Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno (Bagian 2)

Dalam tulisan “Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno” telah saya bahas mengenai kata “tukar” (dalam bahasa Indonesia) yang saya duga berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (Turki), merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Orang Tocharia sendiri, oleh sarjana moderen dianggap sebagai orang Indo-Eropa yang mendiami negeri-negeri Oasis di tepi utara cekungan Tarim (hari ini masuk dalam wilayah Xinjiang, Cina) pada masa kuno.

Selain kata “tuccar” yang terkait dengan kata “tukar” dalam bahasa Indonesia, di kawasan ini ada pula sebutan “suli“, yaitu sebutan orang Khotan bagi semua pedagang yang berinteraksi dengan mereka.

Informasi ini terdapat dalam buku Russell Fraser yang berjudul “Sojourner in Islamic Lands“. Dalam buku ini Russell Fraser mengungkap: “Orang-orang Khotan mengenal semua pedagang sebagai “suli”, [yaitu] sebutan [khusus] untuk orang Sogdiana, walau pun pada kenyataannya bisa jadi pedagang itu bukan orang Sogdiana.

Yang menarik karena dalam bahasa tae’ (bahasa daerah yang digunakan di Sulawesi selatan) terdapat kata “Suli” yang artinya: “mahal”. Tentunya makna dalam bahasa Tae’ ini ada keterkaitan dengan penyebutan “Suli”  bagi kelompok pedagang, bahwa mungkin mereka disebut demikian karena barang dagangan mereka yang mahal harganya.

Di sisi lain, seperti halnya kata “tukar“, kata “suli” ini pun pada dasarnya menunjukkan adanya jejak Nusantara di Asia Tengah pada masa kuno.

Dalam buku “Jalur Sutra: Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” yang pada halaman 71 hingga halaman 86, Frances Wood memang ada membahas bahwa Penyebaran perdagangan dan agama di wilayah Asia tengah pada zaman kuno dilakukan oleh orang-orang Tocharia dan Sogdia.

Jadi, dapat kita lihat bahwa dua bangsa yang mendominasi perdagangan di Asia tengah pada zaman kuno, pada kenyataannya, memiliki “hubungan” dengan kata dalam bahasa di Nusantara yang akrab digunakan dalam aktifitas perdagangan. Yakni kata “tukar” (bahasa Indonesia) terkait dengan bangsa Tocharia, dan kata “Suli” (bahasa Tae’ artinya “mahal”) yang terkait dengan bangsa Sogdia.

Terhadap hal ini, kita bisa saja membangun asumsi bahwa bangsa Tocharia dan bangsa Sogdia bisa jadi adalah dua bangsa dari Nusantara yang bermigrasi ke wilayah Asia tengah pada zaman kuno, dan karena menguasai kemampuan navigasi pelayaran, maka, sebagian dari mereka dapat pulang pergi ke Nusantara untuk mendapatkan barang dagangannya.

Terlebih lagi, barang-barang yang mereka perdagangkan memang merupakan produk khas dari wilayah Nusantara.

Ini sebagaimana yang diungkap Russell Fraser terkait produk yang diperdagangkan oleh orang Suli atau Sogdia: “mereka berdagang rempah-rempah, …jenis obat-obatan [herbal], pewarna buah-buahan eksotis, tanaman kuliner seperti jintan, kulit kayu manis, dan jahe dalam lima jenis yang berbeda.”

Menakar Kesiapan Imam Mahdi Memasuki Panggung Akhir Zaman

(gambar: commons.wikimedia.org)

Dalam tulisan sebelumnya ( Mengenal Lebih Dekat “Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi” ) saya telah mengulas adanya kesamaan figur penyelamat di akhir zaman yang terdapat dalam tradisi berbagai agama.

Pada bagian ini, pembahasan akan lebih kepada mengulas koherensi (Kepaduan Makna) tekstual yang terdapat dalam literatur eskatologi yang membahas Maitreya (mewakili tradisi Buddha) dan Imam Mahdi (mewakili tradisi Islam).

Saya melihat, menemukenali koherensi tekstual dari literatur kedua tradisi ini, akan dapat membantu kita dalam upaya lebih mengenali realita “figur penyelamat akhir zaman” yang sesungguhnya, sehingga pada gilirannya, kita dapat menakar seperti apa dinamika yang kemungkinan “Sang Penyelamat” hadapi dalam menjalani perannya.

Dapat dikatakan bahwa pembahasan ini merupakan langkah kritis mengantisipasi fakta yang kerap kita temukan dalam dunia literatur sejarah, bahwa “kenyataan atau kejadian sesungguhnya, tidaklah sesimpel sebagaimana yang dinarasikan”. 

Sang Penyelamat Sebagai Manusia Biasa

Dalam buku “Maitreya, the Future Buddha” Alan Sponberg mendeskripsikan sosok Maitreya sebagai berikut:

Kami menemukan dia kadang-kadang digambarkan sebagai seorang bodhisattva yang rajin memupuk jalan menuju pencerahan di bumi dan kemudian sebagai seorang bodhisattva surgawi yang gemerlap di kediamannya di surga Tusita.

Kadang-kadang ia muncul seperti individu duniawi lainnya yang bertujuan mengabdi dan berkontemplasi, di sisi lain tampil sebagai pemimpin militan ekstrimis politik yang berusaha untuk membangun sebuah tatanan baru di masa sekarang ini.

Kita kadang-kadang melihatnya sebagai penerima pengakuan dosa dan kadang-kadang sebagai inspirator bagi para sarjana. 

Mungkin tidak ada figur lain dalam jajaran Buddhis yang menggabungkan universalitas dan kemampuan beradaptasi dengan cara yang dilakukan Maitreya.

Deskripsi Alan Sponberg ini menunjukkan jika Maitreya adalah manusia biasa yang menjalani hidup layaknya orang kebanyakan. Ungkapan seperti individu duniawi lainnya” menegaskan hal itu.

Di sisi lain, dalam tradisi Islam, Imam Mahdi disebutkan adalah orang biasa yang bahkan ia sendiri tidak mengetahui jika dirinya adalah Imam Mahdi yang dinantikan, kecuali setelah tiba pada momentum di mana Allah menghendaki untuk menampilkannya di tengah umat manusia.

Poin kohorensi yang ditunjukkan tema eskatologi dari tradisi Buddha dan tradisi Islam di atas adalah bahwa: “sang penyelamat akhir zaman” adalah manusia biasa, sama seperti kita.

Mengenal Lebih Dekat “Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi”

Doktrin tentang kehadiran sosok penyelamat di akhir zaman sesungguhnya telah menjadi tema pembahasan selama ribuan tahun dalam berbagai tradisi agama.

Sekitar 2500 tahun yang lalu, ketika Sang Buddha Gautama sedang berkhotbah di Kerajaan Magadha, dia menyatakan tentang akan datangnya seorang Buddha di masa depan. Murid-muridnya yang menunjukkan minat yang besar meminta Buddha Gautama untuk berbicara lebih banyak tentangnya.

Buddha Gautama Kemudian mulai berbicara tentang Maitreya dan kemampuannya yang tak terukur, bahwa Maitreya akan dilahirkan ke dunia moral tertinggi dan kesalehan terdalam.

Sejak saat itu, wacana Maitreya sebagai penyelamat di akhir zaman menjadi doktrin dalam tradisi Buddha dari waktu ke waktu.

Kesengsaraan yang senantiasa meliputi kehidupan manusia di setiap bangsa dari masa ke masa, menginspirasi hadirnya kata “Sang Penyelamat” sebagai ungkapan yang agung, didasari kepercayaan dan harapan bahwa kehadiran sang penyelamat tersebut akan dapat menghilangkan penindasan atau apa pun yang menimbulkan kesengsaraan dalam hidup.

Di Israel kuno, penyelamat disebut “Masiah“, sebuah kata Ibrani yang berarti “yang diurapi,” ini merupakan asal kata “Mesianisme,” yang oleh pemikir modern mendefinisikannya sebagai jenis pemikiran dan gerakan yang percaya bahwa penyelamat akan datang pada akhir dunia ini – menghilangkan penindas dan menciptakan masyarakat yang ideal.

Konsep penyelamat ini juga diterapkan pada Yesus Kristus oleh orang-orang Kristen awal berbahasa Yunani. Kata “Kristus” berasal dari kata Yunani “Christos“, yang berarti “diurapi“. 

Christos merupakan terjemahan dari kata Ibrani “Masiah” (Mashiyach), umumnya dieja dalam bahasa Inggris mesias , yang juga berarti “diurapi“.

Shigeru Kamada, Profesor Studi Islam dari Universitas Tokyo dalam tulisannya “Mahdi and Maitreya (Miroku): Saviors in Islam and Buddhism” mengatakan: 

Sebenarnya, Mesianisme berarti jenis pemikiran dan gerakan yang berkembang dalam kerangka tradisi Yahudi-Kristen, tetapi dalam arti yang lebih luas, konsep ini dapat ditafsirkan untuk mencakup tradisi eskatologis dari berbagai agama lain yang mengharapkan kedatangan penyelamat. Mahdisme adalah salah satu pemikiran seperti itu yang muncul dalam konteks Islam, dan itu memberikan dasar doktrinal untuk reformasi sosial yang dirancang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dari penderitaan mereka.

