Besarnya penolakan masyarakat ilmiah Eropa terhadap doktrin rasialis "ras arya" sebagai ras unggul umat manusia, mendorong Hitler dan Partai Nazinya, untuk membuktikan kebenaran doktrin mereka dengan melakukan penelitian secara ekstensif untuk menggali dan mengumpulkan bukti arkeologis tentang sejarah budaya dan karakteristik ras Arya di berbagai penjuru dunia.
Pada tahun 1935, berdiri sebuah lembaga penelitian elit Nazi bernama Ahnenerbe. Nama itu berasal dari kata Jerman yang agak kabur, yang berarti "sesuatu yang diwarisi dari nenek moyang." Misi resmi Ahnenerbe adalah untuk menggali bukti baru tentang pencapaian nenek moyang Jerman "menggunakan metode ilmiah yang tepat." (Kenneth Hite: The Nazi Occult, 2013: 20)
Pendiri Ahnenerbe terdiri dari: Herman Wirth, seorang sejarawan Belanda-Jerman, sarjana agama dan simbol kuno, yang terobsesi dengan Atlantis; Walter Darre pencipta ideologi 'Darah dan Tanah' Nazi, dan menjabat sebagai Menteri Pangan dan Pertanian Reich dari tahun 1933 hingga 1942 ; serta Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS ( Schutzstaffel ).
Organisasi ini memiliki banyak cabang berbeda, yang menangani lebih dari seratus total proyek penelitian. Penggalian arkeologi dilakukan di Jerman, Yunani, Polandia, Islandia, Rumania, Kroasia dan banyak negara lain, termasuk Afrika dan Rusia (bagian yang diduduki). Tibet terutama menjadi prioritas bagi para peneliti, dan khususnya Institute for Inner Research Asia. (sumber di sini)
Pengamat sejarah modern sebagian besar menganggap bahwa "operasi Arkeologis Ahnenerbe' tidak ada bedanya dengan "bisnis pembuatan mitos". Para peneliti terkemuka yang turut mengabdikan diri dalam kegiatan penelitian tersebut, dianggap telah berupaya mendistorsi kebenaran dan mengaduk-aduk bukti - yang dirancang dengan hati-hati untuk mendukung ide-ide Adolf Hitler, sekaligus mendukung tujuan politis untuk menguatkan nasionalisme Nazi Jerman.
Hitler telah mempromosikan ide-idenya tentang kebesaran leluhur Jerman dalam bukunya tahun 1925, Mein Kampf . Hitler percaya bahwa Ras Arya - yang berpostur tinggi besar, berambut pirang, yang umumnya ditunjukkan oleh orang Eropa utara atau "Nordic" - Memiliki kejeniusan yang dibutuhkan untuk menciptakan peradaban. Kebanyakan orang Jerman modern, katanya, adalah keturunan bangsa Arya kuno ini.
Pendapat Hitler tersebut, oleh sebagian besar sarjana dan ilmuwan di luar Jerman, dianggap sebagai gagasan tentang evolusi manusia dan prasejarah yang omong kosong, hal ini didasari oleh alasan, oleh karena tidak adanya bukti bahwa masyarakat Eropa Utara pernah memulai perkembangan besar dalam prasejarah, seperti pengembangan pertanian maupun penulisan - yang kesemua itu telah terbukti secara ilmiah hadir pertama kali di Timur Dekat dan di Asia.
Besarnya penolakan sarjana dan ilmuwan Eropa pada saat itu, tidak menyurutkan langkah Heinrich Himmler yang terkenal memiliki minat besar pada hal yang berbau mistis dan gaib peninggalan dunia kuno. Himmler menganggap penolakan tersebut tidak lebih dari kegagalan para sarjana tersebut dalam mengungkap bukti dari Ras Arya yang begitu agung menerangi obor peradaban dan melahirkan semua kesempurnaan budaya manusia.
Tapi dari manakah sesungguhnya ide-ide Hitler dan Himmler tentang keagungan Ras Arya mulai bersemi?
Pada umumnya, sejarawan sepakat jika Friedrich Max Muller (1823 - 1900), seorang filolog dan orientalis kelahiran Jerman, diidentifikasi sebagai penulis pertama yang menyebutkan "ras Arya" dalam bahasa Inggris. (sumber di sini)
Dalam Kuliahnya tentang Ilmu Bahasa (1861), Muller menyebut Arya sebagai "ras manusia". Pada saat itu, istilah ras memiliki arti "sekelompok suku atau bangsa, kelompok etnis". Konsep Muller tentang Aryan kemudian ditafsirkan untuk menyiratkan sub-kelompok manusia yang berbeda secara biologis. Arthur de Gobineau misalnya, berpendapat bahwa orang Arya mewakili cabang manusia yang unggul. (sumber di sini)
Pada saat itu, meskipun teori "ras Arya" populer, khususnya di Jerman, namun beberapa penulis menentangnya, khususnya Otto Schrader , Rudolph von Jhering dan ahli etnologi Robert Hartmann (1831-1893), yang mengusulkan untuk melarang gagasan "Arya" dari antropologi. (sumber di sini)
Adalah Hans FK Gunther (1891 - 1968), seorang penulis dan eugenis Jerman, yang dianggap memiliki pengaruh besar pada pemikiran rasis Nazi . Dia mengajar di universitas Jena , Berlin , dan Freiburg , menulis banyak buku dan esai tentang teori rasial. Etnologi Pendek Gunther untuk Rakyat Jerman (1929) adalah eksposisi populer dari Nordicisme. Ia bergabung dengan Partai Nazi pada tahun 1932 sebagai satu-satunya ahli teori rasial terkemuka yang bergabung dengan partai tersebut.
Meskipun ia tidak secara resmi menjadi anggota partai sampai 1932, Gunther mempertahankan hubungan dekat dengan Nazi dan menerbitkan buku-bukunya pada penerbit Munich House milik Julius Friedrich Lehmann (1864-1935). (Johann Chapoutot: Greeks, Romans, Germans: How the Nazis Usurped Europe's Classical Past, 2016: 24)
Menurut Gunther, "Sebuah ras menunjukkan dirinya dalam kelompok manusia yang dengan hal itu dapat membedakanya dari setiap kelompok manusia lainnya - yaitu melalui kombinasi karakteristik fisik dan mental...." definisi "ras" inilah yang digunakan dalam propaganda Nazi, yang mana mengidentifikasi Ras Arya sebagai ras yang berpostur tinggi besar, berambut pirang, yang umum ditunjukkan oleh orang Eropa utara.
Teori Gunther ini memulai opini tentang perbedaan antara "ras" dan "etnis atau bangsa", yang kemudian senantiasa menjadi rujukan Stuckart dan Globke yang berposisi di Kementerian Dalam Negeri Partai Nazi.
Sebagian besar buku Stuckart dan Globke membahas rincian tentang bagaimana ketentuan spesifik undang-undang Nuremberg (yaitu hukum antisemitisme dan rasis di Nazi Jerman) harus ditafsirkan untuk tujuan praktik sehari-hari. Disertai pengantar yang menjabarkan prinsip-prinsip ideologis dasar yang menjadi dasar hukum Nuremberg. (Alan E Steinweis. Studying the Jew: Scholarly Antisemitism in Nazi Germany, 2006: 44)
Fokus kegiatan Arkeologis Ahnenerbe
Sebelum 1938, Ahnenerbe sebagian besar membatasi studinya pada teks-teks kuno, ukiran batu, dan cerita rakyat. Tetapi pada bulan Februari tahun itu, Himmler memindahkan Departemen Penggalian SS ke Ahnenerbe. Himmler telah menciptakan departemen untuk mensponsori atau mengarahkan penggalian arkeologi di situs-situs utama di Jerman.
Himmler bermaksud menjadikan kegiatan penggalian tersebut menjadi contoh penelitian Jerman di mana orang-orang SS dapat dilatih dalam ilmu arkeologi. Dengan upaya Himmler ini, Departemen Penggalian Ahnenerbe menjadi memiliki staf yang terdiri dari para arkeolog yang terlatih dalam menganalisis potongan-potongan batu kuno, tulang, dan keramik.
Arkeolog Assien Bohmers misalnya, yakni salah satu peneliti muda paling ambisius dari Ahnenerbe, mengklaim bahwa ia dapat melacak asal-usul "Nordik" kembali ke era Paleolitik di Jerman, ketika mammoth berbulu dan beruang gua mengembara di tundra dingin. (sumber di sini)
Departemen Penggalian Himmler, yang ditransfer dari SS, mendanai 18 penggalian, dari benteng bukit kuno di Alt-Christburg di Prusia hingga pos perdagangan Viking utama di Haithabu di Jerman utara, tidak jauh dari perbatasan Denmark, termasuk banyak penggalian di Kreta, yang dianggap sebagai rumah potensial peradaban Eropa pertama. (sumber di sini)
Ekspedisi Ahnenerbe ke Tibet
Pada bulan Desember 1938, sebuah tim ekspedisi Ahnenerbe Nazi berangkat ke Tibet. Pemimpin ekspedisi ini adalah Ernst Schafer, ditemani empat ilmuwan lainnya. Ini adalah ekspedisi ketiga Ernst Schafer ke Tibet. Merupakan ekspedisi yang langsung di bawah perlindungan Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS.
Ernst Schafer (14 Maret 1910 - 21 Juli 1992) adalah seorang penjelajah, pemburu, dan ahli zoologi Jerman, yang berspesialisasi dalam ornitologi . Penjelajahan zoologisnya ke Tibet dianggap penutup perannya dalam dinas rahasia Jerman. Sebagai anggota ilmiah di Ahnenerbe ia memegang pangkat SS-Sturmbannfuhrer .
Ernst Schafer dalam ekspedisinya di Tibet (sumber: wikipedia.org)
Inti dari penelitian Ernst Schafer ke Tibet adalah penyelidikan tentang asal-usul dan penyebaran ras Ayran secara khusus, dan asal usul manusia prasejarah secara umum. Teori ini dianggap bermula dari filsuf Jerman Immanuel Kant, yang menyebut Tibet tempat kelahiran penciptaan. Dia menamai ras pertama orang perkasa "Arya" - nama yang berasal dari kata Sansekerta arya, yang berarti "bangsawan".
Para Mistikus kemudian mengambil alih, dengan mengumumkan bahwa pernah ada tujuh "akar" ras dalam sejarah - salah satu dari mereka pertama kali muncul di sebuah pulau yang telah lama hilang di tengah Samudra Atlantik: pulau Atlantis yang legendaris.
Yang selamat dari bencana Atlantis kemudian dikatakan berlindung di Himalaya, lalu mendirikan sebuah kerajaan baru bernama Shangri-La, sebuah Taman Eden Tibet. Sejak saat itu, mereka dianggap meneruskan keagungan pengetahuan dan kebijaksanaan mereka kepada bangsa Arya.
Sebanyak 3.520 spesimen burung dikumpulkan dalam ekspedisi Ernst Schafer di Tibet dan Sikkim, yang kini bertempat di Museum fur Naturkunde Berlin. (sumber di sini) Diproduksi pula Sebuah film ekspedisi berjudul Geheimnis Tibet ( Tibet Rahasia ). (Gonzalez, Jorge M. 2010, "Ernst Schfer (1910-1992) - from the mountains of Tibet to the Northern Cordillera of Venezuela: a biographical sketch" )
Pada Juli 1934, dalam ekspedisi keduanya di Asia, Ernst Schafer bertemu dengan Thubten Chokyi Nyima ( Panchen Lama, gelar tradisional di Tibet), yang saat itu diasingkan di sebuah kuil gunung dekat Hangzhou , Cina. Dia menggambarkan Lama sebagai orang yang ramah dan simpatik yang bertanya tentang seberapa jauh Jerman dan apakah dia telah dihadang oleh perampok di jalan. (Hale, Christopher. Himmler's crusade: the true story of the 1938 Nazi expedition into Tibet. 2003, hlm. 63)
Ekspedisi SS Ahnenerbe ke Tibet selama tahun 1930-an juga mengumpulkan benih gandum, dikarenakan Heinrich Himmler juga memiliki rencana mengembangkan varietas tanaman baru untuk meningkatkan hasil pertanian koloni di wilayah timur Ukraina dan Krimea. Untuk tujuan ini Himmler menugaskan Dr. Ernst Schafer, yang ia lihat sebagai ahli zoologi muda Jerman yang ideal, sekaligus dapatmemimpin Ekspedisi ke Tibet.
Sebuah patung yang tingginya 24cm dan berat 10kg, menggambarkan dewa Vaisravana, Raja Buddha dari Utara, diberi nama "Iron Man" dispekulasikan telah diperoleh Ernst Schafer selama ekspedisi Tibet pada tahun 1938. Patung Buddha Tibet dianggap tak ternilai - diukir dari meteorit yang jatuh ke bumi 15.000 tahun lalu, menurut penelitian baru. Analisis menunjukkan bahwa patung itu dibuat dari bahan besi kaya nikel yang sangat langka (dikutip dari www.theguardian.com)
Terdapat lambang Swastika di bagian perut patung, hal yang tentunya menarik buat Nazi, yang menjadikan simbol Swastika sebagai simbol organisasi partai.
Pada tahun 2007 patung "Iron Man" di lelang. Pemilik barunya kemudian mendekati Dr Elmar Buchner dari University of Stuttgart untuk membuka rahasia masa lalu ukiran yang tidak biasa itu.
Atas permintaan tersebut, Tim peneliti Buchner dari Jerman dan Austria kemudian memberikan informasi tentang peristiwa tertentu dalam sejarah astronomi, yakni ketika meteorit Chinga jatuh di wilayah perbatasan Siberia timur dan Mongolia, antara 10.000 dan 20.000 tahun yang lalu. Tes mereka membuktikan bahwa patung tersebut dibuat dari kelas ataxite yang langka, jenis meteorit paling langka yang ditemukan di Bumi.
"Kami sangat takjub dengan hasilnya, Jika kita benar bahwa itu dibuat dalam budaya Bon di abad ke-11, itu benar-benar tak ternilai dan benar-benar unik di seluruh dunia," kata Buchner pada jurnal online Meteoritics and Planetary Science . "Ini sangat mengesankan, sebelumnya hampir sepenuhnya disepuh - ada misteri besar yang diwakili olehnya." tambah Buchner .
Patung Iron Man, Artefak yang diyakini dibuat dari meteorit yang menabrak bumi 15.000 tahun yang lalu (sumber: bbc.com)
Yang menarik dari patung Iron Man ini adalah karena bahan besi meteorit pada dasarnya merupakan bahan yang sangat keras, sehingga sangat sulit untuk dipahat (Buchner dalam kesimpulan penelitiannya, menyebutnya "bahan yang tidak pantas untuk menghasilkan pahatan").
Penggunaan bahan meteorit pada patung "manusia besi" dianggap Buchner hal yang menantang, dan menyiratkan bahwa sang seniman tentu sadar akan sifat luar biasa (ekstra terrestrial) dari objek yang diukir.
Informasi yang baru-baru ini terungkap mengenai ekspedisi Nasi di Tibet
Dalam berita www.dailymail.co.uk yang berjudul "Revealed: How expedition ordered by Nazi chief Himmler to discover the roots of Ayran man in Tibet turned into a months-long drinking and hunting bender" - terbit pada bulan April 2017, Sebuah buku yang baru diterbitkan pada minggu itu di Jerman, merinci bagaimana ekspedisi Nazi untuk menemukan akar orang Arya di Tibet berubah menjadi kegiatan mabuk-mabukan selama berbulan-bulan.
Peter Meier-Husing, anggota Nazi yang di Tibet pada saat itu, dalam catatannya mengatakan, perintah Heinrich Himmler untuk mencari artefak dan bukti ras super Jerman, sebagian besar diabaikan oleh tim ekspedisi perjalanan ke atap dunia pada 1938.
Disebutkannya bahwa para penjelajah - yang dipimpin oleh seorang pemburu bebek dan ahli zoologi Ernst Schafer - memarkir tuntutan bos mereka dan kebanyakan kemudian memusatkan perhatian pada minuman dan membunuh satwa liar setempat untuk dibawa pulang.
Namun demikian, tercatat Hingga hari ini ada 3.500-an mumi burung, 2.000 telur, 400 tengkorak dan kulit mamalia, reptil, amfibi, beberapa ribu kupu-kupu, belalang, 2.000 objek etnologi, mineral, peta, dan 40.000 foto hitam-putih berada di museum dan lembaga penelitian Jerman, yang merupakan hasil dari perjalanan Ekspedisi Ernst Schafer ke Tibet.
Meier-Husing mengatakan ekspedisi itu "bukanlah misi komando rahasia SS yang direncanakan dengan hati-hati, tetapi perburuan trofi oleh peneliti dan petualang yang brilian yang sebagian terjadi secara kebetulan."
Dalam perjalanan melintasi India, tim mendirikan base camp di dekat perbatasan dengan Tibet di Kongra La Pass yang tinggi. Setelah melakukan kontak dengan penduduk setempat, dewan menteri Tibet mengizinkan untuk mengunjungi ibu kota Buddhisme Tibet - Lhasa yang tertutup. Mereka dilarang membawa peralatan ilmiah juga membunuh binatang atau burung. Kedua permintaan itu ditolak.
Inggris yang ada di India pada saat itu, menuduh Jerman 'berperilaku buruk' dan menyebut Schafer sebagai 'pendeta Nazisme'. Meier-Husing menanggapi hal itu sebagai bentuk iri orang Inggris kepada orang Jerman yang berada di Tibet lebih dahulu daripada mereka.
Demikianlah, ketika kembali ke Jerman, Heinrich Himmler menyambut Schafer dan teman-teman ekspedisinya di landasan bandara Tempelhof di Berlin, di mana ia menghadiahkan Schafer cincin tengkorak SS dan belati kehormatan.
Karena perang, cerita tentang ekspedisi Schafer ke Tiber tidak diterbitkan sampai tahun 1950. ketika akhirnya dicetak, diberi judul "Festival of the White Gauze Scarves: A research expedition through Tibet to Lhasa, the holy city of the god realm" (Festival Syal Kasa Putih: Ekspedisi penelitian melalui Tibet ke Lhasa, kota suci dunia dewa).
Heinrich Himmler (kiri, depan) menyambut Ernst Schafer (kanan,depan) dan tim, sekembalinya ke Jerman (sumber: www.dailymail.co.uk)
Ernst Schafer (ketiga dari kiri) dalam ekspedisi ketiganya ke Tibet pada tahun 1939 (sumber: www.dailymail.co.uk)
Ahli zoologi Ernst Schafer yang senang berburu bebek, memimpin ekspedisi ke Tibet pada 1930-an (sumber: www.dailymail.co.uk)
Sekian. Semoga bermanfaat. Salam.
Baca artikel terkait: Koneksi Okultisme Nazi, Tibet, dan Rosicrucian
