Melalui studi perbandingan agama kita dapat mengetahui jika yang dikenal sebagai nabi Syuaib dalam tradisi Islam adalah sama dengan seseorang yang bernama Yitro (Jethro) yang disebut di dalam Alkitab.
Hal ini dikuatkan terutama dengan mencermati pernyataan dalam Al-Quran (surat Al Qasas ayat 23-28), yang membahas perjumpaan nabi Musa dengan seorang sheikh atau pemimpin kaum Madyan (yang oleh para ahli tafsir mengidentifikasinya sebagai nabi Syuaib), yang kemudian menikahkan Musa dengan salah seorang anak perempuannya.
Lalu, dengan kisah senada yang diriwayatkan dalam Alkitab (Keluaran 18), yang menyebutkan Yitro, seorang gembala Keni dan pendeta kaum Midian, sebagai mertua Nabi Musa.
Hal yang perlu mendapat perhatian di sini adalah penyebutan Yitro sebagai seorang gembala suku Keni.
Banyak kalangan menyebutkan bahwa ‘Keni’ adalah terjemahan bahasa Ibrani “Qeyniy”. Yang oleh Heinrich Friedrich Wilhelm Gesenius (1786-1842), seorang orientalis Jerman, dan kritikus Alkitab, dijelaskan bahwa nama tersebut berasal dari nama Kain (Qayin), putra pertama Nabi Adam.
Penjelasan nama suku Keni sebagai bentuk derivasi dari nama Cain putra Adam (sumber: http://www.blueletterbible.org)
Pemahaman bahwa suku Keni merupakan keturunan dari Cain inilah yang mendasari sebagian kalangan ada yang berpendapat jika suku Keni (suku nomaden yang mendiami wilayah kuno Levant) konon berasal atau bermigrasi dari Asia selatan, dikarenakan, dalam tradisi agama Samawi (Yahudi, Kristen, maupun Islam) dipercaya bahwa Nabi Adam diturunkan di India.
Di sisi lain, data studi genetik mutakhir pun pada dasarnya telah menyiratkan adanya gelombang migrasi pada masa prasejarah yang berasal dari Asia selatan dan Asia Tenggara, yang menyebar ke Eurasia, Timur Tengah, hingga Eropa.
Selain nama nabi Syuaib dan Yitro, ada pula disebut nama “Reuel”, disebut sebagai mertua Musa Dalam Alkitab Keluaran 2: 18, tetapi kemudian kembali disebut sebagai “Yitro” pada Keluaran 3: 1.
Fakta bahwa ada tiga nama (nabi Syuaib, Yitro, dan Reuel) untuk satu orang yang sama, tidak perlu membuat kita memunculkan pertanyaan “mana nama yang asli?” karena bisa dikatakan semua asli dan memiliki nilai pemaknaan tersendiri. Berikut ini makna nama-nama tersebut…
Makna nama nabi Syuaib, Yitro, dan Reuel
beberapa kalangan menyebutkan jika makna nama nabi Syuaib adalah: “yang menunjukkan jalan yang benar”, seperti yang disebutkan dalam buku “Roads to Paradise: Eschatology and Concepts of the Here after in Islam“.
Dalam buku “The Making of the Last Prophet: A Reconstruction of the Earliest Biography of Muhammad” oleh: Muammad Ibn Isq, Gordon Darnell Newby (1989) disebutkan makna “Shu-ayb” adalah: cabang / ranting.
Makna nama Shu-ayb di buku The Making of the Last Prophet: A Reconstruction of the Earliest Biography of Muhammad (dokpri)
Makna nama nabi Syuaib yang berarti "Percabangan" dijelaskan dalam buku “Ismail Hakki Bursevi’s Translation of and Commentary on Fus Al-ikam by Muhyiddin Ibn Arabi, Volume 1” (1986), di situ disebutkan makna “Shu-ayb” adalah: percabangan.
Makna nama Shu’ayb di buku Ismail Hakki Bursevi’s Translation of and Commentary on Fus Al-ikam by Muhyiddin Ibn Arabi, Volume 1 (1986) (dokpri)
Adapun etimologi nama nabi Syuaib saya temukan dalam bahasa Urdu, yang kurang lebih menunjukkan kesamaan makna yang disebutkan di atas, yaitu: ‘Shu’ artinya: pertunjukkan / menunjukkan; ‘Ayb’ artinya: adil / jujur / sedang / menengah / pertengahan. (sumber di sini)
Demikianlah, keseluruhan makna nama ‘shu-ayb’ ini pada dasarnya menunjukkan hubungan yang sangat erat dengan makna ‘madyan’ atau ‘midian’ sebagai “negeri tengah” atau “negeri pertengahan” yang menjadi “titik percabangan” antara wilayah timur dan barat, sebagaimana yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: Jejak Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab.
Hal ini pada gilirannya juga menguatkan hipotesis saya sebelumnya bahwa nama Madyan berasal dari kata Sanskerta ‘madya’ yang berarti ‘tengah’, dan bentuknya dalam literatur Eropa ‘Midian’ berasal dari kata ‘mid’ yang juga berarti ‘tengah’ atau ‘pertengahan’.
Adapun makna ‘Yitro’ adalah: keunggulan (preeminence), sementara ‘Reuel’ adalah: Tuhan adalah teman, sebagaimana yang dijelaskan R. J. Rushdoony (1916-2001), seorang filsuf, sejarawan, dan teolog, dalam bukunya “Exodus: Volume II of Commentaries on the Pentateuch”.
Penjelasn makna nama Yitro dan Reuel dalam buku “Exodus: Volume II of Commentaries on the Pentateuch” (dokpri)
Hikmah yang perlu dipahami dari fakta ini adalah bahwa seorang tokoh besar setingkat seorang nabi adalah wajar memiliki banyak nama. Nama-nama tersebut merepresentasi rekaman aspek khusus atau nilai-nilai esensial yang melekat pada takdir tokoh atau nabi tersebut.