Dalam tradisi Islam, diyakini bahwa Imam Mahdi akan datang ke dunia ini sebagai penyelamat di akhir zaman. Kata Mahdi berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang dibimbing dengan benar“, atau “yang mendapat hidayah“.

Tidak ada referensi langsung tentang Imam Mahdi dalam Quran. Pembahasan mengenainya berasal dari beberapa hadits. 

Demikianlah, Hari ini, kita mendapati kenyataan bahwa pemikiran dunia modern cenderung mengasimilasi tradisi Maitreya dengan Mesiah, atau pun Imam Mahdi.

Chhatra (Payung) Sebagai Simbol Chakravarti, dan Kaitannya dengan Sebutan “Payung Ri Luwu”

Setelah dalam tulisan sebelumnya (Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha) saya mengulas Ratu Sima atau Simpurusiang sebagai Chakravarti sesungguhnya yang disebutkan Buddha Sakyamuni, maka dalam bagian ini saya akan mengulas fakta lain bahwa memang Tana Luwu menjadi pusat pemerintahan Chakravarti tersebut (Ratu Sima atau Simpurusiang).

Dalam buku Ancient India (1968: 166), Mahajan V.D, Seorang sejarawan terkenal dari India, menjelaskan bahwa pemerintahan penguasa seperti Chakravarti (Sanskrit: Chakravartin) disebut Sarvabhauma, yaitu sistem kekaisaran utama.

Terminologi “Chakravarti” dianggap Mahajan V.D  sinonim dengan sebutan “Adhipatya”. Keduanya, menurut Mahajan V.D adalah sistem kekaisaran di mana kekuasaan raja memberi perlindungan yang berlebih kepada negara di luar perbatasannya, sebagai negara yang dominan.

Sementara dalam kamus Sanskrit Monier-Williams, sArvabhauma kurang lebih didefinisikan sebagai “kekuasaan atas seluruh bumi”, “kedaulatan atas seluruh bumi”, atau “kerajaan universal”. Kata “bhauma” sendiri bermakna: bumi, terestrial, duniawi, dan beberapa bentuk sinonim lainnya.

definisi Sarvabhauma dalam kamus online Monier-Williams (dicapture dari spokensanskrit.org)

Sebelum saya melanjutkan pembahasan  “sArvabhauma” atau pun “Bhauma”, terlebih dahulu saya ingin sedikit mengulas fakta bahwa salah satu tanda seorang cakravartin sebagai penguasa adalah “Chhatra” atau “payung”. 

Ini sejalan dengan pendapat DG Sircar dalam “Political Ideas in the Puranas” (1977: 69), bahwa: “kata cakra- vartin berarti sebuah kekaisaran… eka-Chatra (secara harfiah, seorang diri menikmati payung atau lencana kedaulatan), atau sarvabhauma (penguasa semua negeri, yaitu dunia bumi).

Fakta ini jelas berkorelasi dengan identitas Kedatuan Luwu yang identik dengan simbol “payung”. Luwu umum disebut dengan istilah “Pajung ri Luwu”. 

Jadi, Simpurusiang sebagai salah satu Raja dalam silsilah Kedatuan Luwu, dapat ditafsirkan menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Chakravarti.

Adapun mengenai kata “bhauma” (pada kata “sArva-bhauma”), saya melihat ini identik dengan kata “Beuma”, yaitu sebuah nama wilayah yang berada di kaki gunung Sinaji, kecamatan Basse Sang tempe, Kabupaten Luwu (Sulawesi selatan).

Wilayah ini (sekitar kaki gunung Sinaji) dalam beberapa tulisan sebelumnya telah saya identifikasi sebagai pusat kerajaan Holing (ini salah satu tulisan saya yang membahas hal tersebut: Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi). 

Dan memang, terdapat cerita turun temurun yang berkembang di Luwu, Toraja, serta beberapa wilayah lainnya di Sulawesi, bahwa leluhur kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi, berasal dari kaki gunung Sinaji ini.

Desa Ledan di Kabupaten Luwu. Masuk dalam wilayah yang akrab disebut “Beuma” oleh masyarakat setempat. (dokpri)

Hari ini, toponim “Beuma” tidak digunakan lagi oleh pemerintah setempat sebagai nama wilayah administrasi secara resmi (apakah itu nama desa atau kecamatan), tetapi masyarakat lokal masih menggunakan nama “Beuma” untuk menyebut wilayah sekitar kaki gunung Sinaji ini, meliputi beberapa desa yang ada disekitarnya.

Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha

Dalam tulisan sebelumnya (Mengungkap Sosok Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha) telah saya ungkap mengenai suatu nubuat yang diucapkan Buddha Sakyamuni (Siddhartha Gautama), bahwa akan hadir seorang Chakravartin perempuan yang akan memerintah Jambudvipa sebagai reinkarnasi Vimalaprabha. 

Nubuat tersebut terekam dalam Mahameghasutra (di Cina dikenal sebagai “Dayun jing”, dan oleh sejarawan hari ini dikenal dengan sebutan “The Great Cloud Sutra”). 

Ucapan Buddha bahwa Chakravartin perempuan tersebut akan hadir sekitar seribu tahun setelah ia parinirvana (kematiannya), menjadi acuan bahwa masa kedatangan Chakravartin perempuan tersebut berada di sekitar abad ke 6 M, oleh karena kisaran tahun kematian Buddha menurut negara-negara Theravada adalah 544 atau 545 SM. Lalu dalam tradisi Buddhis Burma, tanggal kematian Buddha adalah 13 Mei 544 SM, sedangkan dalam tradisi Thailand adalah 11 Maret 545 SM. (Eade, JC:  The Calendrical Systems of Mainland South-East Asia, 1995) 

Sayangnya, disekitar masa itu (abad ke 6 hingga abad ke 7), ada permaisuri Wu Zetian yang mengklaim dirinya sebagai sosok Chakravartin yang diramalkan sang Buddha. Namun dengan mencermati Track record Wu Zeitan yang dipenuhi intrik dan tindakan-tindakan keji selama hidupnya, maka saya pikir sangat tidak mungkin untuk menganggap Wu Zetian sebagai sosok Chakravartin sekaligus Bodhisattva yang dimaksudkan Buddha Sakyamuni.

Karena Bodhisattva sesungguhnya adalah seorang yang suci. Dikenal memiliki sifat welas asih dan sifat tidak mementingkan diri sendiri dan rela berkorban. Ia mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta. Ia dapat juga diartikan “calon Buddha”.

Silahkan baca pembahasan mengenai nubuat Buddha Sakyamuni dan intrik Wu Zetian di tulisan sebelumnya: Mengungkap Sosok Chakravartin (Penguasa Dunia) yang Diramalkan Sang Buddha.

Sebagai sosok alternatif untuk figur Chakravartin sekaligus Bodhisattva yang dimaksudkan Buddha Sakyamuni dalam nubuatnya, saya mengajukan sosok Ratu Sima yang juga merupakan pemimpin wanita yang hebat Di masa itu. Ratu Sima dari kerajaan Holing, oleh para sejarawan dianggap sebagai cikal bakal berdirinya dinasti Sailendra, yang menguasainya Nusantara hingga sebagian wilayah Indocina. 

Penobatan Ratu Sima sebagai raja di kerjaan Holing terekam dalam kronik Cina. Disebutkan bahwa pada tahun 674 M rakyat kerajaan Holing menobatkan seorang perempuan sebagai ratu yaitu ratu Hzi-mo [Sima]. Dalam saat yang sama, di Cina yang berkuasa saat ini adalah Kaisar Gaozong (Dinasty Tang).

Yang menarik karena ada banyak silang pendapat di antara para sejarawan mengenai asal usul Ratu Sima sebagai Ratu kerajaan Holing yang disebut dalam kronik Cina. Karena rupa-rupanya asal muasal Ratu Sima sulit terlacak.

Mengungkap Sosok Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha

foto: Hintha/wikimedia.org

Sebuah ramalan yang diucapkan Buddha Sakyamuni (Siddhartha Gautama) mengatakan bahwa akan hadir seorang penguasa dunia atau Chakravartin perempuan yang akan memerintah Jambudvipa sebagai reinkarnasi Vimalaprabha. Ramalan tersebut terekam dalam Mahameghasutra (di Cina dikenal sebagai “Dayun jing”, dan oleh sejarawan hari ini dikenal dengan sebutan “The Great Cloud Sutra”).

Dalam agama di India, sebutan chakravartin diperuntukkan bagi seorang penakluk dan penguasa dunia ideal, yang memerintah secara etis dan penuh belas kasihan atas seluruh dunia.

Sang Buddha meramalkan bahwa chakravartin tersebut adalah reinkarnasi Devi Vimalaprabha (yakni salah satu murid perempuan Buddha), dikenal dengan nama lain Devi Jingguang atau juga Yueguang tongzi.

