Kesamaan Sosok ‘Shilo’ Dalam Alkitab Ibrani Dengan ‘Maitreya’ Dalam Tradisi Buddha – Dan Kaitannya Dengan Sepuluh Suku Israel Yang Hilang

Shiloh/ Shilo/ Siloh/ atau Silo” adalah sosok yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (Kejadian 49: 10), sebagai bagian dari berkat yang diberikan Yakub kepada putranya Yehuda.

Beberapa versi Alkitab mempertahankan penulisan kata ‘Shilo’, dalam artian tidak diberi penafsiran, Seperti pada King James Version : Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda, Atau pemberi hukum dari antara kakinya, Sampai Shiloh datang; Dan kepada-Nya lah ketaatan manusia (Kejadian 49:10).

Sementara itu beberapa versi lainnya, mengganti kata ‘Shilo’ dengan frase “Dia yang berhak”. misalnya pada versi Terjemahan Baru: Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda, ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa (Kejadian 49:10).

Banyak orang melihat ayat ini sebagai nubuatan Mesianik. Dalam artian, nama ‘Shilo’ dikaitkan dengan Mesiah, sosok penyelamat dan pembebas dalam eskatologi Yahudi.

Dalam eskatologi Yahudi, istilah mashiach, atau “Mesiah”, merujuk secara khusus kepada raja Yahudi masa depan dari garis keturunan Daud, yang diharapkan hadir menyelamatkan bangsa Yahudi. Ia biasa disebut “Raja Mesias”, yang dalam bahasa Ibrani “melekh mashiach”, dan dalam bahasa Aram “malka meshiḥa”. Dalam arti umum, mesias bermakna: penyelamat atau penebus yang akan muncul pada akhir zaman dan mengantar kerajaan Allah, pemulihan ke arah keadaan ideal dunia.

Meninjau Sebutan “Shilo” Menurut Perspektif Mesianik

Karena literatur yang ada cenderung mengarahkan sosok Shilo yang disebut dalam Kejadian 49: 10 sebagai sosok Mesianik, maka, salah satu cara menggali lebih jauh untuk mengetahui siapa sosok yang dimaksud, adalah dengan mengkomparasinya dengan sosok mesianik yang terdapat dalam literatur tradisi lain.

Dalam metode komparasi semacam ini, biasanya akan kita temukan fakta bahwa; dua nama berbeda, dari tradisi yang juga berbeda, pada kenyataannya memiliki makna yang sama. Fakta ini, mau tidak mau mesti kita pandang sebagai kenyataan bahwa bisa jadi dua nama yang berbeda itu merujuk pada satu sosok atau orang yang sama.

Dalam tradisi Budhis, kita mengenal sosok Maitreya “Sang Buddha Masa Depan” sebagai tokoh mesianik. Nama Maitreya sendiri berasal dari kata Sansekerta ‘maitri’ yang pada gilirannya berasal dari kata ‘mitra’ yang berarti: teman.

Yang menarik, dalam bahasa Bugis dan beberapa bahasa daerah di Sulawesi Selatan terdapat kata ‘Shilo’ atau ‘Silo’ yang berarti: Teman. (pembaca silakan tanya sama temannya yang bisa berbahasa Bugis untuk mengecek hal ini)

Jadi, dari komparasi ini kita temukan fakta bahwa sebutan ‘Shilo’ dalam tradisi Ibrani dan ‘Maitreya’ dalam tradisi Buddhis sama-sama berarti “teman”.

Pembaca mungkin bertanya-tanya, kok bisa bahasa Bugis digunakan untuk menafsir makna ‘Shilo’ yang disebut dalam Kejadian 49: 10?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melihat jauh ke belakang menelusuri jejak 10 suku Israel yang hilang, adalah satu-satunya jalan.

Menelusuri 10 Suku Israel yang Hilang

Kita ketahui dari literatur yang ada bahwa sepuluh (dari duabelas) Suku Israel yang berasal dari Kerajaan Israel Utara, tidak diketahui keberadaannya lagi setelah penaklukan Kekaisaran Neo-Asyur sekitar tahun 721-722 SM.

Kesepuluh suku tersebut adalah: suku Ruben, Simeon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Manasye, dan Efraim.

Dari literatur sejarah kita ketahui, setelah perang saudara di masa pemerintahan Rehabeam (Rehoboam), Cucu Daud, 10 suku melepaskan diri dari kerajaan utama dan membuat kerajaan sendiri yaitu kerajaan Israel Utara.

2 suku lainnya yaitu Suku Yehuda dan Benyamin tetap setia kepada Rehabeam, dan membentuk Kerajaan Yehuda (Kerajaan Israel Selatan).

Pada tahun 721 SM, Kerajaan Israel Utara diserbu oleh pasukan Asyur (Asiria) yang dipimpin oleh Salmaneser V dan dilanjutkan oleh Sargon II. Satu tahun kemudian Samaria, Ibukota Kerajaan Israel Utara, takluk dan dihancurkan.

Penduduk Kerajaan Israel Utara yang terdiri dari 10 suku Israel (suku Yehuda dan suku Benyamin tidak termasuk di dalamnya) diasingkan dan dibuang ke Khorasan, yang sekarang merupakan bagian dari Iran Timur dan Afganistan Barat. Suku-suku inilah yang dipercaya sebagai bagian dari bangsa Yahudi yang hilang dari sejarah, karena melebur dengan suku-suku bangsa tempat mereka tinggal.

Pada tahun 603 SM, kekuasaan bangsa Asyur (“Asiria”) digantikan oleh bangsa Babel (“Babilonia”). Pada masa kekuasaan Babel ini, Kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda pun takluk dan Yerusalem dihancurkan (587/586 SM). Setelah itu berlangsunglah masa pembuangan di Babel.

50 tahun kemudian, 538 SM, Kekaisaran Persia merebut kekuasaan Babel. Sebagian Suku Yehuda dan Benyamin diperkenankan untuk kembali ke Yudea. Namun sepuluh Suku Israel lainnya, penduduk Kerajaan Israel Utara, tidak pernah disebutkan kembali sebagaimana dua suku itu, sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku (Utara) Israel yang ‘Hilang'”.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama 2 Raja-raja 18:11 tertulis… “Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai Negeri Gozan, dan di Kota-Kota orang Madai”

Tempat-tempat ini sekarang terletak pada bagian utara Irak dan sebelah barat laut Iran yang disebut Kurdistan.

Menurut sejarawan kuno Flavius Yosefus yang hidup pada abad pertama Masehi, di mana ia menulis tentang keberadaan kesepuluh Suku tersebut: “… kesepuluh Suku yang berada di Efrat hingga sekarang, dan yang berjumlah sangat besar, yang jumlahnya tidak dapat diperkirakan.” (Antiquitates Iudaicae 11:2)

Yosefus menulis bahwa pada abad pertama Masehi kesepuluh Suku Israel hidup dalam jumlah yang sangat besar di seberang Sungai Efrat. Hal ini mungkin berarti bahwa beberapa dari mereka tersebar ke sebelah timur sungai Efrat.

Demikianlah, Kesepuluh Suku Israel yang hilang yang pada mulanya diangkut ke wilayah yang sekarang masuk dalam wilayah utara Irak dan barat laut Iran, lambat laun menyebar ke berbagai wilayah di dunia.

Kashmir di India bagian utara

Di India bagian utara yakni Kashmir terdapat sekitar 5-7 juta jiwa. Terdapat nama Ibrani di lembah dan di desa-desa di Kashmir seperti Har Nevo, Beit Peor, Pisga, Heshubon. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa Bangsa Kashmir keturunan Sepuluh Suku Utara Israel yang ‘Hilang’ pada pembuangan tahun 722 SM.

Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmir menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan (di Alkitab, Kejadian 17:12: 8 hari); tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip (Imamat 11), dan merayakan beberapa Hari Raya Yahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran Bait Allah pertama (seperti Hannukah).

Shin-lung (Bnei Menashe) di sekitar perbatasan India-Myanmar

Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shin-lung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri “Anak Manasye” atau “Bnei Menashe”.

Kata Manasye banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Manasseh”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa.

Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Tiongkok, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Tiongkok Tengah sekitar tahun 230 SM.

Orang Tionghoa menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa di antara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shin-lung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka.

Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Tionghoa dan terpengaruh budaya Tionghoa, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timur Laut.

Kelompok Suku/Bangsa lainnya yang ‘terindikasi’ keturunan dari 10 Suku Utara Israel yang ‘Hilang’

  • Yahudi Kurdi di Suriah, Irak, Iran, Turki & Armenia
  • Bene Israel di India bagian utara
  • Yahudi Cochin di India bagian selatan
  • Yahudi Kaifeng di Tiongkok
  • Jepang
  • Batak di Sumatra bagian utara, Indonesia
  • Nias di Sumatra bagian utara, Indonesia
  • Minangkabau di Sumatra bagian barat, Indonesia
  • Mentawai di Sumatra bagian barat, Indonesia
  • Dayak di Kalimantan (Indonesia, Malaysia & Brunei)
  • Talaud di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Sangir di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Minahasa di Sulawesi bagian utara, Indonesia
  • Toraja di Sulawesi bagian selatan, Indonesia
  • Melanesia Sumba (Suku Kodi dan Laura), dan Suku-suku Melanesia lainnya di Nusa Tenggara Timur, Indonesia & Timor-Leste
  • Melanesia Alef’uru di Maluku, Indonesia
  • Suku-suku Melanesia Papua Pesisir di Pesisir Papua, Indonesia & Pesisir Papua Nugini
  • Pribumi Amerika di Amerika Serikat
  • Pribumi Amazon di Amerika bagian selatan
  • Yahudi Falasha (Beta Israel) di Eritrea dan Ethiopia
  • Madagaskar
  • Lemba di Malawi, Zimbabwe dan Afrika Selatan
  • Timbuktu (Bilad el-Sudan) di Mali
  • Sefwi (Rumah Israel) di Ghana
  • Yahudi Igbo di Nigeria
  • Anglo-Saxon (Anglo-Israel) yang membentuk Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia Utara, Kanada, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru & Negara Amerika Serikat
  • Armenia
  • Aborigin Australia di Australia
  • Polinesia Maori di Selandia Baru

‘Sompa’ Dalam Bugis-Makassar yang Identik Dengan Tabut Perjanjian Dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi Bugis-Makassar ada dikenal istilah ‘Sompa’ yang berarti mahar dalam prosesi perkawinan.

kata ‘Sompa’ ini identik dengan kata ‘Sompe’ atau ‘Sempe’ yang berarti “piring” dan atau “kapal” dalam bahasa kuno di Sulawesi.

Dalam prosesi perkawinan Bugis-Makassar, pengantaraan sompa (mahar) dari mempelai laki-laki ke kediaman mempelai wanita, menggunakan apa yang disebut ‘wala-suji’.

Tapi sebenarnya, jika ditinjau secara linguistik, wala-suji itu lebih tepat jika disebut sebagai ‘sompa’ dalam maknanya sebagai “kapal” atau “bahtera”.

Bentuk desain wala-suji atau sompa dalam tradisi Bugis-Makassar ini bisa dikatakan sangat mirip dengan bentuk desain tabut perjanjian. (lihat gambar di bawah)

Walasuji/ Sompa yang digunakan untuk membawa mahar dalam prosesi perkawinan Bugis-Makassar
Tabut Perjanjian

Dan jika ‘sompa’ memiliki makna “kapal” maka, tabut perjanjian atau “Ark of the Covenant” juga menggunakan kata ‘Ark’ yang berarti: kapal.

Hal ini bahkan menjadi bahan pertanyaan tersendiri bagi orang Barat. Misalnya dalam artikel: Why Is It Called An Ark? (www.oneforisrael.org) disebutkan: “When we talk about “The Ark” in the Bible, we could either be talking about the Ark of the Covenant, or Noah’s Ark.” (ketika kita bicara tentang “The Ark” (bahtera) di dalam Alkitab, kita akan berbicara tentang “The Ark of the Covenant, atau “Noah’s Ark”)

Jadi, antara ‘Sompa’ dan ‘Tabut Perjanjian’ (Ark of the Covenant) terdapat kesamaan bentuk desain dan juga kesamaan bentuk etimologi.

Jejak matrilineal Yahudi di Nusantara

Pemerhati tradisi Yahudi umumnya menjadikan tradisi matrilineal Yahudi sebagai salah satu ciri yang digunakan untuk mengidentifikasi jejak 10 suku Israel yang hilang. Itulah makanya, suku Minangkabau di Sumatera yang menganut sistem matrilineal dianggap memiliki jejak 10 suku Israel yang hilang.

Di Sulawesi Selatan, sistem Matrilineal tidak lagi digunakan. Saya katakan “tidak lagi digunakan” oleh karena ada jejak di wilayah Luwu yang menunjukkan jika di masa kuno sistem tersebut dapat diduga kuat pernah digunakan.

Di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan, ada daerah adat bernama ‘Senga’ yang sistem pemerintahan adatnya dipimpin oleh orang yang bergelar “Arung Senga”. Yang menarik, yang diangkat sebagai Arung Senga’ haruslah wanita. Ini sudah menjadi ketentuan adat yang berlaku turun temurun dan pantang untuk dilanggar.

Di sisi lain, nama Senga’ ini sangat mirip dengan “Sena” yakni nama daerah yang disebut sebagai asal usul Orang- orang Lemba (Vhalemba/ Palemba) di Afrika Selatan yang mengklaim sebagai keturunan Yahudi.

Sejarah lisan Orang Lemba menuturkan bahwa nenek moyang mereka melakukan perjalanan dari tempat yang sekarang disebut Yaman ke Afrika untuk mencari emas, di mana mereka mengambil istri dan mendirikan komunitas baru. Lebih jauh, sejarah lisan tersebut mengatakan bahwa tempat asal mereka bernama “Sena”.

Tidak jauh dari daerah Senga’ di Luwu ini, ada pula toponim Kanna yang sangat mirip dengan toponim kanaan yang sangat banyak disebutkan dalam Alkitab Ibrani.

Di daerah Kanna (Bassesang tempe, Luwu) terdapat pula Buntu Sinaji atau Gunung Sinaji yang secara fonetis juga sangat mirip dengan nama gunung Sinai. Morfologi fonetisnya adalah: sinai – sinayi – sinaji.

Demikianlah, saran bahwa kata ‘Shilo’ yang disebut dalam Kejadian 49:10 merujuk pada makna ‘teman’ (dalam bahasa Bugis) layak dipertimbangkan, dan bahwa makna tersebut senada dengan makna tokoh mesianik dalam tradisi Buddha, Maitreya yang juga berarti: “teman”.

Memenuhi Panggilan Takdir Dalam Tahun-tahun yang Dinubuatkan

Tidak terasa sudah 2 tahun lebih saya di pulau Jawa. Awalnya, di bulan november 2019 saya berkunjung ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, niat kost beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris. 

Tapi takdir berkata lain. Dari Kediri, Allah kemudian perjalankan saya ke Yogyakarta. 

Dalam 2 tahun di pulau Jawa ini (di rentang usia 42 – 43 tahun), bisa dikatakan saya mengalami sangat banyak pencerahan spiritual. 

Di sini, untuk pertama kali saya bisa melihat ke belakang hingga jauh ke masa kecil dan, mengerti makna esensi di balik beberapa “kejadian khusus” yang saya alami di masa-masa itu.

Ketika di masa kecil saya sering mendengar suara dari dalam batin yang mengatakan “saya adalah seorang anak yang spesial” terutama ketika saya tengah sedih atau dalam kesulitan, saat mulai beranjak dewasa, saya memaknai itu sebagai hal lumrah yang ada di setiap benak anak kecil. 

Sementara keajaiban-keajaiban yang seringkali saya alami, bahkan tetap hadir di usia dewasa, saya anggap sebagai hal yang setiap orang bisa juga alami. Tapi, semua anggapan itu berubah setelah saya di sini (di kost saya yang sekarang). 

Secara holistik, sangat jelas saya melihat bahwa keberadaan saya di sini, di pulau Jawa dan terutama di kost saya sekarang ini, adalah hal yang sudah digariskan Allah (pasti) akan saya jalani.

Demikianlah, saya diperjalankan menuju “pos persinggahan” (kost saya sekarang ini), yang belakangan baru saya sadari, tampaknya, telah ada diisyaratkan dalam nubuat. Hal ini telah saya ulas dalam artikel: Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Di sini saya menjalani kehidupan baru. Memenuhi panggilan takdir dalam tahun-tahun atau zaman yang telah dinubuatkan.

Dalam Jangka Jayabaya, “zaman yang dinubuatkan” itu diisyaratkan dalam bentuk ungkapan: Ketika pasar kehilangan suara (maksudnya: online shop), Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

Jadi, ketika saya mengatakan “karena takdir telah ditentukan maka, ketakutan menjadi hal yang tidak menguntungkan!” sebenarnya, itu adalah cerminan dari apa yang saya lihat tengah berlangsung pada diri saya.

Kenyataan ini menguatkan keyakinan saya terhadap bunyi ayat yang mengatakan bahwa bahkan takdir selembar daun pun  telah ditentukan kapan dan di mana jatuhnya. Intinya, segala hal telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)

QS Al-An’am 59 : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Hal ini juga senada dengan pernyataan saya bahwa: “Setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki perannya masing-masing. Sebuah peran tetaplah sebuah peran. Pada akhirnya, tidak ada peran baik atau peran buruk. Yang ada hanya peran. Dan karena itu biarlah Allah yang memberi penilaian, seberapa baik kita menjalani peran itu.

Rangkuman Tanda-tanda yang Dinubuatkan

Sebelum memasuki pembahasan ini, terlebih dahulu ingin saya katakan bahwa, ini adalah tema yang agak berat hati untuk saya ungkap. Dan seperti biasa, saat dalam kebimbangan hati, saya senantiasa berkhidmat memohon Petunjuk-Nya. 

Alhamdulillah, Allah berkenan memberi saya ilham untuk membaca surat At Taubah ayat 41: Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bunyi ayat ini, terutama kalimat “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat,” memberi saya keteguhan hati untuk memulai. 


Dalam banyak tulisan sebelumnya, terutama tulisan yang bergenre apokaliptik, saya telah mengulas beberapa nubuat tentang akan hadirnya sosok Penyelamat di akhir zaman. Tapi, dalam tulisan-tulisan tersebut saya tidak mengungkap bahwa ciri-ciri yang disebutkan dalam nubuat tersebut, tampaknya, terlihat ada pada diri saya. 

Awalnya saya pikir, hal itu tidak perlu saya bahas. Lagi pula, saya tidak ingin orang melihat saya sebagai “orang aneh” yang mengklaim hal-hal semacam itu. Tapi, Semesta tampaknya menginginkan lain.

Dalam beberapa kesempatan, saya alami hal seperti “diingatkan” Semesta bahwa, ini bukan tentang “diri saya harus menjaga citra dalam pandangan orang-orang.” Saya diingatkan bahwa, hinaan dan caci-maki adalah hal yang lumrah diterima dalam proses penyampaian pesan. Intinya, saya harus merubah cara pandang, dari “melihat diri” menjadi “melihat peran.”

Begitu pula mengenai gaya bahasa. Bentuk kalimat yang sifatnya masih menuntut orang untuk menafsir maknanya, adalah hal yang semestinya saya hindari agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. 

Beberapa waktu lalu, peringatan mengenai hal ini saya dapatkan. Yaitu ketika tengah beristirahat di sebuah warung kopi setelah selesai sesi lari pagi.

Dari meja tempat saya duduk, terdengar jelas obrolan dua orang anak mahasiswa yang juga sedang ngopi pagi.

Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Nabi berkata: “yakhruj rajul min wara’ an-nahr yuqal lah al harith ibn haraath , ealaa muqadimatih rajul yuqal lah mansur” – artinya: Seorang pria akan muncul dari wara’ an-nahr (tempat di belakang sungai), (ia) disebut Al-Harits bin Harath (petani putra seorang petani), di depannya adalah seorang pria bernama Mansur.

Pemaknaan frase wara an-nahr sebagai “tempat di belakang sungai” dapat dilihat misalnya dalam buku The Abbasid Caliphate. Lihat capturenya di bawah ini….

Ma wara an-nahr yang dimaknai sebagai “tanah atau tempat di belakang sungai”. Dicapture dari buku The Abbasid Caliphate halaman 37. (dokpri)

Literatur yang selama ini berkembang mengidentifikasi Wara an-Nahr merujuk pada suatu wilayah di Asia Tengah yang disebut Transoxiana di masa kuno, yang pada hari ini mengacu pada wilayah  antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya, yang meliputi Uzbekistan dan Tajikistan, berbatasan dengan Afghanistan.

Letak sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya (dokpri)

Sejarah penamaannya berawal dari setelah masuknya Islam ke wilayah ini. Literatur sejarah ada menyebutkan bahwa setelah wilayah ini direbut oleh umat Islam, wilayah ini lalu disebut Mawara’ al-Nahr. 

Kuat dugaan saya bahwa pemberian sebutan tersebut ada keterkaitan dengan bunyi hadist tentang Al Mahdi lainnya, yang menyebut bahwa ia (dan pasukan panji hitam) akan akan muncul dari Khorasan. 

Secara lebih luas, wilayah Uzbekistan dan negera-negara di sekitarnya disebut Khorasan di masa lalu. Kata ‘Khorasan’ sendiri artinya: “tempat matahari terbit” atau, bisa juga disebut “timur”.

Jadi, meminjam istilah Psychohistory dari Isaac Asimov untuk diterapkan dalam membaca “geliat sejarah” dalam kasus ini, saya ingin katakan bahwa; nampaknya ada prilaku atau upaya dari umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad – yang berusaha menginterpretasi hadist tentang Al Mahdi – dan lebih jauh berusaha “mengarahkan” penulisan sejarah – berdasar asumsi bahwa wilayah Khorasan yang dimaksud dalam hadist  nabi mengacu pada wilayah di Asia Tengah. Akibatnya, pembahasan tema eskatologi dalam tradisi Islam pada hari ini umumnya lebih berkiblat di seputar asumsi tersebut.

Reinterpretasi

Ungkapan “Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” bukanlah kalimat optimistik semata yang tidak memiliki jejak hikmah di baliknya. Kenyataannya, Jalan menuju kebenaran itu sarat dengan hikmah karena padanya ada intervensi Ilahiah yang bersuara dalam kesunyian waktu. Hanya para pencari yang dikehendaki-Nya saja yang dapat mendengar dan mengerti makna suara tersebut.

Al Mahdi Will Become a “Superhero” Figure in the Real World

What we do not realize has happened in the life of the world in the last 10-20 years is that the theme of “super heroes” has so massive filled our space of consciousness. This assimilation occurs not only in children but also in us adults.

The Super Hero theme can be said to have become a new embroidery in our realm of consciousness. We all become familiar with it and see it as part of (possible) reality. It becomes new knowledge. Become part of ideas and hopes – “extreme solutions” to problems that are also extreme.

This means, actually a new paradigm is growing in our collective consciousness as human beings. Paradigm, which directs our emotional and intellectual discipline to present substantial judgments. To be known; intention, which is the basis of our moral judgment in front of God, arises from this “substantial assessment”. Because, from there triggered “behavior based on our conscious desires”.

For all these phenomena the relevant question arises, namely: What kind of cosmic mechanism does the Creator wish to adapt to in our realm of consciousness? – What are the important things back there that are “waiting to happen”?

In order to answer that question, it is important to look back at the information we have inherited from ancient times, the following …

Prophecies from various religious traditions about the figure of the Savior (Superhero)

In the sacred texts of the world’s major religions (call it Christianity, Islam, Hinduism, Buddhism, Zoroastrianism, etc.), there is a fragment of the ancient narrative about the presence of a savior at one point in the future.

This narrative is like information that is constantly being recycled. It continues to be present in various layers of age and human civilization which, despite different names, however, the purpose and moral substance carried by the figure of the savior in question can be said to remain the same.

Yes, since time immemorial, this information has been successfully transmitted into human memory from time to time – integrated as part of religious doctrine. On the other hand, this is indeed part of a little oasis in the religious world that can raise hope in the aspect of faith. This is often the subject of insults from secular people. In fact, such insults sometimes also come from members of the religious community itself – from groups who consider belief in future predictions to be forbidden.

Al Mahdi Akan Menjadi Sosok “Superhero” di Dunia Nyata

Apa yang tidak kita sadari terjadi dalam kehidupan dunia dalam 10-20 tahun terakhir adalah bahwa telah begitu masifnya tema “pahlawan super” mengisi ruang kesadaran kita. Asimilasi ini terjadi tidak saja pada anak-anak tapi juga kita orang dewasa.

Tema Pahlawan Super bisa dikatakan telah menjadi sulaman baru dalam alam kesadaran kita. Kita semua menjadi begitu mengenalinya. Kita semua akrab dan melihatnya sebagai bagian dari (kemungkinan) realitas. Ia menjadi pengetahuan baru. Menjadi bagian dari ide dan harapan – sebagai “solusi ekstrim” untuk masalah yang juga ekstrim.

Untuk semua fenomena ini, pertanyaan yang relevan muncul, yaitu: Mekanisme kosmik seperti apa yang ingin diadaptasi oleh Sang Pencipta dalam alam kesadaran kita? – Apa hal penting di belakang sana yang “menunggu untuk terjadi”?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk melihat kembali informasi yang kita warisi dari zaman kuno, berikut ini…

Nubuat dari berbagai tradisi agama tentang sosok Sang Penyelamat (Superhero)

Dalam teks suci agama-agama besar dunia (sebut saja Kristen, Islam, Hindu, Budha, Zoroastrianisme, dll.), Terdapat kepingan narasi kuno tentang kehadiran sosok penyelamat di satu titik di masa depan.

Narasi ini seperti informasi yang terus didaur ulang. Terus hadir di berbagai lapisan zaman dan peradaban manusia yang, walaupun berbeda nama, namun, tujuan dan substansi moral yang diusung sosok penyelamat yang dimaksud bisa dikatakan tetaplah sama.

Sosok Sang Penyelamat itu disebut ‘Messiah‘ dalam bahasa Ibrani dan ‘Crist‘ dalam bahasa Yunani. Kedua sebutan ini sama-sama berarti “yang diurapi,” yaitu seseorang yang secara khusus dipilih oleh Tuhan dan diberi seperangkat kuasa demi kesuksesan misinya. Dia akan menjadi demonstrasi terakhir dan bukti belas kasih Tuhan yang senantiasa ingin memperkenalkan umat manusia jalan hidup yang benar.

Bagi umat Hindu, sosok penyelamat yang ditunggu disebut ‘Kalki’, yang secara harfiah berarti: “melakukan segala sesuatu” / “kotor, penuh dosa”, hal ini menunjukkan bahwa sebelum akhirnya terlahir kembali sebagai avatar Wisnu, ia sebelumnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari melakukan kesalahan. Dengan kata lain, ia akan mengalami “pencerahan” untuk terlahir kembali sebagai avatar Wisnu.

Pesan Prabu Siliwangi Tentang Budak Angon (Al Mahdi)

Prabu Siliwangi berpesan “suatu saat nanti akan datang “Budak Angon” (budak= anak; angon=gembala). Yang ia gembalakan ranting dan daun kering (analogi pena dan kertas). Ia terus lakukan kegemarannya, menjelajah dan mengumpul apa yang ia temui, yakni sejarah umat manusia zaman ke zaman.

Menariknya, wangsit Prabu Siliwangi ini nampaknya sejalan dengan agenda Allah di akhir zaman, yaitu membuka secara terang benderang perjalanan sejarah umat manusia, dari yang awal hingga paling akhir, layaknya sebuah film menjelang akhir yang membuka plot cerita sejelas-jelasnya. (Hal telah saya bahas khusus dalam tulisan ini: Apokalips, Penyingkapan Hal-hal yang Selama Ini Tersembunyi dari Umat Manusia)

Ada kemungkinan, Budak Angon yang disebut Prabu Siliwangi adalah “hamba Allah” yang berperan sebagai pengungkap secara terang benderang riwayat sejarah umat manusia.

Hal menarik lainnya, Ratu Adil yang ada disebutkan dalam wangsit Prabu Jayabaya, ternyata disebutkan pula oleh prabu Siliwangi, bahkan, nampaknya banyak kalangan menganggap bahwa sosok Budak Angon adalah sama dengan Ratu Adil.

Saya pribadi cenderung sepakat dengan pendapat tersebut. Terutama karena nama “Budak Angon” ataupun “Ratu Adil” lebih merupakan sebutan peran. Jadi, ada saat di mana sosok misterius itu menjalani peran sebagai “anak gembala”, di saat lain menjalani peran sebagai “Raja yang Adil”.

Pemahaman ini dapat dilihat sejalan dengan sebutan Satria Piningit, yang dapat dimaknai satria yang ditahan kemunculannya hingga tiba pada waktu yang ditentukan. Pemahaman nama satria piningat ini kelihatan berkorelasi pula dengan sosok maitreya dalam tradisi Buddhist.

Seperti halnya satria piningit, sosok maitreya dalam tradisi Buddhist juga biasanya digambarkan dalam visual bentuk patung dengan pose duduk mengongkang kaki, menyiratkan tengah menunggu waktu untuk kemunculannya.

Jika kita bergeser ke sosok eskatologi dalam tradisi Islam, di sana ada nama al Mahdi, nama ini pun pada dasarnya sebutan gelar. Mahdi artinya “orang yang mendapat petunjuk”.

Satria Piningit, Budak Angon, Ratu Adil, Maitreya, hingga Al Mahdi, pada umumnya dipercaya dalam masing-masing tradisi, sebagai seorang sosok anak muda. Ini bisa menguatkan asumsi jika kesemua nama itu merujuk pada satu orang yang sama.

