Ini Dasar dan Fakta bahwa Negeri Sabah atau “Negeri Pagi” Adalah Identitas Wilayah Nusantara di Masa Kuno

Dalam tulisan sebelumnya “Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba” telah saya ungkap beberapa catatan dari masa lalu yang kuat mengindikasikan Nusantara sebagai negeri saba yang ada disebut dalam Al-Kitab maupun Al-Quran.

Pertanyaan yang mestinya timbul kemudian adalah, Jika benar Nusantara adalah negeri Saba, mengapa ia disebut negeri saba? apa alasannya?

Untuk menjawab pertanyaan penting ini, saya akan terlebih dahulu mengenalkan satu bentuk toponim dan etnonim kuno yang banyak terdapat di wilayah timur Nusantara hingga wilayah selandia baru, yakni: Mori atau Maori.

Mori atau Maori yang berarti “pagi”

Di wilayah timur, tempat bersemayamnya Helios sang Dewa Matahari dalam mitologi Yunani, terdapat banyak toponim dan etnonim yang menggunakan kata “Mori”. Seperti Suku Maori (penduduk asli Selandia Baru), Suku Mori di Sulawesi tengah, Pulau Mori di muara sunga Malili di Luwu Timur, dan Puncak Nene’ Mori yang merupakan puncak kedua tertinggi di pegunungan Latimojong setelah puncak Rante Mario, dan masih banyak lagi toponim lainnya.

Mungkin pada pikiran Pembaca akan segera timbul pertanyaan lain: apa pula hubungan antara Helios sang Dewa Matahari, Mori, dan “Negeri Pagi” yang menjadi judul artikel ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca untuk terlebih dahulu memahami filosofi “Bangsa Matahari” yang mendasari lahirnya mitologi Dewa Matahari, yang dalam kurun waktu ribuan tahun perjalanan peradaban manusia, terus eksis, hadir di peradaban berbagai bangsa dengan sebutan yang berbeda-beda.

Kita patut bersyukur karena pemahaman filosofi yang mendasari spirit peradaban manusia selama ribuan tahun itu dapat kita temukan terekam dalam catatan Himne tertua Veda, yakni pada himne 1.115 Rgveda yang menyebutkan: 

Surya sebagai penghormatan khusus untuk “Matahari Terbit” dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan. 

Untuk diketahui, dalam tradisi Hindu, Surya berkonotasi Dewa Matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide, 2011).

Hal terpenting untuk dicermati dari Rekaman Himne tertua Veda di atas, adalah pada kalimat “sebagai penghormatan khusus untuk Matahari terbit”, karena ini mesti kita cermati bahwa dari kesemua rentang waktu posisi matahari di langit pada siang hari, hal yang paling dikhususkan terletak pada posisi waktu ia terbit, yang dalam perbendaharaan Bahasa kita pada hari ini, kita kenal dengan sebutan “pagi”.

Seorang teman saya di Facebook yang bertempat tinggal di Singaraja Bali, mengatakan Di bali setiap perande, peranda, atau pedanda (pendetanya orang Bali) memiliki kewajiban “nyurya sewana” di pagi hari memuja matahari yang baru terbit. 

Beliau juga mengatakan bahwa Orang bali kebanyakan menyebut perandenya (pendétanya) dengan sebutan “suryan tityangé” (matahari saya) atau bisa diartikan “wakil saya memuja matahari”. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sikap penghormatan khusus untuk Matahari terbit” hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Bali.

Temuan Jejak (Terkini) Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran

Orang Madyan, Aikah dan Rass adalah kaum yang diriwayatkan mendapat azab di dalam Al Quran.

Kepada kaum Madyan dan Aikah, Al Quran secara jelas menyebutkan Syuaib sebagai nabi yang diutus untuk memberi peringatan.

Sementara itu, untuk kaum Rass meskipun Al Quran tidak menyebut siapa nabi yang diutus kepada mereka, tetapi ada banyak riwayat dalam tradisi Islam yang menyebutkan jika nabi Syuaib yang diutus kepada mereka, sebagian lagi menyebutkan seorang nabi bernama Hanzhalah bin Shafwan.

Mengenai letak wilayah ketiga kaum ini, pada umumnya para ahli berpendapat jika kaum Madyan dan kaum Aikah adalah sama atau setidaknya letak wilayahnya berdekatan, yaitu di wilayah semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”).

Sementara itu untuk wilayah komunitas Rass, hingga saat ini tidak jelas, terutama karena begitu banyak pendapat yang berbeda yang muncul terkait mereka.

Menurut Ibnu Jurayj dari Ibnu ‘Abbas,  komunitas Rass adalah penduduk negeri Tsamud (yang berarti merujuk pada kawasan pegunungan semenanjung Arab bagian utara, antara Hijaz dan Tabuk. Karena negeri Tsamud oleh banyak cendikiawan diperkirakan berada di kawasan tersebut, setelah sebelumnya bermigrasi dari semenanjung Arab Selatan). 

Menurut pendapat Yunus bin Abdul A’la, komunitas Rass terletak di Yamamah yang lebih dikenal dengan nama Falaj, sedangkan menurut pendapat Ibnu Abi Hatim dan cendikiawan muslim lainnya mengatakan, bahwa penduduk itu terletak di Azerbaijan. (sumber di sini)

Kita mendapat gambaran profil komunitas Rass yang cukup informatif dari penjelasan Ali bin Abu Thalib mengenai Ashabur Rass, yang mengatakan bahwa: 

“Kaum Rass adalah sebuah kaum yang menyembah pohon sanobar, yang diberi nama Syah Dirakht, secara bahasa memiliki arti “Raja Pohon”. Dikatakan bahwa yang pertama kali menanam pohon itu adalah Yafith bin Nuh pasca badai topan di tepian mata air, mata air tersebut dikenal dengan sebutan Rowsyan Oub. 

Kaum Rass memiliki dua belas desa yang makmur di tepian sungai yang dinamakan Sungai Rass. Desa-desa tersebut bernama Oban, Odzar, Die, Bahman, Isfand, Farwadin, Ordi Bahsyt, Khordad, Murdad, Tiir, Mihr, dan Syahriwar, kemudian nama-nama desa tersebut oleh Bangsa Persia dijadikan nama-nama bulan dalam sistem penanggalan mereka.

Penduduk desa tersebut menanam pohon sanobar di setiap desa. Mereka mengairinya dengan irigasi yang berpusat di pohon sanobar tersebut. Mereka juga mengharamkan diri untuk minum dari air tersebut, baik untuk diri mereka atau ternak mereka. Mereka membuat aturan siapa yang meminumnya, maka akan dibunuh. Mereka meyakini, bahwa pohon sanobar tersebut dianggap sebagai Hayat al-Ilahiyah (Kehidupan Ketuhanan), maka terlarang bagi siapapun untuk mengambil kehidupannya.

Dijelaskan juga bahwa komunitas Rass mengadakan perayaan sehari pada setiap bulan sebagai event dimana persembahan dari masing-masing desa dilangsungkan. Puncak hari raya mereka disebut Isfandr.

Ini Alasan Pada Masa Kuno Nusantara Disebut Negeri Sabah atau Negeri Pagi (Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno)

Dalam tulisan saya sebelumnya (Negeri Sabah atau Negeri Pagi, Identitas Nusantara di Masa Kuno dan Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba) telah saya bahas mengenai hipotesis Nusantara sebagai “Negeri Saba” atau “Negeri Pagi”, dengan asumsi bahwa kata “saba” berasal dari bahasa Arab “sabah” yang berarti “pagi”.

Hipotesis ini tentunya memunculkan pertanyaan selanjutnya, bahwa jika ada yang disebut “Negeri Pagi”, apakah ada pula yang disebut “Negeri Siang”, “Negeri Sore”, dan “Negeri matahari terbenam”?

Ternyata, penelusuran yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini dapat membuktikan keberadaan semua negeri tersebut.

Ini yang kemudian mendasari kesimpulan saya bahwa telah ada pembagian zona waktu di masa kuno, yang kuat dugaan saya dilakukan oleh Bangsa Matahari.

Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno

Yang menarik karena Pembagian waktu ini, jika dicermati, nampaknya erat kaitan dengan pembagian waktu ibadah harian dalam tradisi Yahudi, umat Kristiani, maupun Islam.

Sebagaimana kita ketahui, Lima waktu shalat yang dikenal dalam Islam – yang didasarkan pada posisi matahari, yaitu: Fajar (ketika Matahari terbit), Lohor atau Dhuhur (ketika matahari tepat di atas kepala), Azhar (ketika posisi Matahari telah condong ke barat), Maghrib (matahari terbenam) dan Isya (malam). 