Terkait hal ini, sebuah interpolasi apokrif dalam ratnameghasutra, mengatakan bahwa Yueguang dinubuatkan akan dilahirkan kembali di negara China sebagai penguasa wanita yang kuat, yang akan memberkati rakyatnya dengan kebijaksanaan dan kebaikannya, dan membuat Agama Buddha berkembang baik secara spiritual maupun material. Setelah pemerintahan yang panjang dan damai dia akan dilahirkan kembali di surga Tusita dan bergabung dengan Maitreya.

Perikop kitab suci Tiongkok yang dianggap paling awal membahas tentang Bodhisatvva Yueguang Tongzi, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa sang Bodhisatvva akan hadir di Cina, dikutip dalam buku “Leyden Studies in Sinology” berikut ini kutipan tersebut…

Dicapture dari buku “Leyden Studies in Sinology” edited by W. L. Idema, hlm. 46-47 (Dokumen pribadi)

Sang Buddha mengatakan kepada Ananda bahwa: “Seribu tahun setelah Parinirvana (kematian) saya, ketika ajaran suci segera akan terputus, saat itulah Yueguang tongzi akan muncul di Cina untuk menjadi penguasa suci. Dia akan memperoleh Doktrin kanonik saya dan dengan hebat menghidupkan kembali transformasi keagamaan. Penduduk China serta negara-negara perbatasannya – yaitu penduduk Lob Nor, Udyana, Kucha, Kashgar, Ferghana dan Khotan, dan bahkan para Qiang caitiff dan kaum barbar Yi dan Di – semua akan memuliakan Sang Buddha dan mematuhi Ajarannya, dan di mana – mana (orang) akan menjadi bhiksu”

Interpolasi kedua yang ditemukan dalam versi Narendrayasas (diperkirakan ditulis sekitar tahun 583), bahkan lebih spesifik:

“Di masa yang akan datang, di era akhir Ajaran, di negara Sui (Great Sui) di benua Jambudvpa, ia akan menjadi raja besar Daxing, yang akan mampu membuat semua makhluk di negara Sui memiliki keyakinan pada Ajaran Buddha dan menanam semua akar kebaikan. 

Pada saat itu raja Daxing, melalui kekuatan agung dari keyakinannya, akan memuliakan mangkuk sedekah saya. Pada tahun-tahun itu mangkuk sedekah saya akan tiba di Kashgar, dan dari sana akan bergerak secara bertahap ke negara Sui Besar, di mana raja Daxing akan memuliakannya dengan persembahan dalam skala besar. 

Dia akan dapat mempertahankan semua (bagian) dari Ajaran Buddha, dan dia juga akan menyebabkan tulisan suci Mahayana luas ditulis dalam jutaan salinan yang tak terhitung jumlahnya, dan akan menempatkan ini ke dalam pusat Buddhis bernama “tempat suci Dharma” …

Adapun saat kedatangan Bodhisatvva sekaligus Cakravartin wanita ini, jika merujuk pada ucapan sang Buddha bahwa hal itu akan terjadi seribu tahun setelah masa kematiannya (Parinirvana), maka bisa diperkirakan masa itu ada di sekitar abad ke 6 masehi.

Oleh karena kisaran tahun kematian Buddha menurut negara-negara Theravada adalah 544 atau 545 SM. Lalu dalam tradisi Buddhis Burma, tanggal kematian Buddha adalah 13 Mei 544 SM, sedangkan dalam tradisi Thailand adalah 11 Maret 545 SM. (Eade, JC: The Calendrical Systems of Mainland South-East Asia, 1995) 

Di Tanah Berbentuk Kuda Ini Makam Ratu Sima

sebidang tanah berbentuk kuda di tepi sungai Ussu yang terindikasi merupakan spot makam Ratu Sima atau Datu Simpurusiang. (Dokumen pribadi)

Dalam tulisan sebelumnya (Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi) saya telah mengidentifikasi bahwa Kerajaan Ho-ling berada di pulau Sulawesi. Ini didasari oleh karena beberapa fakta terkait Ho-ling yang disebutkan dalam kronik cina pada kenyataannya teridentifikasi berada di pulau ini.

Untuk mengiringi pembahasan tulisan ini, sebagian informasi dari kronik Cina tersebut akan kembali saya kutip.

Dalam buku “Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII” hlm. 258, O.W.  Wolters mengutip kronik cina tentang ho-ling sebagai berikut: “Di pegunungan terdapat gua-gua, dan dari dalam gua mengalir garam. Penduduk negeri ini mengumpulkan garam itu dan memakannya.”

Keberadaan air garam di dataran tinggi pegunungan memang merupakan hal yang unik dan layak dicatat dan digunakan sebagai petunjuk ciri geografis suatu wilayah. Hal semacam ini, kebetulan dapat kita temukan di wilayah kaki gunung Latimojong di Sulawesi selatan.

