang dapat bicara dengan roh-roh.

Dalam surat yang ditulisnya tahun 1544, de Paiva menulis:

… saya ingat satu hal yang sangat serius. Dan kendatipun kata-katanya tidak sesuai atau tidak bisa diterima pendengaran Anda, tolong disimak laporan tentang mereka, karena inilah buah-buah dari Roh Kudus. Tuhan Anda akan tahu bahwa pendeta para raja ini biasanya dinamakan bissu. 

Mereka tidak memelihara jenggot mereka, berpakaian seperti perempuan, dan membiarkan rambut mereka tumbuh panjang dan dikepang; mereka meniru bicara (perempuan) karena mereka mengadopsi gerak-gerik dan kecenderungan seperti perempuan. 

Mereka menikah dan diterima, menurut adat istiadat daerah tersebut, dengan laki-laki biasa, dan mereka hidup dalam satu rumah, dan memenuhi hasrat mereka di tempat-tempat rahasia dengan laki-laki yang mereka miliki sebagai suami-suami mereka. Ini adalah [pengetahuan, umum, dan tidak hanya di sekitar sini, tetapi juga diceritakan mulut-mulut orang yang sama yang dipilih oleh Tuhan Allah untuk memuji-Nya. 

Para pendeta ini, apabila mereka menyentuh seorang perempuan dalam pikiran atau tindakan, mereka akan direbus dalam cairan aspal karena mereka percaya bahwa agama mereka akan lenyap bila mereka melakukan hal itu; dan mereka melapisi gigi mereka dengan emas. 

Dan seperti saya katakan pada Ketuhanan Anda, saya menjalani ini dengan pikiran yang jernih, terhenyak (bahwa) Tuhan kita telah menghancurkan tiga kota di Sodom karena melakukan dosa yang sama dan membayangkan bagaimana suatu kehancuran tidak menimpa orang-orang durhaka di situ untuk waktu yang lama dan apa yang harus dilakukan, karena seluruh daerah itu sudah dikelilingi oleh setan (dikutip dalam Baker, 2005:69)

De Paiva dengan terang-terangan menyebut hubungan dekat antara kerajaan dan bissu, sambil pada saat yang sama mengungkapkan pandangan pribadinya tentang keamoral-an bissu. De Paiva terus menerus mencoba untuk mengubah agama para pejabat di Sulawesi Selatan menjadi Kristen.