Sementara itu, dalam praktek Kristiani, jam kanonik, yaitu jadwal tradisional siklus monastik doa harian – terbagi dalam beberapa pembagian waktu, yaitu: Matins (Tengah Malam); Lauds (sekitar 3 AM); Prime: 6-9 AM (matahari terbit dan pagi hari); Underne (Terce): 9-12 AM (pagi); Sexte: 12-3 PM (siang); None: 3-6 PM (sore); Vesper (Senja/Maghrib): 6-9 PM (malam); Compline: 9 PM. (Jeffrey L. Forgeng, Will McLean. Daily Life in Chaucer’s England.  Greenwood Press, 2009, hlm. 69-70)

Dapat kita lihat bahwa pembagian waktu-waktu ibadah yang terdapat dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristiani, nampak nyaris tidak ada bedanya dengan waktu-waktu shalat harian dalam tradisi Islam. Hanya saja di dalam Islam, waktu shalat di jam 9 pagi, yaitu shalat Dhuha, tidak masuk dalam shalat wajib yang lima waktu, tapi hukumnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Pembagian waktu-waktu ibadah tersebut berinterval waktu 3 jam, yang dalam pembagian garis bujur bernilai 45 derajat . Jadi, jika merujuk penentuan titik meridian 0  derajat berada di Greenwich (sebagaimana yang berlaku di dunia moderen) maka, nilai masing-masing waktu tersebut adalah:

  • jam 6.00 (terbit fajar diujung timur) berada di garis bujur 180 derajat;
  • jam 9.00 (pagi) berada di garis bujur 135 derajat;
  • jam 12.00 (siang) berada di garis bujur 90 derajat;
  • jam 15.00 (sore) berada di garis bujur 45 derajat;
  • jam 18.00 (terbenam matahari) berada di garis bujur  0 derajat.

Dapat diduga bahwa nilai sudut dari jam-jam tersebut adalah nilai sudut posisi Matahari di langit dilihat dari bumi.

Temuan Jejak Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran

Orang Madyan, Aikah dan Rass adalah kaum yang diriwayatkan mendapat azab di dalam Al Quran.

Kepada kaum Madyan dan Aikah, Al Quran secara jelas menyebutkan Syuaib sebagai nabi yang diutus untuk memberi peringatan.

Sementara itu, untuk kaum Rass meskipun Al Quran tidak menyebut siapa nabi yang diutus kepada mereka, tetapi ada banyak riwayat dalam tradisi Islam yang menyebutkan jika nabi Syuaib yang diutus kepada mereka, sebagian lagi menyebutkan seorang nabi bernama Hanzhalah bin Shafwan.

Mengenai letak wilayah ketiga kaum ini, pada umumnya para ahli berpendapat jika kaum Madyan dan kaum Aikah adalah sama atau setidaknya letak wilayahnya berdekatan, yaitu di wilayah semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”).

Sementara itu untuk wilayah komunitas Rass, hingga saat ini tidak jelas, terutama karena begitu banyak pendapat yang berbeda yang muncul terkait mereka.

Menurut Ibnu Jurayj dari Ibnu ‘Abbas,  komunitas Rass adalah penduduk negeri Tsamud (yang berarti merujuk pada kawasan pegunungan semenanjung Arab bagian utara, antara Hijaz dan Tabuk. Karena negeri Tsamud oleh banyak cendikiawan diperkirakan berada di kawasan tersebut, setelah sebelumnya bermigrasi dari semenanjung Arab Selatan). 

Menurut pendapat Yunus bin Abdul A’la, komunitas Rass terletak di Yamamah yang lebih dikenal dengan nama Falaj, sedangkan menurut pendapat Ibnu Abi Hatim dan cendikiawan muslim lainnya mengatakan, bahwa penduduk itu terletak di Azerbaijan. (sumber di sini)

Kita mendapat gambaran profil komunitas Rass yang cukup informatif dari penjelasan Ali bin Abu Thalib mengenai Ashabur Rass, yang mengatakan bahwa: 

“Kaum Rass adalah sebuah kaum yang menyembah pohon sanobar, yang diberi nama Syah Dirakht, secara bahasa memiliki arti “Raja Pohon”. Dikatakan bahwa yang pertama kali menanam pohon itu adalah Yafith bin Nuh pasca badai topan di tepian mata air, mata air tersebut dikenal dengan sebutan Rowsyan Oub. 

