Wangsit Prabu Siliwangi: yang Putih Dihancurkan, yang Hitam Diusir

Seperti halnya nubuat nabi Daniel atau pun Yohanes Pembaptis, wangsit Prabu Siliwangi sebenarnya juga merupakan peringatan dini (early warning) terhadap peristiwa yang akan terjadi di masa depan.

Sayangnya, ada banyak pesan nubuat seperti itu yang baru dapat dilihat kebenarnya setelah peristiwa yang dimaksudkan terjadi. Misalnya, ungkapan “Tanah Jawa berkalung besi” dari Prabu Jayabaya.

Sulitnya menginterpretasi kalimat nubuat dikarenakan berbentuk kalimat perumpamaan nampaknya yang menjadi penyebab utama.

Padahal, jika saja pesan-pesan itu dapat dimengerti sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi, tentu akan dapat mengurangi dampak negetif yang mungkin ditimbulkan. Inilah fungsi esensi dari pesan-pesan nubuat, yaitu sebagai sebuah peringatan dini.

Di dunia barat, Amerika misalnya, hal-hal semacam itu diperlakukan sebagai data intelejen yang dianalisa secara khusus. Tahun 1950 hingga 1990, adalah tahun di mana Amerika dengan CIA-nya menggandeng paranormal untuk mengungkap berbagai hal diluar kelaziman. Tak ketinggalan Uni Soviet pun melakukan hal serupa. Sehingga Supranatural menjadi salah satu arena perlombaan mereka dalam perang dingin di masa itu.

Adapun mengenai pesan Prabu Siliwangi yang saya jadikan sebagai judul artikel ini, adalah merupakan lanjutan dari kalimat: “…Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini.” – yang telah saya ulas dalam artikel lainnya berjudul: “Wangsit Prabu Siliwangi: Perang di Ujung Laut Utara“.

Perkembangan terkini eskalasi politik di kawasan Laut Cina Selatan, saya pikir menunjukkan indikator kuat, karena ujung laut utara yang dimaksud dalam pesan Prabu Siliwangi, merujuk pada Laut Cina Selatan. Dengan pertimbangan bahwa jika Prabu Siliwangi penyampaikan pesan tersebut di pulau Jawa, maka, laut Jawa adalah sebelah utaranya, dan Laut Cina Selatan adalah ujung paling utara laut Jawa.

Kalimat “burung menetaskan telur” dapat diduga sebagai pesawat yang menjatuhkan bom. Sementara kalimat “Riuh seluruh bumi!” menggambarkan ketegangan di Laut Cina Selatan yang memang menjadi salah satu tema keprihatinan dunia saat ini.

Kalimat selanjutnya: “Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini.” Sejauh ini, yang sedang terjadi adalah mewabahnya penyakit Covid-19. Perang belum terjadi (semoga saja tidak terjadi), tapi akan mengarah ke sana jika, saling serang secara verbal antara kubu-kubu tertentu di jagad internet, akibat berbeda sudut pandang, tidak mendapat solusi.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s