Rahasia di Balik 222 Tahun Selisih waktu Antara Tahun Wafat Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi, dan Keterkaitannya Dengan “Nilai 14” yang Selalu Menjadi Pilihan Allah Sebagai Jumlah di Sisa Akhir

Keunikan Rentang Waktu Tahun Wafatnya Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi

Suatu hal menarik saya temukan ketika mencermati tahun wafat Jayabaya dan tahun kelahiran Siliwangi yang ternyata berjarak 222 tahun.

Data mengenai hal ini merujuk pada beberapa literatur yang menyebut Prabu Jayabaya memerintah kerajaan Kediri di antara tahun 1135 to 1179 M (Cœdès, George (1968). The Indianized states of Southeast Asia), dan Prabu Siliwangi yang dalam beberapa literatur disebut lahir pada tahun 1401 M (sumber wikipedia: di sini).

Jadi, jika dihitung, tahun wafat Prabu Jayabaya hingga tahun kelahiran Prabu Siliwangi tepat berjarak 222 tahun (1401-1179= 222).

Angka 222 tentu saja menarik untuk dicermati, terutama karena ia merupakan jumlah jarak tahun kehidupan dua sosok yang melegenda di tanah Jawa. Terlebih lagi karena keduanya, secara geografis, seakan merepresentasi kepercayaan tema eskatologi yang berkembang dalam masyarakat tradisional di sisi timur dan barat pulau Jawa.

Melalui pencermatan angka 222 ini saya menemukan isyarat yang mempertegas keterkaitan keduanya. Yaitu bahwa akar dari 222 adalah: 14 koma sekian-sekian…. (berikut ini bentuk desimalnya)

(dokpri)

Seperti yang telah saya urai dalam tulisan sebelumnya “Rahasia di Balik Angka 19, dan 14 huruf Muqattaʿat dalam Al Quran“, “angka 14” memiliki fenomena kekhususannya sendiri. Selama ini tersaji nyata di depan kita. Hanya kurang mendapat perhatian saja.

Misalnya, jika berbicara tentang angka spesial dalam Al Quran, pada umumnya orang akan langsung mengarahkan perhatiannya pada angka 7, 8 dan terutama 19, sementara angka 14 pada jumlah surat dalam Al Quran (114) kurang mendapat perhatian.

Pertanyaan kritis yang mestinya timbul adalah: mengapa setelah mencapai jumlah 100, lalu ditambahkan 14? mengapa tidak ditambahkan 20, 50, 60 atau 80?

Apa spesialnya angka 14 sehingga Allah lebih memilihnya dibandingkan angka 20, 50, 60, atau 80?

Jika anda telah tiba pada pemikiran kritis seperti ini, anda akan dapat melihat bahwa angka 14 di belakang koma pada 3,14 (nilai konstanta bilangan pi) tentu memiliki makna tertentu juga.

Pertanyaan kritis untuk hal ini adalah: mengapa panjang keliling lingkaran mesti selalu 3,14 kali panjang diameter lingkaran tersebut? mengapa Allah tidak menggenapkannya menjadi 3 kali saja? mengapa mesti ada nilai 14 di belakang koma?

MENGAPA ALLAH SELALU MEMILIH NILAI 14 SEBAGAI JUMLAH DI SISA AKHIR?

“Piring”, Makna dan Riwayatnya yang Terlupakan

“Piring” adalah salah satu kata benda yang paling akrab dengan ingatan manusia. Hal itu dikarenakan fungsinya sebagai perkakas kegiatan rutin dan paling vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu: makan.

Begitu akrabnya “piring” dengan ingatan atau alam pikiran manusia, sehingga dalam situasi tertentu, ia bahkan dapat memicu dampak emosional. Seseorang dapat marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, bahkan termotivasi, ketika teringat dengan kata piring.

Benarkah? Mengapa demikian?

Ya, anda mungkin akan menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan dan mengada-ada… tapi tentu saja tidak.

Saya yakin, anda akan melihat kebenaran pernyataan itu manakala melakukan pengamatan lebih mendalam.

