Misteri Angka 144 dalam Kepercayaan Kuno

Saat ketika orang Babilonia menggunakan angka 12 dan 60 sebagai dasar sistem perhitungan mereka, adalah masa ketika manusia masih menyelaraskan semua aspek kehidupannya dengan semua kemungkinan yang muncul di dunia atas kehendak langit.

Pada masa itu, hitungan bukan saja digunakan dalam kegiatan perdagangan, tetapi juga, terutama, untuk menuntun aspek spiritualistik manusia agar tetap sinkron dengan “siklus waktu dan peristiwa yang menyertai”, yang dipercaya, merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk terjadi di sepanjang rentang waktu kehidupan di dunia.

Ini adalah landasan moral yang mengiringi perkembangan kebijaksanaan dunia kuno – yang diwariskan turun temurun dari sejak masa yang paling primordial, yaitu sejak utusan langit yang pertama hadir di muka bumi.

“Siklus waktu dan peristiwa yang menyertai” dapat dikatakan merupakan ritme “pola penciptaan” dunia beserta isinya. Sinkronisasi manusia dengan pola tersebut adalah berarti upaya mereka menjaga persepsi tetap fokus pada aspek “esensi diri” dan “peran keberadaannya di dunia”.

Pada masa sekarang, kita masih dapat menyaksikan ada banyak jejak kebijaksanaan dunia kuno tentang sinkronisasi waktu dunia dengan waktu akhirat yang bekas-bekasnya terserak, baik di dalam tradisi keagamaan maupun tradisi budaya suatu suku bangsa.

Sayangnya, kita tidak mengetahui lagi makna jejak tersebut sebagaimana mestinya. Seakan-akan, ada titik persimpangan dalam perjalanan sejarah di mana manusia secara begitu saja melupakan kebijaksanaan kuno tersebut.

Ada kemungkinan bahwa titik persimpangan tersebut adalah, saat di mana manusia telah cukup maju dalam hal perhitungan, sehingga, konsep hitung yang dimunculkan pada masa itu dapat kemudian menjadi landasan ideal berkembangan ilmu hitung ribuan tahun selanjutnya.

Tetapi, di sisi lain, aspek spiritual tetang sinkronisasi waktu dunia dengan waktu akhirat telah terlupakan. Mungkin orang-orang di masa itu telah mulai melihat hal tersebut sebagai hal yang tidak relevan lagi untuk menjadi fokus perhatian. Mereka menepikan realitas yang esensi lalu memulai menyelami lautan ilusi dunia.

Mereka tidak menganggap tindakan itu sebagai suatu kekeliruan yang fatal. Malah sebaliknya, mereka melihat dirinya sebagai golongan reformis visioner yang secara signifikan telah berjasa memberi perbaikan dalam perjalanan peradaban umat manusia.

Jenis golongan ini yang mungkin disebutkan Allah dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 11-12: Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” – Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.

Interpretasi Makna 786 Jumlah Gematria Basmalah, Menggunakan Rasio Emas Fibonacci

Gematria adalah kode alfanumerik untuk menetapkan nilai numerik suatu nama, kata atau frase. Konsep ini umum kita temukan digunakan dalam tradisi Yahudi, bahkan hingga hari ini. Oleh karena itu, sebagian besar orang menganggap jika Gematria berasal dari tradisi Yahudi.

Dokumentasi tertua yang ditemukan sejauh ini yang menunjukkan penggunaan Gematria adalah, prasasti Asiria yang berasal dari abad ke-8 SM. Dalam prasasti ini, Sargon II menyatakan: “raja membangun tembok Khorsabad sepanjang 16.283 hasta agar sesuai dengan nilai numerik namanya.”

Dalam tradisi Islam, ada sebagian kalangan yang biasanya menuliskan kalimat basmalah dengan angka 786. Ini merujuk pada penghitungan jumlah gematria huruf dalam tulisan basmalah (lihat gambar di bawah)

(dokpri)
Tabel Gematria untuk aksara Arab (sumber: submission.org)

Pada hari ini, untuk keringkasan dalam komunikasi online, muslim di Pakistan dan India diketahui biasanya menuliskan 786 untuk menyebut bismillah.

Dalam tradisi muslim di Nusantara, membaca basmalah sebanyak 786 dalam sehari dipercaya memiliki khasiat tertentu, seperti dapat menglariskan dagangan atau terpenuhi suatu hajat.

Interpretasi Makna

Bisa dikatakan kalimat Bismillahirahmanirahim terdiri dari 4 bagian yaitu:

  • Bismi (atas nama) – jumlah Gematria 102
  • Allah (Allah) – jumlah Gematria 66
  • al-Rahman (Pengasih) – jumlah Gematria 329
  • al-Rahim (Penyayang) – jumlah Gematria 289

Jika kita bagi dalam dua kelompok, hasilnya;

  • BismiAllah = 168
  • al-Rahman al-Rahim = 618

Lalu, adakah makna dibalik angka 168 dan 618? Jawabnya, ada.

