Menelusuri Jejak Bahasa Adam di Austronesia [part 1]

Ini adalah seri pembahasan mengenai upaya penelusuran untuk mengungkap asal mula bahasa hingga ke titik paling primordial, yaitu bahasa Adam.

Dari masa kuno hingga hari ini hanya sedikit orang saja yang secara khusus mengabdikan hidupnya – jika bisa diistilahkan demikian – untuk mengkaji bahasa secara komprehensif. Mereka kemudian menjadi ahli-ahli studi bahasa (lingustik) yang dapat diandalkan keilmuan dan pencapaiannya untuk menjembatani proses studi bahasa dari masa ke masa.

Sejarawan Yunani Herodotus menyampaikan anekdot tentang Raja Mesir, Psammetichus, dalam volume kedua Histories – nya (2.2). Selama kunjungannya ke Mesir, Herodotus mendengar bahwa Psammetichus (“Psamtik”) berusaha menemukan asal mula bahasa dengan melakukan percobaan dengan dua anak bayi yang baru lahir. 

Diriwayatkan, dia memberikan dua bayi yang baru lahir itu ke seorang gembala, dengan perintah bahwa tidak ada seorang pun yang boleh berbicara kepada mereka. Sang gembala cukup memberi makan dan merawat mereka sambil mendengarkan kata pertama yang mereka ucapkan. 

Hipotesisnya adalah bahwa kata pertama yang mereka ucapakan adalah bahasa dasar semua umat manusia. Ketika salah satu anak menangis, dan terdengar mengucapkan “bekos”, sang gembala kemudian melaporkan hal ini kepada Psammetichus, yang menyimpulkan bahwa kata itu adalah bahasa Frigia, karena itulah bunyi kata Frigia untuk “roti”. 

Jadi, mereka menyimpulkan bahwa orang Frigia adalah orang yang lebih tua daripada orang Mesir, dan bahwa Frigia adalah bahasa asli manusia. Namun tidak ada sumber lain yang dapat digunakan untuk memverifikasi cerita ini.

Orang Yunani kuno mempunyai bakat ingin mengetahui hal-hal yang oleh orang lain dianggap sebagai semestinya. Dengan berani dan gigih, mereka membuat spekulasi mengenai asal mula atau sejarah bahasa (etimologi).

Etimologi-etimologi tersebut menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Yunani menyadari bahwa bentuk-bentuk bahasa berubah dalam perjalanan waktu.

Dalam perjalanan bahasa mengisi ruang sejarah manusia, ada saat dimana bahasa dianggap karunia Ilahi kepada manusia, ada pula saat di mana “para ahli bahasa” berhenti memandang bahasa sebagai pemberian langsung dari Tuhan – lalu mengajukan berbagai teori mengenai asal mula bahasa.

Beda pendapat ini terus berlangsung, hingga pada satu saat muncullah deskripsi yang mengatakan bahwa studi tentang asal mula bahasa sebagai “tantangan terberat bagi sains”. Kekurangan bukti Empiris (pada asal-usul bahasa) telah menyebabkan banyak sarjana menganggap seluruh topik sebagai hal yang tidak sesuai untuk studi serius. 

Hingga Pada tahun 1866, Linguistic Society of Paris melarang segala perdebatan yang ada atau yang akan datang mengenai masalah tersebut, suatu larangan yang tetap berpengaruh di sebagian besar dunia barat hingga akhir abad keduapuluh. 

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s