Menapak Jalan Sepi Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Jika saya ditanya, dari mana saya memperoleh informasi terkait berbagai hal yang saya ulas dalam tulisan saya selama ini, tentu idealnya saya akan menjawab jika semua itu semata-mata datangnya dari Allah. Karena, saya sangat percaya bahwa seseorang tidak akan mengetahui sesuatu jika Dia tidak menghendaki seseorang itu mengetahuinya, sebagaiman firman-Nya:

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Al Baqarah : 269 )

Namun, tentunya memang ada baiknya jika saya jelaskan pula bagaimana secara teknis tulisan itu dapat saya susun. 

Seperti halnya proses persiapan menulis yang dilakukan setiap orang, saya pun juga sangat banyak membaca, menelusuri suatu subyek dari satu buku ke buku lainnya. Hingga tanpa terasa, bisa mencapai belasan atau bahkan puluhan buku ataupun artikel ilmiah saya baca untuk mendalami materi tulisan yang ingin saya susun.

Bisa saya katakan bahwa, untuk semua tulisan yang telah saya posting selama ini, saya telah membaca ribuan buku dan sejumlah jurnal ilmiah, dari dalam dan luar negeri.

Biasanya, di jeda istirahat dalam proses membaca itu, saya luangkan waktu yang cukup panjang untuk merenung (kontemplasi), dan mencoba merekonstruksi informasi-informasi yang telah saya dapatkan tersebut di dalam alam pikiran.

Proses reka ulang dalam alam pikiran inilah yang dalam pandangan saya merupakan hal terpenting. Di tahap inilah momentum letupan denyaran intuitif melintas – memproyeksikan hal-hal di masa lalu yang ingin saya ketahui.

Masukan yang diperoleh secara intuitif tentu saja butuh pemaparan yang didukung oleh data faktual sehingga nantinya dapat mudah diterima oleh alam pikiran logis para pembaca.

Karena itu, jika proses baca sebelumnya bisa dikatakan adalah merupakan proses membuka cakrawala, maka, dalam proses baca saya selanjutnya, saya telah mulai secara spesifik mencari data-data yang dapat membuktikan apa yang saya temukan secara intuitif dalam proses kontemplasi.

Ini sejalan dengan teori proses kreatif yang disampaikan Graham Wallas dalam karyanya Art of Thought yang diterbitkan pada tahun 1926.

Menurut Wallas, wawasan dan iluminasi kreatif dapat dijelaskan melalui proses yang terdiri dari 5 tahapan:

  • (i) preparation (melakukan persiapan diri, yakni memfokuskan pikiran pada masalah dan mengeksplorasi dimensi masalah)
  • (ii) incubation (masalah diinternalisasi ke dalam pikiran bawah sadar)
  • (iii) intimation (orang yang kreatif mendapat “perasaan” (isyarat) bahwa solusi sedang dalam perjalanan)
  • (iv) illumination atau insight (tahap di mana ide kreatif muncul dari pemrosesan pengetahuan pra-sadar menjadi pengetahuan sadar)
  • (v) verification (tahap di mana ide secara sadar diverifikasi, dielaborasi, dan kemudian diterapkan).

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s