Arcapada dan Bunga Ungu di Singgasana Dewa Yama

0 Shares
Reading Time: 3 minutes

Dalam tulisan sebelumnya (Ini Asal-Usul Nama “Jawa” Menurut Konsep Lokapala…) telah saya urai bahwa: …nama Yama yang berarti “kembar” dalam sanskerta, sinonim dengan makna kata “sama” yang dalam bahasa Indonesia berarti “serupa”. Yang jika ditinjau dalam bahasa daerah di Nusantara, kata “sama” disebut “padha” dalam bahasa Jawa ataupun bahasa Tae. Menariknya, dalam mitologi Jawa, sebutan “Arcapada” bermakna: “dunia bawah atau neraka” (Mayapada= dunia para dewa, Madyapada= dunia manusia atau bumi. lihat penjelasannya di sini).

Makna Arcapada sebagai “dunia bawah atau neraka” sejalan dengan status Dewa Yama sebagai penguasa dunia bawah atau alam kematian dalam konsep Lokapala. 

Sementara itu dalam tulisan “Nuansa Jawa pada Kata Ungu dalam Bahasa Phoenicia dan Bahasa Kuno Lainnya”, telah saya urai bahwa jika meninjau nama Dewa Melqart (dewa pelindung Bangsa Phoenicia) menurut komposisi abjad yang digunakan bangsa Phoenicia, yakni “MLK QRT” yang artinya “Raja Kota”, maka bunyi nama tersebut mestilah “Malaka Qarta”, Malaka = “Raja”, dan Qarta = “Kota”.





Mengenai MLK yang bermakna “Raja”, anda dapat membaca penjelasannya di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Molokh 

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa tiga huruf semitik yang bentuk latinisasinya menjadi M-L-K, adalah berarti “raja”.

Teman-teman, dukung saya dengan subcribe di Channel Youtube ini... itu akan sangat membantu channel Youtube ini untuk terus berkembang. Terima kasih!

Umumnya sejarawan dunia menganggap jika susunan ketiga huruf itu mestilah ditulis: Moloch, Molech, Molekh, Molok, Molek, Molock, atau Moloc. Tapi, saya pikir ada satu hal yang terlewatkan oleh mereka. 

Yaitu pertimbangan bahwa karena Dewa Melqart adalah dewa bangsa laut Phoenicia, maka dapat diduga jika bahasa yang digunakan oleh mereka adalah bahasa yang bercirikan bahasa bangsa maritim.

Ciri khas kosakata bahasa bangsa maritim adalah senantiasa menunjukkan suku kata yang berakhir dengan vokal. Hal ini sebagaimana yang diungkap John Inglis, seorang misionaris asal Skotlandia yang melakukan perjalanan ke Vanuatu antara tahun 1850-1877, bahwa ciri bahasa melayu (bangsa maritim) adalah setiap suku kata berakhir dengan vokal. 

Jadi saya pikir, “Moloch, Molech, Molekh, Molok, Molek, Molock, atau Moloc” adalah bentuk interpretasi yang tidak didasari pemahaman ilmu linguistik tentang bahasa bangsa maritim di masa kuno.

Demikianlah, fakta bahwa bentuk dasar nama Melqart adalah “Malaka Karta” mau tidak mau mengarahkan pemikiran kita pada kemungkin bahwa, ia berasal dari wilayah Nusantara. 

Hal ini menjadi bukti keselarasan Dewa Yama dengan Dewa Melqart bukan hanya pada sisi bahwa mereka adalah sama-sama penguasa dunia bawah, tapi juga secara spesifik, menunjukkan indikasi kuat jika mereka berdua sama-sama berasal dari Nusantara.



0 Shares