Ma Wara an-Nahr “Tempat di Belakang Sungai”: Disebut dalam Hadist dan Uga Siliwangi

Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Nabi berkata: “yakhruj rajul min wara’ an-nahr yuqal lah al harith ibn haraath , ealaa muqadimatih rajul yuqal lah mansur” – artinya: Seorang pria akan muncul dari wara’ an-nahr (tempat di belakang sungai), (ia) disebut Al-Harits bin Harath (petani putra seorang petani), di depannya adalah seorang pria bernama Mansur.

Pemaknaan frase wara an-nahr sebagai “tempat di belakang sungai” dapat dilihat misalnya dalam buku The Abbasid Caliphate. Lihat capturenya di bawah ini….

Ma wara an-nahr yang dimaknai sebagai “tanah atau tempat di belakang sungai”. Dicapture dari buku The Abbasid Caliphate halaman 37. (dokpri)

Literatur yang selama ini berkembang mengidentifikasi Wara an-Nahr merujuk pada suatu wilayah di Asia Tengah yang disebut Transoxiana di masa kuno, yang pada hari ini mengacu pada wilayah  antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya, yang meliputi Uzbekistan dan Tajikistan, berbatasan dengan Afghanistan.

Letak sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya (dokpri)

Sejarah penamaannya berawal dari setelah masuknya Islam ke wilayah ini. Literatur sejarah ada menyebutkan bahwa setelah wilayah ini direbut oleh umat Islam, wilayah ini lalu disebut Mawara’ al-Nahr. 

Kuat dugaan saya bahwa pemberian sebutan tersebut ada keterkaitan dengan bunyi hadist tentang Al Mahdi lainnya, yang menyebut bahwa ia (dan pasukan panji hitam) akan akan muncul dari Khorasan. 

Secara lebih luas, wilayah Uzbekistan dan negera-negara di sekitarnya disebut Khorasan di masa lalu. Kata ‘Khorasan’ sendiri artinya: “tempat matahari terbit” atau, bisa juga disebut “timur”.

Jadi, meminjam istilah Psychohistory dari Isaac Asimov untuk diterapkan dalam membaca “geliat sejarah” dalam kasus ini, saya ingin katakan bahwa; nampaknya ada prilaku atau upaya dari umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad – yang berusaha menginterpretasi hadist tentang Al Mahdi – dan lebih jauh berusaha “mengarahkan” penulisan sejarah – berdasar asumsi bahwa wilayah Khorasan yang dimaksud dalam hadist  nabi mengacu pada wilayah di Asia Tengah. Akibatnya, pembahasan tema eskatologi dalam tradisi Islam pada hari ini umumnya lebih berkiblat di seputar asumsi tersebut.

Reinterpretasi

Ungkapan “Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” bukanlah kalimat optimistik semata yang tidak memiliki jejak hikmah di baliknya. Kenyataannya, Jalan menuju kebenaran itu sarat dengan hikmah karena padanya ada intervensi Ilahiah yang bersuara dalam kesunyian waktu. Hanya para pencari yang dikehendaki-Nya saja yang dapat mendengar dan mengerti makna suara tersebut.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: