Sedekah: Cara Mudah Mancing Rezeki, Benarkah?

wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat (pula) memajukan-nya.” – (Quran Surat Al-A’raf Ayat 34).

(…) wa mā yu’ammaru mim mu’ammariw wa lā yungqaṣu min ‘umurihī illā fī kitāb, inna żālika ‘alallāhi yasīr.

(…) Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Quran Surat Fatir ayat 11)

Yang benar adalah jika pemahaman konsep “umur panjang” itu diterapkan pada “spare-part” yang ada pada diri kita, seperti mata, paru-paru, otak (ingatan), telinga, dsb.

Jadi yang benar itu adalah memohon agar Allah memanjangkan umur untuk hal-hal yang kita butuhkan dalam kehidupan, seperti kesehatan mata, jantung, otak, dan bahkan berdoa agar Allah memanjangkan umur (waktu) hubungan baik kita dengan seseorang pun juga termasuk.

Jadi jika masih ada ustad yang pede ngajarin tentang umur panjang, sebaiknya jangan didengerin ucapannya untuk yang satu ini. Tapi jangan juga langsung tidak mau lagi mendengar ceramahnya. Karena mungkin untuk pemahaman tentang umur manusia dia keliru, tetapi pada pemahaman tema yang lain dia benar.

Penting pula untuk dipahami bahwa limpahan rezeki yang engkau dapatkan dari-Nya tidak selalu sama dengan apa yang tadinya engkau sedekahkan. Jangan beranggapan bahwa setelah engkau sedekahkan hartamu lalu engkau akan mendapat limpahan rezeki berupa harta yang banyak dari-Nya. Jangan berpikir seperti itu.

Bisa jadi setelah engkau sedekahkan sebagian hartamu, engkau akan mendapatkan limpahan rezekiNya di aspek yang lain, seperti kesehatan, kelancaran hubungan rumah tangga, koneksi yang baik di dunia kerja, dsb.

Intinya, jangan dikte Allah dengan niatmu ketika bersedekah, selain bahwa engkau lakukan itu semata-mata ingin mendapatkan Ridha-Nya, dan tentunya ingin menjadi hamba-Nya yang baik.

Jadi demikianlah, pemahaman bahwa sedekah adalah cara memancing rezeki jelas merupakan pemahaman yang keliru – hal ini yang banyak membuat orang yang bersedekah kecewa pada akhirnya.

Sedekah Sebagai Pelaksanaan Fungsi Kita Sebagai “Agen Kehidupan”

Keseluruhan uraian saya tentang sedekah dan rezeki di atas, tentu sangat erat kaitannya dengan pembahasan mengenai nasib.

Humboldt mengatakan: “Bagaimana seseorang menguasai nasibnya adalah lebih penting daripada nasibnya itu sendiri.”

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: