Buku Kebenaran dari Timur, Sebuah Kampanye Akhir Zaman

1 Shares
Reading Time: 5 minutes

Membaca buku ini akan memberi anda gambaran besar esensi-esensi tentang manusia dan peradabannya. Hal yang telah menjadi pertanyaan dan pencarian umat manusia selama ribuan tahun.

Buku ini merangkum episode sejak Adam di surga — di titik ketika Allah mengajarkan Adam berbahasa —  yang diisyaratkan dalam surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama…”  — yang pada dasarnya dapat dimaknai sebagai tindakan Allah mengajarkan Adam berbahasa, oleh karena “bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama.”

Untuk mencermati kandungan makna ayat tersebut, pertanyaan kuncinya adalah: apakah yang dimaksudkan ‘nama’ dalam ayat tersebut? – jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuka jalan untuk memahami esensi dari ayat tersebut.





Jawaban filosofis dari pertanyaan tersebut yaitu: “Nama adalah cara kita menyebut sesuatu.” Misalnya, kita menyebut ‘minum’ untuk tindakan menuangkan air ke dalam mulut lalu menelannya masuk ke tenggorokan. Dalam tata bahasa nama tindakan ‘minum’ masuk dalam golongan kata kerja.

Demikianlah, dapat disimpulkan “Bahasa sesungguhnya adalah kumpulan nama-nama”, yaitu: nama-nama benda (kelas kata benda), nama-nama tindakan (kelas kata kerja), dan nama-nama sifat (kelas kata sifat).

Teman-teman, dukung saya dengan subcribe di Channel Youtube ini... itu akan sangat membantu channel Youtube ini untuk terus berkembang. Terima kasih!

Episode ketika Adam diajarkan bahasa ini sangat penting untuk diungkap oleh karena dari titik inilah sesungguhnya peradaban umat manusia berawal-mula dan, menjadi dasar bagi penjelasan penting selanjutnya, yaitu tentang Lauh Mahfuzh sebagai server alam semesta di mana semua alam pikiran umat manusia terhubung. Oleh karena, bahasa-lah yang memungkinkan manusia dapat berpikir — dan bahwa dengan cara (berpikir) itulah manusia dapat terhubung ke Lauh Mahfuzh.



Ini sesuai dengan pendapat Humboldt bahwa: “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” — kurang lebih artinya: bahasa adalah yang memformatif organ pemikiran… Karena itu pikiran dan bahasa adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pendapat Humboldt dikuatkan oleh Jerry Fodor dalam bukunya The Language of Thought (1975), yang memperkenalkan The language of thought hypothesis (LOTH), yakni sebuah hipotesis bahwa representasi mental memiliki struktur linguistik, atau dengan kata lain, pemikiran itu terjadi dalam bahasa mental.

Jadi, di bagian-bagian awal buku ini saya mengulas tentang: bahasa, pikiran, dan Lauh Mahfuzh — Sebagai instrumen-instrumen paling mendasar yang memungkinkan peradaban umat manusia dapat terselenggara. Pembahasan ini analoginya seperti membahas bahasa pemrograman komputer yang berfungsi sebagai instruksi standar untuk memerintah mesin komputer (persamaan atau analogi untuk sistem otak manusia) dan, keterhubungan komputer ke internet (sebagai analogi keterhubungan pikiran manusia dengan Lauh Mahfuzh).



Dapat dikatakan, apa yang saya ulas di bagian-bagian awal buku Kebenaran dari Timur (volume 1) adalah pembahasan yang menyentuh dan atau membuka sisi esensi yang dikandung bunyi Surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama…” — yang selama ribuan tahun berlalu, tidak sekalipun pernah mendapat penafsiran yang semestinya oleh para mufassir atau cendekiawan muslim.

Saya tanya: Apakah anda pernah mendapatkan penjelasan bunyi surat Al Baqarah ayat 31 dikemukakan oleh ilmuwan Islam dalam kitab-kitabnya, seperti yang saya sampaikan?

Saya telah mencermati subjek ini. Tidak seorang ulama pun yang saya dapati pernah menyampaikan penjelasan seperti yang saya sampaikan. Setidaknya hingga abad kesepuluh ketika Al Tabari menyusun The History of al-Tabari — dalam volume 1, pada bagian di mana Al Tabari merangkum pendapat beberapa ulama tentang makna bunyi surat Al Baqarah ayat 31  — saya tidak menemukan ada seorang pun ulama yang menyampaikan pendapat seperti yang saya sampaikan.



Misalnya, Menurut Muhammad b. ‘Amr – Abu’ Aşim (al-Nabil) – ‘Isa b. Maymun – Ibn Abi Najih – Mujahid, yang mengomentari firman Tuhan: “Dan Dia mengajarkan Adam semua nama,” – mengatakan: (Nama-nama) semua yang telah diciptakan Allah.

Menurut Ibn Waki – Sufyan – Khasif – Mujahid, yang mengomentari firman Allah: “Dan Dia mengajarkan Adam semua nama,” – mengatakan: Dia mengajarinya nama-nama segala sesuatu.

Menurut Sufyan (b. Waki ‘) – ayahnya – Sharik (b.’ Abdallah al-Nakha’i) — Salim al-Aftas — Sa’id b. Jubayr: Tuhan mengajarinya nama semuanya hingga ke unta (ba’ir), sapi, dan domba.

Menurut al-Hasan b. Yahya – ‘Abd al-Razzaq – Ma’mar – Qatadah, yang mengomentari firman Allah: “Dan Dia mengajarkan Adam semua Nama-nama,” – mengatakan: Dia mengajarinya nama segala sesuatu, ..seperti: Ini adalah gunung, ini adalah seperti itu, dan itu adalah seperti ini dan itu. “Kemudian Dia mempresentasikan” nama-nama itu kepada para malaikat dan berkata: Beritahu Aku nama-nama ini, jika Anda mengatakan kebenaran!”


[Muhammad ibn Yarir al-Tabari. The History of al-Tabari Vol. 1: General Introduction and From the Creation to the Flood. translated by Franz Rosenthal (New York: State University of New York Press, 1989) hlm 267-268]


Jadi, jika tidak ada seorang pun ulama yang menyampaikan seperti apa yang saya sampaikan, apakah saya yang salah? apakah kamu ingin mengatakan pendapat saya cocokologi? — Afala Ta’qilun, apakah kamu tidak berpikir?

***

Setelah membahas “esensi bahasa Adam” dan jejak perkembangannya ke dalam bahasa Austronesia, saya melanjutkan pembahasan ke wilayah garapan Nabi Idris, yaitu “makna-makna simbolik” yang akrab digunakan orang-orang di masa kuno.

Kita ketahui, Hermeneutika sebagai salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna, berasal dari nama lain Idris, yaitu: Hermes. Jadi, belajar Hermeneutika sesungguhnya adalah upaya mengikuti alam berpikir nabi Idris atau Hermes agar makna sesuatu yang sifatnya simbolik dapat diinterpretasi dengan benar.



Mengungkap wilayah garapan Nabi Idris ini penting oleh karena hampir semua hal yang kita warisi dari masa kuno seperti bahasa, aksara, simbol, dan konsep kosmologi, tumbuh berkembang dalam asuhan para pemikir, begawan, resi, dan hierophant yang terinfluens berat dengan alam berpikir nabi Idris. Mereka adalah pemilik otoritas — menafsir dan sekaligus penyimpan makna di balik kalimat metafora, teka-teki dan juga simbol-simbol yang merepresentasi misteri suci dan prinsip-prinsip misterius.

Dalam buku Kebenaran dari timur volume 1 bagian 33, saya membahas khusus hal ini dengan judul: Bahasa Senja (Twilight language) – dari bahasa Sansekerta “sandhybhasa”: pengaplikasian gaya metafora untuk menyamarkan pesan sakral.

***

Hal terpenting yang juga saya bahas dalam buku KEBENARAN DARI TIMUR Vol. 1 & 2 adalah mengenai tokoh-tokoh besar yang hadir di dunia sejak masa yang sangat kuno hingga ribuan tahun selanjutnya. Yaitu mereka-mereka yang hadir menjalani perannya sebagai “pemberi dampak besar” dalam perjalanan sejarah umat manusia — dalam hal baik maupun dalam hal buruk.



Hikmah yang penting untuk diambil dalam pembahasan ini adalah bahwa pada hakikatnya, setiap manusia yang terlahir ke dunia memang memiliki perannya masing-masing. Sebuah peran tetaplah sebuah peran. Pada akhirnya, tidak ada peran baik atau peran buruk. Yang ada hanya peran. Dan karena itu biarlah Allah yang memberi penilaian.

Serusak bagaimana pun tatanan hidup di dunia. Sebanyak apa pun ketidakadilan di muka bumi, pada akhirnya akan tiba saat yang dijanjikan Allah di mana keadilan dan nilai-nilai kebaikan ditegakkan di muka bumi. Ini adalah saat ketika Al Mahdi Al Muntazar (yang dinantikan) dihadirkan Allah di muka bumi. Kehadirannya akan menjadi demonstrasi terakhir dan bukti keinginan belas kasih Tuhan untuk mengenalkan manusia jalan hidup yang benar.



Pembahasan tentang Al Mahdi “sang penyelamat” sebagai tokoh utama akhir zaman yang telah dinubuatkan kehadirannya selama ribuan — disebut dalam banyak bentuk nama atau julukan — saya bahas di dalam buku Kebenaran dari Timur volume 2.

Materi ulasannya, bukan saja berasal dari nubuat akhir zaman yang diriwayatkan dalam tradisi Islam, namun juga dalam tradisi-tradisi lain. Seperti dari tradisi Hindu, Buddha, Ibrani, Taoisme dan juga dari nabi dan tokoh-tokoh besar yang secara intuitif saya melihat bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pernyataan Simbolik suatu “Penglihatan” atau ekspresi esoteris atau bisa dikatakan bersifat nubuat (nubuwwah). Seperti wahyu yang diberikan kepada Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya), wangsit Prabu Jayabaya, Prabu Siliwangi, dan Nostradamus.

***

Demikianlah, terungkapnya hal-hal yang telah menjadi misteri tak terpecahkan selama ribuan tahun dalam sejarah umat manusia, dapat dilihat sebagai gejala atau tanda telah dimulainya hitungan mundur akhir zaman. Ini merujuk pada makna dua terminologi yang akrab kita temukan digunakan dan terkait erat dengan pembahasan tema eskatologi, yaitu kata ‘apocalypse’ dan ‘kiamat.’



Etimologinya apocalypse berasal dari Latin ‘apocalypsis’, dan Yunani kuno ‘apokalupsis’, yang secara harfiah berarti ‘mengungkap’ (apo = setelah; kalupto = aku menutupi). Karenanya apocalypse dapat diartikan: “penyingkapan atau pengungkapan hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui dan yang tidak dapat diketahui selain melalui penyingkapan.

Dari makna terminologi apocalypse ini, dapat kita simpulkan bahwa, gejala yang menandai telah masuknya masa akhir zaman adalah manakala telah banyak hal yang sebelum tidak diketahui dan menjadi misteri sekian lama, telah mengalami penyingkapan atau pengungkapan.

Sementara itu etimologi kata ‘kiamat’ berasal dari kata ‘qiama’ dalam bahasa Arab yang berarti: bangkit atau tegak.



Demikianlah, dari makna kedua terminologi yang terkait dengan momen akhir zaman di atas, dapat kita pahami bahwa saat menuju akhir dunia adalah saat terungkapnya satu demi satu hal-hal yang sebelumnya bersifat misteri dan menjadi teka-teki sejarah tak terpecahkan. Demikian pula sejarah yang sebelumnya menyimpang akan pula mendapat pelurusan.

Intinya, akhir zaman adalah momen pengungkapan dan pelurusan berbagai hal, yang secara esensi dapat dipahami sebagai “saat di mana kebenaran ditegakkan.”

1 Shares