Misteri Bidang Tanah Berbentuk Kuda

dokpri
Bidang tanah berbentuk kuda di tepi Sungai Ussu, di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (dokpri)

Bidang tanah berbentuk kuda di tepi sungai Ussu yang terlihat pada gambar di atas (letak koordinat), saya temukan setelah menerjemahkan nama Simpurusiang (raja ketiga Luwu) dengan metode yang sama saya gunakan dalam melacak tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh, yaitu meninjau nama gunung “judi” dalam aksara Cina (silakan baca di sini: Ini Jawaban Misteri Bahtera Nabi Nuh).

Hasilnya seperti dibawah ini….

(dokpri)

Hasil penerjemahan tersebut (bidang – kuda – tepi sungai – susu – mati – secara rahasia), secara intuitif saya tafsirkan maknanya menjadi: “bidang tanah berbentuk kuda di tepi sungai ussu, kematian (kuburan) yang dirahasiakan”.

Dari pesan yang diurai dari penerjemahan nama Datu Simpurusiang ini, hal yang dapat ditarik adalah bahwa kemungkinan bidang tanah tersebut merupakan makam dari Datu Simpurusiang. 

Namun karena dalam kepercayaan orang di Luwu bahwa Simpurusiang tidak mati tapi “mallajang” atau moksa dalam pemahaman tradisi Jawa.

Maka bisa juga ada kemungkinan bahwa lokasi tersebut adalah tempat dikuburkannya benda-benda yang terkait dengan beliau semasa hidup.

Apapun itu, hal penting yang mesti dipahami terkait fenomena ini adalah, bahwa orang-orang besar di zama dahulu biasanya memang menyimpan makna tersembunyi di balik namanya.

Sebelum saya merilis hipotesis ini, tak seorang pun masyarakat lokal (orang Luwu) yang menyadari Keberadaan bidang tanah yang berbentuk kuda ini.

Hal ini terutama disebabkan oleh karena bidang tanah berbentuk kuda ini cukup luas. Jika diukur menggunakan Google earth, dari ujung kepala sampai ujung pantat kuda berjarak 1,6 km, sementara dari punggung hingga ujung kaki mencapai hampir 1 km. 

Jadi, kita memang butuh berada di atas ketinggian beberapa ratus meter dari permukaan tanah untuk dapat melihat secara jelas bidang tanah yang berbentuk kuda tersebut.

Dan oleh karena kawasan ini memang luas, mencapai beberapa ratus Hektar, tentu saja butuh waktu dan biaya besar untuk menelusuri bagian per bagian kawasan tersebut.

Tapi jangan khawatir. Karena sesungguhnya saya punya metode untuk dapat menentukan di mana letak spesifik yang mesti diprioritaskan.

Metode tersebut saya simpulkan dari hasil memahami alur alam berpikir orang-orang di masa kuno, terutama tentang bagaimana mereka kerap menggunakan metafora sebagai teknik menyimpan pesan-pesan sakral.

Berikut ini penjelasannya…

Wangsit Prabu Siliwangi: yang Putih Dihancurkan, yang Hitam Diusir

Seperti halnya nubuat nabi Daniel atau pun Yohanes Pembaptis, wangsit Prabu Siliwangi sebenarnya juga merupakan peringatan dini (early warning) terhadap peristiwa yang akan terjadi di masa depan.

Sayangnya, ada banyak pesan nubuat seperti itu yang baru dapat dilihat kebenarnya setelah peristiwa yang dimaksudkan terjadi. Misalnya, ungkapan “Tanah Jawa berkalung besi” dari Prabu Jayabaya.

Sulitnya menginterpretasi kalimat nubuat dikarenakan berbentuk kalimat perumpamaan nampaknya yang menjadi penyebab utama.

Padahal, jika saja pesan-pesan itu dapat dimengerti sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi, tentu akan dapat mengurangi dampak negetif yang mungkin ditimbulkan. Inilah fungsi esensi dari pesan-pesan nubuat, yaitu sebagai sebuah peringatan dini.

