Sosial Budaya

Chhatra (Payung) Sebagai Simbol Chakravarti, dan Kaitannya dengan Sebutan "Payung Ri Luwu"

Setelah dalam tulisan sebelumnya (Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha) saya mengulas Ratu Sima atau Simpurusiang sebagai Chakravarti sesungguhnya…

Fadly Bahari

Penulis · 290 tulisan

3 menit baca
Sosial Budaya

Setelah dalam tulisan sebelumnya (Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha) saya mengulas Ratu Sima atau Simpurusiang sebagai Chakravarti sesungguhnya yang disebutkan Buddha Sakyamuni, maka dalam bagian ini saya akan mengulas fakta lain bahwa memang Tana Luwu menjadi pusat pemerintahan Chakravarti tersebut (Ratu Sima atau Simpurusiang).

Dalam buku Ancient India (1968: 166), Mahajan V.D, Seorang sejarawan terkenal dari India, menjelaskan bahwa pemerintahan penguasa seperti Chakravarti disebut 'Sarvabhauma', yaitu sistem kekaisaran utama.

Terminologi "Chakravarti" dianggap Mahajan V.D  sinonim dengan sebutan "Adhipatya". Keduanya, menurut Mahajan V.D adalah sistem kekaisaran di mana kekuasaan raja memberi perlindungan yang berlebih kepada negara di luar perbatasannya, sebagai negara yang dominan.

Sementara dalam kamus Sanskrit Monier-Williams, sArvabhauma kurang lebih didefinisikan sebagai "kekuasaan atas seluruh bumi", "kedaulatan atas seluruh bumi", atau "kerajaan universal". Kata "bhauma" sendiri bermakna: bumi, terestrial, duniawi, dan beberapa bentuk sinonim lainnya.

Sebelum saya melanjutkan pembahasan  "sArvabhauma" atau pun "Bhauma", terlebih dahulu saya ingin sedikit mengulas fakta bahwa salah satu tanda seorang cakravartin sebagai penguasa adalah "Chhatra" atau "payung".

Ini sejalan dengan pendapat DG Sircar dalam "Political Ideas in the Puranas" (1977: 69), bahwa: "kata cakra- vartin berarti sebuah kekaisaran... eka-Chatra (secara harfiah, seorang diri menikmati payung atau lencana kedaulatan), atau sarvabhauma (penguasa semua negeri, yaitu dunia bumi).

Fakta ini jelas berkorelasi dengan identitas Kedatuan Luwu yang identik dengan simbol "payung". Luwu umum disebut dengan istilah "Pajung ri Luwu".

Jadi, Simpurusiang sebagai salah satu Raja dalam silsilah Kedatuan Luwu, dapat ditafsirkan menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Chakravarti.

Adapun mengenai kata "bhauma" (pada kata "sArva-bhauma"), saya melihat ini identik dengan kata "Beuma", yaitu sebuah nama wilayah yang berada di kaki gunung Sinaji, kecamatan Basse Sang tempe, Kabupaten Luwu (Sulawesi selatan).

Wilayah ini (sekitar kaki gunung Sinaji) dalam beberapa tulisan sebelumnya telah saya identifikasi sebagai pusat kerajaan Holing (ini salah satu tulisan saya yang membahas hal tersebut: Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi).

Dan memang, terdapat cerita turun temurun yang berkembang di Luwu, Toraja, serta beberapa wilayah lainnya di Sulawesi, bahwa leluhur kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi, berasal dari kaki gunung Sinaji ini.

Hari ini, toponim "Beuma" tidak digunakan lagi oleh pemerintah setempat sebagai nama wilayah administrasi secara resmi (apakah itu nama desa atau kecamatan), tetapi masyarakat lokal masih menggunakan nama "Beuma" untuk menyebut wilayah sekitar kaki gunung Sinaji ini, meliputi beberapa desa yang ada disekitarnya.


Yang lebih menarik adalah terdapatnya nama desa "Ledan" di wilayah ini. Nama ini jelas identik dengan sebutan "Li Dan" yang terkait erat dengan catatan sejarah hidup Sima Lingji, Ratu Sima atau Simpurusiang, yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya. (baca di sini: Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha)

Tidak jauh dari wilayah ini pula, terdapat mata air asin yang berkadar garam tinggi, yang dalam pembahasan sebelumnya (Di Tanah Berbentuk Kuda Ini Makam Ratu Sima) telah saya ulas sebagai salah satu ciri yang disebutkan dalam ronik Cina ( keunikan keberadaan mata air asin di pegunungan, sebagai ciri geografis yang dimiliki kerajaan Holing).

Demikianlah, keberadaan toponim "Beuma"di wilayah ini, yang identik dengan sebutan "sArvabhauma" (terminologi yang terkait khusus dengan Chakravarti), lalu, toponim "Ledan" yang identik dengan kata "Li Dan" (sebuah nama yang terekam dalam jejak sejarah hidup Sima Lingji) ...serta keberadaan air asin berkadar garam tinggi di wilayah pegunungan ini, yang merupakan ciri geografis kerajaan Holing yang disebutkan dalam kronik Cina, mestinya dapat dilihat sebagai fakta yang dapat dipertimbangkan untuk hipotesis bahwa Sima Lingji, Ratu Sima, atau Simpurusiang adalah orang yang sama, dan merupakan sosok Chakravarti yang dinubuatkan sang Buddha Sakyamuni.

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat. Salam

Artikel Terkait

Komentar