Pada umumnya asal-usul kata 'tanah' dalam berbagai bahasa di dunia, bisa dikatakan tidak terlepas dari personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno. Hal ini nampaknya merujuk pada Personifikasi "langit dan bumi" sebagai gambaran maskulinitas dan feminitas bagi sosok Adam (langit) dan Hawa (bumi).
Dalam Personifikasinya sebagai Ibu Bumi, Hawa disebut dalam banyak bentuk 'nama'. Nama-nama tersebut dapat kita temukan dalam cerita-cerita mitologi dari berbagai bangsa di dunia.
Sebelum saya membahas mitologi yang terkait dengan personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi di masa kuno, terlebih dahulu saya ingin menunjukkan bentuk kata 'tanah' dalam berbagai negara di dunia.
Berikut ini rincian kata 'tanah' dalam beberapa bahasa di dunia...
Penyebutan kata 'tanah' dalam beberapa bahasa di Eropa: Albanian = toke; Basque= lurra; Bosnian = zemlju; Catalan = terra; Danish = jorden; Dutch = land;Estonian = maa; Finnish = maa; French = terre; Galician = terra; German = Land; Icelandic = Land; Irish = talamh; Latvian = zeme; Macedonian = zemjata; Maltese = art; Norwegian = land; Portuguese = terra; Swedish = landa; dan masih banyak lagi.
Penyebutan kata 'tanah' dalam beberapa bahasa di Asia : Bengali = jami; Chinese = tu-di; Georgian = mits'is; Gujarati = Jamina; Hindi = bhoomi; Kazakh = jer; Khmer = dei; Korean = ttang; Lao = thidin; Malayalam nilam; Marathi = jameen; Myanmar = myayyar; Nepali = bhoomi; Tajik = zamin; Tamil = Nila; Telugu = Bhumi; Thai = Thidin; Turkish = arazi; Uzbek = er; dan masih banyak lagi.
Penyebutan kata 'tanah' dalam beberapa bahasa di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara: Arabic = 'ard; Igbo = ala; Somali = dalka / dhulka; Swahili = ardhi; Yoruba = ile; Zulu = umhlaba / emhlabathini; Cebuano= yuta; Indonesian = tanah; Malagasy = tany; Malay = tanah; Maori = whenua; dan masih banyak lagi.
Kata 'Tanah' wujud personifikasi Hawa sebagai Ibu Bumi
Dalam banyak mitologi kuno, Nabi Adam dan Ibu Hawa disimbolisasi dalam beragam nama dan karakter. Personifikasi tersebut merupakan wujud konsekuensi dari sudut pandang bangsa-bangsa kuno dalam memahami dan mengapresiasi eksistensi sosok mereka.
Adapun wujud personifikasi Nabi Adam dan Ibu Hawa sebagai Dewa Dewi dalam mitologi berbagai bangsa di dunia, dapat anda baca ulasannya pada tulisan saya sebelumnya: Mengenal Personifikasi Hawa di Masa Kuno
Dalam tulisan tersebut saya mengungkap bahwa pada masa kuno Nabi Adam dipersonifikasi sebagai Dewa Surya, sementara Dewi Ushas atau Dewi Fajar sebagai istri Dewa Surya, adalah personifikasi Ibu Hawa. Berdasar pada pemahaman ini, Karena di sisi lain Surya adalah salah satu dari delapan bentuk (ashta murti) Dewa Siwa, maka, kita dapat melihat aspek lain dari Dewi Ushas pada istri Dewa Siwa, yaitu 'Parvati'.
Parvati, dikenal sebagai dewi ibu dalam agama Hindu, dan memiliki banyak atribut dan aspek. Setiap aspeknya diekspresikan dengan nama yang berbeda. Beberapa literatur menyebutkan bahwa ada sekitar lebih 100 nama untuknya.
Salah satu nama lain yang menonjol dari Parvati adalah "Tara", dan dari nama 'Tara' inilah kuat dugaan saya asal-usul kata 'tanah' atau 'tana'.
Perubahan fonetis r dan n pada kata 'tara' dan 'tana', bisa dikatakan merupakan fenomena pertukaran fonetis yang umum saling terjadi diantara fonetis kelompok artikulatoris dental, yaitu: n, d, t, r, l.
Dari nama Dewi Tara ini pula-lah asal-usul kata "terra atau terrain" (yang berarti 'tanah') dalam banyak bahasa dari berbagai bangsa di Eropa. Misalnya, 'terra' dalam bahasa Latin, Portugis, Catalan, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Dengan merujuk pada pertimbangan pertukaran fonetis yang umum saling terjadi diantara fonetis kelompok artikulatoris dental (n, d, t, r, l) maka, kita juga dapat melihat jika kata 'land' dalam bahasa Inggris ataupun 'landa' dalam bahasa Swedish, pun pada dasarnya berasal dari bentuk kata 'tara'.
Demikianlah, bisa dikatakan "Tara" merupakan personifikasi Hawa yang paling menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Dalam bahasa Latin ia meninggalkan jejak "Terra" sebagai sebutan Ibu Pertiwi. Budaya Celtic kuno mengenal pula Dewi Tara. Legenda kuno Finlandia ada berbicara tentang "Tar" seorang perempuan bijaksana. Sementara, Suku asli di hutan Amerika Selatan memanggil dewi mereka "Tarahumara".
Pembahasan saya terkait Dewi Tara atau Dewi Ushas sebagai personifikasi Hawa juga dapat anda baca dalam tulisan saya sebelumnya: Setelah Hawa Memohon Umur Panjang.
Kata Tanah Dalam Bahasa Tradisional di Nusantara
Bahasa tradisional di Nusantara sendiri, pada umumnya menyebut tanah dengan kata "banua, wanua, atau juga panua".
Sebutan "banua, wanua, panua" dalam bahasa tradisional di Nusantara pun sesungguhnya berasal dari Personifikasi Hawa sebagai ibu bumi.
Kata ini berasal dari kata 'Banuwa' yang mana berasal dari bentuk nama "Nuwa", yakni personifikasi Hawa dalam mitologi cina.
Sebutan Ba-nuwa jika ditinjau menurut aksara Cina dapat bermakna "Anggap sebagai nuwa".
(Ba = Anggap sebagai (regard as); Nu = Perempuan (women) ; Wa = seorang dewi, saudara perempuan dan penerus dari sosok mitologis Fuxi (a goddess, the mythological sister and successor to Fuxi)
Berikut ini tinjauan aksara Cinanya...
tinjauan kata 'banuwa' menurut aksara Hanzi. (dokpri)
Nuwa, saudara perempuan dan istri dari Fuxi, yang terdapat dalam mitologi Cina (sumber: wikipedia.org)
Demikianlah, sebutan 'benua' atau pun 'banua' yang kita kenal pada hari ini pada dasarnya berasal dari kata "nuwa" yang merupakan wujud personifikasi Hawa sebagai dewi bumi.
Sekian ulasan asal-usul kata 'tanah'. Semoga bermanfaat. Salam.


