Selain bahwa mereka sama-sama merupakan tokoh besar yang sangat berpengaruh yang eksis di abad ke-19, ketiga orang ini (Pangeran Diponegoro, Raden Ronggowarsito dan H.P. Blavatsky) juga memiliki beberapa kesamaan lain, seperti: terlahir dari keluarga bangsawan [1]; Intelek/ berbakat di bidang literasi (ketiganya menghasilkan karya tulis yang melegenda) [2]; dan sama-sama sangat tertarik dengan dunia spiritualitas [3].
1. Berasal dari keluarga bangsawan
Diponegoro—yang bernama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar—lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar. Pada tahun 1805 nama Raden Mas Mustahar diganti menjadi Raden Mas Ontowiryo oleh eyang (kakek) nya yaitu Sultan Hamengkubuwono II.
Dalam tarikh Jawa, hari kelahiran Diponegoro sangat bertuah karena jatuh pada bulan Jawa Sura, bulan pertama dalam tahun Jawa, ketika secara tradisional kerajaan baru didirikan dan gelombang sejarah baru dimulai.
Ayah Diponegoro, Raden Mas Surojo, adalah anak sulung Hamengkubuwono II (yang berarti calon Hamengkubuwono III).
Ibunya, Raden Ayu Mangkorowati (istri selir Hamengkubuwono III), merupakan keturunan Ki Ageng Prampelan, seorang tokoh yang sezaman dengan raja pertama Mataram, Panembahan Senopati (1575-1601).
Ayah Diponegoro dikenal sebagai seorang sejarawan dan senang menulis. Sumber-sumber belanda menyebutkan bahwa ayah Diponegoro sering dipanggil oleh kakeknya, Sultan Mangkubumi (sultan pertama yang bertakhta 1749-1792), untuk membacakan dongeng-dongeng dan sejarah kuno Jawa. Tampaknya, minat literasi dari ayahnya inilah yang nantinya menurun ke Pangeran Diponegoro.
Ada pun mengenai aspek spiritual, pangeran Diponegoro tampaknya mendapat pengaruh yang signifikan dari kakek buyutnya, Sultan Mangkubumi.
Dalam otobiografinya (Babad Diponegoro), Diponegoro menggambarkan bagaimana ia diperkenalkan oleh ibunya kepada Sultan Mangkubumi. Raja sepuh itu telah meramalkan bahwa cucunya akan mendatangkan kehancuran yang lebih hebat buat Belanda daripada beliau sendiri selama perang Giyanti (1746-1755).
Ramalan itu memberi wawasan mengenai betapa pentingnya ketokohan Sultan pertama yang karismatik bagi Diponegoro.
Nantinya, ramalan tersebut dikaitkan oleh Pangeran Diponegoro dengan ramalan lain (ia urai dalam otobiografinya), yang konon dibuat oleh raja Mataram abad ketujuhbelas, Sultan Agung (1613-1646), bahwa, setelah Sultan Agung wafat pada 1646, Belanda akan memerintah di Jawa selama 300 tahun dan meski seorang di antara keturunan raja Mataram akan bangkit melawan, akhirnya ia akan dikalahkan.
Tampaknya Diponegoro cukup yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh Sultan Agung dalam ramalan tersebut.
Dalam bagian yang membahas aspek spiritual, saya akan menunjukkan pada pembaca bagaimana rangkaian ramalan dari para leluhur Pangeran Diponegoro diperkuat dengan petunjuk yang sarat teka-teki lewat suara gaib yang terdengar oleh Diponegoro saat tertidur (dalam rangka menyepi) di Parangkusumo di pantai Selatan: "Engkau sendiri hanya sarana, namun tidak lama, untuk disejajarkan dengan leluhur."
2. Intelek/ berbakat di bidang literasi
Ketika Pangeran Diponegoro diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada sekitar tahun 1832-1833, ia menulis otobiografinya yang dikenal sebagai 'babad Diponegoro'.
Isi Babad Diponegoro berjumlah 1.151 halaman folio tulisan tangan yang dibagi menjadi beberapa bagian kisah, dimulai dari runtuhnya sisa-sisa Majapahit pada 1527 hingga Perjanjian Giyanti pada 1755.
Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan keadaan Kesultanan Ngayogyakarta dan riwayat hidup Diponegoro dari kelahirannya pada 1785 hingga diasingkan ke Manado pada 1830. Naskah ini aslinya ditulis dalam abjad Pegon dengan bentuk Macapat (puisi tradisional Jawa).
Pada 21 Juni 2013, Organisasi PBB untuk pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of th World).
Ketika Pangeran Diponegoro diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada sekitar tahun 1832-1833, ia menulis otobiografinya yang dikenal sebagai 'babad Diponegoro'.
Isi Babad Diponegoro berjumlah 1.151 halaman folio tulisan tangan yang dibagi menjadi beberapa bagian kisah, dimulai dari runtuhnya sisa-sisa Majapahit pada 1527 hingga Perjanjian Giyanti pada 1755.
Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan keadaan Kesultanan Ngayogyakarta dan riwayat hidup Diponegoro dari kelahirannya pada 1785 hingga diasingkan ke Manado pada 1830. Naskah ini aslinya ditulis dalam abjad Pegon dengan bentuk Macapat (puisi tradisional Jawa).
Pada 21 Juni 2013, Organisasi PBB untuk pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of th World).
Banyak kalangan yang memandang bahwa pengaruh yang paling menentukan bagi Pangeran Diponegoro muda berasal dari nenek buyutnya, Ratu Ageng (biasa disebut Nyai Ageng Tegalrejo). Sejak usia tujuh tahun Diponegoro diasuh Ratu Ageng.
Ratu Ageng, isri Hamengkubuwono I, adalah sosok perempuan tangguh yang mendampingi suaminya ketika bergerilya dalam Perang Mangkubumen sampai perjanjian Giyanti. Dia dikenal sebagai "Sufi Perempuan" yang memperdalam spiritualitas dan memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan karena merupakan cucu Kiai Datuk Sulaiman Bekel Jamus putra sulung Sultan Abdul Qohir Bima yang berguru di Giri, tempat dimana Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro juga berguru di Giri sebelum berdakwah ke Sulawesi dan Bima.
Ketika kesultanan Yogyakarta terbentuk pada 1755, Ratu Ageng menjadi panglima pasukan kawal istimewa perempuan, atau semacam korps "Srikandi" kerajaan. Ini satu-satunya barisan pasukan militer kesultanan yang membuat Marsekal Herman Willem Daendels terkesan ketika berkunjung ke Keraton Yogya pada Juli 1809.
Ratu Ageng juga terkenal, menurut suatu catatan Keraton Yogya, berkat kesalehannya dan kesukaannya membaca kitab-kitab agama, juga ketekunannya merawat adat tradisional Jawa di keraton.
Tentang mengapa Dipongoro muda diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng "wanita tua yang berkemauan baja", beberapa kalangan berpandangan bahwa mungkin ia (Ratu Ageng) melakukan itu karena melihat dalam diri cucu buyutnya suatu petunjuk kerohanian tertentu yang mendalam, yang membuat sang cucu buyut menonjol di kalangan anggota keluarga dan karena cocok atau mesti mendapat pendidikan kerohanian yang sungguh-sungguh.
Ada suatu keterangan yang menarik dalam Babad Diponegoro (versi Surakarta) di mana Pangeran Diponegoro mengatakan bahwa "dalam masa kanak-kanak saya, orang tua itu suka membuat saya ketakutan ketika memberi perintah".
Di tangan Ratu Ageng, yang mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan beraksara Pegon, Diponegoro diseret ke dalam keasyikan dunia pengetahuan fiqh sekaligus tasawuf. Buyut puterinya membuatkan sebuah balairung luas di samping tempat tinggalnya khusus bagi para ulama untuk berdiskusi dengan beragam tema, dari fiqh hingga tata negara.
Diponegoro mempelajari kitab Muharrar karya Imam ar- Fari'i dan Lubab al-Fiqh karya Al-Mahamili. Kitab Taqrib karya Abu Syuja al-Isfahani dan Fath al-Wahhab karya Imam Zakari yah al-Anshari merupakan favorit bacaannya.
Di tangan Nyai Ageng Tegalrejo, Pangeran Diponegoro menjadi mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan aksara pegon.
Nyai Ageng Tegalrejo juga yang memperkenalkan Pangeran Diponegoro terhadap tradisi akademis Tarekat Syattariyah melalui kitab Tuhfat al-Mursalahila Ruhan-Nabi karya Syekh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri.
Kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri ini adalah kitab fenomenal pada zamannya yang tidak hanya masyhur di India dan Nusantara tetapi di seluruh dunia Islam bahkan sampai ke jantung dunia Islam di Mekkah dan Madinah.
Bahkan Syekh Ibrahim Al Kurani dari Madinah menulis kitab tersendiri khusus membahas Kitab Tuhfah yaitu Kitab Ithaf ad Dzaki yang ditujukkan kepada para muridnya di Jawa (terkhusus ditujukan kepada Syekh Abdurrauf Singkel).
Kitab Tuhfah ini merupakan eksplanasi ringkas tentang ajaran "tajalli ilahi" dari Ibnu 'Arabi dalam Kitab Futuhat al Makkiyyah yang telah diadaptasi dengan tradisi India yang menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran “martabat tujuh” derivasi dari ajaran "tajalli ilahi". Kelak kitab ini disadur dan diadaptasi ulang kedalam tradisi Jawa oleh Ronggowarsito dalam kitabnya Wirid Hidayat Jati.
Menurut Oman Fathurrahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah sebagaimana dusampaikan kepada Peter Carey, Ratu Ageng, nenek buyut Pangeran Diponegoro, adalah penganut Tarekat Syattariyah. Berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng–yang disebut ‘Kangjeng Ratu Kadipaten’ dalam naskah–disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.
Tarekat Syattarinya sendiri sampai di Nusantara lewat Pasai dimana Maulana Ishak dan putranya Maulana 'Ainul Yaqin (Sunan Giri) menurut Babad ing Gresik termasuk dalam mata rantai silsilah tarekat Syattariyah yang kelak dilanjutkan oleh Syekh Abdurrauf Singkel dari Aceh dan para muridnya Syekh Burhanuddin Ulakan dari Minang dan Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan berkhalwat di Goa Safarwadi, Tasikmalaya.
Ada dua kemungkinan darimana Diponegoro mempelajari kitab Tuhfah, kemungkinan pertama dari Syarif Hasan Munadi alias Tuan Sarif Samparwedi, seorang Arab yang menjadi komandan resimen pengawal pribadi sang Pangeran, Barjumungah yang lebih dikenal dengan Basah Hasan Munadi dari jalur Syekh Abdul Muhyi Safarwadi, dan kemungkunan kedua dari Taftazani, seorang pengajar agama di Mlangi (asal Sumatra?) yang mendapat sanad dari Syekh Burhanuddin Ulakan.
Dalam buku "Kuasa Ramalan - Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855" karya Peter Carey, seorang sejarawan dan penulis berkebangsaan Inggris yang mengkhususkan diri dalam sejarah modern Indonesia, diurai bagaimana aspek spiritual dalam diri Pangeran Diponegoro yang menjadi acuan utama beliau dalam menjalani takdirnya, terutama dalam Perang Jawa, perang terbesar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa.
Menurut Peter Carey, Dibandingkan dengan perkembangan sebagian besar anak-anak keluarga bangsawan Jawa masa itu, pertumbuhan intelektual dan spiritual Diponegoro luar biasa: suatu laporan Belanda sesusah perang Jawa menyebutkan bahwa pendidikan para bangsawan Jawa waktu itu biasanya berlangsung secara informal di mana ulama "keluarga" mengajarkan doa-doa dalam bahasa Arab dan tafsir-tafsir Al Quran.
Akan tetapi pendidikan Diponegoro dalam kesastraan Islam-Jawa dan pengajaran bergaya pesantren yang lebih formal tentang Al Quran dan hadis yang didapatnya dari para ulama yang berkunjung ke Tegalrejo (tempat Diponegoro kecil tinggal) menjadi jauh lebih penting.
Peter Carey juga menyebut bahwa Diponegoro tampak akrab dengan karya-karya teologi dan mistik Islam, seperti tasawwuf, sebagaimana halnya dengan puisi-puisi mistik Jawa seperti suluk.
Menurut catatan harian Letda Justus Heinrich Knoerle (1796– 1833), perwira Jerman kelahiran Luxemburg yang menemani Pangeran selama tujuh minggu dalam perjalanannya ke tempat pengasingan di Manado, Pangeran “tampak sebagai seorang ningrat, penuh harga diri, mempunyai bakat kecerdikan, watak yang kuat, sarat prakarsa, dan memiliki pertimbangan yang tajam sedemikian rupa sehingga jarang ada duanya di kalangan ningrat Jawa” (Knoerle 1835:171).
Gaya berbicara Pangeran “luar biasa tak sopan […] dan tak teliti”. Tetapi kekuatan dan semangat kepribadiannya terpancar jelas dalam gagasan-gagasannya yang menggugah, yang menurut Knoerle, “kaya, kuat, dan jernih” (Knoerle 1835:172).
Segi lain kecerdasan Diponegoro adalah daya intuisinya menangkap watak orang dari air muka (ilmu firasat, berasal dari bahasa Arab ilm al-firāsa, Drewes 1966:335– 6, 356– 7).
Pada awal Perang Jawa, ia digambarkan dalam babad karyanya itu memilih para pejabat, panglima, dan penasihat agama semata-mata berdasarkan ilmunya itu, dan pilihannya biasanya tepat sekali.
Pengenalan Diponegoro terhadap watak para pejabat Eropa yang ia temui sebelum Perang Jawa di Yogya dan sesudahnya juga sangat tajam dan tepat.
Mayor Huibert Gerard Nahuys van Burgst (1782– 1858), pembual jebolan sekolah hukum Harderwijk, pejabat, dan seorang tokoh “militer gadungan” (Louw dan De Klerck 1894– 1909, III:386– 7; Bab IX), yang merupakan Residen Yogya segera sesudah restorasi Kerajaan Belanda pada 1816, diacuhkan saja oleh Diponegoro sebagai orang yang “hanya tahu makan-minum dan menebarkan gaya hidup Belanda saja”.
Dan ia dengan tepat menggambarkan si malang Jonkheer Anthonië Hendrik Smissaert (1777– 1832), Residen Yogya (menjabat 1823– 1825) dekat menjelang pecahnya Perang Jawa sebagai “orang baik tapi lemah” (Louw dan De Klerck 1894– 190 9, V:743).
Sedang mengenai Frans Gerhardus Valck (1799– 1842), yang menjabat Residen Kedu (1826–1830) tatkala ia bertemu dengan De Kock di Magelang pada Maret 1830, dinilai Diponegoro “Teramat melelahkan karena pertanyaan-pertanyaannya yang tolol dan remeh-temeh […] ia tidak mengundang rasa hormat dan […] tidak mempunyai potongan Residen yang harus memerintah sejumlah besar orang Jawa”.
Diponegoro memberi pujian tertinggi hanya kepada John Crawfurd (1783– 1868), yang menjabat Residen Yogya (1811– 1814, 1816) selama pemerintahan Inggris, dengan mengatakan bahwa: "Ia tidak pernah mengenal satu pun [pejabat] Belanda yang memiliki rasa kasih terhadap sesama dan watak mulia yang setara dengan Crawfurd […]"
Menurut Knoerle, Pangerang juga menunjukkan perhatian yang besar terhadap gambar-gambar buku yang dipinjamkan kepadanya selama pelayaran ke tempat pengasingan, yang juga mencakup tentang agama Buddha dan Perang Salib Pertama (1095– 1099).
3. Tertarik dengan dunia spiritualitas
Dalam bukunya, Peter Carey mengungkap adanya "kuasa ramalan" yang tampaknya berlaku pada diri Pangeran Diponegoro. Dalam hal ini saya pribadi pada dasarnya kurang setuju jika ini disebut "ramalan".
Sudah benar judul asli yang diberikan Peter Carey "The Power of Prophecy", hanya saja ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Kuasa Ramalan" rasanya memberi makna yang kurang mengena.
Prophecy mestinya diterjemahkan "nubuat" atau "petunjuk Ilahiah". Menerjemahkannya menjadi "ramalan" rasanya mengurangi secara drastis nilai dan kesakralan pesan tersebut. Tapi agar tidak membingungkan pembaca, dalam kesempatan ini saya tetap menggunakan kata 'ramalan' saja.
Baik kita lanjut….
Menurut Peter Carey, ada beberapa ramalan atau petunjuk yang secara spiritual meneguhkan tekad Pangeran Diponegoro dalam menjalani Perang besar melawan Belanda.
Salah satu ramalan itu disampaikan Sultan Agung bahwa setelah kematiannya (tahun 1646), Belanda akan memerintah di Jawa selama 300 tahun dan meski seorang di antara keturunan raja Mataram akan bangkit melawan, akhirnya ia akan dikalahkan.
Lalu, ramalan dari kakek buyutnya, Sultan Mangkubumi, bahwa ia akan mendatangkan kehancuran yang lebih hebat buat Belanda daripada beliau sendiri selama perang Giyanti (1746-1755),
Dan yang paling berkesan bagi Pangeran Diponegoro adalah petunjuk gaib yang didapatkannya ketika menyepi di Parangkusumo. Petunjuk gaib itu berbunyi: “Engkau sendiri hanya sarana, namun tidak lama, untuk disejajarkan dengan leluhur.”
Dalam salah satu proses tirakatnya, Pangeran Diponegoro juga mengatakan bahwa Sunan Kalijogo muncul di hadapannya. Penampakan itu memberitahu pangeran bahwa "sudah ditentukan oleh Allah, suatu waktu nanti ia akan menjadi raja (ratu)."
Kapan tepatnya perkelanaan Diponegoro bertolak dari Tegalrejo dan ziarahnya ke pantai selatan tidaklah jelas. Dalam otobiograinya, ia menyatakan bahwa ia mulai mengunjungi pesantren pada usia dua puluh tahun (Jawa). Peter Carey memperkirakan Perjalanan Pangeran itu di sekitar tahun 1805.
Dalam bagian yang menceritakan persiapan perjalanannya ke pantai selatan, Diponegoro melukiskan dalam babad karyanya bagaimana ia berangkat pada usia dua puluh untuk mengunjungi masjid-masjid dan perguruan-perguruan agama di kawasan Yogya.
Maksud utama rangkaian kunjungannya itu adalah menyempurnakan pendidikan keagamaan dan menemukan guru-guru yang layak membimbing perkembangan rohaninya.
Sang pangeran juga mempersiapkan diri ke dalam penjelajahan rohani dengan menyandang nama baru, Syekh Ngabdurahim, yang akan dia pakai dalam pengelanaannya. Nama ini berasal dari bahasa Arab Syekh ‘Abd al-Rahim (Ricklefs 1974b:231– 2), dan mungkin telah disarankan kepada Diponegoro oleh seorang di antara penasihatnya di bidang keagamaan.
Meskipun mengenai tiada rujukan dalam babad karyanya, Diponegoro diperkirakan mencukur rambut sebelum memulai perkelanaan ke berbagai pesantren agar tidak tampil mencolok di kalangan para santri.
Tentu sebelumnya ia telah mengenakan pakaian yang bersahaja sehingga orang tidak akan mengenalnya. Jadi, ia menanggalkan pakaian pangerannya — baju Jawa berkerah tinggi, kain dan penutup kepala dari batik tulis — untuk diganti dengan sarung kasar, baju putih tanpa kancing tak berkerah, dan sorban yang merupakan pakaian sehari-hari bagi santri abad kesembilan belas.
Ketika persiapan sudah rampung, Diponegoro berangkat dari Tegalrejo dan memulai kehidupan khas santri kelana dengan mengunjungi banyak sekolah agama dan masjid, dan hidup bersama para murid dari lapisan sosial yang rendah di pondok-pondok pesantren.
Sekolah agama yang ia kunjungi tidak bisa dipastikan. Tapi mungkin antara lain adalah Gading, Grojogan, Sewon, Wonokromo, Jejeran, Turi, Pulo Kadang, dan kedua pathok negari, Kasongan dan Dongkelan, semuanya terletak di arah selatan Yogya.
Tirakat: menyepi dan penampakan
Menurut pengakuannya dalam babad karyanya, Diponegoro berhenti mengunjungi pesantren dan meninggalkan kawasan berpenduduk untuk menempuh kehidupan menyepi dan bersamadi. Waktu itu mulailah suatu tahap sangat menentukan dalam perkelanaan Diponegoro tatkala ia mencari tempat-tempat keramat dan suci yang berkaitan dengan wangsa Mataram (Ricklefs 1974b:232).
Masa menyepi dan penyangkalan diri ini, sebagaimana sudah kita lihat dalam kutipan karya Soemarsaid Moertono, mempunyai banyak persamaan dengan tirakat, pengunduran diri dari keduniawian oleh seseorang yang ingin mempersiapkan diri demi suatu tujuan penting (Winter 1902:87; Carey 1974a:15).
Tirakat itu memberikan suatu masa sepi saat seseorang membersihkan diri dari pamrih (dorongan hati dan ambisi pribadi tersembunyi) dan untuk membenarkan sepakterjangnya melalui penampakan dengan roh leluhur dan pelindung rohani Jawa.
Penampakan pertama terjadi sewaktu Diponegoro bersamadi di Gua Song Kamal di daerah Jejeran arah selatan Yogya.
Sunan Kalijogo, seorang di antara sembilan wali, muncul di hadapan Pangeran dalam bentuk seseorang “yang bersinar bagai bulan purnama”. Penampakan itu memberitahu pangeran bahwa sudah ditentukan oleh Allah, suatu waktu nanti ia akan menjadi raja (ratu). Sesudah menyampaikan ramalan peringatan ini, penampakan tersebut menghilang.
Penampakan Sunan Kalijogo dan ramalannya tentang kerajaan merupakan hal yang sangat penting bagi Diponegoro. Wali tersebut bukan hanya sangat dimuliakan di Jawa tengah-selatan sebagai penasihat raja-raja dan pelindung kerohanian buat Mataram, yang hadir lewat penampakan kepada anggota keluarga kerajaan maupun rakyat biasa, tapi ceritera rakyat pun telah memberinya peran utama dalam menyebarkan Islam di kawasan itu (De Graaf dan Pigeaud 1974:28–30; Solichin Salam 1963).
Dari Jejeran, Diponegoro menjelajahi pedalaman menuju Imogiri, daerah pemakaman kerajaan atau pasarean raja-raja Mataram.
Di Bengkung, di tepi kolam pada puncak tangga lebar menuju makam kerajaan, ia menghabiskan seminggu lamanya untuk bersamadi. Ia kemudian melaksanakan salat Jumat di masjid di Jimatan, masjid para pemegang kunci (juru kunci). Dalam babad karyanya, Diponegoro menceritakan bahwa semua juru kunci itu mengenal dia kendati pakaiannya bersahaja dan “memberi dia penghormatan dengan segala yang mereka miliki”.
Selain berziarah ke makam kerabat dekatnya yang baru meninggal, khususnya makam Sultan Mangkubumi (Hamengkubuwono I) (wafat 1792) dan Ratu Ageng (wafat 1803), samadi Diponegoro di Bengkung hampir pasti ditujukan kepada Sultan Agung, raja Mataram abad ketujuh belas yang termasyhur itu. Dari penggambaran dalam babad karya Pangeran tentang pembangunan makam kerajaan tersebut, tampak bahwa ia paham bahwa Bengkung merupakan tempat khusus bagi Sultan Agung untuk menyepi.
Dalam suatu sumber Jawa yang ditulis segera setelah Perang Jawa atas perintah seorang di antara penganjur kebijakan pro-Belanda, Diponegoro diceritakan mengutus seorang kepercayaannya ke makam Sultan Agung di Imogiri untuk minta petunjuk.
Setelah bersamadi selama satu malam, cerita itu mengatakan, suatu bercak merah tua sebesar piring muncul di tirai penutup makam. Juru kunci Kesultanan Yogya, Kiai Balad, kemudian menjelaskan, tanda ini berarti Allah sudah menentukan bahwa perang harus pecah di Jawa dan darah akan banyak mengalir.
Dalam penuturan mengenai kunjungannya ke makam Sultan Agung seperti yang tertulis dalam otobiograinya, Diponegoro tidak menyebut telah menerima suatu tanda. Namun, seperti yang sudah kita lihat, Pangeran itu memang betul merujuk pada satu di antara sejumlah ramalan Sultan Agung sehubungan dengan penjajahan Belanda atas Jawa selama 300 tahun, ramalan yang berkaitan dengan kehidupan Diponegoro sendiri.
Di pantai selatan: perjumpaan dengan Ratu Kidul
Dalam perjalanan ke Pantai Selatan, Diponegoro mengikuti rute yang telah ditetapkan dan mengunjungi dua gua yang memiliki nilai spiritual yang tinggi di Jawa. Gua Siluman sering dihubungkan dengan Istana Lelembut yang diperintah oleh Ratu Kidul, dan Gua Sigologolo kerap dikunjungi oleh elite Istana untuk bersemedi dan menyepi.
Diponegoro mengalami pengalaman spiritual di Gua Langse. Di sini ia dikunjungi Ratu Kidul. Kehadirannya didahului aura sinar. Namun, saat itu Pangeran Diponegoro sudah terhanyut dalam semedinya, hingga Ratu Kidul sadar sang pangeran tidak bisa diganggu. Ratu pun kemudian mundur sambil berjanji "suatu saat datang lagi".
Setelah itu, Diponegoro melanjutkan perjalanannya ke Parangtritis dan tidur di Parangkusumo, serta mengalami pengalaman spiritual di Gua Song Kamal. Diponegoro mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga tentang masa depan Jawa.
Dalam babad yang ditulisnya sendiri dikisahkan, Diponegoro saat itu tengah laku tirakat dan dikunjungi Sunan Kalijaga. Melalui suara gaib, Sunan Kalijaga mengatakan akan datang masa kehancuran Jogja dan awal runtuhnya Jawa alias wiwit bubrah tanah Jawi, dalam tiga tahun ke depan.
Diponegoro kemudian diperintahkan mengubah nama religiusnya dari Ngabdulrahim menjadi Ngabdulkamit dan suatu tanda akan diberikan kepadanya dalam bentuk anak panah bernama Sarutomo. Panah itu tampak olehnya seperti suatu kilatan cahaya menembus batu tempatnya tidur. Kemudian suara itu pun lenyap.
Waktu yang dijanjikan Ratu Kidul baru terwujud lebih dari 20 tahun kemudian. Saat itu Perang Jawa sedang sengit-sengitnya. Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tengah berkemah di Kamal, di tepi suatu cabang Kali Progo, kira-kira pada pertengahan Juli 1826.
Saat itu Ratu Kidul berjanji akan membantu Pangeran Diponegoro melenyapkan Belanda asalkan sang pangeran meminta kepada Allah agar Ratu Kidul bisa menjadi manusia lagi. Permohonan itu ditolak Pangeran Diponegoro yang menyebutkan bahwa pertolongan hanya datang dari Sang Maha Kuasa.
Berikut ini kisah perjumpaan keduanya seperti yang terdapat dalam Babad Diponegoro:
Lalu sang Sultan [Diponegoro]
sedang duduk kala malam di pondoknya
tiada pendampingnya,
karna mereka tidur lelap.
Ia terserap dalam samadi bersandarkan tiang,
karna hatinya sungguh berat.
Itulah pertanda bahwa
mendadak seseorang datang.
Seolah-olah ada bintang turun ke pondok.
Langsung saja bersila di hadapan
Sultan sesosok perempuan
Ada dua pengiringnya,
semua perempuan sama rupa
yang mustahil dilukiskan.
Tapi, di antara tiga sosok itu, satu
agak lain dari dua pengiringnya.
Lama Sultan tak menyapanya,
terperangah menatap dia
dan mengamatinya lebih dekat.
Sosok itu duduk tapi tak menyentuh tanah.
Sultan berucap lirih: “Aku bertanya [namamu]
sebab aku terperangah.”
Ratu [Kidul] jawab: “Pernah aku berjanji kepadamu
bahwa nanti, bila saatnya tiba,
[Aku] takkan gagal menemuimu.”
Sultan itu paham di hatinya.
Maka terpikirlah ia
barangkali namanya Ratu Kidul
karna ia sangat muda.
Sultan itu berucap tenang:
“Sekarang aku ingat.”
Ratu [Kidul] lalu berkata lembut:
“Jika aku boleh menolongmu,
aku minta janji setia
begitu mereka sirna semua
setan-setan kafir itu [Belanda],
kamu akan menolongku
demi Allah Yang Maha Kuasa
agar aku dapat kembali
jadi manusia lagi.
Lebih daripada itu, semua balatentaramu,
tidak usah bertempur,
karna akulah yang berjanji
untuk melenyapkan setan-setan itu.”
Sultan berkata lembut:
“Aku tak minta bantuanmu
melawan sesamaku [makhluk manusia],
karna dalam agama pertolongan hanya dari Allah.”
Ratu [Kidul] langsung gaib.
Bersambung ke bagian 2

