Pada tulisan sebelumnya, saya telah mengulas keunikan Aksara Syllable yang susunan umum pengelompokan unitnya telah disesuaikan dengan konsep fonetik artikulatoris. Suatu hal yang secara intuitif saya lihat sebagai suatu pesan yang dititipkan orang-orang terdahulu kepada kita generasi sekarang. (bagi yang belum membaca, silakan baca: Aksara Syllable: Formula Kunci Mengurai Sejarah)
Pesan itu tidak dijelaskan fungsinya secara eksplisit, menunggu kita untuk mencermatinya. Yang akan kita ketahui, setelah menyadari bahwa morfologi atau perubahan bentuk fonetis suatu kata, umumnya terjadi atau berlangsung diantara sesama fonetik yang sekelompok (dalam satu jenis fonetik artikulatoris yang sama).
Dalam tulisan sebelumnya, juga telah saya urai penjelasan beserta contoh kasus, bagaimana metode pencermati morfologi bahasa dapat dilakukan dengan mengacu pada kelompok fonetik artikulatoris.
Variabel-variabel yang dimunculkan metode tersebut, dapat dikatakan membantu membuka “ruang analisa” dan meluaskan sudut pandang kita. Mengatasi kondisi kebuntuan yang kerap timbul dalam kegiatan penelitian. (pembaca yang belum membaca tulisan bagian pertama, sangat saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu. Silakan baca: di sini)
Konsep Aksara Syllable umum terlihat digunakan dalam aksara tradisional di berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam Kitab Dinasti Tang Lama (618-907), pada bagian yang membahas Ka-ling atau Ho-ling (Para sejarawan masih berselisih pendapat mengenai lokasi tepatnya, tapi dapat dipastikan di wilayah Nusantara) jelas disebutkan: “mereka memiliki aksara dan mengetahui sedikit ilmu astronomi”.
I-Tsing yang mengunjungi Nusantara di abad ketujuh mengatakan: Mereka menulis dengan karakter Sanskerta, dan raja menggunakan cincin jarinya sebagai meterai; mereka juga tahu karakter Cina; dalam mengirimkan upeti (ke Cina) mereka menulis dengan itu. (A Record of The Buddhist Religion as Practised in India and The Malay Archipelago, A.D. 671-695. By I-Tsing. Translated by J. Takakusu. hlm. xlii)
Crawfurd, dalam tulisannya A descriptive dictionary of the Indian islands & adjacent countries (1856) mengatakan sebagai berikut:
Written language is of immemorial antiquity in the Indian Islands, and in every case the characters are phonetic, and not emblematical ; for of the latter, no trace has been discovered.
There are, in all, no fewer than seven current native alphabets in the two archipelagos, namely, four in Sumatra, one in Java, which extends to Bali, Lomboc, and Palembang in Sumatra, one in Celebes, which extends to all the more cultivated languages of that island, and to those of some islands near it, as Boeton and Sumbawa, and one in Luzon, which is used by some of the more advanced nations of that island, and some of the other Philippines.
But besides these current alphabets there are, at least, four obsolete ones, one in the country of the Sundas, in Java, one in Celebes, one in Sumbawa, and one in the Philippines, that of the Bisaya nation, so that, in all, there appear to have been invented among the rude tribes of the Indian Islands, no fewer than eleven different systems of phonetic writing, whereas Western Europe with its energetic races, Italy excepted, invented none at all.
berikut ini saya lampirkan beberapa susunan aksara berjenis Syllable.
(sumber: ancientscripts.com)
(sumber: ancientscripts.com)
(sumber: http://omniglot.com)
(sumber: http://omniglot.com)
(Sumber: wikimedia.org)
(dokpri)
(dokpri)
(sumber: http://omniglot.com)
Dalam lampiran di atas, saya sengaja menempatkan susunan aksara Tochari di bagian paling bawah, dikarenakan ada sesuatu pada susunan aksara tersebut yang ingin saya bahas.
Aksara Tochari, bukan saja menunjukkan pengelompokan susunan unit yang sesuai dengan konsep fonetik artikulatoris, tetapi ekspresi tiap aksara yang sekelompok tersebut konsisten menunjukkan karakter goresan yang khusus, hal ini secara kuat menyiratkan bahwa aksara Tochari “sadar dan paham” konsep fonetik artikulatoris.
Ini berbeda jika kita perbandingkan dengan aksara jenis syllable lainnya yang tidak menunjukkan sifat semacam itu. bahkan tidak ada pada aksara Brahmi sekalipun, yang oleh para ahli dianggap sebagai induk daripada seluruh aksara Syllable.
Berikut ini saya lampirkan gambar yang menunjukkan karakter goresan khusus yang konsisten ditampilkan fonetis yang sejenis dalam konsep fonetik artikulatoris.
dokpri
dokpri
dokpri
dokpri

Saya pikir ini dapat menjadi cela bagi silsilah aksara (genealogy of script) yang ada selama ini. Bahwa bisa jadi Aksara Tochari lah yang merupakan aksara paling awal dari semua aksara abugida / brahmik.
Menurut data yang ada, orang tocharia adalah orang-orang Indo-Eropa yang mendiami oasis di ujung utara dari Tarim Basin pada zaman kuno. Daerah yang sekarang merupakan bagian dari wilayah Otonomi Uyghur Xinjiang di Cina.
Komunitas pertanian pertama kali muncul di oase Tarim utara sekitar tahun 2000 SM. Beberapa sarjana telah menghubungkan komunitas-komunitas ini dengan budaya Afanasievo yang ditemukan sebelumnya (sekitar 3500–2500 SM) di Siberia, utara Tarim. atau budaya BMAC Asia Tengah.
Nama Tocharia cukup identik dengan Kachari, yakni komunitas yang mendiami lembah Brahmaputra di distrik Kamrap, Goalpara, Darang, negara bagian Assam di timur laut India (telah saya bahas di tulisan sebelumnya. silahkan baca: di sini).
Kesimpulan
Saya pikir, susunan aksara Syllable (Seperti aksara Brahmi) yang telah mengelompokkan unit-unitnya sesuai dengan konsep fonetik artikulatoris, bukanlah suatu yang kebetulan, tapi sebagai wujud suatu tindak lanjut dari pemahaman pendahulu kita di masa lalu bahwa, penyebab utama dari morfologi bahasa adalah pada artikulator itu sendiri, dan karena itu mereka menyusun aksara yang tidak saja berfungsi sebagai instrumen sarana tulis menulis tetapi, juga berfungsi sebagai formula pendeteksi bagi perubahan fonetik yang dijumpai penggunanya pada lawan bicara atau pun pada naskah yang dihadapinya.
Dengan kata lain, melalui aksara berjenis Syllable (aksara abugida dan lainnya) kita diarahkan para leluhur di masa lalu, tentang bagaimana cara mengetahui asal usul suatu kata atau nama (yang terus bermorfologi selama ribuan tahun), yang dengan itu, pada gilirannya, kita mendapatkan pula gambaran "perkiraan" tentang seperti apa sejarah yang terjadi / berkembang di seputar morfologi kata atau nama tersebut.

