Dalam tulisan sebelumnya "Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba" telah saya ungkap beberapa catatan dari masa lalu yang kuat mengindikasikan Nusantara sebagai negeri saba yang ada disebut dalam Al-Kitab maupun Al-Quran.
Pertanyaan yang mestinya timbul kemudian adalah, Jika benar Nusantara adalah negeri Saba, mengapa ia disebut negeri saba? apa alasannya?
Sabah (صباح) kata dalam bahasa Arab yang berarti "Pagi"
Dalam bahasa Indonesia yang kita gunakan pada masa sekarang, "awal hari" kita sebut dalam dua bentuk kata yaitu: Subuh dan pagi.
Kata "subuh" dapat diduga merupakan bentuk morfologi dari kata sabah (صباح) yang dalam bahasa Arab berarti "pagi".
Demikianlah, Wilayah Nusantara yang kita duga sebagai "Negeri saba (sabah)," akan kita temukan kejelasannya ketika kita memahaminya dengan makna "Negeri Pagi".
APAKAH ADA TOPONIM LAIN DI NUSANTARA YANG JUGA MENGANDUNG MAKNA "PAGI"? UNTUK MENGUATKAN HIPOTESIS INI? karena jika memang Nusantara adalah negeri saba (sabah) atau negeri pagi, mestinya ada pula toponim lain di nusantara yang juga memiliki makna "pagi" tapi disebut dalam bahasa tradisional yang lain.
JAWABNYA: ADA. berikut ini beberapa toponim atau pun etnonim yang juga bermakna "pagi" yang dapat banyak kita temukan digunakan terutama di wilayah sebelah timur Nusantara.
Mori atau Maori yang berarti "pagi"
Di wilayah timur, tempat bersemayamnya Helios sang Dewa Matahari dalam mitologi Yunani, terdapat banyak toponim dan etnonim yang menggunakan kata "Mori".
Seperti Suku Maori (penduduk asli Selandia Baru), Suku Mori di Sulawesi tengah, Pulau Mori di muara sunga Malili di Luwu Timur, dan Puncak Nene' Mori yang merupakan puncak kedua tertinggi di pegunungan Latimojong setelah puncak Rante Mario.
Mungkin pada pikiran Pembaca akan segera timbul pertanyaan lain: apa pula hubungan antara Helios sang Dewa Matahari, Mori, dan Negeri Pagi yang menjadi judul artikel ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca untuk terlebih dahulu memahami filosofi "Bangsa Matahari" yang mendasari lahirnya mitologi Dewa Matahari, yang dalam kurun waktu ribuan tahun perjalanan peradaban manusia, terus eksis, hadir di peradaban berbagai bangsa dengan sebutan yang berbeda-beda.
Kita patut bersyukur karena pemahaman filosofi yang mendasari spirit peradaban manusia selama ribuan tahun itu dapat kita temukan terekam dalam catatan Himne tertua Veda, yakni pada himne 1.115 Rgveda yang menyebutkan:
Surya sebagai penghormatan khusus untuk "Matahari Terbit" dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan.
Untuk diketahui, dalam tradisi Hindu, Surya berkonotasi Dewa Matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide, 2011).
Hal terpenting untuk dicermati dari Rekaman Himne tertua Veda di atas, adalah pada kalimat "sebagai penghormatan khusus untuk Matahari terbit", karena ini mesti kita cermati bahwa dari kesemua rentang waktu posisi matahari di langit pada siang hari, hal yang paling dikhususkan terletak pada posisi waktu ia terbit, yang dalam perbendaharaan Bahasa kita pada hari ini, kita kenal dengan sebutan "pagi".
Seorang teman saya di Facebook yang bertempat tinggal di Singaraja Bali, mengatakan Di bali setiap perande, peranda, atau pedanda (pendetanya orang Bali) memiliki kewajiban "nyurya sewana" di pagi hari memuja matahari yang baru terbit.
Beliau juga mengatakan bahwa Orang bali kebanyakan menyebut perandenya (pendétanya) dengan sebutan "suryan tityangé" (matahari saya) atau bisa diartikan "wakil saya memuja matahari". Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sikap penghormatan khusus untuk Matahari terbit" hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Bali.
kata "Poni" (bentuk asal nama Phoenicia) yang berarti "pagi"
Dalam tulisan sebelumnya Filosofi "Bangsa Matahari" telah saya urai bahwa banyak bangsa besar di masa lalu yang menunjukkan identitasnya sebagai pemuja Dewa Matahari. Seperti Bangsa India, Mesir kuno, Babilonia, Yunani kuno, Maya, hingga orang-orang Polinesia.
Terkhusus Bangsa Phoenicia, identitas mereka tergambar jelas pada pengistilahan nama kawasan mereka bermukim di ujung timur Laut Mediterranean, yang menghadap ke arah barat, yang disebut sebagai "Laut Matahari Terbit". Jelas terlihat bahwa atribut "pagi" melekat sebagai "jati diri mereka". Senantiasa mereka bawa kemana saja mereka pergi. Hal ini tidak lain, adalah karena mereka bangsa berjiwa Matahari.
Identitas "Pagi" yang ditonjolkan Bangsa Phoenicia inilah yang kemudian menimbulkan asumsi saya bahwa "identitas semacam ini mestinya pernah digunakan dan melekat pada komunitas masyarakat di timur jauh sebagai wilayah paling awal matahari terbit."
Dan ternyata asumsi tersebut terbukti benar adanya.
Setelah saya mencermati etimologi beberapa toponim di wilayah timur jauh dalam hal ini wilayah Nusantara, saya temukan beberapa toponim ataupun etnonim yang memang menunjukkan pemaknaan "pagi".
Bahkan melalui metode pencermatan morfologi Bahasa dengan menggunakan pendekatan fonetik altikulatoris (telah saya ulas dalam tulisan lain, silahkan baca: di sini dan di sini), kata 'Poni' yang merupakan bentuk dasar dari nama bangsa Phoenicia menunjukkan makna "pagi".
Berikut ini penjabarannya...
Bentuk nama Phoenicia dalam Yunani kuno adalah "Phoinikes", sementara dalam Latin adalah "Poeni". Dari kedua bentuk ini, dapat kita asumsikan bentuk sederhananya adalah "Poni".
Melalui metode pencermatan morfologi Bahasa dengan menggunakan pendekatan fonetik altikulatoris, kita dapat melihat bahwa variasi bentuk yang dapat muncul dari morfologi kata "Poni" adalah: poni - poli - pori - podi - poti - boni - boli - bori - bodi - boti - woni - woli - wori - wodi - woti - moni - moli - mori - modi - moti.
Dari kesemua variasi bentuk morfologi yang dihasilkan di atas, beberapa diantaranya dapat kita temukan digunakan di Nusantara, terutama di pulau Sulawesi, yaitu: poni, poli, boni, boli, woli, woti, moni, dan mori.
Bentuk "Po-ni, Po-li, Bo-li dan Bo-ni" oleh para ahli sejarah Asia tenggara dari abad 19 hingga abad 20 dianggap sebagai bentuk transkripsi dari nama kerajaan di suatu wilayah di kepulauan laut selatan (Nusantara) yang disebutkan I-Tsing (seorang biksu asal Cina yang mengunjungi Nusantara sekitar tahun 671 M).
kata "Boni" juga dapat kita temukan digunakan dalam peta-peta eropa untuk menyebut "teluk bone" yakni "Gulf of Boni".
Betuk "Woli" dapat kita duga memiliki keterkaitan dengan bentuk Wolio, yakni nama kecamatan di pulau Buton.
Bentuk "Woti" dapat kita duga memiliki keterkaitan dengan nama danau Towoti di Luwu Timur. "To" pada dasarnya berarti "orang" dalam Bahasa daerah setempat. Jadi "To Woti" artinya "orang Woti".
Pemaknaan "Woti" di atas dapat pula kita terapkan pada bentuk "Moni," yang kuat dugaan saya memiliki keterkaitan dengan "Tomoni" yang merupakan nama kecamatan di Luwu Timur. Bahwa "To Moni" dapat berarti "Orang Moni".
Bentuk "Mori" sendiri merupakan nama pulau di sekitar muara sungai Malili, dan juga merupakan nama suku atau penduduk asli di wilayah Sulawesi tengah.
Lalu pertanyaannya, dari manakah kita dapat mengetahui bahwa kesemua bentuk di atas memiliki makna "Pagi"?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat merujuk keberadaan kata "Bohni" atau "Boni" yang berarti penjualan pertama di pagi hari dalam tradisi komersial kuno di wilayah India Utara dan Pakistan.
Bohni atau boni adalah kebiasaan sosial dan komersial terutama dari India Utara dan Pakistan yang mengacu pada penjualan pertama hari itu.[S.W. Fallon. A new Hindustani-English dictionary with illustrations from Hindustani literature and folk-lore. 1879:262]
Dalam “A dictionary, Hindustani and English : accompanied by a reversed dictionary, English and Hindustani” Bohni disebutkan sebagai uang yang diterima pada penjualan pertama di pagi hari oleh penjaga toko dan pedagang keliling. Tidak menerima kredit, dengan kata lain transaksi terjadi secara tunai saja dan idealnya tanpa diskon. [Duncan Forbes. A dictionary, Hindustani and English : accompanied by a reversed dictionary, English and Hindustani. 1866: 132]
Di Jawa hal semacam bohni dikenal dengan istilah penglaris, sementara di Sulawesi selatan khususnya pada pedagang Bugis lebih dikenal dengan istiah “Pammula Balu” (artinya: penjualan pertama).
Secara umum, hampir tidak ada perbedaan bentuk sentimen pedagang di wilayah Pakistan atau India dengan pedagang bugis di Sulawesi Selatan mengenai budaya dagang ini.
Bagi pedagang di wilayah Pakistan dan India Utara penjualan pertama (bohni) dipercaya berpengaruh kepada kesuksesan kegiatan penjualan selanjutnya pada hari itu. Adalah pertanda buruk jika pelanggan pertama pergi tanpa melakukan pembelian, sehingga pedagang sangat berhati-hati untuk tidak membiarkan itu terjadi.
Pada momentum bohni, harga barang biasanya dibuat relatif rendah agar penjualan dapat dimulai dan keberuntungan dapat dipertahankan. [Pramod Kumar Sinha – 1970, The depiction of folk-culture in Vidyapati’s prose]
Setelah transaksi bohni berhasil, kebanyakan orang yang percaya takhayul akan meludahi uang hasil penjualan pertama tersebut dengan harapan tindakan tersebut dapat menghindarkannya dari kesialan pada hari itu.
Pada pedagang-pedagang di Sulawesi Selatan praktek semacam ini pun dapat kita jumpai, biasanya mereka meludahi lalu melipatanya dengan baik kemudian menyimpannya di bagian yang dianggapnya special di dalam tempat penyimpanan uang.
Jejak lainnya, dapat kita lihat pada ucapan selamat pagi orang Maori (penduduk asli Selandia Baru) yaitu "Mrena", yang identik dengan bentuk "morning" dalam bahasa Inggris, yang pada situs merriam-webster.com dijelaskan bahwa bentuk dasar kata "morning" adalah: "morn" yang mendapat suffix -ing.
Kita dapat melihat bahwa istilah "Bohni" atau "Boni" dalam tradisi komersial di wilayah India Utara - Pakistan, bentuk "Morena" dalam Bahasa Suku Maori, dan bentuk "Morn" dalam Bahasa Inggris, merupakan bentuk morfologi dari "Boni" dan "Mori" yang bukan saja mengalami perubahan fonetis tapi juga mengalami pergeseran makna. Yang bagaimana pun juga, tetap mengandung makna unsur "pagi".
Kesemua uraian di atas setidaknya sejalan dengan ungkapan Prof. Santos dalam buku Atlantis, yang mengatakan bahwa: "...Yang terpenting, kini jelaslah bahwa bangsa Yunani - juga bangsa Eropa dan Timur Dekat berkulit putih lainnya, termasuk Ethiopia - berasal dari sana, di Indonesia. Kemudian, belakangan mereka berpindah ke wilayah Mediterania ketika kampung halaman mereka dihancurkan dan ditenggelamkan oleh banjir, kurang lebih sama dengan pernyataan Plato dan sumber-sumber kuno lainnya..."
***
Jadi, setidaknya ada tiga bentuk kata yang bermakna "pagi", sebagai sebutan Nusantara pada masa kuno, yakni: Mori, Boni, dan Saba/ Sabah.
Beragamnya sebutan untuk menyebut Nusantara sebagai "Negeri pagi" sejak masa kuno, menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki berlapis-lapis stage peradaban. Dapat diduga terentang dalam kurun waktu ribuan tahun.
Nusantara sebagai "Negeri pagi" dapat pula kita temukan ilustrasinya pada motif ukuran pada rumah-rumah di Toraja yang melukiskan "simbolisasi pagi" dengan figur Ayam jantan dan Matahari. Selain itu, terdapatnya nama Makale (ibukota kabupaten Tana Toraja) yang mestinya dapat pula dipertimbangkan, karena dalam Bahasa lokal, makale artinya "pagi".