Pada masa lalu, untuk kebutuhan garam, penduduk di kaki gunung latimojong seperti di wilayah Tibusan hingga Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, biasanya membasahi daun tertentu dengan air asin dari sumber mata air garam yang berada di wilayah mereka lalu menjemurnya. ketika memasak, daun yang telah memiliki kristal garam tersebut tinggal mereka celupkan di masakan tersebut.

Di Wilayah Rante Balla, Kabupaten Luwu, baru-baru ini ditemukan mata air dengan kadar garam tinggi, sehingga rasanya terasa sangat asin.

Desa Rante Balla – kabupaten Luwu, berada di kaki gunung Latimojong, tempat ditemukan mata air asin berkadar garam tinggi (Dokpri)
Mata air asin yang ditemukan di Desa Rante Balla, kabupaten Luwu. (sumber: Dinas Pariwisata Kab. Luwu)

Sumber air garam sebagai tanda khusus atau unik Kerajaan Ho-ling ini, oleh para Peneliti sebelumnya yang berpendapat jika Ho-ling berada di pulau  Jawa kemudian mengidentifikasikannya sebagai bledug kuwu di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, yang mana lumpur yang keluar dari kawah tersebut memang mengandung air garam, dan oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dipakai sebagai bahan pembuat garam.

Masalahnya, Desa Kuwu (tempat “bledug kuwu”) berada di dataran rendah (40-50 meter dari permukaan laut), jadi bukan berada diketinggian pegunungan, sebagaimana yang disebutkan dalam kronik Cina. Sementara itu kawasan Desa Rante Balla yang berada di kaki pegunungan Latimojong berada di ketinggian yang bervariasi kisaran 500-1500 mdpl.

Sumber air garam yang berada di pegunungan memang suatu hal yang unik dan langka, sehingga tepat jika kronik Cina menjadikannya sebagai salah satu hal yang spesifik tentang negeri Ho-ling. Demikianlah, Keunikan sumber air garam di kaki pegunungan Latimojong tersebut dapat menjadi petunjuk yang jelas dan nyata untuk mengidentifikasi letak Ho-ling yang sesungguhnya.

“Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut.” – nama ini persis sama dengan nama gunung langpiya (atau “lampia” dalam pengucapan aksen lokal) di wilayah Luwu Timur. 

Kosmologi: Konsep Pengenalan Jati Diri Manusia yang Terawal

(sumber: http://www.asztropresszhirek.com)

Dalam tulisan sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) saya telah menunjukkan bukti bahwa nama-nama angka dalam bahasa tradisional di Indonesia terutama dalam bahasa tae’ sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat sakral tentang konsep kosmologi. Yang mana pesan itu berbunyi: “SATU TAKDIR KEMUDIAN DITUANGKAN/DITEMPATKAN KE DALAM WADAH YANG TERBUAT DARI UNSUR ANGIN, UNSUR AIR, UNSUR TANAH DAN UNSUR API.”

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka ini bercerita tentang eksistensi manusia, sebagai entitas yang sepanjang masa hidupnya dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama.

Jika kita cermat mengamati, sesunggunya memang tatanan kosmologi tersaji di hampir seluruh lini kehidupan manusia di masa lalu. Dari penamaan arah mata angin, susunan nama angka-angka, dan mungkin masih banyak lagi bentuk simbol-simbol beserta filosofinya yang belum berhasil kita ungkap.

Agar dapat mengenal lebih jauh bagaimana konsep kosmologi menghiasi tatanan hidup masyarakat Nusantara, berikut ini saya mencoba mengulas beberapa etnik di Nusantara, seperti Jawa, Bugis, dan Toraja yang nampak jelas konsep kosmologi menghiasi corak hidup masyarakatnya.

Kosmologi dalam masyarakat Jawa

Dalam masyarakat Jawa terdapat pemahaman “sangkan paraning dumadi” atau “asal dan tujuan kehidupan manusia”(Mahmud Thoha. Membangun paradigma baru ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan. 2003. Hlm. 27), yang merupakan falsafah kehidupan sarat makna yang terkandung dalam alphabet Jawa; Hanacaraka. 

Pemahaman filosofis tersebut merupakan konsep makro kosmos dan mikro kosmos yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Bawana Ageng (alam semesta) dan Bawana Alit (tubuh manusia).