Kaum Rass memiliki dua belas desa yang makmur ditepian sungai yang dinamakan Sungai Rass. Desa-desa tersebut bernama Oban, Odzar, Die, Bahman, Isfand, Farwadin, Ordi Bahsyt, Khordad, Murdad, Tiir, Mihr, dan Syahriwar kemudian nama-nama desa tersebut oleh Bangsa Persia dijadikan nama-nama bulan dalam sistem penanggalan mereka.

Penduduk desa tersebut menanam pohon sanobar disetiap desa. Mereka mengairinya dengan irigasi yang berpusat di pohon sanobar tersebut. Mereka juga mengharamkan diri untuk minum dari air tersebut, baik untuk diri mereka atau ternak mereka. Mereka membuat aturan siapa yang meminumnya, maka akan dibunuh. Mereka meyakini, bahwa pohon sanobar tersebut dianggap sebagai Hayat al-Ilahiyah (Kehidupan Ketuhanan), maka terlarang bagi siapapun untuk mengambil kehidupannya.

“Jejak Kuno” Unsur Nusantara di Kawasan Laut Merah dan Afrika Utara

Peta kawasan Laut Merah dan Afrika Utara (sumber: http://www.emersonkent.com ) –

Dalam tulisan sebelumnya (Hubungan Nusantara dan Tanah Punt), telah saya urai beberapa fakta mengenai adanya hubungan Nusantara dan Mesir pada masa Kuno.

Misalnya tentang identifikasi saya terhadap daerah bernama ‘Iuu’ yang ditemukan tertulis dalam prasasti di dinding kuil Speos Artemidos di Mesir tengah. Yang hingga kini belum teridentifikasi letaknya oleh para ahli peneliti Sejarah Mesir kuno. 

Untuk hal ini, saya menduga kata ‘Iuu’ tersebut memiliki keterkaitan dengan kata Eoos, Eous, atau Eos yang sempat dibahas Prof. Arysio Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continental Finally Found. 

Menurut Prof. Santos, kata Eoos atau Eous (Eoos dalam bahasa Yunani, Eous dalam bahasa Latin) – sama artinya dengan kata ‘Dawn’ dalam bahasa Inggris atau pun ‘fajar’ dalam bahasa Indonesia. lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Nama tersebut juga ditujukan untuk makna “orang Timur” atau “Oriental”, dan kerap digunakan sebagai sebutan untuk Indonesia. (Prof. Arysio Santos. Atlantis:  Hlm. 457)

Adapun dugaan saya bahwa ‘Iuu’ ada keterkaitan dengan Eoos atau Eous, didasari oleh fakta bahwa kebanyakan pengucapan bahasa Yunani klasik ataupun bahasa Latin memberi akhiran esos, atau us di akhir kata, seperti: Barbar yang dalam Yunani klasik diucapkan [b a r – ba – ros], atau Nusa yang diucapkan [ne – sos / ni.sos]. Dalam ilmu bahasa hal semacam ini biasa disebut dengan istilah “latinasi”.

Dalam bahasa Tae’ sendiri, juga dikenal kata “Esso” yang berarti “hari”. Saya pikir, kata Esso dalam bahasa Tae’ ini juga ada keterkaitan dengan Eoos, sebagaimana yang diungkap oleh Prof. Santos bahwa Eoos, Eous, atau Eos, berarti : fajar /pagi/  atau awal hari, dalam bahasa Indonesia. 

Dalam bahasa kaili sendiri, terdapat kata’eo’ yang berarti: hari atau matahari. Untuk diketahui, suku Kaili adalah suku yang memiliki budaya cukup unik. Mereka mendiami beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah. 

Jadi, dapat diperkirakan jika antara ‘Esso’ dalam bahasa tae’, ‘Eoos’ dalam bahasa Yunani, ‘Eous’ dalam bahasa Latin, ‘Eo’ dalam bahasa suku Kaili, dan ‘Iuu’ yang terdapat dalam prasasti Mesir kuno, telah terjadi fenomena morfologi bahasa – terutama perubahan pada struktur fonetis. Namun demikian, makna kata tidak bergeser jauh. 

Dari kesemua kata tersebut, nampak bahwa kata ‘Eo’ lebih identik bentuknya ‘Iuu’, sementara kata ‘Esso’ lebih identik bentuknya dengan ‘Eoos’ dan ‘Eous’.

Dengan demikian, berlandaskan dari seluruh uraian di atas, yang menunjukkan bahwa kata ‘Iuu’ dapat berarti: Fajar/awal hari/ atau pagi, maka saya menduga bahwa daerah ‘Iuu’ yang tidak teridentifikasi oleh para ahli peneliti sejarah Mesir kuno selama ini, kemungkinan besarnya ada di wilayah Nusantara hari ini. Yaitu nama lain untuk penyebutan kawasan ‘negeri sabah’ atau ‘negeri pagi’ (‘sabah’ dalam bahasa arab berarti ‘pagi’, merupakan bentuk morfologi untuk kata subuh dalam bahasa Indonesia). 

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai asal usul adanya penyebutan ‘Negeri pagi’, yakni wilayah yang masuk dalam zona pagi menurut pembagian wilayah di muka bumi pada masa kuno, silahkan baca tulisan saya lainnya: Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno. Pembagian wilayah tersebut merujuk pada posisi matahari di langit. Ini merupakan salah satu peninggalan budaya Bangsa Matahari (Wangsa Surya) dari masa kuno.

Kaitan Negeri Saba dan Wangsa Surya

Dalam berbagai kitab suci, negeri Saba disebutkan sebagai bangsa penyembah matahari. Dalam Al quran diceritakan pada surat An-naml ayat 20-24 bahwa dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh seluruh bala tentaranya, Nabi Sulaiman memeriksa seluruh yang hadir dan mendapati ada seekor burung yang tidak ada. 

Dia berseru: “Mengapa saya tidak melihat Hud-Hud, atau apakah dia termasuk yang tidak hadir? …dia sebaiknya datang membawa bukti yang sah (penjelasan) atau aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya”. 

Tidak beberapa lama kemudian datanglah Hud-Hud, dan berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang dapat dipercaya. Sesungguhnya, di sana aku menemukan seorang wanita yang berkuasa atas orang-orang. Dia telah diberikan segalanya (kekayaan duniawi) dan dia memiliki tahta yang indah. Aku telah menemukan dia dan orang-orangnya bersujud kepada matahari selain Allah. Syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat petunjuk”.

Merujuk dari kisah burung Hud-hud yang datang menyampaikan informasi kepada Nabi Sulaiman tentang penduduk Negeri Saba yang menyembah matahari, maka tentu adalah hal penting menyebutkan pula eksistensi Wangsa Surya (Bangsa Matahari) ketika kita dalam pembahasan tentang Negeri Saba. Dikarenakan  keduanya jelas memiliki keterkaitan erat.

Pembahasan Wangsa Surya akan kita mulai dengan terlebih dahulu membahas eksistensi “Surya” sebagai entitas utamanya.

Dalam agama Hindu, Surya berkonotasi dewa matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide. India: Penguin Global, 2011, hlm. 399)

Himne tertua Veda, seperti himne 1.115 dari Rgveda, menyebutkan Surya sebagai penghormatan khusus untuk “matahari terbit” dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan. (Samuel D. Atkins, A Vedic Hymn to the Sun-God Srya. Translation and Exegesis of Rig-Veda 1.115. United Stated: American Oriental Society, 1938, hlm. 419).

A.A. Macdonell dalam bukunya Mitologi Veda ( (Delhi: Motilal Banarsidass Publishers, first edition: Strassburg, 1898, reprint: Delhi, 1974, 1981, 1995, 2002) hlm. 30.) memberi uraian sebagai berikut:

Dari 10 buku hymne Rigveda, pada umumnya kalau bisa dikatakan keseluruhannya, dapat dikatakan dikhususkan bagi perayaan urya. Tidak mungkin untuk mengatakan seberapa sering namanya muncul.

Dalam banyak kasus diragukan apakah hanya fenomena alam yang dimaksudkan atau personifikasinya. Karena namanya menandakan bola matahari juga, Surya adalah dewa matahari yang paling konkrit, hubungannya dengan orang-orang yang menonjol dengan pencapaian cemerlang (orang termasyhur) tidak pernah hilang.

Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno

Letak Madyanagar Bazar di Bangladesh (Dokpri)

Dalam tulisan saya sebelumnya (“Negeri Pagi”, Identitas Nusantara di Masa Kuno dan Nusantara sebagai “Negeri Saba” Menurut Beberapa Catatan Kuno) telah saya bahas mengenai hipotesis Nusantara sebagai “Negeri Sabah” atau “Negeri Pagi”, ini dengan asumsi bahwa kata “sabah” ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “pagi”.

Hipotesis ini tentunya memunculkan pertanyaan selanjutnya; bahwa jika ada yang disebut “Negeri Pagi” tentulah ada pula yang disebut “Negeri Siang”, “Negeri Sore”, dan “Negeri matahari terbenam”. Dan ternyata, penelusuran yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini dapat membuktikan keberadaan semua negeri tersebut. Inilah yang kemudian mendasari kesimpulan saya bahwa telah ada pembagian zona waktu di masa kuno, yang kuat dugaan saya dilakukan oleh Bangsa Matahari.

Yang menarik karena Pembagian waktu ini, jika dicermati, nampaknya erat kaitannya dengan pembagian waktu ibadah harian dalam tradisi Yahudi, umat Kristiani, maupun Islam.

Sebagaimana kita ketahui, Lima waktu shalat yang dikenal dalam Islam – yang didasarkan pada posisi matahari, yaitu: Fajar (ketika Matahari terbit), Lohor atau Dhuhr (ketika matahari tepat di atas kepala), Azhar (ketika posisi Matahari telah condong ke barat), Maghrib (matahari terbenam) dan Isya (malam). 

Sementara itu, dalam praktek Kristiani, jam kanonik, yaitu jadwal tradisional siklus monastik doa harian – terbagi dalam beberapa pembagian waktu, yaitu: Matins (Tengah Malam); Lauds (sekitar 3 AM); Prime: 6-9 AM (matahari terbit dan pagi hari); Underne (Terce): 9-12 AM (pagi); Sexte: 12-3 PM (siang); None: 3-6 PM (sore); Vesper (Senja/Maghrib): 6-9 PM (malam); Compline: 9 PM. (Jeffrey L. Forgeng, Will McLean. Daily Life in Chaucer’s England.  Greenwood Press, 2009, hlm. 69-70)

Dapat kita lihat bahwa pembagian waktu-waktu ibadah yang terdapat dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristiani — nampak nyaris tidak ada bedanya dengan waktu-waktu shalat harian dalam tradisi Islam. Hanya saja di dalam Islam, waktu shalat di jam 9 pagi, yaitu shalat Dhuha, tidak masuk dalam shalat wajib yang lima waktu, tapi hukumnya sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Pembagian waktu-waktu ibadah tersebut berinterval waktu 3 jam, yang dalam pembagian garis bujur bernilai 45 derajat . Jadi, jika merujuk penentuan titik meridian 0  derajat berada di Greenwich (sebagaimana yang berlaku di dunia), maka nilai masing-masing waktu tersebut adalah: jam 6.00 (terbit fajar diujung timur) berada di garis bujur 180 derajat; jam 9.00 (pagi) berada di garis bujur 135 derajat; jam 12.00 (siang) berada di garis bujur 90 derajat; jam 15.00 (sore) berada di garis bujur 45 derajat; jam 18.00 (terbenam matahari) berada di garis bujur  0 derajat. Dapat diduga bahwa nilai sudut dari jam-jam tersebut adalah nilai sudut posisi Matahari di langit dilihat dari bumi.

Dari kesemua waktu ibadah yang telah diuraikan di atas,  ada empat waktu yang saya perkirakan menjadi dasar penentuan zona waktu berdasarkan posisi matahari di langit siang hari, yaitu: waktu pagi, siang, sore, dan maghrib. Formasi pembagian zona waktu disusun berurutan dari timur ke barat. Metode penentuannya adalah menyelaraskan waktu fajar di zona tertentu dengan waktu yang ditunjukkan wilayah paling timur di bumi pada saat yang sama. Mengacu pada data peta, pulau Nukulaelae di Tuvalu adalah wilayah paling timur di bumi.

Berikut hasil pencarian keberadaan toponim yang identik dengan nama waktu-waktu ibadah agama Samawi, dan sebagai bukti adanya pembagian wilayah di bumi pada zaman kuno menurut posisi matahari di langit: