Nusantara Kuno

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno (Asal Usul Kata 'Tukar')

Barter atau saling bertukar barang adalah sistem perdagangan di zaman kuno. Tapi tahukah anda asal usul kata 'tukar' itu? Ada kemungkinan asal usul kata 'tukar' berasal dari kata…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

7 menit baca
Nusantara Kuno

Barter atau saling bertukar barang adalah sistem perdagangan di zaman kuno. Tapi tahukah anda asal usul kata 'tukar' itu?

Ada kemungkinan asal usul kata 'tukar' berasal dari kata "tuccar", yakni sebutan "pedagang" dalam bahasa orang Turks (bangsa Turki kuno). Ini merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Di dalam bahasa Banjar, memang terdapat kata 'tukar dengan arti "beli". Tapi apakah ini bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas? - saya pikir tidak.

Itu karena makna kata 'tukar' dalam bahasa Banjar lebih bersifat sinonim dengan kata "beli", dan tidak cukup mengandung unsur Linguistik historis (Historical Linguistics atau Diachronic Linguistics), yang dalam britannica.com didefinisikan sebagai cabang linguistik yang berkaitan dengan studi perubahan fonologis, gramatikal, dan semantik, rekonstruksi tahap-tahap awal bahasa, penemuan serta penerapan metode-metode di mana hubungan genetik antar bahasa dapat diperlihatkan.

Asal usul kata 'tukar'

Untuk mendapatkan jawaban atas asal usul kata 'tukar' yang bisa dianggap memiliki unsur Linguistik historis, saya ingin mengajak pembaca untuk mencermati suatu informasi dari Mario Mosetto dalam bukunya "Origins of European Peoples: Part One: Ancient History", pada Chapter 16 "Turks and Indo-Europeans", yang mengatakan bahwa:

"The Turkish calls the merchant Tuccar and the trade ticaret and commercial (adjective) sounds like ticari: these are clearly the Tocharians (Tuxari before), who traded for a long time with the Turks."

Translate: "Orang Turki menyebut pedagang dengan sebutan "Tuccar", "ticaret" untuk perdagangan, dan komersial (kata sifat) terdengar seperti "ticari": ini jelas-jelas [merujuk pada] Tocharians (Tuxari sebelumnya), [yaitu bangsa] yang berdagang dengan orang Turki dalam waktu yang lama."

Dari keberadaan informasi yang disampaikan Mario Mosetto di atas, yang kemudian jika disandingkan dengan ulasan Frances Wood (2002) dalam bukunya "Jalur Sutra Dua Ribu Tahun di Jantung Asia" tentang orang Tocharia dan Sogdia sebagai pelaku utama perdagangan di jantung asia (Asia Tengah) dalam kurun waktu ribuan tahun, kita dapat membangun sebuah pemahaman bahwa bisa jadi asal usul kata 'tukar' berasal dari kata "tuccar" yang merupakan sebutan orang Turki untuk "pedagang" yang merujuk pada Tocharia yang terkenal sebagai bangsa pedagang pada zaman kuno di Asia Tengah.

Adapun sebab mengapa hingga kemudian kata tersebut dapat kita temukan digunakan di wilayah Nusantara pada masa sekarang ini, dapat kita asumsikan merupakan hasil serapan pedagang Nusantara yang eksis melakukan perdagangan di wilayah Asia Tengah pada masa kuno.

Pada tulisan sebelumnya (Genetik Aksara Nusantara, Formula Kunci Mengurai Sejarah) telah saya bahas mengenai adanya jejak orang-orang Bugis di wilayah Asia tengah, dengan merujuk pada fakta adanya sebutan yang identik dengan kata "bugis" dalam bahasa Uzbek, yaitu "bo'g'iz" yang artinya: teluk. Fakta ini dikuatkan dengan keberadaan kata "Look" (sound: luwu' atau luwuk) dalam bahasa Filipina yang juga berarti "teluk".

Di sisi lain, adalah sudah menjadi konsensus umum di mayoritas sejarawan di Sulawesi Selatan bahwa Luwu merupakan induk dari semua etnis yang ada di Sulawesi Selatan.

Adanya etimologi "Luwu" dan "Bugis" yang sama-sama berarti "teluk" menunjukkan jika keduanya tidak ada bedanya.

Dan, bahwa kata "bo'g'iz" dalam bahasa Uzbek tentulah berasal dari orang-orang dari pulau Sulawesi. (Pembahasan secara rinci mengenai keterkaitan Luwu dan Bugis ini dapat dibaca di tulisan "Fakta Migrasi di Masa Kuno, dari Nusantara ke Dunia Barat")


Untuk mendapatkan gambaran sejauh mana eksistensi pedagang-pedagang dari Nusantara pada masa kuno di wilayah Asia Tengah, ada baiknya saya mengajak pembaca untuk mencermati beberapa informasi berikut ini...

Dalam buku "Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII" O.W. Wolters mengungkap bahwa perdagangan lintas benua melalui pelayaran laut umumnya diakomodasi oleh kapal-kapal dari Nusantara yang disebut "kapal Po-ssu" dan kadang juga disebut "kun lun po" dalam kronik Cina.

Dalam buku tersebut, O.W. Wolters juga membahas adanya polemik perbedaan pendapat yang berlangsung diantara para ahli terkait identifikasi kata "Po-ssu". Seperti misalnya Bretschneider (1871), yang nampaknya sangat yakin dengan pendapatnya bahwa Po-ssu adalah Persia, sementara itu Philips (1869) berpendapat lain dengan menganggap bahwa Po-ssu merupakan transkripsi nama suatu tempat di Asia Tenggara.

Atas polemik para ahli terkait identifikasi kata Po-ssu, setelah mencermati sebagian besar data literatur yang tersedia, yang bisa dikatakan bagian dari pada referensi yang tidak sepenuhnya terakses oleh para ahli pendahulu, akibat terbit beberapa puluh tahun kemudian sebagai suatu bentuk temuan terbaru,  saya cukup yakin bahwa yang dimaksud Po-ssu dalam kronik Cina adalah transkripsi untuk "Bajou" atau "Baju", yang dengan demikian kapal Po-ssu dapat dipastikan berasal dari Nusantara.

Berikut ini lampiran uraian pembahasan terkait Po-ssu, dalam buku "Luwu Bugis The Antediluvian World" yang saya susun.


Berikutnya, mengenai kapal Kun lun (Kun lun po), pun telah saya jabarkan dalam tulisan "Sulawesi: Disebut K'u-lun dalam Kronik Cina dan Gurun dalam Kitab Nagara Kretagama" bahwa kata "kun-lun" adalah nama pulau Sulawesi di masa kuno.

Demikianlah, uraian di atas rasanya telah cukup secara jelas mengungkap eksistensi kapal-kapal dari Nusantara dalam mengakomodasi perdagangan lintas benua pada zaman kuno.

Tapi apakah peran orang-orang dari Nusantara hanya pada sebatas menyediakan kapal pelayaran perdagangan saja? - saya pikir tidak.

Pencermatan untuk hal tersebut dapat kita lihat pada fakta eksistensi keturunan orang-orang dari Nusantara di Madagaskar, yang menunjukkan tindakan "bermukim di tanah rantau" atau bisa dikatakan membuat koloni di sana, sebagai ekses kegiatan pelayaran lintas samudera yang mereka lakukan. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa prilaku yang ditunjukkan di Madagaskar juga terjadi di tempat lain, seperti di wilayah Asia tengah misalnya. Dan untuk ini, keberadaan kata "bo'g'iz" dalam bahasa Uzbek, dan kata "tuccar" sebutan orang Turki untuk pedagang, dapat kita anggap sebagai indikator.

Sebelum saya melanjutkan pembahasan mengenai hipotesis eksistensi pedagang dari Nusantara di zaman kuno di wilayah Asia Tengah, saya ingin terlebih dahulu mengalihkan perhatian pembaca pada informasi Frances Wood dalam buku "Jalur Sutra: Dua Ribu Tahun di Jantung Asia" yang pada halaman 71 hingga halaman 86 membahas Penyebaran perdagangan dan agama yang dilakukan oleh orang-orang Tocharia dan Sogdia di wilayah Asia Tengah pada zaman kuno.

Dari uraian Frances Wood dalam buku tersebut, ada 2 hal yang cukup menarik tentang orang Sogdia, dan saya pikir memiliki korelasi dengan karakter yang dimiliki orang Bugis, yaitu: pertama, mereka dikenal sebagai para pejuang ganas oleh orang-orang Yunani, sehingga dikabarkan menyulitkan pasukan Alexander the Great ketika melakukan invasi ke wilayah tersebut.

Lalu yang kedua, Cerita-cerita China tentang orang-orang Sogdia mendeskripsikan mereka sebagai terlahir untuk berdagang: "Saat lahir, madu diletakkan di mulut mereka dan gum di tangan mereka... Mereka belajar berdagang sejak umum lima tahun... saat berumur 12 tahun, mereka dikirim untuk berdagang ke negara tetangga." - dikutip Frances Wood dari buku "The Sogdian Merchants in China and India" ditulis oleh Nicholas Sims-Williams (Florence, Olschki, 1996) hal. 46.

Lebih lanjut, Frances wood mengungkap pula pendapat Xuanzang, Peziarah Buddha di abad ketujuh, yang mendeskripsikan mereka sebagai para petani dan pedagang, pembuat karpet, pembuat gelas dan pemahat kayu. Xuanzang lebih setuju dengan fakta bahwa anak-anak lelaki di Samarkand diajarkan membaca dan menulis sejak umur 5 tahun. Pengajaran tersebut diberikan untuk menunjang keahlian berdagang mereka.

Pada bagian lain, Frances Wood mengungkap bahwa dari berbagai dokumen kuno tentang Sogdia, terlihat bahwa pada abad ke-4 M, bangsa Sogdia mengelola semacam segi tiga perdagangan, semacam monopoli antara Sogdiana ke India, dan India ke China. Hal ini saya pikir sangat sejalan dengan apa yang diungkap O.W. Wolters bahwa Kapal Po-ssu berperan besar dalam menjalankan perdagangan Persia, yakni dalam artian membawa muatan "Persia" ke China.

Informasi lainnya dapat pula kita temukan dalam buku Russell Fraser yang berjudul "Sojourner in Islamic Lands". Dalam buku ini Russell Fraser mengungkap: _"_Orang-orang Khotan mengenal semua pedagang sebagai "suli", [yaitu] sebutan [khusus] untuk orang Sogdiana, walau pun pada kenyataannya bisa jadi pedagang itu bukan orang Sogdiana. Mereka berdagang rempah-rempah, ...jenis obat-obatan [herbal], pewarna buah-buahan eksotis, tanaman kuliner seperti jintan, kulit kayu manis, dan jahe dalam lima jenis yang berbeda." - Informasi barang dagangan orang Sogdiana ini tentunya memiliki korelasi yang saya erat dengan produk perdagangan dari wilayah Nusantara.

Demikianlah, dari seluruh uraian di atas, jelas tergambar adanya eksistensi orang-orang dari Nusantara di wilayah Asia tengah pada masa kuno. Namun demikian, tentu saja untuk tiba pada hipotesis ekstrim seperti mengklaim orang Tocharia atau Sogdian sebagai keturunan orang-orang dari Nusantara tentu saja mesti mendapat dukungan data yang lebih konkrit.

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2

Baca artikel terkait:

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno (Bagian 2)

Artikel Terkait

Komentar (1)

Arsip komentar dari blog lama

  1. Hidayat

    Tuccar bisa jadi dari bahasa Arab yaitu Tajir yg jamaknya Tujjar yg artinya pedagang