Dalam tulisan “Rahasia Angka 168 dan Akhir Zaman” saya telah membahas rahasia di balik angka 168, yaitu merupakan jumlah menit “waktu langit” seluruh waktu kehidupan manusia di dunia. Ini berdasarkan hitungan perbandingan waktu yang diinformasikan dalam Qs. Al Ma’aarij ayat 4:  Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Dalam perjalanan waktu, kesakralan angka 168 dapat kita temukan terekam dalam jumlah titik dalam lembaran permainan domino.

(dokpri)

Dalam tradisi Cina, angka 168 dianggap angka keberuntungan, karena kira-kira homofon dengan frase “yi lu fa“, yang berarti “keberuntungan sepanjang jalan”.

Untuk Pembahasan lebih lengkap mengenai rahasia 168 silakan baca artikel ini: “Rahasia Angka 168 dan Akhir Zaman“.

Adapun mengenai angka 618, ini adalah jumlah angka di belakang koma pada rasio Fibonacci. Rasio Fibonacci adalah: 1,618.

1 Detik akhirat = 420 Hari dunia, Diisyaratkan Kalender Wuku di Bali

Dalam tulisan saya yang berjudul “Rahasia Angka 168 dan Akhir Zaman” saya mengulas perhitungan perbandingan 1 detik di akhirat sama dengan 420 hari di dunia.

Hal ini didasari perbandingan waktu di akhirat dan waktu di dunia yang diisyaratkan dalam Al Quran surat Al Ma’aarij ayat 4, yang berbunyi: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Kata “sehari” dalam kalimat surat Al Ma’aarij ayat 4 dapat diasumsikan sama dengan 12 jam karena untuk 24 jam, dalam hemat saya, tentulah mesti disebutkan sebagai sehari semalam. 

Karena itu, jika 50 ribu tahun di dunia sama dengan 12 jam di akhirat, maka, 1 jam di akhirat  = 4.166 tahun di dunia (50,000 tahun : 12 jam = 4.166) – atau,  1 menit di akhirat = 69.4 tahun di dunia (4.166 tahun : 60 menit = 69.4) – atau, 1 detik di akhirat = 1,15 tahun di dunia (69.4 tahun : 60 detik = 1.15) – atau, sama dengan 420 hari (365 hari x 1,15 = 419,75 – yang dapat dibulatkan menjadi 420)

1 tahun = 420 hari, dalam perhitungan kalender wuku yang digunakan di Bali

Yang menarik, kalender Wuku yang digunakan masyarakat Bali, menghitung 1 tahun berumur 420 hari. Perhitungan ini tentu saja berbeda dengan kalender yang umum digunakan di dunia, seperti: kalender Gregorian (Masehi) yang menghitung 1 tahun = 365 hari; kalender Hijriah, 354/355 hari dalam setahun; kalender Imlek, 1 tahun = 354 hari; dan kalender Saka yang menghitung ada 12 bulan dalam setahun, tiap bulan terdiri dari 30 hari, yang berarti total ada 360 hari dalam setahun.

Menurut kabarnya, kalender Wuku dikatakan hanya ada di Indonesia, dan saat ini tersisa hanya digunakan masyarakat Bali. (sumber di sini)

Dengan demikian, dari semua kalender yang digunakan dalam peradaban umat manusia hanya kalender wuku saja yang perhitungannya menunjukkan perbandingan skala waktu akhirat dan waktu dunia, yaitu bahwa: 1 tahun (yang berjumlah 420 hari) pada kalender wuku merepresentasi 1 detik waktu akhirat.

Demikianlah, perhitungan 1 tahun sama dengan 420 hari sebenarnya adalah wujud realitas dunia, hal esensi yang telah diketahui orang-orang di masa kuno, namun kemudian terlupakan dalam perjalanan waktu. Beruntung, masyarakt Bali yang ketat menjaga tradisi kuno masih menyimpan informasi tersebut.

Ketika Allah kembali mengisyaratkan informasi tersebut dalam QS. Al Ma’aarij ayat 4, Dia membahasakannya dalam bentuk kalimat perbandingan yang menuntut upaya kita untuk mencermati dan menelaah secara komprehensif agar dapat memahami makna yang dikandungnya.

Dan ketika kemudian hasil pencermatan makna di balik surat Al Ma’aarij ayat 4 sangat jelas mengisyaratkan adanya keselarasan dengan tradisi kuno yang tersimpan dalam budaya masyarakat Bali, yang pada hari ini kita sebut sebagai budaya Hindu Bali, maka, sudah semestinya jika kenyataan tersebut dilihat sebagai:

“Cara Allah mengaitkan kebijaksanaan yang Dia hadirkan di muka bumi (melalui para utusan-utusanNya) – dari masa paling primordial hingga ribuan tahun selanjutnya – tentunya, termasuk kebijaksanaan yang disampaikan Nabi Muhammad dan juga utusan-utusan yang akan terus hadir hingga akhir zaman.”

Dengan kata lain, ini menjadi isyarat bahwa untuk mengetahui hal-hal esensi_, kita tidak bisa hanya mencermati ilmu yang tersaji di dalam tradisi agama yang kita anut saja. Prinsip ini memang agak riskan jika dicerna oleh orang-orang yang tidak dapat melihat “gambaran besar.”

Tapi percayalah, pada saatnya, akan hadir utusan langit yang dapat menjabarkan hal ini secara lugas dan tidak menyisakan cela sedikit pun untuk dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin menyesatkan umat manusia di labirin paham liberalis.

SEKIAN.

Yang minat silakan WA: 0811 469 694

Jejak Pertalian Bahasa Kuno Sulawesi dengan Bahasa Kuno Eropa Dalam Etimologi kata ‘Pantai’

Seperti halnya banyak kata lain dalam bahasa Indonesia, kata ‘pantai‘ juga adalah salah satu kata yang hingga saat ini tidak mendapat telaah Linguistik historis secara memadai.

Ketika kita mendengar kata ‘pantai‘, bayangan pikiran kita pada umumnya akan tertuju pada bidang tanah yang mengantarai daratan dan lautan. Makna kata ‘pantai‘ ini bisa dikatakan, sebenarnya, senada dengan makna kata ‘bantaran‘ yang umumnya kita gunakan untuk menyebut bagian tepi sungai.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘bantaran‘ didefinisikan: jalur tanah pada kanan dan kiri sungai (lihat di sini).

Jadi, kedua kata ini (pantai dan bantaran), dalam tata bahasa yang kita gunakan di masa sekarang, sama-sama diterapkan untuk menyebut jalur tanah yang mengantarai wilayah daratan dengan wilayah perairan (kata ‘pantai‘ untuk perairan laut, sementara kata ‘bantaran‘ untuk perairan sungai).

Tentunya, pertanyaan yang relevan muncul dari fakta ini adalah: apakah kata ‘pantai‘ dan kata ‘bantaran‘ memiliki akar kata yang sama? Jawabannya, iya. bentuk kuno dari kedua kata tersebut adalah “BANTA“, yang berarti: ujung, atau akhir — yang mengacu pada ujung tanah atau daratan.

Makna kata ‘banta‘ yang demikian ini dapat kita temukan penerapannya pada toponim Kabupaten Bantaeng di pulau sulawesi, yang secara geografis memang berada di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan. (Lihat peta di bawah)

Posisi Kabupaten Bantaeng di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan (dokpri) 
Posisi Kabupaten Bantaeng di ujung selatan jazirah Sulawesi selatan (dokpri) 

Di Kabupaten Bantaeng, sangat banyak nama kecamatan dan kelurahan /desa yang mengunakan kata ‘bonto‘. (lihat gambar di bawah) 

Beberapa nama wilayah di Kabupaten Bantaeng yang menggunakan kata 'bonto' (dokpri) 
Beberapa nama wilayah di Kabupaten Bantaeng yang menggunakan kata ‘bonto’ (dokpri) 

Kata ‘bonto‘ yang sangat banyak digunakan sebagai nama kecamatan atau kelurahan/ desa di Bantaeng dapat diduga sama dengan ‘banta’ – dalam artian terjadi perubahan fonetis a ke o atau sebaliknya antara kedua kata ini.

Yang menarik, dari kata ‘banta‘, muncul pula kata ‘bontot‘ yang dalam bahasa Indonesia kita ketahui berarti: akhir, belakang, atau bungsu. Dapat kita lihat, secara fonetis, kata ‘bonto‘ identik dengan kata ‘bontot‘.

Bentuk Morfologi lain dari kata ‘banta‘ adalah: kata panta’ (dalam bahasa tradisional di Sulawesi selatan) atau pantat (bokong / belakang) dalam bahasa Indonesia.

Semua “kata” dan “makna kata” yang terlahir dari hasil morfologi kata ‘banta‘ (ujung tanah, akhir, bontot, pantat, belakang, hingga kata pantai) dapat kita temukan bentuk sinonimnya dalam bahasa kuno di Eropa.

Yang menarik, hanya ada satu kata kuno dari Nusantara yang dapat menjembatani atau sebagai “puzzle kunci” dalam upaya pembuktian adanya pertalian tersebut, yaitu kata: ‘BUTTA‘.

Kata ‘butta‘ dapat kita temukan digunakan pada frase “BUTTA TOA”, yang merupakan gelar tradisional Kabupaten Bantaeng. Dalam beberapa karya tulis ilmiah terutama bidang sejarah, bentuk penulisannya mengikutkan nama bantaeng, menjadi: BUTTA TOA BANTAENG.