Kisah Terpendam Para Nabi

Etnis Akha (Petani Opium di Segitiga Emas Asia Tenggara) adalah Kaum Aikah yang Disebut dalam Al-Quran

Beberapa cendikiawan mengatakan jika Orang Madyan adalah sama saja dengan orang Aikah. Namun beberapa hal yang akan saya urai berikut ini menunjukkan jika hal tersebut besar…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

8 menit baca
Kisah Terpendam Para Nabi

Beberapa cendikiawan mengatakan jika Orang Madyan adalah sama saja dengan orang Aikah. Namun beberapa hal yang akan saya urai berikut ini menunjukkan jika hal tersebut besar kemungkinan tidak benar. Dalam beberapa hal, malah orang Aikah dan orang Rass yang sepertinya menunjukkan adanya persamaan.

Seperti misalnya orang Rass yang menyembah pohon sanobar yang mereka anggap memiliki ruh atau spirit (dalam penjelasan Ali bin Abu Thalib disebut sebagai Hayat al-Ilahiyah "Kehidupan Ketuhanan") memiliki kesamaan dengan makna nama 'aikah' yang berarti: hutan, atau sebutan 'A-ab al-Aykah' yang berarti: sahabat hutan. Secara bahasa al-Aikah dapat pula bermakna "semak belukar" (lihat: di sini)

Saya melihat banyak artikel yang tersebar di internet yang menyebut bahwa 'Aikah' berasal dari nama pohon yang disembah kaum Aikah. Terkait pendapat ini, saya pikir, mungkin telah terjadi kekeliruan penafsiran. Saya lebih setuju dengan pendapat bahwa sebutan 'Aikah' berarti "hutan" dan terutama "semak belukar".

Satu hal yang tampaknya terkait antara orang aikah dan orang Madyan adalah bahwa wilayah mereka besar kemungkinan berada di wilayah yang berdekatan.

Bahkan jika merujuk pada Al Quran surat Asy-Syu'araa ayat 176-182 yang membahas teguran nabi Syuaib kepada kaum Aikah yang melakukan kecurangan dalam kegiatan jual beli, seperti teguran nabi Syuaib kepada kaum Madyan yang melakukan hal serupa, maka saya memperkirakan jika wilayah negeri kaum Aikah pun berada di wilayah negeri tengah seperti halnya kaum madyan.

Bunyi surat Asy-Syu'araa ayat 176-182 yang berisi teguran nabi Syuaib kepada kaum Aikah:

Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu'aib berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.

Bunyi surat Al-A'raaf ayat 85 yang berisi teguran nabi Syuaib kepada kaum Madyan:

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".

Dugaan ini setidaknya mendapat angin dengan keberadaan toponim Aikhari Billar Pathar, di distrik Barpeta, Assam, India - sebelah utara wilayah Madhyanagar Bazar. Berikut ini petanya...

Aikhari Billar Pathar tepat berada di Utara Madhyanagar yang diduga merupakan kampung halaman orang Madyan (dokpri)Aikhari Billar Pathar tepat berada di Utara Madhyanagar yang diduga merupakan kampung halaman orang Madyan (dokpri)

Jejak Kaum Aikah pada hari ini

Ada beberapa hal pada kelompok etnis Akha yang menghuni desa-desa kecil di dataran tinggi pegunungan Thailand, Myanmar, Laos, India Timur Laut dan Yunnan Provinsi di Cina, yang memunculkan dugaan saya bahwa ada kemungkinan mereka adalah kaum Aikah dan kaum Rass yang hilang.

Orang Akha mengklaim bahwa tanah air asli mereka ada di perbatas Tibet. Yang jika perbatasan Tibet yang dimaksud adalah perbatasan sebelah selatan maka dugaan di atas ada kemungkinan benar. [sumber di sini]

Nama etnis Akha yang merupakan petani utama tanaman opium di wilayah segitiga emas Asia Tenggara, tidak saja identik dengan kaum Aikah yang dibahas dalam Al Quran, tetapi ada banyak hal tentang etnis Akha yang menunjukkan kemiripan dengan kaum Aikah dan terutama kaum Rass.

Berikut ini beberapa keidentikan tersebut....

KESAMAAN SIKLUS RITUAL PERAYAAN 12 KALI DALAM SETAHUN

Jika dalam penjelesan Ali bin Abu Thalib disebutkan bahwa: Kaum Rass memiliki dua belas desa yang makmur ditepian sungai yang dinamakan Sungai Rass.

Desa-desa tersebut bernama Oban, Odzar, Die, Bahman, Isfand, Farwadin, Ordi Bahsyt, Khordad, Murdad, Tiir, Mihr, dan Syahriwar kemudian nama-nama desa tersebut oleh Bangsa Persia dijadikan nama-nama bulan dalam sistem penanggalan mereka.

Lalu dijelaskan juga bahwa komunitas Rass mengadakan perayaan sehari pada setiap bulan sebagai event dimana persembahan dari masing-masing desa dilangsungkan. Puncak hari raya mereka disebut Isfandr.

Maka, hal yang sama rupanya dapat pula kita temukan dalam etnis Akha, yaitu bahwa mereka memiliki tradisi siklus tahunan yang terdiri dari sembilan atau dua belas ritual persembahan.

Dalam perhitungan kalender mereka, satu minggu Akha adalah 12 hari; untuk setiap kegiatan desa, ada hari-hari yang menguntungkan dan tidak menguntungkan.

KEPERCAYAAN YANG SAMA PADA PEMUJAAN "HUTAN"

Jika kaum Rass disebut menyembah pohon sanobar yang mereka anggap memiliki ruh atau spirit atau yang dalam penjelasan Ali bin Abu Thalib disebut sebagai Hayat al-Ilahiyah (Kehidupan Ilahiah), lalu sebutan "'A-ab al-Aykah' yang berarti: sahabat hutan" bagi kaum Aikah, maka, etnis Akha dikenal sebagai etnis yang sangat tergantung pada hutan.

Etnis Akha bisa dikatakan memiliki kepercayaan persis seperti yang dimiliki kaum Rass dan kaum Aikah.

Seperti halnya kaum Rass dan Aikah yang disebut dalam Al Quran, Etnis Akha juga percaya bahwa pohon memiliki ruh atau spirit. Setelah membelah kayu, seseorang tidak diperbolehkan membuang kayu yang terbelah menjadi tumpukan karena itu akan melecehkan spirit kayu.

KESAMAAN SEBAGAI PENGGUNA CANDU

Jika kita cermati nama puncak hari raya kaum Rass yang disebut Isfandr, ada kemungkinan makna nama tersebut merujuk pada tumbuhan berbahasa latin "Peganum harmala " yang dalam bahasa Persia dikenal dengan sebutan "espand" atau "ispand", yaitu tanaman herbal yang mengandung zat halusinogen,  sehingga pada masa lalu dapat dijual bagi penggunaan narkoba.


Sebutan 'Isfand' merupakan bagian dari dua belas nama desa kaum Rass (yakni: Oban, Odzar, Die, Bahman, Isfand, Farwadin, Ordi Bahsyt, Khordad, Murdad, Tiir, Mihr, dan Syahriwar) yang kemudian diadopsi bangsa Persia sebagai nama-nama bulan dalam sistem penanggalan mereka.

Jika puncak perayaan tahunan kaum Rass disebut 'isfandir' maka ada kemungkinan jika dalampuncak perayaan tersebut terdapat kegiatan penggunaan tanaman isfand atau sejenisnya yang menimbulkan halusinasi. Hal ini pun rupanya dapat pula kita temukan pada kebiasaan etnis Akha.

Suku Akha terkenal sebagai suku bukit dengan tingkat kecanduan opium yang sangat tinggi. Bahkan, sebagai suku perambah hutan, dalam membuka lokasi baru, selain memilih lokasi yang berada di ketinggian, lokasi yang dipilih itu harus pula berhutan, mendukung penanaman padi, jagung, dan poppy (tanaman opium), dan harus ada padang rumput untuk sapi.

Menurut pengacara hak asasi manusia internasional Jonathan Levy...

"Akha diidentifikasikan dengan para penanam opium yang hingga saat ini mendominasi bagian" Segitiga Emas "di Thailand. Thailand telah mengambil langkah-langkah untuk memberantas penanaman opium dengan menempatkan kembali Akha ke desa-desa permanen. Namun, teknik opium maupun teknik pertanian yang sudah lama tertanam adalah kunci bagi budaya Akha yang kompleks.

Sementara penanaman opium tradisional telah ditekan, Heroin olahan, Crystal meth (the latest scourge), dan metamfetamin, tersedia secara bebas dari Burma. Dengan demikian Akha telah menjadi petani miskin dan dalam banyak kasus adalah sebagai pecandu narkotika. Ketika Akha dimukimkan kembali, mereka bersentuhan dengan budaya Thai arus utama, banyak wanita Akha tertarik pada uang industri seks yang "mudah" (Levy, Jonathan. "The Akha and Modernization; A Quasi Legal Perspective" )

Orang Akha dengan pipa opium (sumber: wikipedia.org)Orang Akha dengan pipa opium (sumber: wikipedia.org)

KEBIASAAN PROSTITUSI SEBAGAI GAMBARAN TINGKAT MORALITAS YANG RENDAH

Ada banyak kasus prostitusi di bawah umur di Thailand yang melibatkan orang Akha.

William Branigin menulis di Washington Post artikel berjudul "Children for sale in Thailand", yang bercerita tentang Mii Chuu yang masih berusia 12 tahun ketika ayah tirinya, seorang pecandu opium, menjualnya ke pelacuran. Dia dibawa dari desanya di wilayah suku bukit Akha di Burma menuju rumah bordil di kota Chiang Rai, setelah ayah tirinya dibayar $ 192. Dia terpaksa berhubungan seks dengan tiga pria di hari pertamanya. " [Sumber: William Branigin, "Children for sale in Thailand" Washington Post, 28 Desember 1993]

Ada pula cerita, Satu keluarga Akha ditawari televisi seharga $ 400 dan ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat membayarnya, seorang pedagang anak muncul yang bersedia meminjamkan $ 1.600 kepada keluarga tersebut dengan imbalan "putri kecil mereka yang sangat cantik."

KESAMAAN PEMUJAAN PADA RUH AIR

Jika dalam beberapa riwayat kaum Rass dikisahkan sebagai kaum penyembah berhala yang bertempat tinggal dekat dengan telaga (di dalam kisah lain disebutkan sungai), maka hal ini pun ada kesamaan pada suku Akha.

Kepercayaan orang Akha pada roh air sangat kuat, dan merupakan sesuatu yang mereka takuti, akibatnya, tingkat kebersihan mereka sangat rendah. Suku Akha tidak disukai oleh suku-suku pegunungan di Thailand dan Burma, yang menganggap mereka kotor, tidak peduli, dan kejam.

MENJADI KAUM YANG DIRENDAHKAN SEBAGAI KONSEKUENSI DARI PRILAKU YANG BURUK

Para penutur bahasa Tai di Myanmar dan Thailand menyebutnya suku Akha sebagai "gaw" atau "ekaw" (ikaw / ikho), istilah yang dipandang Akha sebagai penghinaan.

Di Laos, istilah sehari-hari yang digunakan oleh penutur Tai untuk menyebut Akha adalah "kho" (ko), sering diawali dengan kata "kha", yang berarti "budak."

Sebutan ini pada dasarnya ada kemiripan dengan kata "kaw-nang" yang dalam bahasa Tae' di Sulawesi berarti "budak", atau "kawu-la" yang dalam bahasa Jawa juga berarti abdi, hamba atau budak.

Sulitnya Para Alim Ulama Dalam Upaya Memberi Pencerahan

Telah banyak misionaris Protestan maupun Katolik yang sangat aktif bergerak di desa-desa Akha. Sejumlah besar orang Akha dilaporkan telah masuk Kristen. Dalam banyak kasus seluruh desa bertobat dan mereka telah banyak yang meninggalkan kepercayaan agama tradisional.

Namun demikian, masih Banyak pula orang Akha yang mengeluh tentang para misionaris yang datang ke desa-desa untuk mempertobatkan mereka, yang kadang mereka anggap dilakukan secara paksa.

Banyak Akha merasa bahwa para misionaris menggeneralisasi sistem kepercayaan tradisional mereka sebagai "pagan", karena itu mereka anggap telah merendahkan kepercayaan lama mereka.

Demikianlah, jika dugaan saya benar bahwa suku Akha adalah keturunan dari kaum Aikah ataupun kaum Rass yang disebut dalam Al Quran, maka bisa dikatakan bahwa selama ribuan tahun kaum ini masih saja berada dalam situasi akhlak yang memprihatinkan.

Fakta bahwa beberapa ciri-ciri kebiasaan yang secara spesifik dimiliki kaum Aikah dan kaum Rass yang terlihat tampak dimiliki suku Akha, dapat menguatkan asumsi jika kaum Aikah-lah yang ada kemungkinan sama dengan kaum Rass. Berbeda dengan pendapat sebagian kalangan cendikiawan yang mengatakan bahwa kaum Aikah dan kaum Madyan sebagai kaum yang sama.

Orang Akha. Gambar diambil sekitar tahun 1900 (sumber: wikipedia.org)Orang Akha. Gambar diambil sekitar tahun 1900 (sumber: wikipedia.org)

Sekian pembahasan jejak kaum Madyan, aikah dan Rass. Semoga bermanfaat. Salam.

Artikel Terkait

Komentar