Sejarah

Malaka Dalam Catatan Portugis

Sepanjang abad ke-16, Portugis membangun apa yang mereka sebut 'Estado da India'. Nama ini diberikan Portugis untuk wilayah koloni kerajaan mereka yang terbentang dari India…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

5 menit baca
Sejarah

Sepanjang abad ke-16, Portugis membangun apa yang mereka sebut 'Estado da India'. Nama ini diberikan Portugis untuk wilayah koloni kerajaan mereka yang terbentang dari India hingga Asia Timur.

Estado da India bisa dikatakan adalah jaringan koloni Portugis yang pada dasarnya bersifat maritim, yang terdiri dari jaringan benteng, kota, dan pos perdagangan, yang tersebar di sepanjang pantai Asia - saling berhubungan karena memiliki rute maritim yang jelas - yang secara rutisn dilalui oleh kapal-kapal Portugis.

Goa di India merupakan "Ibu kota" Estado da Índia. Dikendalikan oleh aparat politik, militer dan administrasi, yang dipimpin oleh seorang raja muda atau gubernur, umumnya berasal dari bangsawan tinggi Portugis dan biasanya dengan masa jabatan tiga tahun.

Kesuksesan Portugis membangun jaringan koloni "Estado da India" di dunia timur sangat dimungkinkan oleh teknologi militer dan angkatan laut mereka yang sangat maju pada saat itu.

Selain penguasaan teknologi, siasat penggunaan kolaborator asal Oriental (orang timur) yang mereka manfaatkan untuk pengumpulan informasi sistematis tentang realitas di sekitarnya, pembentukan aliansi dan perjanjian dengan penguasa regional Asia, kerja sama dengan mitra komersial lokal, juga merupakan faktor penting kesuksesan mereka.

Selain Goa di benua India, Pelabuhan Malaka, yang ditempati oleh Afonso de Albuquerque pada tahun 1511, juga adalah salah satu simpul dalam jaringan raksasa yang didirikan oleh Estado da Índia.

Buku Suma Oriental digunakan sebagai titik awal untuk mengobservasi Malaka. Ini adalah buku berisi informasi geografis Asia pertama yang diproduksi setelah kedatangan Portugis ke Timur, tepatnya ditulis di Malaka, oleh apoteker Portugis Tomé Pires, antara tahun 1512 dan 1515, ketika ia bekerja di sana sebagai pengawas.

Buku Suma Orienal sempat menghilang berabad-abad lamanya. Pada tahun 1944, Armando Z. Cortesao menerbitkan terjemahan Suma Oriental ke dalam bahasa Inggris, berdasarkan versi salinannya yang ditemukan di Perpustakaan Chambre des Deputes di Paris.

Dalam buku Suma Oriental terdapat gambar terakhir kota pelabuhan Malaka sebelum penaklukan Portugis tahun 1511.

Tomé Pires berbicara tentang Malaka sebagai kota metropolis yang sangat besar, dengan lebih dari 100.000 penduduk, di mana pedagang dari lebih dari delapan puluh tujuan geografis yang berbeda bersinggungan.

Pentingnya Malaka yang luar biasa diringkas Tome Pires dalam ungkapan terkenalnya: "Siapa pun yang pergi ke Malaka, tangannya di leher Venesia" (Armando Cortesão (ed.), A Suma Oriental…, p. 441).

archive.org/details/dli.ernet.535524/page/n249/mode/2up?view=theater(buka di tab baru)

Diyakini bahwa karakteristik Malaka yang disajikan oleh Tomé Pires – mencerminkan Malaka sebagai sebuah kota pelabuhan raksasa, dengan puluhan ribu penduduk, dan pergerakan kapal yang tak henti-hentinya dari empat penjuru Asia.

Apa yang dideskripsikan Tomé Pires tentang Kota Pelabuhan Malaka, tampak sejalan dengan kesaksian Gaspar Correia, seorang penulis sejarah Portugis yang tinggal di India dari tahun 1512 hingga kematiannya, sekitar tahun 1563.

Selama periode ini, Correia menulis karyanya Lendas da Índia, sebuah kronik monumental tentang pencapaian maritim dan militer Portugis di Timur, yang ditulis tangan pada saat itu, dan diilustrasikan dengan serangkaian pemandangan pelabuhan. Figur Malaka dalam ilustrasi ini, yang mengungkapkan pandangan Portugis pertama pada realitas urban Asia.


Semua sumber Portugis dari abad ke-16 menegaskan bahwa Malaka adalah pelabuhan yang sangat penting dalam konteks maritim Asia, karena terletak di lokasi geografis yang strategis, dari sudut pandang pelayaran.

Kapal-kapal secara teratur berlabuh di sana. Di satu sisi, datang dari pelabuhan di Samudra Hindia bagian barat dan Teluk Benggala, dan di sisi lain, datang dari pelabuhan di Laut Cina Selatan dan Insulindia (Insulindia adalah istilah geografi yang biasanya digunakan untuk menyebut Asia Tenggara Maritim, sama seperti istilah Australasia dan Indochina, dan mencakup daerah di antara keduanya. Istilah ini umum dijumpai dalam bahasa Portugis dan Spanyol).

Malaka, menurut Tomé Pires, terletak di ujung satu monsun dan awal monsun lainnya, yaitu, tepat di titik interkoneksi dua wilayah geografis besar, yang bertukar produksi masing-masing di sana.

Bagi Portugis, pelabuhan Malaka sangatlah strategis, karena, pelabuhan itu juga memungkinkan akses ke Kepulauan Maluku, Kepulauan Rempah yang terkenal, di mana telah ada benteng Portugis sejak 1522, ke Cina, tempat Portugis berhasil membuka gudang pada tahun 1555, dan juga ke pulau-pulau Jepang, yang telah terjalin hubungan sejak 1542.

Di antara dokumentasi tentang Malaka, sebuah buku tentang kota dan benteng Portugis yang tidak diketahui penulisnya (anonim), menyebut Malaka sebagai "Skala terbesar dan terkaya di dunia, di mana segala jenis barang ditenderkan dan ditangani."

Dalam buku anonim itu disinggung pula mengenai karakteristik benteng yang dibangun Portugis di Malaka, di mana terdapat berbagai fungsi pejabat di dalamnya.

Ada pula informasi mengenai barang-barang terpenting yang ditransaksikan di alun-alun Luso-Melayu, dan terutama perjalanan yang banyak diselenggarakan dari sana (Malaka) menuju berbagai tujuan (Bengala, Siam, Maluco, Cina, Jepang, dll.).

Singkatnya, buku anonim itu menyajikan info geografi-politik-perdagangan yang sesungguhnya dari wilayah luas di mana Malaka menjadi pusatnya.

Penyatuan Iberia (Uni Iberia), yaitu penyatuan kerajaan Portugis dan Spanyol dalam satu monarki (1580-1640), dianggap sejarawan sebagai periode di mana Malaka dikelola dengan administrasi yang baik dan karenanya menjadi relatif lebih makmur.

Tercatat, sekitar tahun 1600, lebih dari 300 orang Portugis yang telah meninggalkan dinas militer resmi, menikah dan menetap secara permanen di Malaka.

Pada masa itu, Raja Spanyol juga diketahui meluncurkan kampanye intervensi militer dan penataan perkotaan di seluruh wilayah Estado da India. Untuk kampanye ini, Raja Spanyol mengirimkan arsitek Italia Giovanni Battista Cairato, yang misinya adalah melakukan perbaikan dan peningkatan yang diperlukan di benteng-benteng utama Portugis.

Meskipun sedikit yang diketahui tentang kinerja konkret Cairato di Malaka, diketahui bahwa ahli matematika dan kartografer Manuel Godinho de Erédia melakukan perjalanan bersamanya dari India, yang pada dekade terakhir abad ke-16 menghasilkan berbagai bahan di kota Luso-Malaysia dan wilayah sekitarnya.

Gambar-gambar, peta-peta, dan rancangan-rancangan yang dibuat Erédia disebut sebagai deskripsi Malaka yang paling luas dan terdokumentasi sejak zaman Tomé Pires, di mana orang dapat mengumpulkan banyak berita tentang kehidupan ekonomi dan sosial alun-alun dan semua wilayah sekitarnya.

Baca artikel terkait: Manuel Godinho de Erédia: Ahli Matematika dan Kartografer Berdarah Bugis-Portugis

Artikel Terkait

Komentar