Spiritual

Menapak Jalan Sepi Penjelajah dan Pengumpul Esensi

"Penjelajah dan Pengumpul Esensi" adalah kalimat yang saya gunakan untuk semua bio di akun media sosial saya. Saya pilih kalimat "Penjelajah dan Pengumpul Esensi" ini karena bisa…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

4 menit baca

"Penjelajah dan Pengumpul Esensi" adalah kalimat yang saya gunakan untuk semua bio di akun media sosial saya.

Saya pilih kalimat "Penjelajah dan Pengumpul Esensi" ini karena bisa dikatakan sepenuhnya sesuai dengan fokus saya selama ini, yaitu: terus menjelajah hal-hal yang belum terpetakan dan menjadi misteri dalam sejarah umat manusia.

Dan setiap hal yang saya temui (terutama yang saya yakini bersifat esensi atau fundamental) senantiasa saya dokumentasikan (saya kumpul) dalam artikel di blog ini,

Beberapa artikel saya anggap materinya sudah final dalam artian saya yakin bahwa hal yang saya tulis di dalam artikel itu sudah seperti itulah hakikatnya. Saya sudah tidak ragukan kebenarannya. Tapi ada juga artikel (dan ini jumlahnya lebih banyak) yang sifatnya "masih dalam perjalanan" - masih berproses dalam penjelajahan yang saya sendiri tidak tahu kapan akan berakhir.

Dan bahwa ada yang percaya, juga ada yang tidak percaya, tentu saya sadari sebagai hal yang pasti akan terjadi. Jadi, Insya Allah saya tidak akan terganggu.

Jika saya ditanya, dari mana saya memperoleh informasi terkait berbagai hal yang saya ulas dalam tulisan saya selama ini, tentu idealnya, saya akan menjawab jika semua itu semata-mata datangnya dari Allah. Karena, saya sangat percaya bahwa seseorang tidak akan mengetahui sesuatu jika Dia tidak menghendaki seseorang itu mengetahuinya, sebagaiman firman-Nya:

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Al Baqarah : 269 )

Namun, tentunya memang ada baiknya jika saya jelaskan pula bagaimana secara teknis tulisan itu dapat saya susun.

Seperti halnya proses persiapan menulis yang dilakukan setiap orang, saya pun juga sangat banyak membaca, menelusuri suatu subyek dari satu buku ke buku lainnya. Hingga tanpa terasa, bisa mencapai belasan atau bahkan puluhan buku ataupun artikel ilmiah saya baca untuk mendalami materi tulisan yang ingin saya susun.

Bisa saya katakan bahwa, untuk semua tulisan yang telah saya posting selama ini, saya telah membaca ribuan buku dan sejumlah jurnal ilmiah, dari dalam dan luar negeri.

Biasanya, di jeda istirahat dalam proses membaca itu, saya luangkan waktu yang cukup panjang untuk merenung (kontemplasi), dan mencoba merekonstruksi informasi-informasi yang telah saya dapatkan tersebut di dalam alam pikiran.

Proses reka ulang dalam alam pikiran inilah yang dalam pandangan saya merupakan hal terpenting. Di tahap inilah momentum letupan denyaran intuitif melintas – memproyeksikan hal-hal di masa lalu yang ingin saya ketahui.

Masukan yang diperoleh secara intuitif tentu saja butuh pemaparan yang didukung oleh data faktual sehingga nantinya dapat mudah diterima oleh alam pikiran logis para pembaca.

Karena itu, jika proses baca sebelumnya bisa dikatakan adalah merupakan proses membuka cakrawala, maka, dalam proses baca saya selanjutnya, saya telah mulai secara spesifik mencari data-data yang dapat membuktikan apa yang saya temukan secara intuitif dalam proses kontemplasi.

Ini sejalan dengan teori proses kreatif yang disampaikan Graham Wallas dalam karyanya Art of Thought yang diterbitkan pada tahun 1926.

Menurut Wallas, wawasan dan iluminasi kreatif dapat dijelaskan melalui proses yang terdiri dari 5 tahapan:

  • (i) preparation (melakukan persiapan diri, yakni memfokuskan pikiran pada masalah dan mengeksplorasi dimensi masalah)
  • (ii) incubation (masalah diinternalisasi ke dalam pikiran bawah sadar)
  • (iii) intimation (orang yang kreatif mendapat “perasaan” (isyarat) bahwa solusi sedang dalam perjalanan)
  • (iv) illumination atau insight (tahap di mana ide kreatif muncul dari pemrosesan pengetahuan pra-sadar menjadi pengetahuan sadar)
  • (v) verification (tahap di mana ide secara sadar diverifikasi, dielaborasi, dan kemudian diterapkan).

Model Wallas oleh beberapa kalangan sering diperlakukan sebagai empat tahap, dengan “intimation” dilihat sebagai sub-tahap.

Menurut saya, hanya ada tiga tahap: (i) Preparation – (ii) Contemplation (proses incubation, intimation dan illumination menyatu di sini) – (iii) Verification.

Dalam Proses yang saya lakukan, proses membaca (preparation) dan berkontemplasi (incubation – illumination) umumnya akan saya ulang beberapa kali, hingga tiba pada saat di mana saya telah cukup yakin untuk menyusun hal-hal tersebut dalam sebuah karya tulis.

Dalam proses menyusun ini, biasanya saya tetap mempertimbangkan mana bagian yang memang telah perlu dipublikasi, dan mana bagian yang saya pertimbangkan “belum saatnya” untuk dipublikasi.

Bisa saya katakan bahwa, tulisan-tulisan yang telah saya publikasi selama ini, yang umumnya menyajikan data kesejarahan, saya interpretasi secara “konvensional” maupun secara “radikal.”  Tapi ini bukan tentang upaya mengakomodir pendukung kedua spektrum.

Ketika premis-premis yang tersedia, kuat mengarahkan saya untuk mencetuskan suatu klaim hipotesis, maka, Insya Allah, saya akan menyatakan pendapat itu. Tak peduli apakah itu akan dinilai konvensional atau radikal. Dinilai sebagai kajian ilmiah atau akan diejek sebagai cocoklogi.

Saya berprinsip, tindakan maju menyatakan pendapat ke publik, esensinya bukan tentang mengejar citra, tapi adalah tentang menyatakan suatu pandangan yang diyakini kebenarannya, dan memiliki asas manfaat bagi khalayak.

Terkait mengenai khalayak umum sebagai target pembaca, saya pikir, apa dan bagaimana saya menyajikan tulisan selama ini, akan berfungsi membawa data penelitian ilmiah (terkait Arkeologi, Antropologi, dan sejenisnya) ke khalayak yang lebih luas. Ini akan merangsang minat, keingintahuan, dan pemikiran kritis mereka tentang masalah tersebut.

Demikianlah, gambaran umum proses yang saya lalui dalam upaya menghadirkan suatu bacaan yang bermutu kepada para pembaca, dan fokus mendedikasikan diri sebagai "Penjelajah dan Pengumpul Esensi".

Baca artikel terkait: "Menafsir Ulang Sejarah Menafsir Ulang Diri Sendiri" di dalam tulisan ini saya mengulas hal yang memungkinkan saya dapat "menangkap" spektrum sejarah yang sudah sangat kuno, yang telah sangat lama terlupakan dan terpendam dalam palung sejarah umat manusia.

Artikel Terkait

Komentar