Sains Buktikan Kosmologi Nusantara Orisinil

Pemahaman makro kosmos dan mikro kosmos yang diwariskan dari masa kuno, bisa dikatakan merupakan ajaran pengenalan jati diri yang paling awal dari yang terawal yang pernah dikenal manusia.

Di berbagai bangsa di dunia, terdapat konsep kosmologi (makro kosmos dan mikro kosmos) yang pada prinsipnya sama. Perbedaan terlihat hanya pada jumlah. Ada yang unsur atau elemennya berjumlah empat (terdiri dari udara, air, api dan tanah), dan ada yang berjumlah lima (terdiri dari udara, air, api, tanah, dan eter).

Di Indonesia umumnya hanya berjumlah empat. Di Jawa, Bugis dan Toraja misalnya, hanya terdiri dari: Udara, Air, Tanah dan Api.

Dalam filsafat hindu dikenal Pancha Bhoota atau Pancha Maha-Bhoota, merupakan lima elemen dasar yang menurut Hinduisme adalah dasar dari semua ciptaan kosmik, mewakili lima element dalam tubuh manusia dan juga Alam Semesta. Pancha Maha Bhoota atau lima elemen itu adalah: Prithvi (Bumi), Apas/ Varuna (Air), Agni (Api), Vayu (Udara), Aakash (Eter).

Dalam Bon atau filsafat kuno Tibet, lima proses dasar yaitu: bumi, air, api, udara, dan angkasa menjadi proses utama dari semua atau seluruh fenomena (Skandha). Proses utama ini menjadi sumber dari kalender, astrologi, pengobatan, psikologi, dan dasar dari tradisi spiritual Shaman, Tantra, dan Dzogchen.

Dalam filsafat Tao, terdapat sistem yang mirip dengan 5 elemen, yaitu elemen Bumi, Air, Api, Logam, Kayu. Elemen Logam merupakan padanan dari elemen Udara, dan elemen Kayu merupakan padanan dari elemen Ether. 

Selain itu dikenal juga Qi atau Chi, yang merupakan sebuah bentuk “energi” atau “kekuatan”. Dalam filsafat China, seluruh alam semesta terdiri dari surga dan bumi, di mana surga terbuat dari energi Qi dan bumi terbuat dari energi lima elemen.

Pada konsep kosmologi Yunani kuno dikenal lima elemen dasar, yaitu: udara, air, tanah, api, dan eter, yang disajikan untuk menjelaskan sifat dan kompleksitas semua materi dalam hal substansi yang lebih sederhana. 

Kepercayaan Yunani kuno tentang lima elemen dasar ini, dikatakan berasal dari masa pra-Sokrates dan berlangsung sepanjang Abad Pertengahan hingga Renaissance, sangat mempengaruhi pemikiran dan budaya Eropa. Kelima elemen ini kadang-kadang dikaitkan dengan “the five platonic solids“.

Demikianlah, rincian konsep kosmologi dari beberapa bangsa di dunia. Jika kita cermati, selain empat elemen dasar yang kita kenal dalam kosmologi Nusantara, yaitu: Udara, Air, Tanah, dan Api, di beberapa bangsa lain di dunia mengenal 5 (lima) elemen dasar, dengan menambahkan ruang kosong (kekosongan), void, atau eter sebagai entitas ke-lima.

Tentunya kita menjadi bertanya-tanya mengapa kita hanya mengenal 4 elemen dasar sementara bangsa lain, mengenal 5 elemen dasar. Apakah kita yang keliru atau bangsa-bangsa diluar sana yang keliru?

Untuk mencermati hal ini, saya akan membawa pembaca mencermati konsep “ruang” ataupun “eter”, hal yang tidak kita miliki dalam konsep kosmologi kita di Nusantara.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s