Di dunia barat, Amerika misalnya, hal-hal semacam itu diperlakukan sebagai data intelejen yang dianalisa secara khusus. Tahun 1950 hingga 1990, adalah tahun di mana Amerika dengan CIA-nya menggandeng paranormal untuk mengungkap berbagai hal diluar kelaziman. Tak ketinggalan Uni Soviet pun melakukan hal serupa. Sehingga Supranatural menjadi salah satu arena perlombaan mereka dalam perang dingin di masa itu.

Adapun mengenai pesan Prabu Siliwangi yang saya jadikan sebagai judul artikel ini, adalah merupakan lanjutan dari kalimat: “…Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini.” – yang telah saya ulas dalam artikel lainnya berjudul: “Wangsit Prabu Siliwangi: Perang di Ujung Laut Utara“.

Perkembangan terkini eskalasi politik di kawasan Laut Cina Selatan, saya pikir menunjukkan indikator kuat, karena ujung laut utara yang dimaksud dalam pesan Prabu Siliwangi, merujuk pada Laut Cina Selatan. Dengan pertimbangan bahwa jika Prabu Siliwangi penyampaikan pesan tersebut di pulau Jawa, maka, laut Jawa adalah sebelah utaranya, dan Laut Cina Selatan adalah ujung paling utara laut Jawa.

Kalimat “burung menetaskan telur” dapat diduga sebagai pesawat yang menjatuhkan bom. Sementara kalimat “Riuh seluruh bumi!” menggambarkan ketegangan di Laut Cina Selatan yang memang menjadi salah satu tema keprihatinan dunia saat ini.

Kalimat selanjutnya: “Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini.” Sejauh ini, yang sedang terjadi adalah mewabahnya penyakit Covid-19. Perang belum terjadi (semoga saja tidak terjadi), tapi akan mengarah ke sana jika, saling serang secara verbal antara kubu-kubu tertentu di jagad internet, akibat berbeda sudut pandang, tidak mendapat solusi.

Asal Kata “Baka” dalam Frasa “Alam Baka” dan Kisah Kuno yang Menyertainya

“Baka” sesungguhnya adalah sebuah kata misterius yang memendam banyak rahasia dari dunia kuno. Ada banyak perdebatan serta kebuntuan pencarian di kalangan sejarawan dunia yang telah berlangsung ribuan tahun, terkait kata ini.

Mengapa kata “baka” ini dianggap penting? oleh karena, kata ini ada disebutkan dalam kitab suci, tiga agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam).

Umumnya sejarawan di kalangan Islam menganggap kata ‘Baka’ atau ‘Bakka’ yang disebut dalam Surat Ali Imran ayat 96 (Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakka, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam), merujuk pada kota Makkah atau Mekkah di jazirah Arab.

Begitu juga dengan kata ‘baka’ yang disebut dalam kitab Mazmur 84:6 (Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat), oleh sejarawan Islam umumnya mengidentifikasinya sebagai Makkah atau Mekkah.

Terkait klaim sejarawan Islam ini, Sejarawan Ibrani maupun Kristiani umumnya terkesan tidak sependapat. 

Demikianlah, untuk lebih meramaikan polemik ini, dalam kesempatan ini saya akan mengajukan sebuah pandangan alternatif terkait asal usul kata ‘baka’.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘baka’ berarti: tidak berubah selama-lamanya; abadi; kekal – yang lebih merupakan definisi atau keterangan terkait sifat yang berlaku di “alam baka” yakni, kekal atau abadi.

Dalam penggunaannya, frasa “alam baka” umumnya kita temukan sinonim dengan frasa “alam kubur” atau “alam kematian”.

Dalam semua mitologi bangsa-bangsa besar di masa kuno, mulai dari Jepang, Cina, Nusantara (Indonesia), India, Persia, Mesir, hingga Yunani, semuanya mengenal adanya “dunia bawah”, atau “alam kematian”, atau kadang juga disebut “Naraka atau Neraka”. 

Penguasa dunia bawah, dikenal dengan banyak nama. Dalam tradisi Hindu / Buddha dikenal dengan nama Yama, di Persia Yima, di Fenesia Melqart, di Yunani Hades. Tapi nama  ‘Yama’ nampaknya yang paling terkenal, dikarenakan terbawa seiring penyebaran ajaran Buddha ke berbagai wilayah.

Sampai di sini, tentu pembaca sekalian dapat mencermati, bahwa dalam hal ini, Saya menggali asal usul kata ‘baka’ ini menurut pemahaman bahwa ia adalah sebutan untuk “alam kematian”, dan lebih jauh menggalinya menurut tinjauan aspek mitologi kuno.

Tinjauan lain yang ingin saya ajukan adalah tinjuan linguistik. Dan saya pikir ini bagian yang menarik.

Fakta Jejak Kuno di Balik Nama “Sunda”

Pada hari ini, nama Sunda, selain dikenal sebagai salah satu nama suku di Indonesia yang mendiami wilayah bagian barat pulau Jawa, juga digunakan sebagai istilah dalam geologi untuk menyebut landas kontinen perpanjangan lempeng benua Eurasia di Asia Tenggara, yang Massa daratan utamanya meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Madura, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Dalam buku The Geography, ditulis sekitar tahun 150 M, Claudius Ptolemy ada menyebut kata “sundae” (tertulis: sindae) yang terdiri dari tiga pulau, dan ditambahkannya komentar bahwa beberapa orang mengatakan ada lima pulau. Catatan Ptolemy inilah yang dianggap sebagai catatan terawal tentang nama Sunda.

Mengenai kata “sunda” yang tertulis “Sindae” dalam buku Ptolemy, seperti sejarawan-sejarawan lainnya, Arnold Hermann Ludwig Heeren (1760-1842), seorang sejarawan Jerman, dalam bukunya “Historical Researches into the Polics, Intercourse, and Trade of the Principal Nations of Antiquity” memberi komentar yang tampaknya juga memaklumi adanya sedikit perbedaan tersebut.

“the very name of sunda, however, may be found in Ptolemy; for he notice three island in this situation called sinde. Three others are likewise mentioned under the name of sabadib, in which we again meet with the Hindu termination dib, or more correctly dwipa, …” kata Heeren.

Dalam kitab I La Galigo yang berisi cerita mitologi Bugis kuno, juga ada disebutkan nama wilayah “Sunra ri lau” (artinya: Sunda di timur), dan “Sunra ri aja” (artinya: Sunda di barat). Ini mungkin menjadikan kitab I La Galigo sebagai salah satu manuskrip kuno dari Nusantara, yang secara jelas ada menyebutkan toponim “Sunda”.

Etimologi nama Sunda

Menurut Rouffaer (1905: 16) kata Sunda berasal dari akar kata “sund” atau kata “suddha” yang dalam bahasa Sanskerta berarti: Bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289).

Dalam bahasa jawa kuno (kawi) dan bahasa Bali, disebutkan juga terdapat kata “sunda”, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/ bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219). (sumber di sini)

Sebagai bahan pertimbangan, dalam tulisan ini saya mengajukan suatu usulan bahwa ada kemungkinan makna sesungguhnya dari kata “Sunda” adalah: Selatan. 

Sejarah Karakter “Femme Fatale”, Karakter Wanita yang Perintahkan Pemenggalan Kepala Nabi Yahya (Yohanes Pembaptis)

Dalam dunia sastra dan seni dikenal arketipe karakter “Perempuan mematikan”, yang merupakan terjemahan dari bahasa Prancis “Femme Fatale“.

Ini adalah karakter tokoh perempuan yang biasanya digambarkan memiliki kecantikan, daya pesona yang kuat, yang dapat menjerat laki-laki sehingga takluk dalam kendali permainannya.

Kemampuannya yang dapat memikat “korbannya” (yang umumnya laki-laki) sedemikian rupa, sehingga seperti terhipnotis, menyebabkan karakter perempuan seperti ini dianggap telah mengembangkan suatu kemampuan supernatural dalam dirinya, atau setidaknya akrab dengan penggunaan mantra sihir dan prilaku mistik.

Dalam karya fiksi, karakter “femme fatale” biasanya dapat kita temukan diterapkan pada sosok tokoh vampir, penyihir, atau iblis yang seksi, yang mampu menguasai korban-korbannya lantaran wibawa serta kecantikannya.

Menurut Virginia Allen, salah satu ciri paling umum dari femme fatale yaitu “promiscuity” (pergaulan bebas, atau, persetubuhan dengan siapa saja), dan “penolakan menjadi seorang ibu”. Ini dipandang sebagai salah satu kualitasnya yang paling mengancam karena penolakan “garis keturunan”, mengarah pada kehancuran akhir pria yang takluk olehnya.

Femme fatale biasanya jahat, atau setidaknya ambigu secara moral, dan selalu dikaitkan dengan rasa mistifikasi, dan kegelisahan.

Ambiguitas moral, kegelisahan, dan kesedihan, juga merupakan “drama” yang kerap mereka mainkan. Ini umumnya berhasil menaklukkan pria yang berniat ingin mengayomi. 

Ini dilema. Sikap Gentlemen memang kode etik yang menghadirkan persepsi yang elegan bagi seorang laki-laki, tapi, di sisi lain, hal itu juga merupakan titik lemahnya.

***

Banyak kritikus dan penulis sastra telah menelusuri sejarah femme fatale. Virginia Allen misalnya, menggunakan bukunya “The Femme Fatale: Erotic Icon” untuk menempatkan  Femme fatale dalam konteks global dan historis. 

Secara umum, Allen mencatat perkembangan perempuan dalam seni sebagai ilustrasi proto-femme fatale. Khususnya, dia membahas bagaimana Salome, putri Herodias yang menari untuk Raja Herodes dan tamunya, lalu mengikuti arahan dari ibunya, ia meminta hadiah kepala Yohanes Pembaptis ketika Raja Herodes dalam keadaan mabuk mengatakan akan mengabulkan permintaan gadis itu sebagai imbalan atas hiburannya.

Salome digambarkan dalam tiga lukisan terpisah sepanjang waktu sebagai wanita yang sangat berbeda. Lukisan pertama adalah Salome dengan Kepala Yohanes Pembaptis (Gambar 1) oleh pelukis Barok Guido Reni. Di dalam lukisan itu dia digambarkan sebagai orang yang sederhana dan awet muda. Dia bahkan tidak mengangkat kepala itu, melainkan disajikan kepadanya di atas piring, dipegang oleh seorang pelayan. 

(gambar 1 - lukisan Barok Guido Reni. Sumber:
(gambar 1 – lukisan Barok Guido Reni. Sumber: “Fatal Woman, Revisited Understanding Female Stereotypes in Film Noir” – Danielle L. Barnes-Smith)

Lilith: Iblis Wanita Paling Ditakuti di Dunia Kuno

Secara historis, nama Lilith pertama kali ditemukan muncul dalam Tablet XII dari Epic Gilgamesh, puisi terkenal dari Mesopotamia kuno sekitar 2100 SM, disebut “Lilitu” yang berarti “iblis wanita” atau juga “setan angin dan badai.”

Dalam legenda kuno dan abad pertengahan, Lilith dipandang sebagai penjelmaan nafsu, penyebab pria disesatkan, penyihir, pembunuh wanita dan anak-anak. Legendanya juga terkait dengan cerita pertama tentang vampir. 

Dianggap Istri Adam (Sebelum Hawa)

Dalam beberapa tulisan mistik Yahudi dia dikatakan sebagai istri pertama Adam (sebelum kehadiran Hawa). Ia dikatakan secara sukarela meninggalkan Taman Eden.

The Alphabet of Ben Sira, salah satu parodi sastra paling awal dalam sastra Ibrani, sejauh ini dianggap sebagai salah satu sumber yang secara jelas mengisahkan Lilith sebagai istri pertama Adam. Berikut ini cuplikan kisahnya:

Ketika putranya yang masih muda jatuh sakit, Raja Nebukadnezar memerintahkan agar anaknya disembuhkan. 

“Sembuhkan anakku. Jika tidak, aku akan membunuhmu.” kata Nebukadnezar.

Ben Sira segera duduk dan menulis jimat dengan Nama Suci, dan dia menuliskan di atasnya para malaikat yang bertanggung jawab atas pengobatan dengan nama, bentuk, dan gambar mereka, dan dengan sayap, tangan, dan kaki mereka. 

Melihat jimat itu, Nebukadnezar bertanya: “Siapa ini?”

“Malaikat yang bertanggung jawab atas pengobatan: Senoy, Sansenoy dan Semangelof,” jawab Ben Sira.

Ben Sira lalu mengisahkan: Ketika Tuhan menciptakan Adam, yang sendirian, Dia berkata, “Tidak baik bagi manusia untuk sendirian”, lalu Dia juga menciptakan seorang wanita, dari tanah, seperti Dia telah menciptakan Adam sendiri, dan memanggilnya Lilith. 

Adam dan Lilith segera mulai bertengkar. Lilith berkata, “Aku tidak akan berbaring di bawah.” 

Adam juga berkata, “Aku tidak akan berbaring di bawahmu, tetapi hanya di atas. Karena kamu cocok hanya di posisi terbawah, sedangkan aku yang superior.” 

Lilith menjawab, “Kita sama satu sama lain, karena kita berdua diciptakan dari tanah.” 

Mereka berdua tidak mau mendengarkan satu sama lain. Menyadari hal ini, Lilith lalu mengucapkan nama yang tak terlukiskan dan terbang ke udara. 

Adam berdiri dalam doa di hadapan Penciptanya: “Penguasa alam semesta! wanita yang kamu berikan padaku telah melarikan diri.” 

Tuhan lalu mengirim ketiga malaikat ini untuk membawanya kembali. [nama ketiga malaikat ini yang dituliskan Ben Sira dalam jimat untuk anak Nebukadnezar]

Kata Tuhan kepada Adam: “Jika dia setuju untuk kembali, maka itu hal yang baik, Jika tidak, dia harus merelakan seratus anaknya mati setiap hari.”

Para malaikat meninggalkan Tuhan dan mengejar Lilith, yang mereka dapati di tengah laut, di perairan yang perkasa di mana orang Mesir ditakdirkan untuk tenggelam [laut merah].

7 Makhluk Abadi yang Hidup Hingga Akhir Zaman

Dalam mitologi Hindu dikenal ada tujuh makhluk abadi yang tetap hidup hingga akhir zaman. Mereka disebut Chiranjivi (chiram= permanen; jivi= hidup) yang bermakna “keabadian sejati.”

Ketujuh Chiranjivi itu adalah: Vyasa, Hanuman, Parasurama, Vibhishana, Ashwatthama, Mahabali,Kripa.

1. Vyasa

Vyasa adalah orang bijak yang menyusun Mahabharata, Veda, dan Purana. Mewakili pengetahuan dan kebijaksanaan. Dia adalah putra dari orang bijak Parashara dan cicit dari orang bijak Vashishtha. Ibunya bernama  Satyavati, ratu raja Kuru ‘Shantanu’ dari Hastinapur, yang berarti adalah nenek buyut pangeran Pandawa dan Kaurava (tokoh utama dalam Mahabharata).

Vyasa lahir menjelang akhir Treta Yuga , hidup untuk melihat Dvapara Yuga yang lengkap, dan melihat fase awal Kali Yuga.

Menurut legenda, di kehidupan sebelumnya Vyasa adalah Petapa Apantaratamas, yang lahir ketika Dewa Wisnu mengucapkan suku kata “Bhu”. Sejak lahir, dia sudah memiliki pengetahuan tentang Veda, Dharmashastras dan Upanishad . Atas perintah Wisnu , dia terlahir kembali sebagai Vyasa.

Sebelum kelahiran Vyasa, Parashara telah melakukan penebusan dosa yang parah kepada Dewa Siwa, yang lalu memberikan anugerah bahwa putra Parashara akan menjadi seorang Brahmarshi yang setara dengan Vashistha dan akan terkenal karena ilmunya. 

Parashara menurunkan Vyasa melalui Satyavati. Dia hamil dan segera melahirkan Vyasa. Vyasa menjadi dewasa dan pergi, berjanji kepada ibunya bahwa dia akan datang kepadanya saat dibutuhkan.

Vyasa memperoleh ilmunya dari empat Kumara, Narada dan Dewa Brahma sendiri. Diyakini pernah tinggal di tepi Sungai Gangga di Uttarakhand zaman modern.

Apa itu Emerald Tablet?

Stephen King, penulis novel kontemporer Amerika bergenre horor, fiksi ilmiah, dan fantasi, yang karyanya telah sukses terjual lebih dari 350 juta eksemplar di seluruh dunia, baru-baru ini merekomendasikan serial Netflix ‘Dark’ sebagai tontonan yang bermanfaat melalui akun twitternya @StephenKing.

“DARK (Netflix) gelap dan kompleks … dan … yah … sangat Jerman. Pertunjukan yang luar biasa. Jika Anda bingung, buka MetaWitches dan lihat rekap Metacrone. Terperinci dan bermanfaat,” ungkapannya.

‘Dark’ memang berhasil memukau penonton di seluruh dunia dengan tema, dan terutama alur ceritanya yang cukup memaksa penontonnya mengikuti perkembangannya secara waspada.

‘Dark’ dibandingkan dengan ‘Stranger Things’ (juga merupakan serial Netflix), terutama karena ide cerita tentang anak-anak yang hilang, konspirasi pemerintah, dan kilas balik ke tahun 80-an, sepertinya telah bekerja sangat baik dalam membantu promosi film serial ini. Namun demikiam, ulasan yang bermunculan sejauh ini, rata-rata menggambarkan jika serial ‘Dark’ lebih canggih.

Mengenai aspek Sains fiksi yang diusung, ‘Dark’ mengadopsi konsep “lubang cacing” untuk dapat melakukan perjalanan waktu, dan menonjolkan “Partikel  Tuhan” (dikenal sebagai Higgs boson dalam dunia fisika) sebagai solusi untuk itu.

Tapi yang menarik adalah, munculnya artefak kuno “Emerald Tablet”, sebagai  hal yang melatarbelakangi dilakukannya perjalanan waktu dalam serial ini.

Dalam ‘Dark’, Emerald Tablet diyakini dapat mengungkap rahasia Alkimia, dan menyimpan jawaban tentang esensi semua materi atau “Prima materia”. Keyakinan semacam ini memang berkembang di kalangan Alkemis di abad pertengahan.

Dan nampaknya, Partikel Tuhan-lah yang dianggap sebagai partikel kunci untuk wacana pembuatan portal yang memungkin perjalanan waktu dapat dilakukan ke tanggal yang diinginkan.

Hal lain yang menjadikan serial ‘Dark’ semakin “dark”, adalah penggunaan teks esoterik berbahasa latin “Sic mundus creatus est” yang memang terdapat dalam Emerald Tablet. Arti kalimat ini: “dengan Demikian (seperti itu), dunia diciptakan”. Selain itu “Sic Mundus” juga menjadi nama sebuah perkumpulan rahasia dalam serial ini.

Penggambaran Tablet Zamrud abad ke-17 yang imajinatif dari karya Heinrich Khunrath, 1606

Jadi, Apa itu Emerald Tablet?

Emerald Tablet, juga dikenal sebagai Smaragdine Tablet, atau Tabula Smaragdina, adalah teks kebijaksanaan kuno yang mengandung rahasia prima materia. Naskah ini sangat dihormati oleh alkemis Eropa sebagai dasar seni mereka dan tradisi Hermetiknya. 

Sumber asli Emerald Tablet tidak diketahui. Meskipun demikian, Hermes Trismegistus tertulis sebagai nama penulis dalam teks tersebut. Sebagaimana kita ketahui, Hermes dianggap sinkron dengan Dewa kebijaksanaan Mesir kuno, Thoth, dan dikenal sebagai Enoch atau Idris dalam agama Samawi.

Meskipun tablet ini diklaim ditulis menggunakan karakter Fenisia kuno, namun sumber teks tertua yang terdokumentasi, menunjukkan teks ini berbahasa Arab, ditulis antara abad keenam dan kedelapan masehi, yakni dalam “Kitab Balaniyus al-Hakim fi’l-`Ilal Kitab sirr al-aliqa” (Kitab Balanius yang bijak tentang Penyebab atau kitab rahasia penciptaan dan hakikat realitas).

Dalam bukunya, Balinas (Balanius) membingkai Tablet Zamrud sebagai kebijaksanaan Hermetik kuno. Dia memberi tahu pembacanya bahwa dia menemukan teks di lemari besi di bawah patung Hermes di Tyana, dan di dalam lemari besi itu, mayat tua di atas takhta emas memegang Emerald Tablet.

Berikut ini kurang lebih bunyi terjemahan teks dalam Emerald Tablet tersebut:

  1. Saya tidak berbicara tentang hal-hal fiktif tetapi tentang apa yang paling pasti dan benar.
  2. Apapun yang di bawah adalah seperti yang di atas, dan yang di atas mirip dengan yang di bawah untuk mencapai keajaiban satu hal.
  3. Dan karena segala sesuatu telah dan bangkit dari satu melalui satu, maka semua hal terlahir dari hal satu ini dengan adaptasi.
  4. Ayahnya adalah matahari, ibunya bulan; angin membawanya di perutnya, bumi adalah perawatnya. Bapak dari semua kesempurnaan di seluruh dunia ada di sini. Kekuatannya sempurna, jika diubah menjadi bumi.
  5. Pisahkan bumi dari api, yang halus dari yang kasar, bertindak dengan bijaksana dan dengan pertimbangan. 
  6. Naik dengan kecerdasan terbesar dari bumi ke surga, dan kemudian turun lagi ke bumi, dan satukan bersama kekuatan dari hal-hal yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
  7. Dengan demikian Anda akan memiliki kemuliaan seluruh dunia, dan semua ketidakjelasan akan terbang jauh dari Anda.
  8. Benda ini memiliki lebih banyak ketabahan daripada ketabahan itu sendiri, mengalahkan setiap benda halus dan menembus setiap benda padat.
  9. Dengan demikian (seperti itulah) dunia ini diciptakan.
  10. Maka terjadilah hal-hal menakjubkan yang dengan kebijaksanaan ini didirikan.
  11. Untuk alasan ini saya dipanggil Hermes Trismegistus, karena saya memiliki tiga bagian dari filosofi seluruh dunia.
  12. Lengkaplah apa yang saya harus katakan tentang pengoperasian matahari.

Semua ungkapan dalam teks ini jelas berbentuk bahasa simbol, dan tentunya sulit untuk mengartikan maknanya secara pasti. 

Golden Ratio pada Kesegarisan Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut

Dalam suatu pengamatan yang tidak sengaja saya melihat jika posisi letak candi Borobudur, candi Pawon, dan candi Mendut, ada dalam suatu garis sejajar.

Karena tertarik dengan hal ini, saya kemudian searching di internet, yang ternyata, meskipun fenomena tersebut telah banyak menarik perhatian,  dan telah menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan dalam beberapa tahun ini, namun, sejauh ini, belum ada penjelasan pasti terkait fenomena tersebut.

Opini yang bisa dikatakan cukup signifikan diberikan terkait fenomena kesegarisan tersebut, datang dari Pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, Widya Sawitar, yang mengatakan bahwa, kesegarisan Borobudur, Pawon, dan Mendut, mirip dengan kesegarisan bintang Mintaka, Alnilam, dan Alnitak yang berada di Rasi Bintang Orion.

Golden Ratio (Rasio Emas)

Dalam matematika, dua nilai dianggap berada dalam hubungan rasio emas jika rasio antara jumlah kedua nilai itu terhadap nilai yang besar sama dengan rasio antara nilai besar terhadap nilai kecil. Nilai yang lebih besar dilambangkan dengan huruf a, sedangkan nilai yang lebih kecil dilambangkan dengan huruf b. Lihat gambar berikut…

Garis Rasio Emas (traced by stannered on wikipedia.org)
Garis Rasio Emas (traced by stannered on wikipedia.org)

Rasio emas umumnya dilambangkan dengan huruf Yunani phi, dengan nilai rasio 1.6180339887. Rasio emas, juga dikenal sebagai proporsi ilahiah.

Mario Livio, seorang astrofisikawan Israel-Amerika, mengatakan bahwa:

Beberapa pemikir matematis terbesar dari segala usia, dari Pythagoras dan Euclid di Yunani kuno, hingga matematikawan Italia abad pertengahan Leonardo dari Pisa dan astronom Renaissance Johannes Kepler, hingga tokoh ilmiah masa kini seperti fisikawan Oxford Roger Penrose, telah menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti atas rasio sederhana ini dan propertinya. 

…Ahli biologi, seniman, musisi, sejarawan, arsitek, psikolog, dan bahkan mistikus telah merenungkan dan memperdebatkan dasar keberadaan dan daya tariknya. Faktanya, mungkin adil untuk mengatakan bahwa Rasio Emas telah mengilhami para pemikir dari semua disiplin ilmu tidak seperti angka lain dalam sejarah matematika.(sumber: wikipedia)