Misalnya, Dalam alam pikiran seorang bapak, ingatan tentang “piring” dapat memotivasinya bekerja lebih giat, karena hal itu mengingatkannya pada tanggung jawab memberi makan anak istrinya di rumah. Segala macam perasaan akan berkecamuk mengiringinya dalam upaya tersebut – baik ketika gagal, maupun ketika berhasil.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa “piring” adalah perkakas untuk sebuah kegiatan yang paling mempengaruhi arah dan sudut pandang berpikir manusia terhadap kehidupan.  

Di Nusantara, bukti bahwa kata “piring” mempengaruhi alam pikiran kita, dapat ditemukan dalam beberapa bunyi peribahasa yang menggunakan kata piring atau pinggan.

Misalnya: “pinggan tak retak nasi tak dingin” (artinya: cermat dalam melakukan suatu pekerjaan) ; atau “di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal” (di mana orang meninggal di situ dikuburkan).

Dalam cerita fiksi (budaya populer) terutama di tahun 80-90an, kita pernah akrab dengan sebutan “piring terbang” sebagai wahana makhluk luar angkasa yang datang menginvasi bumi. 

Namun, dalam kehidupan urban hari ini, kita juga mengenal istilah “piring terbang” tapi yang ini tidak merujuk pada wahana makhluk luar angkasa. Istilah ini biasanya menjadi kalimat keluhan atau ejekan tentang situasi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga.

Misalnya seorang temanmu berkata: “wahh barusan di rumah ada piring terbang!” – kalau kamu tidak mau ceritanya kepanjangan, abaikan saja temanmu itu, soalnya ada kemungkinan dia mau curhat, habis marahan dengan istrinya.

Atau kalau mau mengejek temanmu yang lagi murung, kamu bisa bertanya: “kayaknya habis lihat piring terbang lagi nih!”

Mereka-mereka yang “Ditakdirkan” Membawa Perubahan Zaman, dari Era Mitologi Dewa-dewa Hingga Era Masonik

jika kita mencermati berbagai mitologi yang ada di dunia, kita dapat melihat bahwa konsep “pandai besi” untuk dewa-dewa tertinggi umum digunakan. 

Dewa Mesir, Ptah, digambarkan sebagai sosok pencipta, pelindung pekerja logam dan pengrajin dalam budaya Mesir. 

‘Hephaestus’ dalam mitos Yunani yang menjadi ‘Vulcan’ dalam sastra Latin, keduanya secara konsisten digambarkan membawa alat-alat mereka yaitu palu dan penjepit pandai besi.

Patung dewa Hephaestus

Rajeshwari Ghose dalam bukunya Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period, mengungkap bahwa Batara Guru juga disebut sebagai “Goldsmith” atau “pandai emas” sementara anak-anaknya disebut “Blacksmiths” atau “pandai besi”. 

Berikut ini kutipannya: “In the Tantu Panggelaran, Bhattara Guru is described as the first of the long school of teachers or devagurus (divine teachers). He is represented as the teacher of speech and language. Mahadeva, however, is regarded as a goldsmith. …The blacksmiths are regarded as children of Mahadeva.” (R. Ghose. Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period. The University of Hong Kong Press, 1966. hlm. 129-131)

Dalam kitab I La Galigo, dewata sang pencipta disebut “To Palanro” atau ” To Palanroe” yang secara literal bermakna “pandai besi” sementara makna figuratifnya adalah “Dia yang menciptakan, membentuk dan menata”.

Dalam bahasa Bugis, ‘lanra’ atau ‘lenra’ atau ‘lanro’ berarti “menempa” (dari kata dasar tempa). Jadi, kata ‘tempa’ atau ‘menempa’ yang kita kenal dalam bahasa Indonesia adalah kata yang pada awalnya memang secara spesifik digunakan untuk pelaku dan atau kegiatan pandai besi.

Dinasti Sailendra yang tercatat sebagai dinasti terbesar dalam kesejarahan Nusantara, sangat mungkin menggunakan konsep ini.

Dalam tulisan “Makna Sesungguhnya dari Nama Sailendra” telah saya urai bahwa makna “Sailendra” jika ditinjau dalam perspektif Bahasa Tae’, secara literal bermakna “datang menempa” (sai=datang; lendra=menempa), dan secara figuratif dapat dimaknai: “datang atau hadir membentuk” atau pun “datang atau hadir membangun”.

Kuat dugaan saya jika kata ‘belanda’ yang berasal dari sebutan Jawa ‘walanda’ sebenarnya berakar dari konsep yang telah saya urai di atas.

Oleh leluhur kita di masa lalu, terutama yang berada di Jawa, orang-orang kulit putih yang datang dari Eropa disebut ‘landa’ atau ‘walanda’ karena dipandang datang ‘menempa’ memberi perubahan. membuat bentuk baru – terlepas apakah bentuk yang dihasilkan sifatnya baik ataukah buruk.

Istilah ‘walanda’ secara fonetis menunjukkan keidentikan dengan bentuk palanra/palanro yang telah saya sebut di atas sebagai salah satu gelar Batara Guru.

Al Mahdi Will Become a “Superhero” Figure in the Real World

What we do not realize has happened in the life of the world in the last 10-20 years is that the theme of “super heroes” has so massive filled our space of consciousness. This assimilation occurs not only in children but also in us adults.

The Super Hero theme can be said to have become a new embroidery in our realm of consciousness. We all become familiar with it and see it as part of (possible) reality. It becomes new knowledge. Become part of ideas and hopes – “extreme solutions” to problems that are also extreme.

This means, actually a new paradigm is growing in our collective consciousness as human beings. Paradigm, which directs our emotional and intellectual discipline to present substantial judgments. To be known; intention, which is the basis of our moral judgment in front of God, arises from this “substantial assessment”. Because, from there triggered “behavior based on our conscious desires”.

For all these phenomena the relevant question arises, namely: What kind of cosmic mechanism does the Creator wish to adapt to in our realm of consciousness? – What are the important things back there that are “waiting to happen”?

In order to answer that question, it is important to look back at the information we have inherited from ancient times, the following …

Prophecies from various religious traditions about the figure of the Savior (Superhero)

In the sacred texts of the world’s major religions (call it Christianity, Islam, Hinduism, Buddhism, Zoroastrianism, etc.), there is a fragment of the ancient narrative about the presence of a savior at one point in the future.

This narrative is like information that is constantly being recycled. It continues to be present in various layers of age and human civilization which, despite different names, however, the purpose and moral substance carried by the figure of the savior in question can be said to remain the same.

Yes, since time immemorial, this information has been successfully transmitted into human memory from time to time – integrated as part of religious doctrine. On the other hand, this is indeed part of a little oasis in the religious world that can raise hope in the aspect of faith. This is often the subject of insults from secular people. In fact, such insults sometimes also come from members of the religious community itself – from groups who consider belief in future predictions to be forbidden.

Al Mahdi Akan Menjadi Sosok “Superhero” di Dunia Nyata

Apa yang tidak kita sadari terjadi dalam kehidupan dunia dalam 10-20 tahun terakhir adalah bahwa telah begitu masifnya tema “pahlawan super” mengisi ruang kesadaran kita. Asimilasi ini terjadi tidak saja pada anak-anak tapi juga kita orang dewasa.

Tema Pahlawan Super bisa dikatakan telah menjadi sulaman baru dalam alam kesadaran kita. Kita semua menjadi begitu mengenalinya. Kita semua akrab dan melihatnya sebagai bagian dari (kemungkinan) realitas. Ia menjadi pengetahuan baru. Menjadi bagian dari ide dan harapan – “solusi ekstrim” untuk masalah yang juga ekstrim.

Ini berarti, sebenarnya sedang tumbuh paradigma baru dalam kesadaran kolektif kita sebagai umat manusia. Paradigma, yang mengarahkan disiplin emosional dan intelektual kita untuk menghadirkan penilaian yang substansial. Untuk diketahui; niat (intention), yang menjadi dasar penilaian Moral kita di hadapan Allah muncul dari “penilaian substansial” ini. Sebab, dari sanalah terpicu “perilaku yang didasari keinginan sadar kita”.

Untuk semua fenomena ini, pertanyaan yang relevan muncul, yaitu: Mekanisme kosmik seperti apa yang ingin diadaptasi oleh Sang Pencipta dalam alam kesadaran kita? – Apa hal penting di belakang sana yang “menunggu untuk terjadi”?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk melihat kembali informasi yang kita warisi dari zaman kuno, berikut ini…

Nubuat dari berbagai tradisi agama tentang sosok Sang Penyelamat (Superhero)

Dalam teks suci agama-agama besar dunia (sebut saja Kristen, Islam, Hindu, Budha, Zoroastrianisme, dll.), Terdapat kepingan narasi kuno tentang kehadiran sosok penyelamat di satu titik di masa depan.

