Nusantara Kuno

Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba

Pada masa sekarang, ada banyak pihak yang mengklaim Nusantara sebagai negeri Saba di masa lalu. Namun klaim-klaim tersebut umumnya didasari oleh keberadaan beberapa toponim di…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

4 menit baca
Nusantara Kuno
Daftar isi

Pada masa sekarang, ada banyak pihak yang mengklaim Nusantara sebagai negeri Saba di masa lalu. Namun klaim-klaim tersebut umumnya didasari oleh keberadaan beberapa toponim di Nusantara yang dianggap identik dengan nama "Saba atau Sabah", antara lain: Wonosobo, sabah (Malaysia), dan masih banyak lagi.

Klaim yang didasari keberadaan toponim yang dianggap identik seperti ini akan menemukan kesulitan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat pula toponim atau etnonim yang identik dengan Saba di wilayah belahan bumi lain, didukung dengan bukti-bukti yang lebih konkrit berupa manuskript kuno dan berbagai artefak lainnya.

Contohnya "kebra nagast", catatan kuno dari abad ke-14, yang berisi penjelasan tentang bagaimana Ratu Syeba (Ratu Makeda dari Ethiopia) bertemu Raja Salomo dan tentang bagaimana Tabut Perjanjian datang ke Etiopia dengan Menelik I (Menyelek). Terkait hal ini, David Allan Hubbard menjelaskan Dalam tulisannya "The Literary Sources of the Kebra Nagast" (Dissertation. University of Saint Andrews,1956).

Juga terdapat temuan arkeologis di wilayah Yaman (Arab selatan) mengenai eksistensi kerajaan Saba di wilayah tersebut pada masa kuno. Sebagaimana yang dijelaskan Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman (2007) dalam buku "David and Solomon: In Search of the Bible's Sacred Kings and the Roots of the Western Tradition" yang menegaskan negeri Saba letaknya di Arabia Selatan.

Namun pun demikian, klaim Nusantara sebagai Negeri Saba pada masa lalu, tidak sepenuhnya lemah. Terdapat beberapa catatan kuno yang secara signifikan menyebutkan nusantara sebagai Negeri Saba.

Laporan Giovanni de Marignolli (abad ke-14), seorang musafir Katolik yang mengatakan menyambangi Negeri Saba dalam perjalanan laut dari Cina menuju kembali Italia

Laporan Nusantara sebagai negeri Saba yang sesungguhnya, datang dari catatan perjalanan Giovanni de Marignolli, seorang musafir katolik terkemuka dari Eropa yang berkelana ke Cina pada abad-14 Masehi. Catatan perjalanan Marignolli itu kemudian diedit oleh Gelasius Dobner dalam "Monumenta historica Bohemi" (Praha, 1768) dalam bentuk bahasa latin. Ada pun terjemahan bahasa inggrisnya dapat ditemukan dalam buku Sir Henry Yule "Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China".

Ia mengatakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Cina untuk kembali ke Avignon (Italia), ia memutuskan menggunakan jalur laut, setelah sebelumnya menggunakan jalur darat untuk memasuki wilayah Cina, yang dengan demikian, memungkinkan ia untuk dapat mampir di Nusantara dan India. Dalam perjalanan pulang ini ia mengatakan menyempatkan diri mengunjungi negeri Saba yang disebut dalam kitab suci, yang ia temukan masih dipimpin oleh seorang ratu.

Ia menyebut kerajaan itu terletak di pulau paling indah di dunia. Dinding istana dihiasi dengan gambar-gambar historis yang bagus; kereta dan gajah banyak digunakan, terutama untuk para wanita; ada gunung yang sangat tinggi, yang disebut Gybeit atau "Yang Terberkati." Ratu memperlakukan dengan baik para pelancong dengan menghadiahkan mereka ikat pinggang emas; ada beberapa orang-orang Kristen di sana.


Jika negeri Saba yang ia datangi adalah wilayah nusantara, maka kemungkinan pada saat itu ia berkunjung ke jawa, dan kerajaan yang ia kunjungi adalah majapahit yang pada saat itu dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi segera setelah Raja Jayanagara mangkat, hal itu terbukti dari piagam Berumbung yang dikeluarkan oleh Rani Tribhuwana Tunggadewi pada tahun Saka 1251 bulan Bhadra (Agustus-September 1329 Masehi). Waktu ini sesuai dengan kisaran tahun perjalanan Marignolli di asia. (Piagam Berumbung, 1329, disinggung oleh N.J. Krom _dalam "Epigraphisce Aanteekeningen XIII", T.B.G. LVIII, hlm. 161; diumumkan pada tahun 1915 dalam O.V., no. 2, hlm. 68; dibahas oleh F.H. van Naerssen dalam B.K.I. 1933, hlm. 239-258).

Dalam buku yang disusun Sir Henry Yule terkait perjalanan Marignolli, terdapat bagian yang memaparkan beberapa perbedaan pendapat yang terjadi terkait negeri Saba yang dikunjungi Marignolli, seperti Meinert yang mengatakan bahwa itu jelas Jawa, sedangkan Profesor Kuntsmann menyebutnya sebagai Maldives. Ada juga bagian dalam kutipan yang mempertimbangkan letak kerajaan Saba antara di wilayah Jawa dan Sumatera, Namun sepertinya, pada akhirnya Sir Henry Yule kembali pada pendapat semula yakni; Jawa.

Catatan "Tuhfat al-Nafis" dari Raja Ali Haji Ibn Ahmad

Sumber lain yang mengungkap adanya keterkaitan Negeri Saba dengan wilayah nusantara adalah catatan "Tuhfat al-Nafis" Raja Ali Haji Ibn Ahmad, yang kemudian diterjemahkan oleh Virginia Matheson and Barbara Watson Andaya (1982) dengan judul "The Precious Gift (Tuhfat al-Nafis) Raja Ali Haji Ibn Ahmad". Dalam buku tersebut terungkap bahwa ...Raja-raja Bugis yang melakukan perjalanan ke barat dari tanah Bugis berasal dari Sitti Mallangkik, Ratu dari sebuah negara bernama Luwu. Beberapa tradisi Bugis menduga bahwa ia berasal dari Puteri Balkis, Ratu Sheba, yang merupakan istri dari Nabi Sulaiman.

Catatan "The Geography" dari Ptolemy, menyebut Nusantara sebagai Sabadeiba (merujuk pada nama Negeri Saba)

Catatan kuno lainnya yang menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba, dapat pula ditemukan dalam catatan "The Geography" Ptolemy yang menyebutkan wilayah ini sebagai Sabadeiba. Juga, Catatan Cina kuno yang menyebut kawasan di laut selatan (nan hai) yang kita kenal sebagai nusantara atau Indonesia pada hari ini sebagai: She-po atau Cho-po.

Terkait kesemua fakta-fakta yang terurai di atas, secara pribadi saya berpandangan bahwa keberadaan Kerajaan Saba di Yaman (Arab Selatan) dan Kerajaan Saba di Ethiopia, merupakan wujud dari migrasi atau penyebaran orang-orang Nusantara pada masa kuno ke wilayah barat, yang membangun koloni baru di sana, dengan tetap menggunakan nama atau identitas awalnya.

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat. Salam.

Baca artikel terkait:

Ini Dasar dan Fakta bahwa Negeri Sabah atau “Negeri Pagi” Adalah Identitas Wilayah Nusantara di Masa Kuno

Ini Alasan Pada Masa Kuno Nusantara Disebut Negeri Sabah atau Negeri Pagi (Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno)

Kaitan Negeri Saba dan Wangsa Surya

Negeri Sabah atau Negeri Pagi, Identitas Nusantara di Masa Kuno

Artikel Terkait

Komentar