I La, Tanri, dan Petta, Gelar Bangsawan Bugis dan Dewa Tertinggi di Masa Kuno

The Akkadians of Mesopotamia, dan peta wilayah kekasiaran Akkad c. 2350 SM — 2230 SM (sumber foto: akkadians.htm dan themaparchive.com/)

Bagi orang-orang di Sulawesi selatan, bentuk “I La” bisa dikatakan merupakan bentuk bahasa yang sudah sangat kuno. Bentuk predikat ini umumnya kerap terlihat digunakan pada penyebutan nama kitab terpanjang di dunia ” I La Galigo“.

Sebenarnya, hingga hari ini, “I” sebagai bentuk predikat masih umum digunakan. Contohnya pada orang Bugis, ketika menyebut nama seseorang. Contoh: I Baso, I Besse, dll. Bentuk “I” dapat pula kita temukan digunakan orang-orang di Bali, ditempatkan di depan nama, seperti; I MadeI Wayan, dsb. 

Sementara itu, bentuk “La” nampaknya pada hari ini lebih dianggap orang di Luwu sebagai gelar sesungguhnya dari para bangsawan, dianggap digunakan oleh para bangsawan sebelum gelar “Andi” menjadi lebih populer.

Hal lain yang menarik tentang “I La” adalah karena ternyata bentuk predikat ini rupa-rupanya telah digunakan pula dalam peradaban Akkadia Kuno dan Amorite. Frank Moore Cross (1973) dalam bukunya “Canaanite Myth and Hebrew Epic – Essay in the History of the Religion of Israel” menjelaskan sebagai berikut: …ila adalah bentuk ejaan dari nama ilahi yang mana banyak ilmuwan memilih bentuk normalnya sebagai / ‘ilah /. (…) menunjukkan bentuk predikat dalam Amorite dan Akkadia Kuno. Ila atau Il adalah dewa utama dari Mesopotamia pada periode Pra-Sargonik.

Dalam tata bahasa, predikat merupakan bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek. Kata predikat berasal dari bahasa Latin praedicatum yang artinya: “apa yang dibicarakan”. Dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, predikat harus mengandung unsur verba (kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya). Dari pemahaman prinsip tata bahasa ini, kita dapat melihat adanya kemiripan penggunaan bentuk “La” di dalam aksen bahasa Luwu dengan penggunaan bentuk “La” atau “El” dalam bahasa spanyol. 

Contohnya, untuk mengatakan “si bodoh“, orang spanyol menyebut “el estupido“, orang Luwu menyebut “la baga” (yang menarik kata “baga” yang dalam bahasa tae’ berarti “bodoh,” sama dengan kata “baka” dalam bahasa jepang yang juga berarti “bodoh” – kata ini biasanya kita temukan diucapkan dalam film kartun manga, serta juga sering dilontarkan Lara Croft dalam film Tomb Raider). 

Demikianlah, penggunaan bentuk “La” dalam aksen Luwu bisa dikatakan tidak ada bedanya dengan penggunaan bentuk “La” atau “El” dalam bahasa Spanyol, Hanya saja dalam bahasa spanyol terdapat pembagian peruntukan, “El” untuk kata benda maskulin, sementara “La” untuk versi feminin. Di dalam tradisi Luwu sendiri pun dikenal hal demikian. bentuk “La” untuk pria, dan “We” untuk wanita.

Jika “I La” atau “La” sebagai gelar bangsawan di Sulawesi Selatan kita temukan sebagai nama Dewa utama di Mesopotamia, sebagaimana telah diuraikan di atas, maka situasi yang sama, yakni gelar bangsawan Bugis lainnya dapat pula kita temukan digunakan sebagai nama Dewa di wilayah lainnya di masa kuno.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s