Aji Saka dipercaya adalah sosok yang menyusun abjad Jawa. Dalam riwayatnya, Aji Saka menyusun abjad ini untuk menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama-sama saktinya dan akhirnya sama-sama menemui ajalnya. Kisah tersebut secara rinci diturunkan dengan makna aksara Jawa itu sendiri, yakni:

  • HANACARAKA : ada utusan
  • DATASAWALA : saling bertengkar
  • PADHAJAYANYA : sama kesaktiarmya
  • MAGABATHANGA : meninggal semua

Menurut sumber lain, Para pembantu setia Aji Saka dikatakan sesungguhnya sebanyak empat orang, bukan dua orang seperti yang banyak dikisahkan. Nama para pembantu Aji Saka tersebut dikatakan berasal dari bahasa Kawi, atau Jawa Kuno, yaitu:

DURA, yang dalam bahasa Kawi berarti anasir alam berupa “Air”. Bila dibaca sebagai Duro, artinya = bohong. Yang menarik dari hal ini adalah bahwa kata “duro” dalam bahasa tae’ berarti “air”. Di Sulawesi selatan kata “duro” biasanya digunakan pada kuah makanan (Duro konro, duro gulai, duro bakso, dan lain sebagainya).

SAMBADHA, yang dalam Bahasa Kawi berarti anasir alam yang berupa “Api”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “sambadha” ini, yakni; fonetik d menjadi  r (seperti yang terjadi pada kata panrita menjadi pandita, karatuan menjadi kadatuan atau kdaton menjadi kraton, dan masih banyak lagi contoh lainnya) maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; sambarha / sambara / atau sang Bara. 

Dengan adanya bentuk kata “bara” dalam nama “sambadha” ini tentunya bisa kita sepakat bahwa nama “SAMBADHA” memang ada keterkaitan dengan unsur API.

DUGA, dalam bahasa Jawa Kuno berarti anasir alam yang berupa “Tanah”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “duga” ini, yakni; fonetik d menjadi r kemudian menjadi l, dan fonetik g menjadi k (kelompok fonetis konsonan guttural) maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; luga / luka. 

Dalam huruf hanzi, aksara lu / luk / atau Loke (menurut pengucapan Kanton), artinya adalah “tanah”. Hasil dari pengamatan perubahan fonetis ini, saya pikir dapat meyakinkan kita jika nama “DUGA” memang berbicara tentang unsur “TANAH”.

PRAYUGA, dalam Bahasa Jawa Kuno artinya adalah “Angin”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “prayuga” ini, yakni; fonetik r menjadi l, dan fonetik y menjadi j, maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; plajuga / plajuka / plajuk / plaju / atau pe-laju. 

Dalam Kamus besar bahasa Indonesia, kata “laju” diartikan; “cepat” , untuk hal yang terkait dengan gerak, lari, terbang, dan sebagainya. 

Jika fonetik p pada pe-laju kita ganti dengan fonetik m, maka bentuknya menjadi melaju. Kata melaju ini tentunya lebih mudah untuk kita nalar sebagai sesuatu yang terkait dengan unsur “angin”.

Ini Jawaban Misteri Bahtera Nabi Nuh

Pencarian bahtera Nuh telah dilakukan setidaknya sejak zaman Eusebius (sekitar tahun 275-339 M) hingga hari ini. Meskipun telah banyak ekspedisi, namun tidak ada satupun bukti fisik yang dapat mengonfirmasi bahwa bahtera telah ditemukan.

Begitu misterinya pencarian bahtera Nuh, sehingga kalangan akademisi umumnya menganggap pencarian bahtera Nuh sebagai praktek pseudo-arkeologi, terutama jika itu dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari luar batas institusi akademis yang sudah mapan. 

Telah banyak lokasi yang dihipotesiskan sebagai tempat mendaratnya bahtera Nuh, tetapi belum ada satu pun dari lokasi tersebut yang Mengonfirmasi kebenarannya.

Situs yang paling sensasional sejauh ini yaitu yang berada di gunung ararat Turki. Namun, penyelidikan geologis Terkini menunjukkan jika situs tersebut lebih merupakan formasi sedimen alami. 

Terkait situs di gunung Ararat, Lorence G. Collins, seorang profesor geologi dari California State University, mengatakan jika situs yang berada di Turki timur, yang dianggap sebagai struktur berbentuk bahtera (disebut bahtera Durupinar), tidak mengandung kayu atau kayu yang membatu.

