Buku Kebenaran dari Timur, Sebuah Kampanye Akhir Zaman

Membaca buku ini akan memberi anda gambaran besar esensi-esensi tentang manusia dan peradabannya. Hal yang telah menjadi pertanyaan dan pencarian umat manusia selama ribuan tahun.

Buku ini merangkum episode sejak Adam di surga — di titik ketika Allah mengajarkan Adam berbahasa —  yang diisyaratkan dalam surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama…”  — yang pada dasarnya dapat dimaknai sebagai tindakan Allah mengajarkan Adam berbahasa, oleh karena “bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama.”

Untuk mencermati kandungan makna ayat tersebut, pertanyaan kuncinya adalah: apakah yang dimaksudkan ‘nama’ dalam ayat tersebut? – jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuka jalan untuk memahami esensi dari ayat tersebut.

Jawaban filosofis dari pertanyaan tersebut yaitu: “Nama adalah cara kita menyebut sesuatu.” Misalnya, kita menyebut ‘minum’ untuk tindakan menuangkan air ke dalam mulut lalu menelannya masuk ke tenggorokan. Dalam tata bahasa nama tindakan ‘minum’ masuk dalam golongan kata kerja.

Demikianlah, dapat disimpulkan “Bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama”, yaitu: nama-nama benda (kelas kata benda), nama-nama tindakan (kelas kata kerja), dan nama-nama sifat (kelas kata sifat).

Episode ketika Adam diajarkan bahasa ini sangat penting untuk diungkap oleh karena dari titik inilah sesungguhnya peradaban umat manusia berawal-mula dan, menjadi dasar bagi penjelasan penting selanjutnya, yaitu tentang Lauh Mahfuzh sebagai server alam semesta di mana semua alam pikiran umat manusia terhubung. Oleh karena, bahasa-lah yang memungkinkan manusia dapat berpikir — dan bahwa dengan cara (berpikir) itulah manusia dapat terhubung ke Lauh Mahfuzh.

Ini sesuai dengan pendapat Humboldt bahwa: “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” — kurang lebih artinya: bahasa adalah yang memformatif organ pemikiran… Karena itu pikiran dan bahasa adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pendapat Humboldt dikuatkan oleh Jerry Fodor dalam bukunya The Language of Thought (1975), yang memperkenalkan The language of thought hypothesis (LOTH), yakni sebuah hipotesis bahwa representasi mental memiliki struktur linguistik, atau dengan kata lain, pemikiran itu terjadi dalam bahasa mental.

Jadi, di bagian-bagian awal buku ini saya mengulas tentang: bahasa, pikiran, dan Lauh Mahfuzh — Sebagai instrumen-instrumen paling mendasar yang memungkinkan peradaban umat manusia dapat terselenggara. Pembahasan ini analoginya seperti membahas bahasa pemrograman komputer yang berfungsi sebagai instruksi standar untuk memerintah mesin komputer (persamaan atau analogi untuk sistem otak manusia) dan, keterhubungan komputer ke internet (sebagai analogi keterhubungan pikiran manusia dengan Lauh Mahfuzh).

Rahasia di Balik 222 Tahun Selisih waktu Antara Tahun Wafat Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi, dan Keterkaitannya Dengan “Nilai 14” yang Selalu Menjadi Pilihan Allah Sebagai Jumlah di Sisa Akhir

Keunikan Rentang Waktu Tahun Wafatnya Jayabaya Dengan Tahun Kelahiran Siliwangi

Suatu hal menarik saya temukan ketika mencermati tahun wafat Jayabaya dan tahun kelahiran Siliwangi yang ternyata berjarak 222 tahun.

Data mengenai hal ini merujuk pada beberapa literatur yang menyebut Prabu Jayabaya memerintah kerajaan Kediri di antara tahun 1135 to 1179 M (Cœdès, George (1968). The Indianized states of Southeast Asia), dan Prabu Siliwangi yang dalam beberapa literatur disebut lahir pada tahun 1401 M (sumber wikipedia: di sini).

Jadi, jika dihitung, tahun wafat Prabu Jayabaya hingga tahun kelahiran Prabu Siliwangi tepat berjarak 222 tahun (1401-1179= 222).

Angka 222 tentu saja menarik untuk dicermati, terutama karena ia merupakan jumlah jarak tahun kehidupan dua sosok yang melegenda di tanah Jawa. Terlebih lagi karena keduanya, secara geografis, seakan merepresentasi kepercayaan tema eskatologi yang berkembang dalam masyarakat tradisional di sisi timur dan barat pulau Jawa.

Melalui pencermatan angka 222 ini saya menemukan isyarat yang mempertegas keterkaitan keduanya. Yaitu bahwa akar dari 222 adalah: 14 koma sekian-sekian…. (berikut ini bentuk desimalnya)

(dokpri)

Seperti yang telah saya urai dalam tulisan sebelumnya “Rahasia di Balik Angka 19, dan 14 huruf Muqattaʿat dalam Al Quran“, “angka 14” memiliki fenomena kekhususannya sendiri. Selama ini tersaji nyata di depan kita. Hanya kurang mendapat perhatian saja.

Misalnya, jika berbicara tentang angka spesial dalam Al Quran, pada umumnya orang akan langsung mengarahkan perhatiannya pada angka 7, 8 dan terutama 19, sementara angka 14 pada jumlah surat dalam Al Quran (114) kurang mendapat perhatian.

Pertanyaan kritis yang mestinya timbul adalah: mengapa setelah mencapai jumlah 100, lalu ditambahkan 14? mengapa tidak ditambahkan 20, 50, 60 atau 80?

Apa spesialnya angka 14 sehingga Allah lebih memilihnya dibandingkan angka 20, 50, 60, atau 80?

Jika anda telah tiba pada pemikiran kritis seperti ini, anda akan dapat melihat bahwa angka 14 di belakang koma pada 3,14 (nilai konstanta bilangan pi) tentu memiliki makna tertentu juga.

Pertanyaan kritis untuk hal ini adalah: mengapa panjang keliling lingkaran mesti selalu 3,14 kali panjang diameter lingkaran tersebut? mengapa Allah tidak menggenapkannya menjadi 3 kali saja? mengapa mesti ada nilai 14 di belakang koma?

MENGAPA ALLAH SELALU MEMILIH NILAI 14 SEBAGAI JUMLAH DI SISA AKHIR?

Puisi | Kenyataan tentang Masa Ini

Masa ini adalah masa yang tidak akan pernah dikenang.

Sehebat apa pun peristiwa yang terjadi di masa ini, tidak akan pernah tercatat sebagai sejarah.

Masa ini adalah tepi waktu. Tepi zaman. Dan dapat pula kau sebut tepi sejarah.

Masa ini  bukan tempat bagi mereka yang masih bermimpi ingin menulis sejarah.

Tapi bukan berarti di masa ini tidak lagi dibutuhkan pejuang. Sebaliknya, pejuang yang sesungguhnya sangat dibutuhkan di masa ini.

Tapi bukan lagi nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan di masa ini. Bukan pula nilai keadilan.

Yang diperjuangkan di masa ini adalah tegak dan terjaganya kemurnian iman dan taqwa hanya kepada Allah Tuhan semesta alam.

Berjuanglah untuk itu… Berjuanglah untuk orang banyak, atau setidaknya untuk dirimu sendiri. Karena sungguh perjuangan di masa ini amatlah sulit.

Pare-Kediri, 20 Januari 2020

Yang minat silakan WA: 0811 469 694

Kajian Surat Ar-Ra’d Ayat 19

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 terkandung pernyataan menarik dari Allah yang sesungguhnya jika direnungkan dapat menjadi petunjuk, bahwasanya dalam mencari kebenaran kita sebaiknya lebih mengedepankan fokus kita pada aspek “hikmah sebagai substansi”, dari pada penilaian sumber dari mana pernyataan kebenaran itu berasal.

Berikut ini bunyi surat Ar-Ra’d ayat 19: Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

Bunyi ayat ini mempertanyakan orang yang mengetahui kebenaran itu “apakah seperti orang yang buta,” maksudnya adalah bahwa orang yang mengetahui kebenaran itu diharapkan tidak perlu lagi melihat (mencari tahu) dari mana kebenaran itu berasal, apakah diucapkan seorang guru besar atau orang biasa, orang terpandang dan bagus kedudukannya, ataukah sebaliknya. 

Intinya, ia tidak perlu lagi melihat physically (karena itu dianalogikan seperti orang buta), tapi lebih kepada “hikmah sebagai substansi”. Makanya, kalimat lanjutannya lebih memberi penekanan bahwa “hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” 

Apa yang saya coba utarakan di sini tentu saja akan mendapat sanggahan dari kalangan yang berpendapat bahwa sumber ilmu tidak boleh diambil dari sembarang orang. Bahkan untuk lebih mengatur hal ini, diajarkan adab dan syarat yang dijadikan pedoman.

Hal ini misalnya dapat kita temukan dibahas dalam situs almanhaj.or.id

Imam besar Ahlus sunnah dari generasi Tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu agama (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu meraih ketakwaan kapada Allh), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.”[Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahh Muslim, 1/43-44 — Syarhu Shahh Muslim] 

Artinya, janganlah kamu mengambil ilmu agama dari sembarang orang, kecuali orang yang telah kamu yakini keahlian dan kepantasannya untuk menjadi tempat mengambil ilmu. [Lihat penjelasan Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadr , 2/545 dan 6/383]

Kalangan cendikiawan dan alim ulama mungkin telah sangat yakin bahwa inilah satu-satunya cara membentengi umat agar tidak keliru dalam mengambil ilmu agama. 

Tetapi, di sisi lain, saya melihat jika hal ini “mungkin tanpa disadari” telah bertentangan, bahkan bisa dikatakan menghalangi kehendak Allah yang ingin agar semua makhluk ciptaannya berfungsi sebagai penyampai hikmah. Ini setidaknya berkorelasi dengan perspektif holistik yang dibutuhkan dalam mencermati ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat (petunjuk-petunjuk) Allah yang tersebar di alam semesta melalui ciptaan-Nya. 

Saya pikir kita memang haruslah berpikir bijak, bahwa kebenaran adalah hal yang memang tidak akan mudah untuk didapatkan, oleh karena jalan menuju ke sana dipenuhi dengan”kerikil-kerikil tajam” yakni cobaan-cobaan sebagai penguji kepantasan kita yang ingin memilikinya.

Misalnya, suatu doa permohonan petunjuk yang telah lama kita panjatkan kehadirat Allah bisa jadi telah diberi jawaban oleh-Nya, tetapi, Ia menyampaikan jawaban itu melalui seseorang yang tidak pernah terpikir akan menjadi orang yang akan berjasa memberi kita jawaban yang telah lama kita cari. Jika seandainya kita terjebak dan larut dalam alur berpikir subjektif seperti ini maka celakalah kita… 🙂

Jadi demikianlah, ketika tanpa sadar fokus kita telah bergeser dari “hikmah sebagai substansi” ke penilaian subjektif pada aspek lahiriah seperti “kepantasan” dan lain sebagainya, maka kita pada dasarnya tanpa sadar telah menggagalkan diri sendiri.

Saya menjadikan Surat Ar-Ra’d ayat 19 sebagai suatu tema pembahasan khusus, oleh karena secara intuitif saya melihat jika ke depan_, situasi seperti inilah yang akan banyak dihadapi umat manusia.

Sekian  apa yang wajib saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Salam.

Yang minat silakan WA: 0811 469 694

“Piring”, Makna dan Riwayatnya yang Terlupakan

“Piring” adalah salah satu kata benda yang paling akrab dengan ingatan manusia. Hal itu dikarenakan fungsinya sebagai perkakas kegiatan rutin dan paling vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu: makan.

Begitu akrabnya “piring” dengan ingatan atau alam pikiran manusia, sehingga dalam situasi tertentu, ia bahkan dapat memicu dampak emosional. Seseorang dapat marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, bahkan termotivasi, ketika teringat dengan kata piring.

Benarkah? Mengapa demikian?

Ya, anda mungkin akan menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan dan mengada-ada… tapi tentu saja tidak.

Saya yakin, anda akan melihat kebenaran pernyataan itu manakala melakukan pengamatan lebih mendalam.

Misalnya, Dalam alam pikiran seorang bapak, ingatan tentang “piring” dapat memotivasinya bekerja lebih giat, karena hal itu mengingatkannya pada tanggung jawab memberi makan anak istrinya di rumah. Segala macam perasaan akan berkecamuk mengiringinya dalam upaya tersebut – baik ketika gagal, maupun ketika berhasil.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa “piring” adalah perkakas untuk sebuah kegiatan yang paling mempengaruhi arah dan sudut pandang berpikir manusia terhadap kehidupan.  

Di Nusantara, bukti bahwa kata “piring” mempengaruhi alam pikiran kita, dapat ditemukan dalam beberapa bunyi peribahasa yang menggunakan kata piring atau pinggan.

Misalnya: “pinggan tak retak nasi tak dingin” (artinya: cermat dalam melakukan suatu pekerjaan) ; atau “di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal” (di mana orang meninggal di situ dikuburkan).

Dalam cerita fiksi (budaya populer) terutama di tahun 80-90an, kita pernah akrab dengan sebutan “piring terbang” sebagai wahana makhluk luar angkasa yang datang menginvasi bumi. 

Namun, dalam kehidupan urban hari ini, kita juga mengenal istilah “piring terbang” tapi yang ini tidak merujuk pada wahana makhluk luar angkasa. Istilah ini biasanya menjadi kalimat keluhan atau ejekan tentang situasi pertengkaran suami istri dalam rumah tangga.

Misalnya seorang temanmu berkata: “wahh barusan di rumah ada piring terbang!” – kalau kamu tidak mau ceritanya kepanjangan, abaikan saja temanmu itu, soalnya ada kemungkinan dia mau curhat, habis marahan dengan istrinya.

Atau kalau mau mengejek temanmu yang lagi murung, kamu bisa bertanya: “kayaknya habis lihat piring terbang lagi nih!”