Narasi ini seperti informasi yang terus didaur ulang. Terus hadir di berbagai lapisan zaman dan peradaban manusia yang, walaupun berbeda nama, namun, tujuan dan substansi moral yang diusung sosok penyelamat yang dimaksud bisa dikatakan tetaplah sama.

Ya, sejak dahulu kala, informasi ini telah berhasil ditransmisikan ke dalam ingatan manusia dari waktu ke waktu – terintegrasi sebagai bagian dari doktrin keagamaan. Ini memang bagian dari sedikit oase dalam dunia keagamaan yang dapat membangkitkan harapan dalam aspek keimanan umat.

Namun di sisi lain, hal ini sering menjadi bahan penghinaan orang-orang sekuler, Bahkan, penghinaan semacam itu terkadang juga datang dari anggota komunitas agama itu sendiri – dari kelompok yang menganggap kepercayaan akan prediksi masa depan sebagai hal yang terlarang.

Eseni, Komunitas Asketik Yahudi Kuno yang Menentang Otoritas Israel

Eseni (bahasa Inggris: Essenes) adalah nama komunitas asketik Yahudi di masa kuno, yang menurut literatur, hidup dan berkembang di Palestina dari sekitar abad ke-2 SM sampai akhir abad ke-1 M. (sumber di sini)

Meskipun  di dalam kitab Perjanjian Baru nama komunitas ini tidak disebutkan, tetapi informasi mengenai mereka terdapat dalam catatan yang diberikan oleh Yosefus, Philo dari Aleksandria, dan Pliny the Elder.

Philo (Philo of Alexandria) yang sezaman dengan Yesus mengatakan bahwa mereka (Eseni) hidup terpisah jauh dari kota, memiliki kehidupan komunal dan menghindari ibadah di kuil (bait suci). Mereka memiliki tiga aturan: cinta Tuhan, cinta kebajikan, dan cinta umat manusia. Philo menyebut orang Eseni “yang suci,” yang dianggap berasal dari bahasa Yunani “osioi”.

Pliny mengatakan pemukiman komunitas Eseni terletak di En Gedi, tepi barat Laut Mati. Ia menyebut mereka sebagai “keajaiban dunia”, dan mencirikannya sebagai sebuah ras yang terus melestarikan keberadaan komunitasnya selama berabad-abad meskipun berkomitmen untuk tidak beristri.

Pliny menggambarkan Kaum Eseni berkumpul dalam komunitas biara yang, secara umum setidaknya, tidak mengikutsertakan wanita. Properti dimiliki bersama dan semua detail kehidupan sehari-hari diatur oleh manajemen biara. Kaum Eseni tidak pernah banyak; Pliny menetapkan jumlah mereka sekitar 4.000 pada zamannya.

Yosefus yang dalam waktu yang singkat pernah menjadi bagian dari orang Eseni, juga ada mencatat pola hidup komunal orang Eseni dan, kecenderungan mereka untuk membujang serta memberi ruang bagi anak yatim piatu untuk mereka perlakukan sebagai anak mereka sendiri. 

Mengenai keyakinan khusus mereka, Josephus mencatat: ” … mereka sangat yakin bahwa tubuh mereka binasa dan substansinya tidak tahan lama, tetapi jiwa tidak berkematian … dan bahwa ketika dilepaskan dari ikatan tubuh, mereka, seolah-olah dilepaskan dari perbudakan yang lama, bersukacita dan naik ke atas.” Yosefus dikritik karena mencoba menjelaskan kepercayaan Essene sedemikian rupa sehingga membuatnya tampak serupa dengan pemikiran Yunani.

Asal Usul Orang Eseni

Mengenai asal usul orang Eseni, di kalangan sarjana terdapat silang pendapat. Ada yang mengatakan bahwa orang Eseni adalah percabangan dari golongan Farisi yang mengikuti aturan paling kaku dari kemurnian Lewi.

Interpretasi Makna 786 Jumlah Gematria Basmalah, Menggunakan Rasio Emas Fibonacci

Gematria adalah kode alfanumerik untuk menetapkan nilai numerik suatu nama, kata atau frase. Konsep ini umum kita temukan digunakan dalam tradisi Yahudi, bahkan hingga hari ini. Oleh karena itu, sebagian besar orang menganggap jika Gematria berasal dari tradisi Yahudi.

Dokumentasi tertua yang ditemukan sejauh ini yang menunjukkan penggunaan Gematria adalah, prasasti Asiria yang berasal dari abad ke-8 SM. Dalam prasasti ini, Sargon II menyatakan: “raja membangun tembok Khorsabad sepanjang 16.283 hasta agar sesuai dengan nilai numerik namanya.”

Dalam tradisi Islam, ada sebagian kalangan yang biasanya menuliskan kalimat basmalah dengan angka 786. Ini merujuk pada penghitungan jumlah gematria huruf dalam tulisan basmalah (lihat gambar di bawah)

(dokpri)
Tabel Gematria untuk aksara Arab (sumber: submission.org)

Pada hari ini, untuk keringkasan dalam komunikasi online, muslim di Pakistan dan India diketahui biasanya menuliskan 786 untuk menyebut bismillah.

Dalam tradisi muslim di Nusantara, membaca basmalah sebanyak 786 dalam sehari dipercaya memiliki khasiat tertentu, seperti dapat menglariskan dagangan atau terpenuhi suatu hajat.

Interpretasi Makna

Bisa dikatakan kalimat Bismillahirahmanirahim terdiri dari 4 bagian yaitu:

  • Bismi (atas nama) – jumlah Gematria 102
  • Allah (Allah) – jumlah Gematria 66
  • al-Rahman (Pengasih) – jumlah Gematria 329
  • al-Rahim (Penyayang) – jumlah Gematria 289

Jika kita bagi dalam dua kelompok, hasilnya;

  • BismiAllah = 168
  • al-Rahman al-Rahim = 618

Lalu, adakah makna dibalik angka 168 dan 618? Jawabnya, ada.

Dalam tulisan “Rahasia Angka 168 dan Akhir Zaman” saya telah membahas rahasia di balik angka 168, yaitu merupakan jumlah menit “waktu langit” seluruh waktu kehidupan manusia di dunia. Ini berdasarkan hitungan perbandingan waktu yang diinformasikan dalam Qs. Al Ma’aarij ayat 4:  Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Dalam perjalanan waktu, kesakralan angka 168 dapat kita temukan terekam dalam jumlah titik dalam lembaran permainan domino.

(dokpri)

Dalam tradisi Cina, angka 168 dianggap angka keberuntungan, karena kira-kira homofon dengan frase “yi lu fa“, yang berarti “keberuntungan sepanjang jalan”.

Untuk Pembahasan lebih lengkap mengenai rahasia 168 silakan baca artikel ini: “Rahasia Angka 168 dan Akhir Zaman“.

Adapun mengenai angka 618, ini adalah jumlah angka di belakang koma pada rasio Fibonacci. Rasio Fibonacci adalah: 1,618.

Ini Fakta HRS adalah “Pemuda Berjenggot” Dalam Wangsit Prabu Siliwangi

Ada tiga kali Prabu Siliwangi menyebutkan frase “Pemuda Berjenggot” dalam wangsitnya, yaitu pada kalimat:

Pada saat itu datang pemuda berjenggot, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjenggot ditangkap dimasukan kepenjara.

dan dalam kalimat: ….Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjenggot, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawene!

Perlu untuk pembaca pahami bahwa kalimat dalam wangsit Prabu Siliwangi ini adalah gaya bahasa metafora yang berarti hal-hal yang ingin disamarkan disajikan dalam bentuk analogi.

Ada juga bagian di mana Prabu Siliwangi menggunakan konsep lawan kata (antonim) untuk menyamarkan hal yang ia maksud.

Demikianlah, dalam upaya mengurai makna yang dikandung wangsit Prabu Siliwangi, memang dibutuhkan kejelian, kreativitas, keluasan wawasan, dan tentu saja ketajaman intuisi.

Jika anda penggemar film seperti Indiana Jones, The Librarian, National Treasure, The Mummy, Tomb Rider, The Da Vinci Code, anda tentu seringkali menyaksikan tokoh dalam film-film tersebut harus berpikir keras memecahkan teka-teki berbentuk kalimat metafora atau “bahasa simbolik” untuk mendapatkan suatu petunjuk.

Dalam dua kalimat wangsit di atas, yang sarat kalimat simbolik dan membutuhkan suatu penyelaman mendalam untuk dapat memahami makna yang dikandung, saya melihat Prabu Siliwangi sungguh-sungguh menunjukkan kualitas dirinya sebagai orang yang berwawasan sangat luas.

Berikut ini uraiannya…

Makna Frase “Pemuda Berjenggot”

Dalam frase “Pemuda Berjenggot” bagian yang perlu mendapat telaah adalah pada kata “berjenggot”. Dan percayalah, anda tidak akan pernah dapat memahami apa maksud dari kata “berjenggot” yang digunakan Prabu Siliwangi, jika anda tidak memahami konsep Natyashastra dalam tradisi Hindu.

Secara literari, Natya Sastra (नाट्य शास्त्र, Nāṭyaśāstra ) dalam bahasa Sanskerta berarti: seni pertunjukkan. Jadi, Natyashastra adalah risalah dalam tradisi Hindu yang menyajikan ensiklopedia kuno tentang seni; baik itu seni tari, seni musik, dan atau tradisi seni sastra dalam tradisi India kuno.

Kepopuleran Sanat Kumara di Kalangan Mistikus Teosofi

Patung Dewa Muruga (nama lain Kumara) yang berdiri di Batu Caves, Selangor, Malaysia.

Dalam tulisan sebelumnya (Kumara Sang Dewa Perang yang Disebut Dalam Wangsit Jayabaya) telah saya bahas mengenai adanya penyebutan nama ‘Kumara’ dalam wangsit Jayabaya dan, penjelasan mengapa Prabu Jayabaya menyebutnya “dewa perang” dan juga “kumara prewangan”.

Dalam bagian ini saya akan mengulas sosok Kumara yang juga populer di kalangan mistikus teosofi.

Teosofi adalah filsafat keagamaan yang dibentuk pada tahun 1875 oleh mistikus Rusia Helena Blavatsky. (sosok Helena Petrovna Blavatsky telah saya bahas dalam tulisan: Koneksi Okultisme Nazi, Tibet, dan Rosicrucian)

Secara umum Teosofi berpandangan bahwa setiap agama yang hadir di dunia sejak masa kuno mempunyai kepingan kebenaran. Mereka percaya bahwa kesemua agama tersebut pada dasarnya berasal dari satu sumber, karena itu, mencoba memulihkan kembali pengetahuan agama-agama kuno adalah salah satu concern mereka. Dalam hal ini, study perbandingan agama adalah hal yang akrab mereka lakukan.

Yang menarik dan tentu saja menimbulkan kontroversi, seperti yang telah diajarkan oleh Blavatsky, teosofi memandang bahwa terdapat para ahli spiritual kuno dan rahasia yang berpusat di Tibet. Bahkan, Blavatsky mengaku pernah melakukan kontak dengan mereka. Menurutnya, Ada Sembilan “Hidden Masters” yang diduga tinggal di Mesir, Siprus, Palestina, Meksiko, Italia, Afrika, Jerman, India, dan Inggris. 

Blavatsky juga membuat pernyataan bahwa dia telah menghabiskan tujuh tahun di Tibet, bekerja dengan tuannya yang misterius (the hidden masters) yang tinggal di sana tetapi bukan orang Tibet yang, ia katakan pula telah memberinya perintah “untuk membentuk sebuah komunitas rahasia seperti Rosicrucian Lodge.” Tak lama setelah ini kemudian mendirikan Theosophical Society di akhir musim panas 1875.

Pemuda Abadi dan Teladan Kebenaran Realitas

Menurut publikasi teosofi (setidaknya setelah memasuki abad 20), Tuan Sanat Kumara adalah “Advance Being” pada tingkat inisiasi Kosmik, dianggap sebagai “Raja dunia” dan “pemimpin umat manusia”. Dia dipercaya berdiam di tanah murni Shamballa.

Penyebutan kalangan teosofi (dan komunitas mistikus lainnya) terhadap Sanat Kumara sebagai sosok guru pencerahan spiritual (ascended master), nampaknya, bersumber dari teks hindu Chandogya Upanishad yang, di Prapathaka VII menyajikan dialog Sanat Kumara dan Narada. Dalam bagian ini Sanat Kumara muncul sebagai Resi tempat Narada meminta petunjuk.

Dalam bahasa Sanskerta, “Sanat Kumara” berarti “Pemuda Abadi”. (lihat lampiran berikut)

Arti kata ‘sanat’ dalam bahasa Sanskerta (dokpri)
Arti kata ‘kumara’ dalam bahasa sanskerta (dokpri)

Dalam pemahaman yang lebih luas, kata ‘sanat’ dianggap terkait dengan kata ‘sant’ dalam tradisi Hinduisme, Jainisme, Sikhisme dan Budha, yaitu: manusia yang dihormati karena pengetahuannya tentang “diri, kebenaran, realitas” dan sebagai “teladan kebenaran”. Dalam Sikhisme, kata ini digunakan untuk menggambarkan makhluk yang telah mencapai pencerahan spiritual dan kekuatan ilahi melalui persatuan dengan Tuhan.

Kumara Sang Dewa Perang yang Disebut Dalam Wangsit Jayabaya

Menarik untuk mencermati penyebutan nama ‘Kumara’ dalam wangsit Jayabaya, bait 164 dan bait 165. Sebagaimana kita ketahui, wangsit Jayabaya bergaya bahasa metafora, di mana suatu figur, karakter ataupun situasi yang disampaikannya sebagian besar (kalau tidak semuanya) adalah bentuk analogi.

Berikut ini bunyi bait 164 dan 165 dalam wangsit Jayabaya:

Bait 164: putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu / hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti / mumpuni sakabehing laku / nugel tanah Jawa kaping pindho / ngerahake jin setan / kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo / kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda / landhepe triniji suci / bener, jejeg, jujur / kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong (putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu / yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti / menguasai seluruh ajaran (ngelmu) / memotong tanah Jawa kedua kali / mengerahkan jin dan setan / Pemuda Prewangan (KBBI, Prewangan = penghubung dengan dunia roh) seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu / membantun manusia Jawa berpedoman pada trisula weda / tajamnya tritunggal nan suci / benar, tegak lurus, jujur / didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

Bait 165: pendhak Sura nguntapa kumara / kang wus katon nembus dosane / kadhepake ngarsaning sang kuasa / isih timur kaceluk wong tuwa / paringane Gatotkaca sayuta (Artinya: ketemu bulan Sura sambutlah kumara / yang sudah tampak menebus dosa / dihadapan sang Maha Kuasa / masih muda sudah dipanggil orang tua / warisannya Gatotkaca sejuta)

Kata Kumara yang disebut dalam bait 164 merujuk pada makna “pemuda”. Dalam bahasa sanskerta, kumara artinya “Anak laki-laki / pemuda / pangeran”.

Arti ‘kumra’ dalam bahasa sanskerta (dokpri)

Sementara itu, Kumara yang disebut dalam bait 165, memiliki dua arah pemaknaan: pertama, bermakna pemuda, yang secara jelas diisyaratkan dalam kalimat “masih muda sudah dipanggil orang tua” ; kedua, sangat mungkin merujuk pada, Kumara sang Dewa Perang (dalam tradisi Hindu), putra sulung Dewa Siwa.

Pertimbangan bahwa sebutan nama ‘kumara’ (dalam bait 165) merujuk pada dewa perang dalam tradisi Hindu, dikuatkan adanya kalimat “Bergelar pangeran perang” dalam bait sebelumnya (bait 163). Di sisi lain, sebutan “pangeran perang” sejalan pula dengan makna kata ‘kumara’ dalam bahasa sanskerta yaitu: Pangeran (prince). [lihat lampiran gambar di atas]

Berikut ini kutipan bait 163:

apeparap pangeraning prang / tan pokro anggoning nyandhang / ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang sing padha nyembah reca ndhaplang / cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang (bergelar pangeran perang / kelihatan berpakaian kurang pantas / namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak yang menyembah patung yang membentangkan kedua tangan / cina ingat suhu-suhu (leluhur) dan pesan yang diberi, lalu melompat ketakutan)