Mengurai Benang Merah, Membentang Realita Kosmis

Jika definisi ‘mukjizat’ adalah: kejadian, peristiwa, atau hal ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia, maka, apa yang saya memunculkan beberapa minggu yang lalu sebenarnya juga mengandung aspek tanda-tanda suatu mukjizat. (lihat pembahasannya di sini: Deretan Angka yang Menyiratkan “Pesan Kosmis” Garis Takdir Negara Indonesia atau lihat infografis ringkasnya di bawah)

Kemarin, ada yang sempat mengejek saya “cocoklogi”. Pertanyaannya, kalau ini cocoklogi, bagaimana bisa saya dapat munculkan pertanyaan inti: “peristiwa apakah yang akan terjadi di 7 Desember 2020 nanti?”

Kenyataannya, saya dapat memunculkan pertanyaan inti itu dari hasil menganalisa berbagai “variabel-variabel acak” yang bisa dikatakan, tak seorang manusia pun akan dapat melihat atau berpikir bahwa kesemua variabel itu sebagai suatu hal yang berhubungan.

Lalu, bagaimana bisa saya dapat melihat peluang (probabilitas) tersebut? jawabannya, seperti yang saya ungkap dalam artikel tersebut, sesuatu dalam diri saya (baca:intuitif) memberi saya petunjuk untuk menganalisa hal itu.

Demikianlah, jika pada umat di masa lalu Allah menghadirkan mukjizat yang sifatnya “perisiwa luar biasa”, seperti ketika musa diperintahkan Allah agar melemparkan tongkatnya, lalu secara tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular… (lihat QS. Taha ayat 20)

Maka, bagi umat akhir zaman yang dianggap telah maju tingkat kecerdasannya, Allah nampaknya menyesuaikan situasi, dengan menghadirkan mukjizat yang lebih cenderung bersifat saintist, karena itu menuntut pencermatan secara nalar.

Kemarin ada juga yang mengejek saya “tukang ramal”. Saya pikir orang itu tidak paham jika ada yang namanya “Mathematical Probability”, yang bisa dimaknai sebagai suatu cara mengungkapkan pengetahuan atau kepercayaan bahwa suatu kejadian akan berlaku atau sebaliknya telah terjadi melalui “hitungan matematis”. Konsep ini bukan saja diterapkan dalam ilmu matematika ataupun statistik, tetapi juga dalam sains dan filsafat.

Jalan yang saya lalui sebelum akhirnya tiba pada pertanyaan inti: “peristiwa apakah yang akan terjadi di 7 Desember 2020 nanti?” bukanlah jalan acak, random, dan penuh halu (meminjam istilah tren anak milenial).

Kenyataannya, dalam perjalanan itu saya mempertimbangkan secara ketat harus hadirnya”notasi dan terminologi logis” dalam hipotesis yang saya bangun.

Di setiap bagian “Notasi” angka-angka bilangan sempurna yang mewakili hitungan jarak waktu dari momentum awal ke momentum-momentum selanjutnya, secara ketat saya menuntut hadirnya “terminologi logis” yang mewajarkan peristiwa di momen itu layak dianggap “momentum penentu”.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s