Mengenai siapa sesungguhnya sosok anak muda misterius ini, adalah hal yang tidak akan diungkap, sebelum tiba pada waktu yang ditentukan. Orang yang tahu esensi, seperti Prabu Siliwangi ataupun Prabu Jayabaya, tidak akan mengungkap walaupun sangat mungkin bahwa mereka tahu.

Sisi Lain Sosok Imam Mahdi yang Tidak Terungkap Selama ini

Dalam tulisan sebelumnya (Mengenal Lebih Dekat “Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi“) telah saya jelaskan bahwa pada hari ini, kita mendapati kenyataan bahwa pemikiran dunia modern cenderung mengasimilasi tradisi Maitreya dengan Mesiah, atau pun Imam Mahdi. 

Setidaknya, nama-nama itulah yang memang kita warisi sebagai ingatan dari masa lalu, tentang akan hadirnya tokoh suci, penerus para nabi sebelumnya, yang akan memulai era yang sepenuhnya baru di masa mendatang.

Pembahasan saya mengenai koherensi (Kepaduan Makna) tekstual yang terdapat dalam literatur eskatologi yang membahas Maitreya (mewakili tradisi Buddha) dan Imam Mahdi (mewakili tradisi Islam) telah saya tuang dalam artikel lain berjudul: Menakar Kesiapan Imam Mahdi Memasuki Panggung Akhir Zaman.

Pemikiran modern yang mewacanakan kesamaan sosok penyelamat akhir zaman yang disebutkan dalam berbagai tradisi agama, merupakan terobosan yang baik. Data-data tersebut akan saling melengkapi dan memungkinkan kita mendapatkan gambaran yang lebih detail terkait sosok Sang Penyelamat akhir zaman. 

Karakter telaah yang dimunculkan pun menjadi lebih logis dan realistis. Menghindarkan kita dari bentuk pemikiran abad-abad sebelumnya yang secara dominan berkarakter okultis.

Perbedaan pendapat semacam ini sebenarnya sudah sejak lama terjadi. Misalnya, jika aliran Buddhis lainnya percaya bahwa Maitreya saat ini tinggal di Surga Tusita, maka, dalam Buddhisme Theravada dikatakan, kemunculan Maitreya tidak akan berbeda dengan kemunculan Buddha Gautama, yang terlahir sebagai manusia yang belum tercerahkan, berproses di awal hidupnya seperti manusia kebanyakan, hingga akhirnya tercerahkan.

Dalam tradisi Islam pun demikian. Imam Mahdi disebutkan sebagai sosok manusia biasa yang akan mendapatkan hidayahnya dalam semalam.

Hadist yang membahas hal ini, diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Al-Mahdi termasuk golongan kami, ahli bait, Allah memperbaikinya dalam semalam. (HR. Ahmad 655, Ibnu Majah 4223, dishahihkan Ahmad Syakir dan dinilai Hasan oleh al-Albani).

Terkait kalimat “Allah memperbaikinya dalam semalam“, beberapa ulama memberikan keterangan sebagai berikut:

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan: Artinya, Allah menerima taubatnya, memberikan taufiq dan ilham serta petunjuk untuknya, setelah sebelumnya dia tidak seperti itu. (an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, 1/55).

Imam Ali al-Qori menerangkan: Allah memperbaikinya dalam semalam’ artinya Allah memperbaiki urusannya, mengangkat kemuliaannya dalam waktu semalam, dalam satu waktu di malam itu, di mana para tokoh masyarakat sepakat untuk membaiatnya sebagai khalifah. (Mirqah al-Mafatih)

Menakar Kesiapan Imam Mahdi Memasuki Panggung Akhir Zaman

(gambar: commons.wikimedia.org)

Dalam tulisan sebelumnya ( Mengenal Lebih Dekat “Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi” ) saya telah mengulas adanya kesamaan figur penyelamat di akhir zaman yang terdapat dalam tradisi berbagai agama.

Pada bagian ini, pembahasan akan lebih kepada mengulas koherensi (Kepaduan Makna) tekstual yang terdapat dalam literatur eskatologi yang membahas Maitreya (mewakili tradisi Buddha) dan Imam Mahdi (mewakili tradisi Islam).

Saya melihat, menemukenali koherensi tekstual dari literatur kedua tradisi ini, akan dapat membantu kita dalam upaya lebih mengenali realita “figur penyelamat akhir zaman” yang sesungguhnya, sehingga pada gilirannya, kita dapat menakar seperti apa dinamika yang kemungkinan “Sang Penyelamat” hadapi dalam menjalani perannya.

Dapat dikatakan bahwa pembahasan ini merupakan langkah kritis mengantisipasi fakta yang kerap kita temukan dalam dunia literatur sejarah, bahwa “kenyataan atau kejadian sesungguhnya, tidaklah sesimpel sebagaimana yang dinarasikan”. 

Sang Penyelamat Sebagai Manusia Biasa

Dalam buku “Maitreya, the Future Buddha” Alan Sponberg mendeskripsikan sosok Maitreya sebagai berikut:

Kami menemukan dia kadang-kadang digambarkan sebagai seorang bodhisattva yang rajin memupuk jalan menuju pencerahan di bumi dan kemudian sebagai seorang bodhisattva surgawi yang gemerlap di kediamannya di surga Tusita.

Kadang-kadang ia muncul seperti individu duniawi lainnya yang bertujuan mengabdi dan berkontemplasi, di sisi lain tampil sebagai pemimpin militan ekstrimis politik yang berusaha untuk membangun sebuah tatanan baru di masa sekarang ini.

Kita kadang-kadang melihatnya sebagai penerima pengakuan dosa dan kadang-kadang sebagai inspirator bagi para sarjana. 

Mungkin tidak ada figur lain dalam jajaran Buddhis yang menggabungkan universalitas dan kemampuan beradaptasi dengan cara yang dilakukan Maitreya.

Deskripsi Alan Sponberg ini menunjukkan jika Maitreya adalah manusia biasa yang menjalani hidup layaknya orang kebanyakan. Ungkapan seperti individu duniawi lainnya” menegaskan hal itu.

Di sisi lain, dalam tradisi Islam, Imam Mahdi disebutkan adalah orang biasa yang bahkan ia sendiri tidak mengetahui jika dirinya adalah Imam Mahdi yang dinantikan, kecuali setelah tiba pada momentum di mana Allah menghendaki untuk menampilkannya di tengah umat manusia.

Poin kohorensi yang ditunjukkan tema eskatologi dari tradisi Buddha dan tradisi Islam di atas adalah bahwa: “sang penyelamat akhir zaman” adalah manusia biasa, sama seperti kita.

Mengenal Lebih Dekat “Mesiah, Maitreya, dan Imam Mahdi”

Doktrin tentang kehadiran sosok penyelamat di akhir zaman sesungguhnya telah menjadi tema pembahasan selama ribuan tahun dalam berbagai tradisi agama.

Sekitar 2500 tahun yang lalu, ketika Sang Buddha Gautama sedang berkhotbah di Kerajaan Magadha, dia menyatakan tentang akan datangnya seorang Buddha di masa depan. Murid-muridnya yang menunjukkan minat yang besar meminta Buddha Gautama untuk berbicara lebih banyak tentangnya.

Buddha Gautama Kemudian mulai berbicara tentang Maitreya dan kemampuannya yang tak terukur, bahwa Maitreya akan dilahirkan ke dunia moral tertinggi dan kesalehan terdalam.

Sejak saat itu, wacana Maitreya sebagai penyelamat di akhir zaman menjadi doktrin dalam tradisi Buddha dari waktu ke waktu.

Kesengsaraan yang senantiasa meliputi kehidupan manusia di setiap bangsa dari masa ke masa, menginspirasi hadirnya kata “Sang Penyelamat” sebagai ungkapan yang agung, didasari kepercayaan dan harapan bahwa kehadiran sang penyelamat tersebut akan dapat menghilangkan penindasan atau apa pun yang menimbulkan kesengsaraan dalam hidup.

Di Israel kuno, penyelamat disebut “Masiah“, sebuah kata Ibrani yang berarti “yang diurapi,” ini merupakan asal kata “Mesianisme,” yang oleh pemikir modern mendefinisikannya sebagai jenis pemikiran dan gerakan yang percaya bahwa penyelamat akan datang pada akhir dunia ini – menghilangkan penindas dan menciptakan masyarakat yang ideal.

Konsep penyelamat ini juga diterapkan pada Yesus Kristus oleh orang-orang Kristen awal berbahasa Yunani. Kata “Kristus” berasal dari kata Yunani “Christos“, yang berarti “diurapi“. 

Christos merupakan terjemahan dari kata Ibrani “Masiah” (Mashiyach), umumnya dieja dalam bahasa Inggris mesias , yang juga berarti “diurapi“.

Shigeru Kamada, Profesor Studi Islam dari Universitas Tokyo dalam tulisannya “Mahdi and Maitreya (Miroku): Saviors in Islam and Buddhism” mengatakan: 

Sebenarnya, Mesianisme berarti jenis pemikiran dan gerakan yang berkembang dalam kerangka tradisi Yahudi-Kristen, tetapi dalam arti yang lebih luas, konsep ini dapat ditafsirkan untuk mencakup tradisi eskatologis dari berbagai agama lain yang mengharapkan kedatangan penyelamat. Mahdisme adalah salah satu pemikiran seperti itu yang muncul dalam konteks Islam, dan itu memberikan dasar doktrinal untuk reformasi sosial yang dirancang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dari penderitaan mereka.

Dalam tradisi Islam, diyakini bahwa Imam Mahdi akan datang ke dunia ini sebagai penyelamat di akhir zaman. Kata Mahdi berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang dibimbing dengan benar“, atau “yang mendapat hidayah“.

Tidak ada referensi langsung tentang Imam Mahdi dalam Quran. Pembahasan mengenainya berasal dari beberapa hadits. 

Demikianlah, Hari ini, kita mendapati kenyataan bahwa pemikiran dunia modern cenderung mengasimilasi tradisi Maitreya dengan Mesiah, atau pun Imam Mahdi.

%d bloggers like this: