Mengapa Allah memilih al Mahdi, sosok keras hati dan temperamental seperti baladewa sebagai pemimpin umat di akhir zaman?

Salah satu penyebab utama nabi Musa dan kaumnya terpaksa terlunta-lunta di padang pasir selama 40 tahun, adalah karena dalam kaumnya banyak terdapat orang yang suka mengeluh dan menghasut.

Dalam Al Quran surat Al Ma’idah ayat 22-24 Allah mengisahkan hal ini.

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.” (Al Ma’idah ayat 22)

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (Al Ma’idah ayat 23)

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Al Ma’idah ayat 24)

Demikianlah, atas pembangkangan ini, Musa berserah diri kepada Allah, sebagaimana terekam dalam surat Al Ma’idah ayat 25: Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Atas permohonan Musa tersebut, (Allah) berfirman, “(Jika demikian), maka (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Ma’idah ayat 26)

Doa yang dipanjatkan Musa tatkala tak berdaya lagi menghadapi kaumnya,  senada dengan doa para Rasul lainnya. Seperti yang dilakukan Syu’aib (QS al-A‘rāf/7:89), Sāliḥ (QS al-Mu’minūn 23/29) atau Nabi Muhammad SAW(QS al-Anbiyā’/21:112).

Seperti halnya masalah yang dihadapai nabi-nabi lainnya, Nabi Musa pun dihadapkan pada umat yang suka mengeluh. Ini dikarenakan sudah menjadi kodrat manusia demikian, sebagaimana yang diungkap Allah dalam Al Quran Al Ma’arij ayat 19: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.”

Mereka ini bukan saja melemahkan dirinya secara psikis, tapi juga mempengaruhi orang-orang disekitarnya, karena ketika mengeluh mereka mengutarakannya secara terbuka di depan publik, atau dengan kata lain (disadari atau tidak disadari) tindakan mereka sesungguhnya adalah suatu bentuk tindakan menghasut.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s