Menurut Lorence G. Collins, Tidak adanya kayu atau kayu yang membatu diindikasikan oleh koleksi 12 sampel batu yang diambil dari dalam “bahtera” yang telah ia teliti. Ia lebih lanjut mengatakan jika semua itu hanya merupakan batu basal atau andesit vulkanik. ( Lorence G. Collins. “A supposed cast of Noah’s ark in eastern Turkey”. Department of Geological Sciences, California State University Northridge. February 11, 2011)

Penelitian terkait Bahtera Nuh yang juga cukup sensasional, disajikan oleh Irving Finkel seorang filolog dan Assyriolog Inggris, dan saat ini menjabat sebagai kurator British Museum.

Di sekitar tahun 2014 lalu, Irving Finkel ramai diberitakan dalam berbagai media dunia, terkait pembuatan reka ulang secara skalatis model bahtera Nuh yang ia lakukan di Kerala, India. Model tersebut ia bangun berdasarkan cetak biru yang ia temukan pada tablet tanah liat dari Mesopotamia kuno yang menggunakan huruf cuneiform. Diperkirakan berusia 3.700 tahun.

Asal Usul Kata “Bahtera” Menyimpan Gambaran Kapal Nuh yang Sesungguhnya

Etimologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul suatu kata, atau bisa juga dimaknai sebagai studi tentang sejarah suatu kata.

Umumnya dilakukan dengan menganalisis kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa yang kerabat atau dari periode historis dari satu bahasa, yang mana hal ini dikenal sebagai metode Linguistik Komparatif.

Dengan metode Linguistik Komparatif akar suatu kata dapat ditelusuri. Tak jarang hasilnya menunjukkan fakta bahwa suatu kata ternyata berasal dari gabungan dua kosakata. Ini diperlihatkan etimologi kata “bahtera”, yang selama ini agak khusus digunakan untuk menyebut bahtera Nuh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bahtera bermakna: perahu; kapal. Dalam berbagai literatur dunia, kata ‘bahtera’ atau ‘ark’ (dalam bahasa Inggris), bisa dikatakan “secara khusus” digunakan untuk menyebut bahtera Nabi Nuh.

Karena kata ‘bahtera’ dapat diduga merupakan kosakata dari bahasa bangsa maritim, maka salah satu hal penting untuk menjadi pertimbangan adalah pengamatan bahwa leksikon atau kosakata tersebut mestilah memiliki ciri khas bahasa bangsa maritime atau bangsa pelaut.

Lalu, seperti apa ciri khas kosakata bahasa bangsa Maritim?

Ciri khas kosakata bahasa bangsa maritim adalah senantiasa menunjukkan suku kata yang berakhiran vokal. Hal ini sebagaimana yang diungkap John Inglis, seorang misionaris asal Skotlandia yang melakukan perjalanan ke Vanuatu antara tahun 1850-1877, bahwa ciri bahasa melayu adalah setiap suku kata berakhir dengan vokal.

Dengan pertimbangan bahwa kata ‘bahtera’ berasal dari bahasa bangsa maritim, maka bentuk rekonstruksi kata bahtera mestinya menjadi: bahatera.

Dari bentuk ‘bahatera’ ini, dua suku kata di depan, yaitu ba-ha menunjukkan berasal dari kata ‘waka’, yang dalam bahasa Bugis kuno berarti ‘kapal’.

Hal ini dapat kita ketahui dengan menganalisa perubahan fonetis yang terjadi antara dan yang merupakan bagian dari kelompok fonetis artikulatoris (m, b, p, w), yang mana dalam banyak kasus seringkali menunjukkan perubahan fonetis di antara mereka. Misalnya: Banua, panua, dan wanua.

Demikian pula fonetis dalam banyak kasus, dapat kita temukan saling bertukar dengan fonetis dalam pelafalan, misalnya pada kata ‘hayal’ dengan kata ‘khayal’.

Ada pun kata ‘waka’ sebagai makna ‘perahu’ dalam bahasa Bugis kuno, dapat kita temukan dalam kamus bahasa Bugis – Belanda yang disusun oleh B. F. Matthes (1874) “Boegineesche – Hollandsch woordenboek …“. Dapat dilihat dalam capture berikut…

Capture buku ” Boegineesche – Hollandsch woordenboek: met Hollandsch – Boeginesche …, Volume 1 “. Hlm. 622

Dalam capture di atas dapat kita lihat kata wakka atau waka disebut Matthes sebagai sinonim untuk kata ‘lopi’ yang dalam bahasa Bugis juga berarti ‘perahu’. 

Matthes juga mengatakan jika kata ‘wakka’ dapat ditemukan dalam kitab La Galigo (La-Gal) dengan bentuk ‘wakka-tanette’ atau ‘wakka-tana‘, yang menurut Matthes bermakna kapal yang sangat besar – mengingatkan pada seluruh punggung gunung (tanette) dan ke suatu negeri (tana). 

%d bloggers like this: