Kesamaan Sosok ‘Shilo’ Dalam Alkitab Ibrani Dengan ‘Maitreya’ Dalam Tradisi Buddha – Dan Kaitannya Dengan Sepuluh Suku Israel Yang Hilang

Shiloh/ Shilo/ Siloh/ atau Silo” adalah sosok yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (Kejadian 49: 10), sebagai bagian dari berkat yang diberikan Yakub kepada putranya Yehuda.

Beberapa versi Alkitab mempertahankan penulisan kata ‘Shilo’, dalam artian tidak diberi penafsiran, Seperti pada King James Version : Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda, Atau pemberi hukum dari antara kakinya, Sampai Shiloh datang; Dan kepada-Nya lah ketaatan manusia (Kejadian 49:10).

Sementara itu beberapa versi lainnya, mengganti kata ‘Shilo’ dengan frase “Dia yang berhak”. misalnya pada versi Terjemahan Baru: Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda, ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa (Kejadian 49:10).

Banyak orang melihat ayat ini sebagai nubuatan Mesianik. Dalam artian, nama ‘Shilo’ dikaitkan dengan Mesiah, sosok penyelamat dan pembebas dalam eskatologi Yahudi.

Dalam eskatologi Yahudi, istilah mashiach, atau “Mesiah”, merujuk secara khusus kepada raja Yahudi masa depan dari garis keturunan Daud, yang diharapkan hadir menyelamatkan bangsa Yahudi. Ia biasa disebut “Raja Mesias”, yang dalam bahasa Ibrani “melekh mashiach”, dan dalam bahasa Aram “malka meshiḥa”. Dalam arti umum, mesias bermakna: penyelamat atau penebus yang akan muncul pada akhir zaman dan mengantar kerajaan Allah, pemulihan ke arah keadaan ideal dunia.

Meninjau Sebutan “Shilo” Menurut Perspektif Mesianik

Karena literatur yang ada cenderung mengarahkan sosok Shilo yang disebut dalam Kejadian 49: 10 sebagai sosok Mesianik, maka, salah satu cara menggali lebih jauh untuk mengetahui siapa sosok yang dimaksud, adalah dengan mengkomparasinya dengan sosok mesianik yang terdapat dalam literatur tradisi lain.

Dalam metode komparasi semacam ini, biasanya akan kita temukan fakta bahwa; dua nama berbeda, dari tradisi yang juga berbeda, pada kenyataannya memiliki makna yang sama. Fakta ini, mau tidak mau mesti kita pandang sebagai kenyataan bahwa bisa jadi dua nama yang berbeda itu merujuk pada satu sosok atau orang yang sama.

Dalam tradisi Budhis, kita mengenal sosok Maitreya “Sang Buddha Masa Depan” sebagai tokoh mesianik. Nama Maitreya sendiri berasal dari kata Sansekerta ‘maitri’ yang pada gilirannya berasal dari kata ‘mitra’ yang berarti: teman.

Yang menarik, dalam bahasa Bugis dan beberapa bahasa daerah di Sulawesi Selatan terdapat kata ‘Shilo’ atau ‘Silo’ yang berarti: Teman. (pembaca silakan tanya sama temannya yang bisa berbahasa Bugis untuk mengecek hal ini)

Jadi, dari komparasi ini kita temukan fakta bahwa sebutan ‘Shilo’ dalam tradisi Ibrani dan ‘Maitreya’ dalam tradisi Buddhis sama-sama berarti “teman”.

Pembaca mungkin bertanya-tanya, kok bisa bahasa Bugis digunakan untuk menafsir makna ‘Shilo’ yang disebut dalam Kejadian 49: 10?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melihat jauh ke belakang menelusuri jejak 10 suku Israel yang hilang, adalah satu-satunya jalan.

Menelusuri 10 Suku Israel yang Hilang

Kita ketahui dari literatur yang ada bahwa sepuluh (dari duabelas) Suku Israel yang berasal dari Kerajaan Israel Utara, tidak diketahui keberadaannya lagi setelah penaklukan Kekaisaran Neo-Asyur sekitar tahun 721-722 SM.

Kesepuluh suku tersebut adalah: suku Ruben, Simeon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Manasye, dan Efraim.

Dari literatur sejarah kita ketahui, setelah perang saudara di masa pemerintahan Rehabeam (Rehoboam), Cucu Daud, 10 suku melepaskan diri dari kerajaan utama dan membuat kerajaan sendiri yaitu kerajaan Israel Utara.

2 suku lainnya yaitu Suku Yehuda dan Benyamin tetap setia kepada Rehabeam, dan membentuk Kerajaan Yehuda (Kerajaan Israel Selatan).

Pada tahun 721 SM, Kerajaan Israel Utara diserbu oleh pasukan Asyur (Asiria) yang dipimpin oleh Salmaneser V dan dilanjutkan oleh Sargon II. Satu tahun kemudian Samaria, Ibukota Kerajaan Israel Utara, takluk dan dihancurkan.

Penduduk Kerajaan Israel Utara yang terdiri dari 10 suku Israel (suku Yehuda dan suku Benyamin tidak termasuk di dalamnya) diasingkan dan dibuang ke Khorasan, yang sekarang merupakan bagian dari Iran Timur dan Afganistan Barat. Suku-suku inilah yang dipercaya sebagai bagian dari bangsa Yahudi yang hilang dari sejarah, karena melebur dengan suku-suku bangsa tempat mereka tinggal.

Pada tahun 603 SM, kekuasaan bangsa Asyur (“Asiria”) digantikan oleh bangsa Babel (“Babilonia”). Pada masa kekuasaan Babel ini, Kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda pun takluk dan Yerusalem dihancurkan (587/586 SM). Setelah itu berlangsunglah masa pembuangan di Babel.

50 tahun kemudian, 538 SM, Kekaisaran Persia merebut kekuasaan Babel. Sebagian Suku Yehuda dan Benyamin diperkenankan untuk kembali ke Yudea. Namun sepuluh Suku Israel lainnya, penduduk Kerajaan Israel Utara, tidak pernah disebutkan kembali sebagaimana dua suku itu, sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku (Utara) Israel yang ‘Hilang'”.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama 2 Raja-raja 18:11 tertulis… “Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai Negeri Gozan, dan di Kota-Kota orang Madai”

Tempat-tempat ini sekarang terletak pada bagian utara Irak dan sebelah barat laut Iran yang disebut Kurdistan.

Menurut sejarawan kuno Flavius Yosefus yang hidup pada abad pertama Masehi, di mana ia menulis tentang keberadaan kesepuluh Suku tersebut: “… kesepuluh Suku yang berada di Efrat hingga sekarang, dan yang berjumlah sangat besar, yang jumlahnya tidak dapat diperkirakan.” (Antiquitates Iudaicae 11:2)

Yosefus menulis bahwa pada abad pertama Masehi kesepuluh Suku Israel hidup dalam jumlah yang sangat besar di seberang Sungai Efrat. Hal ini mungkin berarti bahwa beberapa dari mereka tersebar ke sebelah timur sungai Efrat.

Demikianlah, Kesepuluh Suku Israel yang hilang yang pada mulanya diangkut ke wilayah yang sekarang masuk dalam wilayah utara Irak dan barat laut Iran, lambat laun menyebar ke berbagai wilayah di dunia.

Kashmir di India bagian utara

Di India bagian utara yakni Kashmir terdapat sekitar 5-7 juta jiwa. Terdapat nama Ibrani di lembah dan di desa-desa di Kashmir seperti Har Nevo, Beit Peor, Pisga, Heshubon. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa Bangsa Kashmir keturunan Sepuluh Suku Utara Israel yang ‘Hilang’ pada pembuangan tahun 722 SM.

Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmir menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan (di Alkitab, Kejadian 17:12: 8 hari); tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip (Imamat 11), dan merayakan beberapa Hari Raya Yahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran Bait Allah pertama (seperti Hannukah).

Shin-lung (Bnei Menashe) di sekitar perbatasan India-Myanmar

Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shin-lung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri “Anak Manasye” atau “Bnei Menashe”.

Kata Manasye banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Manasseh”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa.

Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Tiongkok, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Tiongkok Tengah sekitar tahun 230 SM.

Orang Tionghoa menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa di antara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shin-lung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka.

Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Tionghoa dan terpengaruh budaya Tionghoa, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timur Laut.

Kelompok Suku/Bangsa lainnya yang ‘terindikasi’ keturunan dari 10 Suku Utara Israel yang ‘Hilang’

  • Yahudi Kurdi di Suriah, Irak, Iran, Turki & Armenia
  • Bene Israel di India bagian utara
  • Yahudi Cochin di India bagian selatan
  • Yahudi Kaifeng di Tiongkok
  • Jepang
  • Batak di Sumatra bagian utara, Indonesia
  • Nias di Sumatra bagian utara, Indonesia
  • Minangkabau di Sumatra bagian barat, Indonesia
  • Mentawai di Sumatra bagian barat, Indonesia
  • Dayak di Kalimantan (Indonesia, Malaysia & Brunei)
  • Talaud di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Sangir di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Minahasa di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Toraja di Sulawesi bagian selatan, Indonesia
  • Melanesia Sumba (Suku Kodi dan Laura), dan Suku-suku Melanesia lainnya di Nusa Tenggara Timur, Indonesia & Timor-Leste
  • Melanesia Alef’uru di Maluku, Indonesia
  • Suku-suku Melanesia Papua Pesisir di Pesisir Papua, Indonesia & Pesisir Papua Nugini
  • Pribumi Amerika di Amerika Serikat
  • Pribumi Amazon di Amerika bagian selatan
  • Yahudi Falasha (Beta Israel) di Eritrea dan Ethiopia
  • Madagaskar
  • Lemba di Malawi, Zimbabwe dan Afrika Selatan
  • Timbuktu (Bilad el-Sudan) di Mali
  • Sefwi (Rumah Israel) di Ghana
  • Yahudi Igbo di Nigeria
  • Anglo-Saxon (Anglo-Israel) yang membentuk Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia Utara, Kanada, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru & Negara Amerika Serikat
  • Armenia
  • Aborigin Australia di Australia
  • Polinesia Maori di Selandia Baru

‘Sompa’ Dalam Bugis-Makassar yang Identik Dengan Tabut Perjanjian Dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi Bugis-Makassar ada dikenal istilah ‘Sompa’ yang berarti mahar dalam prosesi perkawinan.

kata ‘Sompa’ ini identik dengan kata ‘Sompe’ atau ‘Sempe’ yang berarti “piring” dan atau “kapal” dalam bahasa kuno di Sulawesi.

Dalam prosesi perkawinan Bugis-Makassar, pengantaraan sompa (mahar) dari mempelai laki-laki ke kediaman mempelai wanita, menggunakan apa yang disebut ‘wala-suji’.

Tapi sebenarnya, jika ditinjau secara linguistik, wala-suji itu lebih tepat jika disebut sebagai ‘sompa’ dalam maknanya sebagai “kapal” atau “bahtera”.

Bentuk desain wala-suji atau sompa dalam tradisi Bugis-Makassar ini bisa dikatakan sangat mirip dengan bentuk desain tabut perjanjian. (lihat gambar di bawah)

Walasuji/ Sompa yang digunakan untuk membawa mahar dalam prosesi perkawinan Bugis-Makassar
Tabut Perjanjian

Dan jika ‘sompa’ memiliki makna “kapal” maka, tabut perjanjian atau “Ark of the Covenant” juga menggunakan kata ‘Ark’ yang berarti: kapal.

Hal ini bahkan menjadi bahan pertanyaan tersendiri bagi orang Barat. Misalnya dalam artikel: Why Is It Called An Ark? (www.oneforisrael.org) disebutkan: “When we talk about “The Ark” in the Bible, we could either be talking about the Ark of the Covenant, or Noah’s Ark.” (ketika kita bicara tentang “The Ark” (bahtera) di dalam Alkitab, kita akan berbicara tentang “The Ark of the Covenant, atau “Noah’s Ark”)

Jadi, antara ‘Sompa’ dan ‘Tabut Perjanjian’ (Ark of the Covenant) terdapat kesamaan bentuk desain dan juga kesamaan bentuk etimologi.

Jejak matrilineal Yahudi di Nusantara

Pemerhati tradisi Yahudi umumnya menjadikan tradisi matrilineal Yahudi sebagai salah satu ciri yang digunakan untuk mengidentifikasi jejak 10 suku Israel yang hilang. Itulah makanya, suku Minangkabau di Sumatera yang menganut sistem matrilineal dianggap memiliki jejak 10 suku Israel yang hilang.

Di Sulawesi Selatan, sistem Matrilineal tidak lagi digunakan. Saya katakan “tidak lagi digunakan” oleh karena ada jejak di wilayah Luwu yang menunjukkan jika di masa kuno sistem tersebut dapat diduga kuat pernah digunakan.

Di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan, ada daerah adat bernama ‘Senga’ yang sistem pemerintahan adatnya dipimpin oleh orang yang bergelar “Arung Senga”. Yang menarik, yang diangkat sebagai Arung Senga’ haruslah wanita. Ini sudah menjadi ketentuan adat yang berlaku turun temurun dan pantang untuk dilanggar.

Di sisi lain, nama Senga’ ini sangat mirip dengan “Sena” yakni nama daerah yang disebut sebagai asal usul Orang- orang Lemba (Vhalemba/ Palemba) di Afrika Selatan yang mengklaim sebagai keturunan Yahudi.

Sejarah lisan Orang Lemba menuturkan bahwa nenek moyang mereka melakukan perjalanan dari tempat yang sekarang disebut Yaman ke Afrika untuk mencari emas, di mana mereka mengambil istri dan mendirikan komunitas baru. Lebih jauh, sejarah lisan tersebut mengatakan bahwa tempat asal mereka bernama “Sena”.

Tidak jauh dari daerah Senga’ di Luwu ini, ada pula toponim Kanna yang sangat mirip dengan toponim kanaan yang sangat banyak disebutkan dalam Alkitab Ibrani.

Di daerah Kanna (Bassesang tempe, Luwu) terdapat pula Buntu Sinaji atau Gunung Sinaji yang secara fonetis juga sangat mirip dengan nama gunung Sinai. Morfologi fonetisnya adalah: sinai – sinayi – sinaji.

Demikianlah, saran bahwa kata ‘Shilo’ yang disebut dalam Kejadian 49:10 merujuk pada makna ‘teman’ (dalam bahasa Bugis) layak dipertimbangkan, dan bahwa makna tersebut senada dengan makna tokoh mesianik dalam tradisi Buddha, Maitreya yang juga berarti: “teman”.

Keajaiban Dalam Surat Al Anam Ayat 7 yang Tidak Disadari Orang Selama Ini

QS. Al Anam ayat 7: walau nazzalnā ‘alaika kitāban fī qirṭāsin fa lamasụhu bi`aidīhim laqālallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn”

(Artinya: “Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”)

Dalam ayat di atas ada disebut kata qirṭāsin (kertas).

Yang menarik, sejarah mencatat bahwa sebelum kertas diperkenalkan di wilayah timur tengah (setelah ditemukan di Cina sekitar abad pertama), orang-orang di sana hanya mengenal perkamen (kulit binatang) dan papirus sebagai media tempat menulis.

Papirus ini adalah asal dari kata paper/ papir (sebutan untuk kertas dalam bahasa Inggris atau bahasa Indo Eropa lainnya)

(baca referensinya di sini:
https://al-bab.com/arts-and-culture-literature-section/invention-paper)

Fakta sejarah pun membuktikan bahwa di masa Nabi Muhammad hingga ke masa Khalifah Utsman Bin Affan (yang terkenal dengan upayanya mengumpulkan dan menyatukan bacaan Al Quran), semua catatan ayat-ayat Al Quran di tulis di atas perkamen (kulit binatang), pelepah kurma, papirus, batu, hingga tanah liat.

Barulah di sekitar Abad kedelapan para pedagang Muslim yang melakukan perjalanan di Jalur Sutra untuk pertama kalinya membawa pulang kertas dan kemudian memperkenalkannya ke dalam peradaban timur tengah, yang nantinya akan terus berlanjut menuju ke dunia barat.

Pertanyaan yang mestinya timbul dari hal ini adalah: ketika ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad, Apakah ia dan orang-orang awam di sekitarnya sudah mengerti seperti apa itu qirṭāsin (kertas)?

Pertanyaan yang lebih ekstrim namun layak untuk dikedepankan adalah: mungkinkah ayat tersebut diturunkan melalui Nabi Muhammad, namun, pada dasarnya adalah titipan untuk seseorang (yang juga merupakan utusan Allah) yang hadir di generasi masa mendatang, yang nantinya menggunakan kata “kertas” dalam bahasa yang ia gunakan?

Untuk pembaca ketahui, dalam bahasa di dunia, bisa dikatakan hanya dalam bahasa Indonesia/ melayu saja kata ‘kertas’ digunakan. Yang paling mendekati adalah bahasa Italia (carta), Maltese (karta). Dalam bahasa Arab sendiri ‘kertas’ disebut ‘waraq’.

Lihat daftar sebutan kertas dalam puluhan bahasa di dunia, di sini: https://www.indifferentlanguages.com/words/paper

Jadi, sangat ada kemungkinan bahwa, ayat ini ditujukan khusus untuk seseorang yang terlahir dari suatu bangsa di mana kata “kertas” digunakan dalam bahasanya. Dan, itu adalah bangsa Nusantara.

Semesta Isyaratkan Angka 312 dan 132, Apa Artinya?

“Have the courage to follow your heart and intuition” (Milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda) – Steve Job

Tulisan ini saya mulai dengan kutipan Steve Job di atas, oleh karena yang akan saya bahas dalam tulisan ini berkenaan erat dengan aspek intuisi, dalam hal ini, intuisi yang saya dapatkan semalam sesaat sebelum tidur.

Intuisi tersebut bisa dikatakan identik dengan intuisi yang saya dapatkan setahun lalu, yang memungkinkan saya dapat dengan jelas menyatakan bahwa di tanggal 7 desember 2020 akan terjadi suatu peristiwa besar (yaitu peristiwa KM 50).

postingan saya di twitter, tertanggal 20 November 2020, yang secara tepat memprediksi akan ada peristiwa besar di tanggal 7 Desember 2020.

Ya, semalam, Semesta “memperlihatkan” ke saya  angka 312 dan 132. Kedua angka ini unik, bahkan bisa saya katakan teramat unik.

Jika kedua angka ini dijumlahkan hasilnya: 444 (312+132). Yang menarik, jika ditinjau sebagai titik sudut dalam lingkaran, jarak titik sudut 132 ke titik sudut 312 adalah tepat 180 derajat. 

132 dan 312 adalah SATU-SATUNYA pasangan sudut dalam lingkaran yang jaraknya bernilai 180 derajat (tepat setengah lingkaran),dan, jika dijumlahkan menghasilkan angka kembar, yakni 444 (132+312). (lihat gambar berikut ini)

Jarak antara sudut 132 dan 312 yang bernilai 180 derajat (tepat setengah lingkaran). (dokpri)

Aspek Analogis

Jika ditinjau menurut aspek analogi, nilai 180 derajat yang ditunjukkan angka 132 dan 312 mengisyaratkan makna metafora “titik akhir waktu edar matahari.”

Makna metafora seperti ini dapat kita lihat ditunjukkan Hijr Ismail di Ka’bah yang berbentuk bangunan setengah lingkaran (180 derajat). 

Hijr Ismail berbentuk setengah lingkaran. Di sebelah barat Ka’bah.

Selama ini orang tidak mengetahui apa alasan di balik Hijr Ismail yang bangunannya berbentuk setengah lingkaran dan posisinya berada di sebelah barat. 

Untuk mengetahui makna filosofis di balik Hijr Ismail, perlu meninjau etimologi kata ‘hijr’ terlebih dahulu.

‘Hijr’ dalam bahasa arab dan bahasa urdu artinya: perpisahan / perbedaan / Keberangkatan dari.

Dari memahami makna ‘hijr’ ini, dan dengan mencermati bentuk setengah lingkaran (180 derajat) bangunan ‘hijr ismail’ di sisi paling barat ka’bah maka, dapat diperkirakan jika makna filosofis hijr ismail adalah tentang titik paling barat sebagai titik perpisahan antara siang dan malam. Sisi barat sebagai sisi yang membatasi antara sisi 180 derajat belahan bumi siang hari dan 180 derajat belahan bumi malam hari.

Hal inilah yang dimaksudkan makna kata hijr : “perpisahan”, yaitu perpisahan antara siang dan malam; “perbedaan”, yaitu perbedaan gelap dan terang; dan “keberangkatan dari”, yaitu keberangkatan dari sisi siang menuju sisi malam belahan bumi.

Yang menarik, bentuk sinonim kata ‘hijr’ yaitu ‘firaaq’ mengandung makna: kecemasan, kesedihan, penyesalan. 

Saya melihat makna ini lebih mengarah kepada simbolisasi sisi barat tempat tenggelamnya matahari sebagai “sisi akhir kehidupan”. Bahwa orang yang mencapai titik ini akan dilanda rasa cemas, sedih dan penyesalan.

Demikianlah, ketika semalam  Semesta “memperlihatkan” kepada saya angka 132 dan 312 yang membentuk nilai 180 derajat, itu berarti yang ingin diisyaratkan Semesta  adalah tentang: “Suatu durasi waktu yang mendekati akhir.” Ini peringatan dariNya.

Lalu bagaimana agar teka-teki yang diberikanNya ini dapat terpecahkan ke tingkat yang lebih detail, sehingga kita bisa memiliki pertimbangan kapan kira-kira waktu yang diisyaratkan Sang Semesta?

Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah dengan lebih mengeksplorasi angka 132 dan 312 dalam hitungan matematika. Berikut ini hasilnya:

Titik 132 berjarak 48 derajat dari titik 180 derajat. Begitu juga titik 312 berjarak 48 derajat dari titik 360 derajat. 

444 sebagai hasil penjumlahan dari 132+312, Jika dibagi 48 hasilnya: 9,25.

Kelipatan Persekutuan Terkecil 132 dan 312 adalah: 3432. Jika 3432 dibagi 360 (jumlah sudut dalam 1 lingkaran penuh) hasilnya: 9,53.

Akar dari 444 sendiri adalah: 21,07130750570548. Dalam hitungan jam, 21 dapat kita lihat bernilai 9.

Demikianlah, hitungan-hitungan di atas terus menerus mengarah ke angka 9. 

Jika angka 9 dimaksudkan mengacu pada hitungan hari maka, jika dihitung dari tanggal 10/12/2021 saat saya diperlihatkan angka 312 dan 132, tanggalnya yang dituju adalah antara 18 atau 19 Desember 2021. 

Jadi, mari kita nantikan apa yang akan terjadi di tanggal 18 atau 19 Desember 2021 nanti.

Tambahan: Jika boleh mengira-ngira apa yang terjadi di tanggal yang saya maksud di atas, kita dapat mencermati variable FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dari 132 dan 312, yaitu: 12.

Jika kita gunakan angka 12 ini sebagai pembagi, hasilnya:

132 :12 = 11
312 : 12 = 26

Jika angka 11 dan 26 digunakan untuk “melihat kemungkinan” dalam Al Quran, ini akan merujuk pada surat Hud ayat 26 (11:26) bunyinya: “agar kamu tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.”

Kutnot, “Pakaian Cahaya” yang Digunakan Adam

Dalam upacara Havdalah, yakni upacara keagamaan Yahudi, ada bagian di mana peserta upacara tersebut mengangkat lilin ke udara lalu mereka melihat pantulan cahaya di kuku mereka. 

Ada banyak kalangan Yahudi yang percaya bahwa ritual tersebut berakar dari kepercayaan bahwa sebelum Adam dan Hawa berdosa, mereka menggunakan ‘kutnot’ atau “pakaian cahaya” yang putih dan halus seperti kuku dan bersinar seperti mutiara [Bereshit Rabbah 20.12]

Bahkan ada yang beranggapan bahwa itu tidak cukup dianggap sebagai pakaian dalam pemahaman kita karena, bahan putih, halus dan bercahaya itu menyelubungi seluruh tubuh Adam dan Hawa seperti kulit pada tubuh kita. 

Ada banyak anggapan baik itu yang tersebar di kalangan Yahudi maupun di kalangan Islam yang meyakini bahwa bahan tersebut sejenis dengan kuku yang ada di ujung jari kita. Ini misalnya disampaikan Al Tabari dalam The History of al-Tabari Vol. 1 “General Introduction and From The Creation to the flood”.

Screenshot dari buku The History of al-Tabari Vol. 1 “General Introduction and From The Creation to the flood” halaman 276. (dokpri)

Menurut pengetahuan Yahudi, kuku kita adalah sisa kecil dari kesempurnaan Adam yang berlalu dari kita. Jadi, meskipun orang-orang Yahudi selalu dengan keras menolak gagasan Kristen tentang “dosa asal”, tetapi, tampaknya hal itu tidak menghalangi mereka untuk berpandangan bahwa tubuh manusia pernah begitu bercahaya. Setelah berdosa, tubuh manusia menjadi redup, kasar dan fana, ditakdirkan untuk membusuk di bumi. 

Kutnot atau “Pakaian Cahaya”
Kutnot atau kuttoneth {koot-to’-neth} berarti “menutupi”. Kata ‘kutnot’ terkait dengan kata quun atau qun  dalam bahasa Arab. Ini merupakan akar kata dari ‘cotton’ atau katun dalam bahasa Indonesia.

Kata ‘kutnot’ pertama kali terlihat dalam Breisheet 3:21: “Dan Hashem, Tuhan membuat ‘kutnot ohr’, pakaian kulit untuk Adam dan istrinya dan Dia memakaikan mereka.” 

Rashi mengutip Breisheet Raba 20:12 menyatakan bahwa itu adalah pakaian yang halus seperti kuku, yang menempel pada kulit. Yang lain mengatakan bahwa pakaian itu terbuat dari bahan yang berasal dari kulit seperti rambut kelinci (lembut dan hangat).

Dalam Talmud, Sotah 14a, Rav dan Shmuel tidak setuju tentang arti “pakaian kulit.” Rav mengatakan bahwa pakaian itu terbuat dari sesuatu yang berasal dari kulit (menurut Targum Yontan, kulit ular yang terlepas) dan Shmuel mengatakan bahwa makna “pakaian kulit” adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kulit (bahan yang nyaman seperti linen).

Umumnya cendikiawan berpandangan bahwa frase ‘pakaian kulit” tidak bisa dimaknai sebagai pakaian yang terbuat dari kulit karena pada saat itu hewan belum dibunuh untuk diambil kulitnya sebagai bahan membuat pakaian.

Seperti yang saya sebutkan di bagian awal, “pakaian” yang digunakan Adam tidak cukup dianggap sebagai pakaian dalam pemahaman kita hari ini, karena, pakaian yang berbahan putih, halus dan bercahaya itu menyelubungi seluruh tubuh Adam dan Hawa seperti kulit pada tubuh kita. Jadi, frase “pakaian kulit” dapat dimaknai sebagai “pakaian yang menyelubungi tubuh Adam (secara permanen) layaknya kulit membungkus tubuh kita.


Dalam film Anunnaki yang bercerita tentang kedatangan makhluk dari planet Nibiru yang membangun peradaban awal di bumi, Dewa Anunnaki ditampilkan berkulit putih. 

Ini sangat mungkin mengadopsi mitos tentang “Pakaian Adam”. Dan memang, kalangan yang menyenangi teori konspirasi beranggapan bahwa dewa Anunnaki yang merupakan alien dari planet Nibiru adalah personifikasi Adam yang dianggap seperti alien yang datang ke bumi dan mengajarkan penghuni bumi yang masih primitif pengetahuan surgawi yang sangat maju.

Tahun kedua Pandemi, Penjelasan Nabi Muhammad Tentang “Penyakit Wahn” Mulai Terbukti

Sebenarnya, menjangkitnya wabah penyakit sebagai salah satu tanda-tanda akhir zaman memang merupakan hal yang banyak dibahas dalam literatur-literatur yang memuat nubuat apokaliptik.

Misalnya, terdapat dalam nubuat sang Buddha shakyamuni atau yang lebih dikenal dengan nama Buddha Gautama, yang meramalkan kedatangan Maitreya, sang Budhha masa depan, yang ditandai dengan menjangkitnya wabah penyakit dan peperangan.

Nabi Muhammad, dalam beberapa riwayat hadist yang membahas akhir zaman, pun ada mengungkap bahwa di masa menjelang akhir dunia, wabah penyakit akan menjangkiti umat manusia. Penyakit itu disebut “Wahn” oleh nabi.

Meskipun nama ini sepintas mirip dengan “wuhan”, yakni nama daerah yang dianggap asal penyebaran virus corona, namun, oleh banyak cendikiawan, penyakit wahn dijelaskan sebagai bentuk penyakit psikis, yaitu: Cinta Dunia.

Memasuki tahun kedua pandemi Covid 19, masalah yang dirasakan masyarakat global telah sangat jelas bergeser dari sebelumnya takut terjangkit virus menjadi merasa sangat terbebani dengan aturan ketat yang terapkan pemerintah di masing-masing negara.

Ada banyak orang yang memilih mengikuti aturan tersebut, seperti mengikuti vaksinasi, hanya agar dia tidak dipersulit dalam aktifitas keseharian hingga takut kehilangan pekerjaan.

Sebaliknya, ada banyak juga masyarakat di berbagai negara yang dengan keyakinan bulat tegas menolak semua aturan terkait Covid 19 yang diterapkan pemerintahnya.

Faktanya, dalam beberapa bulan belakangan ini, sangat banyak demonstrasi yang dilakukan warga di berbagai negara untuk menolak vaksinasi, penggunaan masker, hingga menolak pemberlakuan wajib dokumen kesehatan kartu hijau (green passCOVID-19. 

Demikianlah, situasi dunia di tahun kedua pandemi covid 19, tampak jelas mulai membuktikan pernyataan nabi Muhammad.

Ketika para sahabat bertanya apa itu penyakit Wahn, beliau tidak menjelaskan secara spesifik penyakit itu sebagai penyakit flu, tetapi, BELIAU MEMILIH MENJELASKAN GEJOLAK SOSIAL YANG DITIMBULKAN PANDEMI ITU KEMUDIAN, yakni banyak orang yang karena cinta atau terikat sama hal duniawi akhirnya pasrah ikut arus.

Faktanya, banyak di antara orang-orang yang memilih ikut vaksinasi, melakukan hal itu bukan karena ingin terhindar dari virus corona tetapi karena tidak ingin dipersempit ruang geraknya, tidak ingin kehilangan pekerjaannya, dan berbagai alasan lain yang sifatnya tuntutan duniawi.

Ironisnya, Tuntutan duniawi itu dikontrol pemerintah negara. Jadi, Tuntutan duniawi = tuntutan (yang diwajibkan) pemerintah negara… 🙂

Mereka takut sama tuntutan pemerintahannya, tapi tidak takut dengan tuntutan Sang Pencipta di akhirat nanti.

Mereka inilah yang disebut Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang terjangkit penyakit Wahn: “Cinta dan rasa takutnya hanya pada dunia, seakan ia akan hidup selamanya.” Mereka lupa bahwa bagaimana pun juga pada akhirnya ia akan meninggalkan dunia ini.

Penggenapan dalam Mekanisme Kosmis untuk Kemunculan Al Mahdi

Mekanisme kosmis yang menggerakkan skenario semesta dalam banyak hal analoginya dapat kita lihat mirip dengan suatu permainan (game) yang menuntut jumlah skor kredit tertentu – agar permainan dapat lanjut ke level berikutnya.

Ini yang biasa kita dengar dalam pembahasan tema eskatologis yang mengatakan bahwa ketika semua hal telah “DIGENAPI” maka suatu takdir yang telah Dia Janjikan akan segera terwujud.

Hari ini, telah sangat banyak orang di bumi ini yang berharap agar Al Mahdi Sang Penyelamat akhir zaman segera muncul. Tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya mereka berperan penting dalam cepat atau lambatnya kemunculan Al Muntazar (Yang Dinantikan).

Ketika dalam suatu Hadistnya Muhammad mengatakan bahwa Al Mahdi akan memerintah di bumi dalam 11, 9, 7 atau 3 tahunan maka, ini sebenarnya adalah interval waktu yang terkait erat dengan cepat atau lambatnya kemunculan Al Mahdi.

Semakin cepat ia muncul maka semakin lama ia dapat memerintah dan menemani umat manusia di dunia.

Bahkan, dalam suatu riwayat yang lain Muhammad ada mengatakan bahwa, jika seandainya waktu di dunia tinggal 1 hari, maka Allah akan panjangkan hari itu dan memunculkan Al Mahdi.

Oleh sebagian ulama, riwayat ini  dianggap sebagai jaminan bahwa bagaimanapun Al Mahdi pasti akan dimunculkan.

Tapi di sisi lain, riwayat ini juga tampaknya memberi isyarat bahwa ada kemungkinan Al Mahdi akan muncul sedemikian terlambatnya. Sehingga hanya tersisa 1 hari saja.

Lalu bagaimana cara kita mengatasi hal ini?

Sebagaimana petunjuk yang barusan Allah berikan (ketika saya sedang menyusun tulisan ini), satu-satunya jalan adalah terus mengulang-ulang “peringatan” tentang kemunculan al Mahdi ini. Agar semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang selalu ingat, dan semakin banyak orang yang berdoa untuk itu.

Rahasia di Balik 222 Tahun Selisih waktu Antara Tahun Wafat Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi, dan Keterkaitannya Dengan “Nilai 14” yang Selalu Menjadi Pilihan Allah Sebagai Jumlah di Sisa Akhir

Keunikan Rentang Waktu Tahun Wafatnya Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi

Suatu hal menarik saya temukan ketika mencermati tahun wafat Jayabaya dan tahun kelahiran Siliwangi yang ternyata berjarak 222 tahun.

Data mengenai hal ini merujuk pada beberapa literatur yang menyebut Prabu Jayabaya memerintah kerajaan Kediri di antara tahun 1135 to 1179 M (Cœdès, George (1968). The Indianized states of Southeast Asia), dan Prabu Siliwangi yang dalam beberapa literatur disebut lahir pada tahun 1401 M (sumber wikipedia: di sini).

Jadi, jika dihitung, tahun wafat Prabu Jayabaya hingga tahun kelahiran Prabu Siliwangi tepat berjarak 222 tahun (1401-1179= 222).

Angka 222 tentu saja menarik untuk dicermati, terutama karena ia merupakan jumlah jarak tahun kehidupan dua sosok yang melegenda di tanah Jawa. Terlebih lagi karena keduanya, secara geografis, seakan merepresentasi kepercayaan tema eskatologi yang berkembang dalam masyarakat tradisional di sisi timur dan barat pulau Jawa.

Melalui pencermatan angka 222 ini saya menemukan isyarat yang mempertegas keterkaitan keduanya. Yaitu bahwa akar dari 222 adalah: 14 koma sekian-sekian…. (berikut ini bentuk desimalnya)

(dokpri)

Seperti yang telah saya urai dalam tulisan sebelumnya “Rahasia di Balik Angka 19, dan 14 huruf Muqattaʿat dalam Al Quran“, “angka 14” memiliki fenomena kekhususannya sendiri. Selama ini tersaji nyata di depan kita. Hanya kurang mendapat perhatian saja.

Misalnya, jika berbicara tentang angka spesial dalam Al Quran, pada umumnya orang akan langsung mengarahkan perhatiannya pada angka 7, 8 dan terutama 19, sementara angka 14 pada jumlah surat dalam Al Quran (114) kurang mendapat perhatian.

Pertanyaan kritis yang mestinya timbul adalah: mengapa setelah mencapai jumlah 100, lalu ditambahkan 14? mengapa tidak ditambahkan 20, 50, 60 atau 80?

Apa spesialnya angka 14 sehingga Allah lebih memilihnya dibandingkan angka 20, 50, 60, atau 80?

Jika anda telah tiba pada pemikiran kritis seperti ini, anda akan dapat melihat bahwa angka 14 di belakang koma pada 3,14 (nilai konstanta bilangan pi) tentu memiliki makna tertentu juga.

Pertanyaan kritis untuk hal ini adalah: mengapa panjang keliling lingkaran mesti selalu 3,14 kali panjang diameter lingkaran tersebut? mengapa Allah tidak menggenapkannya menjadi 3 kali saja? mengapa mesti ada nilai 14 di belakang koma?

MENGAPA ALLAH SELALU MEMILIH NILAI 14 SEBAGAI JUMLAH DI SISA AKHIR?

“Piring”, Makna dan Riwayatnya yang Terlupakan

“Piring” adalah salah satu kata benda yang paling akrab dengan ingatan manusia. Hal itu dikarenakan fungsinya sebagai perkakas kegiatan rutin dan paling vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu: makan.

Begitu akrabnya “piring” dengan ingatan atau alam pikiran manusia, sehingga dalam situasi tertentu, ia bahkan dapat memicu dampak emosional. Seseorang dapat marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, bahkan termotivasi, ketika teringat dengan kata piring.

Benarkah? Mengapa demikian?

Ya, anda mungkin akan menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan dan mengada-ada… tapi tentu saja tidak.

Saya yakin, anda akan melihat kebenaran pernyataan itu manakala melakukan pengamatan lebih mendalam.

Misalnya, Dalam alam pikiran seorang bapak, ingatan tentang “piring” dapat memotivasinya bekerja lebih giat, karena hal itu mengingatkannya pada tanggung jawab memberi makan anak istrinya di rumah. Segala macam perasaan akan berkecamuk mengiringinya dalam upaya tersebut – baik ketika gagal, maupun ketika berhasil.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa “piring” adalah perkakas untuk sebuah kegiatan yang paling mempengaruhi arah dan sudut pandang berpikir manusia terhadap kehidupan.  

Di Nusantara, bukti bahwa kata “piring” mempengaruhi alam pikiran kita, dapat ditemukan dalam beberapa bunyi peribahasa yang menggunakan kata piring atau pinggan.

Misalnya: “pinggan tak retak nasi tak dingin” (artinya: cermat dalam melakukan suatu pekerjaan) ; atau “di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal” (di mana orang meninggal di situ dikuburkan).

Dalam cerita fiksi (budaya populer) terutama di tahun 80-90an, kita pernah akrab dengan sebutan “piring terbang” sebagai wahana makhluk luar angkasa yang datang menginvasi bumi. 

Namun, dalam kehidupan urban hari ini, kita juga mengenal istilah “piring terbang” tapi yang ini tidak merujuk pada wahana makhluk luar angkasa. Istilah ini biasanya menjadi kalimat keluhan atau ejekan tentang situasi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga.

Misalnya seorang temanmu berkata: “wahh barusan di rumah ada piring terbang!” – kalau kamu tidak mau ceritanya kepanjangan, abaikan saja temanmu itu, soalnya ada kemungkinan dia mau curhat, habis marahan dengan istrinya.

Atau kalau mau mengejek temanmu yang lagi murung, kamu bisa bertanya: “kayaknya habis lihat piring terbang lagi nih!”

Mereka-mereka yang “Ditakdirkan” Membawa Perubahan Zaman, dari Era Mitologi Dewa-dewa Hingga Era Masonik

jika kita mencermati berbagai mitologi yang ada di dunia, kita dapat melihat bahwa konsep “pandai besi” untuk dewa-dewa tertinggi umum digunakan. 

Dewa Mesir, Ptah, digambarkan sebagai sosok pencipta, pelindung pekerja logam dan pengrajin dalam budaya Mesir. 

‘Hephaestus’ dalam mitos Yunani yang menjadi ‘Vulcan’ dalam sastra Latin, keduanya secara konsisten digambarkan membawa alat-alat mereka yaitu palu dan penjepit pandai besi.

Patung dewa Hephaestus

Rajeshwari Ghose dalam bukunya Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period, mengungkap bahwa Batara Guru juga disebut sebagai “Goldsmith” atau “pandai emas” sementara anak-anaknya disebut “Blacksmiths” atau “pandai besi”. 

Berikut ini kutipannya: “In the Tantu Panggelaran, Bhattara Guru is described as the first of the long school of teachers or devagurus (divine teachers). He is represented as the teacher of speech and language. Mahadeva, however, is regarded as a goldsmith. …The blacksmiths are regarded as children of Mahadeva.” (R. Ghose. Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period. The University of Hong Kong Press, 1966. hlm. 129-131)

Dalam kitab I La Galigo, dewata sang pencipta disebut “To Palanro” atau ” To Palanroe” yang secara literal bermakna “pandai besi” sementara makna figuratifnya adalah “Dia yang menciptakan, membentuk dan menata”.

Dalam bahasa Bugis, ‘lanra’ atau ‘lenra’ atau ‘lanro’ berarti “menempa” (dari kata dasar tempa). Jadi, kata ‘tempa’ atau ‘menempa’ yang kita kenal dalam bahasa Indonesia adalah kata yang pada awalnya memang secara spesifik digunakan untuk pelaku dan atau kegiatan pandai besi.

Dinasti Sailendra yang tercatat sebagai dinasti terbesar dalam kesejarahan Nusantara, sangat mungkin menggunakan konsep ini.

Dalam tulisan “Makna Sesungguhnya dari Nama Sailendra” telah saya urai bahwa makna “Sailendra” jika ditinjau dalam perspektif Bahasa Tae’, secara literal bermakna “datang menempa” (sai=datang; lendra=menempa), dan secara figuratif dapat dimaknai: “datang atau hadir membentuk” atau pun “datang atau hadir membangun”.

Kuat dugaan saya jika kata ‘belanda’ yang berasal dari sebutan Jawa ‘walanda’ sebenarnya berakar dari konsep yang telah saya urai di atas.

Oleh leluhur kita di masa lalu, terutama yang berada di Jawa, orang-orang kulit putih yang datang dari Eropa disebut ‘landa’ atau ‘walanda’ karena dipandang datang ‘menempa’ memberi perubahan. membuat bentuk baru – terlepas apakah bentuk yang dihasilkan sifatnya baik ataukah buruk.

Istilah ‘walanda’ secara fonetis menunjukkan keidentikan dengan bentuk palanra/palanro yang telah saya sebut di atas sebagai salah satu gelar Batara Guru.

Al Mahdi Will Become a “Superhero” Figure in the Real World

What we do not realize has happened in the life of the world in the last 10-20 years is that the theme of “super heroes” has so massive filled our space of consciousness. This assimilation occurs not only in children but also in us adults.

The Super Hero theme can be said to have become a new embroidery in our realm of consciousness. We all become familiar with it and see it as part of (possible) reality. It becomes new knowledge. Become part of ideas and hopes – “extreme solutions” to problems that are also extreme.

This means, actually a new paradigm is growing in our collective consciousness as human beings. Paradigm, which directs our emotional and intellectual discipline to present substantial judgments. To be known; intention, which is the basis of our moral judgment in front of God, arises from this “substantial assessment”. Because, from there triggered “behavior based on our conscious desires”.

For all these phenomena the relevant question arises, namely: What kind of cosmic mechanism does the Creator wish to adapt to in our realm of consciousness? – What are the important things back there that are “waiting to happen”?

In order to answer that question, it is important to look back at the information we have inherited from ancient times, the following …

Prophecies from various religious traditions about the figure of the Savior (Superhero)

In the sacred texts of the world’s major religions (call it Christianity, Islam, Hinduism, Buddhism, Zoroastrianism, etc.), there is a fragment of the ancient narrative about the presence of a savior at one point in the future.

This narrative is like information that is constantly being recycled. It continues to be present in various layers of age and human civilization which, despite different names, however, the purpose and moral substance carried by the figure of the savior in question can be said to remain the same.

Yes, since time immemorial, this information has been successfully transmitted into human memory from time to time – integrated as part of religious doctrine. On the other hand, this is indeed part of a little oasis in the religious world that can raise hope in the aspect of faith. This is often the subject of insults from secular people. In fact, such insults sometimes also come from members of the religious community itself – from groups who consider belief in future predictions to be forbidden.

%d bloggers like this: