Saya melihat banyak orang meyakini bahwa sedekah itu adalah cara memancing rezeki. Logika ini nampaknya berkembang dari pemahaman bahwa jika kamu menyedekahkan rezekimu maka nantinya Allah akan melimpahkan rezeki yang berlipatganda untukmu.
Ada juga yang menyitir secara keliru bunyi ayat dalam surat At-Talaq...
Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan. (At-Talaq ayat 7)
Dalam suatu artikel misalnya, saya menemukan bunyi ayat ini dikutip sebagian lalu diberi sedikit perubahan narasi, menjadi: “…Dan barangsiapa yang sedang disempitkan rezekinya, maka hendaknya ia menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya”
Padahal makna yang dikandung dari ayat tersebut sesungguhnya adalah bahwa baik orang-orang yang memiliki keluasan rezeki maupun orang-orang yang terbatas rezekinya, bersedekah adalah ujian ketaqwaan mereka.
Ujian tersebut nyata bunyinya di kalimat selanjutnya: Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Maksud kalimat ini adalah: Dalam setiap apa yang diberikan Allah kepada dirimu terdapat ujian.
Lalu, mesti bagaimana memaknai sedekah ini? Berikut ini penjelasan saya…
Saya ingin memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa: Sedekah adalah caramu "membersihkan rezeki".
Tapi ungkapan ini jangan lalu dibayangkan bahwa sedekah itu seperti tapisan atau saringan yang memisahkan rezeki baik dan rezeki buruk. Tidak seperti itu.
Saya menempatkan frase "membersihkan rezeki" dalam tanda kutip karena kedua kata dalam frase itu memang butuh penjelasan lebih dalam.
Maksud dari ungkapan "membersihkan" yang saya maksudkan adalah bahwa dengan bersedekah (Ingat: secara benar-benar ikhlas untuk ingin menolong sesama makhluk-Nya) kamu dapat kembali ke koridor atau jalur atau jalan yang diridhai Allah.
Di sisi lain, makna "rezeki" penting pula untuk dimaknai bukan semata-mata tentang harta, tahta, jabatan, keluarga yang baik, kesehatan, dll.
Demikianlah, engkau dapat menganalogikan sedekah sebagai "Titik mutar atau Titik balikmu" untuk kembali ke jalan yang diridhai Allah, dimana engkau bisa mendapat limpahan Rezeki yang baik (bersih) sehingga merasakan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Inilah maksud kalimat "Sedekah adalah cara membersihkan rezeki".
Memohon Rezeki Umur Panjang, Tepatkah?
Ada pula sebagian orang yang berharap agar diberi rezeki berupa umur panjang. Bahkan, ada ustad yang menyarankan agar umat berdoa "Ya Allah berikanlah umur panjang kepada ulama-ulama kami" - bunyi doa ini, jelas menyalahi ketentuan yang telah Allah sampaikan dalam surat Al-A'raf dan surat Fatir.
wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā'ataw wa lā yastaqdimụn
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat (pula) memajukan-nya." – (Quran Surat Al-A’raf Ayat 34).
(…) wa mā yu'ammaru mim mu'ammariw wa lā yungqaṣu min 'umurihī illā fī kitāb, inna żālika 'alallāhi yasīr.
(…) Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (Quran Surat Fatir ayat 11)
Yang benar adalah jika pemahaman konsep "umur panjang" itu diterapkan pada "spare-part" yang ada pada diri kita, seperti mata, paru-paru, otak (ingatan), telinga, dsb.
Jadi yang benar itu adalah memohon agar Allah memanjangkan umur untuk hal-hal yang kita butuhkan dalam kehidupan, seperti kesehatan mata, jantung, otak, dan bahkan berdoa agar Allah memanjangkan umur (waktu) hubungan baik kita dengan seseorang pun juga termasuk.
Jadi jika masih ada ustad yang pede ngajarin tentang umur panjang, sebaiknya jangan didengerin ucapannya untuk yang satu ini. Tapi jangan juga langsung tidak mau lagi mendengar ceramahnya. Karena mungkin untuk pemahaman tentang umur manusia dia keliru, tetapi pada pemahaman tema yang lain dia benar.
Penting pula untuk dipahami bahwa limpahan rezeki yang engkau dapatkan dari-Nya tidak selalu sama dengan apa yang tadinya engkau sedekahkan. Jangan beranggapan bahwa setelah engkau sedekahkan hartamu lalu engkau akan mendapat limpahan rezeki berupa harta yang banyak dari-Nya. Jangan berpikir seperti itu.
Bisa jadi setelah engkau sedekahkan sebagian hartamu, engkau akan mendapatkan limpahan rezekiNya di aspek yang lain, seperti kesehatan, kelancaran hubungan rumah tangga, koneksi yang baik di dunia kerja, dsb.
Intinya, jangan dikte Allah dengan niatmu ketika bersedekah, selain bahwa engkau lakukan itu semata-mata ingin mendapatkan Ridha-Nya, dan tentunya ingin menjadi hamba-Nya yang baik.
Jadi demikianlah, pemahaman bahwa sedekah adalah cara memancing rezeki jelas merupakan pemahaman yang keliru - hal ini yang banyak membuat orang yang bersedekah kecewa pada akhirnya.
Sedekah Sebagai Pelaksanaan Fungsi Kita Sebagai "Agen Kehidupan"
Keseluruhan uraian saya tentang sedekah dan rezeki di atas, tentu sangat erat kaitannya dengan pembahasan mengenai nasib.
Humboldt mengatakan: "Bagaimana seseorang menguasai nasibnya adalah lebih penting daripada nasibnya itu sendiri."
Perkataan Humboldt ini benar. Lalu, bagaimana cara kita menguasai nasib?
Caranya, kita mesti terlebih dahulu memahami bahwa setiap makhluk hidup adalah "agen kehidupan" yang bertugas menjaga setiap aspek dalam sendi kehidupan senantiasa bergerak, mengalir, tumbuh dan berkembang.
Setelah memahami hal mendasar ini, apa pun bentuk nasib dirimu, jalanilah itu dengan tetap menyinergikan dan atau memfungsikannya sebagai "agen kehidupan".
Dan ketahuilah, apa pun yang kita lakukan dalam fungsi sebagai "agen kehidupan," sifatnya "sedekah." Sedekah dapat berupa harta, waktu, tenaga, dll.
Sedekah itu bukan hanya ke sesama manusia tetapi juga kepada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan karena mereka bagian dari kehidupan itu sendiri.
Hal yang juga penting untuk ditekankan dari sedekah yaitu bahwa " tindakan itu semata-mata hanya mengharap ridha Allah Swt".
Hal yang diridhai-Nya (disukai, diperkenan, dan mendapat rahmat-Nya jika dilakukan) tidak lain adalah mengikhlaskan diri kita berfungsi sebagai "agen kehidupan."
Demikianlah cara menguasai nasib, yakni: menjalaninya dengan ikhlas dan menggerakkannya di dalam fungsi sebagai "agen kehidupan."
Demikian. Semoga bermanfaat. Salam.


